Anda di halaman 1dari 15

Sindrom Marfan dan Penanganan

Oleh: Beatrix Flora E. Siregar (10-2010-220)* Dionisius Fidelis Jonathan Batubara (10-2010-330)* Ivani Yunita Korwa (10-2010-085)* Kelompok : E4

Jakarta, 16 September 2013 *Alamat Korespondensi: Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510 Kasus 2 Seorang ibu R, berusiaa 38 tahun; datang ke dokter dengan membawa surat rujukan dari dokter matanya. Surat rujukan tersebut menyatakan bahwa ibu R, menderita suatu lens dislocation dengan miopia yang tinggi. Pada pemeriksaan klinis didapatkan jari-jari ibu R yang panjang, sangat lentur dan elastis. Pada echocardiografi ditemukan suatu aneurisma aorta ascendens dengan diameter < 3 cm. Pada konseling genetik didapat informasi, bahwa saudara perempuan ibu R juga menderita kelainan yang mirip, namun lebih parah disertai dengan scoiosis dan sudah alami operasi matanya. Ibu dari ibu R ternyata juga menderita kelainan yang sama, sedangkan ayah dari ibu R sehat.

Hipotesis: Ibu R dengan keluhan dislokasi lensa dengan miopia yang tinggi; jari-jari yang panjang, sangat lentur, dan elastis; aneurisma aorta ascendens dengan diameter < 3 cm; serta saudara perempuan dan ibu yang juga menderita kelainan yang hampir sama, menderita sindrom Marfan.

Anamnesis
Dalam anamnesis, seperti biasa kita menanyakan identitas, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, dan riwayat sosial. Identitas yang diketahui dari kasus adalah ibu R yang berusia 38 tahun. Keluhan utamanya ialah dislokasi lensa dengan miopia yang tinggi, selanjutnya kita perlu menanyakan sejak kapan ibu ini menderita kelainan tersebut. Pasien dengan sindrom Marfan bisa juga datang dengan keluhan utama nyeri akibat diseksi aorta yang dialaminya. Sifat nyerinya adalah mendadak, hebat, seperti dirobek, dan terasa di daerah punggung. Pada riwayat penyakit dahulu, pasien bisa juga memiliki riwayat diseksi aorta sebelumnya.1 Kemudian yang sangat penting untuk ditanyakan adalah riwayat penyakit keluarga, karena penyelidikan pada kemungkinan penderita kelainan genetik dimulai dengan riwayat keluarga. Langkah pertama adalah memperoleh informasi tertentu pada propositus (orang yang menderita secara klinis sehingga menarik perhatian keluarga) dan pada tiap-tiap keluarga tingkat pertama (misalnya orang tua, saudara kandung, dan keturunan dari propositus). Keterangan ini meliputi nama panggilan, nama keluarga, tanggal lahir dan usia kini, usia waktu meninggal, penyebab kematian, serta nama atau penjelasan tentang penyakit atau cacat apapun. Langkah kedua adalah menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menyelidiki keluarga akan adanya penyakit atau cacat. 1. Apakah ada keluarga yang mempunyai trait identik atau yang mirip? 2. Adakah keluarga yang mempunyai trait yang tidak ada pada propositus walaupun diketahui terdapat pada beberapa penderita dengan penyakit yang sama? Pertanyaan ini membutuhkan pengetahuan mengenai gejala-gejala penyakit yang ditanyakan. Misalnya, waktu memperoleh riwayat keluarga dari propositus dengan aneurisma disekans yang mungkin disebabkan oleh sindrom Marfan, maka harus ditanyakan adanya kelainan mata, jantung, skelet pada keluarganya. 3. Adakah keluarga yang menderita trait yang diketahui ditentukan secara genetik? Tujuan pertanyaan ini adalah untuk memastikan adanya penyakit herediter dalam keluarga walaupun penderita tersebut tidak terserang. 2

4. Adakah keluarga yang mengalami penyakit luar biasa atau mempunyai keluarga yang meninggal akibat keadaan yang langka? Tujuan pertanyaan ini adalah untuk mengidentifikasikan keadaan yang ditentukan secara genetik walaupun tidak diketahui oleh pemberi informasi. Di samping itu, pertanyaan ini dapat membantu mengidentifikasikan keadaan dalam kelurga yang secara etiologi terkait dengan masalah penderita. 5. Adakah konsanguinitas dalam keluarga? Perkawinan dalam keluarga dapat menjadi sumber sindroma resesif autosom yang langka dan kadang-kadang terdapat dalam keluarga yang tidak diketahui oleh propositus. 6. Apakah asal etnik keluarga? Orang yang berasal dari etnik tertentu, misalnya kulit hitam, Yahudi, dan Yunani mempunyai kemungkinan yang tinggi terhadap penyakit genetik tertentu.2

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang kita lakukan dimulai dari melihat keadaan umum. Selanjutnya memeriksa tanda-tanda vital, seperti tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh, dan frekuensi napas. Kemudian kita lakukan pemeriksaan fisik lainnya, yaitu inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. Pemeriksaan skeletal harus mencakup pengukuran antropometri untuk tinggi badan, rasio rentang lengan dan tinggi, rasio segmen atas ke segmen bawah, pengukuran tangan dan kaki. Segmen atas tubuh diukur dari atas kepala sampai atas ramus pubis, dan segmen bawah diukur dari atas ramus pubis ke lantai. Rasio segmen atas dan bawah tubuh pada pasien sindrom Marfan biasanya kurang dari 0,85. Pasien juga harus diperiksa untuk melihat arachnodactyly; tanda Walker/wrist positif, tanda Steinburg/thumb

positif. Pemeriksaan mata dengan dilatasi pupil harus dilakukan untuk melihat ectopia lensa. Evaluasi jantung dilakukan dengan auskultasi dan echocardiography. Pada inspeksi dada, biasanya ditemukan pektus carinatum dan/atau pektus excavatum.1,3

Pemeriksaan Penunjang
1. Uji laboratorium: Pada uji genetik, terdapat mutasi pada fibrillin gene (FBN1) yang berlokasi pada kromosom 15q15-21.3. Hasil negatif palsu masih mungkin dengan tes ini. Oleh karena itu, pengujian genetik tidak digunakan secara rutin dalam praktek klinis. 2. Imaging: Echocardiography: kunci untuk menilai struktur utama pada risiko dalam sindrom ini, seperti katup jantung dan aorta asendens. MRI: berguna untuk pencitraan seluruh aorta, tetapi juga dapat digunakan untuk mengevaluasi tulang belakang untuk dural ektasia (bengkak pada duramater pembungkus korda spinalis). Radiografi: radiografi tulang belakang digunakan untuk diagnosis scoliosis, jika dicurigai. Pasien juga harus memiliki radiografi AP dari pelvis untuk mengevaluasi protrusi asetabulum. Radiografi tangan dapat dilakukan untuk menghitung indeks metakarpal, yang ditentukan dengan membagi panjang tiaptiap 4 metakarpal terakhir dengan lebar dari titik tengahnya dan membuat rata-rata dari jumlahnya. Indeks metakarpal pada pasien sindrom Marfan biasanya lebih dari 8,5 dimana pada orang normal hanya 8 atau kurang dari 8.2,3

Working Diagnosis
Diagnosis kerja pada kasus ini adalah sindrom marfan. Diagnosis pasien dengan sindrom marfan harus dibuat berdasarkan kriteria Ghent.

Tabel 1. Kriteria Ghent4

Pemeriksaan genetik dapat berguna untuk diagnosis pada kasus-kasus tertentu. Diagnosis sindrom marfan merupakan suatu tantangan karena banyak dari manifestasi klinisnya yang berkaitan dengan usia penderita (age-depent). Oleh karena itu kriteria Ghent tidak dapat digunakan pada pada neonatus ataupun anak-anak, sehingga golongan usia ini setidaknya dievaluasi atau dipantau hingga usia 18 tahun atau hingga sebuah diagnosis dapat ditegakkan.

Differential Diagnosis Tabel 2. Differensial Diagnosis dari Sindrom Marfan.5

Etiologi Mutasi gen Fibrilin-1 pada kromosom 15 (15q21.1) dan gen TGFBR2 pada kromosom 3 (3q24.2-25).

Patofisiologi Sindrom marfan merupakan penyakit pada jaringan penyambung yang diturunkan secara autosomal dominan. Kondisi ini pertama kali dideskripsikan pada tahun 1896 oleh Antoine Bernard-Jean Marfan yang adalah dokter spesialis anak di Perancis. Mayoritas dari kasus sindrom marfan disebabkan oleh sebuah mutasi pada gen fibrilin-1 (FBN1) pada kromosom 15 (15q21.1).6 Fibrilin-1 adalah sebuah glikoprotein 6

matriks yang terdistribusi luas pada jaringan elastis dan non-elastis. Fibrilin-1 adalah sebuah glikoprotein yang disintesis sebagai sebuah prekursor yang diproses dan disekresikan ke dalam matriks ekstraselular. Fibrilin-1 membantu menstabilkan latent transforming growth factor- binding proteins (LTBPs) di matriks ektraselular. LTBPs memegang TGF dalam keadaan inaktif. Kegagalan interaksi antara FBN-1 dengan LTBPs dapat menyebabkan signaling TGF yang berlebihan. TGF- adalah sebuah sitokin yang mengambil bagian dalam regulasi berbagai fungsi sel seperti proliferasi, differensiasi, dan apoptosis dan merupakan pusat peranan dalam homeostasis matriks ekstraselular. Pada tahun 1991, Boileau et al, mengidentifikasi sebuah keluarga di Perancis yang anggota keluarganya menunjukan beberapa gambaran skeletal dan kardiovaskular seperti pada sindrom marfan, tetapi tidak disertai dengan gambaran yang lainnya seperti dislokasi lensa. Gangguan jaringan penghubung ini juga diturunkan secara autosomal dominan, tetapi tidak terjadi mutasi pada gen fibrilin-1. Gen yang bertanggung jawab pada Marfan-like syndrome (sindrom marfan tipe II) ini kemudian ditemukan berlokasi pada kromosom 3 (3q24.2-25). Lalu investigator yang sama juga menunjukan bahwa ini adalah gen baru yaitu TGFBR2, yang dikode untuk subunit tipe II dari reseptor pada membran untuk transforming growth factor (TGF-).7 Reseptor TGF- adalah sebuah heterodimer yang meliputi penggabungan antara subunit tipe I dan tipe II (yang dikode masing-masing oleh gen TGFBR1 dan TGBR2). Hingga kini, mutasi gen TGFBR2 telah ditemukan pada pasien dengan Marfan-like syndrome, pada pasien dengan Loeys-Dietz syndrome, dan pada beberapa pasien dengan familial aneurysm dan aorta dissection. ditemukan adanya TGF- overactivity.
7-10

Pasien-pasien ini secara histologi

Manifestasi Klinis
Meskipun manifestasi klinis pada sindrom marfan tidak terlalu khas, namun adanya disporporsional pada tungkai, dislokasi pada lensa mata, dan dilatasi aorta cukup untuk menegakkan diagnosis sindrom marfan. Tercatat ada lebih dari 30 manifestasi klinis lainnya pada sindrom ini yang sebagian besar melibatkan kulit, rangka, dan sendi. 1. Kelainan pembuluh darah dan jantung.

Kelemahan

pada

dinding

aorta

bisa

menyebabkan diantara

pelebaran

sehingga

terbentuk aneurisma. Darah juga

dapat menyusup

lapisan-lapisan dinding

pembuluh darah (diseksi aorta) atau terjadi robekan pada aneurisma. Kelainan kardiovaskuler pada sindrom Marfan adalah yang terberat dan ditemukan pada 90% penderita sindrom Marfan yang pada akhirnya menyebabkan kematian pada usia ratarata32 tahun. Kelainan jantung dapat berupa kelainan yang dibawa sejak lahir atau kongenital seperti : Tetralogy of Fallot (TF), Atrial-septal defect (ASD), katup aorta yang berdaun dua alias bicuspid. Persentase kelainan jantung bawaan pada penderita sindrom Marfan jauh lebihtinggi dibandingkan populasi umum. Jantung pada penderita sindrom Marfan dapat

terdesak sehingga terjadi kebocoran. Gejalanya antara lain sering sesak, lelah, dan berdebardebar. Jika pembuluh darah tersebut keluar dari jantung dan pecah, maka kematian menda dak tak dapat dihindarkan.11 2. Kelainan kerangka tubuh Bentuk kaki yang panjang dan tangannya melebihi tinggi tubuhnya. Jari-jarinya

sedemikian panjang sehingga jika dilingkarkan pada pergelangan tangan jari-jarinya akan melebihi ibu jarinya. Jari-jemari sangat panjang seperti jari laba-laba yang disebut arachnodactyly dan disertai langit-langit didalam rongga mulut yang melengkung tinggi. Wajah lonjong tetapi sempit, gigi bertumpuk-tumpuk, atap rongga mulut melengkung dan tinggi,dan tulang dadanya menonjol. Selain itu kedua kakinya ceper, lensa matanya masuk kedalam,dan tulang punggungnya skoliosis atau bengkok. Normalnya, tulang punggung membengkok sedikit kearah dalam dan keluar, namun dari belakang tampak seperti garis lurus hingga ke leher dantulang tengkorak. Tulang rusuk melengkung dan menyebabkan "kebengkokan" di punggung,tidak heran bila dapat menyebabkan nyeri punggung yang hebat,tergantung berapa derajat kecenderungan pembengkokannya. Gejala lainnya, pada usia pertumbuhan saat pertumbuhan tidak lagi secepat sebelumnya. Tubuh pengidap sindrom Marfan akan terus meninggi tanpa henti.Jika tidak dihentikan, maka tulangnya tetap akan tumbuh.

Gambar 1. Kelainan bentuk tangan pada penderita sindrom marfan 3. Kelainan Mata Lensa matanya terlepas karena urat mata terus memanjang (Dislokasi lensa mata), miopi, ablasio retina. Pada mata, lebih dari setengah individu

dengan sindrom marfan akan didapatkan dislokasi pada salah satu atau kedua lensa. Dislokasi lensa sendiri dapat terjadi minimal atau bahkan terlihat sangat jelas.Selain dislokasi lensa kelainan pada mata lainnya yang dapat terjadi pada penderita sindrom marfan adalah katarak,glaukoma,miopia serta retinal detachment. 4. Abnormalitas jaringan ikat (kolagen) Menurut penelitian, penmyebab abnormalitas adalah pada kolagennya,yaitu zat utama yang membuat jaringan berserat yang dibentuk dari zat kimia esensial.Fungsi utama kolagen adalah untuk menahan tubuh bersama-sama dan menyediakan arahan bagi pertumbuhan dan perkembangan.Jaringan ikat terdiri dari serabut,sel-sel dan cairan ekstraseluler.Cairan ekstraseluler dan serabut inilah yang disebut matriks. Dalam sindrom marfan,jaringan ikat mengalami kerusakan dan tidak berfungsi dengan baik.Karena jaringan penghubung ditemukan di seluruh tubuh maka sindrom Marfan dapat mempengaruhi banyak sistem tubuh, termasuk kerangka, mata, jantung, pembuluh darah, sistem saraf, kulit, dan paru-paru.Keadaan ini mirip dengan penyakit lain yang disebut Ehlers Danlos Syndrome, yang disebabkan oleh abnormalitas pada jaringan elastis. Hal itu mengakibatkan kulit sering kendor (pada lengan, pantat, bahu, dan punggung), membran otak melebar (dural ectasia), sehingga sering muncul kekebalan pada bagian tubuh seperti kaki atau tangan.11-2

Gambar 2. Kelainan Jaringan Ikat

Penatalaksanaan
Tidak ada obat khusus untuk penderita sindrom Marfan. Namun demikian, berbagai pilihan pengobatan dapat meminimalisir dan mencegah komplikasi. tersebut meliputi: Skeletal Evaluasi tahunan sangat penting untuk mendeteksi setiap perubahan dalam tulang belakang atau tulang dada. Hal tersebut penting dalam masa pertumbuhan cepat,seperti masa remaja. Cacat yang serius dapat mencegah jantung dan paru-paru dari berfungsi dengan baik. Dalam beberapa kasus, operasi ortopedi mungkin disaran kanuntuk mengobati kelainan pada tulang tersebut. Mata Pemeriksaan mata teratur merupakan kunci untuk menangkap dan memperbaiki setiap masalah penglihatan yang berkaitan dengan sindrom Marfan. Dalam Pengobatan-pengobatan

kebanyakankasus, kacamata atau lensa kontak dapat memperbaiki masalah ini, meskipun operasi mungkin diperlukan dalam beberapa kasus. Jantung dan pembuluh darah Pemeriksaan yang rutin dengan menggunakan echocardiograms membantu dokter mengevaluasi ukuran dan cara aorta jantung bekerja.Beberapa masalah katup jantung dapat dikelola dengan obat-obatan seperti beta-blocker,yang dapat membantu mengurangi tekanan pada aorta. Dalam beberapa kasus, operasi untuk mengganti katup atau perbaikan aorta mungkin diperlukan. Pembedahan harus dilakukan sebelum aorta mencapai ukuran yang dikatakan berisiko tinggi untuk robek atau pecah. 10

Sistem saraf Jika dural ektasia (pembengkakan selubung saraf tulang belakang) mengembang, obat-obatan dapat membantu mengurangi rasa sakit yang terkait.

Paru-paru Penderita sindrom Marfan diharapkan tidak merokok, karena dapat mengalami peningkatan risiko untuk kerusakan paru-paru dan hubungi dokter terdekat.

Kehamilan Genetic konseling harus dilakukan sebelum kehamilan pada wanita penderitasindrom Marfan, karena sindrom marfan adalah suatu penyakit keturunan. Wanita hamil dengan sindrom Marfan dianggap kasus yang memiliki risiko tinggi.Selama kehamilan,tekanan darah harus sering dicek bulanan dengan menggunakan echocardiograms. Jika ada pembesaran cepat atau regurgitasi aorta, istirahat atau pembedahan mungkin diperlukan( American Heart association.2009:1).2

Medikamentosa Obat-obatan tidak digunakan untuk mengobati sindrom Marfan, namun mereka dapat digunakan untuk mencegah atau mengendalikan komplikasi. Pengobatan dapat meliputi: 1. Beta-bloker meningkatkan kemampuan jantung untuk rileks, mengurangi

forcefulnessdenyut jantung dan tekanan dalam arteri, sehingga mencegah atau memperlambat pembesaran aorta. Beta-blocker terapi harus dimulai pada usia dini.Pada orang yang tidak mampu mengambil beta-blocker karena asma atau efek samping,sebuah saluran kalsium, seperti verapamil, dianjurkan. 2. Angiotensin reseptor bloker (ARB) adalah jenis obat yang bekerja pada jalur kimia dalam tubuh. Agen ini sering digunakan dalam pengobatan tekanan darah tinggi serta gagal jantung.

Pembedahan Pembedahan untuk sindrom Marfan ditujukan untuk mencegah diseksi aorta atau pecah dalam memperlakukan masalah katup. Ketika diameter aorta lebih dari 4,7 cm (cm) sampai 5,0cm (tergantung pada tinggi), atau jika aortanya berkecepatan tinggi, pembedahan 11

dianjurkan.Kardiolog juga bisa dapat membantu penderita sindrom marfan untuk menghitung diameter aorta yang berasio tinggi, karena hal marfan tersebut juga untuk dapat memberikan operasi atau

informasi terhadap

para penderita

sindrom

melakukan

tidak.Rekomendasi untuk operasi berdasarkan pada ukuran aorta, ukuran normal dari aorta, laju pertumbuhan aorta, usia, tinggi badan, jenis kelamin dan sejarah keluarga yang mengalam idiseksi aorta. Pembedahan mengkhususkan penggantian pada bagian pelebaran aorta dengan cara pencangkokan.Operasi mungkin akan diperlukan untuk Perbaikan atau penggantian katup jika penderitasindrom Marfan memiliki katup aorta yang bocor atau mitral (regurgitasi) sehinggamenyebabkan perubahan dalam ventrikel kiri (kiri majelis rendah hati) atau gagal jantung(Medicinenet. 1996: 1)

Deteksi Dini Sindrom Marfan a. Evaluasi Genetik Pada masa lalu, banyak dokter mempunyai sikap "malas" terhadap kelainan genetik karena"tidak ada yang dapat dilakukan dengan gen anda". Namun, penting sekali untuk mendeteksi kelainan genetik sehingga pasien mendapat penyuluhan yang adekuat terhadap kondisinya dan resiko terhadap keturunannya. Untuk keadaan yang parah, pasien sering kali tertarik pada diagnosis prenatal, sehingga mereka dapat mempertimbangkan pengakhiran kehamilan atau mempersiapkan kelahiran anak yang tidak terkena penyakit. Kegagalan untuk menyiapkan konseling yang adekuat dan tepat waktu akan membuat ini menjadi perkara hukum. Diagnosa genetik bahkan menjadi lebih kritis sebagaimana banyak pilihan pengobatan yang tersedia untuk anak dengan kelainan genetik.Alasan utama suatu pasangan dianjurkan untuk diagnosis prenatal adalah umur. Wanita yang umurnya lebih dari 34 tahun menghadapi peningkatan resiko untuk melahirkan anak dengan kelainan kromosom. Indikasi utama yang lain untuk diagnosis prenatal mencakup: 1. Riwayat cacat lahir sebelumnya pada anak atau keluarga, keterbelakangan mental,kelainan kromosom atau kelainan genetik yang dikenal 2. Kematian janin berulang. 3. Bayi yang telah mati dalam periode neonatal.

12

b. Konseling Genetika Konseling genetik harus dibedakan dari pemeriksaan genetik dan skrining, meskipun konselor genetik sering dilibatkan dalam hal pemeriksaan genetik.Dengan meningkatnya pengetahuan tentang janin, banyak pasangan menunjukkan adanya indikasi untuk mendapat diagnosa genetik prenatal.Meskipun setiap ahli kebidanan mempunyai peran dalam memberikan konseling genetik, banyak klinisi mendapatkan bahwa konselor

genetik seseorang yang lebih tinggi tingkatannya dan mereka yang terlatih dalam aspek pendidikan, psikologis dan administrative dari genetik akansangat membantu. Konselor genetik berpengalaman dapat memperoleh dan menafsirkan riwayatkeluarga, sering kali mereka terlibat dalam menegakkan diagnosa. Bila hadir dalam

kunjungan prenatal, mereka dapat menafsirkan kehamilan kini, menjelaskan resiko bagi janin dan mendiskusikan pilihan yang tersedia.12 Pasien dengan resiko penyakit genetik harus memahami prinsip-prinsip dasar dari genetika medis dan terminologi yang relevan dengan situasi ini. Ini mencakup konsep tentang gen, bagaimana gen dihantarkan, dan menimbulkan resiko penyakit turunan. Pemahaman adekuat tentang pola-pola pewarisan sifat atau penyakit akan membuat pasien memahami kemungkinan resiko penyakit bagi diri dan keluarganya. Penting juga menanamkan konsepkonsep penetrasi penyakit dan ekspresinya kepada pasien.

Prognosis
Beberapa anak dengan sindrom Marfan disarankan untuk membatasi kegiatan mereka. Ini mungkin membutuhkan penyesuaian gaya hidup yang sulit bagi seorang anak untuk memahami atau menerima.Untuk anak-anak dan orang dewasa, perawatan medis yang sesuai, informasi yang akurat, dan dukungan sosial membuatnya lebih mudah untuk hidup dengan penyakit ini. Konseling genetik juga dapat membantu untuk memahami penyakit dan dampak potensial terhadap generasi mendatang.Sementara sindrom Marfan adalah gangguan seumur hidup, prospek telah membaik dalam beberapa tahun terakhir. Pada awal tahun 1970-an, harapan hidup orang dengan sindrom Marfan adalah dua pertiga bahwa seseorang tanpa penyakit, namun dengan perbaikan dalam pengakuan dan pengobatan, orang dengan sindrom Marfan kini memiliki harapan hidup yang sama dengan yang ada pada rata-rata orang. 13

Epidemiologi
Taksiran prevalensi sindrom marfan adalah dengan kisaran antara 1 : 5000 sampai 1 : 10.000 kelahiran hidup, pengaruh jenis kelamin adalah sama.13-4 Kira-kira 75% pasien dengan sindrom marfan dengan fenotipe yang klasik memiliki riwayat penyakit ini pada keluarganya. Sisanya 25% mengalami mutasi secara de novo.15

Kesimpulan
Berdasarkan keluhan dislokasi lensa dengan miopia yang tinggi; jari-jari yang panjang, sangat lentur, dan elastis; aneurisma aorta ascendens dengan diameter < 3 cm; serta saudara perempuan dan ibu yang juga menderita kelainan yang hampir sama, ibu R menderita sindrom Marfan. Hipotesis diterima.

Daftar Pustaka
1. Gleadle J. At a Glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2007.p.129. 2. Isselbacher KJ, Braunwald E, Wilson JD, Martin JB, Fauci AS, Kasper DL. Harrison: Prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam. Vol.1. Ed.13. Jakarta: EGC; 2000.p.388. 3. Diunduh dari: http://www.news-medical.net/health/Marfan-Syndrome-Diagnosis.aspx 4. Canadas V, Vilacosta I, Bruna I, Fuster V. Marfan syndrome. Part 1: pathophysiology and diagnosis. Macmillian Publisher Limited, 1-10 (2010). 5. Dean JCS. Marfan syndrome: clinical diagnosis and management. European Journal of Human Genetic 15, 724-733 (2007). 6. Ammash, N. M., Sdunt, T. M & Connolly, H. M. Marfan syndrom-diagnosis and management. Curr. Probl. Cardiol. 33, 7-39 (2008). 7. Mizuguchi, T. et al. Heterozygous TGFBR2 mutations in Marfan syndrome. Nat. Genet. 36, 855-860 (2004).

14

8. Loeys, B. L. et al. A syndrome of altered cardiovaskular, craniofacial, neurocognitive and sceletal development caused by mutations in TGFBR1 or TGFBR2. Nat. Genet. 37, 275-281 (2005). 9. Pannu, H. et al. Mutations in transforming growth factor-beta receptor type II cause familial thoracic aortic aneurysms and dissections. Circulation 112, 513-520 (2005). 10. Attias, D. et al. Comparison of clinical presentations and outcomes between patients with TGFBR2 and FBN1 mutations in Marfan syndrome and related disorders. Circulation 120, 2541-2549 (2009). 11. Ammash NM, Sundt TM, Connolly HM. Marfan syndrome-diagnosis and management.Curr Probl Cardiol . Jan 2008;33(1):7-39.2. 12. Judge DP, Dietz HC Division of Cardiology,Department of Medicine, Johns HopkinsUniversity, Baltimore, MD 21205, USA. 13. Pearson, G. D. et al. Report of the national heart, lung and blood institute and national marfan foundation working group on research in Marfan syndrome and related disorders. Circulation 118, 785-791 (2008). 14. Faivre, L. et al. Effect of mutation type and location on clinical outcomein 2013 proband with Marfan syndrome related phenotypes and FBN1 mutations: an international study. Am. J. Hum. Genet. 81, 454-466 (2007). 15. Keane, M. G. & Pyeritz, R. E. Medical management of Marfan syndrome.Circulation 117, 2802-2813 (2008).

15