Anda di halaman 1dari 7

Differential Diagnosis Kanker payudara dapat tumbuh di mana saja pada kelenjar mammae.

Tumor biasanya dikelompokkan berdasarkan asal selnya; lobuler atau duktal. Karsinoma duktal mencakup 85% kanker payudara dan dapat bersifat non ivasif (intraduktal) maupun infiltratif. Karsinoma duktal yang secara histologis ditemukan ada membran basal duktus disebut karsinoma intraduktal atau karsinoma duktal in situ (ductal carcinoma insitu, DCIS). DCIS diperkirakan merupakan lesi prekursor untuk terjadinya karsinoma invasif. Setidaknya 35% lesi ini akan berlanjut menjadi kanker yang invasif dalam lima tahun.

Gambar: Anatomi Payudara Sumber: http://pedulipayudara.wordpress.com/2011/10/20/ Setelah membran basal duktus tertembus, maka terjadi karsinoma invasif. Tipe

karsinoma invasif yang paling banyak adalah karsinoma duktal, yang mencakup 79% dari seluruh karsinoma invasif. Karsinoma duktal invasif merupakan bentuk keganasan payudara yang paling sering ditemukan. Tumor tipe ini didiagnosis dengan cara mengeleminasi

kemungkinan tumor lain. Hal ini karena tumor ini tidak mempunyai ciri morfologik atau makroskopik yang khusus. Metastasis makroskopik maupun mikroskopik ke kelenjar aksila terjadi pada 60% kasus. Keganasan ini paling sering timbul pada wanita premenopause atau pascamenopause pada usia dekade kelima dan keenam, sebagai massa tunggal yang padat. Tersering ditemukan pasien dengan hormon reseptor positif fan HER2 negatif. Dapat

ditemukan keadaan sebaliknya atau kedua-duanya negatid dengan presentase masing-masing 18%. Jenis terbanyak berikutnya adalah karsinoma lobuler. Jenis ini berkembang pada duktus terminal pada alveoli dan mencakup sekitar 10% kanker payudara invasif. Angka

kejadian meningkat pada wanita pascamenopause, mungkin disebabkan oleh penggunaan terapi hormon. Rata-rata usia penderita karsinoma ini adalah beberapa tahun lebih tua

bidandingkan dengan penderita karsinoma duktal invasif. Gambaran histopatoginya berupa sel kecil dan nuklei yang bulat, nukleoli yang tidak jelas, dan sitoplasma yang sedikit. Mikrokalsifikasi pada karsinoma lobular invasif lebih sedikit dibandingkan dengan pada karsinoma duktal invasif. Pewarnaan khusus mengkonfirmasi adanya musin intrasitoplasma yang menggantikan nukleus (signet-ring cell carcinoma). Gambaran klinis karsinoma lobular invasif bervariasi mulai dari asimtomatik hingga berupa massa yang sangat besar. Biasanya tumor bersifat multifokal, multisentrik, dan bilateral. Tipe tumor ini lebih sering menyerng payudara bilateral dibandingkan dengan tipe payudara lainnya. Kemungkinan karsinoma ini menyarang payudara bilateral adalah 20%. Karena pertumbuhannya yang ganas dan

gambaran mammografinya sering menunjukka lesi tumor yang lebih kecil dari yang sebenarnya, karsinoma lobular invasif kadang sulit dideteksi. Kebanyakan pasien

mempunyai reseptor estrogen yang positif (70-95%), manakala HER2 sering negatif. Jenis karsinoma infiltratif yang lebih jarang adalah karsinoma meduler, karsinoma musinona (koloid), dan penyakit Paget. Penyakit Paget adalah merupakan subtipe khusus dari karsinoma duktal infiltratif yang berlokasi pada duktus laktiferus utama. Penyakit Paget pada puting tampak sebagai erupsi ekzematosa kronik yang berkembang menjadi ulkus basah. Penyakit Paget berkait erat dengan DCIS ekstensif yang menjadi keganasan yang invasif. Biopsi jaringan puting akan menunjukkan populasi sel DCIS yang seragam dan adanya sel Paget yaitu sel besar, pucat dan bervakoul pada lapisan Malphigi kulitnya. Biasanya reseptor hormon pada penyakit Paget negatif. Terapi bedah Paget merupakan lumpektomi dengan mengikutkan kompleks puting-areola, mastektomi simpel atau mastektomi radikal dimodifikasi, bergantung pada luasnya penyebaran kanker invasif tersebut. Karsinoma meduler kerap merupakan keganasan payudara yang dikaitkan dengan BRCA-1 (1,9% pada kasus kanker payudara BRCA). Pasien biasanya berusia kurang dari 50 tahun. Pada pemeriksaan fisik, karsinoma jenis ini biasanya berukuran besar dan terletak

jauh di dalam payudara. Kanker ini teraba lunak dan bersifat hemoragik. Pembesaran cepat tumor ini mungkin berasal dari nekrosis dan perdarahan dalam massa tumor. Sekitar 50% karsinoma meduler berkaitan dengan DCIS pada tepi tumornya. Hanya 10% sel karsinoma medular payudara yang memiliki resptor hormon. Penderita karsinoma medular memiliki angka harapan hidup lima tahun yang lebih baik dibandingkan dengan penderita karsinoma duktal invasif atau karsinoma lobular invasif. Karsinoma musinous merupakan jenis kanker payudara yang biasanya timbul pada orang lanjut usia berupa massa yang cukup besar. Tumor ini tumbuh perlahan-lahan dalam masa beberapa tahun. Tumor ini berupa kumpulan musin ekstraselular yang didalamnya terdapat sel-sel kanker grade rendah. Kadang terjadi fibrosis dalam massa tumor sehingga tumor teraba sebagai massa yang agak kenyal. Sekitar 66% tumor ini memiliki reseptor hormon estrogen dan progesteron, manakala HER2 negatif. Metastasis nodul limfe terjadi pada 33% kasus, dan rata-rata harapan hidup lima tahun dan 10 tahunnya dalah 73% dan 59%.

Patofisiologi Tumerogenesis kanker payudara merupakan suatu proses yang multitahap. Setiap tahapan ini berkaitan dengan satu mutasi tertentu atau lebih di gen regulator minor atau mayor.

Gambar: Patogenesis Karsinona Mammae Sumber: http://www.necturajuice.com/definisi-dan-jenis-kanker-payudara/ Secara klinis dan histopatologi terjadi beragam tahap morfologis dalam perjalanan menuju keganasan. Hiperplasia duktal, ditandai dengan proliferasi sel-sel epitel poliklonal yang tersebar tidak rata yang pola kromatin dan bentuk inti-intinya saling bertumpang tindih dan lumen duktus yang tidak teratur sering menjadi tanda awal kecenderungan keganasan. Sel-sel di atas relatif memiliki sedikit sitoplasma dan batas selnya tidak jelas dan secara sitologis jinak. Perubahan dari hiperplasia ke hiperplasia atipik (klonal) yang sitoplasmanya lebih jelas, intinya lebih jelas dan tidak tumpang tindih, dan lumen duktus yang teratur, secara klinis meningkatkan resiko kanker payudara. Setelah hiperplastik atipik, tahap berikutnya adalah timbulnya karsinoma in situ, baik karsinoma duktal maupun lobular. Pada karsinoma in situ, terjadi proliferasi sel yang

memiliki gambaran sitologis sesuai dengan keganasan, tetapi proliferasi sel tersebut belum menginvasi stroma dan menembus membran basal. Karsinoma insitu lobular biasanya menyebar ke seluruh jaringan payudara (bahkan bilateral) dan biasanya tidak teraba dan tidak terlihat pada pencitraan. Sebaliknya, karsinoma in situ duktal merupakan lesi duktus segmental yang dapat mengalami kalsifikasi sehingga memberi penampilan yang beragam. Setelah sel-sel tumor menembus membran basal dan menginvasi stroma, tumor menjadi invasif, dapat menyebar hematogen dan limfogen sehingga menimbulkan metastasis.2 Diagnosa banding yang boleh diambil adalah kista payudara. Kista payudara dapat

menimbulkan benjolan pada payudara. Namun begitu, kista biasanya merupakan satu tumor jinak dengan etiologi tidak diketahui. Kista akan teraba sebagai massa yang berbatas tegas, mobil, dan berisi cairan. Kista payudara biasanya terjadi pada usia dekade kelima, dan kejadiannya menurun setelah menopause. Fibroadenoma juga menimbulkan benjolan dengan konsistensi kenyal padat. Namun, firbroadenoma juga merupakan tumor jinak. Tumor ini tidak melekat ke jaringan sekitarnya dan amat mudah digerakkan. Biasanya tidak menimbulkan keluhan nyeri, namun boleh juga ada nyeri. Fibroadenoma biasanya dijumpai pada perempuan muda. Perubahan fibrokistik (FCC) boleh menimbulkan keluhan bengkak, benjolan yang nyeri bila disentuh, adanya pengerasan sebelum periode haid sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Pada mamografi, jaringan payudara hanya tampak memadat tanpa adanya

kelainan lain. Ini biasanya diakibatkan oleh ketidak seimbangan hormonal. Dapat terjadi pada segala usia. Nekrosis lemak menimbulkan benjolan yang teraba keras, nyeri, namun tidak membesar. Kadang didapatkan juga retraksi kulit dan batas biasanya tidak rata. Nekrosis lemak biasanya terjadi akibat cedera. Secara histopatologik, terdapat nekrosis jaringan lemak yang kemudian menjadi fibrosis. Tumor ganas lain yang boleh terjadi di payudara adalah sarkoma dan limfoma. Sarkoma kadang-kadang terjadi dalam payudara. Sarkoma yang paling sering

ditemukan adalah angiosarkoma. Angiosarkoma boleh bersifat primer, sesudah terapi radiasi untuk kanker payudara atau pada kulit lengan yang mengalami edema kronis setelah

mastektomi. Gambaran klinisnya adalah ruam merah hingga unggu pada kulit yang diradiasi. Pada derajat tinggi, angiosarkoma dapat menonjol keluar ke permukaan kulit. Biasanya timbul pada wanita muda.3 Tumor filoides merupakan tumor yang berasal dari jaringan penyokong nonepitel. Tumor ini tumbuh dengan cepat dan dalam ukuran yang besar.

Payudara asimetris, mobil dan berbatas tegas pada tumor filoides yang jinak. Fiksasi tumor pada kulit atau dinding dada sangat jarang terjadi, namum kasus tumor filoides boleh menjadi ganas. Tumor ini dapat dijumpai pada semua usia, namun sering pada sekita usia 30 tahun. Limfoma dapat terjadi secara primer dalam payudara atau payudara dapat terkena secara sekunder oleh limfoma sistemik. Sebagian tumor tersebut berasal dari sel B yang besar. Wanita muda yang menderita limfoma Burkitt dapat ditemukan dengan kelainan payudara yang masif serta bilateral dan kerap kali dalam keadaan hamil atau menyusui. Tumerogenesis kanker payudara merupakan suatu proses yang multitahap. Setiap tahapan ini berkaitan dengan satu mutasi tertentu atau lebih di gen regulator minor atau mayor. Terdapat dua jenis sel utama apada payudara orang dewasa, yaitu sel mioepitel dan sel sekretorik lumen. Secara klinis dan histopatologi terjadi beragam tahap morfologis dalam perjalanan menuju keganasan. Hiperplasia duktal, ditandai dengan proliferasi sel-sel epitel poliklonal yang tersebar tidak rata yang pola kromatin dan bentuk inti-intinya saling bertumpang tindih dan lumen duktus yang tidak teratur sering menjadi tanda awal kecenderungan kehanasan. Sel-sel di atas relatif memiliki sedikit sitoplasma dan batas selnya tidak jelas dan secara sitologis jinak. Perubahan dari hiperplasia ke hiperplasia atipik (klonal) yang sitoplasmanya lebih jelas, intinya lebih jelas dan tidak tumpang tindih, dan lumen duktus yang teratur, secara klinis meningkatkan resiko kanker payudara. Setelah hiperplastik atipik, tahap berikutnya adalah timbulnya karsinoma in situ, baik karsinoma duktal maupun lobular. Pada karsinoma in situ, terjadi proliferasi sel yang

memiliki gambaran sitologis sesuai dengan keganasan, ettapi proliferasi sel tersebut belum menginvasi stroma dan menembus membran basal. Karsinoma insitu lobular biasanya menyebar ke seluruh jaringan payudara (bahkan bilateral) dan biasanya tidak teraba dan tidak terlihat pada pencitraan. Sebaliknya, karsinoma in situ duktal merupakan lesi duktus segmental yang dapat mengalami kalsifikasi sehingga memberi penampilan yang beragam. Setelah sel-sel tumor menembus membran basal dan

menginvasi stroma, tumor menjadi invasif, dapat menyebar hematogen dan limfogen sehingga menimbulkan metastasis.2