Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Rhinosinusitis merupakan penyakit yang sering ditemukan dalam praktek dokter sehari-sehari, bahkan dianggap sebagai salah satu penyebab gangguan kesehatan tersering di seluruh dunia.1,2 Sinusitis merupakan penyakit dengan persentase yang signifikan di dalam populasi dan dapat menyebabkan morbiditas jangka panjang. Sinusitis adalah penyakit yang multifaktorial dan telah menjadi penyakit nomor satu di Amerika, dan jutaan dolar dihabiskan untuk pengobatan penyakit ini.3 Penyebab utamanya adalah selesma diikuti infeksi bakteri.1,2 $ila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai semua sinus paranasal disebut pansinusitis. %ang paling sering terkena ialah sinus ethmoid dan maksila, sedangkan sinus frontal lebih jarang dan sinus sphenoid lebih jarang lagi.1,2 Sinus maksila disebut juga antrum highmore, letaknya dekat akar gigi rahang atas, maka infeksi gigi mudah menyebar ke sinus, disebut sinusitis dentogen. Sinusitis dapat menjadi berbahaya karena menyebabkan komplikasi orbita dan intrakranial, serta menyebabkan peningkatan serangan asma yang sulit diobati.1,2 Antrum maksila mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan akar gigi premolar dan molar atas dan sering terlihat pada pemeriksaan radiologi oral dan fasial. &ubungan ini dapat menimbulkan problem klinis, seperti infeksi yang berasal dari gigi dan fistula oroantral dapat naik ke atas dan menimbulkan infeksi sinus. 'ata dari sub bagian Rinologi (&( )*+, RS+P- 'r. .ipto /angunkusumo menunjukkan angka kejadian sinusitis yang tinggi yaitu 201 pasien 234" dari 056 pasien ra7at jalan yang datang pada tahun 1556.3 !ommon !old" yang merupakan infeksi #irus, alergi dan gangguan anatomi yang selanjutnya dapat

1.2 Batasan Masalah Referat ini membahas mengenai sinusitis dengan komplikasinya meliputi anatomi dan fisiologi sinus paranasal, definisi, etiologi, klasifikasi, patogenesis, diagnosis, pentalaksanaan dan komplikasi sinusitis. 1.3 Tujuan Penulisan (ujuan penulisan referat ini adalah unutk memahami mengenai anatomi dan fisiologi sinus paranasal, definisi, etiologi, klasifikasi, patogenesis, diagnosis, pentalaksanaan dan komplikasi sinusitis. 1.4 Met !e Penulisan Referat ini disusun berdasarkan studi kepustakaan dengan merujuk ke berbagai literatur.

BAB II TIN"AUAN PU#TA$A 2.1 De%inisi Rinosinusitis didefinisikan sebagai inflamasi mukosa hidung dan sinus paranasal.0 Rhinitis dan sinusitis biasanya terjadi bersamaan dan saling terkait pada kebanyakan indi#idu, sehingga terminologi yang digunakan saat ini adalah rinosinusitis. Rinosinusitis termasuk polip nasi" didefinisikan sebagai inflamasi hidung dan sinus paranasal yang ditandai adanya dua atau lebih gejala, salah satunya harus termasuk sumbatan hidung8 obstruksi nasi8 kongesti atau pilek sekret hidung anterior8 posterior" 9 nyeri 7ajah8 rasa tertekan di 7ajah 9 penurunan8 hilangnya penghidu dan salah satu dari (emuan nasoendoskopi: o Polip dan atau o Sekret mukopurulen dari meatus medius dan atau o ;dema8 obstruksi mukosa di meatus medius dan atau <ambaran tomografi komputer: o Perubahan mukosa di kompleks osteomeatal dan atau sinus.2 2.2 Anat &i ' ngga Hi!ung !an #inus Paranasal Sinus paranasal terdiri dari empat pasang, yaitu sinus frontal, sinus etmoid, sinus maksila, dan sinus sfenoid seperti pada gambar 1. Sinus-sinus ini pada dasarnya adalah rongga-rongga udara yang berlapis mukosa di dalam tulang 7ajah dan tengkorak. Pembentukannya dimulai sejak dalam kandungan, akan tetapi hanya ditemukan dua sinus ketika baru lahir yaitu sinus maksila dan etmoid.6 Sinus frontal mulai berkembang dari sinus etmoid anterior pada usia sekitar 1 tahun dan menjadi penting se!ara klinis menjelang usia 13 tahun, terus berkembang hingga usia 22 tahun. Pada sekitar 234 populasi, sinus frontal tidak ditemukan atau rudimenter, dan tidak memiliki makna klinis. Sinus sfenoidalis

mulai mengalami pneumatisasi sekitar usia 1 hingga 13 tahun dan terus berkembang hingga akhir usia belasan atau dua puluhan.0 'inding lateral nasal mulai sebagai struktur rata yang belum berdiferensiasi. Pertumbuhan pertama yaitu pembentukan maxilloturbinal yang kemudian akan menjadi kokha inferior. Selanjutnya, pembentukan ethmoturbinal, yang akan menjadi konka media, superior dan supreme dengan !ara terbagi menjadi ethmoturbinal pertama dan kedua. Pertumbuhan ini diikuti pertumbuhan sel-sel ager nasi, prosesus un!inatus, dan infundibulum etmoid. Sinus-sinus kemudian mulai berkembang. Rangkaian rongga, depresi, ostium dan prosesus yang dihasilkan merupakan struktur yang kompleks yang perlu dipahami se!ara detail dalam penanganan sinusitis, terutama sebelum tindakan bedah.6 (ulang-tulang pembentuk dinding lateral hidung dijelaskan dalam gambar 2.=

<ambar 1 . <ambaran sinus paranasal6

<ambar 2. (ulang-tulang pembentuk dinding lateral hidung 1. -asal> 2. )rontal> 3. ;tmoid> 0. Sfenoid> 2. /aksila> 6. Prosesus palatina hori?ontal> =. *onka superior etmoid"> 1. *onka media etmoid"> 5. *onka inferior> 13. )oramene sfenopalatina> 11. @empeng pterigoid media> 13. &amulus pterigoid media"= 'ari struktur di atas, dapat dilihat atap ka#um nasi dibentuk oleh tulangtulang nasal, frontal, etmoid, sfenoid dan dasar ka#um nasi dibentuk oleh maksila dan prosesus palatina, palatina dan prosesus hori?ontal. <ambar 2 menunjukkan anatomi tulang-tulang pembentuk dinding nasal bagian lateral. (iga hingga empat konka menonjol dari tulang etmoid, konka supreme, superior, dan media. *onka inferior dipertimbangkan sebagai struktur independen.= /asing-masing struktur ini melingkupi ruang di baliknya di bagian lateral yang disebut meatus, seperti terlihat pada gambar 3.

<ambar 3. /eatus pada dinding lateral hidung13 Sebuah lapisan tulang ke!il menonjol dari tulang etmoid yang menutupi muara sinus maksila di sebelah lateral dan membentuk sebuah jalur di belakang konka media. $agian tulang ke!il ini dikenal sebagai prosesus unsinatus.6 Aika konka media diangkat, maka akan tampak hiatus semilunaris dan bulla etmoid seperti tampak pada gambar 0. 'inding lateral nasal bagian superior terdiri dari sel-sel sinus etmoid yang ke arah lateral berbatasan dengan epitel olfaktori dan lamina kribrosa yang halus. Superoanterior dari sel-sel etmoid terdapat sinus frontal. Aspek postero-superior dari dinding lateral nasal merupakan dinding anterior dari sinus sfenoid yang terletak di ba7ah sela tursika dan sinus ka#ernosa.=

<ambar 0. Struktur di balik konka= Pada sepertiga tengah dinding lateral hidung yaitu di meatus medius ada muara-muara saluran sinus maksila, sinus frontal dan sinus etmoid anterior. 'aerah ini rumit dan sempit dan dinamakan kompleks ostio-meatal *B/", terdiri dari infundibulum etmoid yang tedapat dibelakang prosesus unsinatus, resesus frontalis, bulla etmoid dan sel-sel etmoid anterior dengan ostiumnya dan ostium sinus maksila.1

<ambar 2. *ompleks ostio-meatal *B/" Sinus paranasal dalam kondisi normal mengalirkan sekresi dari mukosa ke daerah yang berbeda dalam ka#um nasi seperti terlihat dalam gambar 6. Aliran sekresi sinus sfenoid menuju resesus sfenoetmoid, sinus frontal menuju infundibulum meatus media, sinus etmoid anterior menuju meatus media, sinus etmoid media menuju bulla etmoid dan sinus maksila menuju meatus media. Struktur lain yang mengalirkan sekresi ke ka#um nasi adalah duktus nasolakrimalis yang berada ka#um nasi bagian anterior.=

<ambar 6. Aliran sekresi sinus= 2.3 Eti l gi !an (akt r Pre!is) sisi sinusitis $eberapa faktor etiologi dan predisposisi antara lain ,SPA akibat #irus, infeksi bakteri, jamur, berma!am rinitis terutama rinitis alergi, rinitis hormonal pada 7anita hamil. )aktor lokal seperti anomali kraniofasial, obstruksi nasal, trauma, polip hidung, de#iasi septum atau hipertrofi konka, sumbatan komplek

osteomeatal, infeksi tonsil, infeksi gigi, juga dapat menjadi faktor predisposisi rinosinusistis. Pada anak, hipertrofi adenoid merupakan faktor penting penyebab terjadinya rinosinusitis sehingga perlu dilakukan adenoidektomi untuk menghilangkan sumbatan dan menyembuhkan rinosinositisnya. )aktor lain yang juga berpengaruh adalah polusi udara, udara dingan dan kering serta kebiasaan merokok.1,5 2.4 $lasi%ikasi 'in sinusitis $erdasarkan beratnya penyakit, rinosinusitis dapat dibagi menjadi ringan, sedang dan berat berdasarkan total skor #isual analogue s!ale CAS" 3-13!m":2 - Ringan D CAS 3-3 - Sedang D CAS E3-= - $eratD CAS E=-13 +ntuk menilai beratnya penyakit, pasien diminta untuk menentukan dalam CAS ja7aban dari pertanyaan:

$erapa besar gangguan dari gejala rinosinusitis saudaraF GHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHG (idak mengganggu 13 !m <angguan terburuk yang masuk akal -ilai CAS E 2 mempengaruhi kulaitas hidup pasien. $erdasarkan durasi penyakit, rinosinusitis diklasifikasikan menjadi:2 Akut I 12 minggu Resolusi komplit gejala *ronik E 12 minggu (anpa resolusi gejala komplit (ermasuk rinosinusitis kronik eksaserbasi akut

Rinosinusitis kronik tanpa bedah sinus sebelumnya terbagi menjadi subgrup yang didasarkan atas temuan endoskopi, yaitu:2 1. Rinosinusitis kronik dengan polip nasal Polip bilateral, terlihat se!ara endopskopi di meatus media 2. Rinosinusitis kronik tanpa polip nasal (idak ada polip yang terlihat di meatus media, jika perlu setelah penggunaan dekongestan.1 2.* Pat genesis *esehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan kelan!aran klirens dari mukosiliar di dalam kompleks osteo meatal *B/". 'isamping itu mukus juga mengandung substansi antimikrobial dan ?at-?at yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan. 1 $ila terinfeksi organ yang membentuk *B/ mengalami oedem, sehingga mukosa yang berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan lendir tidak dapat dialirkan. /aka terjadi gangguan drainase dan #entilasi didalam sinus, sehingga silia menjadi kurang aktif dan lendir yang diproduksi mukosa sinus menjadi lebih kental dan merupakan media yang baik untuk tumbuhnya bakteri patogen.1

<ambar =. Patogenesis Sinusitis13

$ila sumbatan berlangsung terus akan terjadi hipoksia dan retensi lendir sehingga timbul infeksi oleh bakteri anaerob. Selanjutnya terjadi perubahan jaringan menjadi hipertrofi, polipoid atau pembentukan kista. Polip nasi dapat menjadi manifestasi klinik dari penyakit sinusitis. Polipoid berasal dari edema mukosa, dimana stroma akan terisi oleh !airan interseluler sehingga mukosa yang sembab menjadi polipoid. $ila proses terus berlanjut, dimana mukosa yang sembab makin membesar dan kemudian turun ke dalam rongga hidung sambil membentuk tangkai, sehingga terjadilah polip.11 Perubahan yang terjadi dalam jaringan dapat disusun seperti diba7ah ini, yang menunjukkan perubahan patologik pada umumnya se!ara berurutan :11 1. Aaringan submukosa di infiltrasi oleh serum, sedangkan permukaannya kering. @eukosit juga mengisi rongga jaringan submukosa. 2. *apiler berdilatasi, mukosa sangat menebal dan merah akibat edema dan pembengkakan struktur subepitel. Pada stadium ini biasanya tidak ada kelainan epitel. 3. Setelah beberapa jam atau sehari dua hari, serum dan leukosit keluar melalui epitel yang melapisi mukosa. *emudian ber!ampur dengan bakteri, debris, epitel dan mukus. Pada beberapa kasus perdarahan kapiler terjadi dan darah ber!ampur dengan sekret. Sekret yang mula-mula en!er dan sedikit, kemudian menjadi kental dan banyak, karena terjadi koagulasi fibrin dan serum. 0. Pada banyak kasus, resolusi terjadi dengan absorpsi eksudat dan berhentinya pengeluaran leukosit memakan 7aktu 13 J 10 hari. 2. Akan tetapi pada kasus lain, peradangan berlangsung dari tipe kongesti ke tipe purulen, leukosit dikeluarkan dalam jumlah yang besar sekali. Resolusi masih mungkin meskipun tidak selalu terjadi, karena perubahan jaringan belum menetap, ke!uali proses segera berhenti. Perubahan jaringan akan menjadi permanen, maka terjadi perubahan kronis, tulang di ba7ahnya dapat memperlihatkan tanda osteitis dan akan diganti dengan nekrosis tulang.11 Perluasan infeksi dari sinus kebagian lain dapat terjadi : 1" /elalui suatu tromboflebitis dari #ena yang perforasi> 2" Perluasan langsung melalui bagian

13

dinding sinus yang ulserasi atau nekrotik> 3" 'engan terjadinya defek> dan 0" melalui jalur #askuler dalam bentuk bakterimia. /asih dipertanyakan apakah infeksi dapat disebarkan dari sinus se!ara limfatik.11 2.+ Diagn sis 'iagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. $erdasarkan beratnya penyakit, rinosinusitis dapat dibagi menjadi ringan, sedang dan berat sesuai dengan klasifikasi ;PBS. Sedangkan berdasarkan lamanya penyakit rinosinusitis dibagi menjadi akut dan kronik. $erdasarkan ;PBS yang dikatakan akut adalah bila gejala berlangsung I12 minggu, sedangkan kronik bila gejala berlangsung E12 minggu termasuk rinosinusitis kronik eksaserbasi akut.1,2 2.+.1 'in sinusitis Akut Rinosinusitis akut umumnya dimulai dari infeksi saluran pernafasan atas oleh #irus yang melebihi 13 hari. Brganisme yang umum menyebabkan rinosinusitis akut termasuk Streptococcus pneumonia, Haemophilus influenza dan Moraxella catarrhalis. 'iagnosis dari rinosinusitis akut dapat ditegakkan ketika infeksi saluran napas atas oleh #irus tidak sembuh salama 13 hari atau memburuk setelah 2-= hari.12 Penyebab utamanya ialah selesma (common cold) yang merupakan infeksi #irus, terdapat transudasi di rongga-rongga sinus, mula-mula serous yang biasanya sembuh dalam beberapa hari tanpa pengobatan. Selanjutnya diikuti oleh infeksi bakteri , yang bila kondisi ini menetap, sekret yang terkumpul dalam sinus merupakan media baik untuk tumbuhnya dan multiplikasi bakteri. Sekret menjadi purulen. 1 'ari anamnesis didapatkan keluhan utama rinosinusitis akut ialah hidung tersumbat disertai nyeri8rasa tekanan pada muka dan ingus purulen, yang sering sekali turun ke tenggorok post nasal drip". 'apat juga disertai gejala sistemik seperti demam dan lesu. *eluhan nyeri atau rasa tekanan di daerah sinus yang terkena, merupakan !iri khas rinosinusitis akut, serta kadang-kadang nyeri juga dirasakan di tempat lain reffered pain". -yeri pipi, gigi, dahi dan depan telinga menandakan sinusitis maksila. -yeri di antara atau di belakang kedua bola mata

11

dan pelipis menandakan sinusitis etmoid. -yeri di dahi atau seluruh kepala menandakan sinusitis frontal. Pada sinusitis sfenoid, nyeri dirasakan di #erteks, oksipital, belakang bola mata dan daerah mastoid. <ejala lain adalah sakit kepala, hipoosmia8anosmia, halitosis, post nasal drip yang menyebabkan batuk dan sesak pada anak.1,2 <ejala sugestif untuk menegakkan diagnosis terlihat pada tabel 1. <ejala yang berat dapat menyebabkan beberapa komplikasi, dan pasien tidak seharusnya menunggu sampai 2-= hari sebelum mendapatkan pengobatan.12

(abel 1. <ejala /ayor dan /inor pada 'iagnosis Sinusitis Akut13 ,ejala Ma- r -yeri atau rasa tertekan pada muka *ebas atau rasa penuh pada muka Bbstruksi hidung Sekret hidung yang purulen, post nasal drip &iposmia atau anosmia 'emam hanya pada rinosinusitis akut" ,ejala Min r Sakit kepala 'emam pada sinusitis kronik" &alitosis *elelahan Sakit gigi $atuk

12

-yeri, rasa tertekan atau rasa penuh pada telinga 'iagnosis ditegakkan dengan dua gejala mayor atau satu gejala mayor ditambah dengan dua gejala minor.13 Pada rinoskopi anterior tampak pus keluar dari meatus superior atau nanah di meatus medius pada sinusitis maksila, sinusitis frontal dan sinusitis etmoid anterior, sedangkan pada sinusitis etmoid posterior dan sinusitis sfenoid tampak pus di meatus superior. Pada rinoskopi posterior tampak pus di nasofaring post nasal drip". Pada pemeriksaan transiluminasi, sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap.1 Pemeriksaan radiologik yang dibuat adalah posisi waters, PA dan lateral. Akan tampak perselubungan atau penebalan mukosa atau batas !airan udara (air fluid level) pada sinus yang sakit.1

<ambar 1. Pemeriksaan Radiologi untuk Sinus Paranasal10 Pemeriksaan mikrobiologik dan tes resistensi dilakukan dengan mengambil sekret dari meatus medius atau meatus superior. @ebih baik lagi bila diambil sekret yang keluar dari pungsi sinus maksila. 'alam interpretasi biakan hidung, harus hati-hati, karena mungkin saja biakan dari sinus maksilaris dapat dianggap benar, namun pus tersebut berlokasi dalam suatu rongga tulang. Sebaiknya biakan dari hidung depan, akan mengungkapkan organisme dalam #estibulum nasi termasuk flora normal seperti Staphilococcus dan beberapa kokus gram positif yang tidak ada kaitannya dengan bakteri yang dapat menimbulkan sinusitis. Bleh karena itu, biakan bakteri yang diambil dari hidung bagian depan hanya sedikit bernilai dalam interpretasi bakteri dalam sinus maksilaris, bahkan

13

mungkin memberi informasi yang salah. Suatu biakan dari bagian posterior hidung atau nasofaring akan jauh lebih akurat, namun se!ara teknis sangat sulit diambil. Sinuskopi dilakukan dengan pungsi menembus dinding medial sinus maksila melalui meatus inferior, dengan alat endoskop bisa dilihat kondisi sinus maksila yang sebenarnya, selanjutnya dapat dilakukan irigasi sinus untuk terapi. 0,1 1. #inusitis Maksilaris -yeri pipi menandakan sinusitis maksila. <ejala sinusitis maksilaris akut berupa demam, malaise dan nyeri kepala yang tak jelas yang biasanya reda dengan pemberian analgetik biasa seperti aspirin. Kajah terasa bengkak, penuh, dan gigi terasa nyeri pada gerakan kepala mendadak, misalnya se7aktu naik atau turun tangga. Seringkali terdapat nyeri pipi khas yang tumpul dan menusuk, serta nyeri pada palpasi dan perkusi. Sekret mukopurulen dapat keluar dari hidung dan terkadang berbau busuk.1 'ari pemeriksaan fisik didapatkan adanya pus dalam hidung, biasanya dari meatus media, atau pus atau sekret mukopurulen dalam nasofaring. Sinus maksilaris terasa nyeri pada palpasi dan perkusi. (ransluminasi berkurang bila sinus penuh !airan. Pada pemeriksaan radiologik foto polos posisi 7aters dan PA, gambaran sinusitis maksilaris akut mula-mula berupa penebalan mukosa, selanjutnya diikuti opasifikasi sinus lengkap akibat mukosa yang membengkak hebat, atau akibat akumulasi !airan yang memenuhi sinus. Akhirnya terbentuk gambaran air-fluid level yang khas akibat akumulasi pus.0 2. #inusitis Et& i!alis Sinusitis etmoidalis akut terisolasi lebih la?im pada anak, seringkali bermanifestasi sebagai selulitis orbita. 'ari anamnesis didapatkan nyeri yang dirasakan di pangkal hidung dan kantus medius, kadang-kadang nyeri di bola mata atau di belakangnya, terutama bila mata digerakkan. -yeri alih di pelipis, post nasal drip dan sumbatan hidung. Pemeriksaan fisik didapatkan nyeri tekan pada pangkal hidung.0,1 3. #inusitis (r ntalis

10

-yeri berlokasi di atas alis mata, biasanya pada pagi hari dan memburuk menjelang tengah hari, kemudian perlahan-lahan mereda hingga menjelang malam. Pasien biasanya menyatakan bah7a dahi terasa nyeri bila disentuh dan mungkin terdapat pembengkakan supra orbita. Pemeriksaan fisik, nyeri yang hebat pada palpasi atau perkusi di atas daerah sinus yang terinfeksi merupakan tanda patognomonik pada sinusitis frontalis.1 4. #inusitis #%en i!alis Sinusitis sfenoidalis di!irikan oleh nyeri kepala yang mengarah ke #erteks kranium. Penyakit ini lebih la?im menjadi bagian dari pansinusitis dan oleh karena itu gejalanya menjadi satu dengan gejala infeksi sinus lainnya.0

2.+.2 'in sinusitis $r nis *eluhan rinosinusitis kronik tidak khas sehingga sulit didiagnosis. Selama eksaserbasi akut, gejala mirip dengan rinosinusitis akut> namun diluar masa itu, gejala berupa suatu perasaan penuh pada 7ajah dan hidung, dan hipersekresi yang seringkali mukopurulen. *adang-kadang hanya satu atau dua dari gejala-gejala diba7ah ini yaitu sakit kepala kronik, post nasal drip, batuk kronik, gangguan tenggorok, gangguan telinga akibat sumbatan kronik muara tuba eusta!hius, gangguan ke paru seperti bronkitis sino-bronkitis", bronkiektasis, dan yang penting adalah serangan asma yang meningkat dan sulit diobati. Pada anak mukopus yang tertelan dapat menyebabkan gastroenteritis.0,1,11 &idung biasanya sedikit tersumbat, dan tentunya ada gejala-gejala faktor predisposisi, seperti rinitis alergika yang menetap, dan keluhan-keluhannya yang menonjol. Pasien dengan rinosinusitis kronik dengan polip nasi lebih sering mengalami hiposmia dan lebih sedikit mengeluhkan nyeri atau rasa tertekan daripada yang tidak memiliki polip nasi. $akteri yang memegang peranan penting dalam patogenesis rinosinusitis kronik masih kontro#ersial. Brganisme yang umum terisolasi pada rinosinusitis kronik termasuk Staphylococcus aureus, bakteri anaerob dan gram negatif seperti seudomonas aeru!inosa.11, 12

12

2.. Penatalaksanaan 2...1 'in sinusitis Akut Antibiotik merupakan kun!i dalam penatalaksanaan rinosinusitis supuratif akut. Amoksisilin merupakan pilihan tepat untuk kuman gram positif dan negatif. Cankomisin untuk kuman S. pneumoniae yang resisten terhadap amoksisilin. Pilihan terapi lini pertama yang lain adalah kombinasi eritromi!in dan dulfonamide atau !ephaleLin dan sulfonamide.12 Antibiotik parenteral diberikan pada rinosinusitis yang telah mengalami komplikasi seperti komplikasi orbita dan komplikasi intrakranial, karena dapat menembus sa7ar darah otak. .eftriakson merupakan pilihan yang baik karena selain dapat membasmi semua bakteri terkait penyebab sinusitis, kemampuan menembus sa7ar darah otaknya juga baik.12 Pada rinosinusitis yang disebabkan oleh bakteri anaerob dapat digunakan metronida?ole serebrospinal. atau klindamisin. hanya *lindamisin diberikan dapat pada menembus rinosinusitis !airan dengan Antihistamin

predisposisi alergi. Analgetik dapat diberikan. *ompres hangat dapat juga dilakukan untuk mengurangi nyeri.12
Bnset tiba-tiba dari 2 atau lebih gejala, salah sa tunya termasuk hidung tersumbat8 obstruksi8 kongesti atau pilek> sekret hidung anterior8 posterior> 9 nyeri8 rasa tertekan di 7ajah> Penghidu terganggu8 hilang Pemeriksaan: Rinoskopi Anterior )oto Polos SP-8 (omografi *omputer tidak direkomendasikan *eadaan yang harus segera di rujuk8 dira7at ;dema periorbita Pendorongan letak bola mata Penglihatan ganda Bftalmoplegi Penurunan #isus -yeri frontal unilateral atau bilateral $engkak daerah frontal (anda meningitis atau tanda fokal neurologis

<ejala kurang dari 2 hari atau membaik setelahnya

<ejala menetap atau memburuk setelah 2 hari

.ommon !old

Sedang

$erat

Pengobatan simtomatik

Steroid topikal

Antibiotik M steroid topikal

(idak ada perbaikan setelah 10 hari

Perbaikan dalam 01 jam

(idak ada perbaikan dalam 01 jam

16
Rujuk ke dokter spesialis (eruskan terapi untuk =-10 hari Rujuk ke spesialis dokter

<ambar 5. Skema penatalaksanaan rinosinusitis akut pada de7asa untuk pelayanan kesehatan primer berdasarkan "uropean osition aper on #hinosinusitisnand $asal olyps %&&'( (indakan bedah sederhana pada sinusitis maksilaris kronik adalah nasoantrostomi atau pembentukan fenestra nasoantral. ;kmoidektomi dilakukan pada sinusitis etmoidalis. )rontoetmoidektomi eksternal dilakukan pada sinusitis frontalis. ;ksplorasi sfenoid dilakukan pada sinusitis sfenoidalis. Pembedahan sinus endoskopik merupakan suatu teknik yang memungkinkan #isualisasi yang baik dan magnifikasi anatomi hidung dan ostium sinus normal bagi ahli bedah, teknik ini menjadi populer akhir-akhir ini.0

1=

2 atau lebih gejala, salah satunya berupa hidung tersumbat8 obstruksi8 kongesti atau 2...2 'in sinusitis $r nis pilek> sekret hidung anterior8 posterior> 9 nyeri8 rasa tertekan di 7ajah> Penghidu terganggu8 hilang Pemeriksaan: Rinoskopi Anterior )oto Polos SP-8 (omografi *omputer tidak direkomendasikan

Pikirkan diagnosis lain : <ejala unilateral Perdarahan *rusta <angguan pen!iuman <ejala Brbita ;dema Periorbita Pendorongan letak bola mata Penglihatan ganda Pertimbangkan diagnosis lain : 2 atau lebih gejala, salah satunya berupa Bftalmoplegi <ejala unilateral hidung tersumbat atau pilek yang tidak -yeri kepala bagian frontal yang berat Perdarahan jernih> 9 nyeri bagian frontal, sakit kepala> $engkak daerah frontal *rusta (ersedia ;ndoskopi <angguan Penghidu (anda meningitis atau tanda fokal neurologis *akosmia Pemeriksaan (&( termasuk ;ndoskopi: fokal <ejala Brbita Pertimbangkan (omografi *omputer ;dema Periorbita (es Alergi Penglihatan ganda Pertimbangkan diagnosis dan Bftalmoplegi penatalaksanaan penyakit penyerta> misal Polip -yeri kepala bagian berat dan (idak ada polip ;ndoskopi tidak frontal yang ,n#estigasi Asma tersedia inter#ensi se!epatnya ;dem frontal (anda meningitis atau tanda fokal neurologis <ambar 13. Skema penatalaksanaan rinosinusitis kronik dengan atau tanpa fokal

Spesialis (&( Ringan CAS 3-3

polip hidung pada de7asa untuk pelayanan kesehatan primer dan Pemeriksaan Rinoskopi Anterior spesialis ,kuti non (&( berdasarkan "uropean aper on ,kuti skema dokter polip skema )oto Polos SP-8 (omografiosition ( hidung 'okter Rinosinusitis kronik *omputer tidak direkomendasikan #hinosinusitisnand $asal olyps %&&'
'okter Spesialis (&( Sedang atau berat CAS E3-13

Steroid topikal ,ntranasal !u!i hidung

Rujuk 'okter Spesialis (&( jika Bperasi <agal setelah 3 bulan 'ipertimbangkan

Steroid topikal Steroid topikal .u!i hidung .u!i hidung *ultur N resistensi *uman Antihistamin jika alergi /akrolid jangka panjang

Perlu in#estigasi dan inter#ensi !epat

Perbaikan Ree#aluasi setelah 0 minggu <agal setelah 3 bulan

(indak lanjut Aangka Panjang M !u!i hidung Steroid topikal 9 /akrolide jangka panjang

Perbaikan

(idak ada perbaikan (omografi *omputer

11
@anjutkan terapi Rujuk spesialis Bperasi (&(

<ambar 11. Skema penatalaksanaan berbasis bukti rinosinusitis kronik tanpa polip hidung pada de7asa untuk dokter spesialis (&( berdasarkan "uropean osition aper on #hinosinusitis and $asal olyps %&&'(

2 atau lebih gejala, salah satunya berupa hidung tersumbat atau sekret hidung ber7arnar> 9 nyeri bagian frontal, sakit kepala> <angguan Penghidu Pemeriksaan (&( termasuk ;ndoskopi: Pertimbangkan (omografi *omputer (es Alergi Pertimbangkan diagnosis dan penatalaksanaan penyakit penyerta> misal ASA

Pertimbangkan diagnosis lain : <ejala unilateral Perdarahan *rusta *akosmia <ejala Brbita ;dema Periorbita Penglihatan ganda Bftalmoplegi -yeri kepala bagian frontal yang berat ;dem frontal (anda meningitis atau tanda fokal neurologis fokal

<ambar 12. Skema penatalaksanaan rinosinusitis kronik dengan polip hidung pada de7asa untuk dokter spesialis (&( berdasarkan "uropean osition aper on #hinosinusitis and $asal olyps %&&'(
Ringan CAS 3-3 Sedang CAS 3-= $erat CAS E 13 Perlu in#estigasi dan inter#ensi !epat Steroid topikal spray" Steroid topikal tetes hidung Steroid oral jangka pendek Steroid topikal

2./

$ &)likasi 'in sinusitis


;#aluasi setelah 1 Rinosinusitis merupakan suatu penyakit yang tatalaksananya berupa ra7at bulan 'ie#aluasi setelah 3 bulan

jalan. Pengobatan ra7at inap di rumah sakit merupakan hal yang jarang ke!uali jika ada komplikasi dari rinosinusitis itu sendiri. Kalaupun tidak diketahui se!ara
Perbaikan @anjutkan Steroid Perbaikan (idak membaik (idak membaik

pasti, insiden dari komplikasi rinosinusitis diperkirakan sangat rendah. Salah satu studi (opikal menemukan bah7a insiden komplikasi yang ditemukan adalah 34. Sebagai (omografi *omputer
;#aluasi setiap 6 bulan (indak lanjut .u!i hidung Steroid topikal M oral Antibiotika jangka panjang Bperasi

15

tambahan, studi lain menemukan bah7a hanya beberapa pasien yang mengalami komplikasi dari rinosinusitis setiap tahunnya. *omplikasi dari rinosinusitis ini disebabkan oleh penyebaran bakteri yang berasal dari sinus ke struktur di sekitarnya. Penyebaran yang tersering adalah penyebaran se!ara langsung terhadap area yang mengalami kontaminasi.16 *omplikasi dari rinosinusitis tersebut antara lain :16 1. *omplikasi lokal a" b" 2. a" b" !" d" 3. a" b" /ukokel Bsteomielitis ott)s puffy tumor"

*omplikasi orbital ,nflamatori edema Abses orbital Abses subperiosteal (rombosis sinus !a#ernosus. /eningitis Abses Subperiosteal

*omplikasi intrakranial

*omplikasi rinosinusitis telah menurun se!ara nyata sejak ditemukannya antibiotik. *omplikasi berat biasanya terjadi pada rinosinusitis akut atau pada rinosinusitis kronis dengan eksaserbasi akut, berupa komplikasi orbita atau intra!ranial.1 .( s!an merupakan suatu modalitas utama dalam menjelaskan derajat penyakit sinus dan derajat infeksi di luar sinus, pada orbita, jaringan lunak dan kranium. Pemeriksaan ini harus rutin dilakukan pada rinosinusitis refrakter, kronik atau berkomplikasi.0 BAB III $E#IMPULAN Rinosinusitis didefinisikan sebagai inflamasi pada hidung dan mukosa sinus paranasal. Sinus paranasal terdiri dari empat pasang, yaitu sinus frontal, sinus etmoid, sinus maksila, dan sinus sfenoid. Sinus-sinus ini pada dasarnya adalah

23

rongga-rongga udara yang berlapis mukosa di dalam tulang 7ajah dan tengkorak. Rinitis dan sinusitis biasanya terjadi bersamaan dan saling terkait pada kebanyakan indi#idu, sehingga terminologi yang digunakan saat ini adalah rinosinusitis.. *esehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan kelan!aran klirens dari mukosiliar didalam komplek osteo meatal *B/". Penatalaksanaan pada rinosinusitis berdasarkan durasi penyakitnya. Antibiotik merupakan kun!i dalam penatalaksanaan rinosinusitis supuratif akut, sedangkan penatalaksanaan pada rinosinusitis kronik dengan tindakan bedah. *omplikasi dari rinosinusitis tersebut antara lain komplikasi lokal, orbital dan intrakranial.

DA(TA' PU#TA$A 1. 'amayanti dan ;ndang, Sinus Paranasal, dalam : ;fiaty, -urbaiti, editor. $uku Ajar ,lmu *edokteran (&( *epala dan @eher, ed. 6, $alai Penerbit )* +,, Aakarta 233=, 123-120.

21

2. $udiman, $A, Ade Asyari. 2312. #inosinusitis den!an olip

*ia!nosis dan $asi.

enatala+sanaan 'iakses dari

http:88repository.unand.a!.id81=211818PenatalaksanaanHrinosinusitisHdengan polipHnasi. pdf pada tanggal 23 April 2313 pukul 16.33. 3. )arhat. 2336. eran ,nfe+si -i!i #ahan! .tas pada /e0adian Sinusitis Ma+sila di dalam Ma0alah /edo+teran $usantara volume 12. 'iakses dari http:88repository.usu.a!.id8bitstream8123026=158...818mkn-des2336-423 2" pada tanggal 23 April 2313 pukul 16.02. 0. &ilgher PA. Penyakit Sinus Paranasalis. 'alam: Adams, $oies, &igler. $uku Ajar Penyakit (&( ;disi 6. Aakarta: ;<.> 155=. hal 203-23 2. )okkens K, @und C, /ullol A. ;uropean Position Paper on -asal Polyps. 233= 6. Ouinn )$. Paranasal Sinus Anatomy and )un!tion. 35 Aanuari 2335.'iunduh dari http:88777.utmb.edu8otoref8<rnds8Paranasal-Sinus-2332-318Paranasalsinus-2332-31.htm. =. -orman K. -asal .a#ity, Paranasal Sinuses, /aLillary 'i#ision of (rigeminal -er#e. 1555. 'iunduh dari http:88home.!om!ast.net8P7nor8lesson5.htm 1. /angunkusumo ;, Soetjipto '. Sinusitis. 'alam: Soepardi ;A, ,skandar -, $ashiruddin A, Restuti R'. $uku Ajar ,lmu *esehatan (elinga &idung (enggorok *epala @eher ;disi 6. Aakarta: $alai Penerbit )* +,. 233=> hal 1=3-3 5. -a!lerio R, <ungor A. ;tiologi! )a!tors in ,nflammatory Sinus 'isease dalam 'isease of the sinuses diagnosis and management. *ennedy 'K. @ondon : $.. 'e!ker. 2331> hal 0=-23. 13. -etter, )rank &. A .olle!tion Bf /edi!al ,llustration. 'i unduh dari 777.netterimages.!om

22

11. $allenger. A. A., ,nfeksi Sinus Paranasal. hal : 232 J 01

Penyakit (elinga, &idung dan

(enggorok *epala dan @eher. ;d 13 1". Aakarta : $inaputra Aksara. 1550>

12. @a7anil A*. A!ute and .hroni! Sinusitis. .urrent 'iagnosis and (reatment in Btolaringology. 2nd ;dition. -e7 %ork : 'epartement of Btolaringology -e7 %ork +ni#ersity S!hool Bf /edi!ine. 233=. 13. /ekhitarian -eto, et al. A!ute Sinusitis in .hildren- a Retrospe!ti#e Study of Brbital .ompli!ation. Arti!le of Btorhinolaryngology. Col.=3. -o.1. Sao Paulo.233= 10. Ramanan RC. Sinusitis ,maging : ,maging. 'epartement of Radiology (he Apollo &eart .entre ,ndia. 'iunduh dari http : 88e/edi!ine-Radiology.!om. (anggal 23 -o#ember 2313. 12. $yron A. Rhinosinusitis : .urrent .on!epts and /anagement. 'alam &ead and -e!k Surgery Btolaryngology. 2331. 16. S!h7art? <, Khite S. .ompli!ations of A!ute and .hroni! Sinusitis and (heir management> dalam Sinusitis from /i!robiology to /anagement. $rook ,. -e7 %ork : (aylor and )ran!is <roup. 2336> hal : 265-11.

23

20