Anda di halaman 1dari 22

KONTRAK BELAJAR PENATALAKSANAAN NYERI PADA KLIEN DENGAN POST OREF a/i FRAKTUR FEMUR 1/3 DISTAL

Disusun Oleh:

RIDA NURHAYANTI 070112b062

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN 2013

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS STIKES NGUDI WALUYO STASE KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

Nama Mahasiswa NIM Nama Pembimbing Tempat Praktek Topik Sub Topik

: Rida Nurhayanti : 070112b062 : Eko Wardoyo S. Kep. Nrs : Ruang HCU Bedah RSUD Dr. Moewardi Surakarta : Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Fraktur : Pengelolaan pasien dengan Post OREF a/i Fraktur Femur dengan masalah keperawatan : Nyeri Akut

Pencapaian Kriteria Penilaian Target Setelah Saya mampu : Referensi Buku: a. Membaca a. Membaca buku 1. Nilai A bila Kontrak menyelasaikan a. Menjelaskan a. Doenges M. E. (2003). literatur Keperawatan saya mampu belajar kontrak belajar pengertian dari Rencana Asuhan buku dan Medikal Bedah menerapkan ini akan saya mampu Nyeri. Keperawatan. Jakarta: browsing dari buku tujuan khusus dicapai melakukan b. Menjelaskan CGC. internet tersebut point f dan dalam penatalaksanaan fisiologi nyeri b. Guyton, Arthur C & untuk mengenai dapat waktu 1

Tujuan umum

Tujuan khusus

Sumber pembelajaran

Strategi pembelajaran

Kriteria Waktu

nyeri pada pasien c. Menyebutkan dengan Post tanda dan OREF a/i Fraktur gejala nyeri Femur berdasarkan respon fisiologis, psikologis dan tingkah laku klien dengan nyeri d. Menjelaskan intensitas nyeri berdasakan numeric scale atau ekspresi wajah klien e. Melaksanakan penatalaksaan nyeri pada klien dengan post OREF a/I fraktur femur 1/3 distal .

c.

d.

e.

f.

John, E. Hall. (2007). refrensi. Buku ajar fisiologi b. Pemberian kedokteran. Alih bahasa: asuhan Irawati. Jakarta: EGC. keperawata Potter, P. A. & Perry, A. n. G. (2005). Buku ajar c. Membuat fundamental laporan keperawatan konsep, hasil proses, dan praktik. diskusi Jakarta: EGC. dengan Price, S. A. & Wilson, ekspert. L. M. (2005). Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit. Jakarta: EGC. Smeltzer, S. C & Bare, B. G. (2006). Buku ajar keperawatan medikalbedah brunner & suddarth. Jakarta: EGC. Priharjo, R (2003). Perawatan Nyeri, pemenuhan aktivitas istirahat. Jakarta : EGC

fraktur menjelaskan 4 hari b. Membaca buku kriteria lainnya. Fundamental 2. Nilai B bila Keperawatand saya mampu ari buku menerapkan tersebut dan tujuan khusus dari web point f dan internet dapat mengenai menjelaskan 2 asuhan kriteria lainnya. keperawatan 3. Nilai C bila pada klien yang saya mampu mengalami menerapkan fraktur dengan tujuan khusus masalah point f dan keperawatan dapat nyeri menjelaskan 1 c. Membaca buku kriteria lainnya. Patofisiologi 4. Nilai D bila dan Rencana saya mampu asuhan menerapkan keperawatan tujuan khusus mengenai point f dan fraktur dan tidak dapat

hal : 87. g. Syaifuddin. (2007). Anatomi fisiologi untuk siswa perawat.edisi-2. Jakarta : EGC. Hlm : 123-136. h. Tamsuri, A. (2007). Konsep dan penatalaksanaan nyeri. Jakarta : EGC. Hlm 1-63

penanganan menjelaskan. nyeri pada kriteria lainnya. fraktur 5. Nilai E bila d. Dari Web saya tidak internet tentang mampu penanganan menerapkan dan nyeri fraktur menjelaskan dan semua tujuan menghindari khusus. faktor faktor yang membuat komplikasi

Surakarta, 25 Desember 2013

Mengetahui Pembimbing

Mahasiswa

(Rida Nurhayanti S. Kep)

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Nyeri merupakan alasan yang paling umum seseorang mencari bantuan perawatan kesehatan. Nyeri terjadi bersama proses penyakit, pemeriksaan diagnostik dan proses pengobatan. Nyeri sangat mengganggu dan

menyulitkan banyak orang. Perawat tidak bisa melihat dan merasakan nyeri yang dialami oleh klien, karena nyeri bersifat subyektif (antara satu individu dengan individu lainnya berbeda dalam menyikapi nyeri). Perawat memberi asuhan keperawatan kepada klien di berbagai situasi dan keadaan, yang memberikan intervensi untuk meningkatkan kenyamanan. Menurut beberapa teori keperawatan, kenyamanan adalah kebutuhan dasar klien yang merupakan tujuan pemberian asuhan keperawatan. Pernyataan tersebut didukung oleh Kolcaba yang mengatakan bahwa kenyamanan adalah suatu keadaan telah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia.

B. TUJUAN PENULISAN 1. Tujuan Umum Setelah menyelesaikan kontral belajar ini, diharapkan mahasiswa dapat melakukan penatalaksaan nyeri pada pasien post OREF atas indikasi fraktur femur 1/3 distal di Ruang HCU Bedah RSUD Dr. Moewardi Surakarta 2. Tujuan khusus a. Mahasiswa mengetahui dan paham tentang pengertian nyeri b. Mahasiswa mengetahui dan paham tentang fisiologi nyeri c. Mahasiswa mengetahui dan paham tentang tanda dan gejala atau respon nyeri d. Mahasiswa mengetahui dan paham tentang intensitas nyeri e. Mahasiswa mengetahui dan paham tentang penalaksanaan nyeri (medis dan keperawatan)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA KONSEP NYERI

A. Pengertian nyeri Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri, 2007). Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan

B. Fisiologi nyeri Banyak teori berusaha untuk menjelaskan dasar neurologis dari nyeri, meskipun tidak ada satu teori yang menjelaskan secara sempurna bagaimana nyeri ditransmisikan atau diserap. Untuk memudahkan memahami fisiologi nyeri, maka perlu mempelajari 3 (tiga) komponen fisiologis berikut ini: Resepsi : proses perjalanan nyeri Persepsi : kesadaran seseorang terhadap nyeri Reaksi : respon fisiologis & perilaku setelah mempersepsikan nyeri

Resepsi Adanya stimulus yang mengenai tubuh (mekanik, termal, kimia) akan menyebabkan pelepasan substansi kimia seperti histamin, bradikinin, kalium. Substansi tersebut menyebabkan nosiseptor bereaksi, apabila nosiseptor mencapai ambang nyeri, maka akan timbul impuls syaraf yang akan dibawa oleh serabut saraf perifer. Serabut syaraf perifer yang akan membawa impuls syaraf ada dua jenis, yaitu serabut A-delta dan serabut C. impuls syaraf akan di bawa sepanjang serabut syaraf sampai ke kornu dorsalis medulla spinalis. Impuls syaraf tersebut akan menyebabkan kornu dorsalis melepaskan neurotrasmiter (substansi P). Substansi P ini menyebabkan transmisi sinapis dari saraf perifer ke saraf traktus spinotalamus. Hal ini memungkinkan impuls syaraf ditransmisikan lebih jauh ke dalam system saraf pusat. Setelah impuls syaraf sampai di otak, otak mengolah impuls syaraf kemudian akan timbul respon reflek protektif.

Contoh: Apabila tangan terkena setrika, maka akan merasakan sensasi terbakar, tangan juga melakukan reflek dengan menarik tangan dari permukaan setrika. Proses ini akan berjalan jika system saraf perifer dan medulla spinalis utuh atau berfungsi normal. Ada beberapa factor yang menggangu proses resepsi nyeri, diantaranya sebagai berikut: Trauma Obat-obatan Pertumbuhan tumor Gangguan metabolic (penyakit diabetes mellitus)

Tipe serabut saraf perifer 1) Serabut saraf A-delta : Merupakan serabut bermyelin Mengirimkan pesan secara cepat Menghantarkan sensasi yang tajam, jelas sumber dan lokasi nyerinya Reseptor berupa ujung-ujung saraf bebas di kulit dan struktur dalam seperti , otot tendon dll Biasanya sering ada pada injury akut Diameternya besar

2) Serabut saraf C Tidak bermyelin Diameternya sangat kecil Lambat dalam menghantarkan impuls Lokasinya jarang, biasanya dipermukaan dan impulsnya bersifat persisten Menghantarkan sensasi berupa sentuhan, getaran, suhu hangat, dan tekanan halus Reseptor terletak distruktur permukaan.

3) Neuroregulator Substansi yang memberikan efek pada transmisi stimulus saraf, berperan penting pada pengalaman nyeri Substansi ini titemukan pada nociceptor yaitu pada akhir saraf dalam kornu dorsalis medula spinalis dan pada tempat reseptor dalam saluran spinotalamik Neuroregulator neuromodulator ada dua macam yaitu neurotransmitter dan

Neurotransmitter mengirimkan impuls elektrik melewati celah synaptik antara dua serabut saraf. contoh: substansi P, serotonin, prostaglandin

Neuromodulator memodifikasi aktivitas saraf dan mengatur transmisi stimulus saraf tanpa mentrasfer secara langsung sinyal saraf yang melalui synaps. Contoh: endorphin, bradikinin

Neuromodulator diyakini aktifitasnya secara tidak langsung bisa meningkatkan atau menurunkan efek sebagian neurotransmitter

Persepsi Fase ini merupakan titik kesadaran seseorang terhadap nyeri, pada saat individu menjadi sadar akan nyeri, maka akan terjadi reaksi yang komplek. Persepsi menyadarkan individu dan mengartikan nyeri itu sehingga kemudian individu dapat bereaksi Proses persepsi secara ringkas adalah sebagai berikut: Stimulus nyeri ditransmisikan ke medula spinalis, naik ke talamus, selanjutnya serabut mentrasmisikan nyeri ke seluruh bagian otak, termasuk area limbik. Area ini mengandung sel-sel yang yang bisa mengontrol emosi (khususnya ansietas). Area limbik yang akan berperan dalam memproses reaksi emosi terhadap nyeri. Setelah transmisi syaraf berakhir di pusat otak, maka individu akan mempersepsikan nyeri. Reaksi Reaksi terhadap nyeri merupakan respon fisioligis dan perilaku yang terjadi setelah mempersepsikan nyeri. Nyeri dengan intensitas ringan hingga sedang dan nyeri yang superfisial menimbulkan reaksi flight atau fight, yang merupakan sindrom adaptasi umum Stimulasi pada cabang simpatis pada saraf otonom menghasilkan respon fisiologis, apabila nyeri berlangsung terus menerus, maka sistem

parasimpatis akan bereaksi Secara ringkas proses reaksi adalah sebagai berikut: Impuls nyeri ditransmisikan ke medula spinalis menutju ke batang otak dan talamus. Sistem saraf otonom menjadi terstimulasi, saraf simpatis dan parasimpatis bereaksi, maka akan timbul respon fisiologis dan akan muncul perilaku.

Teori gate control Dikemukanan oleh Melzack dan wall pada tahun 1965 Teori ini mengusulkan bahwa impuls nyeri dapat diatur atau bahkan dihambat oleh mekanisme pertahanan di sepanjang sistem saraf pusat. Dalam teori ini dijelaskan bahwa Substansi gelatinosa (SG) yg ada pada bagian ujung dorsal serabut saraf spinal cord mempunyai peran sebagai pintu gerbang (gating Mechanism), mekanisme gate control ini dapat memodifikasi dan merubah sensasi nyeri yang datang sebelum mereka sampai di korteks serebri dan menimbulkan nyeri. Impuls nyeri bisa lewat jika pintu gerbang terbuka dan impuls akan di blok ketika pintu gerbang tertutup Menutupnya pintu gerbang merupakan dasar terapi mengatasi nyeri Berdasarkan teori ini perawat bisa menggunakannya untuk memanage nyeri pasien Neuromodulator bisa menutup pintu gerbang dengan cara menghambat pembentukan substansi P. Menurut teori ini, tindakan massase diyakini nyeri. bisa menutup gerbang

C. Tanda dan gejala/ Respon nyeri 1) Respon fisiologis terhadap nyeri : a) Stimulasi Simpatik(nyeri ringan, moderat, dan superficial) - Dilatasi saluran bronkhial dan peningkatan respirasi rate - Peningkatan heart rate - Vasokonstriksi perifer, peningkatan BP - Peningkatan nilai gula darah - Diaphoresis - Dilatasi pupil - Penurunan motilitas GI b) Stimulus Parasimpatik (nyeri berat dan dalam) - Muka pucat - Otot mengeras - Penurunan HR - Nafas cepat dan irreguler - Nausea dan vomitus - Kelelahan dan keletihan 2) Respon tingkah laku terhadap nyeri

- Pernyataan Mendengkur)

verbal

(Mengaduh,

Menangis,

Sesak

Nafas,

- Ekspresi wajah (Meringis, Menggeletukkan gigi, Menggigit bibir) - Gerakan tubuh (Gelisah, Imobilisasi, Ketegangan otot, peningkatan gerakan Individu yang mengalami nyeri dengan awitan mendadak dapat bereaksi sangat berbeda terhadap nyeri yang berlangsung selama beberapa menit atau menjadi kronis. Nyeri dapat menyebabkan keletihan dan membuat individu terlalu letih untuk merintih atau menangis. Pasien dapat tidur, bahkan dengan nyeri hebat. Pasien dapat tampak rileks dan terlibat dalam aktivitas karena menjadi mahir dalam mengalihkan perhatian terhadap nyeri.

D. Intensitas Nyeri Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Namun, pengukuran dengan tehnik ini juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri (Tamsuri, 2007). Skala penilaian numerik (Numerical rating scales, NRS) digunakan sebagai pengganti alat pendeskripsi kata. Dalam hal ini, klien menilai nyeri dengan menggunakan skala 0-10. Skala paling efektif digunakan saat mengkaji intensitas nyeri sebelum dan setelah intervensi terapeutik. Apabila digunakan skala untuk menilai nyeri, maka direkomendasikan patokan 10 cm (AHCPR, 1992). Menurut smeltzer, S.C bare B.G (2002) skala numeric adalah sebagai berikut :

Skala identitas nyeri numerik Keterangan : 0 : Tidak nyeri

1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik. 4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis, menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik. 7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi 10 : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul. Pengukuran skala nyeri juga dapat di lihat pada ekspresi wajah klien saat merasakan nyeri, contoh sebagai gambar (skala wajah) di bawah ini:

E. Penatalaksanaan Nyeri 1. Medis/farmakologi Penatalaksanaan nyeri secara farmakologi melibatkan penggunaan opiat (narkotik), nonopiat/ obat AINS (anti inflamasi nonsteroid), obatobat adjuvans atau koanalgesik. Analgesik opiat mencakup derivat opium, seperti morfin dan kodein. Narkotik meredakan nyeri dan memberikan perasaan euforia. Semua opiat menimbulkan sedikit rasa kantuk pada awalnya ketika pertama kali diberikan, tetapi dengan pemberian yang teratur, efek samping ini cenderung menurun. Opiat juga menimbulkan mual, muntah, konstipasi, dan depresi pernapasan serta harus digunakan secara hati-hati pada klien yang mengalami gangguan pernapasan (Berman, et al. 2009). Nonopiat (analgesik non-narkotik) termasuk obat AINS seperti aspirin dan ibuprofen. Nonopiat mengurangi nyeri dengan cara bekerja di ujung saraf perifer pada daerah luka dan menurunkan tingkat mediator inflamasi yang dihasilkan di daerah luka. (Berman, et al. 2009). Analgesik adjuvans adalah obat yang dikembangkan untuk tujuan selain penghilang nyeri tetapi obat ini dapat mengurangi nyeri kronis tipe tertentu selain melakukan kerja primernya. Sedatif ringan atau obat penenang, sebagai contoh dapat membantu mengurangi spasme otot yang

menyakitkan, kecemasan, stres, dan ketegangan sehingga klien dapat tidur nyenyak. Antidepresan digunakan untuk mengatasi depresi dan gangguan alam perasaan yang mendasarinya, tetapi dapat juga menguatkan strategi nyeri lainnya (Berman, et al. 2009). 2. Keperawatan/non farmakologi a. Stimulasi dan masase kutaneus. Masase adalah stimulasi kutaneus tubuh secara umum, sering dipusatkan pada punggung dan bahu. Masase tidak secara spesifik menstimulasi reseptor tidak nyeri pada bagian yang sama seperti reseptor nyeri tetapi dapat mempunyai dampak melalui sistem kontrol desenden. Masase dapat membuat pasien lebih nyaman karena menyebabkan relaksasi otot (Smeltzer dan Bare, 2002). b. Terapi es dan panas Terapi es dapat menurunkan prostaglandin, yang memperkuat sensitivitas reseptor nyeri dan subkutan lain pada tempat cedera dengan menghambat proses inflamasi. Penggunaan panas mempunyai keuntungan meningkatkan aliran darah ke suatu area dan kemungkinan dapat turut menurunkan nyeri dengan mempercepat penyembuhan. Baik terapi es maupun terapi panas harus digunakan dengan hati-hati dan dipantau dengan cermat untuk menghindari cedera kulit (Smeltzer dan Bare, 2002). c. Trancutaneus electric nerve stimulation Trancutaneus electric nerve stimulation (TENS) menggunakan unit yang dijalankan oleh baterai dengan elektroda yang dipasang pada kulit untuk menghasilkan sensasi kesemutan, menggetar atau mendengung pada area nyeri. TENS dapat digunakan baik untuk nyeri akut maupun nyeri kronis (Smeltzer dan Bare, 2002). d. Distraksi Distraksi yang mencakup memfokuskan perhatian pasien pada sesuatu selain pada nyeri dapat menjadi strategi yang berhasil dan mungkin merupakan mekanisme yang bertanggung jawab terhadap teknik kognitif efektif lainnya. Seseorang yang kurang menyadari adanya nyeri atau memberikan sedikit perhatian pada nyeri akan sedikit terganggu oleh nyeri dan lebih toleransi terhadap nyeri. Distraksi diduga dapat menurunkan persepsi nyeri dengan menstimulasi sistem kontrol desenden, yang mengakibatkan lebih sedikit stimuli nyeri yang ditransmisikan ke otak (Smeltzer dan Bare, 2002).

e. Teknik relaksasi Relaksasi otot skeletal dipercaya dapat menurunkan nyeri dengan merilekskan ketegangan otot yang menunjang nyeri. Hampir semua orang dengan nyeri kronis mendapatkan manfaat dari metode relaksasi. Periode relaksasi yang teratur dapat membantu untuk melawan keletihan dan ketegangan otot yang terjadi dengan nyeri kronis dan yang meningkatkan nyeri (Smeltzer dan Bare, 2002). f. Imajinasi terbimbing Imajinasi terbimbing adalah mengggunakan imajinasi seseorang dalam suatu cara yang dirancang secara khusus untuk mencapai efek positif tertentu. Sebagai contoh, imajinasi terbimbing untuk relaksasi dan meredakan nyeri dapat terdiri atas menggabungkan napas berirama lambat dengan suatu bayangan mental relaksasi dan kenyamanan (Smeltzer dan Bare, 2002). g. Hipnosis Hipnosis efektif dalam meredakan nyeri atau menurunkan jumlah analgesik yang dibutuhkan pada nyeri akut dan kronis. Keefektifan hipnosis tergantung pada kemudahan hipnotik individu.

BAB III RESUME

A. DESKRIPSI KASUS Sdr. L (22 tahun) datang ke IGD rujukan dari Rumah Sakit Kasih Ibu dengan keluhan nyeri, karena kecelakaan lalu lintas saat mengendarai sepeda motor pada tgl 22 November 2013. Klien tampak terpasang OREF dan dibalut oleh tensocfart pada kaki kanan, tampak neksosis pada telapak kaki kanan yang mengalami fraktur yaitu tampak berwarna hitam keunguan, bengkak, tidak berasa (mati rasa) dan akral terasa dingin. lengan kiri terpasang infuse Nacl 0.9% 500 cc + morfin 25000 unit via siringpump dengan kecepatan 60 cc/jam. Luka pada kaki berdarah bercampur nanah, Draine luka tampak 50 cc warna merah hitam. TD 150/90 mmHg, Nadi : 129 x/mnt, RR : 36 x/mnt, Suhu : 37 C. Diagnosa medis klien saat ini adalah Post OREF a/i Fraktur femur 1/3 distal kaki dekstra. Implementasi yang dilakukan adalah Pemberian morfin 1x25000 unit (1 vial) dalam Nacl 0.9% 500 cc via siringpump dengan kecepatan 60 cc/jam, Injeksi Ketorolak 3x30mg, ranitidine 2x50mg, Gentamicin 3x1mg, Cefazolin 2x1 gr, diet TKTP. Perawatan luka 1x sehari serta diet nasi TKTP.

B. PERMASALAHAN YANG MUNCUL 1. Bagaimana mekanisme nyeri pada fraktur? 2. Mengapa pada Sdr. L harus di OREF? 3. Mengapa diberikan morfin untuk mengatasi nyeri? 4. Bagaimana mekanisme atau cara kerja morfin menurunkan intensitas nyeri?

BAB IV PEMBAHASAN

Hasil diskusi dengan Ekspert 1(Perawat : I Made Kusuma S. Kep. Ners) Nyeri pada fraktur disebabkan oleh spame otot berpindah tulang dari tempatnya dan kerusakan struktur di daerah atau jaringan yang berdekatanatau interupsi dari kontinuitas tulang, biasanya fraktur disertai cidera jaringan disekitar ligament, otot, tendon, pembuluh darah dan persyarafan. Tulang yang rusak mengakibatkan periosteum pembuluh darah pada korteks dan sumsum tulang serta jaringan lemak sekitarnya rusak. Keadaan tersebut menimbulkan perdarahan dan terbentuknya hematom dan jaringan nekrotik. Empat tujuan utama dari penanganan fraktur adalah : 1. Untuk menghilangkan rasa nyeri. Nyeri yang timbul pada fraktur bukan karena frakturnya sendiri, namun karena terluka jaringan disekitar tulang yang patah tersebut. Untuk mengurangi nyeri tersebut, dapat diberikan obat penghilang rasa nyeri dan juga dengan tehnik imobilisasi (tidak menggerakkan daerah yang fraktur). Tehnik imobilisasi dapat dicapai dengan cara pemasangan bidai atau gips. Pembidaian : benda keras yang ditempatkan di daerah sekeliling tulang. Pemasangan gips : merupakan bahan kuat yang dibungkuskan di sekitar tulang yang patah 2. Untuk menghasilkan dan mempertahankan posisi yang ideal dari fraktur. Bidai dan gips tidak dapat mempertahankan posisi dalam waktu yang lama. Untuk itu diperlukan lagi tehnik yang lebih mantap seperti pemasangan traksi kontinyu, fiksasi eksternal, atau fiksasi internal tergantung dari jenis frakturnya sendiri. Penarikan (traksi) : Menggunakan beban untuk menahan sebuah anggota gerak pada tempatnya. Sekarang sudah jarang digunakan, tetapi dulu pernah menjadi pengobatan utama untuk patah tulang paha dan panggul. Fiksasi internal : Dilakukan pembedahan untuk menempatkan piringan atau batang logam pada pecahan-pecahan tulang agar terjadi penyatuan tulang kembali. Biasanya tulang yang patah akan mulai menyatu dalam waktu 4 minggu dan akan menyatu dengan sempurna dalam waktu 6 bulan. Namun terkadang terdapat gangguan dalam penyatuan tulang, sehingga

dibutuhkan graft tulang untuk mengembalikan fungsi seperti semula.

Imobilisasi yang lama dapat mengakibatkan mengecilnya otot dan kakunya sendi. Maka dari itu diperlukan upaya mobilisasi secepat mungkin. Pemeriksaan Tambahan biasanya dengan tanya jawab dan pemeriksaan fisik yang cermat, diagnosis fraktur sudah dapat ditegakkan. Pemeriksaan pencitraan (seperti roentgen) dapat membantu dalam melihat jenis dari frakturnya sehingga dapat membantu dalam pemilihan terapi selanjutnya. Hal yang perlu diingat dalam pemeriksaan rontgen adalah hasilnya harus meliputi dua sendi, dua sisi, dan dua tulang (kanan dan kiri). Roentgen juga berguna untuk mengevaluasi hasil dari terapi yang diberikan. Setelah kita mengetahui hasil dari rongent, apakah itu teramsuk fraktur multiple dll, baru kita lakukan tindakan pembedahan atausesuai indikasi. Tindakan pembedahannya antara lain ORIF dan OREF. Pada kasus Sdr. L dilakukan OREF karena fraktur yang dialami ileh sdr. L sudah merusak vaskuler dan saraf. Sdr L juga sudah menjalani pembedahan vascular 2 kali. OREF adalah reduksi terbuka dengan fiksasi internal di mana prinsipnya tulang ditransfiksasikan di atas dan di bawah fraktur, sekrup atau kawat ditransfiksi di bagian proksimal dan distal kemudian dihubungkan satu sama lain dengan suatu batang lain. Fiksasi eksternal digunakan untuk mengobati fraktur terbuka dengan kerusakan jaringan lunak. Alat ini memberikan dukungan yang stabil untuk fraktur kominutif (hancur atau remuk). Pin yang telah terpasang dijaga agar tetap terjaga posisinya , kemudian dikaitkan pada kerangkanya. Fiksasi ini memberikan rasa nyaman bagi pasien yang mengalami kerusakan fragmen tulang. Indikasi pemasangan OREF adalah sebagai berikut : Fraktur terbuka grade II dan III Fraktur terbuka yang disertai hilangnya jaringan atau tulang yang parah. Fraktur yang sangat kominutif (remuk) dan tidak stabil. Fraktur yang disertai dengan kerusakan pembuluh darah dan saraf. Fraktur pelvis yang tidak bisa diatasi dengan cara lain. Fraktur yang terinfeksi di mana fiksasi internal mungkin tidak cocok. Misal : infeksi pseudoartrosis (sendi palsu). Non union yang memerlukan kompresi dan perpanjangan. Kadang kadang pada fraktur tungkai bawah diabetes melitus.

Pada kasus Sdr. L fraktur yang dialami termasuk fraktur grade II karena sudah kehilangan jaringan kulit femur, luka terbuka yang lebar dan panjang, sudah terjadi infeksi dibuktikan dengan adanya 5 tanda infeksi (tumor, kalor, dolor, odor dan fungsiolaesar) ditambah nekrosis pada telapak kaki kanan yaitu berwarna hitam keunguan, mati rasa, tampak bengkak dan tearaba dingin, serta terdapat belatung pada lukanya. dan juga fraktur dengan kerusakan pembuluh darah. Hasil diskusi dengan Ekspert II (Residen : Dr. Antonius) Nyeri pada fraktur dibentuk melalui 4 proses yaitu transduksi (pembentukan reseptor nyeri) dan transmisi (pembentukan zat penghasil nyeri yaitu bradikinin, dan substansi P dari serabut delta A dan delta c). Modulasi, merupakan interaksi antara sistem analgesik endogen (endorfin, NA, 5HT) dengan input nyeri yang masuk ke kornu posterior medulaspinalis. Di

daerah ini akan terjadi interaksi antara impuls yang masuk dengan sistem penghambatan, baik sistem penghambatan endogen maupun eksogen. Bila impuls yang masuk lebih dominan, maka penderita akan merasakan sensibel nyeri dan juga sebaliknya. Persepsi, impuls yang diteruskan ke otak (kortex sensorik) akan mengalami proses yang sangat kompleks, termasuk proses interpretasi dan persepsi yang akhirnya menghasilkan sensibel nyeri. Disini Sdr. L diberikan morfin untuk mengatasi nyeri pada post OREF a/i Fraktur femur 1/3 distal pada kaki dekstra nya. Morfin diberikan secara maintenance melalui infuse pump dengan dosis 1 vial (25000 unit) diberikan secara drip dalam Nacl 0.9% sebanyak 500 cc dengan kecepatan 60 cc/jam. Kenapa diberikan morfin? Mekanisme aksi morfin sebagai obat analgesik narkotik : Morfin merupakan analgetik yang digunakan sebagai standar analgesik golongan opioid, Umumnya diberikan secara s.c., i.m, iv. Morfin merupakan obat analgesik yang termasuk dalam golongan opioid yang memiliki 3 Reseptor opioid: Reseptor(Mu) : Berperan dalam Analgesia supraspinal dan depresi Reseptor (Kappa) : Berperan dalam analgesia spinal, miosis dan sedasi. Reseptor (Delta) : disforia, halusinasi dan stimulasi pusat vasomotor Morfin bekerja dengan cara mengikat reseptor opioid Mu atau yang biasa disebut MOR (Mu Opioid Reseptor). Morfin bersifat agonis karena morfin bekerja dengan cara mengaktivasi reseptor Mu yang terdapat pada sistem syaraf pusat. Morfin bekerja pada reseptor opiate di SSP reseptor yang memodulasi

transmisi nyeri, menurunkan persepsi nyeri dengan cara menyekat nyeri pada berbagai tingkat, terutama di otak tengah dan medulla spinalis. Berawal dari terjadinya nyeri hebat atau nyeri dalaman dimana rasa nyeri terjadi akibat adanya kerusakan pada jaringan maupun sel-sel dalam tubuh sehingga merangsang pelepasan neurotransmiter nyeri oleh sistem syaraf pusat. Morfin yang merupakan obat analgesik narkotik bekerja dengan 2 mekanisme diantaranya menutup kanal ion Ca2+ dan menghambat pelepasan substansi P. Morfin berikatan dengan reseptor Mu opioid lalu dihubungkan dengan protein G yang secara langsung mempengaruhi saluran K+ dan Ca2+. Pada keadaan normal protein G yang memiliki GDP yang mengikat sub unit , , dalam kondisi istirahat atau tidak aktif. Namun saat opioid berinteraksi dengan reseptornya, sub unit GDP terdisosiasi dan berubah menjadi GTP dengan mekanisme perubahan konformasi. GTP ini aka mendisosiasi subunit sehingga terikat padanya. GTP yang terikat pada subunit ini memerintahkan sel saraf untuk menurunkan aktifitas listriknya dengan meningkatkan pemasukan K+ dan menghambat pemasukan Ca2+. Dengan terikatnya GTP pada sub unit juga dapat menghambat terbentuknya enzim adenilat siklase. Enzim ini merupakan enzim yang berperan sebagaimessenger pada penyampaian pesan untuk sel saraf. Jika pembentukan enzim adenilat siklase dihambat maka pembentukan substansi P yang merupakan neurotransmiter nyeri juga dihambat, sehingga rasa sakitnya berkurang. Demikianlah morfin bekerja, dengan kedua hal inilah maka morfin akan menurunkan aktivitas listrik saraf dan menurunkan pelepasan

neurotransmiter nyeri. Menurut Beckett Morfin merupakan salah satu contoh obat analgesik narkotik. Efek analgesik morfin secara umum timbul berdasarkan 3 mekanisme: 1. Morfin meninggikan ambang rangsang nyeri 2. Morfin dapat mempengaruhi emosi, artinya morfin dapat mengubah reaksi yang timbul di korteks serebri pada waktu persepsi nyeri diterima oleh korteks serebri dari thalamus 3. Morfin memudahkan tidur dan pada waktu tidur ambang rangsang nyeri meningkat. Penggunaan morfin utamanya adalah untuk membebaskan rasa sakit dimana dosis efektif sangat bervariasi untuk setiap orang. Morfin diberikan melalui bolus intravena untuk mendapatkan efek lebih cepat, dengan dosis biasanya 5 mg. Namun dapat juga dapat diberikan secara kontinyu melalui infus. Selain intravena dan subkutan, penggunaan secara infuse lebih effektif dan relatif menggunakan dosis yang kecil. Morfin juga efektif dalam oral, walaupun membutuhkan dosis yang besar sepanjang metabolisme pre

sistematik. Yang mana diberikan melalui mulut yang setiap kurun waktu 4 jam dalam sediaan elixir. Morfin sebagai obat analgesik narkotik dalam penggunaannya memiliki efek samping berupa efek euphoria (efek perasaan menjadi senang), dan potensi akan ketergantungan fisik dan mental atau kecanduan akan obat ini yang terjadicepat bila terjadi pemakaian berlebihan. Akibat adanya efek samping tersebut,sekarang dikembangkan tur unan dari morfin yang memiliki aktivitas namun tidak menimbulkan efek kecanduan. analgesic seperti morfin

Efek samping utama obat golongan opiate Efek Perubahan mood Kesadaran Depresi pernafasan Menurunkan motilitas GI Meningkatkan tonus spinkter Pelepasan histamine Manifestasi Dosforia, ueforia Lemah, ngantuk, apatis, tidak bisa konsentrasi Kecepatan respirasi turun Konstipasi Biliary spasm, retensi urin Urtikaria, pruritus, asma

BAB V PENUTUP

A. KESIMPULAN Nyeri pada fraktur dibentuk melalui 4 proses yaitu transduksi (pembentukan reseptor nyeri), transmisi (pembentukan zat penghasil nyeri yaitu bradikinin, dan substansi P dari serabut delta A dan delta c). Modulasi, merupakan interaksi antara sistem analgesik endogen (endorfin, NA, 5HT) dengan input nyeri yang masuk ke kornu posterior medulaspinalis. Di daerah ini akan terjadi interaksi antara impuls yang masuk dengan dengan sistem penghambatan, baik sistem penghambatan endogen maupun eksogen. Bila impuls yang masuk lebih dominan, maka penderita akan merasakan sensibel nyeri dan juga sebaliknya. dan Persepsi, yaitu impuls yang diteruskan ke otak (kortex sensorik) akan mengalami proses yang sangat kompleks, termasuk proses interpretasi dan persepsi yang akhirnya

menghasilkan sensibel nyeri. Pemberian Morfin dengan tujuan menurunkan aktivitas listrik saraf dan menurunkan pelepasan neurotransmiter nyeri. Morfin merupakan analgetik yang digunakan sebagai standar analgesik golongan opioid yang memiliki 3 Reseptor opioid : Reseptor (Mu) : Berperan dalam Analgesia supraspinal dan depresi Reseptor (Kappa) : Berperan dalam analgesia spinal, miosis dan sedasi. Reseptor (Delta) : Disforia, halusinasi dan stimulasi pusat vasomotor Morfin bekerja dengan cara mengikat reseptor opioid Mu atau yang biasa disebut MOR (Mu Opioid Reseptor). Morfin bersifat agonis karena morfin bekerja dengan cara mengaktivasi reseptor Mu yang terdapat pada sistem syaraf pusat. Morfin bekerja pada reseptor opiate di SSP reseptor yang memodulasi transmisi nyeri, menurunkan persepsi nyeri dengan cara menyekat nyeri pada berbagai tingkat, terutama di otak tengah dan medulla spinalis Menurut Beckett Morfin merupakan salah satu contoh obat analgesik narkotik. Efek analgesik morfin secara umum timbul berdasarkan 3 mekanisme: 1. 2. Morfin meninggikan ambang rangsang nyeri Morfin dapat mempengaruhi emosi, artinya morfin dapat mengubah reaksi yang timbul di korteks serebri pada waktu persepsi nyeri diterima oleh korteks serebri dari thalamus

3.

Morfin memudahkan tidur dan pada waktu tidur ambang rangsang nyeri meningkat.

B. SARAN Untuk perawat maupun mahasiswa yang memberikan morfin pada pasien dengan masalah keperawatan nyeri, harus dipantau vital sign dan keefektifan morfin. Karena morfin memiliki efek samping yaitu berupa efek euphoria (efek perasaan menjadi senang), dan potensi akan ketergantungan fisik dan mental atau kecanduan akan obat ini bila pemakaiannya secara berlebihan dan efek samping lain yang merupakan efek samping analgetik golongan opioid.

DAFTAR PUSTAKA

Berman, A., Snyder, S.J., Kozier, B., Erb, G. 2009. Buku Ajar Praktik keperawatan Klinis Kozier Erb. Jakarta: EGC. Doenges, Moorhouse, Geissler, 2000, Rencana Asuhan keperawatan. Edisi 3. Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC. http://www.scribd.com/doc/97035240/Makalah-Morfin-Fix. di unduh tanggal 4 Desember 3012. http://elybernd.blogspot.com/2011/01/morfin.html. di unduh tanggal 4 Desember 3012. http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/2s1keperawatan/205312001/bab2.pdf.di unduh tanggal 4 Desember 3012.

Potter. (2005). Fundamental Keperawatan Konsep, Proses dan Praktik. Jakarta: EGC. Priharjo, R (1993). Perawatan Nyeri, pemenuhan aktivitas istirahat. Jakarta : EGC hal : 87. Ramali. A. (2000). Kamus Kedokteran : Arti dan Keterangan Istilah. Jakarta : Djambatan. Shone, N. (1995). Berhasil Mengatasi Nyeri. Jakarta : Arcan. Hlm : 76-80 Syaifuddin. (1997). Anatomi fisiologi untuk siswa perawat.edisi-2. Jakarta : EGC. Hlm : 123-136. Tamsuri, A. (2007). Konsep dan penatalaksanaan nyeri. Jakarta : EGC. Hlm 1-63