Anda di halaman 1dari 52

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Sistem stomatognatik terdiri dari beberapa komponen, antara lain gigi dan jaringan pendukungnya (jaringan periodontal), mukosa mulut, otot-otot, sendi temporomandibular, tulang rahang, pembuluh darah, serta saraf. Sistem stomatognatik merupakan suatu unit fungsional dimana setiap bagian dari sistem ini saling mempengaruhi. Jika terjadi kelainan pada salah satu komponen, komponen lainnya akan menghasilkan sebuah respon negatif. Salah satu penyebab timbulnya kelainan adalah oral habit yang kurang baik. Dalam kasus ini, kebiasaan menggeretakkan gigi (bruxism) menyebabkan terjadinya trauma oklusi, akibatnya jaringan periodontal mengalami parafungsi. Kasusnya adalah sebagai berikut: Identitas pasien Keluhan utama : Pria, 22 tahun, mahasiswa : TMJ terasa kaku terutama (pagi hari), gigi gemertak (malam hari)dan saat sedang mengerjakan ujian Status umum Pemeriksaan klinis : Baik : Tanda-tanda vital dalam batas normal

Pemeriksaan ekstraoral : Clicking pada sisi kanan Pemeriksaan intraoral : Atrisi pada gigi 16, 13, 23, 33, 43. Tidak ada inflamasi gusi, kedalaman probing pocket bervariasi antara 1-3 mm Data radiografis : Foto panoramic menunjukkan laminadura yang discontinued pada gigi 33 dan 43, resorpsi tulang alveolar pada gigi 43

1.2 Rumusan masalah Makalah ini hanya membahas mengenai parafungsi jaringan periodontal, trauma oklusi, gambaran radiografis, dan treatmentnya.

1.3 Tujuan Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas tutorial blok DSP 3.

BAB II PARAFUNGSI DAN KELAINAN JARINGAN PERIODONTAL, SERTA TRAUMA OKLUSI

2.1 Jaringan Periodontal Jaringan periodontal adalah jaringan yang terdapat disekitar gigi tempat gigi tertanam dan membentuk lengkungan rahang yang baik. Jaringan periodontal terdiri dari: 2.1.1 Gingiva Merupakan bagian mukosa rongga mulut yang menutupi prosessus alveolar dan mengelilingi leher gigi.

a. Free Gingiva: Daerah pinggir gusi yang mengelilingi gigi seperti kerah baju. Dipisahkan dengan Attached Gingivaoleh free gingival groove. Memiliki lebar 1mm. Merupakan dinding jaringan lunak gingival sulcus. b. Gingival Sulcus: Celah dangkal atau ruang sekeliling gigi yang dibatasi oleh permukaan gigi dan epitel margin gusi. Berbentuk V dengan kedalaman bervariasi antara 2 3 mm (secara klinis).

c. Attached Gingiva: Perluasan Margin Gusi, bersifat tegas, kenyal, dan melekat erat pada periosteum tulang alveolar. d. Interdental Gingiva: Mengisi embrasur gusi yaitu daerah interproximal di bawah kontak gigi.Memiliki bentuk pyramid atau col, tergantung titik kontak antara dua gigi yang berkontak dan ada tidaknya resesi.Bagian fasial dan lingual terdapat lekukan sesuai dengan kontak interproximal.

2.1.2

Sementum Merupakan suatu lapisan jaringan kalsifikasi yang tipis dan menutupi permukaan

akar gigi.

a. Sementum aseluler (primer): Mengandung matriks interfibril dan fibril kolagen terkalsifikasi, tidak teratur/paralel. Terbentuk pertama dan menutupi 2/3 servikal akar. Dibentuk sebelum gigi mencapai oklusal. Tebal 30 230 mikron. Serat Sharpheys membentuk hampir seluruh struktur sementum aselular, yang mempunyai peranan utama dalam jaringan penyangga gigi. b. Sementum seluler (sekunder): Dibentuk setelah gigi mencapai oklusal. Teratur dan terdiri dari sementosit pada lakuna berhubungan dengan daerah lain melalui sistem anastomosis kanalikuli. Sementum selular terkalsifikasi lebih sedikit daripada sementum aselular. Serat sharpeys lebih sedikit.

2.1.3

Ligamen periodontal

Merupakan struktur jaringan pengikat atau penyangga gigi yang mengelilingi akar gigi dan melekatnya ke tulang alveolar.

2.1.4

Serat Periodontal Serat utama pada ligamen periodontal yang penting, masuk ke dalam sementum

dan tulang (serat shaerpeys).Kolagen adalah protein (berupa asam amino glysin, prolin, hidroksilin, hidroksiprolin). Disintesis oleh fibroblast, kondroblas, osteoblas, dan odontoblas. Kolagen dapat memberikan fleksibilitas dan kekuatan pada jaringan yang didukungnya. Pembuluh darah, pembuluh limfe, dan nervus atau saraf juga terdapat dalam serat periodontal.

2.1.5

Elemen Seluler Terdapat 4 macam sel pada ligamen periodontal: Sel jaringan ikat: banyak mengandung fibroblast (mengatur pergantian kolagen), sementoblas (di daerah sementum), osteoblas (di permukaan tulang). Sementoblas dan osteoblas dikenal juga sebagai osteoklas dan odontoblas Sel epithelial rest malassez: berada dekat dengan sementum, berkurang sesuai dengan bertambahnya umur, dan mengalami kalsifikasi (sementikel). Sel pertahanan: terdiri dari makrofag, mast sel, dan eosinofil. Sel-sel yang bergabung dengan elemen neurovaskuler. Substansi dasar: berada antara serat dan sel. Substansi dasar ligamen periodontal mengandung dua komponen utama yaitu Glikosaminoglikan (asam hialuronik dan proteoglikan) dan Glikoprotein (fibronektin dan laminin).

2.1.6

Tulang alveolar Merupakan tulang yang membentuk dan menyokong soket gigi. Terdapat di

tulang maksilla dan mandibula. Tulang alveolar terbentuk saat gigi erupsi dan atrofi saat gigi hilang.

Dinding soket

: tulang kortikal dibentuk oleh tulang havers dan lamella tulang kompak.

Inner Socket

: bagian dalam dari soket disusun oleh tulang kompak.

Interdental Septum : trabekula conselouse atau interdental septum terdiri dari tulang

concelous.

2.1.7

Radiologi Jaringan Periodontal Laminadura merupakan pembatas pada lengkung gigi normal, gambarannya

berupa radiopak tipis pada lapisan tulang yang padat.

Alveolar crest merupakan serat berjalan miring dari sementum dibawah Dentino Enamel Junction ke arah puncak tulang alveolar, gambaran radiografinya berbentuk seperti garis radiopak pada prosessus alveolar dan meluas diantara gigi.

Ligamen periodontal space adalah gambaran radiografi berupa bagian radiolusent antara akar gigi dengan laminadura.

Cancellous bone adalah gambaran radiografi berupa bagian radiopak yang tipis dan dikelilingi oleh bagian radiolusent.

2.1.8 Fungsi Jaringan Periodontal Jaringan periodontal terdiri dari gingiva, cementum, alveolar bone, dan ligamen periodontal. a. Gingiva, berfungsi untuk: melindungi jaringan di bawah perlekatan gigi terhadap pengaruh lingkungan rongga mulut melindungi gigi dari infeksi mikroba merupakan bagian dari masticatory membran oral mukosa yang menutupi tulang alveolar pada rahang dan dikelilingi oleh gigi membantu menahan gesekan makanan Dapat beradaptasi dengan berbagai stimulus (temperatur, konsistensi makanan, asam dan basa) b. Sementum, berfungsi untuk : Menghubungkan gigi dengan tulang alveolar Memberikan nutrisi Pelindung gigi Mencengkram gigi ke dinding tulang pada soket di jaringan periodontum

c. Alveolar Bone, berfungsi untuk : Menghubungkan cementum dengan ligamen periodontal Mendukung soket gigi dan mengandung pembuluh darah, saraf dan pembuluh limphatic sebagai penyangga dan melekatnya gigi

d. Ligamen Periodontal, berfungsi untuk : Menghubungkan tulang alveolar dengan cementum Serat dalam ligamen fleksibel untuk bergerak ketika erupsi, atau direposisi ketika sedang menggunakan alat ortodontik. Mendukung akar gigi untuk melekatkan sementum ke tulang alveolar Ligamen Periodontal memiliki 4 fungsi yaitu fungsi fisik, fungsi formatif, fungsi nutrisi dan fungsi sensorik 1. Fungsi fisik Menyediakan jaringan lunak untuk melindungi pembuluh dan syaraf dari kerusakan akibat daya mekanik Menyalurkan daya oklusi ke tulang Menjaga hubungan gigi dan gusi Resistensi daya oklusal (shock absorption) Melekatkan gigi pada tulang

2. Fungsi formatif Berperan dalam pembentukan sel-sel. Karena tanpa adanya ligamen periodontal yang utuh tidak akan mungkin terjadi deposisi yang berkelanjutan dari sementum dan tulang 3. Fungsi nutrisi Membekalkan nutisi kepada sementum, tulang dan gingiva

4. Fungsi sensorik

10

Dipersarafi oleh serabut saraf sensori yang berfungsi untuk menghantarkan stimulus sentuhan, tekanan dan nyeri Diantaranya sebagai reseptor pain dan proprioreseptif yang berperan penting dalam mengontrol fungsi mandibula

2.2 Parafungsi Jaringan Periodontal Parafungsi jaringan periodontal adalah semua aktivitas diluar fungsi normal, seperti mengunyah, bicara, dan menelan. Dapat diartikan parafungsi ada;ah tidak mempunyai tujuan fungsional. Parafungsi ini diakibatkan dari bruxism dan oral habit. Oral Habit a. Mengunyah pada 1 sisi b. Bertupang dagu c. Menghisap jempol atau dot d. Menghisap dan menggigit bibir e. Menggigit kuku Bruxism Bruxism adalah mengerotkan gigi-gigi (grinding) atau mengatupkan dengan keras rahang atas dan bawah (clenching). Berdasarkan telaah literatur terdapat dua kelompok faktor penyebab bruxism yaitu periferal (morfologis) dan sentral (physiopatologis dan psikologis).

2.2.1 Peran faktor periferal (morfologis) Faktor periferal pada waktu lalu dipertimbangkan sebagai etiologi utama bruxism. Ramfjorf (1961) menyarankan bahwa bruxism dapat dihilangkan dengan penyesuaian oklusal. Tapi dari berbagai studi menunjukkan bahwa hubungan antara bruxism dan faktor oklusal adalah lemah atau tidak ada. Sementara itu, Michelotti dkk, 2005, dalam eksperimennya, bahwa suprakontak nyata berhubungan dengan pengurangan kegiatan elektomiografi (EMG) ketika bangun. Hasil double-blind randomized controlled studies

11

di Finland menunjukkan bahwa interferensi oklusal artifisial tampaknya mengganggu keseimbangan oromotor pada mereka dengan kelainan temporomandibular. Artikel tinjauan Luther, 2007 menyatakan tidak ada bukti bahwa interferens oklusal sebagai etiologi bruxism, atau penyesuaian oklusal dapat mencegahnya.

2.2.2 Peran faktor sentral (patofisiologis dan psikologis) Patofisiologi dari bruxism sewaktu tidur tampaknya belum dapat dijelaskan sepenuhnya, tetapi mungkin disebabkan mulai dari faktor psikososial seperti stres, kecemasan, respon yang eksesif sampai microarousals.Microarousals didefinisi sebagai periode singkat (3-15 detik) dari aktivitas cortikal sewaktu tidur, yang berhubungan peningkatan aktivitas sistem syaraf sympatetik. Hampir 80% episod bruxism terjadi dalam kelompok, sewaktu tidur dan berhubungan dengan microarousal. Mengerotkan gigi didahului urutan kejadian psikologis: peningkatan aktivitas sympatetik (pada 4 menit sebelum mengerot dimulai), diikuti aktivasi cortikal (1 menit sebelumnya) dan peningkatan ritme jantung dan tonus otot pembukaan mulut (1 detik sebelumnya). Bukti terbaru yang mendukung hipotesis bahwa bruxism dimediasi secara sentral dibawah rangsangan autonom dan otak. Bukti mendukung peran syaraf sentral dan sistem syaraf autonom pada awal aktivitas oromandibular bruxism selama tidur malam.

2.3 Kelainan-kelainan pada Jaringan Periodontal 2.3.1 Gingivitis Gingivitis adalah suatu inflamasi yang terjadi pada gingival dan menunjukkan adanya kelainan-kelainan pada gingival, seperti: gusi yang berwarna kemerahan dan mudah berdarah, pembengkakan, adanya eksudat, bau tidak sedap dari rongga mulut dan adanya pocket antara gusi dan gigi.

12

Penyakit ini terjadi pada periodontium tanpa adanya bagian yang hilang atau adanya bagian yang hilang tetapi dalam kondisi yang stabil dan tidak bersifat progresif. Penyakit ini diklasifikasikan menjadi: 1. Gingivitis yang hanya berhubungan dengan plak gigi a. Tanpa kontribusi faktor lokal b. Dengan adanya kontribusi faktor lokal 2. Penyakit gingival yang disebabkan faktor sistemik a. Berhubungan dengan sistem endokrin -gingivitis yang berhubungan dengan pubertas -gingivitis yang berhubungan dengan siklus menstruasi -masa kehamilan yang berhubungan dengan gingivitis maupun pyogenic granuloma b. Berhubungan dengan diskrasia darah -gingivitis yang berhubungan dengan leukemia 3. Penyakit gingival akibat obat-obatan a. pengaruh obat terhadap pembesaran gusi b. pengaruh obat terhadap gingivitisoral kontrasepsi 4. Penyakit gingival akibat malnutrisigingivitis akibat defisiensi asam askorbat.

13

Etiologi Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penyakit gingival akibat plak gigi, antara lain: Faktor lokal -mikroorganisme -kalkulus -impaksi makanan -iritasi akibat peralatan restorasi -pernafasan melalui mulut -malposisi gigi Faktor sistemik -defisiensi nutrisi -aksi obat-obatan -aktivitas endokrin yang berhubungan dengan pubertas, kehamilan, siklus menstruasi, dan diabetes mellitus. -alergi -hereditas

14

-kerusakan neutrofil -fenomena fisik -infeksi granulomatosa tertentu -reaksi imunitas

Patogenitas Gingivitis terjadi secara lokal maupun general. Gingivitis dapat melibatkan marginal gingival yang disebut marginal gingivitis atau interdental papilla yang disebut papilla gingivitis. Ketika terjadi pembengkakan dan hyperemia yang terbatas pada gingival marginal, pada daerah tersebut akan terlihat bentuk bulan sabit yang disebut traumatic crescent. Manifestasi awal dari gingivitis kronis yaitu adanya perubahan warna pada marginal ataupun gingival yang bebas dari warna yang cerah menjadi pink gelap, lalu berubah warna

menjadi merah atau merah kebiruan apabila infiltrasi dari sel inflamasi dan hyperemia semakin intens. Perdarahan dari sulcus ingiva diikuti terjadinya iritasi ringan seperti sikat gigi dan pemeriksaan merupakan tanda-tanda awal gingivitis. Adanya edema bersama respon inflamasi menyebabkan pembengkakan pada gingival dan kehilangan batas-batas gingival. Pembengkakan akibat inflamasi pada interdental papilla menghasilkan struktur seperti bulbus yang meningkatkan ukuran gingival akibat terdapatnya jumlah debris yang lebih banyak disertai penambahan akumulasi bakteri, kemudian akan mengakibatkan iritasi yang lebih banyak pada gingival dan memungkinkan terjadinya perkembangan untuk melanjutkan siklus berikutnya. Dimana akan ditemui pembesaran akibat edema dan fibrosis akibat inflamasi kronis, yang disebut gingivitis hiperplastik kronis. Supurasi pada gingival dimanifestasi dari kemampuan pus yang terbentuk pada sulcus gingival dengan penekanan, sehingga mengakibatkan terjadinya gingivitis kronis dalam keadaan lebih lanjut.

15

Perubahan struktur Gingivitis kronis, dengan inflamasi yang terbatas, tidak menunjukkan perubahan patologis pada jaringan tulang di atasnya. Ketika terjadi perubahan pada jaringan tulang, maka kondisi tersebut disebut periodontitis. Secara histologis, gingival pada keadaan gingivitis kronis mengalami infiltrasi dari berbagai limfosit, monosit, dan plasma sel. Leukosit

polimorfonuklear dapat ditemui terutama di bawah epitel crevicular. Biasanya epitel crevicular tidak berkeratin dan tidak teratur karena diinfiltrasi oleh sel yang mengalami inflamasi dan terjadi ulserasi. Kapiler-kapiler pada jaringan ikat biasanya tampak membesar dan berjumlah banyak. Hyperemia, perdarahan, dan edema dapat ditemui. Ligamen periodontal di atasnya tidak terlibat kecuali kemungkinan pada serat-serat suatu kelompok gingival tertentu yang bebas. Crest tulang alveolar terganggu. Penghubung antara ikatan antara epitel dengan gigi terlihat lemah dalam pembatas epitel di bagian luar, selain itu pada bagian ini selalu ditemukan limfosit dan polimorfonuklear leukosit.

2.3.2 Periodontitis Periodontitis adalah penyakit inflamasi pada jaringan penyokong gigiakibat mikroorganisme tertentu, menyebabkan kerusakan progresif pada ligamen periodontal dan tulang alveolar dengan pocket formation, recession, atau keduanya.

16

Periodontitis dapat diklasifikasikan dalam 3 tipe utama berdasarkan karakteristik klinis, radiografik, historis, dan laboratorium, yaitu:

2.3.2.1 Periodontitis kronis Etiologi Secara umum, penyebab terjadinya periodontitis sama dengan penyebab terjadinya gingivitis, tetapi terjadi dalam waktu lebih lama atau lebih parah dari gingivitis. Faktor lokal yang menyebabkan periodontitis antara lain, plak, kalkulus, impaksi makanan, dan terjadinya iritasi. Pada periodontitis kronis, terjadi bersamaan dengan infeksi actynobacillus actinomycetemcomitans, bacteroides forsythus, porphyromonas gingivalis, dan prevotella intermedia. Patogenitas Periodontitis diawali dengan terjadinya gingivitis marginal sederhana sebagai reaksi terhadap plak dan kalkulus. Perubahan pertama yang mungkin ditemui yaitu adanya ulserasi kecil pada epitel crevicular. Walaupun penyebab iritasi telah dihilangkan, seiring waktu plak dan kalkulus bertambah banyak, dan gingivitis marginal bertambah parah. Gingival menjadi bengkak disertai iritasi, sehingga ulserasi pada epitel crevicular bertambah besar. Sel-sel pada bagian yang terdapat ulserasi berproliferasi sebagai akibat dari terjadinya inflamasi. Terdapat pula ikatan antar epitel yang memperluas atau melakukan migrasi secara apikal terhadap gigi sehingga mudah terlepas dari bagian corona. Akibat dari peningkatan bengkak pada gingiva marginal, celah gingival menjadi lebih dalam yang disebut sebagai periodontal pocket awal. Adanya periodontal pocket lebih dari 3-4mm menunjukkan bahwa adanya kerusakan ligamen periodontal dan resorpsi tulang alveolar. Perubahan struktur

17

Ditemukannya kalkulus (subgingival kalkulus). Selain itu, terlihat bengkak ringan dan hyperemia pada gingival yang berakibat terjadinya perdarahan tiba-tiba apabila dilakukan penyikatan pada gingiva terutama pada bagian interdental papilla. Ketika periodontitis semakin parah, terjadi pergerakan gigi dan menghasilkan bunyi seperti benda tumpul disertairasa sakit apabila terjadi kontak dengan bahan metal. Terdapat lubang-lubang pada gingival akibat defisiensi interdental papilla. Festooning normal tidak tampak dan gingiva terlihat tidak cerah akibat hyperemia dan edema; gingival terlihat lunak, mengkilap dan lebih merah atau lebih kebiruan dari gingival normal Terjadi resesi gingival. Resesi gingival biasanya diawali dengan kerusakan yang tipis pada gingival dalam bentuk bebas sampai ke bagian tengah gigi, disebut stillmans cleft.

2.3.2.2 Periodontitis agresif Etiologi Pada periodontitis tipe ini, penurunan respon imunitas tubuh lebih berperan sebagai penyebab dibandingkan akumulasi plak dan kalkulus dalam jumlahyang banyak. Selain itu, terjadi penurunan fungsi leukosit, monosit, ataupun keduanya, tanpa manifestasi yang bersifat sistemik, sehingga kemampuan tubuh untuk bertahan melawan pathogen penyebab penyakit periodontal berkurang.

18

Patogenisitas Bentuk terlokalilasi terjadi saat pubertas dan adanya kecenderungan kuat dari pewarisan keluarga. Terjadi hanya pada molar pertama dan gigi insisivus, dimana terjadi pelepasan dua gigi permanen yang salah satunya gigi molar pertama. Tidak terjadi inflamasi dan adanya periodontal pocket yang dalam. Tingkat hilangnya tulang alveolar lebih tinggi dibandingkan pada periodontitis kronis. Bentuk general biasanya terjadi pada pasien berusia di bawah 30 tahun, yang melibatkan tiga gigi atau lebih selain gigi molar pertama dan insisivus dan peningkatan serum respon antibody yang lemah. Perbedaannya dengan bentuk lokal ialah adanya penambahan akumulasi dari plak, kalkulus dan inflamasi gingival. Perubahan struktur Perubahan patologis yang terjadi pada periodontitis agresif memiliki karakteristik yang hampir sama dengan periodontitis kronis.

2.3.3 Periodontitis akibat manifestasi penyakit sistemik Gangguan hematologis -leukemia -neutropenia

19

Gangguan genetik -siklus dan pewarisan neutropenia -downs syndrome -sindrom penurunan perlekatan leukosit -papillon-lefevre syndrome -chediak-higashi syndrome -sindrom histiositosis -gangguan penyimpanan glikogen -cohen syndrome -ehlers-danlos syndrome (tipe IV dan VII) -hypophosphatemia

2.4 Trauma Oklusi Dapat pula disebut dengan traumatizing occlusion/occlusal trauma/ traumalogenic occlusion/periodontal traumatism. Trauma oklusi adalah kerusakan jaringan periodontal akibat daya oklusi yang melebihi kapasitas adaptasi jaringan periodontal. Tidak seperti luka pada gingivitis dan periodontitis yang dimulai dari jaringan gingiva, luka karena trauma oklusi dimulai dari ligamen periodontal dan meliputi sementum dan tulang alveolar. Oklusi yang menyebabkan kelainan disebut oklusi trau matik. Manifestasi klinisnya adalah peningkatan mobilitas gigi yang bersifat reversible.

2.4.1 Klasifikasi Trauma Oklusi Berdasarkan etiologi yang terjadi, trauma oklusi dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori, yaitu:

20

Trauma Oklusi Primer Trauma ini terjadi jika terdapat peningkatan daya oklusal yang berlebihan pada jaringan periodontal yang normal/sehat. Contoh penyebab trauma oklusi primer adalah restorasi yang terlalu tinggi, pemasangan protesa yang

menyebabkan tekanan berlebih pada gigi penyangga. Perubahan yang terjadi antara lain: rasa sakit, pelebaran ruang ligamen periodontal, dan mobilitas gigi. Perubahan yang terjadi biasanya bersifat reversible, dapat hilang jikaoklusi traumatik dikoreksi

Trauma Oklusi Sekunder Trauma ini terjadi ketika daya oklusal yang normal menjadi traumatic terhadap jaringan periodontal karena pada awalnya sudah terjadi periodontitis di jaringan tersebut. Gigi dengan trauma oklusi sekunder dapat mengalami kerusakan tulang alveolar yang cepat.

Berdasarkan lama penyakit, trauma oklusi dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori, yaitu: Trauma oklusi akut Trauma oklusi ini merupakan kerusakan jaringan periodontal akibat menggigit benda keras secara tidak sengaja. Symptom: nyeri, sensitif terhadap perkusi, mobilitas gigi.

Trauma oklusi kronis Trauma oklusi kronis adalah kerusakan jaringan periodontal akibat adanya daya abnormal yang berulang (berasal dari restorasi, protesa, tooth wear, migrasi, atau ekstrusi gigi)

Etiologi Beberapa faktor penyebab yang dapat meningkatkan tekanan pada jaringan periodontal, yaitu:

21

Ketidakseimbangan oklusi Hambatan oklusal pada waktu oklusi sentris (kontak ke premature dan gerak artikulasi (blocking) Gigi hilang tidak diganti Perbandingan mahkota akar tidak seimbang Kontak edge to edge Alat prostetik dan restorasi yang buruk

Kebiasaan buruk Bruxism clenching Menggunakantusukgigi

Etiologi lainnya, yaitu: a. Perubahan pada tekanan oklusal Besarnya tekanan oklusi meningkat sehingga pelebaran ruang periodontal, peningkatan jumlah dan lebar serat ligamen periodontal, dan peningkat densitas tulang alveolar. Perubahan arah tekanan oklusi dapat mengakibatkan reorientasi tekanan dalam periodontal sehingga serat ligamen periodontal utama diatur sedemikian rupa untuk mengkomodasi tekanan oklusi sepanjang sumbu utama gigi. Durasi tekanan oklusi tekanan konstan pada tulang lebih berefek negative dibandingkan tekanan intermiten. Frekuensi tekanan oklusi, semakin banyak frekuensi tekanan intermiten, semakin besar injuri terhadapjaringan periodontal.

b. Berkurangnya kemampuan jaringan periodontal ntuk menerima tekanan oklusi Stress oklusal yang melebihi batas adaptasi jaringan dapat menimbulkan trauma oklusi, karena: Aktifitas abnormal / parafungsi (menggeletuk, mengerot dan menggigit benda asing) Perawatan gigi (gigi tiruan sebagian lepasan kurang baik)

22

Ketidakharmonisan oklusal (kontak gigi yang mengganggu kelancaran gerak menutup di sepanjang setiap arah ke posisi intercuspal.

Akibat Trauma Oklusi Trauma oklusi ini biasanya diikuti dengan beberapa hal yang menandakan terjadinya trauma oklusi. Hal-hal tersebut antara lain: Hemorargik Nekrosis Pelebaran ligamen periodontal Resorpsi tulang Resorpsi sementum Sedangkan jika dilihat secara klinis, terdapat hal-hal fisik yang terjadi akibat trauma oklusi, yaitu: Gigi goyang (mobile tooth) Fremitus (mobilitas fungsional, defleksi gigi yang dapat dipalpasi baik pada gerakan menutup ataupun selama gerakan excursive) Perpindahan gigi (tooth migration) Rasa sakit

2.4.2 Gambaran Klinis Trauma Oklusi Pada umumnya tanda trauma oklusi terhadap jaringan periodontal adalah peningkatan kegoyangan gigi. Penyesuaian jaringan periodontal terhadap peningkatan daya yang bekerja pada oklusi menyebabkan pelebaran ligamen periodontal. Pelebaran ligamen periodontal ini berperan penting dalam meningkatkan kegoyangan gigi. Selain itu, trauma oklusi dapat menjadi faktor risiko yang signifikan dalam perkembangan penyakit periodontal. Periodintitis selalu didahului oleh gingivitis tetapi gingivitis tidak selalu menjadi periodontitis.

23

Inflamasi pada jaringan periodontal tidak bisa dipisahkan dari pengaruh oklusi. Oklusi mempengaruhi respon dari jaringan periodontal terhadap inflamasi dan menjadi faktor resiko pada semua penyakit periodontal. Gingivitis terjadi karena adanya iritasi lokal dari plak, bakteri, kalkulus dan impaksi makanan. Iritasi lokal mempengaruhi tepi gingival, tetapi tepi gingival tidak terpengaruh dengan adanya trauma oklusi karena suplai darah dari tepi gingival sudah cukup. Selama infalmasi hanya terjadi pada gingival, inflamasi tersebut tidak dipengaruhi oleh trauma oklusi. Infalamasi pada gingival menjalar ke jaringan lainnya melalui aliran pembuluh darah pada jaringan ikat jarang lalu masuk ke tulang alveolar. Dengan demikian trauma oklusi dapat menjalarkan inflamasi ke arah jaringan di bawahnya. Di daerah interproksimal peradangan menjalar melalui pembuluh darah pada jaringan ikat jarang kemudian melintasi serat transeptal lalu masuk ke tulang alveolar melalui pembuluh darah yang menembus puncak alveolar pada septum interdental. Inflamasi yang telah mecapai tulang dapat menyebebkan kehilangan tulang bersudut dan poket dapat menjadi infrabony. Dari penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa gambaran klinis dari trauma oklusi adalah: 1. Pembesaran gingival 2. Kehilangan perlekatan epitel gingival 3. Kegoyangan gigi Kegoyangan gigi ini disebabkan karena adanya penyesuaian jaringan periodontal terhadap peningkatan daya yang bekerja pada oklusi sehingga terjadi pelebaran ligamen periodontal. 4. Migrasi atau posisi gigi abnormal 5. Resesi gingiva Resesi gingival adalah terbukanya permukaan akar karena pergeseran posisi gingival ke apikal

24

2.4.2.1 Tanda Radiografis Tanda-tanda trauma oklusi secara radiografis sebagai berikut: 1. Peningkatan lebar rongga periodontal yang sering disertai dengan penebalan lamina dura sepanjang bagian lateral akar gigi, apikal dan daerah bifurkasi. Perubahan ini tidak perlu diindikasikan sebagai perubahan yang destruktif karena perubahan- perubahan tersebut dihasilkan dari penebalan dan penguatan ligamen periodontal dan tulang alveolar, terdapat suatu respon yang baik terhadap peningkatan daya oklusal. 2. Destruksi sekat interdental secara vertikal lebih destruktif daripada horizontal. 3. Terdapat radiolusen dan kondensasi tulang alveolar. 4. Akar mengalami resorpsi.

2.4.3 Pencegahan Trauma Oklusi 1. Penggantian gigi yang hilang Hal ini berperan dalam kerusakan jaringan periodontal dengan beberapa cara. Ketika gigi bagian proksimal tidak didukung dengan gigi tetangganya karena telah diekstraksi, tekanan oklusal menekan periodontal dan mengakibatkan gigi semakin divergen pada poros gigi. Hilangnya gigi-gigi fungsional akan menghasilkan perubahan hubungan dan keseimbangan tekanan diantara gigi-gigi. Jika kerusakan periodontal sudah terjadi, tekanan ini memperberat kerusakan. Kejadian ini hampir tidak dapat dihindari, karena kerusakan yang terjadi pada kontak normal yang disebabkan oleh tipping pada gigi, akan menuju pada impaksi dan stagnasi makanan yang menghasilkan inflamasi gingiva dan formasi pocket.

25

2. Pemasangan cengkeram yang tepat pada GTSL Cengkeram dari GTS menyediakan retensi dan sokongan. Beberapa tipe cengkeram menyediakan lebih dari satu fungsi yang berbeda antara satu cengkeram dengan yang lainnya dan hal ini menguntungkan untuk setiap kasus untuk memilih desain cengkeram yang paling baik. Desain cengkeram yang salah dapat mempengaruhi tekanan lateral berlebih pada gigi penyangga. Ketika gerakan lateral mandibular melakukan tipping pada GTS, gigi penyangga menerima tekanan lateral yang besar. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan gingiva dan jaringan periodontal disekitarnya.

3. Restorasi yang tepat Jika restorasi terlalu tinggi, gigi akan bertemu dengan lawannya terlebih dahulu pada penutupan sentrik dan terkadang pada hubungan lain. Hal ini lebih sering terjadi pada restorasi dengan hubungan sentrik yang tepat, tetapi tidak tepat pada gerakan lateral dan protusif.

4. Tidak melakukan kebiasaan buruk Menggigit pensil, pulpen, kuku, penjepit rambut, dll dapa tmenyebabkan kerusakan jaringan periodontal, juga timbul iritan lokal, plak, atau kalkulus yang dapat merusak dan membentuk abses pada jaringan. Bruxism adalah istilah yang digunakan jika ditemukan grinding&clenching pada gigi, biasanya pada saat tidur. Bruxers (orang yang memiliki kebiasaan bruxism) biasanya tidak menyadari bahwa ia memiliki kebiasaan tersebut. Padasaat bruxism, otototot mastikasi melakukan tekanan yang sangat kuat dan tekanan yang diterima oleh jaringan periodontal sangat besar. Jika jaringan periodontal sehat, maka jaringan dapat beradaptasi dengan mengabsorbsi tekanan tersebut.Tetapi jika pada jaringan periodontal terdapat inflamasi gingiva & pocket, dapat menambah parah kerusakan yang terjadi.

26

2.5 Pemeriksaan Radiografi 2.5.1 Radiografi Ekstra Oral Terdapat dua teknik pemotretan oklusi gigi-geligi, yaitu ekstraoral dan intraoral. Teknik pemotretan ekstraoral melalui teknik pemotretan panoramik dan cephalometrik. Sedangkan teknik pemotretan intraoral melalui teknik bitewing dan oklusal, pemeriksaan TMJ, serta interpretasi kelainan oklusal. Teknik pemotretan panoramik, atau biasa juga disebut sebagai pantomografi, merupakan suatu teknik yang digunakan untuk menghasilkan sebuah potret tomografi

27

dari struktur fasial, termasuk lengkung maksila dan mandibula, serta jaringan pendukungnya. Teknik ini menggunakan prinsip timbal balik dari sumber sinar-x dan reseptor gambar di sekitar titik pusat, yang disebut sebagai lapisan gambar (image layer), dimana objek yang menarik terletak. Lapisan gambar (image layer) merupakan zona kurva tiga dimensi, focal through, dimana struktur yang berada di dalam lapisan ini akan digambarkan dengan baik pada hasil akhir foto panoramik. Bentuk dari lapisan gambar ini bervariasi yang dipengaruhi oleh bentuk lengkung pasien, kecepatan dari x-ray dan reseptor, dan keselarasan sinar x-ray. Seperti semua interpretasi gambar lainnya, interpretasi gambar panoramik dimulai dengan analisis sistematik dari hasil potret panoramik yang ada dan pemahaman yang menyeluruh mengenai struktur anatomi yang normal dan beberapa variasi lain di dalam potret. Potret panoramik tentunya memiliki interpretasi yang berbeda dengan potret intraoral. Menemukan struktur anatomi yang normal pada foto panoramik sangat menantang. Hal ini dikarenakan oleh anatomi dari midface sendiri yang kompleks, adanya superimposisi dari variasi struktur anatomi, dan proyeksi perubahan anatomi. Interpretasi dari mandibula pada hasil gambar panoramik dapat dikelompokkan menjadi area anatomi major, yaitu prosesus kondilaris dan temporomandibular joint, prosesus koronoideus, ramus, body dan angle, aspek anterior, dan pertumbuhan gigi mandibula. Kondilus mandibula terletak sedikit ke anteroinferior dari posisi normalnya dikarenakan pasien diinstruksikan untuk membuka mulutnya. Beberapa bayangan struktur lainnya yang terdapat pada foto panoramik dapat memberikan gambaran yang melapisi struktur mandibula, di antaranya: bayangan alur udara faringeal, dinding posterior dari nasofaring, vertebrae cervical, lobus telinga, kartilago nasalis, palatum lunak dan uvula, serta bagian dorsum lidah. Gambar: Interpretasi dari struktur anatomi tulang mandibula pada foto panoramik. Berikut keterangannya:

28

Gambar

1.3(Stuart

C.

White

dan

Michael

J.

Pharoah.2009. Oral

Radiology:

Principles

and

Interpretation.New Delhi: Elsevier, hlm.185)

1.Mandibular condyle 2.Neck of condyle 3.Coronoid mandible 4.Posterior aspect of inferior border 5.Inferior alveolar (mandibular) canal process of

6.Inferior border of mandible 7.Superimposed cervical vertebrae 8.Mental foramen 9.Submandibular fossa 10.Mandibular angle 11.External oblique ridge 12.Sigmoid notch shadow of

Sedangkan, interpretasi maksila dapat dikelompokkan menjadi beberapa area major pada foto panoramik, yaitu: batas kortikal maksila, termasuk bagian posterior dan lingir alveolar, fisura pterigomaksilaris, sinus maksilaris, kompleks zigomatik, kavitas nasal dan conchae, temporomandibular joint, dan pertumbuhan gigi maksila. Berikut gambaran interpretasi dari foto panoramik maksila.

29
Gambar 1.4(Stuart C. White dan Michael J. Pharoah.2009.Oral Radiology: Principles and

Interpretation.New Delhi: Elsevier, hlm.187)

Gambar: Interpretasi dari struktur anatomi tulang maksila pada foto panoramik. Berikut keterangannya: 1.Articular tubercle of the temporal bone (articular eminentia of tmj) 2.Zygomatic arch 3.Zygomatic process of maxilla 4.Pterygomaxillary fissure 5.Orbital rim 6.Inferior nasal concha 7.Nasal septum 8.Anterior nasal spine 9.Floor of the maxillary sinus 10.Developing third molar 11.Ear lobecervical vertebra

30

Secara umum, keuntungan dari penggunaan teknik panoramik ini di antaranya adalah memberikan gambaran besar dari tulang fasial dan gigi, dosis radiasi yang rendah, kenyamanan pemeriksaan bagi pasien, dapat digunakan bagi pasien yang tidak dapat membuka mulutnya, hanya dibutuhkan waktu yang singkat untuk membuat foto panoramik (3-4 menit), dan foto panoramik mudah untuk dipahami oleh pasien. Kerugian utama dari penggunaan foto panoramik ini adalah tidak terdapatnya gambaran anatomi yang detail dari radiografi periapikal intraoral. Oleh karena itu, teknik ini tidak dapat sebaik teknik radiografi periapikal untuk mendiagnosis karies yang kecil, marginal periodontium yang detail, atau penyakit periapikal. Teknik cephalometrik merupakan salah satu teknik readiografis yang paling sering digunakan di kedokteran gigi. Teknik ini menggunakan cephalostat yang membantu menjaga hubungan yang konstan antara tulang tengkorak, film, dan sinar xray. Reseptor foto terletak paralel dengan bidang midsagital pasien. Pada radiografi cephalometrik, pasien berada di sebelah kiri dari reseptor foto untuk mengurangi distorsi (standar U.S). Peralatan lengkap yang biasa digunakan pada teknik cephalometrik modern terdiri dari cephalostat atau dudukan kepala, sumber dan detektor sinar x-ray, yang dapat berupa film atau sensor digital. Pada saat pemotretan dengan teknik ini, pasien diinstruksikan untuk oklusi sentrik sehingga menstabilisasikan posisi mandibula dan mendapatkan hubungan maksila dan mandibula. Terdapat tiga macam proyeksi radiografis cephalometrik, yaitu lateral, posteroanterior, dan aksial. Cephalometrik lateral merupakan jenis proyeksi

cephalometrik yang paling sering digunakan. Terutama digunakan untuk mendapatkan evaluasi sagital, dapat juga digunakan untuk mendiagnosis fraktur yang melibatkan maksila atau spina servikal, sinus maksilaris, dan anomali yang melibatkan sela tursika, seperti adenoma ptuitari atau craniopharyngiomas. Hasil gambaran dari jenis proyeksi cephalometric ini didapat dari pusat pancaran x-ray yang langsung menuju ke auditori meatus eksternal, tegak lurus dengan bidang mid-sagittal dan bidang film, yang terdapat 2

31

cm di atas dan di depan auditori meatus eksternal. Berikut gambaran dari proyeksi lateral cephalometrik.

Gambar 1.5 : Landmark anatomik dari proyeksi cephalometrik lateral (Stuart C. White dan Michael J. Pharoah.2009.Oral Radiology: Principles and Interpretation.New Delhi: Elsevier, hlm.193)

Jenis yang kedua, proyeksi posteroanterior cephalometrik biasa digunakan pada pasien dengan tulang fasial yang asimetris. Sebagai tambahan, jenis proyeksi ini menunjukkan gambaran dinding lateral dari sinus maksilaris, nasal septum, supra dan infraorbital ridge, telinga dan beberapa sinus lainnya. Pusat pancaran x-ray barada di dalam bidang midsagital yang dibatasi oleh hidung, memasuki tulang tengkorak melalui protuberansia oksipital eksternal dan keluar di nasion. Berikut gambaran dari proyeksi posteroanterior radiografis cephalometrik.

32
Gambar 1.6 : Landmark anatomik dari proyeksi cephalometric posteroanterior. (Stuart C. White dan Michael J. Pharoah.2009.Oral Radiology: Principles and Interpretation-Ed.6.New Delhi: Elsevier, hlm.216)

Sedangkan, proyeksi aksial, yang biasa disebut sebagai submentovertex (SMV), dapat digunakan baik untuk pasien yang memiliki tulang fasial yang asimetris maupun yang simetris. Kepala dan leher pasien diinstruksikan untuk menengadah menjauhi bidang midsagital sejauh mungkin sehingga tegak lurus terhadap lantai. Pusat pancaran xray memancar dari bawah dagu menuju ke puncak tulang tengkorak, memasuki tulang tengkorak dan berpotongan di garis tengah antar kondilus. Berikut gambaran dari proyeksi aksial atau submentovertex (SMV) radiografis cephalometrik.

Gambar 1.7 : Landmark anatomik dari proyeksi cephalometric aksial (Stuart C. White dan Michael J. Pharoah.2009. Oral Radiology: Principles and Interpretation-Ed.6.New Delhi: Elsevier, hlm.214)

Macam-macam proyeksi cephalometrik dapat diringkas oleh tabel di bawah ini. Tabel 1: Macam-macam proyeksi cephalometrik radiografis beserta resultan fotonya.

33

(Stuart C. White dan Michael J. Pharoah.2009.Oral Radiology: Principles and Interpretation.New Delhi: Elsevier, hlm.192)

2.5.2 Bitewing Nama radiografi Bitewing diambil dari teknik pengerjaannya yang memerlukan pasien untuk menggigit (bite) pada wing kecil yang melekat pada film packet intraoral. Pegangan film modern dewasa ini tidak memerlukan wing lagi (yang sekarang disebut sebagai tab) namun secara indikator terminologi dan klinis memiliki fungsi yang sama. Film individual didesain untuk menunjukkan mahkota premolar dan molar pada satu sisi rahang. Kegunaan utamanya adalah untuk pendeteksian dental caries, mengawasi progresi pada dental caries, meninjau restorasi yang telah ada, dan menilai status periodontal.

34

Gambar 1.8 Film packet intra oral dengan wing atau tab yang menempel. (Sumber : Whaites, Eric. 2003. Essentials of Dental Radiography and Radiology Third Edition . London : El Sevier Science. Halaman 101)

Teknik ideal : Hal ini termasuk : Tab atau bite-platform harus diletakkan di tengah film packet dan parallel

dengan bagian batas atas dan bawah film packet. Bagian sumbu panjang film packet harus diletakkan secara horizontal pada

horizontal bitewing atau vertikal pada vertical bitewing.

Gambar 1.9 Diagram menunjukkan posisi ideal film packet untuk beberapa tipe bitewing berbeda A. Bitewing horizontal dewasa, B. Bitewing horizontal anak-anak C. Bitewing vertikal dewasa (Sumber : Whaites, Eric. 2003. Essentials of Dental Radiography and Radiology Third Edition . London : El Sevier Science. Halaman 102)

Gigi posterior dan film packet harus berkontak atau sedekat mungkin Gigi posterior dan film packet harus parallel bentuk dari lengkung geligi mungkin memerlukan dua posisi film terpisah untuk mencapai syarat ini untuk premolar dan molar.

35

Gambar 2.1: Posisi film packet dan tabung X-ray ideal untuk radiografi Bitewing untuk lengkung gigi yang berbeda. A. Bentuk U, B. bentuk V, C. Bentuk persegi. (Sumber : Whaites, Eric. 2003. Essentials of Dental Radiography and Radiology Third Edition . London : El Sevier Science. Halaman 102)

Pada dataran horizontal, kepala tabung X-ray harus diarahkan agar sinarnya bertemu dengan gigi serta film packet pada sudut yang benar dan langsung melewati seluruh daerah kontak.

Pada dataran vertical, kepala tabung X-ray harus diarahkan ke bawah (kurang lebih 5-8 pada horizontal) untuk mengkompensasikan kenaikan kurva Monson.

36
Gambar 2.2: Posisi ideal film packet dan perkiraan penurunan vertical dari sinar X-ray untuk kompensasi kurva Monson. (Sumber : Whaites, Eric. 2003. Essentials of Dental Radiography and Radiology Third Edition. London : El Sevier Science.)

Penempatan ini harus dapat direproduksi kembali

Teknik Penempatan Ada dua teknik yang umum digunakan, yaitu : Menggunakan tab yang dilekatkan pada film packet dan mensejajarkan kepala tabung X-ray dengan mata. Menggunakan pegangan film holder dengan alat pengarah sinar untuk memfasilitasi penempatan dan deret dari kepala tabung X-ray. Menggunakan tab yang ditempelkan pada film packet

Teknik radiografik dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Ukuran film dan tab yang ditempelkan yang sesuai dipilih a. Film packet besar (31 x 41 mm) untuk dewasa b. Film packet kecil (22 x 35 mm) untuk anak-anak di bawah usia 12 tahun. Saat gigi molar permanen kedua telah bererupsi, film ukuran dewasa diperlukan c. Biasanya film packet yang lebih panjang (53 x 36 mm) digunakan untuk dewasa.

Gambar 2.3 : (i) Film packets dengan tabs yang melekat untuk : (A) Vertical bitewings dewasa, (B) horizontal bitewings dewasa dan (C) horizontal bitewings anak-anak. (ii) posisi ideal bitewing and film

37
packet dalam hubungannya untuk A, dewasa dan B anak-anak, (iii) Pasien dan penempatan kepala tabung Xray tubehead untuk Bitewing kiri. (Sumber : Whaites, Eric. 2003. Essentials of Dental Radiography and Radiology Third Edition. London : El Sevier Science. Halaman 103)

2. Pasien diposisikan dengan kepala bersandar dan dataran oklusal horizontal. 3. Bentuk lengkung geligi dan jumlah film yang diperlukan dinilai. 4. Operator memegang tab diantara jempol dan jari telunjuk dan menyertakan film packet ke dalam sulkus lingual berlawanan dengan gigi posterior. 5. Batas anterior dari film packet harus diposisikan berlawanan dengan aspek distal kaninus rahang bawah pada posisi ini, batas posterior film packet meluas biasanya hanya melebihi aspek mesial dari molar ketiga rahang bawah. 6. Tab diletakkan pada permukaan oklusal gigi rahang bawah. 7. Pasien diinstruksikan untuk mengatupkan gigi rapat-rapat bersama dengan tab. 8. Saat pasien mengatupkan gigi, operator menarik tab dengan kuat untuk memastikan film packet dan gigi berkontak. 9. Operator melepas tab 10. Sinar X-ray diarahkan langsung menembus daerah kontak, pada sudut yang tepat pada gigi dan film packet dengan kurang lebih 5o-8o derajat ke bawah vertical. 11. Pemaparan dilakukan 12. Prosedur diulangi untuk gigi premolar bila diperlukan dengan film packet dan posisi kepala tabung X-ray yang baru. Keuntungan penggunaan teknik ini adalah teknik ini simple, murah, tab hanya digunakan sekali pakai sehingga tidak dibutuhkan prosedur crossinfection control dan bisa digunakan dengan mudah pada anak-anak, namun teknik ini juga memiliki kekurangan, yaitu tidak konsisten, sudut horizontal dan vertical kepala tabung X-ray sangat bergantung pada penilaian operator, radiografi tidak dapat di reproduksi secara akurat, sehingga tidak cocok untuk memonitor progresi karies, coning off atau cone cutting dari bagian anterior film sering terjadi, dan lidah dapat menggantikan posisi film packet dengan mudah.

38

2.5.3 Radiografi Oklusal Radiografi oklusal dideskripsikan sebagai teknik radiografi intraoral yang diambil menggunakan dental X-ray set dimana film packet (5,7 x 7,6 cm) atau kaset intraoral kecil diletakkan pada dataran oklusal. Terminologi dan Klasifikasi Terminologi yang digunakan dalam radiografi oklusal sangat

membingungkan. British Standards Glossary of Dental Terms (BS 4492: 1983) sangat tidak memadai dalam mendefinisikan berbagai proyeksi oklusal dan pembedaan diantaranya. Hasilnya adalah masih ada sedikit keseragaman dalam terminologi diantara institusi pembelajaran dan publikasi yang berbeda. Proyeksi oklusal maksila terdiri dari : Upper standard occlusal (standard occlusal) Upper oblique occlusal (oblique occlusal) Vertex occlusal (vertex occlusal). Proyeksi oklusal mandibula terdiri dari : Lower 90 occlusal (true occlusal) Lower 45 occlusal (standard occlusal)

Lower oblique occlusal (oblique occlusal) Indikasi klinis Penilaian periapikal dari gigi anterior atas, terutama pada anakanak tetapi juga pada dewasa yang tidak dapat menoleransi film periapikal. Upper standard occlusal

39

Mendeteksi keberadaan kaninus yang tidak bererupsi, supernumeraries dan odontomes. Dilihat dari garis tengah ketika menggunakan metode parallax untuk menentukan posisi bucoo/palatal dari kaninus yang tidak bererupsi.

Evaluasi dari ukuran dan keberadaan lesi seperti kista atau tumor di anterior maksila. Penilaian fraktur dari gigi anterior dan tulang alveolar. Ini sangat berguna terutama untuk anak-anak yang telah terkena trauma karena peletakan film langsung.

Teknik dan penempatan Teknik dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Pasien didudukkan dengan kepala bersandar dan dengan dataran oklusal horizontal dan parallel dengan lantai dan diinstruksikan untuk menyokong lapisan pelindung thyroid. 2. Film packet dengan permukaan putih (pebbly) menghadap paling atas, diletakkan datar ke dalam mulut pada permukaan oklusal gigi bawah. Pasien diinstruksikan untuk menggigit bersama dengan lembut. Film packet diletakkan di tengah di dalam mulut dengan sumbu panjang bersilang pada dewasa dan secara anteroposterior pada anak-anak. 3. Kepala tabung X-ray diposisikan di atas pasien pada garis tengah, diarahkan ke bawah menembus bridge hidung pada sudut 65o-70o pada film packet.

40

Gambar 2.4 A. Posisi dari film packet dengan hubungannya pada lengkung bawah B. Peletakan dari depan; dilihat penggunaan pembungkus pelindung thyroid C. peletakan dari samping. D. Diagram yang menunjukkan peletakan dari samping. (Sumber : Whaites, Eric. 2003. Essentials of Dental Radiography and Radiology Third Edition. London : El Sevier Science. Halaman 111)

Gambar 2.5 : Contoh dari upper standard radiografi oklusal dengan sifat radiografik utama. (Sumber : Whaites, Eric. 2003. Essentials of Dental Radiography and Radiology Third Edition. London : El Sevier Science. Halaman 111)

Lower 90 occlusal Proyeksi ini menunjukkan pandangan rencana dari porsi bantalan gigi dari mandibula dan dasar mulut. Variasi minor dalam teknik ini juga digunakan untuk menunjukkan lesi unilateral. Indikasi klinis Deteksi dari keberadaan dan posisi kalkulus radioopak di duktus salivarius submandibular.

41

Penilaian dari posisi bucco-lingual gigi mandibula yang tidak bererupsi. Evaluasi dari ekspansi bucco-lingual dari tubuh mandibula oleh kista, tumor atau osteodytrophy. Penilaian dari fraktur pemindahan dari tubuh anterior mandibula pada dataran horizontal.

Teknik dan Peletakan 1. Film packet dengan permukaan putih (pebbly) menghadap ke bawah diletakkan ditengah ke dalam mulut, di permukaan oklusal gigi bawah dengan sumbu panjang bersilang. Pasien diinstruksikan untuk menggigit dengan perlahan. 2. Pasien kemudian mencondongkan tubuh ke depan dan kemudian memiringkan kepala ke belakang sejauh kenyamanan pasien, dimana kepala disokong. 3. Kepala tabung X-ray, dengan collimator fitted melingkar diletakkan di bawah dagu pasien, di garis tengah, di tengahtengah garis imajiner menghubungkan molar pertama pada sudut 90o pada film. Variasi Teknik Untuk menunjukkan bagian khusus dari mandibula, film packet diletakkan pada mulut dengan sumbu panjang secara anteroposterior melewati area yang dibutuhkan. Kepala tabung x-ray masih mengarah pada 90 film, di tengah di bawah tubuh dari mandibula pada area tersebut. Catatan : Teknik ini dilakukan seperti pemeriksa melihat ke dalam mulut pasien. Radiografnya meningkat dengan titik timbul menunjuk menjauh dari

pemeriksa.

42

Gambar 2.6 : A. Diagram menunjukkan posisi dari film packet (permukaan putih menghadap ke bawah) dengan hubungannya dengan lengkung geligi bawah. B. Posisi dari lower 90 occlusal dari samping C. Diagram menunjukkan peletakkan dari samping. D. Contoh radiograf (Sumber : Whaites, Eric. 2003. Essentials of Dental Radiography and Radiology Third Edition . London : El Sevier Science. Halaman 114)

2.6 Teknik Pemotretan Temporomandibular Joint Temporomandibular joint adalah suatu sendi yang berada pada tulang kepala yang sulit untuk di lihat secara radiologis. Teknik pemotretan temporomandibular joint yaitu denganOblique lateral radiography dimana, dapat diambil secara lateral atau oblik.

Gambar 2.7 Indikasi Utama 1. 2. Deteksi ada tidaknya atau posisi gigi yang tidak erupsi. Deteksi ada tidaknya fraktur mandibula

43

3.

Evaluasi terhadap lesi atau kondisi lain yang mempengaruhi

rahang, seperti kista, tumor, giant cell lesiond, dan osteodistrofi. 4. Merupakan alternatif apabila pemotretan radiografi intraoral tidak

dapat dilakukan dengan alasan tertentu, misalnya : pasien trismus. 5. Radiografi spesifik untuk melihat kelenjar ludah atau TMJ.

Gambar TMJ modern tergantung pada fasilitas yang tersedia tetapi dapat mencakup: radiograf panoramik konvensional Batasan daerah tertentu dari program TMJ panorama, radiografi Transpharyngeal, tomografi multiarah, kerucut balok CT, magnetic resonance (MR), computed tomography (CT), Arthrography, Artroskopi

2.6.1 Dental Panoramic Radiography Indication : TMJ pain disfunction syndrome Menyelidiki penyakit pada sendi Menyelidiki kondisi pathologis yg mempengaruhi kepala kondilus

44

Fraktur pada condylar heads or necks Hypolasia/hyperplasia kondilus

Diagnostic information : Bentuk kepala kondilus dan kondi permukaan articular dari lateral Dapat membandingkan langsung antara kedua kondilus

2.6.2 Panoramic TMJ Programmes Indikasinya sama dengan konvensional panoramic radiograph. Mengungkinkan tambahan informasi dengan cara membuka mulut jika

ditambahkan peralatan untuk spesificTMJ programmes. Diagnostic information : Bentuk kepala kondilus dan kondisi permukaan articular Jarak pergerakan kondilus ketika mulut dibuka Dapat membandingkan langsung kedua kepala kondilus

Gambar 2.8 http://www.lionsdentalsupply.com/Strato_Digital_Panoramic_X_Ray_Unit.html 2.6.3 Transpharyngeal Radiography

45

Indication : TMJ pain dysfunction syndrome Menyelidiki adanya penyakit pada sendi, particularly osteoartritis

dan rhematoid arthritis Menyelidiki kondisi pathologis yang memengaruhi kepala kondilus

(kista atau tumor) Patah pada kepala atau leher kondilus

Diagnostic information : Bentuk kepala kondilus dan kondisi permukaan articular Dapat membandingkan langsung kedua kepala kondilus

Gambar 2.9 (Whaites,Eric.2003.Essential of Dental Radiography and Radiology. Third edition. London ; Churchill Livingstone.376) 2.6.4 Multidirectional Tomography Indication : Penilaian sendi secara keseluruhan untuk mengetahui keberadaan

dan tempat dari penyakit pada tulang atau abnormality

46

Menyelidiki kondilus dan fossa artikularis ketika pasien tidak bisa

membuka mulut Penilaian jk terjadi fraktur pada fossa artikularis dan intrakapsular

Diagnostik information: Ukuran joint space Posisi kondilus dlm fossa Bentuk kepala kondilus dan kondisi permukaan artikular Ukuran dan kondisi erticular fossa dan eminence Informasi pada keseluruhan aspek sendi Posisi dan orientasi fraktur fragments

2.6.5 Magnetic Resonance (MR) Berguna untuk menentukan posisi dan bentuk disc ketika membuka dan menutup mulut 2.6.6 Computed Tomography (CT) Keuntungan CT adalah kita mendapatkan gambaran jaringan lunak dan keras pada joint, termasuk disc, in different plane. Diagnostic information: Bentuk kondilus dan kondisi permukaan articular Kondisi fossa glenoid dan eminence

47

2.7 Treatment dan Penanganan Trauma Oklusi Trauma Oklusi dapat dikurangi dengan : Occlusal adjustment (penyesuaian oklusal) Management of parafunctional habits Temporary, provisional or long-term stabilization of mobile teeth with removable or fixed appliances Orthodontic Occlusal reconstruction (ortho, konservasi, prostho) Extraction of selected teeth Dibuatkan lempeng gigitan/nightguard Dilakukan selective grinding Dibuatkan splint

Night Guard

Splint

2.7.1 Occlusal Adjustment

48

Occlusal adjustment adalah usaha untuk menciptakan oklusi sesuai rencana ideal dengan menggerinda permukaan oklusal dan permukaan lain. Tujuan dari OA adalah: Membagi kekuatan daya kunyah seluas mungkin secara seimbang Mengkoordinasikan oklusi media dengan posisi terminal hinge Menghilangkan kontak premature pada gerakan oklusi dan artikulasi Mengarahkan daya oklusal sejauh mungkin dari sumbu panjang gigi Memelihara cara mengunyah yang baik

5 Tahap OA Menurut Schuylers: 1. Penggerindaan inisial 2. Penyesuaian posisi terminal 3. Penyesuaian pada posisi protrusive 4. Penyesuaian pada posisi lateral 5. Menciptakan anatomi oklusal

2.7.2 Coronoplasty

49

Coronoplasty adalah tindakan mekanis untuk menghilangkan suprakontak oklusal yang mungkin ada selama gerakan fungsional. Hal tersebut dapat dicapai kembali dengan cara membentuk kembali permukaan mahkota gigi (reshaping) sehingga suprakontak oklusal hilang dan posisi mandibula stabil. Coronoplasty dilakukan hanya pada keadaan yang sudah terbukti ada trauma oklusinya dan dilaksanakan setelah keadaan inflamasi gusi reda. Pada kondisi ini, tindakan coronoplasty didahulukan, yaitu: Kerusakan infrabony disertai trauma oklusi Pada gigi yang sangat goyang karena trauma oklusi Sebelum bedah mukogingival Pada gigi yang mengalami fraktur

Cara melakukan coronoplasty adalah: Buat cetakan studi model yang dipasang pada articulator anatomic sehingga dapat dianalisa hubungan oklusal yang tepat Pemeriksaan premature kontak dengan menggunakan kertas artikulasi, mylarstrips, lempengan wax Melakukan fremitus test, dengan meletakkan jari pada permukaan fasial gigi rahang atas untuk merasakan getaran pada gigi yang premature kontak ketika pasien mengoklusikan giginya. Fremitus test diklasifikasikan menjadi 3 tahap: ringan, moderat, parah ( giginya bergeser saat kontak) Melakukan koreksi pada suprakontak yang sudah jelas ada dengan cara: grooving, spheroiding, pointing Dilakukan cek oklusi kembali, setelah sudah dianggap pas dan selesai lalu dipoles

2.7.3

Grooving Grooving adalah prosedur memperbaiki kedalaman groove yang sudah ada,

dikerjakan dengan menggunakan bor tapered diamond

50

2.7.4

Spheroiding Spheroiding adalah mengurangi suprakontak dan memperbaiki kontur asli gigi.

Dikerjakan dengan menggunakan rotary diamond stone dengan gerakan seperti mengecat. Dimulai dari 2-3 mm mesial/distal prematuritas. (Recontouring dilakukan dari tepi oklusal) 2.7.5 Pointing Pointing adalah prosedur memperbaiki bentuk cusp menjadi normal, tanpa mengurangi ketinggian cusp.

2.10 Treatment Tujuan treatment adalah mengembalikan fungsi dan kenyamanan dari jaringan periodontium itu sendiri. Untuk mendapatkan tujuan dari treatment hal hal yang dupayakan diantaranya: 1. Occlusal adjustment (penyesuaian oklusal) 2. Management of parafunctional habits 3. Temporary, provisional or long-term stabilization of mobile teeth with removable or fixed appliances 4. Orthodontic 5. Occlusal reconstruction 6. Extraction of selected teeth

51

KESIMPULAN Pasien laki-laki ini didiagnosa mengalami trauma oklusi akibat bruxism. Manifestasi klinisnya adalah sebagaimana yang terlihat pada radiogram, yaitu laminadura pasien terlihat discontinued. Treatment yang dapat diterapkan untuk pasien ini adalah dibuatkan night guard.

52

DAFTAR PUSTAKA

Carranza.2006.Clinical Periodontology.Saunders Elsevier. J.D Manson dan B.M Eley.British outline of periodontics. Pharoah, White. 2004. Oral Radiology, Principles and Interpretation. Ed 5. USA: Mosby. Proffit, W.R., Fields, HW., Sarver, DM. 2007. Contemporary Orthodontics, 4th. Canada: Mosby Elsevier. Roth G and Calmes R. 1981. Oral Biology. St.Louis:Mosby. Whaites,Eric.Essential of Dental Radiography and Radiology 3rd edition.Churchill Livingstone. http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&cad=rja&ved=0CD0 QFjAC&url=http%3A%2F%2Flontar.ui.ac.id%2Ffile%3Ffile%3Ddigital%2F127446-R17-PER196-Kerusakan%2520jaringan-Literatur.pdf&ei=XKVUvHROoWOrQeTkYCIDw&usg=AFQjCNHIXzSMc6YDLoiDLgrEkyB7jhXT4g&sig2=IVln W5KYTrL3HwX3GZUzQw&bvm=bv.57155469,d.bmk (diakses tanggal 27 November 2013)