Anda di halaman 1dari 5

I.

Ganja

Ganja (mariyuana atau kanabis) berasal dari tanaman kanabis, suatu tanaman perdu yang tingginya dapat mencapai 4 meter, mengandung zat psikoaktif delta-9 tetra-hidrokanabinol (THC). Terdapat lebih dari 100 spesies. Di antara banyak spesies itu, ada yang tergolong fiber type, dengan kadar THC kurang dari 1% dan yang tergolong drug type, yang mengandung THC sampai 5% bahkan bisa mencapai lebih dari 10% Nama lain dari ganja: acapulco gold, gold, buddha sticks, dope, grass, hemp, j, jane, jive, joint, locoweed, mary jane, pot,reefer, rope, stick, stuff, tea, texas tea dan weed. Hashish merupakan getah tanaman ganja yang dikeringkan dan dimampatkan menjadi lempengan seperti kue atau bulat seperti bola. Di Timur Tengah, hashish disebut charas, sedangkan di India dalam bahasa Indi disebut bhang. Charas mengandung kirakira 10% THC. Minyak hashish adalah ekstrak kanabis yang mempunyai kadar THC sampai 1530%. Majoon adalah manisan buah yang diberi bumbu, antara lain ganja. Bhang adalah minuman yang diproses dari serbuk ganja yang telah diberi bumbu yang mengandung 1-5% THC. Sinsemilla adalah peparat herbal yang terbuat dari bunga tanaman ganja betina yang belum dibuahi oleh serbuk sari dari tanaman ganja jantan yang mengandung 7-14% THC. Nabilon adalah senyawa sintetik yang analog dengan THC, mempunyai khasiat antimuntah, mempunyai sedikit efek euforia dan menyebabkan rasa kantuk. Preparat nabilon antara lain dronabinol atau marinol untuk mengobati muntah akibat kemoterapi pada pasien dengan kanker atau pada pasien AIDS.

Cara Pemakaian Dapat dikonsumsi sebagai makanan dalam bentuk manisan, diseduh seperti teh atau kopi, tetapi kebanyakan dirokok seperti merokok tembakau. Ganja yang dirokok biasanya berupa tanaman yang sudah dikeringkan dan dirajang, kemudian dilinting seperti tembakau. Asap ganja dimasukkan ke dalam paru dan ditahan untuk beberapa detik sebelum dikeluarkan. Setiap batang rokok ganja mengandung THC sebanyak 5-20 mg

(sebelum dibudidayakan hanya sekitar 2,5-5%), hanya 50% yang diabsorbsi. Pada penggunaan secara oral (dimakan) hanya 3-6% yang diabsorbsi. THC cepat meninggalkan plasma dan masuk ke jaringan yang mengandung lemak, terutama ke otak dan testis. THC dimetabolisme di hepar dan dieksresi terutama melalui tinja dan air seni. Waktu paruh THC adalah 2-7 hari.

Cara kerja THC terutama berpengaruh pada otak, sistem kardiovaskular dan paru, sifatnya akut dan reversibel. THC bekerja pada reseptor B1 dan B2 yang terdapat di seluruh otak, terutama pada korteks serebri, hipokampus, serebelum dan striatum. Tubuh menghasilkan agonis THC endogen yaitu anandamida (suatu derivat asam arakidonat) dan N-palmitoetanolamida. Bila reseptor B1 dan B2 distimulasi oleh THC atau agonis endogen, hal ini akan menimbulkan perubahan pada second messenger dan terjadi perubahan jumlah norepinefrin dan dopamin pada korteks prefrontal dan mesolimbik, termasuk pada nucleus accumbens. THC juga mempengaruhi reseptor mu1 pada sistem opioida dan mengubah GABA reseptor sehingga pengguna ganja mempunyai potensi untuk menggunakan zat psikoaktif lain. Dapat terjadi toleransi silang ringan dengan alkohol. THC dapat dideteksi dalam air seni sampai seminggu setelah penggunaan terakhir. Gejala dan Tanda pada Pemakaian Ganja Efek pemakaian heroin yaitu nafsu makan bertambah, mulut kering, konjungtiva merah dan denyut jantug cepat.

Intoksikasi Akut Gejala intoksikasi akut: ansietas 10-30 menit rasa takut kecurigaan atau ide paranoid takut tidak bisa mengendalikan diri gangguan daya nilai gangguan memusatkan perhatian

euforia banyak bicara tertawa ilusi pendengaran, penglihatan atau perabaan halusinasi visual persepsi waktu dan jarak terganggu derealisasi Takikardia Mata merah Mulut kering Nafsu makan

Gejala Putus Obat Gejala timbul beberapa jam sampai tujuh hari sesudah konsumsi ganja terakhir kali. kecemasan iritabel tremor berkeringat nyeri otot

Komplikasi Penggunaan ganja dalam jangka waktu lama dan dalam jumlah yang banyak dapat mempengaruhi pikiran, menurunkan kemampuan baca, berbicara, dan berhitung, menghambat perkembangan kemampuan dan ketrampilan sosial, dan mendorong pengguna menghindari kesulitan, bukannya menyelesaikan persoalan. Gerak anggota tubuh lambat, psikosis (waham, halusinasi, depersonalisasi, disorientasi), dan amotivasional syndrom. Pengguna ganja yang kronis dapat menyebabkan terjadinya peradangan paru, sehingga fungsi paru menjadi terganggu. Ganja juga dapat memperburuk aliran darah koroner sehingga pada orang yang sebelumnya sudah mempunyai aliran darah koroner yang tidak baik, dapat menimbulkan serangan angina pektoris. Selain itu juga dapat timbul flashback yaitu suatu keadaan munculnya kembali

efek ganja yang mungkin disebabkan oleh sisa THC dalam badan karena adanya stresor psikologis, panik, atau perubahan yang bersifat sementara dari fungsi otak.

Penatalaksanaan Terapi pada intoksikasi akut Ciptakan suasana yang tenang untuk pasien. Bersikap penuh pengertian, ajak bicara tentang apa yang sedang dialami pasien. Jelaskan bahwa semua yang dialaminya hanya bersifat sementara akibat ganja dan bahwa dalanm waktu 4-8 jam, pengaruh ganja tersebut akan hilang. Mengajak bicara dan menenangkan pasien. Bila diperlukan dapat diberikan diazepam 10-30 mg per oral atau aprenteral atau diberikan klordiazepoksid 1025 mg per oral dan dapat diulangsekali setiap jam bila diperlukan.

Terapi pada putus obat Jarang ditemukan gejala putus ganja dan bila ditemukan, gejalanya ringan yang akan hilang dengan sendirinya. Bila perlu, pasien cukup diberikan terapi suportif. Terapi pada psikosis Semua gangguan psikosis akibat penggunaan ganja biasanya terdapat pada orang yang sebelumnya sudah mempunyai riwayat serangan psikosis. Dapat diberikan haloperidol 3 x 1-2 mg atau klorpromazin 50-150 mg per hari. Terapi paska detoks Latihan jasmani, akupunktur, terapi relaksasi, terapi tingkah laku, konseling, psiko terapi individual, psikoterapi kelompok, terapi keluarga.

Terapi aftercare Meliputi upaya pemantapan dalam bidang fisik, mental, keagamaan, komunikasi dan interaksi sosial, edukasional. Terapi ini bertujuan untuk memperbaiki perilaku dan fungsi dari seorang mantan penyalahguna zat. Sangat dibutuhkan peran keluarga dalam terapi ini.