Anda di halaman 1dari 15

BAB IX ANALISIS PEMASARAN PEPAYA SPO DAN PEPAYA NON SPO

Pemasaran adalah suatu runtutan kegiatan atau jasa yang dilakukan untuk memindahkan suatu produk dari titik produsen ke titik konsumen. Kelompok dan individu mendapatkan apa yang mereka inginkan dan butuhkan dengan cara menciptakan, menawarkan, dan mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain. Suatu kegiatan usahatani dapat dikatakan berhasil apabila produk tersebut dapat diterima oleh pasar. Oleh sebab itu maka analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis lembaga pemasaran, fungsi pemasaran, saluran pemasaran, margin pemasaran, efisiensi pemasaran, dan struktur pasar.

9.1. Analisis Lembaga Pemasaran dan Fungsi Pemasaran 9.1.1. analisis Lembaga dan Fungsi Pemasaran Pepaya SPO

Lembaga pemasaran adalah individu atau kelompok yang melakukan

fungsi pemasaran. Setiap proses yang terjadi pada setiap lembaga menggambarkan fungsi dari lembaga tersebut pada proses pemasaran. Adapun lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat dalam penyaluran pepaya SPO dan fungsi pemasarannya adalah sebagai berikut :

1.

Petani

Petani merupakan produsen yang memproduksi pepaya. Sebagai produsen pepaya, petani juga mempunyai peran dalam melakukan fungsi pemasaran. Dalam penelitian ini petani hanya melakukan fungsi penjualan, fungsi penjualan dilakukan oleh petani dalam bentuk perpindahan kepemilikan dari petani kepada rantai pemasaran yang berikutnya. Kegiatan pemanenan dilakukan pada hari rabu

68

dan minggu. Petani juga melakukan fungsi informasi pasar, fungsi informasi pasar di sini maksudnya adalah usaha yang dilakukan oleh petani untuk mencari tahu perkembangan harga pasar dari pengusaha mitra, pedagang pengumpul atau dari pihak lain.

  • 2. Pengusaha mitra

Pengusaha mitra melakukan semua fungsi pemasaran, seperti yang terlihat pada Tabel 12. Fungsi penjualan tentunya dilakukan oleh pengusaha mitra dalam kaitannya dengan perpindahan kepemilikan kepada pedagang pengecer atau agen. Sedangkan fungsi pembelian adalah kegiatan yang dilakukan oleh pengusaha mitra untuk memiliki barang tersebut dari produsen/petani, karena pengusaha mitra tidak menghasilkan sendiri komoditi tersebut. Biasanya petani menjual pepaya dengan kondisi yang belum dibersihkan dan terdiri dari berbagai ukuran dan tingkat kematangan, oleh karena itu pengusaha mitra perlu melakukan melakukan fungsi pembersihan dan sortasi. Fungsi sortasi bertujuan untuk memisahkan pepaya berdasarkan ukuran dan tingkat kematangannya sehingga memudahkan pada saat pemasaran. Fungsi pembersihan ini akan mendukung fungsi penyimpanan. Fungsi penyimpanan dilakukan oleh pengusaha mitra untuk mengatasi fluktuasi produksi pepaya. Fungsi penyimpanan ini juga tidak dapat berlangsung terlalu lama karena pepaya mempunyai keterbatasan daya tahan. Fungsi pengangkutan yang dilakukan oleh pengusaha mitra adalah membawa pepaya dari kebun petani ke gudang penyimpan kemudian membawa pepaya tersebut ke pedagang pengeser atau agen. Selain itu pengusaha mitra juga mencari informasi harga yang berlaku di

69

pasar sehingga dengan sendirinya pengusaha mitra juga melakukan fungsi informasi pasar

  • 3. Pedagang Pengecer

Pedagang pengecer disini adalah supermarket, toko buah serta agen. Pedagang pengecer juga melakukan beberapa fungsi sekaligus antara lain fungsi penjualan, pembelian, penyimpanan, pengangkutan, serta informasi pasar. Fungsi penjualan yang dilakukaan oleh pedagang pengecer merupakan kegiatan perpindahan kepemilikan kepada rantai pemasaran terakhir yaitu konsumen. Pedagang pengecer juga tidak menghasilkan sendiri komoditi yang dijualnya, sehingga mereka perlu melakukan fungsi pembelian dari mata rantai pemasaran sebelumnya yaitu pengusaha mitra. Seringkali buah pepaya tidak habis terjual pada satu periode tertentu sehingga pedagang pengecer perlu melakukan fungsi penyimpanan. Fungsi pengangkutan tidak semua dilakukan oleh pedagang pengecer, hanya oleh agen/supplier buah saja. Supermarket dan took buah tidak perlu melakukannya karena fungsi itu sudah dilakukan oleh pengusaha mitra. Fungsi informasi pasar juga dilakukan oleh para pedagang pengecer untuk mengetahui perkembangan harga, lumlah permintaan konsumen, kualitas yang diinginkan dan sebagainya.

9.1.2. Analisis Lembaga dan Fungsi Pemasaran Pepaya Non SPO

1. Petani Pada tingkat petani, fungsi pemasaran yang dilakukan adalah fungsi pertukaran yaitu penjualan, dan informasi pasar yaitu mengenai informasi tentang

70

harga pepaya di pasar. Pedagang pengumpul dalam hal ini tengkulak dating langsung ke lokasi penanaman untuk membeli.

  • 2. Pedagang Pengumpul

Pedagang pengumpul membeli langsung pepaya dari petani dengan mendatangi langsung ke rumah maupun ke kebun petani. Kegiatan fisik seperti pembersihan, sortasi, pengangkutan dan bongkar muat dilakukan oleh pedagang pengumpul. Pepaya kemudian diantar langsung ke pasar tujuan seperti Pasar

Anyar, Pasar Bogor, dan Pasar keramat jati Jakarta ataupun ke toko-toko buah.

  • 3. Pedagang Pengecer

Fungsi pemasaran yang dilakukan oleh pedagang pengecer adalah fungsi pertukaran berupa penjualan dan fungsi pembelian. Fungsi fisik yang dilakukan berupa pengangkutan. Proses pembayaran dari pedagang pengumpul kepada petani dan dari pedagang pengecer kepada pedagang pengumpul dilakukan secara tunai. Pembayaran dilakukan langsung pada saat terjadinya pertukaran. Secara ringkas fungsi pemasaran yang dilakukan oleh setiap pelaku pasar dapat dilihat pada Tabel 22.

71

Tabel 22. Fungsi Pemasaran yang Dilakukan Pelaku Pemasaran

No

Fungsi Pemasaran

 

Lembaga pemasaran

 

Pepaya SPO

 

Pepaya non SPO

1

2

3

1

2

2

1

Fungsi Pertukaran

           
 
  • a. Fungsi Pembelian

ν

 

 
  • b. Fungsi Penjualan

2

Fungsi Fisik

           
 
  • a. Fungsi Pengangkutan

 

   

 
 
  • b. Fungsi Penyimpanan

 

 

 
  • c. Fungsi Pengemasan

 

   

 

3

Fungsi Fasilitas

           
 
  • a. Fungsi Sortasi

 

   

 
 
  • b. Fungsi Grading

 

   

 
 
  • c. Fungsi

Penanggungan

 

 

resiko

 
  • d. Fungsi Informasi Pasar

 

Sumber : Data Primer

Ket : 1. petani

  • 2. Pengusaha mitra/pedagang pengumpul

  • 3. Pedagang pengecer

  • 9.2. Analisis Saluran Pemasaran

    • 9.2.1. Analisis Saluran Pemasaran Pepaya SPO Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan selama penelitian, saluran

pemasaran pepaya SPO terdiri dari dua saluran.

Pola 1 Supermarket & toko buah Pengusaha Konsumen Petani Mitra Pola 2 Agen/supliyer
Pola 1
Supermarket
& toko buah
Pengusaha
Konsumen
Petani
Mitra
Pola 2
Agen/supliyer

Gambar 3. Saluran Saluran Pemasaran pepaya SPO.

Gambar 3 menginformasikan, saluran pemasaran pepaya SPO di desa

Pasirgaok. petani pepaya yang telah menerapkan SPO pada umumnya adalah

72

petani yang tergabung dalam kelompok tani yang bermitra dengan pengusaha

lokal sehingga petani menjual semua hasil panennya kepada pengusaha mitra.

Pada saluran satu petani menjual pepaya kepada pengusaha mitra,

kemudian pengusaha mitra menjual kembali pepaya yang diperoleh dari petani

kepada pedagang pengecer. Pada saluran ini pedagang pengecer terdiri dari dua

jenis pengecer yaitu supermarket dan toko buah. Supermarket dan toko tersebut

adalah Hero, Carefour, Jogja, Superindo,Toko buah Bahagia, toko buah Papaho.

Pengusaha mitra mengantar langsung pepaya kepada pengecer sesuai dengan

jumlah dan ukuran grade yang diminta, kemudian konsumen langsung membeli

pepaya dari pengecer tersebut

Saluran ke dua petani menjual pepaya kepada pengusaha mitra yang

kemudian disalurkan kembali pada supplier buah yang mendistribusikan kembali

pepaya ke supermarket ataupun toko – toko buah yang berada di Jakarta.

  • 9.2.2. Analisis Saluran Pemasaran Pepaya Non SPO Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan, terdapat tiga saluran

pemasaran yang terjadi. Saluran pemasaran ini menggambarkan bagaimana alur

proses produk sampai ketangan konsumen akhir. Saluran pemasaran yang terjadi

terdiri dari tiga saluran. Saluran pemasaran dapat dilihat pada Gambar 4 berikut.

73

73 Pedagang Pola 1 Pengecer Petani Pedagang Super market & Pola 2 toko buah Pengumpul Pola

Pedagang

Pola 1

Pengecer

Pengecer
73 Pedagang Pola 1 Pengecer Petani Pedagang Super market & Pola 2 toko buah Pengumpul Pola
  • Petani

Petani
Petani Pedagang Super market & Pola 2 toko buah Pengumpul Pola 3
Petani Pedagang Super market & Pola 2 toko buah Pengumpul Pola 3
Pedagang
Pedagang

Super market &

Pola 2

toko buah

 
Super market & Pola 2 toko buah Pengumpul Pola 3

Pengumpul

Pola 3

Super market & Pola 2 toko buah Pengumpul Pola 3
Konsumen
Konsumen

Gambar 4. Saluran Pemasaran Pepaya Non SPO Di Desa pasirgaok.

Saluran pemasaran pertama, petani menjual pepaya kepada pedagang

pengumpul, kemudian pedagang pengumpul menjual pepaya yang di beli dari

petani kepada pedagang pengecer , pedagang pengecer ini adalah pedagang yang

menjual pepaya langsung pada konsumen di pasar tradisional. Pedagang ini

adalah pedagang pengecer yang berjualan di pasar Anyar, pasar Bogor dan pasar

Keramat jati Jakarta.

Saluran pemasaran ke dua petani menjual pepaya kepada pedagang

pengumpul, kemudian menjual kembali kepada supermarket atau toko buah yang

langsung berhubungan dengan konsumen akhir.

Saluran pemasaran ke tiga petani langsung menjual hasil panennya

kepada konsumen. Konsumen tersebut adalah konsumen yang secara khusus

datang ke lokasi kebun atau kepada penduduk di sekitar kebun.

  • 9.3. Analisis Marjin Pemasaran.

Analisis marjin pemasaran digunakan sebagai salah satu indikator untuk

melihat tingkat efisiensi pemasaran Pepaya. Marjin pemasaran adalah

74

penjumlahan dari seluruh biaya pemasaran yang dikeluarkan dan keuntungan yang

diambil oleh lembaga pemasaran selama proses penyaluran pepaya dari satu

pelaku pemasaran ke pelaku lainnya Marjin pemasaran merupakan perbedaan

harga antara harga yang dibayarkan oleh konsumen dengan harga yang diterima

oleh petani. Marjin pemasaran juga merupakan imbalan jasa yang diterima oleh

lembaga pemasaran yang dilalui dan pada akhirnya didistribusikan oleh pedagang

pengecer ke tingkat konsumen akhir.

  • 9.3.1. Analisis Marjin Pemasaran Pepaya SPO Berdasarkan Tabel 23, untuk komoditi pepaya SPO terjadi dua pola

saluran pemasaran. farmer’s Share yang diperoleh petani pada saluran I adalah

sebesar 23,85 persen, sedangkan farmer’s Share pada saluran II adalah sebesar

34,44 persen.

Marjin yang diperoleh pengusaha mitra pada saluran I adalah sebesar Rp

2.951,00 yaitu setara dengan 45,38 persen, sedangkan untuk pedagang pengecer

marjin pemasaran yang diterima adalah sebesar Rp 2000 atau 30,77 persen.

Saluran II menunjukkan marjin pemasaran yang diterima oleh pengusaha

mitra adalah sebesar Rp 1.950,00 atau sebesar 43,33 persen

75

Tabel 23. Marjin Pemasaran Pepaya SPO Per Kg

 

Uraian

Saluran I

 

Saluran II

 

Rp/Kg

%

Rp/kg

%

 

Petani

       

a.

Biaya Produksi

551.78

8.49

551.78

12.26

b.

Keuntungan

998.22

 
  • 15.36 998.22

22.18

c.

Harga jual/Farmer’s Share

1550.00

 
  • 23.85 1550.00

34.44

Pengusaha Mitra

       

a.

Harga Beli

1550.00

 
  • 23.85 1550.00

34.44

b.

Biaya pembersihan dan Sortasi

150.00

 

150.00

  • 2.31 3.33

c.

Biaya pemetikan dan bongkar muat

100.00

 

100.00

  • 1.54 2.22

d.

Biaya transportasi

250.00

 

100.00

  • 3.85 2.22

e.

Biaya Retribusi

20.00

 

20.00

  • 0.31 0.44

f.

Biaya Penyimpanan

5.00

 

5.00

  • 0.08 0.11

g.

Biaya Pengemasan dan Pelabelan

150.00

 

150.00

  • 2.31 3.33

h.

Biaya penyusutan

100.00

 

100.00

  • 1.54 2.22

i.

Keuntungan

2175.00

33.46

 
  • 1325.00 29.44

j.

Marjin Pemasaran

2950.00

45.38

 
  • 1950.00 43.33

k.

Harga Jual

4500.00

69.23

 
  • 3500.00 77.78

Pengecer (Supermarket&Toko Buah)

       

a.

Harga Beli

4500.00

69.23

   

b.

Biaya Penyimpanan

10.00

0.15

   

c.

Biaya Penyusutan

50.00

0.77

   

d.

Keuntungan

1940.00

29.85

   

e.

Marjin Pemasaran

2000.00

30.77

   

f.

Harga Jual

6500.00

100.00

   
 

Agen

       

a.Harga Beli

     
  • 3500.00 77.78

b.

Biaya transportasi

   

200.00

4.44

c.

Biaya Retribusi

   

20.00

0.44

d.

Biaya Penyimpanan

   

15.00

0.33

e.

Biaya penyusutan

   

120.00

2.67

f.

Keuntungan

   

645.00

14.33

g.

Marjin Pemasaran

   

1000.00

22.22

h.

Harga Jual

   

4500.00

100.00

Total Biaya Pemasaran

835.100

 

980.00

  • 12.85 21.78

Total Keuntungan

5113.22

 

2968.22

  • 78.66 65.96

 

4950.00

 

2950.00

  • 76.15 65.56

Total Marjin Efisiensi (π/C)

6.12

 

3.03

 

Apabila dilihat per pola pemasarannya maka berdasarkan Tabel 23

diketahui bahwa biaya pemasaran paling besar untuk pola pemasaran I dan II

terdapat pada lembaga pemasaran pengusaha mitra, yaitu sebesar Rp 835,10 atau

76

12,85 persen dari harga eceran untuk pola I, dan Rp 980,00 atau 21,78 persen dari

harga eceran untuk pola II.

Besarnya biaya yang harus dikeluarkan oleh lembaga pemasaran

(pengusaha mitra) dikarenakan aktivitas fungsi fisik yang dilakukan oleh lembaga

pemasaran tersebut lebih banyak dari lembaga pemasaran lain. Sedangkan pada

pedagang pengecer, diketahui ternyata biaya pemasaran yang harus dikeluarkan

oleh pedagang pengecer pola dan II lebih kecil dari lembaga pemasaran

pengusaha mitra. Hal ini terjadi karena pada lembaga pemasaran tersebut tidak

melakukan aktivitas fungsi fisik.

Apabila pola I dibandingkan dengan pola II maka diketahui, pola I

mempunyai nilai total marjin yang lebih besar dari pola II. Tingginya nilai total

marjin pada pola I bukan disebabkan oleh banyaknya nlembaga pemasaran yang

terlibat tetapi disebabkan oleh adanya perbedaan segmen pasar

Pada penelitian ini efisiensi pemasaran diukur berdasarkan rasio

perbandingan antara keuntungan dan biaya (π/C). Berdasarkan nilai π/C

diketahui bahwa pola pemasaran I memiliki nilai π/C yang lebih tinggi dari

nilaiπ/C pada pola II. Adapun nilai π/C tersebut adalah 6.12 untuk pola I dan 3.03

untuk pola II, hal ini berarti bahwa pola pemasaran I lebih efisien dalam

mnyalurkan produknya bila dibandingkan pola lain.

  • 9.3.2. Analisis Marjin Pemasaran Pepaya Non SPO Berdasarkan Tabel 24, untuk komoditi pepaya non SPO terjadi tiga pola

saluran pemasaran. Apabila dilihat per pola pemasarannya maka berdasarkan

77

dan II terdapat pada lembaga pemasaran pedangang pengumpul, yaitu sebesar Rp

2152,13 atau 47,83 persen dari harga eceran untuk pola I, dan Rp 2082,13 atau

32,03 persen dari harga eceran untuk pola II, sedangkan pada pola III petani

langsung menjual hasil panenya pada konsumen sehingga pada pola ini tidak

terdapat pedagang pengumpul ataupun pedagang pengecer.

Besarnya biaya yang harus dikeluarkan oleh lembaga pemasaran

(pedangang pengumpul) dikarenakan aktivitas fungsi fisik yang dilakukan oleh

lembaga pemasaran tersebut lebih banyak dari lembaga pemasaran lain.

Sedangkan pada pedagang pengecer, diketahui ternyata biaya pemasaran yang

harus dikeluarkan oleh pedagang pengecer pola I dan II lebih kecil dari lembaga

pemasaran pedangang pengumpul. Hal ini terjadi karena pada lembaga

pemasaran tersebut tidak melakukan aktivitas fungsi fisik.

Apabila pola I dibandingkan dengan pola II maka diketahui, pola II

mempunyai nilai total marjin yang lebih besar dari pola I. Tingginya nilai total

marjin pada pola II bukan disebabkan oleh banyaknya lembaga pemasaran yang

terlibat tetapi disebabkan oleh adanya perbedaan segmen pasar

Pada penelitian ini efisiensi pemasaran diukur berdasarkan rasio

perbandingan antara keuntungan dan biaya (π/C). Berdasarkan nilai π/C

diketahui bahwa pola pemasaran III memiliki nilai π/C yang lebih tinggi dari

nilaiπ/C pada pola I dan pola II. Adapun nilai π/C tersebut adalah 3,01 untuk pola

I dan 6,22 untuk pola II, dan 31,56 untuk pola III.

Untuk, petani saluran tiga merupakan pilihan yang paling menguntungkan

karena bagian harga yang diterima petani pada saluran tersebut paling besar, tetapi

saluran tiga kurang strategis untuk dipilih karena jumlah penjualan yang terbatas.

78

Jarang sekali ada konsumen yang membeli pepaya secara langsung kepada petani

sehingga secara kuantitas saluran tiga memiliki volume jual yang rendah. Maka

dari itu pola pemasaran II lebih menguntungkan buat petani .

Tabel 24. Marjin Pemasaran Pepaya Non SPO Per Kg

 

Uraian

Pola I

 

Pola II

 

Pola III

 
 

Rp/kg

%

Rp/kg

%

Rp/kg

%

Petani

             
 

a.

Biaya Produksi

1372.13

30.49

1372.13

21.11

1372.13

45.74

 

b.

Biaya pemetikan dan pembersihan

       

50,00

1,67

 

c.

Keuntungan

127.87

2.84

127.87

1.97

1627.87

54.26

 

d.

Harga jual/ farmer’s Share

1500.00

 

1500.00

  • 33.33 23.08

 

3000.00

100.00

Pedagang Pengumpul

     

a.

Harga Beli

1500.00

 

1500.00

  • 33.33 23.08

     

b.

Biaya pembersihan dan Sortasi

150.00

 

150.00

  • 3.33 2.31

     

c.

Biaya pemetikan dan bongkar muat

150.00

 

150.00

  • 3.33 2.31

     

d.

Biaya transportasi

100.00

 
  • 2.22 3.85

250.00

     

e.

Biaya Retribusi

20.00

 
  • 0.44 0.31

20.00

     

f.

Biaya Penyimpanan

5.00

 

5.00

  • 0.11 0.08

     

g.

Biaya Pengemasan

75.00

 
  • 1.67 1.15

75.00

     

h.

Keuntungan

1500.00

33.33

1850.00

28.46

   

i.

Marjin Pemasaran

2000.00

44.44

2500.00

38.46

   

j.

Harga Jual

3500.00

77.78

4000.00

61.54

   

Pengecer di Pasar Tradisional

         

a.

Harga Beli

3500.00

77.78

       

b.

Biaya Penyimpanan

10.00

0.22

       

c.

Biaya Transportasi

150.00

3.33

       

d.

Biaya Retribusi

20.00

0.44

       

e.

Biaya Penyusutan

100.00

2.22

       

f.

Keuntungan

720.00

16.00

       

g.

Marjin Pemasaran

1000.00

22.22

       

h.

Harga Jual

4500.00

100.00

       
             

Pengecer (supermarket&Toko Buah) a.Harga Beli

   

4000.00

61.54

   

b Biaya Penyimpanan

   

10.00

0.15

   

c.

Biaya penyusutan

   

50.00

0.77

   

d.

Keuntungan

   

2440.00

37.54

   

e.

Marjin Pemasaran

   

2500.00

38.46

   

f.

Harga Jual

   

6500.00

100.00

   

Total Biaya

 

2152.13

47.83

2082.13

32.03

50,00

1,67

Total Keuntungan

2347.87

52.17

4417.87

67.97

1577,87

52,60

 

3000.00

66.67

5000.00

76.92

1627.87

54.26

Total Marjin Efisiensi (π/C)

3,01

 

6,22

 

31,56

 
  • 9.4. Analisis Struktur Pemasaran

79

Secara sederhana struktur pasar dapat dibedakan atas pasar persaingan

sempurna dan pasar persaingan tidak sempurna. Keadaan struktur pasar dapat

dilihat dari jumlah lembaga pemasaran yang terlibat, keadaan produk dan

kebebasan keluar masuk pasar, sumber informasi dan penentuan harga baik

dilihat dari sisi penjual maupun dari sisi pembeli.

  • 1. Jumlah Lembaga

Pasar yang terjadi antara petani pepaya California dengan pedagan pengecer

jika dilihat dari sisi penjual menunjukan kecenderungan pasar monopssoni.

Harga produk yang terjadi pada umumnya terbentuk di pasar, karena terjadiya

kesepakatan antara petani dan pedagang pengumpul dan juga selanjutnya

antara pedagang pengumpul dan pedangan. Pembentukan harga ini juga

dipengaruhi oleh mekanisme pasar atau keadaaan yang sedang terjadi.

  • 2. Penentuan Harga

Pada dasarnya pepaya California, penentuan harga antara petani dan pedagang

pengumpul dilakukan atas kesepakatan bersama, tentu saja disesuaikan dengan

kondisi pasar yang sedang terjadi. Biasanya apabila sedang musim panen dan

jumlah panen berlimpah harga produk dipasar turun. Petani dalam hal ini tidak

bisa menentukan harga yang disesuaikan dengan biaya yang telah

dikeluarkannya. Oleh sebab itu ada saatnya petani mendapatkan marjin yang

kecil dan keuntungan yang sedikit bahkan dapat mengalami kerugian. Hal ini

terjadi karena petani tidak memiliki kekuatan tawar.

80

Pepaya merupakan produk pertanian yang harus dipasarkan dalam bentuk

segar. Pada pertanian buah pepaya California, pepaya yang dipanen tidak

mengalami perubahan bentuk. Namun untuk menjaga kesegaran buah,

penanganan saat panen dan pasca panen dilakukan sangat hati-hati. Luka dan

cacat dihindari saat panen. Selain itu sortir dan grading terhadap produk

dilakukan untuk memisahkan produk yang bermutu A atau B. Untuk pasar

swalayan buah pepaya dikemas dan diberi logo perusahaan.

Penanganan pasca panen buah pepaya California, biasanya dilakukan oleh

pengusaha mitra atau pedagang pengumpul. Hasil panen yang dibeli dari

petani dicuci kemudian dikeringkan dengan cara meletakkan dalam keranjang

atau container yang berlubang. Setelah itu langsung dibawa untuk dijual

kepada lembaga selanjutnya.

  • 4. Kebebasan Keluar Masuk Pasar

Kebebasan keluar masuk pasar dilihat dari tinggi rendahnya modal dibutuhkan

dan kerjasama antar lembaga. Pada petani buah pepaya California SPO

memiliki hambatan untuk keluar masuk pasar lebih besar dibandingkan

dengan pepaya California tanpa menerapkan SPO. Petani pepaya california

dengan SPO memerlukan modal yang cukup besar untuk melakukan usaha

tani sebab biaya untuk pengolahan, pemeliharaan dan menjaga

kesinambungan usaha tani cukup besar. Hambatan untuk keluar masuk pada

pedagang pengumpul dan pengecer untuk buah pepaya California dengan SPO

dan tanpa SPO cukup besar, sebab selain dibutuhkan modal yang besar

lembaga pemasaran ini dituntut untuk memiliki relasi yang luas serta

pengalaman.

5. Sumber Informasi

81

Petani umumnya mengetahui harga pepaya dari pedangang pengumpul,

pedangang pengecer, serta penyuluh pertanian. Pedagang pengumpul dan

pedagang pengecer dapat dijadikan sumber informasi yang baik untuk petani

pepaya California dengan menerapkan SPO maupun tanpa SPO, sebab

lembaga ini merupakan pihak yang langsung berhubungan dengan pasar setiap

hari.