Anda di halaman 1dari 46

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wataala, karena berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul KARSINOMA LAMBUNG DAN ESOFAGUS. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Informatika. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

MEDAN, 22 MARET 2012

(PENULIS)

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan BAB II ISI 2.1 Kanker Lambung

2.1.1 Defenisi Kanker Lambung 2.1.2 Etiologi dan Patogenesis 2.1.3 Tanda dan Gejala 2.1.4 Patofisiologi 2.1.5 Klasifikasi 2.1.6 Manifestasi 2.2 Kanker Esofagus

2.2.1 Defenisi 2.2.2 Etiologi 2.2.3 Tanda dan Gejala 2.2.4 Patofisiologi 2.2.5 Klasifikasi 2.2.6 Manifestasi

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 3.1 Asuhan Keperawatan Pada Kanker Lambung

3.1.1 Pengkajian 3.1.2 Diagnosa 3.1.3 Intervensi dan Rasional 3.2 Asuhan Keperawatan Pada Kanker Esofagus

3.2.1 Pengkajian 3.2.2 Diagnosa 3.2.3 Intervensi dan Rasional BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan dan Saran

4.1.1 Kesimpulan 4.1.2 Saran DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Karsinoma lambung adalah suatu keganasan yang terjadi di lambung, sebagian besar adalah jenis adenokarsinoma. Kanker lambung lebih sering terjadi pada usia lanjut kurang dari 25 % kanker itu terjadi pada orang dibawah usia 50 tahun ( Osteen, 2003 ). Meskipun frekuensi telah menurun secara dramatis selama beberapa dekade terakhir di dunia Barat, kanker ini masih memberikan kontribusi signifikan terhadap kematian secara keseluruhan. Insiden adenocarcinoma sangat bervariasi tergantung pada wilayah geografis. Insiden tahunan di Jepang diperkirakan 140 kasus per 100.000 penduduk per tahun, sedangkan di dunia Barat insiden ini diperkirakan 10 per 100.000 penduduk. Insiden yang lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan rasio dari 1.5:2.5, kelompok-kelompok sosial yang miskin dan orang-orang di atas usia 40 tahun yang diamati. Dan angka kejajian karsinoma lambung (866.000 mortalitas/tahun). (WHO,2008)

Selain karsinoma lambung juga berkembang di masyarakat penyakit karsinoma esophagus,yaitu suatu keganasan yang terjadi pada esofagus. Kanker ini pertama kali di deskripsikan pada abad ke-19 dan pada tahun 1913 reseksi pertama kali sukses dilakukan oleh Frank Torek, pada tahun 1930-an, ashawa di jepang dan marshall di America Serikat berhasil melakukan pembedahan pertama dengan metode transtoraks esofagotomi dengan rekonstruksi ( fisichella, 2009 ). Epidemiologi pada tahun 2000 kanker terbanyak no. 8 412,000 kasus baru pertahun, penyebab kematian nomor 6 dari kematian akibat kanker, 338.000 kematian pertahun.pda tahun 2002,462.000 kasus baru, dan 386.000 kematian. (parkin DM, lancet oncol 2001 dan Ca Cancer J Clin 2005) 1.2 Tujuan 1.2.1 Tujuan umum Mahasiswa esofagus. mengetahui informasi mengenai karsinoma lambung dan karsinoma

1.2.2 Tujuan khusus Mahasiswa mengetahui faktor penyebab karsinoma lambung dan esofagus. Mahasiswa mengetahui patofisiologi karsinoma lambung dan esofagus. Mahasiswa mengetahui cara menegakkan diagnose pada kasus karsinoma lambung dan esofagus. Mahasiswa mengetahui asuhan keperawatan apa saja yang harus diberikan pada kasus karsinoma lambung dan esofagus.

BAB II ISI

2.1.

KANKER LAMBUNG

2.1.1. Defenisi Kanker Lambung Kanker lambung adalah suatu keganasan yang terjadi dilambung, sebagian besar adalah dari jenis adenokarsinoma. Jenis kanker lambung lainnya adalah leiomiosarkoma (kanker otot polos) dan limfoma. Kanker lambung lebih sering terjadi pada usia lanjut. Kurang dari 25% kanker tertentu terjadi pada orang dibawah usia 50 tahun (Osteen, 2003). Kanker lambung pada pria merupakan keganasan terbanyak ketiga setelah kanker paru dan kanker kolorektal, sedangkan pada wanita merupakan peringkat keempat setelah kanker payudara, kanker serviks dan kanker kolorektal (Christian, 1999). Secara umum kanker lambung lebih sering terjadi pada laki-laki dengan perbandingan 2:3; pada kanker kardia lambung, insidensi pada laki-laki tujuh kali lebih banyak dari wanita. Kanker lambung lebih sering terjadi pada usia 50-70 tahun, tetapi sekitar 5% pasien kanker lambung berusia kurang dari 35 tahun dan 1% kurang dari 30 tahun (Neugut, 1996). 2.1.2. Etiologi dan Patogenesis Penyebab pasti dari kanker lambung belum diketahui, tetapi ada beberapa faktor predisposisi yang bisa meningkatkan perkembangan kanker lambung, meliputi hal-hal sebagai berikut: 1. Konsumsi makanan yang diasinkan, diasap atau yang diawetkan. Beberapa studi menjelaskan intake diet dari makanan yang diasinkan menjadi faktor utama peningkatan kanker lambung. Kandungan garam yang masuk kedalam lambung akan memperlambat pengosongan lambung sehingga memfasilitasi konversi golongan nitrat menjadi carcinogenic nitrosamines di dalam lambung. Gabungan kondisi terlambatnya pengosongan asam lambung dan peningkatan komposisi nitrosamines didalam lambung memberi kontribusi terbentuknya kanker lambung (Yarbro, 2005).

2. Infeksi H.pylori. H.pylori adalah bakteri penyebab lebih dari 90% ulkus duodenum dan 80% tukak lambung (Fuccio, 2007). Bakteri ini menempel di permukaan dalam tukak lambung melalui interaksi antara membran bakteri lektin dan oligosakarida spesifik dari glikoprotein membran sel-sel epitel lambung (Fuccio, 2009). 3. Sosioekonomi. Kondisi sosioekonomi yang rendah dilaporkan meningkatkan risiko kanker lambung, namun tidak spesifik. 4. Mengonsumsi rokok dan alkohol. Pasien dengan konsumsi rokok lebih dari 30 batang sehari dan dikombinasi dengan konsumsi alkohol kronik akan meningkat risiko kanker lambung (Gonzales, 2003) 5. NSAIDs. Inflamasi polip lambung bisa terjadi pada pasien yang mengonsumsi NSAIDs dalam jangkan waktu yang lama dan hal ini (polip lambung) dapat menjadi prekursor kanker lambung. Kondisi polip lambung akan meningkatkan risiko kanker lambung (Houghton, 2006). 6. Faktor genetik. Sekitar 10% pasien yang mengalami kanker lambung memiliki hubungan genetik. Walaupun masih belum sepenuhnya dipahami, tetapi adanya mutasi dari gen Ecadherin terdeteksi pada 50% tipe kanker lambung. Adanya riwayat keluarga anemia pernisosa dan polip adenomatus juga dihubungkan dengan kondisi genetik pada kanker lambung (Bresciani, 2003) 7. Anemia pernisiosa. Kondisi ini merupakan penyakit kronis dengan kegagalan absorpsi kobalamin (vitamin B12), disebabkan oleh kurangnya faktor intrinsik sekresi lambung. Kombinasi anemia pernisiosa dengan infeksi H.pylori memberikan kontribusi penting terbentuknya tumorigenesis pada dinding lambung (Santacrose, 2008).

2.1.3. Tanda dan Gejala Tanda dan Gejala yang ditemui antara lain (Davey, 2005): Anemia, perdarahan samar saluran pencernaan dan mengakibakandefisiensi Fe mungkin merupakan keluhan utama karsinomagaster yang paling umum. Penurunan berat badan, sering dijumpai dan menggambarkan penyakit metastasis lanjut. Muntah, merupakan indikasi akan terjadinya (impending) obstruksi aliran keluar lambung. Disfagia atau sulit menelan.

Nausea atau rasa ingin muntah. Kelemahan. Hematemesis atau muntah darah. Regurgitasi. Regurgitasi adalah keluarnya kembali sebagian susu/ cairan yang telah ditelan melalui mulut dan tanpa paksaan, beberapa saat setelah minum susu/air.

Mudah kenyang. Asites perut membesar. Kram abdomen. Darah yang nyata atau samar dalam tinja. Pasien mengeluh rasa tidak enak pada perut terutama sehabis makan.

2.1.4. Patofisiologi Sekitar 95% kanker lambung adalah jenis adenokarsinoma, dan 5%-nya bisa berupa limfoma, leimiosarkoma, karsinoid, atau sarkoma. Menurut Fuccio, 2009, adenokarsinoma lambung terdiri atas dua tipe, yaitu tipe intestinal (tipe struktur glandular) dan tipe difus (tipe infiltratif pada dinding lambung). Dengan adanya kanker lambung, lesi tersebut akan menginvasi muskularis propia dan akan melakukan metastasis pada kelenjar getah bening regional. Lesi pada kanker lambung memberikan berbagai macam keluhan yang timbul, gangguan dapat dirasakan pada pasien biasanya jika sudah pada fase progresif, dimana berbagai kondisi akan muncul seperti dispepsia, anoreksia, penurunan BB, nyeri abdomen, konstipasi, anemia, mual serta muntah. Kondisi ini akan memberikan berbagai masalah keperawatan.

Merokok & alkohol

Faktor genetik

Konsumsi OAINS

Kondisi sosioekonomi rendah

Infeksi Helicobacter pylori

Konsumsi makanan yang diasinkan, diasap, atau yang diawetkan

Kontak agen karsinogenik Mutasi gen E-cadherin

Polip lambung berulang

Anemia pernisiosa

Limfoma MALT

Cacinogenic nitrosamines didalam lambung

Perubahan metaplasia pada epitelium dinding lambung

Kanker lambung

Invasi jaringan dan efek kompresi oleh tumor

Risiko tinggi injuri

Kompresi saraf lokal Nyeri retrosternal

Disfagia Anoreksia

Intervensi radiasi dan kemoterapi

Respons psikologi

Intervensi bedah gastrektomi

Nyeri

Asupan nutrisi tidak adekuat Aktual/risiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan

Kecemasan pemenuhan informasi Perubahan intake nutrisi

preoperatif

pascabedah Luka pascabedah

Respons serabut lokal

Kerusakan jaringan lunak pascabedah Penurunan kemampuan batuk efektif Aktual/risiko ketidakefektifan bersihan jalan nafas

Port de entre pascabedah Risiko infeksi

2.1.5 Klasifikasi Early gastric cancer (tumor ganas lambung dini). Berdasarkan hasil pemeriksaan radiolog dapat dibagi atas:

1. Tipe I (pritrured type) Tumor ganas yang menginvasi hanya terbatas pada mukosa dan sub mukosa yang berbentuk polipoid. Bentuknya ireguler permukaan tidak rata, perdarahan dengan atau tanpa ulserasi. 2. Tipe II (superficial type) Dapat dibagi atas 3 sub tipe. a. Tipe II.a. (Elevated type) Tampaknya sedikit elevasi mukosa lambung. Hampir seperti tipe I, terdapat sedikit elevasi dan lebih meluas dan melebar. b. Tipe II.b. (Flat type) Tidak terlihat elevasi atau depresi pada mukosa dan hanya terlihat perubahan pada warna mukosa. c. Tipe II.c. (Depressed type) Didapatkan permukaan yang iregular dan pinggir tidak rata (iregular) hiperemik / perdarahan. 3. Tipe III. (Excavated type) Menyerupai Bormann II (tumor ganas lanjut) dan sering disertai kombinasi seperti tipe II c dan tipe III atau tipe III dan tipe II c, dan tipe II a dan tipe II c. Advanced gastric cancer (tumor ganas lanjut). Menurut klasifikasi Bormann dapat dibagi atas : 1. Bormann I. Bentuknya berupa polipoid karsinoma yang sering juga disebut sebagai fungating dan mukosa di sekitar tumor atropik dan iregular. 2. Bormann II Merupakan Non Infiltrating Carsinomatous Ulcer dengan tepi ulkus serta mukosa sekitarnya menonjol dan disertai nodular. Dasar ulkus terlihat nekrotik dengan warna kecoklatan, keabuan dan merah kehitaman. Mukosa sekitar ulkus tampak sangat hiperemik. 3. Bormann III. Berupa infiltrating Carsinomatous type, tidak terlihat bats tegas pada dinding dan infiltrasi difus pada seluruh mukosa.

4. Bormann IV Berupa bentuk diffuse Infiltrating type, tidak terlihat batas tegas pada dinding dan infiltrasi difus pada seluruh mukosa.

2.1.6 Manifestasi Gejala awal dari kanker lambung sering tidak nyata karena kebanyakan tumor ini dikurvatura kecil, yang hanya sedikit menyebabkan ganguan fungsi lambung. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa gejala awal seperti nyeri yang hilang dengan antasida dapat menyerupai gejala pada pasien ulkus benigna. Gejala penyakit progresif dapat meliputi tidak dapat makan, anoreksia, dyspepsia, penurunan BB, nyeri abdomen, konstipasi, anemia dan mual serta muntah (Harnawati, 2008). a. Bercak darah dalam tinja merupakan salah satu tanda-tanda menderita kanker perut Adanya darah saat membagikan feses juga disebabkan oleh kondisi lain,. Tapi untuk kanker perut itu adalah salah satu gejala yang paling indikatif. Juga, itu adalah gejala yang dihubungkan ke beberapa jenis kanker. Ketika ada tumor hadir di perut, mungkin menyebabkan darah mengalir keluar melalui tinja. b. Penderitaan dari rasa sakit konstan dalam perut merupakan gejala dari kanker lambung. Hal ini bisa apa saja dari rasa sakit ringan sampai nyeri kram parah. Jenis rasa sakit biasanya ada di daerah atas perut. c. Konstan dengan mual muntah, terutama setelah Anda makan adalah tanda kanker lambung. mual mungkin gigih dan hadir untuk jangka waktu yang panjang. Hal ini pernah berhubungan dengan demam atau sakit kepala. Jenis mual sering menunjukkan masalah kesehatan serius. d. Kehilangan nafsu makan tanpa alasan adalah tanda lain yang cukup sering terlihat pada orang yang menderita dari kanker terdiagnosis dalam lambung. Beberapa orang mungkin mengalami kembung di daerah perut bahkan jika mereka tidak makan apa-apa. Kebiasaan usus dapat berubah drastis. Pada stadium awal kanker lambung, gejalanya tidak jelas dan sering tidak dihiraukan. Jika gejalanya berkembang, bisa membantu menentukan dimana lokasi kanker lambung tersebut. Sebagai contoh, perasaan penuh atau tidak nyaman setelah makan bisa menunjukkan adanya kanker pada bagian bawah lambung.

Penurunan berat badan atau kelelahan biasanya disebabkan oleh kesulitan makan atau ketidakmampuan menyerap beberapa vitamin dan mineral. Anemia bisa diakibatkan oleh perdarahan bertahap yang tidak menyebabkan gejala lainnya. Kadang penderita juga bisa mengalami muntah darah yang banyak (hematemesis) atau mengeluarkan tinja kehitaman (melena). Bila kanker lambung bertambah besar, mungkin akan teraba adanya massa pada dinding perut. Pada stadium awal, tumor lambung yang kecil bisa menyebar (metastasis) ke tempat yang jauh. Penyebaran tumor bisa menyebabkan pembesaran hati, sakit kuning (jaundice), pengumpulan cairan di perut (asites) dan nodul kulit yang bersifat ganas. Penyebaran kanker juga bisa menyebabkan pengeroposan tulang, sehingga terjadi patah tulang (Admin, 2010).

2.2.

Kanker Esofagus

2.2.1. Defenisi Kanker Esofagus Kanker esofagus adalah suatu keganasan yang terjadi pada esofagus. Kanker esofagus pertama kali dideskripsikan pada abad ke-19 dan pada tahun 1913 reseksi pertama sukses dilakukan oleh Frank Torek. Pada tahun 1930-an, Oshawa di Jepang dan Marshall di Amerika Serikat berhasil melakukan pembedahan pertama dengan metode transtorak esofagotomi dengan rekonstruksi (Fisichella, 2009). Kemajuan dari ilmu medis dalam intervensi kanker esofagus melalui intervensi kemoterapi, radioterapi, dan pembedahan memberikan dampak pada asuhan keperawatan yang diberikan pada klien dengan kanker esofagus. Semakin lamanya prediksi usia bertahan hidup, adanya intervensi medis memberikan berbagai masalah keperawatan pada pasien dan memberikan implikasi pada perawat untuk memberikan intervensi yang sesuai dengan kondisi individu agar permasalahannya dapat diturunkan dan dihilangkan.

2.2.2. Etiologi Penyebab pasti kanker esofagus tidak diketahui, tetapi ada beberapa faktor yamg dapat menjadi predisposisi yang diperkirakan berperan dalam pathogenesis kanker. Predisposisi penyebab kanker esofagus biasanya berhubungan dengan terpajannya mukosa esofagus dari agen berbahaya atau stimulus toksik, yang kemudian menghasilkan terbentuknya dysplasia yang bisa menjadi karsinoma. Beberapa faktor juga dapat memberikan kontribusi terbentuknya karsinoma sel skuamosa, seperti berikut ini : 1. Defisiensi vitamin dan mineral. Menurut beberapa studi kekurangan riboflavin pada ras china memberikan kontribusi besar terbentuknya kanker esofagus (Doyle, 2006). 2. Pada faktor merokok sigaret dan penggunaan alcohol secara kronik merupakan faktor penting yang berhubungan dengan meningkatnya risiko kanker esofagus. 3. Infeksi papilomavirus pada manusia dan Helicobacter pylory disepakati menjadi faktor yang memberi kontribusi peningkatan risiko kanker esofagus (Fisichella, 2009). Penyakit refluks gastroesofageal menjadi faktor predisposisi utama terjadinya adenokarsinoma pada esofagus. Faktor iritasi dari bahan refluks asam dan garam empedu didapatkan menjadi penyebab. Sekitar 10 15 % pasien yang dilakukan pemeriksaan endoskopik mengalami dysplasia yang menuju ke kondisi adenokarsinoma. Pasien dengan iritasi refluks gastroesofageal sering berhubungan dengan penyakit Barret esofagus yang berisiko menjadi keganasan (Thornton, 2009).

2.2.3 Tanda dan Gejala Tanda dan gejala kanker esofagus antara lain: Sulit menela Hilang berat badan secara tiba-tiba Nyeri pada dada Lelah

2.2.4. Patofisiologi Secara fisiologis jaringan esofagus oleh epitel nonkeratin skuamosa. Karsinoma sel skuamosa yang maningkat dari epitel terjadi akibat stimulus iritasi kronik agen iritan. Alkohol, tembakau, dan beberapa komponen nitrogen diidentifikasi sebagai karsinoma iritan (Fisichella, 2009). Penggunaan alkohol dan tembakau secara prrinsip menjadi faktor risiko utama terbentuknya karsinoma sel skuamosa. American Cancer Society mencatat bahwa kombinasi yang lama antara minum alkohol dan tembakau akan meningkatkan pembentukan substansi faktor risiko yang lebih tinggi. Nitrosamina dan komponen lain nitrosil di dalam acar (asinan), daging bakar, atau makanan ikan yang diasinkan memberikan kontribusi peningkatan karsinoma sel skuamosa pada esofagus (Thornton, 2009). Pendapat lain menyebutkan adanya hubungan antara peningkatan kejadian karsinoma sel skuamosa pada esofagus dengan konsumsi kronik air hangat (Smeltzer, 2002), konsumsi sirih, asbestos, polusi udara, dan diet tinggi buah dan sayur-sayuran justru menjadi faktor protektif untuk terjadinya karsinoma sel skuamosa (Fisichella, 2009). Beberapa kondisi medis yang dipercaya meningkatkan karsinoma sel skuamosa seperti akalasia, striktur, tumor kepala dan leher, penyakit plummer-vinson syndrome, serta terpajan dari radiasi. Karsinoma sel skuamosa meningkat pada akalasia setelah periode 20 tahun kemudian. Hal ini dipercaya akibat iritasi yang lama dari material lambung. Pada pasien striktur, akibat kondisi kontak dengan cairan alkali akan meningkatkan sekitar 3 % karsinoma sel skuamosa setelah 2040 tahun. Tumor kepala dan leher di hubungkan dengan karsinoma sel skuamosa yang disebabkan oleh faktor penggunaan alkohol dan tembakau penyakit plummer-vinson syndrome akan mengalami disfagia, anemia defisiensi besi, dan web esofagus. Kondisi ini akan meningkatkan insiden kejadian karsinoma sel skuamosa postkrikoid (Enzinger, 2003). Adenokarsinoma esofagus sering terjadi pada bagian tengah dan bagian bawah esofagus. Peningkatan abnormal mukosa esofageal sering dihubungkan dengan refluks gastroesofageal kronik. Metaplasia pada stratifikasi normal epitelium skuamosa bagian distal akan terjadi dan menghasilkan epitelium glandular yang berisi sel-sel goblet yang disebut epitel barret. Perubahan

genetik pada epitelium meningkatkan kondisi dysplasia dan secara progresif membentuk adenokarsinoma pada esofagus (Papinemi, 2009). Penyakit refluks gastroesofageal merupakan faktor penting terbentuknya epitel barret pada pasien dengan penyakit refluks gastroesofageal., sekitar 10 % menghadirkan epitel barret dan pada pasien dengan adanya epitel barret sekitar 1 % akan terbentuk adenokarsinoma esofagus. Oleh karena itu diperlukan untuk dilakukan biopsi endoskopik untuk menurunkan risiko keganasan pada esofagus (Fisichella, 2009). Adanya kanker esofagus bisa menghasilkan metastasis ke jaringan sekitar akibat invasi jaringan dan efek kompresi oleh tumor. Selain itu, komplikasi dapat timbul Karena terapi terhadap tumor. Invasi oleh tumor sering terjadi ke struktur di sekitar medistinum. Invasi ke aorta mengakibatkan perdarahan masif, innvasi ke perikardium terjadi tamponade jantung atau sindrom vena cava superior, invasi ke serabut saraf menyebabkan suara serak atau disfagia, invasi ke saluran napas mengakibatkan fistula trakeoesofageal dan esofagopulmonal, yang merupakan komplikasi serius dan progresif mempercepat kematian. Sering terjadi obstruksi esofagus dan komplikasi yang paling sering terjadi adalah pneumonia aspirasi yang pada gilirannya akan menyebabkan abses paru dan empiema. Selain itu, juga dapat terjadi gagal napas yang disebabkan oleh obstruksi mekanik atau perdarahan. Perdarahan yang terjadi pada tumornya sendiri dapat menyebabkan anemia defisiensi besi sampai perdarahan akut masif. Pasien sering tampak malnutrisi, lemah, emasiasi dan gangguan sistem imun yang kemudian akan menyulitkan terapi (Wang, 2008). Adanya kanker esofagus baik karsinoma sel skuamosa atau adekarsinoma esofagus memberikan berbagai macam keperawatan pada pasien.
Predisposisi stimulus iritasi kronik agen iritan Alkohol, tembakau, dan beberapa komponen nitrogen

Refluks gastroesofageal kronik

Kontak dengan agen karsinogenik iritan Perubahan gentik pada epitelium Displasia epitel barret Karsinoma sel skuamukosa esofagus
Akalasia, striktur, tumor kepala dan leher, penyakit sindrom plummer-vinson dan terpajan radiasi

Kontak mukosa esofagus dengan asam lambung dan garam empedu

Perubahan genetik pada epitel skuamosa Displagia Epitel berat

Adenokarsinoma esofagus

Kanker esofagus

Invasi jaringan dan efek kompresi oleh tumor

Risiko tinggi injuri

Kompresi saraf lokal Nyeri retrosternal Nyeri

Disfagia Anoreksia Intake nutrisi tidak adekuat Aktual/risiko ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan

Intervensi radiasi dan kemoterapi

Respons psikologis Kecemasan pemenuhan informasi

Intervensi bedah transthoraksik esophagectomy Preoperatif

Perubahan intake nutrisi

Pascaoperasi Luka pascaoperasi

Respon serabut lokal

Kerusakan jaringan lunak pascaoperasi

Penurunan kemampuan batuk efektif

Port de entre pascaoperasi Risiko infeksi

Aktual/risiko ketidakefektifan bersihan jalan nafas efektif

2.2.5 Klasifikasi Jenis kanker esofagus antara lain: Kanker esofagus dibagi berdasarkan jenis sel yang terlibat. Mengetahui jenis kanker esofagus yang anda miliki membantu menentukan pilihan perawatan yang harus anda jalani. Jenis kanker esofagus antara lain: Adenicarcinoma. Adenocarcinoma dimulai dari sel kelenjar penghasil lendir di dalam esofagus. Adenocarcinoma terjadi paling sering pada bagian bawah esofagus. Squamous cell carcinoma. Kanker ini rata dan tipis di permukaan esofagus. Squamous cell carcinoma sering terjadi di bagian tengah esofagus. Squamous cell carcinoma adalah kanker esofagus yang umum di seluruh dunia.

Jenis langka lainnya. Kanker esofagus langka antara lain choriocarcinoma, lymphoma, melanoma, sarcoma dan kanker sel kecil.

2.2.6 Manifestasi Bila gejala terjadi yang berhubungan dengan kanker esofagus penyakit ini secara umum meluas. Gejala termasuik disfagia, pada awalnya dengan makanan padat dan akhirnya edngan cairan; perasaan ada massa ditenggorokan; nyeri saat menelan; nyeri substernal atau rasa penuh; dan kemudian regurgutasi makanan yang tidak dicerna disertai bau nafas busuk dan cegukan Pasien pada awalnya hanya makanan padat yng menyebabkan distres, tetapi dengan berkembangnya penyakit dan obsrtuksi cairan tidak adapat masuk ke lambung. Regurgitasi makanan dan saliva terjadi hemoragi dapt terjadi dan penurunan progresif berat badan dan kekuatan terjdi sebagai akibat kelaparan. Gejala selanjutnya mencakup nyeri substernal, cegukan, kesulitan bernfas dn bau nafas busuk

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN

3.1

Asuhan Keperawatan Pada Kanker Lambung

3.1.1 Pengkajian Pengkajian akan didapatkan sesuai stadium kanker lambung. Keluhan anoreksia terjadi pada hampir semua pasien yang mengalami kanker lambung. Keluhan gastrointestinal yang lazim biasanya adalah nyeri epigastrium, berat badan menurun dengan cepat, melena, dan anemia; pada kondisi ini biasanya sudah ada metastasis dalam kelenjar getah bening, regional, paru, otak, tulang, dan ovarium. Pada pengkajian riwayat penyakit, penting diketahui adanya penyakit yang pernah diderita seperti ulkus peptikum atau gastritis kronikyang disebabkan oleh infeksi H.pylori. Pengkajian

perilaku /kebiasaan yang mendukung peningkatan risiko penyakit ini, seperti konsumsi alkohol dan tembakau kronis, konsumsi makanan yang diasinkan (seperti daging bakar atau ikan asin). Perawat juga mengkaji terdapatnya penurunan berat badan selama ada riwayat penyakit tersebut. Pengkajian psikososial biasanya didapatkan adanya kecemasan berat setelah pasien mendapat informasi mengenai kondisi kenker lambung. Perawat juga mengkaji pengetahuan pasien tentang program pengobatan kanker; meliputi radiasi, kemoterapi, dan pembedahan gastrektomi. Pengkajian tersebut memberikan informasi untuk merencanakan tindakan yang sesuai dengan kondisi pasien. Walaupun pemeriksaan fisik tidak banyak membantu untuk menegakkan diagnosis, tetapi pada pemeriksaan gastointestinal akan didapatkan adanya anoreksia, penurunan berat badan, dan pasien terlihat kurus. Pengkajian diagnostik yang diperlukan untuk kanker lambung adalah pemeriksaan radiografi, endoskopi biopsi, sitologi, dan laboratorium klinik.

Pemeriksaan Radiografi 1. Dengan bubur barium, akan terdapat gambaran yang khas pada sebagian besar kasus, dimana akan terlihat tumor dengan permukaan yang erosif dan kasar pada bagian lambung. 2. CT Scan. Pemeriksaan ini dilakukan sebagai evaluasi praoperatif dan untuk melihat stadium dengan sistem TNM dan penyebaran ekstra lambung, yang penting untuk penentuan intervensi bedah radikal dan pemberian informasi prabedah pada pasien. 3. Endoskopi dan biopsi Pemeriksaan endoskopi dan biopsi sangat penting untuk mendiagnosis karsinoma lambung, terutama untuk membedakan antara karsinoma epidermal dan adenokarsinoma. Paling tidak diperlukan beberapa tindakan biopsi, karena kemungkinan terjadi penyebaran ke submukosa dan adanya kecenderungan tertutupnya karsinoma epidermal oleh sel epitel skuamus yang normal.

Pengkajian Penatalaksanaan Medis Penatalaksanaan medis disesuaikan dengan penentuan stadium (staging) dan pengelompokan stadium tumor. Intervensi yang lazim dilakukan adalah tindakan endoskopi, kemoterapi, radioterapi, dan intervensi bedah. Pada polip lambung jinak, diangkat dengan menggunakan endoskopi. Bila karsinoma ditemukan di dalam lambung, pembedahan biasanya dilakukan untuk mencoba menyembuhkannya. Sebagian besar atau semua lambung diangkat (gastrektomi) dan kelenjar getah bening di dekatnya juga ikut diangkat. Bila karsinoma sudah menyebar keluar lambung, tujuan pengobatan yang dilakuka adalah untuk mengurangi gejala dan memperpanjang harapan hidup pasien. Kemoterapi dan terapi penyinaran bisa meringankan gejala. Didapatkan hasil kemoterapi dan terapi penyinaran pada limfoma lebih baik pada karsinoma. Beberapa pasien dengan tingkat toleransi yang baik akan bertahan hidup lebih lama bahkan bisa sembuh total.

3.1.2 Diagnosa Keperawatan 1. Pemenuhan informasi b.d adanya evaluasi diagnostik, intervensi kemoterapi, radioterapi, rencana pembedahan (gastrektomi), dan rencana perawatan rumah. 2. Risiko injuri b.d pascaprosedur bedah gastrektomi. 3. Aktual/risiko ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d kemampuan batuk menurun, nyeri pasca bedah. 4. Aktual/risiko tinggi ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake makanan tidak adekuat. 5. Nyeri b.d iritasi mukosa esofagus, respon pembedahan. 6. Risiko tinggi infeksi b.d adanya port de entre luka pascabedah. 7. Kecemasan b.d prognosis penyakit, salah interpretasi mengenai informasi, dan rencana pembedahan.

3.1.3 Intervensi dan Rasional


Pemenuhan informasi b.d adanya evaluasi diagnostik, intervensi kemoterapi, radioterapi, rencana pembedahan

(gastrektomi), dan rencana perawatan rumah Tujuan: dalam waktu 1x24 jam informasi kesehatan terpenuhi. Kriteria evaluasi: - Pasien mampu menjelaskan kembali pendidikan kesehatan yang diberikan. - Pasien termotivasi untuk melaksanakan penjelasan yang telah diberikan. Rasional Intervensi Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang prosedur Tingkat pengetahuan dipengaruhi oleh kondisi diagnostik, intervensi kemoterapi, radiasi, pembedahan sosioekonomi pasien. Perawat menggunakan pendekatan esofagus dan rencana perawatan rumah. yang sesuai dengan kondisi pasien, dengan mengetahui tingkat pengetahuan pasien, perawat dapat lebih terarah dalam memberikan pendidikan yang sesuai dengan pengetahuan pasien secara efektif dan efisien. Cari sumber yang meningkatkan penerimaan informasi. Keluarga terdekat pasien perlu dilibatkan dalam pemenuhan informasi untuk menurunkan risiko kesalahan interpretasi terhadap informasi yang diberikan. Jelaskan dan lakukan intervensi prosedur diagnostik Pemeriksaan radiografi dengan barium tidak radiografi dengan barium. menyebabkan rasa sakit. Perawat menyiapkan informed consent setelah pasien mendapatkan penjelasan. Persiapan dan penjelasan yang rasional sesuai tingkat individu akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemeriksaan diagnostik. Jelaskan dan lakukan intervensi pada pasien yang akan Sangat penting bagi pasien untuk mengetahui bahwa dilakukan pemeriksaan diagnostik dan terapi endoskopi. pemeriksaan endoskopi dan biopsi sangat penting untuk mendiagnosis karsinoma esofagus terutama untuk membedakan antara karsinoma epidermal dan adenokarsinoma. Informasi ini dapat memberikan pengetahuan bagi pasien dan akan meningkatkan tingkat kooperatif pasien. Jelaskan tentang terapi dengan prosedur kemoterapi. Pasien perlu mengetahui bahwa kemoterapi diberikan sebagai pelengkap terapi bedah dan terapi radiasi. Jelaskan tentang terapi radiasi. Pengetahuan tentang karsinoma lambung bersifat radiosensitif. Pada kebanyakan pasien, radiasi eksternal memberikan efek penyusutan tumor. Hal tersebut akan menambah semangat pasien untuk melakukan terapi. Jelaskan dan lakukan pemenuhan atau persiapan pembedahan. Diskusi jadwal pembedahan.

Diskusi lamanya proses pembedahan

Pasien dan keluarga harus diberitahu waktu dimulainya pembedahan. Apabila rumah sakit mempunyai jadwal kamar operasi yang padat, lebih baik pasien dan keluarga diberitahu tentang banyaknya jadwal operasi yang telah ditetapkan sebelum pasien. Kurang bijaksana bila memberitahukan pasien dan keluarganya tentang lamanya waktu operasi yang akan dijalani. Penundaan yang tidak diantisipasi dapat terjadi karena berbagai alasan. Apabila pasien tidak kembali pada waktu yang diharapkan, keluarga akan menjadi cemas. Anggota keluarga harus menunggu dalam ruang tunggu bedah untuk mendapat berita yang terbaru dari staf. Manfaat dari instruksi praoperatif telah diketahui sejak lama. Setiap pasien diajarkan sebagai seorang

Lakukan pendidikan kesehatan praoperatif

individu dengan mempertimbangkan segala keunikan, tingakt ansietas, kebutuhan, serta harapan-harapannya terhadap prosedur bedah yang akan dijalani. Programkan penyuluhan yang didasarkan pada kebutuhan individu, rencanakan dan implementasikan pada waktu yang tepat. Jika sesi penyuluhan dilakukan beberapa hari sebelum pembedahan, pasien mungkin tidak ingat tentang apa yang dikatakan perawat. Jika instruksi diberikan terlalu dekat dengan waktu pembedahan, pasien mungkin berkonsentrasi atau belajar karena ansietas atau efek dari medikasi praanestesi. Pembersihan dengan enema atau laktasif dapat dilakukan pada malam hari sebelum operai dan mungkin diulang jika tidak efektif. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah defekasi selama anestesi atau untuk mencegah trauma yang tidak diinginkan pada intestinal selama pembedahan abdomen. Tujuan dari persiapan kulit saat praoperatif adalah untuk mengurangi sumber bakteri tanpa mencedari kulit. Pencukuran area operasi dilakukan apabila protokol lembaga atau ahli bedah yang mengharuskan tindakan tersebut. Pasien diberitahukan tentang prosedur mencukur, dibaringkan dalam posisi yang nyaman dan tidak memajankan bagian yang tidak perlu (Smeltzer, 2002). Istirahat merupakan hal yang penting dalam proses penyembuhan normal. Kecemasan karena rencana prosedur pembedahan dapat mengganggu waktu istirahat atau tidur pasien. Kondisi penyakit yang membutuhkan tindakan pembedahan mungkin akan menimbulkan rasa nyeri yang hebat sehingga mengganggu istirahat. Pasien sudah menyelesaikan administrasi dan mengetahui mengenai biaya pembedahan. Pasien sudah dapat penjelasan dan menandatangani informed consent. Salah satu tujuan dari asuhan keperawatan praoperatif adalah untuk mengajarkan pasien cara untuk meningkatkan ventilasi paru dan ogsigenasi darah setelah tindakan anestesi umum. Hal ini dicapai dengan memeragakan pada pasien bagaimana cara melakukan nafas dalam, nafas lambat (menahan inspirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan nafas dengan lambat. Pasien diletakkan dalam posisi duduk untuk ekspansi paru yang maksimal. Tujuan peningkatan pergerakan tubuh secara hati-

Beritahu persiapan pembedahan. Persiapan intestinal.

Persiapan kulit.

Pencukuran area operasi.

Persiapan istirahat dan tidur.

Persiapan administrasi dan informed consent.

Ajarkan aktivitas pada postoperasi. Latihan nafas diafragma.

Beritahu pasien dan keluarganya kapan pasien sudah bisa dikunjungi. Beri informasi tentang manajemen nyeri. Beritahu pasien dan keluarga dengan hati-hati, bahwa pada fase awal pascabedah pasien akan mendapat perawatan intensif

hati pada pascaoperatif adalah untuk memperbaiki sirkulasi, untuk mencegah stasis vena, dan untuk menunjang fungsi pernafasanyang optimal. Pasien ditunjukkan bagaimana cara mengganti dari satu sisi kesisi lainnya dan cara untuk mengambil posisi lateral. Posisi ini akan digunakan pada pascaoperatif (bahkan sebelum pasien sadar) dan dipertahankan setiap 2 jam. Pasien akan mendapat manfaat bila mengetahui kapan keluarganya dan temannya bisa berkunjung setelah pembedahan. Manajemen nyeri dilakukan untuk peningkatan kontrol nyeri pada pasien. Perawat menjelaskan dengan hati-hati agar tidak terjadi keputusan untuk membatalkan intervensi bedah. Perawat memberika penekanan bahawa perawatan diruang intensif merupakan intervensi untuk mempercepat kesembuhan pasien.

Berikan informasi pada pasien yang akan menjalani perawatan rumah, meliputi: Hindari merokok.

Pasien yang terbiasa merokok sebelum pembedahan, kemungkinan akan mengulangi kebiasaan ini setelah pulang kerumah. Penjelasan bahwa dampak dari asap rokok akan memperlambat proses penyembuhan mungkin akan dapat diterima oleh pasien. Aktivitas berat diperbolehkan setelah 12 minggu tindakan pembedahan. Untuk aktivitas ringan, pekerjaan rutin ringan, dan hubungan seksual dapat dilakukan apabila pasien mampu dan dilakukan secara hati-hati. Mengendarai sepeda motor atau mobil dianjurkan setelah 3 minggu menjalani perawatan dirumah. Komponen ini dapat memperlambat pengosongan lambung, memperberat peristaltik dan meningkatkan iritasi pada gastrointestinal. Konsistensi yang lunak pada makanan akan mempermudah proses pencernaan oleh sistem gastrointestinal. Intervensi untuk mencegah terjadinya refluks. Beberapa agen nyeri farmakologik biasanya memberikan reaksi negatif pada gastrointestinal.

Hindari aktivitas berat pascaoperasi.

Hindari minum kopi, the, coklat, minuman kola, minuman beralkohol dan makanan yang sulit dicerna. Anjurkan pasien untuk minum setiap akan menelan makanan.

Hindari makan 3 jam sebelum tidur

Anjurkan untuk semampunya untuk melakukan manajemen nyeri nonfarmakologi pada saat nyeri muncul Berikan motivasi dan dukungan moral

Intervensi untuk meningkatkan keinginan pasien dalam pelaksanaan prosedur pengembalian fungsi, pascabedah gastrektomi.

Risiko injuri b.d pascaprosedur bedah gastrektomi.

Tujuan: dalam waktu 2x24 jam pascaintervensi reaksi esofagus, pasien tidak mengalami injuri. Kriteria evaluasi: - TTV dalam batas normal. - Kondisi kepatenan selang dada optimal. - Tidak terjadi infeksi pada daerah insisi. Intervensi Rasional Lakukan perawatan diruang intensif. Untuk menurunkan risiko injuri dan memudahkan intervensi pasien selama 48 jam diruang rawat. Kaji faktor-faktor yang meningkatkan risiko injuri. Saat kondisi pascabedah, akan terdapat banyak drain pada tubuh pasien. Keterampilan keperawatan kritis diperlukan agar pengkajian tanda-tanda vital dapat dilakukan secara sistematis. Kaji status neurologi dan laporkan apabila terdapat Pengkajian status neurologi dilakukan pada setiap perubahan status neurologi. pergantian staf. Setiap perubahan status neurologis merupakan salah satu tanda terjadi komplikasi bedah. Penurunan respon, perubahan pupil, gangguan atau kelemahan yang bersifat satu sisi (unilateral), ketidak mampuan dalam kontrol nyeri, atau perubahan neurologis lainnya perlu dilaporkan pada tim medis untuk mendapatkan intervensi selanjutnya. Pertahankan status hemodinamik yang optimal. Pasien akan mendapat cairan intervena sebagai pemeliharaan status hemodinamik. Pantau kondisi status cairan sebelum memberikan cairan kristaloid atau komponen darah. Pada periode immediate pascabedah, pemberian cairan kristaloid atau komponen darah dilakukan setelah pasien tidak mengalami overload cairan. Hal ini perlu diperhatikan oleh perawat karena pada tindakan gastrektomi, jaringan limfatik disekitarnya juga dibersihkan. Hilangnya jaringan limfatik memberikan predisposisi terjadinya edema pulmonal karena berkurangnya drainase limfatik pada sistem respirasi (Gregoire, 1998). Kondisi malnutrisi dan kurang protein juga akan menambah berat kondisi edema pulmonal. Pasien pascaprosedur esofagektomi akan mengalami transudasi cairan ke intertisial. Perawat memantau produksi urine dalam kisaran 30ml/jam sebagai batas dalam pemberian dehidrasi optimal.

Pantau pengeluaran urin rutin.

Evaluasi secara hati-hati dan dokumentasikan intake dan output cairan. Monitor selang nasogastrik.

Monitor dan cegah terjadinya Gastrik Dumping Syndrome.

Perawat mendokumentasikan jumlah urin dan waktu pencatatan, serta memeriksa kepatenan saluran urin. Secara umum pasien pascabedah esofagektomi akan terpasang selang nasogastrik. Perawat berusaha untuk tidak mengubah posisi, mengangkat, memanipulasi, atau mengirigasi selang kecuali memang diperlukan untuk terapi. Hal ini untuk menurunkan risiko kerusakan anastomosis. Perawat selalu memonitor selang nasogastrik dari pengeluaran darah segar selama 12 jam pascabedah yang menjadi pertanda kebocoran anastomosis. Perawat memonitor adannya Gastrik Dumping Syndrome yang ditandai dengan kondisi umum melemah, pingsan, keluhan pusing, berkeringat banyak, badan terasa tidak nyaman, diare tiba-tiba, palpitasi,

takikardi, dan gejala hipoglikemia. Manajemen keperawatan pada Gastrik Dumping Syndrome (Heitkemper, 2000) meliputi: Lakukan intervensi menurunkan injuri pada sistem pernafasan. Monitor adanya komplikasi pascagastrektomi pada sistem pernafasan. Berikan posisi duduk selama makan dan beringkan pasien 30 menit setelah makan. Kolaborasi pemberian antispasmodik. Minum air putih 1 jam sebelum atau 1 jam setelah makan. Diet rendah kalori, tinggi protein, tinggi lemak dan tinggi serat. Beri makanan rutin dengan bolus kecil dan diulang 6-8 kali sehari.

Risiko komplikasi pada sistem pernafasan merupakan kondisi yang paling sering terjadi pada pasien pascabedah gastrektomi. Ketidakmampuan dalam pembersihan jalan nafas merupakan kondisi yang paling sering menyebabkan atelaktasis, pneumonia dan Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) (Osten, 2003)

Monitor adanya tanda dan gejala ARDS

Monitor adanya komplikasi kebocoran anastomosis pascabedah dan lakukan intervensi untuk mencegah atau menurunkan kondisi tersebut.

Kolaborasi untuk pemberian antibiotik pascabedah.

Kondisi ARDS merupakan salah satu komplikasi pascagastrektomi berhubungan dengan hilangnya kelenjar limfatik dan transudasi cairan ke interstisial. Meskipun mekanisme ARDS pada gastrektomi belum dimengerti, tetapi respon dari inflamasi sistemik dipercaya menjadi peran penting tentang kondisi ini (Osten, 2003). Oleh karena kondisi ARDS tidak bisa diprediksi, maka pada fase awal pascagastrektomi perawat memantau pemberian terapi oksigen secara optimal. Kebocoran merupakan salah satu komplikasi tersering pada pascabedah gastrektomi. Tanda dan gejala yang lazim didapatkan meliputi hipertermi ( 38,6 C), nyeri inflamasi, takipnea, takikardi secara tiba-tiba, hipoksemia, emfisema subkutan (Osten, 2003) dan perubahan warna pada selang drainase. Apabila terdapat tanda dan gejala ini, laporkan secepatnya ke tim medis untuk intervensi selanjutnya. Antibiotik menurunkan risiko infeksi yang akan menimbulkan reaksi inflamasi lokal dan dapat memperlambat proses penyembuhan pascafunduplikasi lambung.

Aktual/risiko ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d kemampuan batuk menurun, nyeri pascabedah. Tujuan: dalam waktu 2x24 jam pascabedah gastrektomi, bersihan jalan nafas pasien tetap optimal. Kriteria evaluasi: - Jalan nafas bersih, tidak ada akumulasi darah pada jalan nafas. - Suara nafas normal, tidak ada bunyi nafas tambahan seperti stridor. - Tidak ada penggunaan otot bantu pernafasan. - RR dalam batas normal 12-20 x/menit.

Intervensi Kaji dan monitor jalan nafas.

Beri oksigen 3 liter/menit

Instruksikan pasien untuk nafas dalam dan melakukan betuk efektif.

Lakukan fisioterapi dada.

Tetapkan lokasi dari setiap segmen paru.

Rasional Deteksi awal untuk interpretasi intervensi selanjutnya. Salah satu cara untuk mengetahui apakah pasien bernafas atau tidak adalah dengan menempatkan telapak tangan diatas hidung dan mulut pasien, untuk merasakan hembusan nafas. Gerakan toraks dan diafragma tidak selalu menandakan pasien bernafas. Pemberian oksigen dilakukan pada fase awal pascabedah. Pemenuhan oksigen dapat membantu meningkatkan PaO2 dicairan otak, yang akan memengaruhi pengaturan pernafasan. Pada pasien pascabedah dengan tingkat toleransi yang baik, pernafasan diafragma dapat meningkatkan ekspansi paru. Berbagai tindakan dilakukan untuk memperbesar ekspansi dada dan pertukaran gas. Sebagai contoh, meminta pasien untuk menguap atau melakukan inspirasi maksimal. Batuk juga didorong untuk melonggarkan sumbatan mukus. Bantu pasien mengatasi ketakutannya bahwa ekskresi dari batuk dapat menyebabkan insisi bedah akan terbuka. Tujuan dari fisioterapi dada adalah memfasilitasi bersihan jalan nafas dari sekret yang tidak dapat dilakukan dengan batuk efektif, meningkatkan pertukaran udara yang adekuat, menurunkan frekuensi pernafasan serta meningkatkan ventilasi dan pertukaran udara. Perawat melakukan auskultasi agar dapat menentukan area paru dengan bunyi dengan bunyi nafas ronkhi, sebagai dasar untuk menentukan pengaturan posisi. Sebelum melakukanintervensi, perawat mengkaji tingkat kemampuan dan kerjasama pasien. Apabila tingkat toleransi dari pasien tidak optimal, perawat bertugas menjaga dan mencegah trauma sekunder dari intervensi seperti memasang pagar pengamanan. Apabila kemampuan toleransi pasien baik maka penjelasan dan kerjasama pasien akan meningkatkan efisiensi dan efektivan tindakan.

Jaga posisi pasien jangan sampai jatuh, gunakan pagar pengaman yang ada pada sisi tempat tidur.

Lakukan diskusi dengan pasien tentang tehnik penatalaksanakan, dan demonstrasikan langkah demi langkah prosedur yang akan dilaksanakan. Lakukan vibrasi dan perkusi.

Lakukan nebulizer.

Pemberian vibrasi dan perkusi sesuai area penumpukan sekret akan memobilisasi sekret dari jalan nafas kecil kejalan nafas besar sehingga akan mudah dibatukkan. Nebulizer dilakukan dengan cara menghirup larutan obat yang telah diubah menjadi bentuk kabut atau uap. Pengiriman obat melalui nebulizer kejalan nafas sangat cepat, sehingga aksinya lebih cepat dalam mengencerkan sekret pada jalan nafas. Kombinasi antara nebulizer dan fisioterapi dada akan meningkatkan efektifitas evakuasi sekret dari jalan nafas. Medikasi nebulizer kontra indikasi pada keadaan dimana

Bersihkan sekret pada jalan nafas dan lakukan suction apabila kemampuan mengevakuasi sekret tidak efektif.

Evaluasi dan monitor keberhasilan intervensi pembersihan jalan nafas.

suara nafas tidak ada atau berkurang, kecuali jika medikasi nebulizer diberikan melalui endotrakeal tube yang menggunakan tekanan positif. Kesulitan bernafas dapat terjadi akibat sekresi lensdir yang berlebihan. Mengganti posisi pasien dari satu sisi kesisi lainnya memungkinkan cairan yang terkumpul untuk keluar dari sisi mulut. Jika gigi pasien mengatup, mulut dapat dibuka hati-hati secara manual dengan spatel lidah yang dibungkus kassa. Mukus yang menyumbat faring atau trakea dihisap dengan ujung penghisap faringel atau kateter nasal yang dimasukkan kedalam nasofaring atau orofaring. Apabila tingkat toleransi pasien tidak optimal, lakukan kolaborasi dengan tim medis untuk segera dilakukan terapi endoskopi atau pemasangan tamponade balon.

Risiko tinggi ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake makanan tidak adekuat Tujuan: setelah 3x24 jam pada pasien nonbedah dan setelah 7x24 jam pascabedah asupan nutrisi dapat optimal dilaksanakan. Kriteria evaluasi: - Pasien dapat menunjukkan metode makanan yang tepat. - Terjadi penurunan gejala refluks esofagus, meliputi odinofagia berkurang, RR dalam batas normal 1220 x/menit. - Berat badan pada hari ke-7 pascabedah meningkat 0,5 kg. Intervensi Rasional Intervensi nonbedah: Anjurkan pasien makan dengan perlahan dan Agar makanan dapat lewat dengan mudah ke mengunyah makanan dengan seksama. lambung. Evaluasi adanya alergi makanan dari kontraindikasi terhadap makanan. Beberapa pasien mungkin mengalami alergi terhadap beberapa komponen makanan tertentu dan beberapa penyakit lain, seperti diabetes melitus, hipertensi dan lainnya memberikan manifestasi terhadap persiapan komposisi makanan yang akan diberikan. Membantu merangsang nafsu makan. Mempertimbangkan keinginan individu dapat memperbaiki asupan nutrisi. Berguna mengukur keefektifan nutrisi dan dukungan cairan. Menurunkan rasa tidak enak karena adanya sisa makanan dan bau obat yang dapat merangsang pusat muntah. Parameter penting adalah dengan melakukan auskultasi bising usus. Apabila didapatkan bising usus artinya fungsi gastrointestinal sudah pulih setelah anastesi umum. Intervensi ini untuk menurunkan risiko infeksi oral.

Sajikan makanan dengan cara yang menarik. Fasilitasi pasien memperoleh diet biasa yang disukai (sesuai indikasi). Pantau intake dan output, anjurkan untuk timbang berat badan secara periodik (sekali seminggu).

Lakukan dan ajarkan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan serta sebelum dan sesudah intervensi/pemeriksaan peroral. Intervensi pascabedah: Kaji kondisi dan toleransi gastrointestinal.

Lakukan perawatan mulut.

Masukkan 10-20 ml cairan sodium klorida setiap sif melalui selang nasogastrik.

Pembersihan ini selain untuk menjaga kepatenan selang nasogastrik juga untuk meningkatkan penyembuhan pada area pascagastrektomi. Pemberian nutrisi cair dilakukan untuk memenuhi asupan nutrisi melalui gastrointestinal. Pemberian nutrisi melalui nasogastrikharus dikolaborasikan dengan tim medis yang merawat pasien. Ahli gizi harus terlibat dalam penentuan komposisi dan jenis makanan yang akan diberikan sesuai dengan kebutuhan individu. Intervensi untuk mencegah terjadinya refluks.

Berikan nutrisi cair melalui selang nasogastrik atau atas instruksi medis.

Kolaborasi dengan ahli gizi mengenai jenis nutrisi yang akan digunakan pasien.

Hindari makan 3 jam sebelum tidur.

Nyeri b.d iritasi mukosa lambung, respon pembedahan. Tujuan: dalam waktu 7x24 jam pascabedah, nyeri berkurang atau teradaptasi. Kriteria evaluasi: - Secara subjektif menyatakan nyeri berkurang atau teradaptasi. - Skala nyeri 0-1 (dari skala 0-4). - TTV dalam batas normal, wajah terlihat rileks. Intervensi Rasional Jelaskan dan bantu pasien dengan tindakan pereda nyeri Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan terapi nonfarmakologi dan noninvasif. nonfarmakologi telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri. Lakukan manajemen nyeri. Kaji nyeri dengan pendekatan PQRST. Pendekatan PQRST dapat serta komprehensif menggali kondisi nyeri pasien. Apabila pasien mengalami skala nyeri 3 (dari skala 0-4) ini merupakan peringatan yang perlu diwaspadai karena merupakan manifestasi klinik dari komplikasi pascabedah esofagektomi. Istirahatkan pasien pada saat nyeri muncul. Istirahat, secara fisiologis akan menurunkan kebutuhan oksigen yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme basal. Meningkatkan asupan oksigen sehingga akan menurunkan nyeri sekunder dari iskemia intestinal. Distraksi (pengalihan perhatian) dapat menurunkan stimulus internal. Untuk mengontrol nyeri pasien harus dirawat dirunag intensif. Lingkungan tenang akan menurunkan stimulus nyeri eksternal. Pembatasan pengunjung membantu meningkatkan kondisi oksigen ruangan yang akan berkurang apabila banyak pengunjung yang berada diruangan. Istirahat akan menurunkan kebutuhan oksigen jaringan perifer. Manajemen sentuhan saat nyeri berupa sentuhan

Ajarkan tehnik relaksasi nafas dalam pada saat nyeri muncul. Ajarkan tehnik distraksi pada saat nyeri.

Rawat pasien diruang intensif.

Lakukan manajemen sentuhan.

Tingkatkan pengetahuan pasien mengenai sebab-sebab nyeri dan menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung. Tindakan kolaborasi: Analgetik intravena

dukungan psikologis dapat membantu menurunkan nyeri. Pengetahuan akan membantu mengurangi nyeri dan dapat membantu mengembangkan kepatuhan pasien terhadap rencana terapi. Analgetik diberikan untuk membantu menghambat stimulus nyeri di korteks serebri sehingga nyeri dapat berkurang.

Risiko tinggi infeksi b.d adanya port de entre luka pascabedah Tujuan: dalam waktu 12x24 jam terjadi perbaikan pada integritas jaringan lunak dan tidak terjadi infeksi. Kriteria evaluasi: - Jahitan dilepas pada hari ke-12 tanpa adanya tanda-tanda infeksi dan peradangan pada area luka. - Leukosit dalam batas normal. - TTV dalam batas normal. Intervensi Rasional Kaji jenis pembedahan, waktu pembedahan dan apakah Mengidentifikasi kemajuan atau penyimpangan dari adanya instruksi khusus dari tim dokter bedah dalam tujuan yang diharapkan. melakukan perawatan luka. Jaga kondisi balutan dalam keadaan bersih dan kering. Kondisi bersih dan kering akan menghindari kontaminasi komensal yang akan menyebabkan respon inflamasi lokal dan memperlambat proses penyembuhan luka. Lakukan perawatan luka. Lakukan perawatan luka steril pada hari kedua Perawatan luka sebaiknya tidak dilakukan setiap pascabedah dan diulang setiap dua hari sekali pada hari, untuk mengurangi kontak dengan luka yang luka abdomen. steril, sehingga mencegah kontaminasi kuman pada luka bedah. Lakukan perawatan luka pada area sekitar drain. Semua drain pascabedah gastrektomi merupakan material yang menjadi jalan masuk kuman. Perawat melakukan perawatan luka setiap hari atau disesuaikan dengan kondisi pembalutan drain, apabila kotor maka harus diganti. Pembersihan debris (sisa fagositosis, jaringan mati) dan kuman sekitar luka dengan mengoptimalkan kelebihan dari iodine providum sebagai antiseptik dan dengan arah dari dalam keluarvdapat mencegah kontaminasi kuman kejaringan lunak. Antiseptik iodine providum mempunyai kelemahan dalam menurukan proses epitelisasi jaringan sehingga memperlambat pertumbuhan luka, maka harus dibersihkan dengan alkohol atau normal salin.

Bersihkan luka dan drain dengan cairan antiseptik jenis iodine providum dengan cara swabbing dari arah dalam keluar.

Besihkan bekas sisa iodine providum dengan alkohol 70% atau normal salin dengan cara swabbing dari arah dalam keluar.

Tutup luka dengan kassa steril dan tutup seluruh permukaan kassa dengan plester adhesif.

Angkat drain pascabedah sesuai instruksi medis. Kolaborasi penggunaan antibiotik.

Penutupan secara menyeluruh dapat menghindari kontaminasi dari benda atau udara yang bersentuhan dengan luka bedah. Pengangkatan drain sesuai indikasi bertujuan untuk menurunkan risiko infeksi. Antibiotik injeksi diberikan selama 3 hari pascabedah, kemudian dilanjutkan antibiotik oral sampai jahitan

dilepas. Perawat berperan mengkaji adanya reaksi dan riwayat alergi serta memberikan antibiotik sesuai instruksi dokter.

Kecemasan b.d prognosis penyakit, salah interpretasi mengenai informasi. Tujuan: dalam waktu 1x 24 jam pasien secara subjektif melaporkan rasa cemas berkurang. Kriteria evaluasi: - Pasien mampu mengungkapkan perasaannya kepada perawat. - Pasien dapat mendemonstrasikan keterampilan pemecahan masalahnya dan perubahan koping yang digunakan sesuai situasi yang dihadapi. - Pasien dapat mencatat penurunan kecemasan/ketakutan dibawah standar. - Pasien dapat rileks dan tidur/istirahat dengan baik. Intervensi Rasional Monitor respon fisik seperti kelemahan, perubahan tanda vital, Digunakan dalam mengevaluasi derajat/tingkat atau gerakan yang berulang-ulang. Catat kesesuaian respon kesadaran/konsentrasi, khususnya ketika melakukan verbal dan nonverbal selama kounikasi. komunikasi verbal. Anjurkan pasien dan keluarga untuk mengungkapkan Memberikan kesempatan untuk berkonsentrasi, dan mengekspresikan rasa takutnya. kejelasan dari rasa takut dan mengurangi cemas yang berlebihan. Beri dukungan prabedah Hubungan emosional yang baik antara perawat dan pasien akan mempengaruhi penerimaan pasien terhadap tindakan pembedahan. Aktif mendengar semua kekhawatiran dari keprihatinan pasien adalah bagian penting dari evaluasi praoperatif Berikan privasi untuk pasien dan orang terdekat. Memberi waktu untuk mengekspresikan perasaan, menghilangkan cemas, dan perilaku adaptasi. Adanya keluarga dan teman-teman yang dipilih pasien akan aktivitas pengalihan (misalnya membaca) akan menurunkan perasaan terisolasi. Beri kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan Pasien yang divonis mengalami kanker lambung ansietasnya. mempunyai tingkat penerimaan yang bervariasi. Dengan pendekatan yang baik sesuai dengan toleransi individu, maka ungkapan yang dikemukakan pasien dapat menghilangkan ketegangan terhadap kekhawatiran yang tidak di ekspresikan Kolaborasi: Meningkatkan relaksasi dan menurunkan kecemasan. Beri anticemas sesuai indikasi, contohnya Diazepam. Cara reaksi dari pasien/keluarga. Berikan kesempatan Kecemasan dan respon anggota keluarga terhadap apa untuk mendiskusikan perasaannya/konsentrasinya, serta yang terjadi, dapat disampaikan oleh pasien harapan masa depan.

3.2

Asuhan Keperawatan Pada Kanker Esofagus

3.2.1 Pengkajian Pada pengkajian akan didapatkan sesuai stadium kanker esofagus. Keluhan disfagia terdapat pada hampir semua pasien yang mengalami kanker esofagus. Pada keluhan disfagia berat,

apabila didapatkan pasien tidak bisa meneguk air minum, maka memberikan indikasi pembesaran tumor telah menyumbat lumen esofagus. Pada pengkajian riwayat penyakit, penting untuk diketahui adanya penyakit yang pernah diderita seperti refluks gastroesofageal, akalasia, striktur esofagus, dan tumor pada kepala atau leher. Pengkajian kebiasaan yang mendukung peningkatan risiko juga dilakukan, seperti penggunaan alkohol dan tembakau kronis, konsumsi makanan yang diasinkan, daging bakar, atau ikan asin. Selain itu, perawat juga mengkaji apakah selama ada riwayat penyakit tersebut juga disertai adanya penurunan berat badan. Pengkajian psikososial biasanya di dapatkan adanya kecemasan berat setelah mendapat pemberitahuan tentang kondisi kanker esofagus. Pengkajian pengetahuan pasien tentang program pengobatan kanker meliputi radiasi, kemoterapi, dan pembedahan reseksi esofagus, sehingga dapat memberikan manifestasi untuk merencanakan tindakan yang sesuai dengan kondisi individu. Walaupun pada pemeriksaan fisik tidak banyak membantu untuk menegakkan diagnostik, tetapi pada pemeriksaan gastrointestinal akan didapatkan adanya anoreksia, muntah, dan muntah darah (dengan material seperti tumpukan kopi). Pada pemeriksaan feses didapatkan feses berwarna gelap yang menandakan adanya perdarahan pada saluran gastrointestinal atas. Pada pemeriksaan fisik lainnya didapatkan adanya penurunan berat badan dan pasien terlihat kurus. Apabila invasi metastasis sudah mengenai trakeoesofageal, pada pasien akan didapatkan adanya perubahan suara bicara yang menandakan telah terjadi invasi ke nervus laringeus rekurens atau aspirasi kronik. Batuk kronik dapat terjadi karena aspirasi kronik atau fistula trakeoesofageal yang pada gilirannya juga mengakibatkan batuk-batuk saat menelan. Komplikasi pulmonal lainnya yang sering terjadi adalah pneumonia. Perdarahan pada tumor mengakibatkan anemia defisiensi besi atau hematemesis dan melena. Pada pasien juga di dapatkan adanya nyeri pada retrosternal yang tidak berkurang dengan melakukan istirahat. Pada beberapa kasus juga didapatkan adanya gangguan pernapasan akibat aspirasi makanan yang belum dicerna atau invasi trakeobronkial oleh tumor. Pada pengkajian diagnostik untuk kanker esofagus yang diperlukan adalah pemeriksaan radiografi, endoskopi biopsi, sitologi, dan laboratorium klinik.

1. Pemeriksaan Radiografi a. Dengan bubur barium akan terdapat gambaran yang khas pada sebagian besar kasus dimana akan terlihat tumor dengan permukaan yang erosive dan kasar pada bagian esofagus yang terkena. Bila terdapat penyempitan pada bagian distal oleh penyebaran tumor ini dari daerah kardia lambung, hal ini harus dapat dibedakan dengan akalasia. b. CT Scan untuk melihat derajat pembesaran tumor pada rongga toraks dan diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat metastasis pada hati. 2. Endoskopi dan Biopsi Pemeriksaan endoskopi dan biopsi sangat penting untuk mendiagnosis karsinoma esofagus, terutama untuk membedakan antara karsinoma epidermal dan adenokarsinoma. Pada pemeriksaan tersebut di perlukan beberapa biopsi karena terjadi penyebaran ke submukosa dan adanya kecenderungan tertutupnya karsinoma epidermal oleh sel epitel skuamosa yang normal. 3. Sitologi Pemeriksaan sitologik didapatkan dengan cara bilasan pada daerah tumor tersebut. Sel-sel tumor juga diperoleh pada ujung esofagoskop ketika alat ini keluar setelah pemeriksaan endoskopik. 4. Pemeriksaan tes faal hati dan ultrasonografi diperlukan untuk mengetahui apakah ada metastasis pada hati. 2.2.5. Pengkajian Penatalaksanaan Medis Penatalaksanaan medis disesuaikan dengan penentuan stadium (staging) dan pengelompokan stadium tumor. Penatalaksanaan yang lazim dilakukan adalah intervensi nonoperasi dan intervensi operasi. 1. Intervensi nonoperasi. a. Radiasi. Karsinoma esofagus bersifat radiosensitif. Pada kebanyakan pasien, radiasi eksternal memberikan efek penyusutan tumor. Komplikasi akibat efek radiasi sering berupa striktura, fistula dan perdarahan, selain itu, terkadang juga dijumpai komplikasi kardiopulmonal (Enzinger, 2003). b. Kemoterapi.

Kemoterapi dapat diberikan sebagai pelengkap terapi operasi dan terpi radiasi. Biasanya digunakan kemoterapi kombinasi sisplatin bersama paclitaxel da 5 fluorouracil dimana memberikan respon sempurna pada 37% pasien (Le prise, 1994). c. Terapi laser (Nd:YAG laser) Pemberian intervensi terapi laser (Nd:YAG laser) dapat membantu menurunkan secara sementara kondisi disfagia pada 70% pasien kanker esofagus. Pelaksanaan secara multipel yang dibagi pada beberapa sesi dapat meningkatkan kepatenan lumen esofagus (Wang, 2008). d. Photodynamic therapy (PDT). PDT dilakukan pada pasien dengan keganasan jaringan displastik. Fotosintesis mentransfer energi ke substrat kimia pada jaringan abnormal. Beberapa studi PDT atau terapi laser dengan kombinasi penghambat asam jangka panjang (long term acid inhibition) menghasilkan terapi endoskopi yang efektif pada displasia mukosa Barret dan mengeleminasi mukosa Barret (Fisichella, 2009). 2. Intervensi bedah. Esofagotomi dilakukan melalui insisi abdominal dan serviks melewati hiatus esofagus/THE (transhiatal esophagectomy) atau dengan cara insisi abdominal dan toraks kanan/TTE (transthoracic esophagectomy). Pada transhiatal esophagectomy rongga dada tidak dibuka. Ahli bedah melukan manuver transhiatal dengan mengangkat esofagus secara manual dari rongga toraks. Pada transthoracic esophagectomy bagian tengah dan bawah esofgus diangkat melalui rongga toraks yang dibuka. Pembukaan abdomen dilakukan agar dapat memobilisasi lambung untuk memudahkan reseksi (Mackenzie, 2004).

3.2.2 DIAGNOSIS KEPERAWATAN 1. Pemenuhan informasi b.d adanya evaluasi diagnostik, intervensi kemoterapi, radioterapi, rencana pembedahan esofagus, dan rencana perawatan rumah. 2. Risiko injuri b.d pascaprosedur bedah reseksi esofagus.

3. Aktual/risiko ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d kemampuan batuk menurun, nyeri pasca operasi. 4. Aktual/risiko tinggi ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kurangnya intake makanan yang adekuat. 5. Nyeri b.d iritasi mukosa esofagus, respons pembedahan. 6. Risiko tinggi infeksi b.d adanya port de entree luka pasca bedah. 7. Kecemasan b.d prognosis penyakit, misinterpretasi informasi, rencana pembedahan.

3.2.3 Intervensi dan Rasional


Pemenuhan informasi b.d. adanya evaluasi diagnostik, intervensi kemoterapi, radioterapi, rencana pembedahan esofagus, dan rencana perawatan rumah Intervensi Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang prosedur diagnostik, intervensi kemoterapi, radiasi, pembedahan esofagus, dan rencana perawatan rumah. Rasional Tingkat pengetahuan dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi pasien. Perawat menggunakan pendekatan yang sesuai dengan kondisi individu pasien. Dengan mengetahui tingkat pengetahuan tersebut perawat dapat lebih terarah dalam memberikan pendidikan yang sesuai dengan pengetahuan pasien secara efisien dan efektif. Keluarga terdekat dengan pasien perlu dilibatkan dalam pemenuhan informasi untuk menurunkan risiko misinterpretasi terhadap informasi yang diberikan. Pemeriksaan radiografi dengan barium tidak menyebabkan rasa sakit. Perawat mempersiapkan informed consent setelah pasien mendapatkan penjelasan. Persiapan dan penjelasan yang rasional sesuai tingkat individu akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemeriksaan diagnostik. Pasien sangat penting untuk mengetahui bahwa pemeriksaan endoskopik dan biopsi sangat penting untuk mendiagnosis karsinoma esofagus, terutama untuk membedakan antara karsinoma epidermal dan adenokarsinoma. Pengetahuan ini dapat memberikan pengetahuan pasien dan akan meningkatkan tingkat kooperatif dari pasien. Pasien perlu mengetahui bahwa kemoterapi diberikan sebagai pelengkap terapi operasi dan terapi radiasi. Pengetahuan tentang karsinoma esofagus bersifat radiosensitif dan pada kebanyakan pasien, radiasi eksternal memberikan efek penyusutan tumor sehingga akan menambah semangat pada pasien untuk melakukan terapi.

Cari sumber yang meningkatkan penerimaan informasi.

Jelaskan dan lakukan intervensi prosedur diagnostik radiografi dengan barium ( dapat dilihat kembali prosedur operasional keperawatan pasien pada pemeriksaan foto abdomen dengan barium ).

Jelaskan dan lakukan intervensi pada pasien yang akan dilakukan pemeriksaan diagnostik dan terapi secara endoskopik ( prosedur intervensi keperawatan diagnostik barium dari saluran gastrointestinal atas ).

Jelaskan tentang terapi dengan kemoterapi. Jelaskan tentang terapi radiasi.

Jelaskan dan lakukan pemenuhan atau persiapan pembedahan, meliputi : Diskusikan jadwal pembedahan.

Pasien dan keluarga harus diberitahu waktu dimulainya pembedahan. Apabila rumah sakit mempunyai jadwal

kamar operasi yang padat, lebih baik pasien dan keluarga diberitahukan tentang banyaknya jadwal operasi yang telah dditetapkan sebelum pasien. Kurang bijaksana bila memberitahukan pasien dan keluarganya tentang lamanya waktu operasi yang akan dijalani. Penundaan yang tidak diantisipasi dapat terjadi karena berbagai alasan. Apabila pasien tidak kembali pada waktu yang diharapkan, keluarga akan menjadi sangat cemas. Anggota keluarga harus menunggu dalam ruang tunggu bedah untuk mendapat berita yang terbaru dari staf. Manfaat dari instruksi preoperatif telah dikenal sejak lama. Setiap pasien diajarkan sebagai seorang individu, dengan mempertimbangkan segala keunikan ansietas, kebutuhan, dan harapan-harapannya. Jika sesi penyuluhan dilakukan beberapa hari sebelum pembedahan, pasien mungkin tidak ingat tentang apa yang telah dikatakan. Jika instruksi diberikan terlalu dekat dengan waktu pembedahan, pasien mungkin tidak dapat berkonsentrasi atau belajar karena ansietas atau efek dari medikasi praanestesi. Pembersihan dengan enema atau laksatif mungkin dilakukan pada malam sebelum operasi dan mungkin diulang jika tidak efektif. Pembersihan ini bertujuan mencegah defekasi selama anestesi atau untuk mencegah trauma yang tidak diinginkan pada intestinal selama pembedahan abdomen. Tujuan dari persiapan kulit preoperatif adalah untuk mengurangi sumber bakteri tanpa mencederai kulit. Bila ada waktu seperti bedah elektif, pasien dapat diinstruksikan untuk menggunakan sabun yang mengandung deterjen-germisida untuk membersihkan area kulit selama beberapa hari sebelum pembedahan untuk mengurangi jumlah organisme kulit. Persiapan ini dapat dilakukan dirumah sebelum pembedahan, pasien harus mandi air hangat dan merelakskan, serta menggunakan sabun iodine. Meskipun hal ini lebih disukai dilakukan pada hari pembedahan, waktu yang dijadwalkan untuk pembedahan dapat mengharuskan bahwa hal tersebut dilakukan pada malam sebelumnya. Tujuan menjadwalkan mandi pembersihan sedekat mungkin dengan waktu pembedahan adalah untuk mengurangi risiko kontaminasi kulit terhadap luka bedah. Mencuci rambut sehari sebelum pembedahan sangat disarankan kecuali kondisi pasien tidak memungkinkan hal tersebut. Amat disarankan agar kulit di dan sekitar lokasi operasi tidak dicukur. Selama mencukur, kulit mungkin mengalami cedera oleh silet dan menjadi pintu masuk untuk bakteri. Jaringan yang cedera ini dapat bertindak

Diskusikan lamanya pembedahan.

Lakukan pendidikan kesehatan preoperatif.

Programkan instruksi yang didasarkan kebutuhan individu direncanakan diimplementasikan pada waktu yang tepat.

pada dan

Beritahu persiapan pembedahan, meliputi : Persiapan intestinal.

Persiapan kulit.

Pembersihan area operasi.

sebagai substrat untuk pertumbuhan bakteri. Selain itu, makin jauh interval antara bercukur dan operasi, makin tinggi angka infeksi luka pascaoperasi. Kulit yang dibersihkan dengan baik, tetapi tidak dicukur sering, jarang menyulitkan dibanding dengan kulit yang dicukur ( Mackenzie, 2004 ). Pencukuran area operasi dilakukan apabila protokol lembaga atau ahli bedah mengharuskan kulit untuk dicukur, pasien diberitahukan tentang prosedur mencukur, dibaringkan dalam posisi yang nyaman, dan tidak memajan bagian yang tidak perlu ( smeltzer, 2002 ) Istirahat merupakan hal yang penting untuk penyembuhan normal. Kecemasan tentang pembedahan dapat dengan mudah mengganggu kemampuan untuk istirahat atau tidur. Kondisi penyakit yang membutuhkan tindakan pembedahan mungkin akan menimbulkan rasa nyeri yang hebat sehingga mengganggu istirahat. Perawat harus memberi lingkungan yang tenang dan nyaman untuk pasien. Dokter sering memberi obat hipnotik-sedatif atau antiansietas pada malam hari sebelum pembedahan. Obat-obatan hipnotik-sedatif ( misal flurazepam [ dalmanel ] ) menyebabkan dan mempercepat pasien tidur. Obat-obatan antiansietas ( misal alprazolam [ xanax ], diazepam [ valium ] ) bekerja pada korteks serebral dan sistem limbic untuk menghilangkan ansietas ( Smeltzer, 2002 ). Untuk menghindari cedera, perawat meminta pasien melepas jepit rambutnya sebelum masuk ke ruang operasi. Rambut palsu juga harus dilepas. Rambut panjang dapat dikepang agar tetap pada tempatnya. Pasien akan memakai tutup kepala sebelum memasuki ruang operasi. Selama dan setelah pembedahan ahli anestesi dan perawat mengkaji kulit dan membrane mukosa untuk menentukan kadar oksigenasi dan sirkulasi pasien. Oleh karena itu, seluruh riasan muka (lipstik, bedak, pemerah muka, dan cat kuku) harus dihilangkan untuk memperlihatkan warna kulit dan kuku yang normal. Pasien harus melepas semua prostese, termasuk gigi palsu lengkap atau sebagian, kaki palsu, dan lensa kontak. Alat bantu dengar, bulu mata palsu, dan kacamata juga harus dilepas. Apabila pasien memiliki brace ( alat penopang ) atau bidai, perawat meminta dokter untuk menentukan apakah alat-alat tersebut harus dilepas atau tidak. Pada banyak lembaga, perawat harus mendokumentasikan daftar seluruh alat prostese atau barang-barang pribadi termasuk perhiasan dan menyimpannya sesuai dengan kebijakan lembaga. Perawat juga boleh memberikan prostese dan perhiasan pada anggota keluarga. Pasien sudah menyelesaikan administrasi dan

Pencukuran area operasi.

Beritahu persiapan pembedahan, meliputi : Persiapan istirahat dan tidur.

Persiapan rambut dan kosmetik.

Pemeriksaan alat bantu ( protese ) dan perhiasan.

Persiapan administrasi dan informed consent.

mengetahui secara finansial biaya pembedahan. Pasien sudah mendapat penjelasan dan menendatangani informed consent. Ajarkan aktivitas pada postoperasi, meliputi : Latihan napas diafragma. Salah satu tujuan dari asuhan keperawatan preoperatif adalah untuk mengajarkan pasien cara untuk meningkatkan ventilasi paru dan oksigenasi darah setelah anestesi umum. Hal ini dicapai dengan memperagakan pada pasien bagaimana melakukan napas dalam, napas lambat ( menahan inspirasi secara maksimal ), dan bagaimana menghembuskan napas dengan lambat. Pasien diletakkan dalam posisi duduk untuk memberikan ekspansi paru yang maksimum ( J.M. Matassarin Black, 1997 ). Pernapasan diafragmatik, mengacu pada pendataran kubah diafragma selama inspirasi dengan mengakibatkan pembesaran abdomen bagian atas sejalan dengan desakan udara masuk. Selama ekspirasi, otototot abdomen berkontraksi. Tujuan peningkatan pergerakan tubuh secara hati-hati pada pascaoperasi adalah untuk memperbaiki sirkulasi, untuk mencegah stasis vena, dan untuk menunjang fungsi pernapasan yang optimal. Pasien ditunjukkan bagaimana cara untuk berbalik dari satu sisi ke sisi lainnya dan cara untuk mengambil posisi lateral. Posisi ini akan digunakan pada pascaoperasi (bahkan sebelum pasien sadar) dan dipertahankan setiap dua jam. Sendi panggul ( sama dengan mengendarai sepeda selama posisi berbaring miring ). Telapak kaki diputar seperti membuat lingkaran sebesar mungkin menggunakan ibu jari kaki. Siku dan bahu juga dilatih ROM. Pada awalnya pasien akan dibantu dan diingatkan untuk melakukan latihan ini, tetapi selanjutnya dianjurkan untuk melakukan latihan secara mandiri. Tonus otot dipertahankan sehingga ambulasi akan lebih mudah dilakukan (Smeltzer, 2002). Perawat diingatkan untuk tetap menggunakan mekanik tubuh yang tepat dan menginstruksikan pasien untuk melakukan hal yang sama. Ketika pasien dibaringkan dalam posisi apa saja, tubuhnya dipertahankan dalam kelurusan yang sesuai. Pasien akan mendapat manfaat bila mengetahui kapan keluarganya dan temannya bisa berkunjung setelah pembedahan. Manajemen nyeri dilakukan untuk peningkatan kontrol nyeri pada pasien. Perawat menjelaskan dengan hati-hati agar tidak terjadi keputusan untuk membatalkan intervensi bedah. Perawat memberikan penekanan bahwa dengan dirawat di ruang intensif dan kegunaan beberapa selang merupakan intervensi untuk mempercepat kesembuhan pasien. Hal ini selain meningkatkan kooperatif pasien juga akan membuat pasien tidak terkejut setelah sadar pascaanestesi dengan berbagai selang yang ada pada

Latihan tungkai

Beritahu pasien dan keluarga kapan pasien sudah bisa dikunjungi. Beri informasi tentang manajemen nyeri keperawatan. Beritahu pasien dan keluarga dengan hati-hati dan pada fase awal pascaoperasi pasien akan mendapatkan perawatan intensif, serta akan terdapat banyak selang yang ada di tubuh pasien.

tubuhnya pascaesofagektomi. Berikan informasi pada pasien yang akan menjalani perawatan rumah, meliputi : Anjurkan pada pasien dan keluarga untuk beberapa menit melihat kondisi insisi bedah baik adanya kondisi infeksi-inflamasi atau adanya komplikasi lain dan segera lapor dengan dokter tentang kondisi abnormal yang didapatkan. Hindari merokok Pasien yang sebelum pembedahan telah terbiasa merokok, apabila telah pulang kerumah akan mengulangi kebiasaan ini. Penjelasan bahwa dampak dari asap rokok akan memperlambat proses penyembuhan mungkin akan dapat diterima oleh pasien. Merokok berperan dalam memperburuk kondisi penyakit kanker esofagus melalui tiga cara, meliputi hal-hal berikut : 1. Menghirup asap akan meningkatkan kadar karbon monoksida (CO) darah. Hemoglobin, komponen darah yang mengangkut oksigen, lebih mudah terikat kepada karbon monoksida daripada oksigen. Jadi oksigen yang disuplai ke jaringan esofagus untuk proses penyembuhan menjadi sangat berkurang. 2. Asam nikotinat pada tembakau memicu pelepasan katekolamin yang menyebabkan konstriksi arteri. Keadaan ini menyebabkan aliran darah dan oksigenasi jaringan menjadi terganggu. 3. Merokok meningkatkan adhesi trombosit, mengakibatkan kemungkinan peningkatan pembentukan trombus yang akan memperpanjang proses penyembuhan akibat penurunan suplai darah pada area lokal. Seka badan pada pascaoperasi esofagektomi dapat mengeliminasi kotoran dan jaringan debris pada kulit. Mandi rendam dan shower pada fase wal dirumah akan mengganggu kondisi luka pascaoperasi. Aktivitas berat diperbolehkan 12 minggu setelah pembedahan. Untuk aktivitas ringan, pekerjaan rutin ringan, dan hubungan seksual dapat dilakukan apabila pasien bisa dan dilakukan secara berhati-hati. Mengendarai sepeda motor atau mobil dianjurkan 3 minggu setelah menjalani perawatan rumah ( Mackenzie, 2004 ). Komponen ini dapat memperlama pengosongan lambung, memperberat peristaltik, dan meningkatkan iritasi pada gastrointestinal. Hindari minum kopi, the, coklat, minuman kola, minuman beralkohol, dan makanan yang sulit untuk dicerna. Pada fase awal pascaesofagektomi pasien dianjurkan makan dengan konsistensi lunak dan dilakukan secara rutin 6-8 kali sehari.

Upaya ini dapat menurunkan risiko yang lebih berbahaya.

Anjurkan untuk membersihkan badan, tetapi tidak disarankan melakukan mandi rendam atau shower.

Hindari aktivitas berat pascaoperasi.

Anjurkan makan secara rutin 6-8 kali sehari.

Konsistensi yang lunak pada makanan mempermudah pencernaan oleh gastrointestinal. Intervensi untuk mencegah terjadinya refluks.

akan

Anjurkan untuk minum pada setiap akan menelan makanan. Hindari makan 3 jam sebelum tidur. Anjurkan timbang berat badan sendiri.

Monitor terhadap keberhasilan intake nutrisi. Apabila terjadi penambahan berat badan yang signifikan lebih dari 4,5 kg dalam dua minggu, lakukan konsultasi dengan dokter yang merawat. Beberapa agen nyeri farmakologik biasanya memberikan reaksi negatif pada gastrointestinal.

Anjurkan untuk semampunya melakukan manajemen nyeri nonfarmakologik pada saat nyeri muncul. Intervensi untuk meningkatkan keinginan pasien dalam pelaksanaan prosedur pengembalian fungsi pascabedah esofagektomi.

Berikan motivasi dan dukungan moral.

Risiko injuri b.d. pascaprosedurreseksi esofagus Intervensi Lakukan perawatan di ruang intensif.

Kaji faktor-faktor yang meningkatkan risiko injuri.

Kaji status neurologis dan laporkan apabila terdapat perubahan status neurologis.

Pertahankan status hemodinamik yang optimal. Lakukan hidrasi awal pascaoperasi.

Rasional Untuk menurunkan risiko injuri dan agar memudahkan intervensi pasien selama 48 jam dirawat di ruang intensif. Pada saat pascaoperasi, pada pasien akan terdapat banyak drain pada tubuh pasien. Keterampilan keperawatan kritis diperlukan agar pengkajian vital dapat sistematis dilakukan. Pengkajian status neurologis dilakukan pada setiap pergantian sif jaga. Setiap adanya perubahan status neurologis merupakan salah satu tanda terjadi komplikasi bedah. Penurunan responsivitas, perubahan pupil, gangguan atau kelemahan yang bersifat satu sisi ( unilateral ), ketidakmampuan dalam kontrol nyeri atau perubahan neurologis lainnya perlu dilaporkan pada tim medis untuk mendapatkan intervensi selanjutnya. Pasien akan mendapat cairan intravena sebagai pemeliharaan status hemodinamik. Jenis cairan yang digunakan kombinasi dari NaCl 0,9 % dan RL dengan jumlah 100-200 ml/jam dan dilakukan pada 12-16 jam pertama setelah pembedahan ( Mackenzie, 2004 ). Cairan ini akan membantu memelihara keadekuatan sirkulasi dari volume darah sebagai proteksi pada organ vital dan mencegah kondisi hipovolemia pascabedah (Sideranko, 1993). Pada periode immediate pascaoperasi pemberian cairan kristaloid atau komponen darah dilakukan setelah pasien tidak mengalami kelebihan cairan. Hal ini perlu

Pantau kondisi status cairan sebelum memberikan cairan kristaloid atau komponen darah.

Pantau pengeluaran urine rutin.

diperhatikan perawat karena pada intervensi esofagotomi juga dibersihkan jaringan limfatik mediatinum. Hilangnya limfatik pada mediastinum memberikan predisposisi terjadinya edema pulmonal Karena berkurangnya drainase limfatik pada sistem respirasi (Gregoire,1998). Kondisi malnutrisi dan kurang protein juga akan menambah berat kondisi edema pulmonal. Pasien pascaprosedur esofagektomi akan mengalami transudasi cairan ke interstisial. Perawat memantau produksi urine dalam kisaran 30 ml/jam sebagai batas dalam pemberian rehidrasi optimal (Gregoire, 1998). Perawat mendokumentasikan jumlah urine dan jam pada saat pencatatan. Perawat memeriksa kepatenan jalan urine pada tempatnya. Secara umum pasien pascaesofagektomi akan terpasang selang nasogastrik. Perawat berusaha untuk tidak mengubah posisi, mengangkat, memanipulasi, atau mengirigasi selang kecuali memang diperlukan untuk terapi. Hal ini untuk menurunkan risiko kerusakan anastomosis. Perawat selalu memonitor pengeluaran dari selang dan menjaga kepatenan selang. Respons thrombosis vena profunda secara patofisiologi dimulai dengan adanya inflamasi ringan sampai berat di vena yang terjadi dalam kaitannya dengan pembekuan darah. Komplikasi dapat terjadi dari sejumlah penyebab, termasuk cedera pada vena yang di sebabkan oleh strap yang terlalu ketet atau penahan tungkai pada waktu operasi, tekanan dari gulungan selimut dibawah lutut, hemokonsentrasi akibat kehilangan cairan atau dehidrasi, atau yang lebih umum lagi adalah melambatnya aliran darah dalam ekstremitas akibat metabolisme melambat dan depresi sirkulasi setelah pembedahan. Kemungkinan juga beberapa faktor ini berinteraksi untuk menghasilkan thrombosis. Tungkai kiri lebih sering terkena dibanding yang kanan.

Evaluasi secara hati-hati dan dokumentasikan intake dan output cairan. Monitor kondisi selang nasogastrik.

Lakukan pencegahan thrombosis vena profunda.

Lakukan intervensi menurunkan injuri pada sistem pernapasan, meliputi : Monitor adanya komplikasi pasca-esofagektomi pada sistem pernapasan.

Monitor kondisi selang dada dan area sekitar insisi selang.

Monitor adanya tanda dan gejala ARDS.

Risiko komplikasi pada sistem pernapasan merupakan suatu kondisi yang paling sering terjadi pada pasien pascabedah esofagektomi. Ketidakmampuan dalam melakukan pembersihan jalan napas merupakan kondisi yang paling sering menyebabkan atelektasis, pneumonia, dan ARDS (Makenzie, 2004). Intervensi lanjutan lihat pada intervensi diagnosis ketidakefektifan bersihan jalan napas. Pengeluaran material pascaesofagektomi normalnya lebih dari 100-200 ml/jam pada hari pertama. Perawat memeriksa kepatenan selang dada, melihat kondisi luka dari adanya nyeri lokal, dan melalui respons peradangan lokal. Perawat melakukan palpasi untuk mendeteksi adanya emfisema subkutis yang merupakan salah satu komplikasi sering terjadi pada pasien pascaesofagektomi. Kondisi ARDS merupakan salah satu komplikasi

Monitor adanya komplikasi kebocoran anastomosis esofageal pascabedah dan lakukan intervensi untuk mencegah atau menurunkan kondisi tersebut.

Bantu menyangga sekitar luka pasien pada saat latihan batuk efektif atau ajarkan menggunakan bantal apabila pasien akan batuk.

Kolaborasi untuk pemberian antibiotik pascaoperasi.

pascaesofagektomi transhiatal yang berhubungan dengan akibat hilangnya kelenjar limfatik dari mediastinum dan transudasi cairan ke interstisial. Meskipun mekanisme ARDS pada esofagektomi transhiatal belum dimengerti, tetapi respons dari inflamasi sistemik dipercaya menjadi peran penting tentang kondisi ini (Makenzie, 2004). Oleh karena kondisi ARDS tidak bisa diprediksi, maka pada fase awal pascaesofagektomi transhiatal perawat menjaga kondisi pemberian terapi oksigen secara optimal. Kondisi kebocoran merupakan salah satu komplikasi yang tersering pada pascaoperasi esofagostomi. Tanda dan gejala yang lazim didapatkan, meliputi: hipertermi >38,6 derajat C, nyeri inflamasi,takipneu dan takikardia secara tiba-tiba, hipoksemia, emfisema subkutan (Rentz, 2003), pengeluaran cairan dari luka bedah leher, akumulasi cairan pada sekitar luka, dan perubahan warna pada selang drainase. Apabila didapatkan adanya tanda dan gejala ini secepatnya dilaporkan ke tim medis untuk intervensi selanjutnya. Intervensi untuk mencegah komplikasi ini adalah sebagai berikut : 1. Tidak memberikan makanan terlalu awal. 2. Jaga secara ketat bahwa tidak ada intake oral untuk sementara. 3. Lakukan manajemen nyeri. Menurunkan tarikan pada kulit akibat peningkatan dari intraabdomen sekunder dari batuk akan menurunkan stimulus nyeri sehingga pasien mendapat dukungan serta kepercayaan diri untuk melakukan pernapasan diafragma karena pada kondisi klinik sebagian besar pasien pascaoperasi takut untuk melakukan latihan pernapasan diafragma dan batuk efektif. Antibiotic menurunkan risiko infeksi yang akan menimbulkan reaksi inflamasi lokal dan dapat memperlama proses penyembuhan pascafunduplikasi lambung.

Aktual / risiko ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d. kemampuan batuk menurun, nyeri pascaoperasi Tujuan : dalam waktu 2 x 24 jam pascabedah esofagektomi, bersihan jalan napas pasien tetap optimal. Kriteria evaluasi : Jalan napas bersih, tidak ada akumulasi darah pada jalan napas. Suara napas normal, tidak ada bunyi napas tambahan seperti stridor. Tidak ada penggunaan otot bantu napas. RR dalam batas normal 12-20 x/menit. Intervensi Rasional Kaji dan monitor jalan napas. Deteksi awal untuk interpretasi intervensi selanjutnya. Salah satu cara untuk mengetahui apakah pasien bernapas atau tidak adalah dengan menempatkan telapak tangan diatas hidung dan mulut pasien untuk merasakan hembusan napas. Gerakan toraks dan diafragma tidak selalu menandakan pasien bernapas.

Beri oksigen 3 liter / menit.

Bersihkan sekresi pada jalan napas dan lakukan suctioning apabila kemampuan mengevakuasi sekret tidak efektif.

Instruksikan pasien untuk pernapasan dalam dan melakukan batuk efektif.

Lakukan fisioterapi dada, meliputi :

Tetapkan lokasi dari setiap segmen paru-paru.

Pemberian oksigen dilakukan pada fase awal pascaoperasi. Pemenuhan oksigen dapat membantu meningkatkan PaO2 di cairan otak yang akan mempengaruhi pengaturan pernapasan. Kesulitan pernapasan dapat terjadi akibat sekresi lendir yang berlebihan. Membalikkan pasien dari satu sisi ke sisi lainnya memungkinkan cairan yang terkumpul untuk keluar dari sisi mulut. Jika gigi pasien mengatup, mulut dapat dibuka secara manual dengan spatel lidah yang dibungkus kasa, tetapi hati-hati. Mucus yang menyumbat faring atau trakea diisap dengan ujung pengisap faringeal atau kateter nasal yang dimasukkan ke dalam nasofaring atau orofaring. Pada pasien pascaoperasi dengan tingkat toleransi yang baik maka pernapasan diafragma dapat meningkatkan ekspansi paru. Untuk memperbesar ekspansi dada dan pertukaran gas beragam tindakan adalah sebagai berikut. Sebagai contoh meminta pasien untuk menguap atau dengan melakukan inspirasi maksimal. Batuk juga didorong untuk melonggarkan sumbatan mukus. Bantu pasien mengatasi ketakutannya bahwa ekskresi dari batuk dapat menyebabkan insisi bedah akan terbuka. Tujuan dari fisioterapi dada adalah memfasilitasi pembersihan jalan napas dari sekresi yang tidak dapat dilakukan dengan batuk efektif, meningkatkan pertukaran udara yang adekuat, menurunkan frekuensi pernapasan, dan meningkatkan ventilasi dan pertukaran udara. Perawat melakukan auskultasi agar dapat menentukan area paru dengan bunyi napas ronkhi sebagai dasar untuk menentukan pengaturan posisi. Sebelum melakukan intervensi perawat mengkaji tingkat kemampuan dan kooperatif pasien. Apabila tingkat toleransi dari pasien tidak optimal, perawat menjaga dan mencegah trauma sekunder dari intervensi seperti memasang pagar pengaman. Apabila kemampuan toleransi pasien baik, maka penjelasan dan kooperatif pasien akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas tindakan.

Jaga posisi pasien jangan sampai jatuh, gunakan pagar pengaman yang ada pada sisi tempat tidur.

Lakukan diskusi dengan pasien tentang teknik penatalaksanaan dan demonstrasikan langkah demi langkah prosedur yang akan dilaksanakan. Lakukan vibrasi dan perkusi.

Lakukan nebulizer.

Pemberian perkusi dan vibrasi sesuai area penumpukan sekret akan memobilisasi sekret dari jalan napas kecil ke jalan napas besar sehingga akan mudah dibatukkan. Nebulizer digunakan dengan cara menghirup larutan obat yang telah diubah menjadi bentuk kabut. Pengiriman obat melalui nebulizer ke jalan napas sangat cepat sehingga aksinya lebih cepat dalam mengencerkan sekresi sekret pada jalan napas. Dengan kombinasi antara nebulizer dan fisioterapi dada akan meningkatkan evakuasi sekret dari jalan napas. Medikasi nebulizer kontraindikasi pada keadaan dimana suara napas tidak ada atau berkurang kecuali jika medikasi nebulizer diberikan melalui tuba endotrakeal tube yang

Evaluasi dan monitor pembersihan jalan napas.

keberhasilan

intervensi

menggunakan tekanan positif. Apabila tingkat toleransi pasien tidak optimal, maka lakukan kolaborasi dengan tim medis untuk segera dilakukan terapi endoskopi atau pemasangan tamponade balon.

Risiko tinggi nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. kurangnya intake makanan yang adekuat Intervensi Rasional Intervensi nonoperasi : Anjurkan pasien makan dengan perlahan dan Makanan dapat lewat dengan mudah ke lambung. mengunyah makanan dengan seksama. Evaluasi adanya alergi makanan dan kontraindikasi Beberapa pasien mungkin mengalami alergi terhadap makanan. beberapa penyakit lain, seperti diabetes melitus, hipertensi, gout, dan lainnya sehingga memberikan manifestasi terhadap persiapan komposisi makanan yang akan diberikan. Sajikan makanan dengan cara yang menarik. Membantu merangsang nafsu makan. Fasilitasi pasien memperoleh diet biasa yang disukai pasien ( sesuai indikasi ). Memperhitungkan keinginan individu dapat memperbaiki intake nutrisi. Pantau intake dan output, anjurkan untuk timbang berat badan secara periodik (sekali seminggu). Lakukan dan ajarkan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan, serta sebelum dan sesudah intervensi / pemeriksaan peroral. Berguna dalam mengukur keefektifan nutrisi dan dukungan cairan. Menurunkan rasa tidak enak Karena sisa makanan juga bau obat yang dapat merangsang pusat muntah.

Intervensi pascabedah Kaji kondisi dan toleransi gastrointestinal pascaesofagektomi.

Setelah esofagektomi pasien tidak boleh mendapat asupan apapun dari mulut dalam waktu 7 x 24 jam untuk menghindari kebocoran pada anastomosis atau formasi fistula. Pasien akan memakai selang nasogastrik yang terpasang pada alat penghisap berkelanjutan dengan tekanan rendah ( low-level continuous or intermittent suction ). Obat-obatan oral akan dihancurkan dan dimasukkan melalui selang nasogastrik dan tidak boleh ditelan. Intervensi ini untuk menurunkan risiko infeksi oral.

Lakukan perawatan mulut. Masukkan 10-20 ml cairan sodium klorida setiap sif jaga melalui selang nasogastrik. Pembersihan ini selain untuk menjaga kepatenan selang nasogastrik juga untuk meningkatkan penyembuhan pada area pasca-esofagektomi. Pemberian nutrisi cair dilakukan untuk memenuhi intake nutrisi melalui gastrointestinal. Penentuan hari harus dikolaborasikan dengan tim medis yang merawat pasien karena tim medis mengetahui bagaimana kondisi jaringan pada saat dilakukan intervensi esofagektomi.

Berikan nutrisi cair melalui selang nasogastrik pada hari kedua atau ketiga pascabedah atau atas pesanan dari medis.

Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mendeteksi kemampuan jaringan pascabedah. Kolaborasi untuk pemeriksaan fluroskopi menelan setelah hari ketujuh. Bila kebocoran tidak terjadi, maka berikan nutrisi oral. Pada fase awal pemberian nutrisi oral pasien dianjurkan makan 6-8 bolus kecil makanan setiap hari karena bolus makanan tidak bisa ditoleransi gastrointestinal. Pasien juga dihindari dari komponen makanan yang terlalu hangat atau terlalu dingin ( Makenzie, 2004 ). Ahli gizi harus terlibat dalam penentuan komposisi dan jenis makanan yang akan diberikan sesuai dengan kebutuhan individu. Kolaborasi dengan ahli gizi jenis nutrisi yang akan digunakan pasien. Intervensi untuk mencegah terjadinya refluks.

Hindari makan 3 jam sebelum tidur.

Nyeri b.d. iritasi mukosa esofagus, respons pembedahan Tujuan : Dalam waktu 7 x 24 jam pascabedah, nyeri berkurang atau teradaptasi. kriteria evaluasi : Secara subjektif pernyataan nyeri berkurang atau teradaptasi. Skala nyeri 0-1 (0-4). TTV dalam batas normal, wajah pasien rileks. Intervensi Rasional Jelaskan dan bantu pasien dengan tindakan pereda nyeri Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi dan noninvasif. nonfarmakologi lainnya telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri. Lakukan manajemen nyeri keperawatan, meliputi : Manajemen nyeri merupakan kunci dari penatalaksanaan pasien pascaoperasi. Keadekuatan kontrol nyeri pascaoperasi esofagektomi merupakan unsur yang paling penting dalam menurunkan mortalitas dan morbiditas (Makenzie, 2004). Tsui (1997) melaporkan dengan keadekuatan kontrol nyeri akan menurunkan risiko gangguan kardiovaskular, mempercepat hari rawat, dan menurunkan tingkat kematian pasca-esofagektomi transtorakal. Penelitian ini memberikan arti penting pada perawat yang melakukan manajemen nyeri keperawatan agar kondisi nyeri yang dilaporkan pasien tidak disepelekan dan harus dilakukan intervensi sesuai dengan tingkat toleransi individu. Pendekatan PQRST dapat secara komprehensif menggali kondisi nyeri pasien. Apabila pasien mengalami skala nyeri 3 ( 0-4 ), hal ini merupakan peringatan yang perlu perawat waspadai karena memberikan manifestasi klinik yang bervariasi dari komplikasi pascaoperasi esofagektomi. Istirahat secara fisiologis akan menurunkan kebutuhan oksigen yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan

Kaji nyeri dengan pendekatan PQRST.

Istirahatkan pasien pada saat nyeri muncul.

metabolisme basal. Meningkatkan intake oksigen sehingga akan menurunkan nyeri sekunder dari iskemia intestinal. Distraksi ( pengalihan perhatian ) dapat menurunkan stimulus internal.

Ajarkan teknik relaksasi pernapasan dalam pada saat nyeri muncul.

Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri. Untuk mengontrol nyeri, pasien harus dirawat diruang intensif, lingkungan tenang akan menurunkan stimulus nyeri eksternal dan pembatasan pengunjung akan membantu meningkatkan kondisi oksigen ruangan yang akan berkurang apabila banyak pengunjung yang berada diruangan istirahat akan menurunkan kebutuhan oksigen jaringan perifer. Manajemen sentuhan pada saat nyeri berupa sentuhan dukungan psikologis dapat membantu menurunkan nyeri. Pengetahuan yang akan dirasakan membantu mengurangi nyerinya dan dapat membantu mengembangkan kepatuhan pasien terhadap rencana terapeutik. Analgesik diberikan untuk membantu menghambat stimulus nyeri ke pusat persepsi nyeri di korteks serebri sehingga nyeri dapat berkurang.

Merawat pasien diruang intensif.

Lakukan manajemen sentuhan. Meningkatkan pengetahuan tentang sebab-sebab dan menghubungkan beberapa lama nyeri akan berlangsung.

Kolaborasi dengan tim Analgesik via intravena.

medis

untuk

pemberian:

Risiko tinggi infeksi b.d. adanya port de entree dari luka pembedahan Tujuan : dalam waktu 12 x 24 jam tidak terjadi infeksi, terjadi perbaikan pada integritas jaringan lunak. Kriteria evaluasi : Jahitan dilepas pada hari ke-12 tanpa adanya tanda-tanda infeksi dan peradangan pada area luka pembedahan, leukosit dalam batas normal, TTV dalam batas normal. Intervensi Rasional Kaji jenis pembedahan, hari pembedahan, dan apakah Mengidentifikasi kemajuan atau penyimpangan dan adanya order khusus dari tim dokter bedah dalam tujuan yang diharapkan. melakukan perawatan luka. Buat kondisi balutan dalam keadaan bersih dan kering. Kondisi bersih dan kering akan menghindari kontaminasi komensal dan akan menyebabkan respons inflamasi lokal dan akan memperlama penyembuhan luka. Lakukan perawatan luka : Lakukan perawatan luka steril pada hari kedua Perawatan luka sebaiknya tidak setiap hari untuk pascaoperasi dan diulang setiap 2 hari sekali pada menurunkan kontak tindakan dengan luka yang dalam kondisi steril sehingga mencegah kontaminasi kuman ke luka abdomen atau toraks. luka bedah. Lakukan perawatan luka pada leher 2-3 kali sehari atau sesuai pesanan medis. Insisi pada leher yang basah akan dilakukan perawatan luka kering 2-3 kali sehari dengan tujuan untuk mendeteksi kebocoran dari anastomosis pascaesofagektomi. Semua drain pascaoperasi esofagektomi merupakan

Lakukan perawatan luka pada sekitar drain.

material yang menjadi jalan masuk kuman. Perawat melakukan perawatan luka setiap hari atau disesuaikan dengan kondisi pembalut drain, apabila kotor maka harus diganti. Bersihkan luka dan drainase dengan cairan antiseptik jenis iodine providum dengan cara swabbing dari arah dalam ke luar. Pembersihan debris (sisa fagositosis, jaringan mati) dan kulit sekitar luka dengan mengoptimalkan kelebihan dari iodine providum sebagai antiseptik dan dengan arah dari dalam ke luar dapat mencegah kontaminasi kuman ke jaringan luka. Antiseptik iodine providum mempunyai kelemahan dalam menurunkan proses epitelisasi jaringan sehingga memperlambat pertumbuhan luka, maka harus dibersihkan dengan alkohol atau normal salin. Penutupan secara menyeluruh dapat menghindari kontaminasi dari benda atau udara yang bersentuhan dengan luka bedah. Pelepasan sesuai indikasi bertujuan untuk menurunkan risiko infeksi. Antibiotik injeksi diberikan selama tiga hari pascaoperasi yang kemudian dilanjutkan antibiotik oral sampai jahitan dilepas. Peran perawat mengkaji adanya reaksi dan riwayat alergi antibiotik, serta memberikan antibiotik sesuai pesanan dokter.

Bersihkan bekas sisa iodine providum dengan alkohol 70 % atau normal salin dengan cara swabbing dari arah dalam ke luar. Tutup luka dengan kasa steril dan tutup dengan plester adhesif yang menyeluruh menutupi kasa.

Angkat drainase pascabedah sesuai pesanan medis. Kolaborasi penggunaan antibiotik.

Kecemasan b.d. prognosis penyakit, misinterpretasi informasi Tujuan : Dalam waktu 1 x 24 jam pasien secara subjektif melaporkan rasa cemas berkurang. Kriteria : Pasien mampu mengungkapkan perasaannya kepada perawat. Pasien dapat mendemonstrasikan keterampilan pemecahan masalahnya dan perubahan koping yang digunakan sesuai situasi yang dihadapi. Pasien dapat mencatat penurunan kecemasan/ketakutan di bawah standar, pasien dapat rileks dan tidur/istirahat dengan baik. Intervensi Rasional Monitor respons fisik, seperti kelemahan, perubahan Digunakan dalam mengevaluasi derajat/tingkat tanda vital, dan gerakan yang berulang-ulang. Catat kesadaran/ konsentrasi, khususnya ketika melakukan kesesuaian respons verbal dan nonverbal selama komunikasi verbal. komunikasi. Anjurkan pasien dan keluarga untuk mengungkapkan Memberikan kesempatan untuk berkonsentrasi, dan mengekspresikan rasa takutnya. kejelasan dari rasa takut, dan mengurangi cemas yang berlebihan. Beri dukungan praoperasi Hubungan emosional yang baik antara perawat dan pasien akan memengaruhi penerimaan pasien dengan operasi. Aktif mendengar semua kekhawatiran pasien adalah bagian penting dari evaluasi preoperatif. Keterbukaan mengenai tindakan operasi yang akan dilakukan, pilihan anestesi, dan perubahan atau kejadian pascaoperatif yang diharapkan akan menghilangkan banyak ketakutan tak berdasar terhadap anestesi. Bagi sebagian besar pasien, operasi adalah suatu peristiwa hidup yang bermakna. Kemampuan perawat dan dokter untuk memandang pasien dan keluarganya sebagai

Berikan privasi untuk pasien dan orang terdekat.

Beri kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan ansietasnya.

Kolaborasi : berikan anticemas sesuai indikasi contohnya diazepam. Catat reaksi dari pasien/ keluarga. Berikan kesempatan untuk mendiskusikan perasaannya / konsentrasinya, dan harapan masa depan.

manusia yang layak untuk didengarkan dan dimintai pendapat, ikut menentukan hasil pembedahan. Egbert dkk. (1963, dikutip Gruendemann, 2006) memperlihatkan bahwa kecemasan pasien yang dikunjungi dan dimintai pendapat sebelum dioperasi akan berkurang saat tiba di kamar operasi dibandingkan mereka yang hanya sekedar diberi pramedikasi dengan fenobarbital. Kelompok yang mendapat pramedikasi melaporkan rasa mengantuk, tetapi tetap merasa cemas. Memberi waktu untuk mengekspresikan perasaan, serta menghilangkan cemas dan perilaku adaptasi. Adanya keluarga dan teman-teman yang dipilih pasien melayani aktivitas dan pengalihan (misal membaca) akan menurunkan perasaan terisolasi. Pasien yang divonis mengalami kanker esofagus mempunyai tingkat penerimaan yang bervariasi. Dengan pendekatan yang baik sesuai dengan toleransi individu, maka ungkapan yang dikemukakan pasien dapat menghilangkan ketegangan terhadap kekhawatiran yang tidak diekspresikan. Meningkatkan relaksasi dan menurunkan kecemasan. Anggota keluarga dengan responsnya pada apa yang terjadi dan kecemasannya dapat disampaikan kepada pasien.

BAB IV PENUTUP

4.1

Kesimpulan dan Saran

4.1.1 Kesimpulan 4.1.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA