Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

Pengamatan Spermatozoa

1.1 Latar Belakang Sistem reproduksi hewan jantan menghasilkan spermatozoa (gamet jantan), mempertahankannya dan kemudian mencurahkannya ke dalam tractus reproduksi wanita. Spermatozoa yang baik merupakan salah satu faktor dari fertilitas jantan. Spermatozoa yang dikatakan mempunyai kualitas yang cukup baik bila dilihat secara morfologi lebih dari 50% bersifat normal. Pemerikasaan morfologi mencakup bagian kepala, leher, dan ekor dari spermatozoa. Spermatozoa adalah sel gamet jantan yang merupakan sel yang sangat terdeferensiasi, satu-satunya sel yang memilki jumlah sitoplasma yang terperas dan nyaris habis. Strukturnya sangat khusus untuk mengakomodasikan fungsinya. Fungsi spermatozoa ada dua, yaitu mengantarkan material genetis jantan ke betina dan fungsi kedua adalah mengaktifkan program perkembangan telur. Bila kurang dari 50% mempunyai morfologi abnormal, maka keadaan ini disebut teratozoospermia. Pemeriksaan kualitas spermatozoid juga dapat dilihat melalui motilitas atau daya geraknya. Spermatozoa yang dikatakan baik apabila 50% atau lebih spermatozoa menunjukkan pergerakan yang sebagian besar adalah gerak yang cukup baik bahkan

sangat baik (grade II/III) menurut WHO. Bila spermatozoa yang motil kurang dari 50%, maka spermatozoa disebut astenik. Istilah yang digunakan adalah

Astenozoospermia. Parameter sperma yang lainnya juga mempunyai nilai informatif untuk penilaian fungsi kelenjar seks asesori jantan. Parameter-parameter tersebut adalah volume, warna, bau, pH, koagulum, viskositas, aqlutinasi, dan leukosit. Analisis spermatozoa dilakukan dengan berbagai cara. Analisis ini merupakan suatu cara untuk mengevaluasi spermatozoa apakah cukup fertil untuk memfertilisasi telur. Pada pecobaan ini dilakukan analisis spermatozoa tikus dan ayam dengan metode penghitungan konsentrasi, dan pengamatan morfologi. Analisis yang dimaksud meliputi pemeriksaan jumlah milt yang dapat distriping dari seekor tikus dan ayam jantan masak kelamin, kekentalan sperma, warna, bau, jumlah spermatozoa hidup, jumlah spermatozoa mati, motilitas, morfologi (ukuran dan bentuk kepala, ukuran ekor, berbagai penyimpangan).

1.2 Tujuan Praktikum 1. Untuk mengamati morfologi spermatozoa ayam dan tikus secara langsung. 2. Untuk mengamati morfologi spermatozoa yang abnormal. 3. Untuk membedakan morfologi spermatozoa pada ayam dan tikus. 4. Mempelajari pergerakkan, volume, dan konsentrasi spermatozoa pada ayam dan tikus. 5. Mengetahui apa penyebab abnormalnya spermatozoa.
2

1.3 Manfaat Praktikum 1. Mahasiswa dapat mengetahui morfologi spermatozoa yang normal pada ayam dan tikus. 2. Mahasiswa dapat mengetahui morfolgi spermatozoa yang abnormal pada ayam dan tikus. 3. Mahasiswa dapat membedakan morfologi spermatozoa pada ayam dan tikus. 4. Mahasiswa dapat mengetahui apa yang menyebabkan abnormalnya spermatozoa. 5. Mahasiswa dapat melihat pergerakkan spermatozoa dengan menggunakan mikroskop.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Struktur spermatozoa sesuai dengan fungsinya terbagi menjadi 4 bagian yaitu akrosom, kepala, bagian tengah (leher), dan ekor. Akrosom erupakan tudung bagi kepala sperma yang mengandung enzim untuk membantu sperma menembus sel telur. Pada kepala sperma terdapat nucleus haploid. Di belakang kepala sperma terdapat leher yang mengandung sejumlah besar mitokondria. Ekor sel sperma berfungsi untuk membantu pergerakan sel (Campbell, dkk., 2004). Pergerakan sperma yang baik dan fertilisasi yang bagus dapat dilakukan dengan cryopreserving semen dengan methanol 10% atau 20% (Jensen, dkk., 2008). Ekor sperma terdiri atas tiga bagian yaitu middle piece, principal piece dan end piece. Ekor ini berfungsi untuk pergerakan menuju sel telur. Ekor yang motil itu pada pusatnya sama seperti flagellum memiliki struktur axoneme yang terdiri atas mikrotubul pusat dikelilingi oleh Sembilan doblet mikrotubul yang berjarak sama satu dengan yang lainnya. Daya yang dihasilkan mesin ini memutar ekor bagaikan baling-baling dan memungkinkan sperma meluncur dengan cepat. Keberadan mesin pendorong ini tentunya membutuhkan bahan bakar yang paling produktif yaitu gula fruktosa yang telah tersedia dalam bentuk cairan yang melingkupi sperma (Anonim, 2006). Sedangkan menurut Lake (1971) dan Gilbert (1980), bagian ekor spermatozoa terdiri dari 2 buah fibril yang memanjang di bagian tengah ekor, berfungsi sebagai

generator penggerak spermatozoa. Kedua bagian ini dibungkus oleh 9 pasang fibril atau akrosom yang bertanggung jawab terhadap motilitas spermatozoa. Seluruh bagian spermatozoa dibungkus oleh membran sitoplasma (Bahr dan Bakst, 1987). Kepala spermatozoa bentuknya bervariasi. Isinya adalah inti (di dalamnya terkandung material genetik) haploid yang berupa kantong berisi sekresi-sekresi enzim hidrolitik. Spermatozoa yang kontak dengan telur, isi akrosomnya dikeluarkan secara eksositosis yang disebut dengan reaksi akrosom (Sistina, 2000). Akrosom mengandung enzim hyaluronidase yang dapat memecah sel kumulus dan proacrosin yang dapat menembus zona pellusida, tetapi peranan khusus bagi masing-masing bagian akrosom belum diketahui (Bahr dan Bakst, 1993). Bagian tengah spermatozoa terdapat sentriol-sentriol yang berbentuk silinder yang dikelilingi oleh sekitar 30 buah mitokondria yang bertanggung jawab terhadap proses metabolisme spermatozoa dalam menghasilkan energi (Bahr dan Bakst, 1987 ; Gilbert, 1974). Menurut Toelihere (1985), semen adalah sekresi kelamin jantan yang secara normal diejakulasikan ke dalam saluran kelamin betina sewaktu kopulasi. Semen dapat pula ditampung dengan berbagai cara untuk keperluan inseminasi buatan. Fungsi plasma semen adalah sebagai medium pembawa spermatozoa dari saluran reproduksi jantan ke dalam saluran reproduksi betina. Menurut Gilbert (1980), spermatozoa pada unggas berbentuk filiformis. Kepala spermatozoa terdiri dari nukleous dan bagian atasnya tertutup oleh akrosom yang berbentuk kerucut sedikit

melengkung. Ekor spermatozoa terdiri dari leher, bagian tengah, bagian utama dan ujung. Menurut Suprijatna et al. (2005), penampungan semen sebaiknya dilakukan oleh dua orang. Seorang memegang ayam jantan yang akan ditampung semennya dan seorang lagi melakukan pengurutan untuk mengeluarkan semen dari alat kelamin ayam sekaligus menampungnya. Menurut Toelihere (1985), pengurutan dilakukan dari muka ke belakang sambil mengangkat ekor dan mengadakan sedikit tekanan pada bagian akhir phalus. Hal ini dilakukan dengan tujuaan untuk menimbulkan reflex ejakulatoris. Pengamatan morfologi meliputi bentuk, ukuran dan abnormalitas sperma. Penilaian semen berdasarkan jumlah sel sperma bentuk abnormal dilakukan dengan cara menghitung semua sel sperma dalam satu bidang pandang mikroskopik sampai mendapatkan 100 sel, terdiri dari sperma normal dan abnormal (Partodihardjo, 1992). Spermatozoa abnormal merupakan spermatozoa berbentuk lain dari biasa, terdapat baik pada individu fertil maupun infertil. Hanya saja pada individu fertil kadarnya lebih sedikit. Bentuk abnormal terjadi karena berbagai gangguan dalam spermatogenesis. Gangguan itu mungkin karena faktor hormonal, nutrisi, obat, akibat radiasi, atau oleh penyakit (Jauhari, 2005 ). Menurut Toelihere (1981), abnormalitas merupakan penyimpangan morfologi spermatozoa dari bentuk normalnya. Faktor yang mempengaruhi abnormalitas sperma adalah lingkungan. Gilbert (1980) menyatakan bahwa temperatur mempengaruhi aktivitas reproduksi.
6

Menurut Hardiyanto (1993), bahwa abnormalitas sperma dikelompokan menjadi 3 yaitu abnormalitas primer, abnormalitas sekunder dan abnormalitas tersier. Abnormalitas primer terjadi pada testis saat proses spermatogenesis tepatnya di tubuli semiferi. Abnormalitas primer ditandai oleh kepala yang terlalu kecil (microcephalic) atau terlalu besar (macrocephalic), kepala yang lebar, ekor atau badan berganda dll. Abnormalitas sekunder terjadi di epididymis sewaktu ejakulasi. Abnormalitas sperma ditandai dengan adanya butiran protoplasma pada pangkal ekor sperma tepatnya di caput epididymis. Evaluasi semen dilakukan dengan 2 cara yaitu pemeriksaan secara makroskopis dan mikroskopis. Pemeriksaan semen secara makroskopis meliputi volume, warna, bau, konsistensi dan pH. Sedangkan pemeriksaan secara mikroskopis meliputi gerakan massa, konsentrasi, motilitas dan persentase hidup atau mati (Hardiyanto, 1993). Menurut Perry (1960) yang disitasi oleh Sophiahani (2006) menyatakan bahwa penilaian mikroskopis sifatnya subyektif yang tergantung pada masing-masing pemeriksa. Pengamatan mortalitas atau mati dan hidup spermatozoa mamalia dapat dilakukan dengan sederhana yaitu dengan pewarnaan diferinsial mengunakan eosin 2%. Pada unggas spermatozoa yang hidup dan mati sangat sulit dibedakan dengan pewarnaan eosin 2% (Supriatna, 2000). Menurut pendapat Toelihere (1985), spermatozoa yang layak untuk Insiminasi Buatan (IB) adalah spermatozoa yang mati dibawah 15%. Derajat Keasaman semen sangat berpengaruh terhadap daya hidup spermatozoa. Semakin rendah nilai pH maka spermatozoa yang hidup akan semakin
7

rendah disebabkan oleh produksi asam laktat dan proses metabilisme spermatozoa. Spermatozoa dapat bertahan pada pH terendah dengan kisaran 6,8 (Lake, 1971). Spermatozoa dalam suatu kelompok mempunyai kecenderungan untuk bergerak bersama ke suatu arah. Gerakan spermatozoa menunjukkan gelombang yang tebal atau tipis, begerak cepat atau lambat tergantung dari kosentrasi sperma hidup di dalamnya. Gerakan masa sperma dapat dilihat dengan jelas di bawah mikroskop dengan pembesaran 45 x 10 (Toliehere, 1981). Puspasari (2007) dalam penelitiannya menemukan morfologi spermatozoa abnormal paling rendah pada kelompok mencit yang tidak diberi ekstrak kedelai dan paling tinggi pada kelompok ekstrak kedelai 780mg/hari, Peningkatan abnormalitas ini disebabkan oleh adanya fitoestrogen, terutama isoflavon yang terkandung didalam kedelai. Pemberian fitoestrogen dapat mengganggu jalannya spermatogenesis, karena fitoestrogen dapat menghambat kerja enzim 17-- hidroksisteroidoksidoreduktase, enzim yang dibutuhkan untuk sintesis testosteron. Hambatan kerja dari enzim menyebabkan penurunan kadar testosteron serta hambatan pada perkembangan sistem saraf pusat dan gonodal. Efek antiandrogenik fitoestrogen juga dapat menghambat sekresi LH pada hipofisis,yang berakibat penurunan kadar sekresi testosteron pada sel leydig.

BAB III METODE PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan Alat yang digunakan pada praktikum ini, yaitu : Mikroskop Cawan petri Objek glass Cover glass Alat bedah

Bahan yang dibutuhkan pada praktikum ini, yaitu : Sperma ayam dan tikus yang baru diejakulasi Giemsa atau eosin NaCl fisiologis

3.4.2 Cara Kerja Ambillah sperma ayam dan tikus yang baru diejakulasi. Kemudian larutkan dengan NaCl fisiologis, lalu teteskan sperma tersebut pada objek glass yang bersih. Dengan objek glass yang lain dioleskan setipis mungkin dan fiksasi dengan cara melewatkannya diatas api. Warnai dengan giemsa atau eosin, selama 3-5 menit, agar kelihatan lebih jelas. Cuci dengan air mengalir, kemudian keringkan kembali. Amati spermatozoa tersebut dengan menggunakan mikroskop. Amati perbedaan bentuk spermatozoayang normal dari ayam dan tikus, dan amati juga spermatozoa yang abnormal.

10

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Spermatozoa Ayam Pada praktikum ini, dapat dilihat dua preparat sperma ayam yaitu satu spermatozoa ayam yang normal dan satu lagi spermatozoa ayam yang abnormal yang telah diberi eosin, agar lebih jelas kelihatannya. Spermatozoa tersebut dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop, dan jika spermatozoa tersebut normal, akan terlihat jelas bagaimana bentuk dan pergerakkan spermatozoa tersebut. Dapat juga dilihat banyaknya jumlah spermatozoa ayam pada sekali ejakulasi, ini membuktikan bahwa untuk proses fertilisasi di organ kelamin betina, spermatozoa yang diejakulasi harus dalam jumlah banyak, agar dapat membuahi ovum pada betina tersebut. Pada spermatozoa yang normal, terlihat jelas dimana spermatozoa tersebut bergerak-gerak seperti halnya ular yang merayap, ini membuktikan bahwa spermatozoa ini normal dengan bagian yang lengkap, yang terdiri atas bagian kepala beserta akrosomnya, bagian midpiece yang berisi mitokondria sebagai pembawa DNA, dan bagian ekornya (cauda).

11

Melissa Rouge, www.vivo.colostate.edu (2004). Gambar Spermatozoa Ayam

Pada spermatozoa yang abnormal, kelihatan jelas spermatozoa tersebut mati. Tidak ada pergerakkan sedikit pun, dan bagian-bagian spermatozoa tersebut pun abnormal, seperti ada yang bagian kepalanya berjumlah dua pada satu spermatozoa, dan ada juga yang bagian ekornya berjumlah dua pada satu spermatozoa juga.

12

Melissa Rouge, www.vivo.colostate.edu (2004). Gambar Spermatozoa Ayam yang Abnormal

4.1.2 Spermatozoa Tikus Pada pengamatan spermatozoa tikus yang normal, sama saja bagianbagiannya seperti spermatozoa ayam, yaitu terdiri atas bagian kepala beserta akrosomnya, bagian midpiece yang berisi mitokondria sebagai pembawa DNA, dan bagian ekornya (cauda). Perbedaannya hanya terletak di bagian kepala spermatozoa dari tikus, yaitu pada bagian kepala spermatozoanya agak melengkung, seperti membentuk kail pancing.

13

Melissa Rouge, www.vivo.colostate.edu (2004). Gambar Spermatozoa Tikus

Inilah perbedaan yang terlihat jelas di mikroskop ketika bagian kepala spermatozoa tikus membentuk kail pancing, sehinnga terlihat bentuk yang aneh dari spermatozoa tikus tersebut. Ini membuktikan bahwa bentuk spermatozoa berbeda-beda setiap spesies. Pada pengamatan spermatozoa tikus yang abnormal, sama juga halnya seperti spermatozoa ayam yang abnormal, yaitu kelihatan jelas spermatozoa tersebut mati. Tidak ada pergerakkan sedikit pun dan bagian-bagian spermatozoa tersebut pun abnormal, seperti ada yang bagian kepalanya berjumlah dua pada satu spermatozoa, dan ada juga yang bagian ekornya berjumlah dua pada satu spermatozoa juga.

14

Melissa Rouge, www.vivo.colostate.edu (2004). Gambar Spermatozoa Tikus yang Abnormal

4.2 Pembahasan

4.2.1 Spematozoa Ayam Spermatozoa ayam mempunyai bentuk yang berbeda dengan spermatozoa ternak lain. Kepala berbentuk silindris, panjang, dan runcing. Kepala, bagian tengah berukuran masing-masing 15,4 dan 80 mikron dengan diameter kepala bagian tengah kira-kira 0,5 mikron. Spermatozoa mempunyai filamen aksial dan kinoplasnik (Toelihere, 1981). Ukuran panjang keseluruhan adalah 100 mikron dengan kepala kecil berbentuk silinder yang berisi DNA (Rose, 1997). Penyimpangan morfologi dari bentuk normal dapat dipandang abnormalitas. Abnormalitas spermatozoa dapat terjadi dari kepala sampai

15

ekor. Toelihere (1985), mengklasifikasikan abnormalitas primer terjadi karena kelainan spermatogenesa di dalam tubuh seminiferi atau epitel kecambah. Abnormalitas sekunder terjadi sesudah spermatozoa meninggalkan tubuli seminiferi dan duktus deferen, selama ejakulasi dalam perjalanannya melalui urethra atau manipulasi terhadap ejakulat termasuk agitasi yang keras, pemanasan berlebih-lebihan, pendinginan yang cepat, dan kontaminasi. Spermatozoa yang abnormal umumnya berkisar antara 5 - 15 % (Toelihere, 1981), bentuk abnormalitas yang umum ditemukan adalah bentuk ekor yang melingkar, ekor patah, atau ekor menghilang. Kadar glukosa dan fruktosa di dalam semen ayam cukup rendah dan semen unggas tidak mengandung asam sitrat. Kandungan asam amino di dalam plasma semen mungkin berhubungan dengan kapasitas pembuahan semen ayam. Plasma semen ayam mengandung lebih banyak asam glutamat dan glycin, dan sedikit asam aspartat dibandingkan semen kalkun (Toelihere, 1981). Menurut Lake (1984), plasma semen banyak mengandung glutamat, rendah klorida, dan tidak terdapat glukosa.

16

4.2.2 Spermatozoa Tikus Ciri spermatozoa tikus yang normal mempunyai bentuk kepala seperti kait pancing dan ekor panjang lurus, sedangkan sperma yang abnormal mempunyai bentuk kepala tidak beraturan, dapat berbentuk seperti pisang atau tidak beraturan (amorphous), atau terlalu bengkok, dan ekornya tidak lurus bahkan tidak berekor, atau hanya terdapat ekornya saja tanpa kepala (Koentjoro, 1992). Menurut Ganong WF (1995), spermatozoa merupakan hasil akhir dari proses spermatogenesis. Spermatozoa tikus terdiri atas kepala (berisi inti) dan ekor atau flgelum. Panjangnya sekitar 60 m dan merupakan sel yang bergerak aktif (motil). Kepala berbentuk lonjong bila tampak dari frontal dan tampak seperti buah pier dari lateral dan ujungnya sempit ke arah anterior. Panjangnya sekitar 5m dan lebarnya sekitar 3m. Kepala terutama terdiri atas inti dengan kromatin yang menggumpal yang dua pertiga anteriornya dibungkus erat oleh akrosom. Ekor spermatozoa memiliki penjang sekitar 55m dan ketebalannya menurun dari sekitar 1m dekat kepala menjadi 0,1m dekat ujungnya. Dengan menggunakan mikroskop cahaya yang baik maka ekor akan tampak terdiri atas leher, bagian tengah (middle piece), bagian utama (principal piece) dan bagian ujung (end piece). Pemeriksaan infertilitas pada tikus, spermatozoa merupakan hal yang penting. Untuk mengetahui kualitas dan kuantitas spermatozoa beserta cairan semen di sekitarnya dilakukan dengan suatu analisis semen. Dalam suatu
17

penelitian dikatakan bahwa untuk mendiagnosis suatu infertilitas pada pria dapat ditentukan melalui pengukuran konsentrasi, motilitas, dan morfologi dari spematozoa. Batasan untuk subfertil adalah bila telah terjadi penurunan kosentrasi spermatozoa lebih dari 13.5x106/ml, penurunan persentase motilitas spermatozoa lebih dari 32%, dan penurunan lebih dari 9% morfologi spermatozoa normal. Sedangkan untuk batasan infertil adalah bila telah terjadi penurunan kosentrasi spermatozoa lebih dari 48.0x106/ml, penurunan motilitas spermatozoa normal lebih dari 63%, dan penurunan lebih dari 12% morfologi spermatozoa normal (Toelihere, 1981). Meningkatnya bentuk spermatozoa yang abnormal dapat terjadi karena berbagai macam gangguan dalam proses spermatogenesis terutama pada tahap spermiogenesis. Gangguan ini bisa disebabkan oleh akibat hormonal, radikal bebas dan bahan kimia (Yatim, 1994). Spermatogenesis dapat terjadi melalui beberapa tahap pembelahan. Tahap awalnya spermatogonia akan mengalami perubahan menjadi spermatosit primer, kemudian menjadi spermatosit sekunder dan menjadi spermatid. Sebelum spermatid menjadi spermatozoa ada fase yang dilewati spermatid yang disebut fase spermiogenesis. Fase ini terdiri dari fase golgi, tutup, akrosom dan pematangan bertujuan untuk membentuk morfologi normal spermatozoa yang terdiri dari kepala, leher dan ekor yang normal (Rugh, 1997).

18

BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan Setelah melakukan praktikum ini dapat disimpulkan bahwa sistem reproduksi pada hewan jantan menghasilkan spermatozoa yang sangat penting dalam proses fertilisasi bersama dengan ovum pada reproduksi betina, dimana suatu individu untuk terus dapat melestarikan keturunannya. Proses pembentukan spermatozoa disebut spermatogenesis. Spermatozoa tersebut tersusun atas bagian kepala yang ditutpi oleh akrosom, bagian midpiece (leher) yang yang berisi mitokondria sebagai pembawa DNA, dan bagain ekornya (cauda) yang berfungsi untuk pergerakkan spermatozoa tersebut. Abnormalitas merupakan penyimpangan morfologi spermatozoa dari bentuk normalnya. Faktor yang mempengaruhi abnormalitas spermatozoa adalah lingkungan dan temperatur. Abnormalitas spermatozoa dapat terjadi dari kepala sampai ekor. bentuk abnormalitas yang umum ditemukan adalah bentuk ekor yang melingkar, ekor patah, atau ekor menghilang. Secara umum bentuk morfolgi spermatozoa pada ayam dan tikus tidak jauh berbeda. Letak perbedaannya hanya di bagian kepala dari spermatozoa tersebut. Pada spermatozoa ayam, bagian kepala berbentuk bulat dan ada juga yang berbentuk silindris. Sedangkan spermatozoa tikus, bagian kepalanya berbentuk melengkung seperti membentuk kail pancing.

19

DAFTAR PUSTAKA

A, Neil Campbell, dkk. 2004. Biologi. Jakarta: Erlangga. Anonim. 2006. Mesin Canggih Berbahan Bakar Gula. Dikutip dari www.harunyahya.com,. diakses pada tanggal 13 Mei 2012. Bahr, J. M and M. R. Bakst. 1987. Poultry. In E. S. E,. Hafez. Reproduction in Farm Animal 5th Ed. Lea and Febiger. Philadephia. Pp. 379-398. Bahr, J. M and M. R. Bakst. 1993. Poultry. In E. S. E,. Hafez. Reproduction in Farm Animal 6th Ed. Lea and Febiger. Philadephia. Pp. 385-402. Gilbert A. B. 1980. Poultry. In E. S. E,. Hafez. Reproduction in Farm Animal 4th Ed. Lea and Febiger. Philadephia. Pp. 423-446. Ganong WF. Review of Medical Psysiology. 14th Ed. Diterjemahkan oleh Andrianto P. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Ed 14. Jakarta: EGC, 1995. Hardiyanto. 1993. Pengaruh Semen Ayam Segar Maupun Setelah Diencerkan dan Disimpan Melalui Inseminasi Buatan terhadap Fertilitas dan Kematian Embrio Telur Ayam Kampung. J. Ilmiah IlmuIlmu Peternakan. 3 (4) : 47-56. Jauhari, M.A. 2005. Penyediaan Induk dan Benih Bermutu serta Teknik Pembesaran Ikan. Direktorat Jendral Perikanan Budidaya Balai Budidaya Air Tawar, Sukabumi. Lake, P. E. 1966. Physiology ang Biochemistry of Poultry Semen. In. McLaren, Advances in Reproductive Physiology. Vol: 1. Logos Press. Lake, P. E. 1984. The Male in Reproduction. In Physiology and Biochemistry Fowl. Vol 5. Academic Press, London. Partodihardjo, S. 1992. Ilmu Reproduksi Hewan. Fakultas Kedokteran Veteriner Jurusan Reproduksi IPB. Mutiara Sumber Widya, Jakarta. 540 hal. Perry, E. J. 1960. The Artificial Insemination of Farm Animal 3th Ed. Rutgers University Press. New Jersey. Jensen, N. R., M. D. Zuccarelli, S. J. Patton, S. R. Williams, S. C. I reland, dan K. D. Cain. 2008. Cryopreservation and Methanol Effects on Burbot Sperm Motility and Egg Fertilization. Volume 70. American Fisheries Society. Puspasari D, 2007. Pengaruh Pemberian Ekstrak Kedelai Dosis Bertingkat Terhadap Morfologi Spermatozoa Mencit Jantan Strain Balb/C. Fakultas Kedokteran Universitas Dipanegoro Semarang. Rose, S. P. 1997. Principles of Poultry Science. Harper Adem Agricultural College. London. Pp. 70-78 Rugh. 1997. The Mouse is Reproduction and Development. Mineopolis : Burgess. Sistina, Yulia. 2000. Biologi Reproduksi. Fakultas Biologi Unsoed, Purwokerto Soehadi, Koentjoro, 1992. Analisis Sperma. Airlangga University Press, Surabaya.

20

Sophiahani, 2006. Pengaruh FrekuensiPenampungan Terhadap Volume Semen dan Motilitas Spermatozoa Ayam Kampung. Universitas Diponegoro, Semarang. (Skripsi Sarjana Peternakan). Supriatna, I. 2000. Inseminasi Buatan pada Ayam. Kegiatan Pelatihan Inseminasi Buatan Pada Ayam. Laboratorium Ladang Terpadu, Fakultas Kedokteran Hewan. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Suprijatna, E., U. Atmomarsono dan R. Kartasudadjana. 2005. Ilmu Dasar Tenak Unggas. Cetakan 1. Penebar Swadaya, Jakarta. Toelihere, M. R. 1981. Inseminasi Buatan pada Ternak. Bandung: Angkasa Bandung. Toelihere, M. R. 1985. Fisiologi Reproduksi Pada Ternak. Bandung: Angkasa Bandung. Yatim, Wildan. 1994. Reproduksi dan Embriologi. Bandung: Tarsito.

21