Anda di halaman 1dari 15

1

I.

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang

Nilai fekunditas suatu individu ikan selalu bervariasi dan batasan fekunditas individu ikan juga selalu bervariasi. Hal ini menyebabkan fekunditas secara umum adalah jumlah telur yang terdapat dalam ovari ikan yang sudah matang gonad dan akan dikeluarkan pada waktu memijah. Pengetahuan tentang fekunditas dalam bidang budidaya perikanan sangat penting artinya untuk memprediksi berapa banyak jumlah larva/benih yang akan dihaslkan jika individu ikan mijah dan dalam biologi perikanan adalah untuk memprediksi berapa jumlah stok suatu populasi ikan yang hidup di suatu lingkungan perairan (Pulungan, 2006)

Biologi perikanan adalah suatu ilmu pengetehuan yang mempelajari keadaan ikan yaitu sejak individu ikan tersebut menetas (hadir ke alam) kemudian makan, tumbuh, bermain, bereproduksi, dan akhirnya mengalami kematian secara alami atau oleh karena factor lain. Pengetahuan itu akan menguraikan tentang aspek aspek biologi individu dari spesies ikan. Sehingga pengetahuan biologi perikanan ini merupakan pengetahuan dasar ketika mendalami pengetahuan dinamika populasi ikan, pengembngan spesies ikan untk dikelola menjadi ikan budidaya dan upaya pelestarian spesies ikan yang akan mengalami kepunahan di perairan alaminya. (Pulungan, 2010) Di alam, pemijahan (spawing) dipengaruhi oleh kondisi lingkungan (eksternal) misalnya : hujan, habitat, oksigen terlarut, daya hantar listrik, cahaya,

suhu, kimia, fisika air, waktu (malam hari) dan lain lain. Kondisi lingkungan ini akan mempengaruhi kontrol endokrin untuk menghasilkan hormon hormon yang mendukung proses perkembangan gonad dan pemijahan (Fujaya, 2004). Faktor faktor tersebut berpengaruh terhadap jumlah telur yang akan dihasilkan. Fekunditas individu akan sulit diterapkan pada ikan-ikan yang melakukan pemijahan beberapa kali dalam setahun dan lebih mudah diterapkan pada ikanikan yang melakukan pemijahan tahunan atau setahun sekali. Seprti pada ikan Salmon yang memijah dengan melakukan peruayaan dari laut ke tepi sungai yang sering disebut dengan anadromous. Pengetahuan tentang aspek fekunditas sangat penting artinya agar mahasiswa perikanan harus dapat menghitung nilai fekunditas dari setiap jenis ikan yang populer di masyarakat sehingga dapat membantu masyarakat di bidang budidaya perikanan untuk memilih jenis ikan dari spesies ikan yang akan mereka budidayakan dan mendapatkan hasil seperti yang diharapkan. Oleh karena itulah praktikum tentang fekunditas dan diameter telur dilaksanakan, hal ini diperlukan untuk memberikan latihan kepada mahasiswa agar tidak kaku lagi saat berada di lapangan. 1.2. Tujuan dan Manfaat Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah untuk mengetahui nilai fekunditas dan diameter telur ikan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Dan mengetahui ada berapa butir telur yang dihasilkan oleh ovari ikan yang telah diteliti atau yang dinamakan fekunditas dengan menggunakan metode tertentu. Manfaat yang dapat diambil dari praktikum kali ini adalah praktikan dapat mengetahui nilai fekunditas dan diameter telur dari ikan tersebut serta mengetahui

sedikit mengeni jumlah larva dan jumlah populasi yang akan terbentuk dalam suatu perairan tersebut yang mana tempat hidup maupun habitat dari ikan Motan ini.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Ikan didefenisikan sebagai hewan bertulang belakang (vertebrata) yang berdarah dingin (poikilothermal) yang hidup di air, bergerak dan keseimbangan badannya dikendalikan oleh sirip serta bernafas dengan insang (Tim Ikhtiologi Fakultas Perikanan IPB, 1989). Saanin (1986) Mengklasifikasikan ikan Motan yaitu termasuk Kelas Pisces, Ordo Ostariophysi, SubOrdo Cyprinoidea, Family Cyprinidae,

SubFamiily Cyprininae, Genus Thynnichthys dan termasuk ke dalam species Thynnichthys thynnoides. Ciri ciri dari ikan Motan adalah badan berbentuk compresed dan panjang mulut terminal dan protactile. Tidak bersungut dan mulut sempit, bibir tebal, posisi sirip perut terhadap sirip dada adalah abdominal, jumlah jari jari sirip punggung dengan rumus D.8 dada P. 13, perut V. 12 anus A. 5. 59 sisik pada gurat sisi, 13 sisik antar sirip punggung dan gurat sisi, 11 antar sirip anus dengan gurat sisi. Batang ekor dikelilingi 22 sisik, ekor bercagak, warna badan putih mengkilat agak gelap dibagian punggung, garis linnea lateralis sempuran, sisik halus (Kottelat, et. al 1993) Fekunditas merupakan salah satu fase yang memegang peranan penting untuk melangsungkan populasi dengan dinamikanya. Dari fekunditas kita dapat menaksir jumlah anak ikan yang akan dihasilkan dan akan menentukan jumlah ikan dalam kelas umur yang bersangkutan. Fekunditas adalah semua telur-telur yang kan dikeluarkan pada waktu pemijahan (Effendie, 1978)

Menurut William (dalam Jones, 1978) fekunditas sangat tergantung pada suplai makanan, terutama untuk mempertahankan musim pemijahan dan ukuran tubuh ikan betina. Selain itu, ikan-ikan yang hidup di sungai mempunyai hubungan dengan tinggi air. Apabila sampai pada tahun-tahun tertentu permukaan air sungai selalu tinggi, fekunditas ikan tinggi pula, bila dibandingkan dengan tahun lain yang permkaan airnya rendah. Kejadian yang sama dapat terjadi pula untuk ikan-ikan yang hidup di rawa, karena sering pula permukaan air rawa dari tahun ke tahun tidak sama sebagai akibat pemasukan air yang tidak tetap (Effendie, 1978) Umumnya fekunditas realtif lebih tinggi dibandingkan dengan fekunditas individu. Fekunditas relatif maksimal dijumpai pula pada golongan ikan yang masih muda (Nikolsky dalam Effendie, 1978). Selanjutnya Effendie (1978) mengemukakan bahwa kapasitas reproduksi dari pemijahan populasi tertentu untuk mengetahui harus menggunakan fekunditas pipulasi relatif. Fekunditas ini dapat berbeda dari tahun ke tahun karena banyak individu yang memijah tiap-tiap tahun. Untuk mengetahui penyebaran diameter telur dilakukan pengukuran diameter telur dengan mengambil butiran pada bagian anterior, tengah, dan posterior pada ovarium sebelah kanan dan kiri. Serta perkembangan telur ditandai denganukuran diameter telurnya. (Uktoseja dan Purwasasmita, 1987). Untuk menghitung telur ada beberapa metoda yang dapat digunakan. Setiap metoda memiliki kelebihan dan kekurangan, oleh karena itu sebelum memutuskan untuk memilih metoda dalam menghitung nilai fekunditas ikan harus dikenali dengan baik sifat dari setiap spesies ikan yang diteliti agar pada

pelaksanaan menghitung nilai fekunditas ikan tidak terjadi kesalahan (Pulungan, 2005). Ikan-ikan yang tua dan besar ukurannya mempunyai fekunditas relative yang lebih kecil. Umumnya fekunditas relative lebih tinggi dibandingkan dengan fekunditas individu. Fekunditas relative akan menjadi maksimum pada golongan ikan yang masih muda (Nikolsky,1969)

III.

BAHAN DAN METODE

3.1

Waktu dan Tempat Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 18 Oktober 2013

pukul 13.00 - selesai. Bertempat di Laboratorium Biologi Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. 3.2 Bahan dan Alat Bahan yang digunakan sewaktu praktikum ini adalah telur ikan Motan (Thynnichthys thynnoide) dan telur tersebut telah diawetkan sebelumnya dengan menggunakan bahan pengawet formalin yang kadar alkoholnya 2-4 %. Sedangkan alat yang digunakan sewaktu praktikum ini adalah pinset untuk mengambil dan memisahkan beberapa butir telur yang digunakan dalam pengukuran diameter telurnya, 1 buah tabung ukur untuk menentukan berapa ml air yang dipakai dalam mencairkan telur ikan sehingga dapat dihitung fekunditasnya, cawan petri sebagai tempat meletakkan telur ikan tersebut, alat tulis untuk mencatat data-data yang diperoleh ke dalam buku laporan sementara. 3.3 Metode Praktikum Metode praktikum adalah metode survei dengan mengamati dan mengenali langsung terhadap telur ikan Motan (Thynnichthys thynnoide) dan mengukur diameter telur serta mencatat data-data yang diperoleh. 3.4. Prosedur Praktikum Adapun prosedur praktikum yang dilakukan yaitu setibanya di Laboratorium, praktikan langsung mempersiapkan alat dan bahan, setelah itu

melakukan pengamatan terhadap bahan praktikum diantaranya mengambil telur pada bagian anterior, tengah, dan posterior baik pada sisi kanan maupun sisi kiri. Letakkan sebanyak 5 telur yang telah diambil dari tempat tadi pada objek glass untuk dilihat nilai sebaran telur pada ovari ikan tersebut. Kemudian setelah diukur berapa diameter telur masukkan kedalam table dengan syarat nilai yang telah didapat dikalikan dengan perbesarannya yaitu 40x10 (0,025). Pengamatan selanjutnya menghitung fekunditas ikan dengan

menggunakan metode gabungan yaitu menghancurkan telur yang telah diberikan formalin ke dalam sebuah cawan Petri dengan menggunakan air 10 ml. Setelah hancur, telur ikan dimasukkan ke dalam gelas ukur setinggi 0,5. Kemudian, timbang berat ikan tersebut didalam timbangan sartorius. Telur yang ditimbang tadi dihitung satu persatu untuk mendapatkan nilai x. Jika telah didapat semua nilai, masukkan kedalam rumus dan hitung nilai fekunditasnya. Data yang diperoleh dijadikan laporan sementara dan nanti akan dipindahkan ke dalam laporan individu dalam bentuk paper.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Praktikum Dari praktikum yang telah dilakukan, maka didapatkan hasil perhitungan telur dengan menggunakan metoda Volumetrik. X:x=V:v

Dimana :

X = Jumlah telur dalam ovary yang akan dihitung x = Jumlah rataan telur dari sub sample ovary V = Volume ovary V = Volume sub sample ovary (1 mL)

Telur yang telah diambil dari bagian anterior, tengah, posterior kanan dan kiri, kemudian dihitung jumlahnya dengan meletakkan telur yang telah diencerkan dengan air ke dalam cawan petri. Maka didapatkan jumlah telur pada tiap bagiannya adalah sebagai berikut : Keterangan Anterior Kanan Anterior Kiri Tengah Kanan Tengah Kiri Posterior Kanan Posterior Kiri Jumlah Jumlah telur (butir) 500 600 750 850 950 1050 4700

x1 x2 x3 x4 x5 x6

Tabel 1. Perhitungan telur ikan Motan (Thynnichthys thynnoide)

10

Maka diketahui : V = 8 mL (air pada tabung ukur naik 8 mL setelah ovary dimasukkan) x = 4700 : 6 = 783,33333 X = 6266,6667 Dari tiap bagian anterior, tengah dan posterior, maka diambil telurtelurnya, kemudian dideretkan sepanjang 1cm menggunakan penggaris. Lalu dihitung berapa jumlah telur yang ada dalam 1 cm tersebut. Kegiatan ini dilakukan untuk menghitung diameter telur. Dari praktikum yang telah dilakukan, maka didapatlah hasil sebagai berikut : Diameter (mm) 0,67 0,71 0,76 0,83 1 Fekunditas (butir) A Kanan T 14 13 12 10 Tabel 2. Ukuran diameter telur dari keenam bagian ovary ikan 4.2. Pembahasan Menurut SAANIN (1995), ikan Motan termasuk ke dalam klasifikasi : Ikan motan termasuk ke dalam klasifikasi : Filum : Chordata, Kelas : Pisces, Sub Kelas : Teleostei, Ordo : Ostariophysi, Sub Ordo : Cyprinoidea, Famili : Cyprinidae, Sub Famili : Cyprininae, Genus : Thynnicthys, Spesies : Thynnicthys polilepis. Sedangkan menurut KOTTELAT et. al., (1993), ikan motan 13 P 15 A Kiri T P

11

diklasifikasikan ke dalam : Kelas : Pisces, Sub Kelas : Teleostei, Ordo : Perciformes, Sub Ordo : Cyprinoidea, Famili : Cyprinidae, Genus : Thynnicthys, Spesies : Thynnicthys thynnoides. Ia juga menyatakan bahwa deskripsi ikan Motan yaitu ikan motan memiliki badan compressed yang panjang, mulut terminal dan protactil, tidak bersungut, mulut sempit dan bibir tebal, posisi sirip perut terhadap sirip dada abdominal. Alat kelamin yang terdapat pada individu ikan disebut gonad. Akan tetapi jika gonad itu terdapat dalam rongga tubuh ikan jantan disebut testes, sedangkan gonad yang terdapat dalam rongga tubuh ikan betina disebut ovary (PUTRA et al). Gonad memiliki pembuluh darah yang berfungsi sebagai supply (penyedia) nutrisi. Testes pada ikan terdapat dalam rongga tubuh, bentuknya sangat tergantung pada rongga tubuh yang tersedia tetapi umumnya berbentuk panjang, jumlahnya sepasang dan tergantung di sepanjang mesenteries pada rongga atas bagian tubuh. Posisinya persis di bawah tulang punggung di samping gelembung udara. Warna bervariasi mulai dari transparan sampai putih susu. Ovari pada ikan terdapat dalam tubuh, bentuknya juga tergantung pada rongga tubuh. Namun umumnya memanjang, jumlahnya sepasang dan menggantung kepada mesenteries (mesovaria). Posisinya persis di bawah tulang punggung dan ginjal serta di samping gelembung udara. Warnanya bervariasi mulai dari transparan sampai kuning emas dan keabu-abuan. Menurut Bagenal (1967) menerangkan bahwa fekunditas adalah jumlah telur yang dikeluarkan oleh ikan dalam rata-rata masa hidupnya. Parameter ini relevan untuk studi populasi, karena kematangan ikan pada waktu pertama kalinya

12

dapat diketahui dan juga statistik kecepatan mortalitas dapat ditentukan dengan pengelolaan perikanan yang baik. Nilai fekunditas suatu individu ikan selalu bervariasi, karena dipengaruhi oleh umur atau ukuran individu ikan, jenis dan jumlah dari makanan yang dimakan, sifat ikan, kepadatan populasi, lingkungan hidup dimana ikan itu berada dan factor fisiologi tubuh. Untuk menghitung fekunditas (butiran telur) pada ikan dapat dilakukan dengan lima cara yaitu, : 1) Metoda jumlah (menjumlahkan secara langsung), 2) Metoda volumetrik, 3) Metoda gravimetric, 4) Metoda gabungan volumetrik, gravimetric, dan jumlah, 5) Metoda Von Bayer (Effendie, 1992). Namun pada praktikum yang dilakukan menggunakan gabungan yaitu menghitung secara langsung dengan menggabungkan metode sebelumnya diantaranya metode jumlah, metode gravimetrik, dan metode volumetrik. Dengan menggunakan metode ini, maka kita melakukan semua metode baik itu dengan teknik pemindahan air, teknik penimbangan berat telur serta menghitung satu persatu-satu telur ikan yang kemudian akan dimasukkan ke dalam rumus yang telah diterngkan sebelumnya. Ikan ini hidup di lingkungan bentoplagis, potamodromus (Riedie, k., 2004), air tawar pada ph berkisar antara 6,0 8,0 dan dh antara 5 19, hidup kisaran kedalaman lebih dari 2m. Biasanya ditemui di danau dan sungai (Kottelat, m. dan Widjanarti, 2005). Kemudian Effendie (1992) mengemukakan bahwa semakin berkembang gonad, telur yang terkandung didalam semakin membesar garis tengahnya, sbagai hasil dari pengendapan kuning telur, hidrasi dan pembentukan butir butir

13

minyak berjalan secara bertahap terliput dalam perkembangan tingkat kematangan gonad. Semakin meningkat tingkat kematangan diameter telur semakin membesar, sebaran diameter telur pada TKG akan mencerminkan pola pemijahan ikan tersebut.

14

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.

Kesimpulan Nilai fekunditas suatu individu ikan selalu bervariasi, karena dipengaruhi

oleh umur atau ukuran individu ikan, jenis dan jumlah dari makanan yang dimakan, sifat ikan, kepadatan populasi, lingkungan hidup dimana ikan itu berada dan faktor fisiologi tubuh. Dengan fekunditas ini, kita dapat menganalisa berapa jumlah larva ikan serta stok dalam suatu populasi apabila ikan ini akan melakukan pemijahan. Perhitungan nilai fekunditas pada individu ikan bila menggunakan metoda gabungan seperti pada ikan Motan (Thynnichthys thynnoide) yang dilakukan pada praktikum ini cukup efektif dan nilai fekunditas yang diperoleh cukup akurat karena pada dasarnya nilai fekunditas dari ikan Motan ini bisa dihitung dengan metode ini. Jumlah telur di dalam ovari ikan akan mengalami penambahan sesuai dengan pertambahan ukuran tubuh ikan tersebut dan perkembangan telur ditandai dengan ukuran diameter telur yang semakin besar. Jika telur semakin besar dan tingkat kematangan gonad ikan meningkat maka ikan ini siap memijah. 5.2. Saran Penulis menyarankan agar praktikum dapat dilakukan sesuai dengan langkah langkah praktikum dan menggunakan ikan yang segar sehingga pengamatan dapat dilakukan dengan lebih teliti dan cermat.

15

DAFTAR PUSTAKA

http://teguhheriyanto.blogspot.com/2011/01/biologi-perikanan-fekunditasdan.html. Diakses pada 15 Oktober 2013, pukul 19.48 WIB. http://yeni-sustriani.blogspot.com/2012/01/laporan-bioper.html. Diakses pada 15 Oktober 2013, pukul 20.05 WIB. Penuntun Praktikum Biologi Perikanan. (2013). Laboratorium Biologi Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau, Pekanbaru.