Anda di halaman 1dari 5

Etika Administrasi / herwanparwiyanto / 2009

ETIKA ADMINISTRASI NEGARA DALAM BIROKRASI PEMERINTAHAN DI INDONESIA

Herwan Parwiyanto Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta

Etika merujuk pada dua hal, pertama, berkenaan dengan disiplin ilmu yang mempelajari nilai-nilai yang dianut manusia beserta pembenarannya. Kedua, etika merupakan pokok permasalahan dalam disiplin ilmu itu sendiri yang berupa nilai-nilai hidup dan hukum-hukum yang mengatur tingkah laku manusia. Etika juga tidak lepas dari moral, yang mana antara etika dan moralitas saling berhubungan. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk. Etika berdasar Kamus Besar Bahasa Indonesia (Departemen Pendidikan & Kebudayaan, 1988) dijelaskan sebagai berikut : 1. Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak). 2. Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak. 3. Nilai mengenai benar dan salah yang dianut golongan atau masyarakat. Tujuan dari etika sendiri adalah memberitahukan bagaimana kia dapat menolong orang atau manusia dalam kebutuhan riil yang secara susila dapat dipertanggungjawabkan. Etika umumnya adalah penerapan prinsipprinsip moral dalam kehidupan, sikap kritis dan pandangan seseorang bisa menggunakan pedoman ideologi Pancasila dan juga GBHN. Etika ialah dunia filsafat, nilai, dan moral, sementara itu Administrasi ialah dunia keputusan

Halaman 1

Etika Administrasi / herwanparwiyanto / 2009

tindakan. Dimana etika lebih bersifat abstrak dan berkenaan dengan persoalan baik dan buruk, sedangkan administrasi adalah konkret dan harus mewujudkan apa yang diinginkan / get the job done. Etika dalam administrasi adalah bagaimana membuat keterkaitan keduanya. Bagaimana gagasan administrasi seperti efisiensi, ketertiban, kemanfaatan, produktifitas dapat menjawab etika dalam prakteknya. Serta bagaimana gagasan dasar etika dapat mewujudkan yang baik dan menghindari hal yang buruk itu dapat menjelaskan hakekat administrasi. Diperlukan etika dalam administrasi karena ini akan memberikan contoh yang baik, sebab setiap orang sebenarnya memiliki kesadaran masing-masing namun tidak pernah menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Etika perlu dikembangkan, terutama dalam pelaksanaan birokrasi pemerintahan, dimana etika administrasi memiliki fungsi sesuai penerapan pada bidangnya tersebut. Etika ini akan membuat seseorang bisa berdisiplin, bertanggung jawab atas semua sikap dan perbuatan yang dilakukan. Etika dalam birokrasi pemerintahan sangatlah penting, dalam hal ini untuk mengatasi permasalahan-permasalahan dalam struktur birokrasi pemerintahan dan dapat mengoptimalkan kinerja birokrasi dalam melakukan pelayanan pada masyarakat. Alasan dari pentingnya etika dalam birokrasi adalah ketika dihadapkan pada kenyataan yang jauh dari harapan, dimana aparatur di birokrasi diharapkan bekerja dengan penuh rasa tanggung jawab, kejujuran, dan adil. Realitas yang nyata, sama sekali para aparatur tidak mencerminkan kondisional yang bermoral dan beretika. Ada beberapa alasan mengapa Etika Birokrasi penting diperhatikan dalam upaya pengembangan pemerintahan yang efisien, tanggap, dan akuntabel.

Halaman 2

Etika Administrasi / herwanparwiyanto / 2009

Max Weber, selaku peletak dasar tentang konsep organisasi pemerintah moderen menganggap bahwa birokrasi adalah sebagai lembaga netral yang berfungsi sekedar menjalankan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan para politisi. Sedangkan kelompok politisi yang secara politis dan moral merupakan representasi dari kepentingan umum dan dipaksa tunduk kepada rakyat. Birokrasi di Indonesia dapat dikatakan sangat jauh dari ideal, karena dalam praktek politik yang terjadi, justru birokrasi-lah yang mempunyai kekuatan untuk melakukan kontrol terhadap para politisi. Sebaliknya, politisi tidak punya kekuatan yang memadai untuk melakukan kontrol terhadap birokrasi. Sementara itu, Dwight King (1979) memandang birokrasi Indonesia sebagai regime authoritarian bureaucratic, yang kemudian di Indonesia dipopulerkan Mohtar Masoed dengan memadukan konsep korporatisme negara (state corporation) dari Schmitter (Masoed, 1989). Model ini memandang negara sebagai variabel penting dalam pembangunan, yang berasal dari kekuatan sosial lain. Budaya mendahulukan keselamatan jabatan dan dominasi nilai-nilai materialisme serta adanya hedonisme mendorong munculnya rent-seeker. Hal ini mendorong adanya erosi pada standar moral birokrasi. Akibatnya, terjadi seperti yang dikemukakan Prof. Soedjatmoko sebagai disjunction between power and morality (Thomson, 1994). Alasan pentingnya etika dalam birokrasi untuk mewujudkan pemerintahan yang efisien, tanggap, dan juga terjaga akuntabilitasnya, menurut Agus Dwiyanto adalah : 1. Pertama, masalah-masalah yang dihadapi oleh birokrasi pemerintah dimasa mendatang akan semakin kompleks. Modernitas masyarakat yang semakin meningkat telah melahirkan berbagai masalah publik yang harus diselesaikan oleh birokrasi pemerintah. 2. Kedua, keberhasilan pembangunan yang telah meningkatkan dinamika dan kecepatan perubahan dalam lingkungan birokrasi.

Halaman 3

Etika Administrasi / herwanparwiyanto / 2009

Dinamika yang terjadi dalam lingkungan tentu saja menuntut kemampuan birokrasi untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian agar tetap tanggap terhadap perubahan yang berlangsung. Kesadaran dan pemahaman yang tinggi mengenai kekuasaan birokrasi dan implikasi kekuasaan hanya dapat dilakukan melalui pengembangan etika birokrasi. Etika ini dapat menjadi sumber tuntunan dan sekaligus tantangan bagi praktisi administrasi publik dan semua fihak yang menginginkan perbaikan kualitas birokrasi di Indonesia. Para perangkat birokrasi di Indonesia, yaitu Pegawai Negeri (baik Sipil maupun Militer) secara organisasi dan hierarki melakukan tugas dan fungsi masing-masing sesuai aturan yang ditetapkan. Adanya kode etik pegawai negeri yang diatur dalam Undang-undang Kepegawaian Negara, juga adanya penegakan hukum yang tegas akan memberikan pagar yang jelas bagi ruang gerak birokrat agar sesuai aturan yang berlaku. Etika birokrasi menjadi norma yang melekat pada perangkat birokrasi itu sendiri dimanapun dan kapanpun aparat berada, baik ketika menjalankan tugas di kantor maupun saat berada di tengah-tengah masyarakat setelah usai jam kerja.

Halaman 4

Etika Administrasi / herwanparwiyanto / 2009

Daftar Pustaka

Agus Dwiyanto. 2000. Pemerintahan Yang Baik, Tanggap, Efisien, dan Akuntabel, Kontrol atau Etika. Seminar Forum Kebijakan Publik. Jogjakarta : Program Pascasarjana UGM. Dwight Y. King. 1979. Indonesia New Order as a Bureaucratic Polity, a NewPatrimonial Regime as a Bureaucratic Authoritarian Regime : What Difference Does It Make. Los Angeles : Makalah Pertemuan the Association of Asian Studies. Franz Magnis Suseno. 1992. Berfilsafat dari Konteks. Jakarta : PT gramedia Pustaka Utama. Haryanto. 2002. Kuliah Birokrasi Indonesia. Politik Lokal Otonomi Daerah. Jogjakarta : Program Pascasarjana UGM. Kenneth W. Thompson. 1994. Culture, Development, and Democracy : a Tribute to Soedjatmoko. Tokyo : United Nation University Pess. K. Bertens. 1997. Etika. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama Mohtar Masoed. 1989. Ekonomi dan Struktur Politik Orde Baru 1966-1971. Jakarta : LP3ES. MH Ismail. 2009. Etika Birokrasi. Malang : Averroes. Sheldon S dan David T. 2004. Government, Ethics, and Managers. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Halaman 5