Anda di halaman 1dari 8

Laporan Praktikum Mikrobiologi

Nama Kelompok NIM Hari/Tanggal Waktu PJP Asisten

: Daud Mulia Godang :6 : J3L112146 : Jumat/ 22 / Nov 2013 : 09.00-11.00 : M. Arif Mulya,S.Pi : 1. Lia Suliani 2. Yuriska Sekar Rani 3. Ramdhani Sitohang

UJI AKTIVITAS ENZIMATIS BAKTERI Bacillus sp. DAN


Eschericia coli DENGAN UJI AMILOLITIK DAN UJI PROTEOLITIK

PROGRAM KEAHLIAN ANALISIS KIMIA PROGRAM DIPLOMA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2013

Pendahuluan Enzim adalah molekul biopolimer yang tersusun dari serangkaian asam amino dalam komposisi dan susunan rantai yang teratur dan tetap. Enzim memegang peranan penting dalam berbagai reaksi di dalam sel. Sebagai protein, enzim diproduksi dan digunakan oleh sel hidup untuk mengkatalisis reaksi, antara lain konversi energi dan metabolisme pertahanan sel (Volk dan Wheeler 1998). Enzim disebut juga biokatalisator, merupakan suatu senyawa protein yangmemiliki kemampuan mangatalisis. Suatu katalisator, seperti enzim, berfungsimeningkatkan kecepatan laju reaksi kimia, tetapi ia tidak ikut bereaksi. Setiap seldidalam tubuh mahluk hidup telah dilengkapi dangan berbagai jenis enzim.Sebagai katalisator organik, enzim berbeda dengan katalisator anorganik karenaenzim bersifat spesifik. Artinya, suatu jenis enzim hanya dapat mengatalisi satu jenis reaksi kimia. Dengan demikian, meskipun terdapat ribuan enzim didalamtubuh makhluk hidup, tidak akan pernah terjadi suatu reaksi dikatalisis oleh enzimyang salah (Pujiyanti 2008). Kerja enzim seperti halnya dengan katalisator dalam tubuh kita yaitu mempercepat suatu reaksi dengan tiada mengalami perubahan sendiri. Tiap sel hidup mengandung enzim ratusan banyaknya. Tidak semua sel mengandung jumlah dan jenis enzim yang sama, dan enzim yang selalu terdapat dalam setiap sel misal enzim pernapasan (Dwijoseputro, 1980).

Tujuan Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas enzimatis Bakteri Bacillus sp. dan Eschericia coli dengan uji amilolitik, proteolitik, oksidase dan katalase. Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah cawan petri, kawat ose, kaca preparat, pipet tetes, tabung apendorf. Bahan yang digunakan adalah biakan bakteri bacillus sp. dan e.colli, media tumbuh SMA (skim milk agar), media tumbuh NA, iodine, dan HCL.

Prosedur Uji amilolitik. Nutrient Agar yang mengandung pati diinokulasi dengan bacillus sp. dan e.colli secara streak dan diinkubasi selama 48 jam pada suhu 37oC. Setelah selesai diinkubasi ditetesi cawan dengan iodine secukupnya sehingga seluruh permukaan media terkena. Hidrolisis zat pati akan terlihat sebagai zona jernih disekeliling koloni, sedangkan hasil negative ditunjukkan warna sekitar koloni tetap biru hitam. Uji preoteolitik. Bacillus sp. dan e.colli diinokulasikan pada Skim Milk Agar. Kemudian diinkubasi pada suhu 37oC selama 48 jam. Aktivitas proteolitik ditunjukkan dengan terbentuknya zona jernih disekeliling koloni dengan HCL 10%. Uji Oksidase. Dua buah kertas cakram diletakkan diatas object glass, salah satu digunkan sebagai control, kemudian ditetesi reagen, menggunakan pipet tetes koloni bakteri diambil secara aseptis. Uji Katalase. Koloni bakteri diambil dengan ose secara aseptis pada object glass. 3% H2O2 diteteskan pada object glass secukupnya, diamati adanaya gelembung yang muncul dari sel dengan kumpulan sel yang mengambang. Hasil dan Pembahasan Enzim merupakan partikel penyusunan yang sangat penting dalam proses metabolisme. Uji amilolitik adalah untuk uji untuk mengetahui apakah suatu bakteri memiliki kemampuan untuk memecah amilase yang terkandung pada pati. Amilolitik juga dapat disebut sebagai aktivitas bakteri dalam merombak pati dengan bantuan enzim amilase. Enzim amilase adalah enzim yang mampu menghidrolisis pati menjadi senyawa lebih sederhana seperti maltosa dan glukosa. Enzim ini banyak digunakan untuk keperluan industri. Enzim ini dapat memecah atau menghidrolisa pati, glikogen dan turunan polisakarida dengan cara memecah ikatan glikosidik pati. Enzim amilase dibedakan menjadi 3 grup yaitu -amilase yang disebut juga endoamilase, -amilase yang disebut juga eksoamilase dan glukoaminase (Rehm dan Reed 1987). Bakteri Amilolitik merupakan mikroorganisme yang mampu memecah pati menjadi menjadi senyawa yang lebih sederhana, terutama dalam bentuk glukosa. Kebanyakan mikroorganisme Amilolitik tumbuh subur pada bahan pangan yang

banyak mengandung pati atau karbohidrat (Fardiaz 1992). Percobaan uji amiolitik bakteri diinokulasi pada media NA yang terdapat pati didalamnya,

penginokulasian digunakan dengan metode cara cawan gores. Bakteri bacillus sp. dan e.colli yang diujikan kemudian diinkubasi selama 48 jam pada suhu 37oC gunannya agar bakteri dapat berkembang terlebih dahulu untuk kemudian dapat menghidrolisis pati yang terdapat pada media NA. Indikator dari uji ini adalah iodine tujuan penetesan larutan yodium 1% untuk membuktikkan apakah bakteri yang tumbuh pada media adalah bakteri amilolitik. Pati yang tidak terhidrolisis akan membentuk warna biru dengan yodium yang menunjukkan tidak terdapatnya enzim amilase yang dihasilkan oleh bakteri selain bakteri amilolitik. Pati yang terhidrolisis di sekeliling koloni akan terlihat areal bening, sebagai akibat aktivitas enzim amilase. Warna jernih tersebut mengindikasikan bahwa pati atau amilum sudah terhidrolisis oleh eksoenzim pada bakteri. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan 48 jam kemudian didapati bahwa uji amilolitik positif pada kedua bakteri hal ini menandakan bahwa bacillus sp. dan e.colli mempunya enzim amylase. Beberapa contoh bakteri yang mengandung enzim amilase diantaranya bakteri Bacillus macerans, Bacillus polimexa, dan Bacillus subtilis (Sukarminah 2010). Uji proteolitik merupakan uji untuk mengetahui kemampuan bakteri dalam menghasilkan enzim protease. Aktivitas proteolitik menghasilkan sedikit penggumpalan. Bakteri proteolitik adalah bakteri yang memproduksi enzim protease ekstraseluler, yaitu enzim pemecah protein yang diproduksi di dalam sel kemudian dilepaskan keluar dari sel. Semua bakteri mempunyai enzim protease di dalam sel, tetapi tidak semua mempunyai enzim protease ekstraseluler. Dekomposisi protein oleh mikroorganisme lebih kompleks daripada pemecahan karbohidrat dan produk akhirnya juga lebih bervariasi. Hal ini disebabkan struktur protein yang lebih kompleks. Mikroorganisme melalui suatu sistem enzim yang kompleks, memecah protein menjadi senyawa-senyawa yang lebih

sederhana.(Durham, 1987). Semua bakteri mempunyai enzim protease di dalam sel, tetapi tidak semua bakteri mempunyai enzim protease ekstraseluler. Protease ekstraseluler lebih

dikenal dengan nama enzim proteolitik atau protease merupakan enzim yang

dapat menghidrolisis protein menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana seperti peptida-peptida kecil dan asam amino. Karena yang dipecah adalah rantai peptida, maka enzim tersebut dinamakan juga peptidase. Berdasarkan cara pemotongan ikatan peptida, , enzim peptidase dapat dibagi menjadi eksopeptidase dan endopeptidase (Volk, W. A., and Wheeler, M. F 1988). Eksopeptidase bekerja pada kedua ujung molekul protein, yang terdiri dari dua jenis enzim yaitu karboksipeptidase dan amino peptidase. Karboksipeptidase dapat melepaskan asam amino yang memiliki gugus COOH bebas pada ujung molekul protein sedangkan amino peptidase dapat melepaskan asam amino pada ujung lainnya yang memiliki gugus NH2 bebas. Sedangkan enzim endopeptidase memecah protein pada tempat-tempat tertentu dalam molekul protein dan biasanya tidak mempengaruhi gugus yang terletak di ujung molekul protein.
O HO C H C R NH O C ...................................... HN O C C R amino peptidase karboksi peptidase NH2

Gambar 1 Hidrolisis protein oleh enzim eksopeptidase (Poedjiadi, 1994). Bakteri bacillus sp. dan e.colli diinokulasikan dalam Skim Milk Agar yaitu media tumbuh bakteri yang telah mengandung agar, media ini digunakan karena dalam susu terdapat protein-protein yang kelak akan dihidrolisis oleh bakteri. Inkubasi yang dilakukan juga pada suhu 37OC selama 48 jam. Indikator yang digunaka pada uji ini adalah HCL 10% yang dituangkan langsung ke atas media tumbuh. Uji positif ditandai dengan tumbuhnya mikroba pada media nutrient agar (NA) yang mengandung susu skim dan membentuk zona bening di sekitar daerah inokulasi mikroba pada media. Berdasarkan hasil pengamatan didapati bacillus sp. terdapat zona bening yang menandakan bahwa bacillus sp. memiliki enzim protease, sedangkan pada bakteri e.colli menunjukkan hasil yang negatif karena tak terbentuk zona bening. Hasil ini sudah sesuai dengan teoritis bahwa bacillus sp mempunyai enzim protease sedangkan e.colli tidak mempunyai enzim protease.

Tabel 1 Uji aktivitas enzimatik bakteri


Uji Aktivitas Eksoenzim Uji Amilolitik Uji Proteolitik A B A B Uji aktivitas Endoenzim Uji Katalase bacillus sp. e.colli + +

Ket : + Bergelembung ; - Tidak bergelembung A : bacillus sp.; B : e.colli Species Bacillus sangat cocok untuk memproduksi enzim. Mikroba jenis Bacillus digunakan karena beberapa alasan, antara lain mikroba ini tidak menghasilkan toksin, mudah ditumbuhkan, dan tidak memerlukan substrat yang mahal. Kemampuan Bacillus untuk bertahan pada temperatur tinggi, tidak adanya hasil samping metabolik, dan kemampuannya untuk menghasilkan sejumlah besar protein ekstrasel membuat Bacillus merupakan organisme favorit untuk industri. Saat ini protease dibutuhkan secara fisiologi untuk kehidupan organisme pada tumbuhan, hewan maupun mikroorganisme (Priyani 2006). Uji katalase dilakukan untuk mengetahui adanya aktivitas enzim katalase pada bakteri. Pada uji ini bakteri bacillus sp. dan e.colli diambil dengan kawat ose dan diinokulasikan pada kaca preparat, kemudian ditetesi H2O2 3%, kemudian amati apakah terbentuk gelembung atau tidak. Hasil positif dari uji ini ditunjukkan dengan adanya gelembung gas pada kaca preparat. Uji katalase ini juga bertujuan untuk mengetahui perbedaan kuantitas oksigen yang dilepaskan, diduga berkaitan dengan tebal tipisnya selaput lendir yang menyelimuti permukaan sel. Tebal tipisnya selaput lendir akan mempengaruhi penetrasi H2O2 ke dalam sel. Bakteri dalam menjaga kelangsungan hidupnya menghasilkan enzim katalase yang memecah H2O2 menjadi air dan oksigen sehingga sifat toksiknya hilang (Pelczar dan Chan 1986). Katalase merupakan enzim yang mengandung besi yang dapat menguraikan hidrogen peroksida (H2O2) menjadi air dan oksigen. Berdasarkan hasil pengamatan untuk bakteri bacillus sp. dan e.colli kedua bakteri tersebut positif mengandung enzim katalase, hal ini terlihat karena

keduanya terdapat gelembung gas. Pembanding yang digunakan adalah larutan H2O2 itu sendiri.

Gambar 2 Reaksi penguraian senyawa H2O2 menjadi oksigen dan air dengan enzim katalase (Pelczar dan Chan 1986). Simpulan Berdasarkan hasil percobaan bacillus sp. dan e.colli positif mengandung enzim amilase, namun untuk enzim proteosa hanya bacillus sp. saja yang postif. Enzim katalase positif dimilik oleh enzim bacillus sp. dan e.colli.

Daftar Pustaka Durham, D.R., D.B. Stewart, and E.J. Stellwag. 1987. Novel alkaline and heat stable serine proteases from alkalaphilic Bacillus sp. strain GX6638. J. Bacterial. 169(6):2762- 2768 Dwijoseputro, 1980, Enzim, Jakarta : Erlangga. Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi pangan I. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Pelczar, M. J., and E. C. S. Chan. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi. Terjemahan Hadioetomo, R. S., dkk. Penerbit Univesitas Indonesia. Jakarta : UI Press Terjemahan dari: basic fundamentals of microbiology Priyani N, Liliyanto, dan Kiki N. 2006. Uji Potensi Bacillus sp. dan Escherichia coli dalam Mendegradasi Alkil Berzen Sebagai Bahan Aktif Detergen. Jurnal Biologi Sumatra. Vol. 1 (2). ISSN 1907-5537. Hal 35-37. Pujiyanti Sri, 2007. Menjelajah Dunia Biologi 3. Jakarta : Platinum. Rehm, H. J dan G. Reed. 19987. Biotechnology. Vol 8: enzyme Technology. VCH Verlags gessell schaff, mbH, Weinhaim. Sukarminah E., Sumanti, D.M. dan Hanidah,I. 2010. Mikrobiologi Pangan. Penerbit Jurusan Teknologi Industri Pangan Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Volk dan Wheeler. 1998. Mikrobiologi Dasar, Jilid 1 Edisi kelima. Jakarta : Erlangga.