Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN HASIL PRAKTIKUM FARMAKOLOGI I LD50 (Lethal Dose) Supermetrin

OLEH: KELOMPOK 3
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

ADDINA ZULFAH SANNIA RESTIA SARI MUHAMAD ISKANDAR RIRIN PUSPITA MUSTIKA SRI .H RANI EMILIA FIFI SOFIA L DESY NORWAHYU S EVY FEBRY F

(170) (172) (174) (175) (176) (177) (181) (182) (183)

PROGRAM PENDIDIKAN FARMASI FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2013/2014

I.

TUJUAN 1. Mengamati perubahan aktivitas perilaku setelah pemberian Supermetrin secara personde. 2. Menentukan LD50 Supermetrin pada tikus.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Pestisida merupakan suatu zat atau campuran zat yang khusus digunakan untuknmengendalikan, mencegah dan menangkas gangguan serangga. Binatang pengerat, jasad renik yang dianggap nama serta semua zat atau campuran zat yang bersifat parasit. Pestisida bersifat toksik. Pada mamalia efek utama yang ditimbuklkan adalah menghambat asetil kolin esterase yang menyebabkan aktivitas kolinergik yang berlebihan perangsanagan reseptor kolinergik secara terus-menerus akibat penumpukan asetilkolinesterase juga menimbulkan polineuropati (neurotoksik) mulai terbakar sampai kesemutan terutama di kaki akibat kerusakan sensorik dan motorik dapat meluas ke tungkai dan kaki (terjadai ataksia). Setiap zat kimia, bila diberikan dengan dosis yang cukup besar akan menimbulkan gejala-gejala toksik. Gejala-gejala ini pertama-tama harus ditentukan pada hewan coba melalui penelitian toksisitas akut dan subkronik guna memperoleh kesan pertama tentang kelainan yang dapat ditimbulkan. Hal ini diperlukan untuk meramalkan kemungkinan yang dapat terjadi pada manusia dengan dosis yang lebih kecil. Selanjutnya, perlu ditentukan suatu dosis yang terbesar, dinyatakan dalam mg/kgBB/hari, yang tidak menimbulkan efek merugikan pada hewan coba ; yang disebut No Effect Level (NEL) atau No (observed) effect level (NOEL). Hal ini dilakukan dengan mencobakan berbagai tingkat dosis sampai ditemukan dosis yang tidak menimbulkan efek buruk pada hewan coba. NEL didefinisikan sebagai : jumlah atau konsentrasi suatu zat kimia yang ditemukan melalui penelitian atau observasi, yang tidak menimbulkan kelinan buruk, perubahan morfologi atau fungsi organ, pertumbuhan, perkembangan, maupun mengurangi lama hidup hewan coba. Sipermetrin merupakan jenis bahan aktif pada kelompok pyrethoid, disentesiskan pertama kali pada tahun 1974, sipermetrin suatu bahan kimia sentetis menyerupai pyerhrin pada ekstrak pyretrum yang berasal dari tanaman chrysanthemum. Struktur kimia sipermetrin mengandung -siano-3-fenoksibensil termasuk golongan piretroid. Piredtroid adalah racun axonix, yaitu beracun terhadapa serabut syaraf. Piretroid terikat pada protein pada syaraf yang dikenal sebagai voltage-gate sodiun chanel. Pada keadaan normal, protein membuka untuk memberikan rangsangan pada syaraf dan menghentikan sinyal syaraf. Piretroid terikat pada gerbang ini, dan mencegah menutup secara normal yang menghasilkan rangsangan syaraf secara berkelanjutan. Hal tersebut menyebabkan tremor dan gerakan in-koordinasi pada serangga keracun.

Penilaian keamanan obat/zat kimia perlu dilakukan untuk menentukan seberapa toksik zat tersebut ke manusia. Hal tersebut dapat dilakukan dengan tahap berikut : 1. Menentukan LD50 2. Melakukan percobaan toksisitas sub akut dan kronis untuk menentukan no effect level 3. Melakukan percobaan karsinogenitas, teratogenitas, dan mutagenitas yang merupakan bagian dari penyaringan rutin keamanan. Uji toksisitas akut tidak hanya bertujuan untuk menentukan LD50, tetapi juga untuk melihat berbagai perubahan tingkah laku, adakah stimulasi atau depresi SSP, perubahan aktivitas motorik dan pernafasan tikus, serta untuk mendapat gambaran tentang sebab kematian. Oleh sebab itu uji toksisitas ini harus dilengkapi dengan pemeriksaan laboratorium klinik dan pembuatan sediaan histologik dari organ yang dianggap dapat memperlihatkan kelainan. Kematian yang timbul oleh kerusakan pada hati, ginjal, atau system hematopoisis tidak akan terjadi pada hari pertama tapi timbul paling cepat hari ketiga. Tikus putih yang digunakan biasanya yang berumur 2-3 bulan dengan berat badan 180-200 gram. Tikus ini harus diaklimatisasi dalam laboratorium dan harus semuanya sehat. Untuk ini ada yang menggunakan Specific Pathogen Free (SPF) atau Caesarean Orginated Barrier Sustained Animals (CONS) sehingga terjamin kesehatannya.

Teratogenesis Teratogenesis adalah terjadinya kelainan perkembangan fetus yang disebabkan oleh obat yang dikonsusmsi selama trimester pertama kehamilan,. Sebagian besar obat menembus sawar plasenta sampai kedalaman tertentu, dan jika mungkin, obat-obatan sebaiknya dihindari selama kehamilan. Teratogen yang dikenal termasuk alcohol (sindrom alcohol fetus), obat-obat antikanker, warfarin (defek congenital multipel), valporat, karbamazepin (neural tube defect) dan antikonvulsan lainnya, serta tetrasiklin (hambatan pertumbuhan tulang).

Karsinogenesis Tumor yang diingkusi oleh obat kemungkinan sangat jarang terjadi karena industry farmasi melakukan banyak usaha untuk mencegah pemasaran obat-obat karsinogenik. Mekanisme yang terlibat pada karsinogenesis kimiawi biasanya tidak diketahui, tetapi imunosupresi (misalnya azatioprin dengan prednisolon) berkaitan dengan resiko limfoma

yang

meningkat.

Obat-obat

pengalkil

(misalnya

siklofosfamid)

dipikirkan

dapat

menyebabkan toksisitas gen dengan basa menyebabkan leukemia nonlimfositik.

III.

PROSEDUR PELAKSANAAN PRAKTIKUM

ALAT DAN BAHAN Kapas, kain, spuit, kasa, klem Kandang, tikus 3 ekor Alcohol Sutrin 100 ec (dosis 25 mg/kgBB, 100 mg/kgBB, 400 mg/kgBB) PROSEDUR KERJA 1. Siapkan sonde yang berisi sutrin 100 ec untuk masing-masing tikus dengan dosis 25 mg/kgBB, 100 mg/kgBB, 400 mg/kgBB 2. Pegang tikus dengan posisi terlentang secara gentle 3. Berikan sutrin 100 ec per sonde pada masing-masing tikus 4. Amati perubahan prilaku masing-masing tikus (seperti yang tertera pada lembar pengamatan ) dengan seksama. HASIL PENGAMATAN Nomor Eksperimen 5 1 2 3 10 1 2 3 15 1 2 3 30 1 2 3 60 1 2 3 Keterangan : 1. Postur Tubuh + ++ +++ = jaga = ngantuk = tidur = kepala dan punggung tegak = kepala tegak, punggung mulai datar = kepala dn punggung datar Menit Postur Tubuh + + + + + + + + + ++ + + +++ ++ + Tabel Pengamatan Aktivitas Ataxia Righting Motor Reflex + + + + + + + + ++ + + + + ++ + ++ + + ++ + + ++ + +++ +++ + + + Test Kasa + + + + + + + + + + + +++ + + Analgesia + + Ptosis + ++ Mati

2. Aktivitas motor + ++ +++ = gerak spontan = gerak spontan saat dipegang = gerak menurun saat dipegang

++++ = tidak ada gerak spontan pada saat dipegang 3. Ataksia (gerakan berjalan inkoordinasi) + ++ +++ = inkoordinasi terlihat kadang-kadang = inkoordinasi jelas terlihat = tidak dapat berjalan lurus

4. Righting Reflex + ++ +++ = diam pada satu posisi = diam pada dua posisi = diam pada waktu terlentang

5. Test Kasa + ++ +++ = tidak jatuh apabila kasa dibalik dan digoyang = jatuh apabila kasa dibalik = jatuh apabila posisi kasa 900

++++ = jatuh apabila posisi kasa 450 6. Analgesia + ++ 7. Ptosis + +++ +++ = ptosis kurang dari = = seluruh palpebra tertutup = respon berkurang pada saat telapak kaki dijepit = tidak ada respon pada saat telapak kaki dijepit

Hasil Pengamatan
Dosis 1 25 mg 100 mg 400 mg + Respon Mati (+/-) pada tikus nomer 2 + 3 + 4 + + 5 + 6 + + % indikasi yang

berespon
0% 33,3% 100%

% Indikasi Berespon
120% % Indikasi Berespon 100% 80% 60% 40% 20% 0% 25 mg/kg BB 100 mg/kg BB 400 mg/kg BB Kadar obat

LD50

% Indikasi Berespon

Perhitungan : y = bx + a dari data tabel, didapat A= 0,0167 B =0,254 R =0,9898 Maka ; y = 10,7161+11,9040x Jika diminta y = 50, maka 50 =0,0167+0,254x X = 196,78 mg/kgBB Jadi , LD50 sebesar 196,78 mg/kgBB IV. PEMBAHASAN

Dari hasil pengamatan kali ini didapatkan hasil pada pemberian dosis 25 mg/kgBB,100mg/kgBB, 400mg/kgBB dapat memberikan efek mulai dari menit ke-5 hingga menit ke60. Berikut adalah perubahan perilaku hewan coba yang telah diberi supermetrinsecara oral (di sonde) :

1. Postur tubuh
Dari hasil pengamtan diatas pada pemberian dosis 25mg/kgBB postur tubuh pada posisi jaga, sedangkan pada pemberian dosis 100mg/kgBB dapat memberikan efek pada menit ke 60 postur tubuh posisi ngantuk dan pemberian dosis 400mg/kg BB pada menit ke 60 posisi postur tubuh tidur. 1. Aktivitas motorik Dari hasil pengamatan di dapatkan hasil pada dosis 25 mg/kg BB aktifitas motorik mengalami gerak spontan, sedangkan 100mg /kgBB mulai memberikan efek pada menit ke-10 mengalami gerak spontan bila dipegang, sedangkan pada dosis 400mg / kg BB pada menit ke60 didapatkan hasil tidak ada gerakan ketika di pegang. 2. Ataksia Dari hasil pengamatan didapatkan hasil pada dosis 25 mg/ kg BB efek muncul pada menit ke 15, yaitu mulai mengalami inkoordinasi terlihat jelas dan pada dosis 100 mg/kgBB

inkoordinasi terlihat kadang-kadang , 400mg / kg BB inkoordinasi terlihat kadang-kadang 3. Righting refleks Dari hasil pengamatan di dapatkan hasil pada dosis 25mg memberikan efek diam pada satu posisi miring dan 100mg / kg BB belum berefek bahkan hingga menit ke -60. Sedangkan pada dosis 400mg / kg BB juga tidak di dapatkan hasil positif. 4. Test kasa Dari hasil pengamatan di dapatkan hasil pada dosis 25mg / kg BB dan dosis 100mg/kg BB tidak memberikan efek hingga menit ke-60 / sedangkan pada dosis 400mg / kg BB jatuh pada tes kasa 90. 5. Analgesia Dari hasil pengamatan perubahan perilaku di dapatkan hasil pada dosis 25 mg/kg BB tidak menimbulkan efek analgesik, sedangkandosis 100mg/kg BB dan 400 mg/kg BB sudah mulai berefek pada menit ke-60 yaitu, respon berkurang pada saat telapak kaki dijepit. 6. Ptosis Pada hasil pengamatan dapat dilihat bahwa dosis 25 mg/kg BB, belum memberikan efek bahkan setelah menit ke 60 . Sedangkan dosis 100 mg/kgBB mulai memberikan efek ptosis kurang dari pada menit ke-30 dan 400mg/kg BB mulai memberikan efek pada menit ke 60, yaitu ptosis 1/2.

7. Kematian Pada hasil pengamatan hewan coba kelompok kami mengalami kematian pada pemberian dosis 400mg/kgBB, yaitu setelah pengamatan 24 jam.

Pengamatan 1-6 diatas dilakukan pada rentang waktu 60 menit, seharusnya untuk pengamatan pada pemberian pestisida dalam kurun waktu 24 jam. Setelah di amati selama 24 jam di dapatkan hasil bahwa tikus dengan dosis 400mg/kgBB mengalami kematian, dosis 100 mg/kgBB terlihat lemas dan dosis 25 mg/kg BB masih terlihat gerak spontan. Efek toksik dari pestisida tersebut terlihat dari perubahan tingkah laku berupa penurunan kesadaran yaitu postur tubuh (mengantuk),penurunan aktifitas motor, ataksia, test kasa, dan kematian. Efek toksik pestisida yang lain adalah hipersalivasi ,kontraksi ginjal,miosis, depresi pernafasan. Hal ini disebabkan oleh mekanisme kerja pestisida yang menghambat pengerluaran asetilkolin esterase pada aktifitas kolinergik sehingga reseptor kolinergik merangsang pengeluaran etilkolin terus menerus tanpa dihidrolisi yang menyebabkan terjadinya akumulasi asetilkolin. Toksisitas pestisida sangat tergantung pada cara masuknya pestisida ke dalam tubuh. Pada pemberian pestisida secara peroral pada tikus ditemukan LD50 terletak pada dosis 400 mg/kgBB. Semakin tinggi LD50 maka pestisida tersebut berbahaya bagi manusia.

V.

KESIMPULAN 1. Tikus 1 dengan dosis 400 mg/kg BB di dapatkan hasil bahwa tikus mengalami kematian setelah pengamatan 24 jam. Tikus 2 dengan dosis 100 mg/kg BB terlihat lemas setelah 24 jam, sedangkan tikus 3 masih terlihat gerak spontan. 2. Disimpulkan bahwa LD50 dari supermetrin (100 cc) yaitu sebesar 196,78

mg/kgBB.
VI. SARAN

1) Pada praktikum selanjutnya hendaknya praktikan lebih teliti dalam mengamati perubahan yang terjadi pada hewan coba. 2) Praktikan hendaknya telah memiliki bekal pengetahuan tentang obat yang akan digunakan sehingga praktikan akan lebih memahami efek seharusnya obat pada hewan.

DAFTAR PUSTAKA 1. Goodman & Gilman.2011. Manual farmakologi dan Terapi. Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC 2. Katzung, Bertram.G .2007.Farmakologi dasar Klinik.Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. 3. http://id.shvoong.com/exact-sciences/bioengineering-and-biotechnology/2066461sipermetrin-senyawa-yang-digunakan-untuk/#ixzz2jBq8l8uR ( di unduh : 30 Oktober 2013 pkl. 14.30)