Anda di halaman 1dari 29

High Performance - High Strength Concrete ( HPC -HSC )

Pada masa 1950s beton dengan compressive strength diatas 34 MPa dinyatakan sebagai High strength concrete. Pada masa 1960s beton dengan compressive strngth 41 -52 MPa sudah dikomersialkan. Pada masa 1970s hingga sekarang 62 - 140 MPa sudah diproduksi. Pada masa 1980s beton dengan compressive strength diatas 41 MPa dikategorikan sebagai High Strength Concrete (HSC).

Strength classification of concrete

Beberapa contoh bangunan tinggi yang menggunakan

Prof. Paul Zia dari North Carolina State University menyatakan sebagai berikut: High-strength concrete and High-performance concrete are not interchangeable terms. HPC embodies many more attributes than high strength. It meets special performance and uniformity requirements that cant always be achieved routinely by using only conventional materials and normal mixing, placing, and curing practices. The requirements may involve enhancements of placement and compaction without segregation, long-term mechanical properties, early-age strength, toughness, volume stability, or service life in severe environments. Thus it is possible that a HPC could have a relatively low strength while satisfying other requirements.

Pengujian Compressive Strength HSC diusulkan tidak didasarkan pada umur 28 hari. Pengujian Compressive Strength diusulkan pada umur

56 atau 90 hari.

Pencapaian HSC dengan mengoptimalkan 6 faktor.


1. Characteristic Cementing medium 2. Characteristic Aggregate 3. Proporsi Pasta 4. Interaction dari Pasta - Agregat. 5. Mixing, Consolidating dan Curing 6. Testing Procedures.

Cement
Penelitian pada uniformity dan konsistensi produk semen yang akan dipergunakan, biasanya dilakukan dalam jangka waktu 6 sampai 12 bulan. Uniformity report harus sesuai dengan persyaratan dari ASTM C 917. Uniformity dari HSC akan bermasalah bila kandungan tricalcium silicate bervariasi lebih dari 4%, ignition loss lebih dari 0.5%, fineness lebih dari 375 cm2/g dan sulfate (SO3) level harus dipelihara pada tingkat optimum dengan batasan variasi sebesar 0.20%. Pemilihan semen yang akan dipakai termasuk pengaruh slump, water demand dan admixture untuk HSC dipersiapkan melalui rangkaian uji yang dilakukan pada umur 7, 28, 56 dan 90 hari.

Coarse Aggregate
Kuat tekan beton diatas 35 MPa banyak tergantung pada kualitas pasta semen yang berfungsi sebagai pengikat antar agregat. Pada tingkat kuat tekan sampai 35 MPa, pada umumnya kekuatan agregat lebih besar dari kekuatan pasta semennya. Pada HSC kadangkala kekuatan pasta semen cukup tinggi dalam menyaingi kekuatan agregat. Kekuatan dari agregat, bond (lekatan) atau adhesion antara pasta semen dan agregat serta absorption characteristics dari agregat sangat berperan dalam HSC. Agregat kasar paling sedikit harus mengikuti persyaratan ASTM C 33. Pada HSC, meningkatnya ukuran agregat kasar cenderung menurunkan kekuatan beton karena luas bidang permukaan lekatan menurun serta menimbulkan gangguan continuity dalam beton

Bentuk agregat (aggregate shape), termasuk porosity. Lekatan antara semen-agregat meningkat bila bentuk dan texture partikel agregat berubah dari bentuk rounded, smooth kebentuk angular, dan rough. Perubahan jenis agregat dengan w/c ratio yang sama akan menghasilkan strength yang berbeda.

Fine Aggregate
1. Bentuk dan texture permukaan dari fine aggregate

(FA) memberi pengaruh yang lebih besar terhadap kebutuhan air (water demand) dibandingkan dengan coarse aggregate (CA) karena dalam berat yang sama luas permukaan dari FA jauh lebih besar dari CA. 2. Daya lekat pasta semen dengan CA lebih penting dibandingkan daya lekat pasta semen dengan FA karena adanya perbedaan luas permukaan tadi. Dengan demikian efisiensi dapat dicapai bila dapat diperoleh ratio CA/FA yang optimum. Untuk itu sangat diperlukan berbagai trial mix dan pengujian.

Fine Aggregate
3. Bila ditinjau dari sisi workability, rounded, smooth sand (natural sand) akan lebih baik dibandingkan dengan sharp, rough sand (manufactured sand). Beberapa peneliti memperlihatkan bahwa untuk campuran beton dengan slump dan kandungan semen yang sama, kekuatan beton yang menggunakan natural sand memberikan kekuatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan beton yang menggunakan manufactured sand seperti ditunjukkan pada gambar berikut.

Pengaruh jenis dan gradasi dari pasir terhadap compressive strength beton pada berbagai umur beton.

Mixing Water
1. Tidak ada ketentuan khusus dari mixing water untuk HSC. Semua ketentuan sama seperti untuk pembuatan beton biasa, yaitu dimana air yang dipergunakan adalah potable quality. 2. Bila dipakai air dingin (cool mixing water) dengan temperature ~ 4C, slump beton akan meningkat sekitar 25 50 mm dan sangat menguntungkan workability dari beton. Dilihat dari pengaruh tersebut maka jika slump beton dipertahankan seperti semula maka penggunaan air dingin tadi dapat dikurangi dan akibatnya akan menaikkan compressive strength dari beton.

Chemical Admixtures
Dapat dinyatakan bahwa untuk pembuatan HSC penggunaan admixtures merupakan suatu keharusan. Admixture yang dipergunakan dapat berupa air-entraining agents, chemical admixtures atau mineral admixtures dan pemilihannya sangat tergantung dari kebutuhannya. Pada pertengahan tahun 1980, 80% beton yang diproduksi di Amerika menggunakan admixtures. Admixture yang berupa air-entraining agents biasanya dipakai untuk meningkatkan durability dan penggunaannya harus mengikuti persyaratan dari ASTM C 260. Untuk chemical admixtures harus mengikuti persyaratan dari ASTM C 494. C 494.

Chemical admixtures biasanya dibuat dari turunan :


Sulfonate melamine formaldehyde (SMF) condensate, Sulfonate naphthalene formaldehyde (SNF) condensate, Modified lignosulfonates dan lainnya termasuk sulfonic esters dan carbohydrate esters.

Admixtures ini dengan mixing water akan mengakibatkan terjadinya dispersi dari partikel semen sehingga pasta semen berperilaku seperti cairan. Dengan demikian penggunaan vibrator dalam pemadatan beton perlu diperhatikan karena over-vibrate dapat mengakibatkan segregasi pada beton.

Selanjutnya perlu diperhatikan bahwa penggunaan admixture pada suatu mix dapat berlainan bila dipakai jenis agregat yang berlainan walaupun kandungan semen yang dipergunakan sama.

Admixtures yang paling banyak dan umum dipakai adalah yang bersifat high-range water-reducing (HRWR) atau superplasticizer yang dikombinasikan dengan waterreducing retarder (WRR). Reduksi mixing water akan menurunkan porositas beton sehingga kekuatan beton meningkat. Penggunaan superplasticizer dapat mereduksi kebutuhan air antara 15% - 40%, tetapi slump loss , sehingga workability , + WRR setting time agak . Penggunaan dosis dari admixture pada HSC biasanya melampaui dosis yang direkomendasikan pada beton biasa oleh manufacture yang bersangkutan.

Biasanya komponen utama dari WRR adalah berupa soluble organic compounds yang dapat dibagi dalam 4 kelompok, yaitu: Salts of lignosulfonic acid, Hydroxycarbolic acid, Carbohydrate Organic atau inorganic compound Yang sering dipergunakan biasanya dari bahan dasar lignosulfonate. Water-reducing admixtures yang berbasis bahan dasar dari lignosulfonate juga akan menghasilkan air-void didalam beton sekitar 1% ~ 3%. Untuk mengatasinya ditambah defoaming agent untuk mereduksi air entrainment tersebut. Compressive strength yang diperkirakan turun 5% untuk setiap 1% kandungan entrained air. Admixture yang bersifat accelarator hampir tidak dipakai pada HSC.

Mineral Admixtures
Mineral Admixtures karena kehalusannya disebut juga Finely Divided Mineral Admixtures yang berupa powder atau pulverized material. Admixtures ini dapat berupa bahan alami (natural material) atau bahan dari produk sampingan (byproduct material). Mineral admixtures yang banyak dipergunakan adalah dari jenis pozzolans, Bahan admixtures yang paling banyak dipergunakan pada HSC adalah fly ash (pfa) dan silica fume. Fly ash (abu terbang) merupakan byproduct dari power plant yang menggunakan batubara (combustion pulverized coal) Silica fume merupakan byproduct dari silicon dan ferrosilicon alloys. Penggunaan Fly Ash diatur dalam ASTM C 618 Penggunaan Silica Fume diatur dalam ASTM C 1240.

Di Amerika, penggunaan fly ash yang ditambahkan pada campuran beton dapat mencapai kekuatan beton antara 83 MPa ~ 100 MPa. Untuk kekuatan beton diatas itu biasanya dipakai silica fume karena silica fume jauh lebih halus dari fly ash. Silica fume berdiameter kurang dari 1m dengan luas permukaan sekitar 20,000 m2/kg. Sebagai perbandingan fly ash mempunyai luas permukaan sekitar 300-500 m2/kg, semen type-I sekitar 300-400 m2/kg dan asap rokok sekitar 10,000 m2/kg. Fly ash mempunyai specific gravity (SG) sekitar 1.9-2.4, silica fume sekitar 2.3 dan semen sekitar 3.15. Dalam pembuatan HSC, fly ash ataupun silica fume ditambahkan sebagai bahan tambahan pada concrete mix sebagai admixtures dan bukan sebagai partial replacements (pengganti sebagian) semen.

Mixing
Campuran yang memiliki slump rendah (low-slump), non-airentrained mixtures dengan agregat ukuran kecil (small-size aggregate) bersifat sangat lekat (very sticky) dan sulit diaduk sehingga dibutuhkan waktu pengadukan (mixing time) yang lebih lama. Keterlambatan transportasi yang kadangkala tidak terduga tidak boleh ditambah air karena akan merubah proporsi dari water-cementitious ratio, tetapi ditanggulangi dengan menambah HRWR. Kadangkala penambahan ini dapat dilakukan 2 sampai 3 kali, tetapi kurang dianjurkan walaupun relatif tidak mempengaruhi kekuatan beton. Perilaku slump dengan menggunakan HRWR beberapa kali dapat dilihat pada gambar berikut

Pengaruh pada slump dari pemakaian superplasticizer SMF berulang kali

Curing (Perawatan)
HSC pada umumnya mengandung w/c ratio yang sangat rendah. Pengembangan pencapaian kekuatannya dibandingkan dengan beton biasa. lebih lama

Perwatan (curing) menggunakan curing compound kurang dianjurkan karena HSC biasanya mempunyai water-cement ratio dibawah 0.40 (biasanya sekitar 0.20-0.30), dan sebaiknya pada 24 jam pertama (critical time) tetap menggunakan water-curing. Curing compound hanya mencegah penguapan air (mempertahankan original moisture) dari beton, tetapi tidak dapat memberikan additional moisture. Water-curing akan memberi tambahan moisture dan sangat membantu proses hidrasi yang membantu pencapaian kekuatan beton dengan baik serta dapat meningkatkan kualitas permukaan beton.

Testing (Pengujian)
Pengujian merupakan bagian kegiatan dari program quality assurance (QA). QA antara lain meliputi pengujian bahanbahan, peralatan , operation procedure, quality control procedures dan strength measurements. Pengujian bahan harus mengikuti ASTM C 917, dan quality control procedures mengikuti rekomendasi ACI 214, Recommended Practice for Evaluation of Strength Test Results of Concrete. Dalam pelaksanaan metoda sampling, molding, curing, dan testing cylinders untuk menentukan compressive strength harus mengikuti ketentuan dari ASTM.

Ukuran Benda Uji Silinder


Beberapa peneliti mengusulkan penggunaan silinder yang lebih kecil berukuran 100 x 200 mm, karena akan memberikan banyak keuntungan, antara lain: Pembuatannya lebih mudah, Mudah ditangani dan diangkut/ditranportasi, Membutuhkan tempat penyimpanan yang lebih kecil, Lebih ekonomis dan tidak memerlukan mesin berkapasitas besar. Sebagai perbandingan, untuk mutu beton yang sama beban uji pada silinder 150x300mm akan membutuhkan beban uji 2.25 kali lebih besar dibandingkan dengan beban uji pada silinder 100x200mm. Penelitian yang dilakukan oleh R.G. Burg dan B.W. Ost, 1992 menunjukkan perbedaan dari kedua silinder tersebut hanya sebesar 1%, seperti ditunjukkan dalam gambar berikut.

Modulus of Elasticity
Untuk beton biasa, ACI-318 memberikan modulus elastisitas Ec sebagai berikut: Ec = w1.5 x 0.043 x fc MPa. dimana: 1500 w 2500 kg/m3 fc < 41 MPa. Untuk HSC sampai batas 83 MPa sebagai alternatif dapat dipakai formula empiris yang tercantum pada ACI-363. Sedangkan untuk mutu beton diatas 83 MPa harus didasarkan pada penelitian yang ekstensif. Ec = 3320 x fc + 6900 MPa. dimana: 21 MPa fc< 83 MPa. formulasi

Modulus of Rupture ( Modulus Runtuh )


Modulus of rupture ini dipakai dalam menentukan momen retak (cracking moment) dan deflection dari balok. Untuk HSC sampai batas 83 MPa sebagai alternatif dapat dipakai formula empiris yang tercantum pada ACI-363. Sedangkan untuk mutu beton diatas 83 MPa harus didasarkan pada penelitian yang ekstensif.

fr = 0.94 fc MPa.
dimana: 21 MPa fc< 83 MPa.

Tensile Splitting Test


Tensile splitting strength untuk HSC sampai batas 83 MPa sebagai alternatif dapat dipakai formula empiris yang tercantum pada ACI-363. Sedangkan untuk mutu beton diatas 83 MPa harus didasarkan pada penelitian yang ekstensif. Beberapa hasil penelitian dapat dilihat pada gambar berikut. fsp = 0.59 fc MPa
dimana:

Drying Shrinkage dan Creep


Drying shrinkage adalah susut pada beton yang terutama disebabkan oleh evaporasi dari air (chemically uncombined water), dan creep adalah deformasi yang diakibatkan oleh meningkatnya regangan (strain) terhadap waktu akibat tegangan yang bekerja terus menerus (sustained stress). Parameter yang mempengaruhi drying shrinkage dan creep meliputi: Total kandungan air (water content) menentukan drying shrinkage, Kandungan pasta semen, Sifat fisik agregat, Umur beton saat proses drying, Umur beton saat dibebani beban luar (external load), Ukuran dan bentuk elemen beton, Kandunagn tulangan, Kondisi lingkungan seperti : relative humidity, temperature dan kandungan carbon dioxide.