Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN AWAL GENERATOR FOTOVOLTAIK IDEAL (M-4)

Nama NPM Nama Partner NPM Nama Partner NPM Hari/tgl Percobaan Asisten/instruktur : Tresna Mustikasari : 140310100040 : Muhammad Imbar F. : 140310100054 : Nur Anwar : 140310100090 : 17 September 2013 :

LABORATORIUM FISIKA ENERGI JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PADJADJARAN

LEMBAR PENGESAHAN GENERATOR FOTOVOLTAIK IDEAL (M-4)


Nama NPM Nama Partner NPM Nama Partner NPM Hari/tgl Percobaan Asisten/instruktur : Tresna Mustikasari : 140310100040 : Muhammad Imbar F. : 140310100054 : Nur Anwar : 140310100090 : 17 September 2013 :

Kolom Penilaian: Laporan Awal Speaken Laporan Akhir

Jatinangor, 17 September 2013

(Asisten/Instruktur)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejarah sel surya dapat dilihat jauh ke belakang ketika pada tahun 1839 Edmund Becquerel, seorang pemuda Prancis berusia 19 tahun menemukan efek yang sekarang dikenal dengan efek fotovoltaik ketika tengah berkesperimen menggunakan sel larutan elektrolisis yang dibuat dari dua elektroda. Becquerel menemukan bahwa beberapa jenis material tertentu memproduksi arus listrik dalam jumlah kecil ketika terkena cahaya. Era sel surya modern baru dimulai satu abad setelah penemuan fenomena fotovoltaik pertama, yakni ketika tiga peneliti Bell Laboratories di AS (Chapin, Fullr dan Pearson) secara tidak sengaja menemukan bahwa sambungan dioda pn dari silikon mampu membangkitkan tegangan listrik ketika lampu laboratorium dinyalakan. Pada tahun yang sama, usaha mereka telah berhasil membuat sebuah sel surya pertama dengan efisiensi sebesar 6%. Dari titik inilah penelitian sel surya akhirnya berkembang hingga saat ini, dengan banyak jenis dan teknologi pembuatannya. Sel surya semakin berkembang ketika orang mulai menyadari bahwa sumber energi fosil yang selama ini mereka andalkan akan segera habis. Sedang di satu sisi, mereka pun mengetahui ada satu energi besar yang tak termanfaatkan yang waktu operasinya sangat lama, yaitu energi matahari. Oleh karena itu, untuk lebih mengetahui bagaimana cara kerja dari generator fotovoltaik ini, maka dibuatlah pembahasan praktikum fisika energimengenai Generator Fotovoltaik Ideal.

1.2 Identifikasi Masalah Melihat antusiasme orang zaman ini pada fotovoltaik, maka masalah utama yang perlu diketahui adalah bagaimana prinsip kerja dari generator fotovoltaik dan bagaimana cara mengoptimalisasikannya. 1.3 Tujuan Percobaan a. Mempelajari prinsip kerja generator fotovoltaik b. Menentukan optimalisasi generator fotovoltaik

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sel surya ialah sebuah alat yang tersusun dari material semikonduktor yang dapat mengubah sinar matahari menjadi tenaga listrik secara langsung. Sering juga dipakai istilah photovoltaic atau fotovoltaik. Sel surya pada dasarnya terdiri atas sambungan p-n yang sama fungsinya dengan sebuah dioda (diode). Sederhananya, ketika sinar matahari mengenai permukaan sel surya, energi yang dibawa oleh sinar matahari ini akan diserap oleh elektron pada sambungan p-n untuk berpindah dari bagian dioda p ke n dan untuk selanjutnya mengalir ke luar melalui kabel yang terpasang ke sel.

Gambar Skematik Integrasi Sel Surya Dalam aplikasi suatu sel surya yang terintegrasi seperti pada gambar diatas biasanya diperlukan sutu accumulator untuk menyimpan energi listrik yang dihasilkan oleh sel surya tersebut pada waktu sel surya mendapatkan cahaya matahari. Sehingga dengan menyimpan energi yang dihasilkan pada waktu siang tersebut akan menghasilkan cadangan energi pada waktu tidak ada sinar matahari. Untuk setiap blok sel surya biasanya menghasilkan tegangan keluaran antara 0,7 volt hingga 1,2 volt DC pada saat menerima sinar matahari.

Proses konversi Proses pengubahan atau konversi cahaya matahari menjadi listrik ini dimungkinkan karena bahan material yang menyusun sel surya berupa semikonduktor. Lebih tepatnya tersusun atas dua jenis semikonduktor; yakni jenis n dan jenis p. Semikonduktor jenis n merupakan semikonduktor yang memiliki kelebihan elektron, sehingga kelebihan muatan negatif, (n = negatif). Sedangkan semikonduktor jenis p memiliki kelebihan hole, sehingga disebut dengan p ( p = positif) karena kelebihan muatan positif. Caranya, dengan menambahkan unsur lain ke dalam semkonduktor, maka kita dapat mengontrol jenis semikonduktor tersebut, sebagaimana diilustrasikan pada gambar di bawah ini.

Pada awalnya, pembuatan dua jenis semikonduktor ini dimaksudkan untuk meningkatkan tingkat konduktifitas atau tingkat kemampuan daya hantar listrik dan panas semikonduktor alami. Di dalam semikonduktor alami (disebut dengan semikonduktor intrinsik) ini, elektron maupun hole memiliki jumlah yang sama. Kelebihan elektron atau hole dapat meningkatkan daya hantar listrik maupun panas dari sebuah semikoduktor. Misal semikonduktor intrinsik yang dimaksud ialah silikon (Si). Semikonduktor jenis p, biasanya dibuat dengan menambahkan unsur boron (B), aluminum (Al), gallium (Ga) atau Indium (In) ke dalam Si. Unsur-unsur tambahan ini akan menambah jumlah hole. Sedangkan semikonduktor jenis n dibuat dengan menambahkan nitrogen (N), fosfor (P) atau arsen (As) ke dalam Si. Dari sini,

tambahan elektron dapat diperoleh. Sedangkan, Si intrinsik sendiri tidak mengandung unsur tambahan. Usaha menambahkan unsur tambahan ini disebut dengan doping yang jumlahnya tidak lebih dari 1 % dibandingkan dengan berat Si yang hendak di-doping. Dua jenis semikonduktor n dan p ini jika disatukan akan membentuk sambungan p-n atau diode p-n (istilah lain menyebutnya dengan sambungan metalurgi / metallurgical junction) yang dapat digambarkan sebagai berikut. 1. Semikonduktor jenis p dan n sebelum disambung.

2. Sesaat setelah dua jenis semikonduktor ini disambung, terjadi perpindahan elektron-elektron dari semikonduktor n menuju semikonduktor p, dan perpindahan hole dari semikonduktor p menuju semikonduktor n. Perpindahan elektron maupun hole ini hanya sampai pada jarak tertentu dari batassambunganawal.

3. Elektron dari semikonduktor n bersatu dengan hole pada semikonduktor p yang mengakibatkan jumlah hole pada semikonduktor p akan berkurang. Daerah ini akhirnya berubah menjadilebih bermuatan positif.

Padasaat yang sama, hole dari semikonduktor p bersatu dengan elektron yang ada pada semikonduktor n yang mengakibatkan jumlah elektron di daerah ini berkurang. Daerah ini akhirnya lebih bermuatan positif.

4. Daerah negative dan positif ini disebut dengan daerah deplesi (depletion region) ditandai dengan huruf W. 5. Baik electron maupun hole yang ada pada daerah deplesi disebut dengan pembawa muatan minoritas (minority charge carriers) karena

keberadaannya di jenis semikonduktor yang berbeda. 6. Dikarenakan adanya perbedaan muatan positif dan negatif di daerah deplesi, maka timbul dengan sendirinya me dan listrik internal E dari sisi positif ke sisi negatif, yang mencoba menarik kembali hole ke semikonduktor p dan electron ke semikonduktor n. Medan listrik ini cenderung berlawanan dengan perpindahan hole maupun electron pada awal terjadinya daerah deplesi (nomor 1 di atas).

7. Adanya medan listrik mengakibatkan sambungan pn berada pada titik setimbang, yakni saat di mana jumlah hole yang berpindah dari semikonduktor p ke n dikompensasi dengan jumlah hole yang tertarik kembali kearah semikonduktor p akibat medan listrik E. Begitu pula dengan jumlah elektron yang berpindah dari smikonduktor n ke p, dikompensasi dengan mengalirnya kembali electron ke semikonduktor n akibat tarikan medan listrik E. Dengan kata lain, medan listrik E mencegah seluruh electron dan hole berpindah dari semikonduktor yang satu ke semiikonduktor yang lain. Pada sambungan p-n inilah proses konversi cahaya matahari menjadi listrik terjadi. Untuk keperluan sel surya, semikonduktor n berada pada lapisan atas sambungan p yang menghadap ke arah datangnya cahaya matahari, dan dibuat jauh lebih tipis dari semikonduktor p, sehingga cahaya matahari yang jatuh kepermukaan sel surya dapat terus terserap dan masuk kedaerah deplesi dan semikonduktor p.

Ketika sambungan semikonduktor ini terkena cahaya matahari, maka electron mendapat energy dari cahaya matahari untuk melepaskan dirinya dari

semikonduktor n, daerah deplesi maupun semikonduktor. Terlepasnya electron ini meninggalkan hole pada daerah yang ditinggalkan oleh elektron yang disebut dengan fotogenerasi elektron-hole (electron-hole photogeneration) yakni, terbentuknya pasangan electron dan hole akibat cahaya matahari.

Cahaya matahari dengan panjang gelombang (dilambangkan dengan simbol lambda sebagai n di gambar atas) yang berbeda, membuat fotogenerasi pada sambungan pn berada pada bagian sambungan pn yang berbeda pula. Spektrum merah dari cahaya matahari yang memiliki panjang gelombang lebih panjang, mampu menembus daerah deplesi hingga terserap di

semikonduktor p yang akhirnya menghasilkan proses fotogenerasi di sana. Spektrum biru dengan panjang gelombang yang jauh lebih pendek hanya terserap di daerah semikonduktor n. Selanjutnya, dikarenakan pada sambungan pn terdapat medan listrik E, electron hasil fotogenerasi tertarik kearah semikonduktor n, begitu pula dengan hole yang tertarik ke arah semikonduktor p. Apabila rangkaian kabel dihubungkan kedua bagian semikonduktor, maka electron akan mengalir melalui kabel. Jika sebuah lampu kecil dihubungkan kekabel, lampu tersebut menyala dikarenakan mendapat arus listrik, dimana arus listrik ini timbul akibat pergerakan elektron.

Pada umumnya, untuk memperkenalkan cara kerja sel surya secara umum, ilustrasi di bawah ini menjelaskan segalanya tentang proses konversi cahaya matahari menjadi energy listrik.

Generator Fotovoltaik Cara yang paling sederhana untuk menggambarkan generator fotovoltaik adalah dengan menggambarkannya sebagai sumber arus ideal, (yang

menghasilkan suatu arus Ir, kira-kira sebanding dengan daya dari cahaya), yang dipasang paralel dan dengan diode, seperti yang terlihat pada gambar di bawah:
V= VD=RLI

IP

ID

RL

I=IF-ID

Jika terminal-terminal sel surya dihubungkan dengan suatu resistor eksternal RL, arus yang dihasilkan oleh radiasi surya akan mengalir melalui rasistor (arus I) dan dibagian lain akan mengalir melalui dioda (arus I0), maka arus I dapat ditulis sebagai berikut: I=IF-ID Gambar rangkaian di atas menunjukkan bahwa, untuk generator fotovoltaik ideal, tegangan V yang dikenakan pada resistor sama dengan tegangan pada diode VD: V=VD Diode merupakan suatu elemen non-linier, secara umum hubungan arus dan tegangan diberikan oleh: ( ( ) )

Dimana IS dan VT , adalah karakteristik dari generator khusus, dengan V, suatu fungsi temperatur. Dari persamaan-persamaan di atas diperoleh persamaan dan fungsi yang menggambarkan kurva karakteristik arus (I) dan tegangan (V) generator fotovoltaik ideal seperti pada gambar: ( ( ) )

ISC
I(RL)

I=V/R
L

V
V(RL) VOC

Arus I dan tegangan V bukan variable bebas. Dalam eksperimen, variabel bebasnya adalah dengan memvariasikan daya dari sumber cahaya dan memvariasikan resistensi RL (untuk suatu harga intensitas cahaya). Arus eksternal I dan tegangan V (pada persamaan terakhir di atas) adalah: V=RLI Memperbolehkan untuk mengeliminasi salah satu dari persamaan ke empat dan menuliskan fungsi lain sebagai fungsi dari RL, untuk intensitas cahaya konstan. Fungsi ini merupakan fungsi transeden yang dapat ditentukan seperti terlihat pada gambar 2. Untuk setiap nilai resistansi terdapat suatu pasangan (I,V) yang sesuai dengan kurva karakteristik, titik koordinat di mana kurva dilalui oleh garis lurus I=V/R. Bentuk rangkaian photovoltaic riil generator seperti gambar dibawah ini :

Ada dua hal yang perlu diperhatikan untuk penjelasan yang lebih realistis tentang photovoltaik generator Hambatan dalam generator dan kontak, diwakili oleh resistor Rs dalam hubungan seri dengan generator (dikarenakan melawan sirkulasi arus eksternal).

Restivitas arus yang melalui semikonduktor kristal, diwakili oleh sebuah resistor Rp dalam hubungan parallel dengan dioda (dikarenakan member sebuah alternatif mekanisme untuk sirkulasi arus internal). Persamaan yang berhubungan dengan arus eksternal I kepada tegangan V

yang melewati hambatan beban masih dimiliki oleh fungsi diode I (V), tetapi sekarang hubungan antara I dan Id dan antara V danVd direpresentasikan oleh : I = If - Id - Ip Dan V = VD+ RsI Dimana nilai arus I D adalah ID= IS+ (exp (VD / VT) 1) Subtitusikan persamaan maka diperoleh I = IF - IS+ (exp (VD / VT) 1) (1 + (RS/ RL) V/RP)

Efisiensi Sel Surya Saat ini, efisiensi sel surya dapat dibagi menjadi efisiensi sel surya komersil dan efisiensi sel surya skala laboratorium. Sel surya komersil yang sudah ada di pasaran memiliki efisiensi sekitar 12-15%. Sedangkan efisiensi sel surya skala laboratorium pada umumnya 1,5 hingga 2 kali efisiensi sel surya skala komersil. Hal ini disebabkan pada luas permukaan sel surya yang berbeda. Pada sel surya di pasaran, sel yang dipasarkan pada umumnya memiliki luas permukaan 100 cm2 yang kemudian dirangkai mejadi modul surya yang terdiri atas 30-40 buah sel surya. Dengan semakin besarnya luas permukaan sel surya, maka sudah menjadi pengetahuan umum jika terdapat banyak efek negatif berupa resistansi

sirkuit, cacat pada sel dan sebagainya, yang mengakibatkan terdegradasinya efisiensi sel surya. Pada sel surya skala laboratorium, luas permukaan sel yang diuji hanya berkisar kurang dari 1 cm2. Hal ini dimaksudkan untuk melihat kondisi ideal sel surya yang bebas dari cacat maupun resistansi ketika dihubungkan ke sebuah sirkuit. Disamping itu, kecilnya luas permukaan sel surya memudahkan proses pembuatannya di mana alat yang dipakai di dalam laboratorium ialah alat yang berukuran kecil.

Keuntungan Energi Surya Tersedia bebas dan dapat diperoleh secara gratis di alam. Persediaan energi surya hampir tak terbatas, yang bersumber dari matahari (surya). Tanpa polusi dan emisi gas rumah kaca sehingga dapat mengurangi pemanasan global. Dapat dibangun di daerah terpencil karena tidak memerlukan transmisi energi maupun transportasi sumber energi. Kerugian Energi Surya Secara umum membutuhkan investasi awal yang besar (mahal). Untuk mencapai efisiensi rata-rata yang tinggi, pada umumnya tipe sel surya memerlukan permukaan areal yang luas. Oleh karenanya anda seringkali menjumpai panel-panel fotovoltaik berbentuk persegi empat yang menyerupai lembaran papan kayu lapis. Efisiensi sel surya sangat dipengaruhi oleh polusi udara dan kondisi cuaca. Sel surya hanya mampu membangkitkan energi sepanjang siang hari saja. Pembuatan sel surya masih mahal.

Karena berbagai kekurangan tersebut, kemampuan sel surya dalam menghasilkan tenaga listrik belum dapat mencapai efisiensi tertinggi. Tambahan pula sel-sel surya tersebut jika belum dapat diproduksi sendiri maka harus diadakan dengan cara impor. Maka pemanfaatannya menjadi lebih mahal dibandingkan dengan pemanfaatan energi fosil (minyak, gas dan batubara). Saat ini biaya energi surya diperkirakan mencapai dua kali lipat biaya energi fosil.

BAB III METODA PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan Percobaan a. Sumber Cahaya b. Panel Sel Surya c. Beberapa resistor eksternal d. Luxmeter e. Alat ukur arus dan tegangan listrik 3.2 Prosedur Percobaan a. Mengukur intensitas cahaya terhadap variasi jarak b. Mengukur intensitas cahaya dengan menggunakan alat ukur intensitas cahaya dengan beberapa variasi jarak untuk mengetahui pengaruh jarak terhadap intensitas cahaya. c. Menentukan karakteristik sel surya d. Membuat rangkaian seperti pada gambar 5. Mengukur arus dan tegangan untuk berbagai harga RL e. Mengulangi percobaan no 2. Untuk sumber cahaya yang berbeda (misal dengan memfilter cahaya yang jatuh ke panel sel surya)

DAFTAR PUSTAKA

http://duniaelektronika.blogspot.com/2008/07/surya.html http://energisurya.wordpress.com/2008/07/10/melihat-prinsip-kerja-sel-suryalebih-dekat/ http://energisurya.wordpress.com/faq-sel-surya/ http://buletinlitbang.dephan.go.id/index.asp?vnomor=18&mnorutisi=8 http://ardiannisworld.blogspot.com/2008/07/sel-surya-panel-surya.html http://blogodril.com/energi/energi-surya-keuntungan-kerugian-dan-potensinya-di-indonesia-6