Anda di halaman 1dari 9

Tugas:

PERANCANGAN PERCOBAAN
PERCOBAAN DUA FAKTOR
(PERCOBAAN FAKTORIAL RAL)

Oleh: Kelompok II AFRIZAL (F3A2 06 006) WAHYUDIN LADASA (F3A2 06 007) PUJI LESTARI (F3A2 06 008) MAJIDDIN (F3A2 06 009) RUSTAN (F3A2 06 010) FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HALUOLEO KENDARI 2008

PERCOBAAN DUA FAKTOR Percobaan faktorial Percobaan faktorial adalah persobaan yang perlakuannya terdiri atas semua kemungkinan kombinasi taraf dari beberapa faktor. Dengan kata lain Percobaan faktorial dicirikan oleh perlakuan yang merupakan komposisi dari semua kemungkinan kombinasi dari taraf-taraf dua faktor atau lebih. Sebagai contoh sederhana percobaan dua faktor dimana masing-masing terdiri dari dua taraf, misal faktor A adalah varietas (V1 dan V2) dan faktor B adalah pemupukan (N0 dan N1). Dengan demikian percobaan yang dicobakan adalah sebagai berikut: Perlakuan 1: V1 dengan N0 Perlakuan 2: V1 dengan N1 Perlakuan 3: V2 dengan N0 Perlakuan 4: V2 dengan N1 Istilah faktorial lebih mengacu pada bagaimana perlakuan-perlakuan yang akan diteliti akan disusun, tetapi tidak menyatakan bagaimana perlakuan-perlakuan tersebut ditempatkan pada unit-unit percobaan. Inilah yang merupakan penegasan perbedaan antara rancangan perlakuan dengan rancangan lingkungan. Jika kasus diatas diterapkan pada rancangan acak kelompok lengkap maka kita akan menyebut rancangan tersebut sebagai Rancangan Faktorial dalam rancangan Acak Kelompok Lengkap atau Faktorial RAKL. Pemberian nama suatu rancangan harus memperhatikan bagaimana perlakuan-perlakuan tersebut disusun dan bagaimana pengalokasian perlakuan-perlakuan tersebut ke dalam unit-unit percobaan. Keuntungan: Keuntungan percobaan faktorial mampu mendeteksi respon dari taraf masingmasing faktor (pengaruh utama) serta interaksi antar dua faktor (pengaruh sederhana). Gambar (a) dan (b) menyajikan respon dari masing-masing faktor sedangkan gambar (c) menunjukkan pengaruh faktor A pada berbagai kondisi faktor B. Khusus untuk gambar (c) terlihat tiga kemungkinan yang terjadi yaitu pola pertama menunjukkan respon faktor A pada kondisi B0 dan B1 sejajar. Pola seperti ini, mengandung makna tidak adanya interaksi antara faktor A dengan faktor B. Pola kedua dan ketiga menunjukkan respon faktor A pada posisi B0 dan B1 berpotongan serta kondisi B0 dan B1 merujuk pada perpotongan. Pola ini mengandung makna adanya interaksi antara faktor A dengan faktor B.

Factor A

Factor B

(a) Pengaruh utama faktor A

(b) Pengaruh utama faktor B

Tidak ada interaksi

Ada interaksi

B0 B1

B0

B1 Factor A Factor A

Ada interaksi

B0

B1 Factor A

(c) Pengaruh interaksi faktor A dengan faktor B Percobaan Dua Faktor dalam Rancangan Acak Lengkap (Two Factor Experiments in Completely Randomized Design) Percobaan dua faktor dapat diaplikasikan secara langsung terhadap seluruh unit-unit percobaan jika unit percobaan yang dilakuakn relatif seragam. Rancangan ini disebut rancangan dua faktor dalam rancangan acak lengkap ( Faktorial RAL). Contoh: Penelitian tentang produksi tiga varietas (V1, V2, V3) yang diberikan 4 dosis pupuk N (N0, N1, N2, N3). Dengan demikian banyaknya perlakuan yang dicobakan ada sebanyak 34 =12 kombinasi perlakuan. Setiap kombinasi varietas dan pupuk ditanam pada petak lahan berukuran 2 m 3 m dan diulang sebanyak 3 kali. Banyaknya petak percobaan yang digunakan adalah 12 3 = 36 unit percobaan. Seluruh petak lahan yang digunakan dapat dianggap seragam.

Kombinasi perlakuan: 1. V1N0 2. V1N1 3. V1N2 4. V1N3 Langkah-langkah pengukuran: 1. Memberi nomor setiap kombinasi perlakuan (1-12) 2. Memberi nomor petak lahan yang digunakan (1-36) 3. Memilih bilangan acak (3 digit) sebanyak 36 bilangan klemudian petakan nomor perlakuan (1-12) diulang 3 kali sampai ke 36 bilangan terpetakan. Beri peringkat bilangan-bilangan acak tersebut. 4. petakanlah perlakuan-perlakuan pada bagan petak lahan sesuai dengan peringkat bilanga acak. Bagan percobaan:
1 V2N3 2 V1N1 3 V3N3 4 V1N2 5 V2N0 6 V2N3 9 V1N0 10 V2N3 11 V2N1 12 V2N2 8 V1N2 7 V2N0 13 V1N2 14 V3N1 15 V3N3 16 V3N0 17 V1N3 18 V2N1 19 V3N1 20 V3N2 21 V3N2 22 V3N0 23 V3N2 24 V3N1 25 V2N2 26 V1N3 27 V2N0 28 V2N1 29 V2N2 30 V1N1 31 V1N1 32 V1N3 33 V3N0 34 V1N0 35 V1N0 36 V1N1

5. V2N0 6. V2N1 7. V2N2 8. V2N3

9. V3N0 10. V3N1 11. V3N2 12. V3N3

Tabulasi data yaitu:


Ulangan 1 2 3 Total (Y1i) V2 1 2 3 Total (Y2i) V3 1 2 3 Total (Y3i) Total (Y.i.) V1 N0 Y111 Y112 Y113 Y11. Y211 Y212 Y213 Y21. Y311 Y312 Y313 Y31. Y.1. N1 Y121 Y122 Y123 Y12. Y221 Y222 Y223 Y22. Y321 Y322 Y323 Y32. Y.2. N2 Y121 Y122 Y123 Y12. Y221 Y222 Y223 Y22. Y321 Y322 Y323 Y32. Y.3. N3 Y131 Y133 Y133 Y13. Y231 Y233 Y233 Y23. Y331 Y333 Y333 Y33. Y3.3 Total (Yi..)

Y1..

Y2..

Y3.. Y

Model linier aditif dari rancangan ini secara umum yaitu m(misalkan komposisi perlakuan disusun oleh taraf-taraf faktor A dan faktor B) yakni: Yijk Dimana: Yijk ( , i,
j i j ij ijk

= Nilai pengamatan pada faktor A taraf ke-i faktor B taraf ke-j dan ulangan ke-k ) = Komponen aditif dari rataan, pengaruh utama faktor A dan pengaruh utama faktor B.

(
ijk

)ij

= Merupakan kompenen interaksi dari faktor A dan faktor B = Pengaruh acak yang menyebar normal (0,
2

).

Selain asumsi kenormalan dari komponen acak dan model aditif masih terdapat asumsi-asumsi lain yang harus diperhatikan yaitu: Untuk model tetap:
i 1 i

0,
j 1 2

0,
i 1

(
2

)ij
j 1

)ij

0
2

Untuk model acak:

~ N (0,

);

~ N (0,

); (

)ij ~ N (0,

Bentuk hipotesis yang diuji dalam rancangan dua faktor rancangan acak lengkap adalah sebagai berikut: Pengaruh utama faktor A H0: 1 0 (faktor A tidak berpengaruh terhadap respon yang diamati) 2 a H1: paling sedikit ada satu i dimana i 0 Pengaruh utama faktor B H0: 1 0 (faktor B tidak berpengaruh terhadap respon yang diamati) 2 b H1: paling sedikit ada satu j dimana j 0 Pengaruh sederhana (interaksi) faktor A dengan faktor B H0: ( )11 ( )12 (a )ab 0 (interaksi faktor tidakberpengaruh) H1: Paling sedikit ada sepasang (i,j) dimana ( )ij 0

dengan

faktor

Hipotesis di atas berlaku hanya untui model tetap, sedangkan untuk model acak hipotesis yang diuji adalah keragaman pengaruh faktor A (
2

) , keragaman pengaruh faktor B (

) , keragaman

pengaruh interaksi faktor A dengan pengaruh faktor B (

) . Sedangkan untuk model campuran

disesuaikan dengan sifat dari masing-masing faktor (faktor A acak dan faktor B tetap atau sebaliknya). Langkah-langkah perhitungan: FK = Faktor koreksi FK Y...2 abr

JKT = Jumlah kuadrat total


a b r

JKT
i 1 j 1 k 1

(Yijk Y... )2

2 Yijk

FK

JKA = Jumlah kuadrat faktor A


a b r

JKA
i 1 j 1 k 1

(Yi.. Y... ) 2

Yi2 .. br

FK

JKB = Jumlah kuadrat faktor B


a b r

JKB
i 1 j 1 k 1

(Y. j . Y... ) 2

Y. 2 j. ar

FK

JKAB = Jumlah kuadrat interaksi faktor A dan B


a b r a b r

JKAB
i 1 j 1 k 1

(Yij . Yi .. Y. j . Y... )2
i 1 j 1 k 1

(Yij . Y... )2

JKA JKB

JKAB JKP yang mana: JKP JKG = Jumlah kuadrat galat JKG

JKA JKB (Yij . Y... )


2

Yij2 . r

FK

JKT JKP

Sehingga tabel ANAVA dapat disajikan sebagai berikut:


Sumber keragaman A B AB Galat A B AB Derajat Jumlah Kuadrat bebas (db) kuadrat (JK) tengah (KT) Model tetap (faktor A dan faktor B tetap) a-1 b-1 (a-1)(b-1) JKA JKB JKAB KTA KTB KTAB Fhitung
KTA KTG KTB KTG KTAB KTG

Fhitung Fhitung Fhitung

ab(r-1) JKG KTG Model acak (faktor A dan faktor B acak) a-1 b-1 (a-1)(b-1) JKA JKB JKAB KTA KTB KTAB Fhitung Fhitung Fhitung
KTA KTG KTB KTG KTAB KTG

Galat ab(r-1) JKG KTG Model campuran (faktor A acak dan faktor B tetap atau sebaliknya) A B AB Galat total a-1 b-1 (a-1)(b-1) Ab(r-1) Abr-1 JKA JKB JKAB JKG JKT KTA KTB KTAB KTG Fhitung Fhitung Fhitung
KTA KTG KTB KTG KTAB KTG

Pengujian hipotesis: Dari ketiga model rancangan di atas menunjukkan bahwa untuk model yang berbeda akan menyebabkan struktur pengujian masing-masing sumber keragaman berbeda atau dengan kata lain tidak selalu sumber keragaman diuji dengan keragaman galat. Untuk model tetap pengujian pengaruh faktor A, faktor B maupun interaksinya diuji dengan sebaran F yaitu dengan menghitung rasio kuadrat tengah masing-masing sumber keragaman dengan kuadrat tengah galat (KTG). Secara matematik berikut: Fhitung (A) = KTA/KTG ~ F(db1=a-1;db2=ab(r-1)) Fhitung (B) = KTB/KTG ~ F(db1=b-1;db2=ab(r-1)) Fhitung (AB) = KT(AB)/KTG ~ F(db1=(a-1)(b-1);db2=ab(r-1)) dapat dirumuskan sebagai

Sedangkan untuk model acak pengujian pengaruh acak pengujian pengaruh faktor A dan faktor B diuji dengan sebaran F yaitu dengan menghitung rasio kuadrat tengah masing-masing terhadap kuadrat tengahinteraksinya, tetapi pengujian pengaruh interaksi diuji melalui rasio kuadrat tengah interaksi terhadap kuadrat tengah galat. Serta untuk model campuran cara pengujian masing-masing sumber keragaman lihat arah tanda panah. Contoh latihan: Balai karantina ingin mengetahui pengaruh pemberian fumigasi dengan berbagai dosis (0, 16, 32, 48, 64; /m3) dengan lama fumigasi yang berbeda (2 dan 4 jam) terhadap daya kecambah benih Tomat. Metode pengecambahan yang digunakan adalah Growing on Test. Unit percobaan yang digunakan diasumsikan homogen. Datanya diperoleh sebagai berikut:
Lama Fumigasi (jam) Ulangan Dosis fumigasi (g/m3) 0 16 96 92 98 88 94 90 96 90 90 88 94 92 92 94 92 91.333 94 90.667 32 92 94 84 90 78 82 74 78 84 48 74 74 68 72 0 0 0 0 36 64 50 50 54 51.33 0 0 0 0 25.67 Rata-rata

1 2 2 3 Rata-rata 1 2 4 3 Rata-rata Rata-rata

79.87

52.27 66.07

Hipotesis kasus: Pengaruh utama faktor dosis H0:


1 2

0 (faktor dosis tidak berpengaruh terhadap respon yang diamati)


i

H1: paling sedikit ada satu i dimana Pengaruh utama faktor lama H0:
1 2

0 (faktor lama tidak berpengaruh terhadap respon yang diamati)


j

H1: paling sedikit ada satu j dimana

Pengaruh sederhana (interaksi) faktor dosis dengan faktor lama H0: ( )11 ( )12 (a )ab 0 (interaksi faktor dosis dengan faktor lama tidak

berpengaruh) H1: Paling sedikit ada sepasang (i,j) dimana ( )ij 0

Statistik uji: FK JKT JKD 66, 07 2 30 130944,13 (962 982 0 2 ) FK 37595, 87 25459, 20

6 (942 90, 67 2 842 36 2 25, 67 2 ) FK 5713, 2

JKL 15 79, 87 2 52, 27 2 ) FK JK ( DL) JKG JKP JKD JKL

6258,13

JKT JKP

165, 33

Sumber keragaman Dosis Lama Interaksi Galat Total

db 4 1 4 20 29

JK 25459,20 5713,20 6258,13 165,33 37595,87

KT 6364,8 5713,2 1564,5 8,2667

Fhitung 769,9 691,1 189,3

Keputusan: Pengaruh utama faktor dosis Fhitung(769) > Tu,4,20(2,87) sehingga kita menolak H0 pada taraf u (0,05) yang berarti bahwa faktor dosis berpengaruh terhadap respon yang diamati. Pengaruh utama faktor lama Fhitung(691,1) > Tu,1,20(4,35) sehingga kita menolak H0 pada taraf u (0,05) yang berarti bahwa faktor lama berpengaruh terhadap respon yang diamati. Pengaruh sederhana (interaksi) faktor dosis dengan faktor lama Fhitung(189,3) > Tu,4,20(2,87) sehingga kita juga menolak H0 pada taraf u (0,05). Sehingga kita berkesimpulan bahwa interaksi faktor dosis dengan faktor lama adalah berpengaruh.