Anda di halaman 1dari 3

BAB 4 PELAYANAN PUBLIK YANG EFISIEN, RESPONSIF, DAN NON-PARTISAN 1.

PENGANTAR Proses demokratisasi yang sedang berlangsung di indonesia memberikan pelajaran yang berharga bagi birokrasi di satu pihak, dan warga Negara (citizen) di pihak lain. Wajah dan sosok birokrasi sudah sepantasnya mengalami perubahan dari birokrasi yang otoriter ke arah birokrasi yang lebih demokratis, responsif, transparan, dan non-partisan. Birokrasi tidak dapat lagi menempatkan diri sebagai sosok institusi yang angkuh dan tak tersentuh oleh kritik dari pihak luar birokrasi. Dalam konteks yang demikian, birokrasi public perlu merevitalisasi diri agar dapat menyelenggarakan pelayanan public secara demokratis, efisien, responsif, dan non-partisan. Apabila birokrasi public tidak dapat menyelenggarakan pelayanan publik yang berkualitas, maka birokrasi publik akan ditinggalkan oleh warga pengguna, jika demikian, berarti birokrasi public telah gagal dalam mengemban misi memberikan pelayanan kepada publik. Tulisan ini bertujuan membahas strategi meningkatkan kualitas pelayanan public terutama dari aspek efisiensi, responsivitas, dan non-partisan. Substansi tulisan ini dibagi ke dalam lima bagian, yang diawali dengan pembahasan konsep dan dinamika pelayanan public. Kemudian dilanjutkan dengan membahas kualitas pelayanan public yang ideal pada bagian kedua. Bagian ketiga memaparkan konsep pelayanan public yang efisien, responsif dan nonpartisan. Bagian keempat tulisan ini berisi diskripsi pelayanan public di Indonesia pada saat ini. 2. KONSEP DAN DINAMIKA PELAYANAN PUBLIK Pelayanan public erupakan produk birokrasi public yang diterima oleh warga pengguna maupun masyarakat secara luas. Karena itu, pelayanan public dapat didefinisikan sebagai serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh birokrasi public untuk memenuhi kebutuhan warga pengguna. Pengguna yang dimaksudkan di sini adalah warganegara yang membutuhkan pelayanan public, seperti pembuatan kartu tanda penduduk (KTP), akta kelahiran, akta nikah, akta kematian, sertifikat tanah, ijin usaha, ijin mendirikan bangunan (IMB), ijin gangguan (HO), ijin pengambilan air bawah tanah, berlangganan air minum, listrik dan sebagainya. SK MenPan Nomor 81/1993 pelayanan umum adalah segala bentuk kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah dan BUMN/BUMD dalam bentuk barang dan jasa baik dalam upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun ketentuan peraturan perundang-undangan. BAB 5 PELAYANAN PUBLIK PARTISIPATIF 1. PENGANTAR Di Negara maju maupun di Negara-negara yang sedang berkembang, birokrasi pemerintah masih mendominasi hamper seluruh aspek kehidupan masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari berbagai peran yang dimainkan oleh birokrasi pemerintah; mulai dari peran mengatur kehidupan masyarakat (regulative), melindungi masyarakat (protective), mendistribusikan sumberdaya yang terbatas dari kelompok yang mampu ke kelompok yang kurang mampu (redistributive), memberikan subsidi agar masyarakat mau melakukan kegiatan yang diinginkan pemerintah (distributive), sampai pemberian pelayanan public (public service). Namun seiring dengan bergulirnya waktu, dominasi birokrasi pemerintah dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat tadi mulai dipertanyakan. Munculnya buku Reinventing Government karya Osborne dan Gaebler, memunculkan gagasan-gagasan sejenis yang pada intinya ingin mengurangi dominasi birokrasi dalam kehidupan masyarakat.

Di antara berbagai gagasan yang dimaksudkan untuk meredifinisi peran pemerintah dalam kehidupan masyarakat tersebut, gagasan tentang perlunya pergeseran paradigmatic dari government ke governance merupakan gagasan yang memperoleh sambutan sangat luas dan menjadi wacana menarik untuk didiskusikan di kalangan para akademisi, praktisi, dan aktivis sosial di berbagai organisasi non-pemerintah (NGO). Urgensi perlunya pergeseran paradigmatic tersebut menjadi semakin terdengar gaungnya ketika gagasan ini diadopsi oleh UNDP. Mereka mensinyalir bahwa strategi pembangunan yang mengutamakan pertumbuhan ternyata tidak dapat menghasilkan perubahan fundamental yang menyangkut empat permasalahan pokok pembangunan, yaitu : (1) memburuknya kondisi kemiskinan dan makin dalamnya jurang pemisah antar kelompok kaya dan kelompok miskin, (2) meningkatnya jumlah pengangguran, (3) rusaknya ikatan sosial yang ada dalam masyarakat, dan (4) kerusakan lingkungan. Pergeseran paradigmatic dari government ke governance pada hakekatnya mengisyaratkan tentang perlunya pemerintah melibatkan berbagai stakeholders di luar pemerintah dalam proses pembuatan berbagai kebijakan (policy making) yang menyangkut kepentingan public. Mengenai hal ini, UNDP (1997) menyebutkan bahwa Tata pemerintah yang baik (good governance) adalah suatu kesepakatan menyangkut pengaturan Negara yang diciptakan bersama oleh pemerintah, masyarakat madani dan sector swasta. Harus diakui bahwa kemunculan gagasan tentang perlunya pergeseran paradigma tersebut memang seiring dengan gerakan demokratisasi yang melanda seluruh dunia, terutama di Negara-negara sedang berkembang. Gerakan demokratisasi yang tak terhindarkan tersebut, juga melanda Indonesia. Puncak dari gerakan demokratisasi di Indonesia ditandai dengan keberhasilan gerakan reformasi melengserkan Soeharto dari tampuk kekuasaan yang digenggamnya selama lebih dari tiga dasawarsa di Indonesia. Keberhasilan gerakan reformasi di Indonesia melengserkan soeharto, mau tidak mau harus diikuti oleh jajaran birokrasinya. Jika selama soeharto berkuasa, birokrasi di Indonesia dikenal sebagai birokrasi yang patologis dengan berbagai stereotype yang melekat di dalamnya, seperti birokrasi yang korup, kolutif, dan nepotis (KKN), plus berbagai ciri negative lain. Sebagaimana yang terjadi secara global, birokrasi di Indonesia juga harus mereformasi dirinya agar mampu memenuhi tuntutan masyarakat yang semakin sadar akan hak dan kewajibannya sebagai warga Negara. Reformasi birokrasi disini di lakukan dengan menerapkan prinsip-prinsip demokrasi bagi birokrasi pemerintah dalam menjalankan fungsi dan tugasnya untuk mencapai tujuan-tujuan pembangunan maupun sebagai abdi masyarakat. Salah satu tugas penting yang harus dijalankan oleh birokrasi di Indonesia adalah memberikan pelayanan public bagi masyarakat luas. Ketika eranya sudah berubah, tentu saja cara atau mekanisme yang dilakukan birokrasi pemerintah dalam memberikan pelayanan public kepada masyarakat luas juga harus berubah. Tuntutan perubahan ini semakin di rasakan urgensinya, di tandai dengan uu No.22 Tahun 1999 tentang pemerintah daerah. Undang-undang otonomi daerah tersebut merubah birokrasi pemerintah yang selama ini tersentralisasi menjadi lebih desentralisasi.

Bab 5 7. PELAYANAN TIDAK PARTISIPATIF 7.1 Penerapan Sistem Partisipasi Secara Tidak Partisipatif Hambatan-hambatan dalam penerapan sistem partisipatif seperti yang telah disebutkan di atas dirasakan secara nyata sehingga seringkali menyebabkan sejumlah kebijakan atau program yang dimaksudkan atau didesain untuk meningkatkan partisipasi masyarakat tidak bisa berjalan secara optimal atau bahkan mengalami kegagalan. Salah satu contohnya adalah penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Apabila diterapkan dengan penuh komitmen sebenarnya MPMBS berpotensi meningkatkan partisipasi masyarakat, melakukan pemerataan dan efisiensi, serta mampu mendorong kepala sekolah, guru, dan administrator untuk bekerja professional dan bertanggungjawab. Namun sangat disayangkan, maksud dan tujuan penerapan MPMBS tersebut tidak dapat terpenuhi secara optimal, bahkan sejumlah sekolah di beberapa daerah dapat dikatakan telah gagal dalam menerapkannya. Apabila dilihat dari kondisi partisipasi masyarakat, penerapan MPMBS masih jauh untuk dapat dikatakan sebagai sistem yang partisipatif. 7.2 Penyelenggaraan Layanan Publik secara Tidak Partisipatif Meskipun tuntutan maupun upaya melakukan reformasi siste pelayanan public termasuk di dalam hal ini peningkatan partisipasi warga dalam penyelenggaraan layanan telah lama dilakukan, ternyata masih banyak di jumpai cara-cara penyelenggaraan pelayanan public yang tidak partisipatif atau melibatkan warga. Sejumlah media massa masih banyak yang memberitakan keluhan dan tuntutan warga bahkan konflik yang terjadi sebagai akibat dari adanya penyelenggaraan pelayanan public oleh pemerintah secara tidak partisipatif. Kasus TPST Bojong di Bogor Jawa Barat adalah salah satu bukti masih adanya pelayanan public yang diselenggarakan secara tidak partisipatif bahkan hingga menimbulkan konflik kekerasan.

Anda mungkin juga menyukai