Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Namun menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya polapola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan

bermasyarakat. Budaya adalah salah satu media bagi seluruh generasi baik tua maupun muda untuk mengimprovisasi dirinya dan menuangkan kreativitas yang dimilikinya. Seperti yang kita ketahui Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kita tercinta sangat kaya akan berbagai kebudayaan. Banyak kebudayaan yang bisa kita banggakan dan kita kembangkan dengan menambahkan unsure kreatifitas di dalamnya namun tidak mengurangi unsure asli dari kebudayaan itu sendiri. Dengan adanya keragaman kebudayaan yang kita miliki, sudah tentu kita akan lebih unggul dalam bidang pariwisata. Budaya adalah salah satu kreativitas yang dapat menimbulkan daya tarik, daya tarik yang ditimbulkan ini dapat menguntungkan kita pada aspek pariwisata. Aspek pariwisata sangat menjanjikan jika kita bisa mengolahnya secara cermat, teliti

dan kreatif. Cermat dalam hal ini yaitu cermat melihat peluang pasar untuk memilah kebudayaan apa yang akan dipublikasikan , teliti dalam memilah kebudayaan yang akan dipublikasikan yang serta merta akan membuat para wisatawan tertarik dan mengagumi kebudayaan kita, sedangkan kreatif yaitu kreatif dalam mengolah kebudayaan agar dikemas secara indah,sederhana dan mudah dimengerti oleh wisatawan tanpa mengubah makna sebenarnya, kreatif pada segi ekonomi seperti memberi lahan pekerjaan pada penduduk local sehingga bisa berkarya dan menunjukkan apresiasinya pada kebudayaan tersebut dan hasil yang didapat akan kembali ke daerah dan penduduk local dimana terdapat kebudayaan tersebut. Desa wisata adalah salah satu contoh kreatifitas para budayawan untuk melestarikan budaya pada daerahnya. Desa wisata ini adalah gagasan yang cemerlang untuk menarik para wisatawan dan memperkenalkan kebudayaan daerah ke kancah nasional maupun internasional serta member lahan pekerjaan bagi para penduduk local dan mengembangkan kreatifitas mereka. Contoh desa wisata yang ada di bali yaitu Desa wisata Penglipuran Bangli dan desa Kertalangu di Sanur Bali. Kelemahan pada desa wisata ini adalah kurangnya kreatifitas penduduk lokal dalam mngembangkan dan mengemas kebudayaan local sebagai hal yang menarik sehingga para wisatawan tertarik sehingga dapat meningkatkan perekonomian pada daerah desa wisata tersebut. Yang terlihat selama ini desa wisata yaitu tempat yang mengandung unsure kebudayaan unik namun kebudayaan tersebut tidak terdapat hal menarik yang bisa ditonjolkan karena kurangnya partisipasi masyarakat dan kreatifitas masyarakat dalam mengembangkan potensi kebudayaan yang ada yang seharusnya bisa memberikan kontribusi besar dalam memajukan perekonomian daerah setempat. Berdasarkan analisis masalah tersebut maka karya tulis ini dibuat untuk membahas bagaimana peran penting kreatifitas masyarakat dalam mengembangkan kebudayaan lokal pada desa wisata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan di Indonesia.?

B. RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimana peran penting kreatifitas masyarakat dalam mengembangkan kebudayaan local pada desa wisata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan?

C. TUJUAN 1. Untuk mngetahui pentingnya peran serta kreatifitas masyarakat dalam

mengembangkan kebudayaan loka sehingga menjadi lebih menarik pada desa wisata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan setempat.

D. RUANG LINGKUP Penulisan ini

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Budaya Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Namun menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya polapola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan

bermasyarakat.

B. Kebudayaan Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya polapola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. [sunting]Unsur-Unsur Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut: 1. Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:

alat-alat teknologi sistem ekonomi keluarga kekuasaan politik

2. Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:

sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya

organisasi ekonomi alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)

organisasi kekuatan (politik)

C. Pariwisata Pariwisata atau turisme adalah untuk rekreasi atauliburan, dan juga suatu perjalanan yang persiapan yang dilakukan untuk dilakukan aktivitas ini.

Seorang wisatawan atau turisadalah seseorang yang melakukan perjalanan paling tidak sejauh 80 km (50 mil) dari rumahnya dengan tujuan rekreasi, merupakan definisi oleh Organisasi Pariwisata Dunia.Definisi yang lebih lengkap, turisme adalah industri jasa. Mereka menangani jasa mulai daritransportasi, jasa keramahan, tempat tinggal, makanan, minuman, dan jasa bersangkutan lainnya seperti bank, asuransi, keamanan, dll. Dan juga menawarkan tempat istrihat, budaya, pelarian, petualangan, dan pengalaman baru dan berbeda lainnya. Banyak negara, bergantung banyak dari industri pariwisata ini sebagai sumber pajak dan pendapatan untuk perusahaan yang menjual jasa kepada wisatawan. Oleh karena itu pengembangan industri pariwisata ini adalah salah satu strategi yang dipakai oleh Organisasi Non-Pemerintah untuk mempromosikan wilayah tertentu sebagai daerah wisata untuk meningkatkan perdagangan melalui penjualan barang dan jasa kepada orang non-lokal. Menurut Undang Undang No. 10/2009 tentang Kepariwisataan, yang dimaksud dengan pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, Pemerintah dan Pemerintah Daerah.

D. Desa wisata Desa wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku. ( Nuryanti, Wiendu. 1993. Concept, Perspective and Challenges, makalah bagian dari Laporan Konferensi Internasional mengenai Pariwisata Budaya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal. 2-3) terdapat dua konsep yang utama dalam komponen desa wisata : 1. Akomodasi : sebagian dari tempat tinggal para penduduk setempat dan atau unit-unit yang berkembang atas konsep tempat tinggal penduduk. 2. Atraksi : seluruh kehidupan keseharian penduduk setempat beserta setting fisik lokasi desa

yang memungkinkan berintegrasinya wisatawan sebagai partisipasi aktif seperti : kursus tari, bahasa dan lain-lain yang spesifik.

E. Pengembangan desa wisata Pengembangan dari desa wisata harus direncanakan secara hati-hati agar dampak yang timbul dapat dikontrol. Berdasar dari penelitian dan studi-studi dari UNDP/WTO dan beberapa konsultan Indonesia, dicapai dua pendekatan dalam menyusun rangka kerja/konsep kerja dari pengembangan sebuah desa menjadi desa wisata.

Pendekatan Pasar untuk Pengembangan Desa Wisata Interaksi tidak langsung Model pengembangan didekati dengan cara bahwa desa mendapat manfaat tanpa interaksi langsung dengan wisatawan. Bentuk kegiatan yang terjadi semisal : penulisan buku-buku tentang desa yang berkembang, kehidupan desa, arsitektur tradisional, latar belakang sejarah, pembuatan kartu pos dan sebagainya. Interaksi setengah langsung Bentuk-bentuk one day trip yang dilakukan oleh wisatawan, kegiatan-kegiatan meliputi makan dan berkegiatan bersama penduduk dan kemudian wisatawan dapat kembali ke tempat akomodasinya. Prinsip model tipe ini adalah bahwa wisatawan hanya singgah dan tidak tinggal bersama dengan penduduk. Interaksi Langsung Wisatawan dimungkinkan untuk tinggal/bermalam dalam akomodasi yang dimiliki oleh desa tersebut. Dampak yang terjadi dapat dikontrol dengan berbagai pertimbangan yaitu daya dukung dan potensi masyarakat setempat. Alternatif lain dari model ini adalah penggabungan dari model pertama dan kedua. (UNDP and WTO. 1981. Tourism Development Plan for Nusa Tenggara, Indonesia. Madrid: World Tourism Organization. Hal. 69)

F. Kriteria Desa Wisata Pada pendekatan ini diperlukan beberapa kriteria yaitu : 1. Atraksi wisata; yaitu semua yang mencakup alam, budaya dan hasil ciptaan manusia. Atraksi yang dipilih adalah yang paling menarik dan atraktif di desa. 2. Jarak Tempuh; adalah jarak tempuh dari kawasan wisata terutama tempat tinggal wisatawan dan juga jarak tempuh dari ibukotaprovinsi dan jarak dari ibukota kabupaten. 3. Besaran Desa; menyangkut masalah-masalah jumlah rumah, jumlah penduduk, karakteristik dan luas wilayah desa. Kriteria ini berkaitan dengan daya dukung kepariwisataan pada suatu desa. 4. Sistem Kepercayaan dan kemasyarakatan; merupakan aspek penting mengingat adanya aturan-aturan yang khusus pada komunitas sebuah desa. Perlu dipertimbangkan adalah agama yang menjadi mayoritas dan sistem kemasyarakatan yang ada. 5. Ketersediaan infrastruktur; meliputi fasilitas dan pelayanan transportasi, fasilitas listrik, air bersih, drainase, telepon dan sebagainya. Masing-masing kriteria digunakan untuk melihat karakteristik utama suatu desa untuk kemudian menetukan apakah suatu desa akan menjadi desa dengan tipe berhenti sejenak, tipe one day trip atau tipe tinggal inap. G. Prinsip dasar dari pengembangan desa wisata 1. Pengembangan fasilitas-fasilitas wisata dalam skala kecil beserta pelayanan di dalam atau dekat dengan desa. 2. Fasilitas-fasilitas dan pelayanan tersebut dimiliki dan dikerjakan oleh penduduk desa, salah satu bisa bekerja sama atau individu yang memiliki. Pengembangan desa wisata didasarkan pada salah satu sifat budaya tradisional yang lekat pada suatu desa atau sifat atraksi yang dekat dengan alam dengan pengembangan desa sebagai pusat pelayanan bagi wisatawan yang mengunjungi kedua atraksi tersebut

H. Tipe Desa Wisata Menurut pola, proses dan tipe pengelolanya desa atau kampung wisata di Indonesia sendiri, terbagi dalam dua bentuk yaitu tipe terstruktur dan tipe terbuka. [sunting]Tipe terstruktur (enclave) Tipe terstruktur ditandai dengan karakter-karakter sebagai berikut : 1. Lahan terbatas yang dilengkapi dengan infrastruktur yang spesifik untuk kawasan tersebut. Tipe ini mempunyai kelebihan dalam citra yang ditumbuhkannya sehingga mampu menembus pasar internasional. 2. Lokasi pada umumnya terpisah dari masyarakat atau penduduk lokal, sehingga dampak negatif yang ditimbulkannya diharapkan terkontrol. Selain itu pencemaran sosial budaya yang ditimbulkan akan terdeteksi sejak dini. 3. Lahan tidak terlalu besar dan masih dalam tingkat kemampuan perencanaan yang integratif dan terkoordinasi, sehingga diharapkan akan tampil menjadi semacam agen untuk mendapatkan dana-dana internasional sebagai unsur utama untuk menangkap servis-servis dari hotel-hotel berbintang lima. Contoh dari kawasan atau perkampungan wisata jenis ini adalah kawasan Nusa Dua, Bali dan beberapa kawasan wisata di Lombok. Pedesaan tersebut diakui sebagai suatu pendekatan yang tidak saja berhasil secara nasional, melainkan juga pada tingkat internasional.Pemerintah Indonesia mengharapkan beberapa tempat di Indonesia yang tepat dapat dirancang dengan konsep yang serupa. [sunting]Tipe Terbuka (spontaneus) Tipe ini ditandai dengan karakter-karakter yaitu tumbuh menyatunya kawasan dengan struktur kehidupan, baik ruang maupun pola dengan masyarakat lokal. Distribusi pendapatan yang didapat dari wisatawan dapat langsung dinikmati oleh penduduk lokal, akan tetapi dampak negatifnya cepat menjalar menjadi satu ke dalam penduduk lokal, sehingga sulit dikendalikan. Contoh dari tipe perkampungan wisata jenis ini adalah kawasan Prawirotaman, Yogyakarta.

BAB III METODE PENULISAN

A. Desain Penulisan Desain penulisan yang digunakan pada karya tulis ini ini adalah deskriptif yang menggambarkan tentang peran penting kreatifitas seluruh masyarakat untuk mendukung terciptanya desa wisata indah, inovatif dan mensejahterakan masyarakat khususnya masyarakat pedesaan.

B. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis data Jenis data yang digunakan dalam karya tulis ini yaitu jenis data sekunder dimana data yang didapatkan dari buku-buku yang menjelaskan tentang

kebudayaan,pariwisata, ekonomi,serta kaitan antara ketiganya. 2. Sumber Data Sumber data pada karya tulis ini yaitu dari kajian pustaka pada buku-buku ,internet, dah hasil penelitian yang berkaitan dengan karya tulis ini.

BAB IV PEMBAHASAN

A. Wisata Alam Versus Wisata Budaya Pengertian wisata alam meliputi obek dan kegiatan yang berkaitan dengan rekreasi dan pariwisata yang memanfaatkan potensi sumber daya alam dan

ekosistemnya, baik dalam bentuk asli (alami) maupun perpaduan dengan buatan manusia. ( Anonim,1987). Sedangkanwisata budaya adalah obyek dan kegiatan yang berbasis pada kebudayaan pada masing-masing daerah. Jika dilihat dari pengertiannya wisata alam dan wisata budaya dari mempunyai pengertian yang berbeda namun mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk melestarikan warisan leluhur dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal dari sektor pariwisata. Wisata alam dan wisata budaya hendaknya bisa dilaksanakan bersamaan, karena keduanya saling berhubungan. Di Indonesia kita mempunyai banyak wisata alam yang menakjubkan. Wisata alam di Indonesia sangat berpotensi untuk merebut perhatian dari wisatawan. Berkunjung ke wisata alam yang berada di Indonesia sangatlah nyaman dan sangat pantas untuk menghilangkan penat kita selama berkutat dengan rutinitas. Contoh dari wisata alam ini desa batur kecamatan yang terletak di kabupaten Buleleng. Di desa tersebut terdapat air terjun yanng memiliki tidak dibarengi dengan penyajian wisata budaya yang menarik para wisatawan, wisata alam di Indonesia tidak akan terasa lengkap. Disamping mempunyai banyak wisata alam yang menakjubkan , Indonesia juga memiliki beragam budaya yang bisa menjadi daya tarik para wisatawan