Anda di halaman 1dari 19

KERACUNAN MINYAK TANAH (KEROSENE)

Oleh :
Florentina DMSB
I1A007047

BAGIAN/ SMF FORENSIK


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BLUD RS ULIN BANJARMASIN
2013
BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Istilah forensik belakang ini sering muncul melalui berbagai berita
kriminal. Biasanya menyangkut penyidikan tindak pidana seperti mencari sebabsebab kematian korban, dan usaha pencarian pelaku kejahatan. Secara garis besar
yang dimaksud dengan ilmu forensik adalah aplikasi atau pemanfatan ilmu
pengetahuan untuk penegakan hukum dan peradilan.
Tosikologi forensik adalah salah satu cabang ilmu forensik, yang
menekunkan diri pada aplikasi atau pemanfaatan ilmu toksikologi dan kimia
analisis untuk kepentingan peradilan. Kerja utama dari toksikologi forensik adalah
melakukan analisis kualitatif maupun kuantitatif dari racun dari bukti fisik dan
menerjemahkan temuan analisisnya ke dalam ungkapan apakah ada atau tidaknya
racun yang terlibat dalam tindak kriminal, yang dituduhkan, sebagai bukti dalam
tindak kriminal (forensik) di pengadilan. Hasil analisis dan interpretasi temuan
analisisnya ini akan dimuat ke dalam suatu laporan yang sesuai dengan hukum
dan perundangan-undangan. Menurut Hukum Acara Pidana (KUHAP), laporan ini
dapat disebut dengan Surat Keterangan Ahli atau Surat Keterangan.
Keracunan dapat ditimbulkan oleh zat kimia ( zat industri, obat,
kosmetik, BTM), insektisida, tumbuhan ( jamur), dan hewan (bisa ular/lebah).
Bentuk toksisitas :. Toksisitas fisika : dermatitis, kulit kering, kulit pecah, iritasi,
demam dll. Yang disebabkan oleh radiasi. Toksisitas kimia : disebabkan oleh

asam kuat, logam merkuri, d. Toksisitas fisiologis : yang mempengaruhi ensim


dalam metabolisme.
Beberapa kemungkinan latar belakang penyebab terjadinya keracunan minyak
tanah, antara lain, pada1 :
1) Anak-anak adalah : - Rasa ingin tahu (tidak tahu akan bahaya minyak tanah).
- Kekurangperhatian dari orang tua (ketidaksengajaan
anak / kelalaian orang tua).
2) Dewasa

: - Tentamen suicide

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Definisi
Minyak tanah merupakan cairan bahan bakar yang jernih, tidak berwarna,
tidak larut dalam air, berbau dan mudah terbakar.1 Minyak tanah (kerosene)
adalah campuran cairan hidrokarbon (rantai panjang C9 - 16) yang dihasilkan dari
penyulingan minyak mentah.3 Minyak tanah termasuk golongan senyawa
hidrokarbon golongan alifatik. Minyak tanah (kerosene) berasal dari campuran
paraffin dan naphthenes.

Kadar toksiknya tergantung tingginya kadar

hidrokarbon aromatik dan naphthenic.2,4

ANGKA KEJADIAN
Insidensi keracunan minyak tanah, yakni :
1. Anak-anak dibawah 6 tahun, lebih banyak dibandingkan pada dewasa.
Kejadian ini lebih banyak diakibatkan oleh kelalaian orang tua, mengingat
anak kecil umumnya tidak mengetahui akan bahaya minyak tanah. 1 Penelitian
di Nepal menunjukkan insidensi keracunan minyak tanah menempati urutan
kedua terbanyak dari kejadian keracunan pada anak-anak, setelah
organofosfat, dengan usia kurang dari 6 tahun.5
2. Kejadian di daerah perkotaan lebih banyak dibandingkan dengan di Desa. 1
Hal ini dikarenakan jumlah pemakaian minyak tanah lebih banyak di Kota
dibandingkan Desa.

3. Negara Berkembang lebih banyak angka kejadiannya dibandingkan dengan


negara maju.1 Hal ini karena jumlah pengguna minyak tanah lebih banyak di
negara berkembang. Sedangkan di negara maju, sebagian besar sudah
menggunakan gas LPG.
4. Laki-Laki lebih banyak dari pada wanita.1

Jalur Paparan Utama


Toksisitas ini terjadi terutama karena komplikasi paru jika ada minyak
tanah yang terhirup ketika menelan (aspirasi).3

Kinetik dan metabolisme


Masing-masing komponen dari minyak tanah diketahui dapat mengalami
penyerapan oleh kulit, sedangkan uap minyak tanah diserap jika terdapat paparan
paru. Jumlah toksin yang diserap tergantung jumlah/dosis dan lama paparan.
Sejumlah penelitian metabolisme pada binatang menunjukkan minyak tanah
dikeluarkan dari peredaran melalui hati dan paru-paru. 3

TOKSIKOLOGI
Bahaya utama terkait dengan minyak tanah adalah pneumonitis bahan
kimia, akibat dari aspirasi muntah setelah meminum atau menghirup cairan
minyak tanah atau air yang terkontaminasi (dengan minyak tanah). Komplikasi
jarang dari keracunan minyak tanah mungkin aritmia jantung dan fibrilasi

ventrikel, yang dikaitkan dengan sensitivitas miokard yang meningkat terhadap


katekolamin endogen. 3
A. Neurotoksisitas
Paparan akut dengan minyak tanah pada manusia telah dikaitkan dengan
berbagai efek SSP, termasuk iritabilitas, gelisah, ataksia, mengantuk, kejang,
koma dan kematian; hal ini umumnya dianggap sebagai efek sekunder akibat
hipoksia. Letargi dan "komplikasi SSP lainnya" dilaporkan terjadi pada sekitar 5%
dari sukarelawan yang menelan 10 - 30 ml minyak tanah. 3

B. Paparan Saluran Nafas (Inhalasi)


Uap minyak tanah mungkin sedikit mengiritasi sistem pernapasan, paparan
tidak berakibat fatal, karena volatilitasnya yang rendah. Namun, paparan dalam
ruang tertutup pada suhu tinggi dapat menyebabkan efek narkotik, seperti
narkolepsi, cataplexy dan kebingungan, serta terdapat satu laporan dari paparan
(uap) yang berakibat fatal pada anak. Aplikasi spray dapat menyebabkan paparan
konsentrasi tinggi aerosol minyak tanah yang dapat menimbulkan tanda-tanda
iritasi paru seperti batuk dan dyspnoea, di samping depresi SSP ringan. 3
Menghirup air yang terkontaminasi dengan minyak tanah dapat terjadi
ketika berenang atau sebagai akibat dari insiden hampir tenggelam dan telah
dikaitkan dengan "pneumonia lipoid eksogen". Aspirasi muntahan yang
terkontaminasi minyak tanah, merupakan sumber sekunder paparan paru yang
dapat menyebabkan pneumonitis kimiawi (lipoidal), suatu kelainan paru-paru

yang berpotensi fatal dan onset lambat, ditandai dengan sianosis, sesak dan x-ray
dada tampak opaque. 3
Pada jangka panjang, ada beberapa bukti yang menunjukkan adanya gejala
sisa pada paru yang dapat terjadi setelah pneumonitis kimiawi. Efek ini dianggap
ringan dan tidak diketahui relevansi klinisnya. 3
Tanda dan Gejala Akut:
Efek samping utama yang timbul dari meminum minyak tanah adalah
pneumonitis kimiawi (aspirasi) sebagai akibat dari aspirasi muntahan. Aspirasi
terjadi akibat penderita batuk/muntah.1,3 Dapat menyebabkan sakit kepala, pusing,
mengantuk, inkoordinasi dan euforia. Aspirasi ke paru-paru menyebabkan
pneumonitis dengan gejala rasa tercekik, batuk, mengi, sesak napas, sianosis, dan
demam. 3
Penyebaran aspirat melalui penetrasi pada membran mukosa, kemudian
merusak epitel jalan napas, septa alveoli dan menurunkan jumlah surfaktan. Hal
ini selanjutnya memicu terjadinya pendarahan, edema paru, ataupun kolaps pada
paru. Kematian dapat terjadi akibat oedem dan konsolidasi paru.1
Jumlah kurang dari 1 ml dari aspirasi pada paru dapat menyebabkan
kerusakan bermakna. Sedangkan kematian dapat diakibatkan aspirasi 2,5 ml pada
paru, atau menelan 350 ml pada lambung. Jumlah 1 ml/kg BB minyak tanah dapat
menyebabkan depresi CNS ringan-sedang, karditis, kerusakan hepar, kelenjar
adrenal, ginjal dan abnormalitas eritrosit. Namun hal ini jarang terjadi karena
minyak tanah tidak diabsorbsi dalam jumlah banyak pada saluran pencernaan, dan
diekskresikan lewat urine. 1

C. Paparan pada Kulit


Paparan kulit yang akut dapat menyebabkan iritasi lokal (eritema, gatalgatal) tetapi tidak dianggap sebagai penyebab alergi kulit. Sebagian kecil individu
(<5%) mungkin menunjukkan hipersensitivitas terhadap minyak tanah dan kontak
pada kulit dapat menyebabkan luka seperti "terbakar".3
Tanda dan Gejala Akut:
Iritasi, kulit kering dan retak akibat defatting. Mungkin timbul nyeri
sementara disertai dengan timbulnya eritema, lepuh dan luka bakar superfisial.
Kulit yang terpapar minyak tanah dapat menyebabkan dermatitis melalui
mekanisme ekstraksi endogen lipid kulit. 3

D. Paparan pada Mata


Tanda dan Gejala akut:
Minyak Tanah (kerosene) merupakan bahan iritan ringan dan bersifat
sementara pada mata. Produk ini diperkirakan memiliki pH netral, tetapi dapat
mengiritasi mata yang segera menyebabkan rasa tersengat, sensasi terbakar,
konjungtivitis, hiperemi dan lakrimasi. 3

E. Paparan Oral (Menelan)


Tanda-tanda keracunan minyak tanah (meminum), antara lain: diare, mual
dan muntah. Sekitar 30-50% dari anak-anak yang dicurigai meminum minyak
tanah tidak menunjukkan gejala. Anak-anak dapat survive ketika menelan hingga
1,7 g/kg, namun telah dilaporkan terdapat kasus keracunan yang fatal dikaitkan

dengan dosis mulai 2 - 17 g/kg. Bagaimanapun, kejadian kematian pada paparan


oral biasanya dikaitkan dengan aspirasi muntahan daripada akibat toksisitas
sistemik, muntah terjadi pada sekitar sepertiga hingga setengah dari pasien. 3
Tanda dan Gejala Akut:
Menelan minyak tanah atau paparan akut terhadap uapnya dapat
menyebabkan tanda-tanda umum keracunan, seperti gejala SSP ringan (pusing,
sakit kepala, mual), muntah, dan kadang-kadang diare. Namun, seringkali juga
tidak ada gejala. 3

F. Pengaruh Paparan yang Kronis/Berulang


Efek kesehatan yang paling umum terkait dengan paparan minyak tanah
kronis / berulang adalah dermatitis, yang mungkin berhubungan dengan
pemakaian peralatan pelindung pribadi (PPE) yang tidak memadai atau tidak
sesuai di lingkungan kerja. Efek pada paru (seperti sesak nafas) pernah
dilaporkan, namun cenderung dihubungkan dengan paparan "tingkat tinggi".
Dapat dibayangkan bahwa efek pada paru-paru dan kulit juga dapat dijumpai pada
individu yang menerima paparan tunggal dan akut. 3
Inhalasi
Saat ini tidak ada penelitian yang tegas untuk menghubungkan paparan
minyak tanah kronis atau berulang jangka panjang terhadap disfungsi paru (selain
yang dikaitkan dengan aspirasi muntahan atau air yang terkontaminasi). Ada bukti
terbatas untuk menunjukkan bahwa paparan kronis mungkin berhubungan dengan

sesak dada dan kesulitan bernapas, meskipun tinjauan dari durasi dan tingkat
paparan dalam studi tersebut tidak dilaporkan.3
Meminum/menelan: Paparan oral kronis untuk minyak tanah tidak mungkin
timbul dalam keadaan normal dan saat ini tidak ada data mengenai efek kronis
pada manusia yang meminum minyak tanah. 3
Paparan kulit/mata: Paparan minyak tanah kronis pada kulit diketahui
menyebabkan dermatitis. 3
Neurotoksisitas
Paparan jangka panjang dari minyak tanah konsentrasi "rendah" telah
dilaporkan dapat menyebabkan efek SSP non-spesifik seperti gelisah, kehilangan
nafsu makan dan mual yang tidak terkait dengan hipoksia. 3
Genotoksisitas
Peningkatan perubahan sitogenetik (pada limfosit perifer dan micronuclei
sumsum tulang) telah dilaporkan pada penelitian terbatas terhadap pekerja yang
terkena campuran minyak tanah, bahan bakar bunker, semangat putih dan xilene.
Namun, paparan campuran tersebut menyebabkan kesimpulan spesifik sulit
dibuat, dan hasilnya tidak bisa dihubungkan dengan efek pada paparan minyak
tanah saja, baik pada hewan atau pada tes mutagenisitas in vitro. 3
Karsinogenisitas
Jumlah kanker paru-paru yang sangat meningkat pada sebuah penelitian
besar kohort terhadap para pekerja Jepang yang terpapar minyak tanah, minyak
diesel, minyak mentah dan minyak mineral. Dalam penelitian lain di Jepang,
jumlah kejadian kanker lambung yang sangat tinggi di antara para pekerja yang

mungkin terkena paparan minyak tanah, minyak mesin atau lemak. Tiga studi
kasus kontrol menemukan hubungan antara kanker paru-paru dan penggunaan
kompor minyak tanah untuk memasak di antara perempuan di Hong Kong,
namun, tidak bisa dibedakan antara paparan minyak tanah dengan paparan produk
hasil pembakaran. Mengingat bahwa studi tersebut tidak bisa menunjukkan efek
spesifik dari minyak tanah, sehingga belum memadai untuk mengklasifikasikan
minyak tanah sebagai karsinogen manusia.3
Reproduksi dan perkembangan toksisitas
Bukti saat ini menunjukkan minyak tanah yang tidak memiliki efek yang
dapat diukur pada reproduksi atau pengembangan manusia. 3

KRITERIA DIAGNOSIS 1,2


1. Anamnesa : Riwayat menelan minyak tanah
2. Gejala inhalasi euphoria
3. Gejala akibat minyak tanah yang terminum:
a. Minyak tanah yang tertelan dapat menyebabkan gejala iritatif dan perasaan
terbakar pada tenggorok, esophagus, dan ulkus pada mukosa. Hal ini dapat
menimbulkan gejala : mual, muntah, diare, dan nyeri perut
b. Gejala fibrilasi ventrikel, walaupun jarang terjadi. Fibrilasi ventrikel ini
disebabkan karena minyak tanah menyebabkan sensitisasi jantung
terhadap katekolamin eksogen dan endogen. (epinefrin dan norepinefrin).
c. Gejala pada susunan saraf pusat berupa somnolen, sakit kepala,
kebingungan. Gejala yang berat dapat timbul koma dan kejang.

d. Gejala awal aspirasi ke paru : Batuk, rasa tercekik dikuti dengan takikardia
dan takipnea. Dalam waktu 6 jam timbul merintih, pernafasan cuping
hidung, retraksi dan mengi. Bronkopneumonia dapat terjadi pada kondisi
yang berat. Hal ini bukan disebabkan oleh minyak yang diabsorbsi melalui
oral atau ekskresi minyak tanah melalui paru-paru, tetapi akibat aspirasi
trakheobronkial.
e. Pada intoksikasi yang berat dapat pula dilihat kelainan pada urin berupa
albuminuria
f. Tanda-tanda lain seperti rash pada kulit dan dermatitis bila terjadi paparan
pada kulit. Sedangkan pada mata akan terjadi tanda tanda iritasi hingga
kerusakan permanen pada mata

PEMERIKSAAN PENUNJANG 1,2


1. Laboratorium : Darah rutin, urin rutin, tes fungsi renal, tes fungsi hepar, dan
analisa gas darah (BGA)
2. Radiologis

: Foto thorak (pada aspirasi minyak tanah, dapat ditemukan


gambaran pneumonitis). Paling bagus 1-2 jam setelah
kejadian. Namun pneumonia dapat baru tampak pada foto
rontgen setelah 6 18 jam.

PENYULIT 2
1. Pneumonia aspirasi
2. Edema paru akut
3. Sindroma distres pernafasan akut
4. Gangguan keseimbangan asam basa

TERAPI
Gawat darurat:
Primary Survey :
1. Airway: jalan nafas dibuka, jaga agar tetap terbuka, posisi tubuh
dimiringkan dengan posisi stableside position, agar tidak terjadi aspirasi
jikalau penderita muntah. Pasang gudell (OPA) jika diperlukan.1
2. Breathing support: pemberian oksigen konsentrasi tinggi (bila perlu
bantuan nafas). 1,2
a. Atasi bronkospasme dengan bronkodilator (nebulizer)
b. Bila kelainan paru cukup berat, sebaiknya rawat di PICU. Bila terjadi
gagal nafas, dapat dilakukan ventilasi mekanik.
3. Circulation:

pemberian

cairan

melalui

jalur

intra

vena

mempertahankan curah jantung dan kebutuhan cairan tubuh. 1


Suportif 1,2:
1. Tanpa kelainan klinis/radiologik observasi minimal 4 jam
2. Bila foto toraks ulangan setelah 4 jam normal boleh pulang

untuk

3. Antibiotik diberikan sebagai profilaksis terhadap infeksi sekunder


terutama

jika

didapatkan

pneumonia

berat

dengan

febris

atau

leukositosis, gangguan gizi, dan penyakit paru sebelumnya atau defisiensi


imun.
4. Kalau perlu bisa diberikan cairan infus.
5. Kortikosteroid tidak bermanfaat untuk menurunkan kerusakan paru. 2
Penelitian pada binatang menunjukkan tidak ada perbedaan outcome
antara pemberian steroid dengan kontrol pada keracunan kerosene.6
6. Antasida, untuk cegah iritasi mukosa lambung
7. Pemberian Norit sebagai absorbent.
8. Pemberian susu atau bahan dilusi lain
9. Anus dan perineum harus dibersihkan secepatnya untuk mencegah iritasi
(skin burn) sekunder

Hindari :
1. Jangan kumbah lambung! Karena pengosongan lambung dapat
meningkatkan resiko aspirasi.2 Penelitian di AS dan Kanada, tahun 1956,
menunjukkan bahwa kumbah lambung (gastric lavage) tidak memberi
manfaat dan tidak menambah bahaya pada pasien dengan keracunan
kerosene.7 Penelitian lain menunjukkan tingkat kejadian fatal meningkat
pada pasien yang dilakukan tindakan bilas lambung. Tindakan kumbah
lambung hanya dapat dilakukan apabila pasien jelas diketahui meminum
minyak tanah dalam jumlah besar.8 Penelitian prospektif di Iraq (1970),

menunjukkan kejadian komplikasi paru lebih kecil pada pasien yang


dilakukan bilas lambung.4 Penelitian di Iraq pada 1995, menyatakan
bahwa bilas lambung tidak perlu dilakukan pada keracunan kerosene.9
2. Obat yang menimbulkan muntah (bahaya inhalasi).1
3. Adrenalin (myocardium sudah sensitif terhadap keracunan minyak tanah).1
4. Alkohol dan minyak mineral (mempermudah absorbsi minyak tanah). 1
Dekontaminasi dan Pertolongan Pertama 3
Banyak pasien tetap baik dan tidak memerlukan pengobatan.
Staf Ambulance, paramedis dan staf IGD yang menolong korban keracunan
bahan kimia seharusnya dilengkapi dengan baju pelindung standar.
1. Pada Paparan Inhalasi 3
Jauhkan pasien dari paparan/zat kimia dan berikan oksigen.
Pertahankan jalan napas yang bebas dan ventilasi yang adekuat.
Terapkan langkah-langkah lain sesuai kondisi klinis pasien.
2. Pada Paparan Kulit 3
Jauhkan pasien dari paparan / zat kimia.
Lepaskan semua pakaian yang kotor/tercemar.
Cuci area yang terkontaminasi dengan sabun dan air.
Terapi sesuai gejala.
3. Pada Paparan Mata 3
Jauhkan pasien dari paparan / zat kimia.
Lepaskan lensa kontak jika perlu, dan segera mengairi (irigasi) mata yang
terkena

secara menyeluruh dengan air atau 0,9% salin selama setidaknya 10-15
menit.
4. Pada Paparan oral 3
Kumbah lambung (Gastric lavage) tidak boleh dilakukan. Pertimbangkan
aspirasi lambung dalam waktu 1 jam setelah meminum. Namun, jika yang
diminum dalam jumlah yang sangat besar atau ada kekhawatiran adanya
toksin lain, harus dipastikan jalan napas terlindungi.
Berikan oksigen jika diperlukan.
Pasien yang telah menelan dalam jumlah kecil dan tidak ada gejala
kecurigaan aspirasi (rasa tercekik, batuk, muntah) atau keluhan lain sejak
paparan, dapat diobservasi di rumah di bawah pengawasan selama 6 jam
setelah paparan, dengan saran untuk mendatangi rumah sakit jika keluhan
berkembang.
Pasien dengan gejala kecurigaan aspirasi harus dirujuk ke rumah sakit.
Pasien dengan gejala pernapasan persisten, mengantuk atau kejang harus
dirawat di rumah sakit.
Terapkan langkah-langkah lain sesuai kondisi pasien.

PROGNOSIS 1
Parameter
Panas
Malnutrisi berat
Distress respirasi

Temuan Klinis
(-)
(+)
(-)
(+)
(-)
(+) tanpa sianosis
(+) dengan sianosis

Poin
0
1
0
1
0
2
4

Gejala neurologis

(-)
(+) tanpa konvulsi
(+) dengan konvulsi

0
2
4

Prognostic score = (poin dari panas) + (poin dari malnutrisi) + (poin dari distress
pernapasan) + (poin dari gejala neurologis)
Interpretasi :
Skor minimum = 0
Skor maksimum = 10
Skor 4 berhubungan dengan lamanya MRS dan komplikasi
Skor 8 berhubungan dengan peningkatan resiko kematian
Skor 7 mengindikasikan anak akan selamat

DAFTAR PUSTAKA

1. Dwiaryaningrum dkk. Bagian Anestesi FK UNISSULA-RSI Sultan Agung


Semarang.
2. American Academy of Pediatrics. Americans College
Physicians. Advanced Pediatrics Life

Support. Elk

of Emergency
Grove Village:

American Academiy of Pediatrics, 1989; 13145.


3. Chilcott RP. Compendium of Chemical Hazards: Kerosene (Fuel Oil).
Chemical Hazards and Poisons Division of the UK Health Protection
Agency (HPA). 2006
4. Nouri L dan Al-Rahim K. Kerosene Poisoning in Children. Postgraduate
Medical Journal (February 1970) 46, 71-75.
5. Malla T, Malla KK, Rao KS, Gauchan E, Basnet S, Koirala DP. A
Scenario of Poisoning in Children in Manipal Teaching Hospital. J Nep
Paedtr Soc 2011;31(2):83-88.
6. Wolfsdorf J, dan Kndig H. Dexamethasone in The Management of
Kerosene Pneumonia. Pediatrics. 1974;53;86
7. Press E, Adams WC, Chittenden RF, Christian JR, Grayson R, Stewart
CC, et al, Subcommittee on Accidental Poisoning. Co-Operative Kerosene
Poisoning Study: Evaluation of Gastric Lavage and Other Factors in the
Treatment of Accidental Ingestion of Petroleum Distillate Products.
Pediatrics. 1962;29;648.

8. Cachia EA and Fenech FF. Kerosene Poisoning in Children. Arch. Dis.


Childh., 1964, 39, 502.
9. Nagi NA, dan Abdulallah ZA. Kerosene Poisoning in Children in Iraq.
Postgrad MedI 1995; 71: 419-422.