Anda di halaman 1dari 17

Kor Pulmonale: Penyakit yang Diperberat Pajanan di Tempat Kerja Junisarah binti Ab.

Hamid (102010379) Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jl. Terusan Arjuna, No.6, Jakarta 11510 Telp: 56942061, Faks: 5631731, Email: kaio0307@live.com.my

Pendahuluan Occupational medicine merupakan satu cabang ilmu kedokteran yang menuntut seorang dokter untuk memainkan peranan penting dalam pencegahan penyakit akibat kerja dan promosi kesehatan kerja. Hal ini membolehkan suatu permasalah kesehatan yang terkait dengan pekerjaan ditangani dengan cara mengkaji permasalahan yang ada pada lingkungan kerja tersebut dan dicari jalan penyelesaian berdasarkan pada Ilmu Kedokteran Okupasi. Dalam makalah ini, saya coba memahami dengan lebih lanjut mengenai penyakit yang diperberat oleh pajanan pajanan di tempat kerja melalui pengkajian faktor-faktor pajanan, penatalaksanaan dan pencegahan dari penyakit akibat kerja berdasarkan kasus pasien dengan keluhan sakit dada kiri dan sesak napas. Saya akan menggunakan tehnik pendekatan klinis secara individu (tujuh langkah) bagi menegakkan diagnosis dari kasus ini. Hipotesis yang diambil adalah Tn IM menghidapi kor pulmonale yang merupakan komplikasi dari PPOK yang diperberat oleh pajanan di lingkungan kerja. Hipotesis ini akan diuji

sepanjang penulisan makalah ini. Saya berharap makalah ini akan membantu saya serta yang membaca mendapat pemahaman yang lebih baik mengenai materi yang dibahaskan.

JUNISARAH AB.HAMID 102010379 B3

Page 1

Diagnosis Klinis Langkah pertama dalam identifikasi penyakit akibat kerja melalui pendekatan klinis dengan menggunakan tujuh langkah diagnosis okupasi adalah dengan melakukan diagnosis klinis. Diagnosis klinis terdiri dari anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang dan pemeriksaan tempat kerja seadainya diperlukan. Pada anamnesis, antara yang perlu

ditanyakan pada pasien adalah riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga dan riwayat pekerjaan. Pada pemeriksaan fisik, dilakukan pemeriksaan umum dan khusus. Pemeriksaan penunjang boleh dilakukan sesuai dengan indikasi penyakit. Pemeriksaan tempat kerja boleh dilakukan untuk memeriksa beberapa hal yang mempengaruhi kesehatan dan keselamatan kerja termasuk penerangan, kebisingan dan kelembapan. Pada kasus Tn IM tidak dilakukan pemeriksaan tempat kerja. Berikut adalah hasil diagnosis klinis Tn IM: 1. Anamnesis Nama Pasien: Tn IM. Umur: 46 tahun. Pekerjaan: Pedagang bakso (mangkal) Status Pendidikan: Sekolah Dasar Keluhan Utama: Sakit dada kiri dan sesak napas sejak dua hari yang lalu. Keluhan Tambahan: Riwayat Penyakit Sekarang: Sesak dan sakit dada kini bertambah. Kaki pasien membengkak. Pasien sudah 15 tahun bekerja sebagai pedagang bakso. Setiap hari jualan, bangun jam tiga pagi (0300) untuk membeli barang-barang jualan. Setelah pulang kerumah, Tn IM beristirahat dari jam enam pagi (0600) sampai delapan pagi (0800). Tn IM tidak mempunyai pembantu, namun dia dibantu isterinya menyiapkan barang jualan dirumah. Setelah itu, Tn IM akan keluar berdagang bakso secara mangkal sampai jam delapan malam (2000). Riwayat Penyakit Dahulu: Sewaktu muda, pernah menderitai sakit paru lama, disertai batuk dan sesak, dan mendapatkan pengobatan yang lama. pengobatan, keluhan batuk menghilang, namun kemudiannya muncul lagi. Riwayat Penyakit Keluarga: Ibu pasien menghidap hipertensi. Riwayat Psikososial: Tn IM sering bergadang, minum kopi. merokok satu tahun yang lalu.
JUNISARAH AB.HAMID 102010379 B3 Page 2

Selepas

Pasien berhenti

2. Pemeriksaan Fisik Tekanan Darah: 140/90 mmHg Denyut Nadi: 88 kali per menit Hitung Napas: 28 kali per menit Suhu: 36.4C Berat Badan: 55 kg Tinggi Badan:160 cm IMT: 21.484 (Normal) Pemeriksaan JVP: Meningkat

3. Pemeriksaan Penunjang Ekokardiografi: Hipertrofi ventrikel kanan Foto Thoraks: Atrium kanan besar Pemeriksaan Laboratorium: Leukositosis, PO2 meningkat, CO meningkat

Pajanan yang Dialami Langkah kedua dalam identifikasi penyakit akibat kerja melalui pendekatan klinis dengan menggunakan tujuh langkah diagnosis okupasi adalah dengan mencari tahu pajanan yang dialami oleh pasien dalam menjalankan kegiatan sehari-hari. Pajanan yang dinilai haruslah meliputi pajanan yang dialami saat ini dan juga pajanan yang dialami sebelumnya. Informasi mengenai pajanan yang dialami oleh pasien boleh didapatkan melalui anamnesis. Tabel 1 diabawah memaparkan pajanan yang mungkin dialami Tn IM dalam kegiatan sehariharinya:

JUNISARAH AB.HAMID 102010379 B3

Page 3

Tabel 1: Pajanan yangDialami Tn IM Urutan Kegiatan Bahaya Potensial Fisik Angin Kimia Debu Asap Biologi Serangga Bakteri Jamur Virus Ergonomi Bahan berat Psikososial Lelah Kenaikan harga barang makanan THT Gangguan Muskuloskeletal Kulit Kardiovaskuler Sistem pernapasan Membangun Angin tenda dan menyiapkan gerobak Selumbar kayu Alatan tajam Debu Asap Serangga Bakteri Jamur Virus Barang berat Lelah Tenda dan gerobak yang ada tidak sesuai keinginan dan kebutuhan Memasak mie dan menyiapkan Angin Benda panas Asap Serangga Bakteri Jamur Gerakan berulang Posisi statis Lelah Bahan yang digunakan tidak THT Gangguan Muskuloskeletal Kulit Kardiovaskuler Sistem pernapasan THT Gangguan Muskuloskeletal Tersiram air panas Trauma Ketimpa tenda, gerobak Trauma Gangguan Kesehatan Resiko Kecelakaan Kerja Berangkat ke pasar Kecelakaan lalu lintas Ketimpa barang belanja

JUNISARAH AB.HAMID 102010379 B3

Page 4

makanan untuk jualan Berdagang bakso

Alatan tajam

Virus

Berdiri lama

sesuai keinginan dan kebutuhan

Kulit Kardiovaskuler Sistem pernapasan

Angin Alatan tajam

Asap Debu

Serangga Bakteri Jamur Virus

Gerakan berulang Posisi statis Berdiri lama

Pelanggan ramai Ketidakpuasan hati pelanggan

THT Gangguan Muskuloskeletal Kulit Kardiovaskuler Sistem pernapasan

Trauma

Mengemas barang-

Angin Selumbar

Detergen Debu

Serangga Bakteri Jamur Virus

Barang berat

Lelah Barang rusak Jualan tersisa

THT Gangguan Muskuloskeletal Kulit Kardiovaskuler Sistem pernapasan

Trauma

barang yang kayu digunakan untuk jualan Pulang ke rumah Polutan di ruangan tertutup Kafein Rokok Alatan tajam

Serangga Bakteri Jamur Virus

Lelah Tidak cukup tidur

THT Gangguan Muskuloskeletal Kulit Kardiovaskuler Sistem pernapasan

Trauma

JUNISARAH AB.HAMID 102010379 B3

Page 5

Hubungan Pajanan dengan Penyakit Langkah ketiga dalam identifikasi penyakit akibat kerja melalui pendekatan klinis dengan menggunakan tujuh langkah diagnosis okupasi adalah dengan mencari tahu hubungan pajanan yang dialami oleh pasien dengan penyakit. Langkah ini dimulai dengan identifikasi pajanan yang ada, lalu dicari apakah ada hubungan antara pajanan dengan penyakit yang dialami pasien tersebut. Hubungan antara pajanan dengan penyakit ini haruslah didukung oleh bahan ilmiah seperti literatur atau penelitian. Seandainya belum ada bahan ilmiah yang mampu membuktikan hubungan antara pajanan dan penyakit, seorang dokter boleh menggunakan pengalaman yang ada padanya untuk menentukan apakah ada hubungan antara pajanan dengan penyakit. Ditanyakan juga pada pekerja apakah pada pendapatnya keluhan yang dialami terkait dengan pekerjaan beliau. Namun, penentuan apakah pajanan ini ada hubungan dengan penyakit tersebut haruslah dilakukan berdasarkan tehnik evidence based. Dalam kasus Tn IM, berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, diagnosis kerja yang digunakan untuk kasus ini adalah kor pulmonale. Kor pulmonale ini terjadi akibat komplikasi dari penyakit paru obstruktif kronis. Beberapa faktor resiko dari PPOK adalah:1 1. Perokok 2. Saudara tingkat pertama perokok 3. Genetika: Defek gen 1-antitripsin 4. Infeksi saluran napas berulang 5. Infeksi saluran pernapasan kronis 6. Pajanan debu pekerjaan: emas, kadmium, batubara 7. Polusi udara Antara faktor resiko dari PPOK adalah pajanan kepada polusi udara. merupakan merupakan seorang tukang bakso yang berdagang secara mangkal. Tn IM Hal ini

menyebabkan Tn IM terdedah pada polusi udara. Berdasarkan beberapa penelitian, polusi udara yang didapatkan sama ada di ruangan terbuka atau di ruangan tertutup boleh meningkatkan angka kejadian kesakitan dan kematian yang terkait dengan PPOK. Polusi udara di ruangan terbuka terutamanya disebabkan oleh substansi yang dikenal sebagai particulate matters.2 Particulate matter adalah suatu campuran kompleks dari partikel yang sangat kecil dan uap air. Partikel ini mengandung pelbagai macam komponen termasuk asam

JUNISARAH AB.HAMID 102010379 B3

Page 6

(seperti nitrat dan sulfat), zat kimia organik, logam, tanah atau partikel debu. Particulate matters ini boleh dibagi menjadi dua yaitu:3 1. Inhalable coarse particles: Biasanya didapatkan di dekat jalan dan juga tempat yang berdebu 2. Fine particles: Biasanya didapatkan pada asap kebakaran dan kabut, dari perindustrian, kendaraan, dan power plant. Mekanisme morbiditas dan mortalitas ini sering kali terkait dengan mekanisme kardiovaskular, seperti gangguan koagulasi dan inflamasi. Selain itu, terjadi kerentanan terhadap infeksi pernapasan, peningkatan obstruksi pernapasan dan gangguan pertukaran gas.2 Polusi di ruangan tertutup biasanya terjadi akibat aktiviti pemanasan dan memasak, penggunaan cat yang tidak sesuai standar keamanan, karpet dan perabot, alergen dan jamur karena kelembapan, asap rokok dan binatang peliharaan.2 Bahan-bahan polusi ini mudah sekali diterbangkan oleh angin. Tn IM banyak

terdedah kepada paparan angin dan debu dalam kegiatan sehari-harinya. Hal ini memungkin Tn IM untuk menghadapi resiko pajanan terhadap bahan-bahan polusi udara yang cukup besar. Pajanan yang Dialami Cukup Besar Langkah keempat dalam identifikasi penyakit akibat kerja melalui pendekatan klinis dengan menggunakan tujuh langkah diagnosis okupasi adalah dengan mencari tahu apakah pajanan yang dialami oleh pasien cukup besar sehingga boleh menimbulkan penyakit yang dialaminya. Langkah ini melibatkan pemahaman mengenai patofisiologi penyakit, disertai bukti kuantitatif yaitu epidemiologisnya dan bukti kualitatif. Bukti kualitatif meliputi

beberapa hal seperti cara dan proses kerja, lama kerja dan lingkungan kerjanya. Kor pulmonale merupakan counterpart penyakit jantung hipertensif sistemik yang terjadi pada jantung kanan. Pada dasarnya, hipertensi pulmonal (yang disebabkan oleh

kelainan pada struktur atau fungsi paru) menyebabkan dilatasi atau hipertrofi ventrikel kanan. Hipoksemia dan asidosis menyebabkan vasokonstriksi pada vaskular pulmonal. Hal ini

memperberat hipertensi pulmonal. Kor pulmonale dapat terbagi kepada dua; akut dan kronik. Kor pulmonale akut merupakan keadaan dilatasi ventrikel kanan sesudah terjadi embolisasi
JUNISARAH AB.HAMID 102010379 B3 Page 7

pulmonal yang masif. Kor pulmonale kronik pula terjadi karena overload tekanan yang kronik pada ventrikel kanan. Gangguan kardiovaskular ini sering timbul sekunder akibat penyakit parenkim paru. Penderita datang dengan keluhan dispnea, perasaan nyeri dada, sakit kepala dan sinkop. Penderita mungkin kelihatan sianotik dengan gegala clubbing jari tangan dan edema kaki. Vena-vena juga kelihatan melebar. Gejala kantung sering kali disamarkan oleh penyakit paru yang mendasarinya. Oleh itu, pada auskultasi, bunyi jantung dapat sama sekali tidak didengar karena ditutupi bunyi paru yang membesar secara berlebihan.4 Kor pulmonale, dapat terjadi akibat komplikasi dari PPOK yang tidak ditangani dengan baik. PPOK adalah keadaan penyakit yang ditandai dengan keterbatasan aliran udara yang tidak sepenuhnya reversibel.1 Keterbatasan ini biasanya bersifat progesif dan terkait dengan respons peradangan yang abnormal dari paru akibat paparan terhadap partikel atau udara yang bahaya. PPOK mencakup bronkitis kronik dan emfisema. Bronkitis kronis merupakan batuk produktif kronis yang menghasilkan lendir minimal selama tiga bulan per tahun paling tidak selama dua tahun berturut-turut. Sel goblet di mukosa jalan napas meningkat dengan hipertrofi dan hiperplasia kelenjar submukosa dan produksi sputum lengket yang banyak. Mikroorganisme, terutama bakteri, dapat melekat dan tumbuh dengan kolonisasi persisten pada jalan napas dan menyebabkan eksaserbasi infeksi berulang. Inflamasi epitel dan hipertrofi otot polos menyebabkan jaringan parut.5 Emfisema pula merupakan pengurangan daya balik elastis yang menyebabkan kolaps jalan napas ekspirasi dan hiperinflasi. Hal ini mengakibatkan disintegrasi dinding alveolus dan pembentukan bula. Di dalam paru, terdapat keseimbangan normal antara protease yang mendorong remodelling paru (elastase) dan antiprotease yang menghambat remodelling paru (antielastase seperti alfa1-antitripsin).5 PPOK mengakibatkan terjadinya obstruksi jalan napas ekspirasi dan ketidakcocokan ventilasi/perfusi. Obstruksi jalan napas ekspirasi dan terperangkapnya udara menjadikan otot pernapasan berada dalam posisi yang secara mekanis tidak menguntungkan dengan peningkatan beban kerja pernapasan. Pernapasan menjadi cepat dan dangkal serta tidak efisien. Kelemahan otot memperburuk ventilasi. Ketidakcocokan ventilasi/perfusi

mengakibatkan hipoksemia.

Dengan demikian, sebagian besar pasien akan mengalami

campuran hipoksemia dan hiperkapnia. Hiperkapnia kronis dapat menyebabkan penurunan sensitivitas di pusat respirasi sehingga pasien menjadi tidak sensitif terhadap perubahan
JUNISARAH AB.HAMID 102010379 B3 Page 8

PaCO2. Dengan demikian stimulus utama pernapasan bergantung pada kemoresepsi PaO2 yang rendah. Suplemen oksigen dapat menghilangkan stimulus ini mengakibatkan Penyebaran penurunan respons ventilasi dan bertambahnya retensi karbondioksida.

kerusakan paru disertai hipoksemia dan hiperkapnia mengakibatkan perluasan vasokonstriksi arteri pulmonalis dan peningkatan tekanan arteri pulmonalis. Ventrikel kanan berespons dengan buruk terhadap peningkatan beban kerja ini dan dapat mengalami dilatasi dan gagal sehingga peningkatan ditransmisikan ke sirkulasi vena sistemik dan menghasil edema perifer (cor pulmonale).5 Penyebab utama dari PPOK adalah asap rokok. Diperkirakan sekitar 15% sehingga 20% perokok akan mendapat PPOK. Asap rokok merupakan analog dari inhalasi pajanan di tempat kerja karena asap rokok mengandung campuran kompleks pelbagai partikel dan gas.6 Data dari American Thoracic Society (ATS) memperkirakan sekitar 15% dari kejadian PPOK merupakan penyakit akibat kerja. Hal ini biasanya dapat dilihat pada pekerja di sektor perindustrian lateks, plastik, barang kulit, perkakasan, tekstil, servis (gedung) dan konstruksi. Diperkirakan 19% pekerja mendapat PPOK. Dalam kajian lainnya, didapatkan, dengan ditambahkan pajanan rokok, kira-kira 56% perokok dan bekas perokok menghidap PPOK. Dalam kajian lainnya, didapatkan bahwa pajanan terhadap debu inorganik, gas, bahan kimia iritan, serbuk kayu dan fumes meningkatkan mortality dari PPOK. Diperkirakan sekitar 10.7% pekerja yang tereksposur pada pajanan udara menghidap PPOK. 6 Tn IM sewaktu muda pernah menderita penyakit paru dan tidak mendapatkan pengobatan yang adekuat. Beliau juga sudah 15 tahun berdagang bakso. Selama tempoh ini, beliau terpapar pada pajanan fisik seperti polusi udara, serta pajanan biologis seperti bakteri yang menyebabkan penyakit paru kronis. Seperti yang diketahui, polusi udara dan penyakit paru kronis meupakan faktor resiko dari PPOK. Peranan Faktor Individu Langkah kelima dalam identifikasi penyakit akibat kerja melalui pendekatan klinis dengan menggunakan tujuh langkah diagnosis okupasi adalah dengan mencari tahu apakah ada faktor individu yang boleh menimbulkan penyakit yang dialaminya. Faktor indiviu termasuklah status kesehatan fisik pasien, status kesehatan mental pasien dan higiene perorangan pasien.

JUNISARAH AB.HAMID 102010379 B3

Page 9

Melalui anamnesis, diketahui bahwa Tn IM sewaktu muda pernah menderita sakit paru yang lama dengan gejala batuk dan sesak. Tn IM telah mendapatkan pengobatan yang lama untuk penyakitnya. Penyakit paru Tn Im pada mulanya sembuh, namun kembali lagi setelah itu. Infeksi saluran pernapasan boleh disebabkan oleh bakteri maupun virus. Berikut merupakan etiologi dari infeksi saluran napas pada dewasa:7 1. Influenza B virus 2. Chlamydia pneumonia 3. Legionella spp 4. Mycoplasma penumonia 5. Influenza A virus 6. Bordetella pertussis 7. Adenovirus 8. Epstein Barr 9. Haemophilus influenza 10. Beta-hemolytic streptococci 11. Streptococcus pneumonia 12. Respiratory synsytial virus 13. Parainfluenza 1 virus 14. Parainfluenza 2 15. Coxiella burnetti 16. Moraxella catarrhalis 17. Parainfluenza 3 Berdasarkan dari keterangan Tn IM, berkemungkinan Tn IM sewaktu mudanya menderita penyakit TBC. Pasien dengan TBC beresiko tinggi mendapatkan hipertensi pulmonal.8 Penelitian menunjukkan bahwa hal ini terjadi karena adanya restriksi dari pulmonary blood bed yang disertai dengan penurunan fungsi parenkim paru. Peningkatan tekanan arteri juga menyebabkan terjadinya vasokontriksi pembuluh darah. Keadaan ini menimbulkan hipoksemia selanjutnya akan berakibat pada hipertensi pulmonal.9 Hipertensi pulmonal sendiri merupakan penyebab dari terjadinya kor pulmonale. TBC bukan satu-satunya infeksi saluran pernapasan yang boleh menimbulkan PPOK. Infeksi saluran pernapasan yang berulang dan infeksi saluran pernapasan kronis tanpa melihat pada faktor etiologinya merupakan faktor resiko dari terjadinya PPOK.
JUNISARAH AB.HAMID 102010379 B3 Page 10

Peranan Faktor Lain di Luar Pekerjaan Langkah keenam dalam identifikasi penyakit akibat kerja melalui pendekatan klinis dengan menggunakan tujuh langkah diagnosis okupasi adalah dengan mencari tahu apakah ada faktor lain di luar pekerjaan yang boleh menimbulkan penyakit yang dialaminya. Faktor lain di luar pekerjaan termasuklah hobi, kebiasaan sehari-hari, pajanan dirumah dan juga pajanan dari kerja sambilan seandainya ada. Tn IM mempunyai kebiasaan merokok sampailah satu tahun yang lalu. Merokok merupakan faktor resiko terbesar dari PPOK. Komponen asap rokok menstimulus perubahan pada sel-sel penghasil mukus bronkus dan silia. Produksi mukus diransang, sedangkan pergerakan silia diturunkan. Dengan demikian, akumulasi mukus yang kental dan

terperangkapnya partikel atau mikroorganisme di jalan napas, dapat menurunkan pergerakan udara dan meningkatkan resiko pertumbuhan mikroorganisme. Batuk yang terjadi pada perokok biasanya disebabkan oleh usaha tubuh untuk mengeluarkan mukus kental.10 Komponen-komponen tersebut juga menstimulasi inflamasi kronis, yang merupakan curi khas bronkitis kronis. Asap rokok menghasilkan stres oksiden yang menghambat aktivitas antiprotease normal. Inflamasi epitel saluran pernapasan, dan disertai aktivitas limfosit T sitotoksik

(CD8), makrofag, dan polimorfonukleosit (PMN), menyebakan peningkatan aktivitas protease (elastase) dan kerusakan langsung pada paru. Ketidakseimbangan antara protease dan antiprotease menyebabkan kerusakan dinding alveolus dan bronkus dan peningkatan produksi mukus. Produksi sitokin inflamasi seperti faktor nekrosis tumor (TNF )

mengakibatkan gejala sistemik seperti penurunan berat badan dan kelemahan otot. Kolaps jalan napas selama ekspirasi dengan terperangkapnya udara mengakibatkan hiperekspansi paru dan dinding dada menyebabkan otot-otot pernapasan berada dalam posisi mekanis yang tidak menguntungkan dan meningkatkan beban kerja pernapasan. penurunan volume tidal dan hiperkapnia. menyebabkan hipoksemia.5 Ini mengakibatkan

Kehilangan area permukaan alveolus dan

abnormalitas barier kapiler alveolus mengakibatkan penurunan pertukatan gas dan

JUNISARAH AB.HAMID 102010379 B3

Page 11

Gambar 1: Patogenis Emfisema Akibat Asap Rokok5 Dari anamnesis, didapatkan bahwa Tn IM senang bergadang. Dengan rutin sehariharinya yang cukup padat, kebiasaan ini menyebabkan Tn IM tidak mendapatkan tidur yang mencukupi. Pada manusia yang mengalami siklus normal malam/siang, fungsi vital tubuh berubah dalam periode 24 jam. Siklus ini dikenal sebagai ritme sirkadian. Ritme sirkadian ini berfungsi sebagai suatu sistem yang mensimfonikan sistem-sistem dalam tubuh. Pelbagai fungsi fisiologik berfungsi mengikuti ritme ini. Ritme sirkadian dipengaruhi oleh beberapa hal, termasuk cahaya dan tidur. Waktu tidur yang kurang boleh menggangu sirkulasi ritme ini. Hal ini akan mengakibatkan gangguan pada sekresi hormon dan juga sinyal kimia lainnya. Sekresi hormon yang tidak terkoordinasi ini akan menyebabkan banyak efek buruk pada sistem lain dalam tubuh. Waktu tidur yang tidak mencukupi sering dikaitkan dengan hipertensi, arterosklerosis, gagal jantung, serangan jantung, stroke, DM dan obesiti. Tidur yang tidak mencukupi juga mengakibatkan kelelahan dan mengantuk pada siang hari. Hal ini boleh dijelaskan dengan kerentanan tubuh terhadap inflamasi bila tidak mendapatkan tidur yang mencukupi. Tidur yang tidak mencukupi menyebabkan terjadinya pengingkatan Creactive protein, interleukin-6, tumor necrosis factor-alpha, dan juga substansi lainnya yang dalam keadaan normal hanya terjadi peningkatan apabila tubuh bereaksi terhadap suatu infeksi, iritasi, penyakit atau cedera. atau ketakutan.11 Tidur yang tidak mencukupi juga meningkatkan

aktivitas sistem saraf simpatis, yang dalam keadaan normal meningkat dalam keadaan stress

JUNISARAH AB.HAMID 102010379 B3

Page 12

Dari anamnesis juga didapatkan bahwa Tn IM suka minum kopi. Kopi merupakan suatu produk dengan kandungan kafein yang tinggi. Kafein merupakan satu stimulan sistem saraf pusat. Efek utama kafein adalah membolehkan seorang tidak berasa mengantuk dan juga meningkatkan kesiagaan seseorang untuk suatu tempoh waktu yang pendek. Namun kafein boleh menimbulkan efek negatif seperti:12 1. Tremor ringan 2. Mengganggu tidur 3. Meningkatkan denyut jantung 4. Aritmia 5. Meningkatkan tekanan darah 6. Pusing 7. Cemas 8. Sakit kepala 9. Dehidrasi 10. Addiksi 11. Heartburn Diagnosis Okupasi Langkah terakhir dalam identifikasi penyakit akibat kerja melalui pendekatan klinis dengan menggunakan tujuh langkah diagnosis okupasi adalah penarikan diagnosis okupasi berdasarkan hasil dari langkah satu hingga enam. Penarikan diagnosis haruslah didasarkan pada bukti ilmiah. Diagnosis okupasi dapat dibagikan kepada: 1. Penyakit Akibat Kerja (PAK) atau Penyakit Akibat Hubungan Kerja (PAHK) 2. Penyakit yang diperberat pajanan di tempat kerja 3. Belum dapat ditegakkan 4. Bukan Penyakit Akibat Kerja (PAK) Hasil dari pendekatan klinis terhadap Tn IM, yang didasari dengan bukti ilmiah, dapat ditarik kesimpulan bahwa Tn IM menghidapi kor pulmonale, akibat komplikasi dari PPOK yang diperberat pajanan di tempat kerja. Faktor pajanan yang berkemungkinan memperberat PPOK Tn IM adalah faktor fisik dan kimia, yaitu angin, asap dan debu. Selain itu, kebiasaan buruk dari Tn IM sendiri seperti kebiasaan merokok dan bergadang juga menjadi faktor yang memperberat penyakitnya.
JUNISARAH AB.HAMID 102010379 B3 Page 13

Diagnosis penyakit akibat kerja ditolak karena hasil dari pendekatan klinis tidak mendapatkan bukti bahwa kor pulmonale yang ada pada Tn IM disebabkan oleh pekerjaan, atau lingkungan pekerjaan. Penatalaksanaan Penatalaksanaan medis dari kor pulmonale dimulai dengan terapi supportif dengan oksigen. Seandainya ada bronkospasm, boleh diberikan -agonis nebulizers. Setelah itu, penyakit yang mendasari kor pulmonale haruslah diterapi. Untuk mengurangi tekanan pada arteri pulmonari, boleh digunakan diuretika furosemide, namun perhatikan kemungkinan terjadinya hipokalemia dan dehidrasi. Pasien mestilah diberikan diet dengan restriksi garam dan cairan. Pada PPOK yang menyebabkan kor pulmonale, boleh diberikan bronkodilator seperti selective -adrenergic seperti terbutaline. Obat ini akan membolehkan penurunan afterload ventrikular. Antikoagulan boleh diberikan pada pasien dengan resiko terjadinya tromboembolisasi. Boleh juga diberikan terapi antibiotika.13 Beberapa penatalaksanaan non-medis yang boleh dilakukan adalah dengan mengubah kebiasaan buruk. Tn IM sudah meninggalkan kebiasaan merokok. Tn IM selanjutnya

haruslah melatih diri untuk mendapatkan tidur yang cukup. Kualitas tidur boleh ditingkat dengan melatih diri untuk melakukan beberapa hal dibawah:11 1. Tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari. 2. Kamar tidur hanya digunakan untuk tidur sahaja. 3. Seandainya mengalami kesulitan untuk tidur, pindah ke ruangan lain. 4. Kurangkan alkohol dan kafein. 5. Olahraga Sesorang dengan kelainan pada jantung sebaiknya tidak mengkonsumsi kafein bagi mengurangkan beban kerja jantung. Tn IM juga sebaiknya memastikan bahwa tempat dimana beliau berdagang bakso relatif kurang debu. Seandainya ada sebab-sebab tertentu yang memerlukan Tn IM untuk berdagang di tempat yang banyak pajanan debu, Tn IM bolehlah menggunakan alat pelindung diri seperti masker. Kebiasaan mencuci tangan juga haruslah ditingkatkan bagi mengelakkan penularan penyakit seperti infeksi saluran pernapasan.

JUNISARAH AB.HAMID 102010379 B3

Page 14

Pencegahan Pencegahan dari kor pulmonale dimulai dengan pencegahan PPOK. Bagi

mengelakkan terjadinya PPOK, jauhi asap rokok dan juga polutan lainnya yang boleh menyebabkan terjadinya inflamasi pada paru. Elakkan berada di kawasan dengan pajanan debu yang tinggi dalam tempoh waktu yang lama.14 Higiene perorangan juga haruslah dijaga bagi mengelakkan terjadi penularan penyakit menular. Bagi mengelakkan terjadinya kor pulmonale, setiap pasien yang didiagnosis dengan PPOK haruslah sering melakukan pemeriksaan fungsi paru seperti spirometri. Pasien juga haruslah mendapatkan terapi secara adekuat. Penutup Berdasarkan pengkajian kepustakaan dalam penghasilan makalah ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa pasien Tn IM menghidapi kor pulmonale yang merupakan komplikasi dari PPOK yang diperberat oleh pajanan di lingkungan kerja. Hipotesis diterima.

JUNISARAH AB.HAMID 102010379 B3

Page 15

Daftar Pustaka 1. Rubenstein D., Wayne D., Bradley J., Lecture notes: kedokteran klinis; Penerbit Erlangga. 2007. Hal. 273 2. Diunduh dari: http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:aj538nEfzzMJ:ehs.sph.berkel ey.edu/krsmith/CRA/copd/Liu_2008_ID45.pdf+&cd=1&hl=en&ct=clnk&gl=my Tanggal: 6 Oktober 2013 3. Diunduh dari: http://www.epa.gov/pm/ Tanggal: 6 Oktober 2013 4. Mitchell, Kumar, Abbas, Frausto., Buku saku dasar patologis penyakit robbins & cotran; Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2009. Hal. 341-2 5. Brashers V.L., Aplikasi klinis patofisiologi: pemeriksaan & manajemen; Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2008. Hal. 85-7 6. Diunduh dari: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1513231/ Tanggal: 6 Oktober 2013 7. Diunduh dari: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9865980 Tanggal: 6 Oktober 2013 8. Diunduh dari: http://www.who.int/gard/publications/chronic_respiratory_diseases.pdf Tanggal: 6 Oktober 2013 9. Diunduh dari: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/7418569 Tanggal: 6 Oktober 2013 10. Corwin E.J., Buku saku dasar patofisiologi; Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2009. Hal. 539 11. Diunduh dari: http://www.health.harvard.edu/newsweek/Sleep-problems-heart-disease-often-in-bedtogether.htm Tanggal: 6 Oktober 2013 12. Diunduh dari: http://www.fda.gov/downloads/drugs/resourcesforyou/consumers/buyingusingmedici nesafely/understandingover-the-countermedicines/ucm205286.pdf. Tanggal: 6 Oktober 2013

JUNISARAH AB.HAMID 102010379 B3

Page 16

13. Schaider et al., Rosen & Barkins 5-minute emergency medicine consult; Lippincott William & Wilkins. 2011. Hal. 263 14. Diunduh dari: http://www.johnshopkinshealthalerts.com/symptoms_remedies/copd/98-1.html Tanggal: 6 Oktober 2013

JUNISARAH AB.HAMID 102010379 B3

Page 17