Anda di halaman 1dari 21

ANALISIS KEBIJAKAN UU BHP IMPLIKASINYA TERHADAP MADRASAH

(Analisis Bab I ayat 11 dan 12 dan Bab V)

A. Pendahuluan
Pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu upaya mewariskan nilai, yang akan
menjadi penolong dan penentu umat manusia dalam menjalani kehidupan, dan sekaligus
untuk memperbaiki nasib dan peradaban umat manusia. Tanpa pendidikan, maka diyakini
bahwa manusia sekarang tidak berbeda dengan generasi manusia masa lampau, yang
dibandingkan dengan manusia sekarang, telah sangat tertinggal baik kualitas kehidupan
maupun proes-proses pembedayaannya. Secara ekstrim bahkan dapat dikatakan, bahwa maju
mundurnya atau baik buruknya peradaban suatu masyarakat, suatu bangsa, akan ditentukan
oleh bagaimana pendidikan yang dijalani oleh masyarakat bangsa tersebut.
Pendidikan islam (Madrasah) merupakan salah satu pilar pendidikan nasional, dalam
catatan historis merupakan pencetak militan muslim untuk merebut kemerdekaan. Pendidikan
Islam dalam perkembangannya dewasa ini sudah mengalami penguatan secara konstitusional,
dimana Madrasah merupakan bagaian dari sub sistem pendidikan nasional. Sehingga lulusan
Madrasah dapat bersaing dengan lulusan dari institusi dibawah departeman lainnya.
Lahirnya UU BHP merupakan amanat dari bagian pembukaan (menimbang point C)
Sisdiknas berbunyi, bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan
kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen
pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal,
nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana,
terarah, dan berkesinambungan.
Untuk itu pemerintah perlu melakukan perbaikan pada system pendidikan dari PT sampai
tingkat Dasar guna mencapai tujuan di atas. Sehingga pendidikan tersebut memeliki
kredibilitas dan akuntabilitas dimata public. Untuk maka satuan pendidikan itu perlu
berbentuk badan hukum pendidikan. Seperti yang ditetapkan dalam sisdiknas pasal 53 ayat 1-
4 yang berbunyi: (1) Penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh
Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan. (2) Badan hukum
pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berfungsi memberikan pelayanan

1
pendidikan kepada peserta didik. (3) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) berprinsip nirlaba dan dapat mengelola dana secara mandiri untuk memajukan satuan
pendidikan. (4) Ketentuan tentang badan hukum pendidikan diatur dengan Undang-undang
tersendiri.
Undang-undung Badan Hukum Pendidikan merupakan usaha pemerintah untuk
memperbaiki kualitas pendidikan serta untuk menghilangkan diskriminasi antara madrasah
swasta dan negeri antara dibawah Diknas dan non Diknas serta untuk mendekatkan madrasah
kepada masyarakat dan memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk ikut mengelola,
mengawasi dan memberikan sumbangsih pendanaan dari satuan pendidikan. Selain itu
dimunculkannya uu bhp terkait dengan penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan oleh
pihak swasta. Hampir semua penyelenggara pendidikan swasta dilakukan oleh badan hukum
berupa yayasan. Penggunaan yayasan sebagai sebagai badan hukum menimbulkan
pengelolaan ganda, yaitu oleh yayasan dan pengurus lembaga pendidikan. Dalam beberapa
tahun terakhir kerap muncul perselisihan antara pengurus yayasan dan pengurus lembaga
pendidikan. Dengan munculnya uu bhp diharapkan menjadi solusi untuk menghilangkan
kepengurusan ganda tersebut.
Kemunculan RUU BHP mendapat tantangan yang keras dari berbagai pihak terutama
dari kalangan perguruan tinggi, mereka beranggapan bahwa BHP akan melepaskan
tanggungjawab pemerintah dan akan membuka komersialisasi pendidikan. Dengan demikian
akan menimbulkan kesenjangan social yang semakin mencolok sedang dari segi politik akan
menghilangkan kedaulatan Negara dalam pendidikan, namun anehnya pihak madrasah tidak
terlalu bereaksi terhadap munculnya uu bhp, inilah yang akan penulis uraikan dalam
pembahasan serta plus-minu UU BHP bagi madrasah. Seperti yang kita ketahui madarasah
lebih banyak yang berstatus swasta, serta bagaimana posisi mereka dalam BHP.
B. Madrasah Dalam Sejarah
1. Masa Hindia Belanda
Pendidikan Islam (baca: Madrasah) pada kemunculannya tidak bisa dipisahkan dari
gerakan pembaharuan Islam yang dilakukan tokoh intelektual Islam. Madarasah pada
masa kolonial Hindia Belanda mulai menunjukkan proses pertumbuhan dan
perkembangan, seiring didengungkannya pembaharun1 oleh para tokoh intelektual Islam.

1 Pembaharuan-pembaharuan tersebut, menurut Karl Sternbrink (1986), meliputi tiga hal, yaitu: 1.Usaha
Lahirnya Madrasah dilatar belakangi oleh dua faktor penting, pertama pendidikan islam
tradisional dianggap kurang sistematis dan kurang memberikan kemampuan praksis yang
memadai, kedua perkembangan madrasah-madrasah Belanda yang mengalami
pertumbuhan yang sangat pesat diwilayah Indonesia. Kejadian di atas akan membawa
dampak sekularisasi, sehingga hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi intelektual
muslim. Dari sini muncul suatu gagasan untuk mendirikan pendidikan islam yang
memberikan porsi yang sama besar terhadap pendidikan agama dan umum2.
Kebijakan pendidikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda lebih banyak
menekan pendidikan Islam (Madrasah), yang disebabkan oleh kekhawatiran pemerintah
Hindia Belanda, terhadap munculnya militansi muslim terpelajar. Hal ini membawa
konsekuensi pendidikan Islam selalu diawasi oleh pemerintah Belanda. Dengan
menerapkan kebijakan ordonansi guru, sehingga setiap guru agama diwajibkan untuk
memiliki sertifikat mengajar dari pemerintah (kalau dalam istilah sekarang sertifikat guru,
dalam waktu yang sama menaikan profesionalisme dan kesejahteraan bagi guru), sehingga
guru pendidikan agama yang mengusai agama secara kaffah belum tentu dapat mengajar,
tentu mereka akan dipersulit, supaya mereka tidak menjadikan muridnya sebagai
pembebas dari penjajahan. tentu hal ini membawa konsekuensi pengkerdilan pendidikan
islam dan agama Islam. Pendidikan Islam pada masa ini secara metodologi dan kurikulum
(tidak menyimbangkan pendidikan agama dan keduniawian) serta hasil lulusan yang tidak
dapat bersaing dengan lulusan madrasah Belanda.
Tokoh muslim yang pernah belajar dan mengenyam pendidikan di Timur Tengah
serta pendidikan Belanda. Mulai berpikir keras untuk mencari formula yang tepat untuk
memerangi diskriminasi yang dilakukan pemerintah Belanda serta pendidikan Islam yang
tidak dapat bersaing dengan pendidikan Belanda. Oleh Karena itu, mereka mulai
mengembangkan pendidikan Islam yang mandiri dengan penyesuaian kurikulum, system
pengajaran dan kelembagaannya. Wujud nyata dari kebijakan ini banyak bermunculannya
pendidikan Islam di pulau jawa, Sumatra dan Kalimantan.
2. Masa Orde Lama

menyempurnakan sistem pendidikan pesantren, 2. Penyesuaian dengan sistem pendidikan Barat, dan 3. Upaya
menjembatani antara sistem pendidikan tradisional pesantren dan sistem pendidikan Barat. lihat A. Steenbrink Karel,
Pesantren Madrasah Dan Madrasah: Pendidikan Islam Dalam Kurun Modern, Jakarta, LP3ES, hal 26-29. 1984.
2
3
Perkembangan dan pertumbuhan pendidikan Islam pada masa ini terkait erat
dengan peran Departemen Agama3. Lembaga ini menjadi tumpuan bagi umat Islam dalam
menyelenggarakan dan mengembangkan pendidikan islam secara luas di Indonesia serta
guru pendidikan Agama. Disamping itu depag menjadi andalan secara politis untuk
mengangkat posisi Madrasah agar memperoleh perhatian dari pengambil kebijakan.
lembaga ini melanjutkan usaha yang sudah dilakukan oleh tokoh intelektual islam pada
masa sebelumnya, tetapi juga mulai mengembangkan program-program perluasan dan
peningkatan mutu Madrasah.
Sebagai contoh pengembangan dan peningkatan mutu Madrasah, adalah
dikembangkan pendidikan Guru Agama (PGA) dan Pendidikan Hakim Islam Negeri
(PHIN). kedua lembaga ini menandai perkembangan dan sekaligus mencetak tenaga
keagamaan dan pendidikan agama yang secara otomatis sebagai motor penggerak dan
pengelola pendidikan Madrasah.
Selain itu Depag mulai melakukan penjenjangan Madrasah. Pada masa ini
mempunyai peran yang penting dalam pengembangan Madrasah pada masa akan datang,
perkembangan Madrasah pada masa ini mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan
seperti dapat dilihat pada tabel berikut:
Tahun Jumlah Madrasah
1951 25
1954 30
1960-an Rendah 13.057
Pertama 776
Atas 16
Sumber dari Dr. Maksum
dari gambaran di atas pendidikan islam sudah perperan aktif dalam mencerdaskan
kehidupan bangsa dan negara. Pendidikan Islam masa ini belum secara implicit diakui
dalam system pendidikan nasional.
3. Masa Orde Baru dan Reformasi
Kebijkan Orde baru pada awalnya tidak memberikan penguatan kepada Madrasah.
pada tahun 1972 dan Inpres 1974 pemerintah mengeluarkan keputusan presiden (Kepres)
dimana kedua kebijakan tersebut sangat merugikan bagi eksistensi Madrasah di Indonesia,

3 Resmi berdiri pada tanggal 3 Januari 1946.


bagaiman tidak karena Madrasah akan berada pengelolaannya dibawah Departemen
Pendidikan Nasional yang sebelumnya menjadi kewenangan dari Departemen Agama.
Kebijakan tersebut tentu mendapat reaksi dan tentang keras dari umat Islam, karena dinilai
akan menghilangkan kehidupan beragama dari kegiatan (khusunya dalam pendidikan)
serta menghilangkan Madrasah dari nusantara tercinta.
Pemerintah mulai mencari solusi untuk menenangkan kemarahan umat Islam
dengan mengeluarkan SKB 3 menteri tentang Madrasah. Dimana isinya mengembalikan
eksistensi Madrasah dibawah departemen agama, serta memasukkan kurikulum umum
dalam yang sudah ditentukan. Tentu hal ini semakin memperkuat eksistensi Madrasah dan
para lulusannya. Tidak berhenti sampai disitu usaha pemerintah orba bersama wakil rakyat
mengeluarkan UU No 20 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional, dengan
dikeluarkannya sisdiknas ini Madrasah secara otomatis kedudukannya sudah terintegrasi
dengan pendidikan nasional.
Hal ini nampaknya menjadi tonggak awal perkembangan Madrasah yang sangat
cepat, dengan indikator semakin banyak berdirinya Madrasah, terutama swasta, mulai dari
tingkatan terndah sampai pada tingkat Madrasah Aliyah. Indikator ini menjadi bukti
bahawa peran masyarakat di Madrasah sesungguhnya sangat besar. Namun, masyarakat
tidak banyak mempunyai akses untuk mengelola Madrasah, karena semuanya sudah
ditentukan dari otoritas dipusat.
Dalam era reformasi kedudukan Madrasah semakin kuat dengan diundangkannya
sisdikana No 20 Tahun 2003. Pemerintah pada era ini semakin meningkatkan perhatian
kepada departemen agama melalui pengingkatan anggaran yang membawa konsekuensi
akan meningkatnya mutu madrsah baik negeri maupun swasta. Serta pemerintah
memberlakukan perbaikan perbaikan kepada kesejahteraan guru dengan adanya sertifikasi.
C. Implikasi BHP Terhadap Pendidikan Islam (Madrasah)
1. Kepala Madrasah sebagai Penentu Kesuksesan Madrasah
Pendidikan Islam (Madrasah) merupakan lembaga pendidikan yang yang tidak
didesentralisasikan. Hal ini membawa konsekuensi pendanaan untuk kelancaran dalam
kegiatan belajar mengajar ditanggung oleh pemerintah pusat dalam hal ini departement
agama (khususnya yang berstatus negeri). Manajemen Madrasah pada akhirnya menjadi
sentralistik jadi tidak mengherankan Madrasah tidak sedikit mengalami keterlambatan

5
dalam perbaikannya, sarana dan prasarana (laboratorium, perpustakaan).
Dalam UU BHP pasal 1 ayat 11 ”mengatakan pengelolaan pendidikan disebut dengan
Kepala Madrasah Madrasah” jadi kepala Madrasah merupakan orang yang bertanggung
jawab dalam mengelola, mengembangkan serta memajukan institusi (lembaga yang
dipimpin) harus memiliki persyaratan serta kompetensi. Adapun kompetensi kepala
sekolah sesaui peraturan perundang-undangan sebagai berikut: kepribadian, manajerial,
supervisi, kewirausahaan, sosial.
Kepala madrasah yang kita amati sekarang banyak yang tidak mampu menjadi
manajer pendidikan yang tangguh, dapat kita lihat berapa banyak sekolah yang mampu
menata organ-oragan pendidikan menjadi pendidikan yang bertaraf internasional, karena
memang mereka kurang mendapatkan pelatihan untuk mengelola madrasah secara
bagus.disamping itu kompetensi supervise yang tidak dapat dilaksanakan kepala madrasah
dengan baik, dimana banyak wali muri dan murid mengeluh tentang cara guru mengajar
yang kurang variatif dan menjenuhkan, serta kurang dapat merencanakan kegiatan
belajarnya, seharusnya kepala madrasah selalu melihat dan mengejcek RRP para gurunya,
serta melihat cara guru mengajar dikelas, mana yang kurang baik mereka memberikan
solusi bagaiman sebaiknya dia mengajar.
Disamping itu kepala madrasah kurang memiliki pandangan visioner dan berwawasan
wirausaha, sehingga lembaga yang dipimpinnya tidak dapat berajak dari tempat duduknya.
Kesulitan mencari sumber dana selain dari pemerintah. Maka dalam salah satu poin BHP
bahwa Madrasah akan berbentuk manajemen berbasis mdarasah dan ini nampaknya akan
membawa kesulitan bagi sebagian kepala Madrasah yang tidak berwawasan visioner dan
kewirausahaan, tentu mereka akan mencari sumber pendanaan hanya dengan
mengandalkan peserta didik, orang tua dari peserta didik, tanpa memikirkan dari pihak
lain yang bermodal besar. Para pemodal besar yang memberikan bantuan kepada
pendidikan juga akan memperoleh insentif perpajakan dari pemerintah. Pendanaan
pendidikan dari perusahaan ini seharusnya dapat menjadi alternatif bagi keberlangsungan
Madrasah. Nampaknya pula kepala madrasah mengalami kesulitan untuk
mengkomunikasikan keberhasilan dan hasil karyanya untuk dapat dilihat dan dinikmati
oleh public, sehingga hasil karya peserta didiknya dapat dinikmati oleh banyak kalangan
serta tentunya akan menghasilkan sumber dana bagi yang dapat dimanfaatkan dalam
proses kelangsungan hidup madrasah tersebut.
2. Kelebihan dan Kekurangan UU BHP Bagi Madrasah
Madrasah merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional. Madrasah akhir-akhir ini
memperolah perhatian yang sangat serius dari Departemen Agama sebagai induknya.
Bentuk perhatian dan perbaikan tersebut dilakukan untuk memperbaiki mutu dan citra
Madrasah yang selama ini terpuruk, agar Madrasah tidak kalah bersaing dengan lembaga
pendidikan yang lain.
Madrasah sejak kemunculan isu RUU BHP yang dibuat drafnya oleh pemerintah dan
hiruk-pikuk demonstrasi dimana-mana sampai disahkannya RUU tersebut menjadi UU
BHP, nampaknya pihak madrsah tidak menunjukkan reaksi yang berlebihan seperti pihak
yang lain. Memang UU ini lebih diutamakan untuk madrasah menengah dan perguruan
tinggi, serta kalangan Madrasah tidak banyak mendiskusikan dan mengetahui apa isi
undang-undang tersebut, sebagaimana yang diungkapkan kepala sekolah “Kasek SMA
Kolese Santo Yusup Kota Malang, Peter Sihombing mengatakan belum siap
memberlakukan status sekolah/madrasah menjadi BHP. Karena, hingga saat ini
sekolah/madrasah belum mengetahui isi BHP. Akan tetapi, sekilas membaca UU BHP
ternyata tidak ada urgensi bagi sekolah/madrasah swasta. Alasannya, di SMA swasta telah
mengadopsi dua produk hukum yakni UU Sisdiknas dan UU Yayasan”4.
Madrasah Dasar dan Menengah masih menjadi tanggung jawab pemerintah dengan
pendidikan wajar 9 tahun. Madrasah dan sekolah lebih banyak menunggu adanya aturan
turunannya baik berupa PP, Permendiknas dan aturan yang lain yang mengikutinya.
Dengan diterapkannya undang-undang ini nampaknya akan membawa keuntungan dan
kelemahan bagi Madrasah terutama Madrasah swasta yang paling banyak dibawah
departemen agama. Dalam tulisan dibawah ini akan kami uraikan plus-minus dari undang-
undang BHP bagi Madrasah.
a. Keunggulan UU BHP Bagi Madrasah
Selama ini kita melihat bahwa, hampir semua madrasah swasta telah memilki badan
hukum, yaitu badan hukum yayasan. Dimana manajemen pengelolaan baik mulai dari
pembelian bollpoint sampai pemilihan Kepala Madrasah semuanya dikuasai oleh
pengelola yayasan, yang mana pengelolaannya mengarah tidak adanya transparansi.

4 www.Surabaya Post.com. diunduh pada tanggal 24 Mei 2009

7
Memang pelaksanaannya secara aturan dilaksanakan secara bersama antara kepala
madrasah dan yayasan, namun lebih banyak dikuasai oleh yayasan.
Diterapkannya BPH dalam dunia madrasah, kepala madrasah dapat mengelola
madrasahnya tanpa dicampuri oleh pihak yayasan, karena yayasan menjadi Majlis Wali
Amanat (MWA) yang merupakan bagian dari lembaga pendidikan, serta tidak
mempunyai kewenangan untuk mengatur lembaga pendidikan. Sehingga lembaga
pendidikan dapat mengelola madrasah sesuai dengan tuntutan zaman yang selalu berubah
dengan cepat, dengan demikian madrasah akan menjadi madrasah yang mandiri pada
akhirnya akan menjadi madrasah yang berkualitas.
Disamping undang-undang BHP akan memberikan transparansi pengelolaan, seperti
kita ketahui pengelolaan yayasan lebih perspektif usaha, jenis usaha yang dimiliki
yayasan bisa bersifat profit maupun non profit. Sementara kegiatan sekolah bagi yayasan
biasanya dimasukkan dalam kegiatan nonprofit. Namun dalam prakteknya, banyak
sekolah yang menjadi unit usaha nonprofit yayasan, dikelola sama seperti perusahaan,
malah sebagian besar menjadi profit center yayasan. Parahnya lagi banyak Pengurus
Yayasan yang tidak mengerti tentang dunia pendidikan, malah mengelola pendidikan
seperti halnya mengelola perusahaan. Yang saya maksud perusahaan disini adalah sikap
dan pemikiran yang hanya berdasarkan untung-rugi saja. Sehingga, secara internal
Yayasan dan sekolah-sekolah swasta kita mengalami dehumanisasi. Sebagai contoh
pecahnya yayasan pendidikan al-azhar menjadi dua bagian karena pengelolaan bergaya
perusahaan dan kurang trasnparan.
Maka dengan diundangkannya BHP akan membawa angin segar bagi madrasah
swasta karena tiap madrasah harus melaporkan akuntabilitas kekayaannya, serta diaudit
oleh akuntan public, sehingga seluruh warga madrasah akan mengetahui dari mana dan
kemana dana yang digunakan oleh madrasah yitu masyarakat akan mengetahui secara
transparan anggaran yang diperoleh madrasah.
BHP merupakan salah satu terobosan dari pemerintah untuk meningkatkan mutu
madrasah yang selama ini masih dibawah lembaga pendidikan yang lain. Karena untuk
dapat masuk menuju BHP madrasah dan lembaga pendidikan yang lain harus memenuhi
standar delapan SNP dan minimal terakreditasi A, tentu hal ini akan memacu setiap
madrsah untuk menerapkan standar-standar yang telah ditentukan oleh pemerintah,
tentunya hal ini akan meningkatkan daya saing madrasah satu dengan yang lain dan
lembaga pendidikan yang ada.
Disamping itu UU BHP dengan tujuannya untuk menghilangkan diskriminasi antara
madrasah swasta dan negeri. Hal ini memberikan angi segar kepada pengelola madrsah
swasta untuk dapat menunjukkan taringnya bahwa madrasah swasta tidak klah mutuya
dengan madrsah “negeri”. Ketika kompetisi ini terjadi maka pendidikan yang ada pasca
diterapkannya BHP adalah lembaga pendididikan yang murah bagi masyarakat tetapi
berkualitas. Masyarakat akan memiliki pilihan-pilihan untuk menyekolahkan anaknya
sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya.
Pendidikan Madrasah yang lahir pada masa penjajahan kolonial, meskipun berbagai
rintangan dan tekanan dari pemerintah, namun tetap memperlihatkan eksistensinya sampai
zaman reformasi sekarang. hal ini menyebabkan pendidikan Islam menyandang bebagai
jenis nilai luhur sebagai berikut: pertama nilai historis dimana pendidikan islam tetap
eksis dari masa penjajahan sampai masa reformasi. pendidikan Islam telah menyumbang
nilai-nilai yang sangat besar dalam perjuangan bangsa Indonesia dalam memperoleh
kemerdekaan, membentuk tatan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, kedua nilai
religious pendidikan islam dalam perkembangannya telah mempertahankan nilai-nilai
agama islam sebagai salah stu budaya Indonesia, ketiga nilai moral pendidikan islam tidak
dapat disangkal sebagai pusat pemelihara dan pengembangan nilai-nilai moral berdasar
keislaman. Baik diMadrasah, pesantren bukan hanya sebagai pusat pendidikan tetapi juga
sebagai benteng pendidikan moral5.
Pendidikan Islam lahir dan dibesarkan oleh masyarakat. Oleh karena itu Madrasah
pada hakekatnya dimiliki dan dikelola oleh masyarakat secara demokratis. Walaupun pada
masa sekarang Madrasah dikelola oleh yayasan, perorangan, pemerintah, tetapi kehidupan
Madrasah masih ditopang oleh masyarakat. ketika banyak orang berbicara tentang
pendidikan berbasis pada masyarakat atau manajemen berbasis madrasah (MBS
merupakan salah satu ciri peran serta masyarakat yang diamanatkan BHP). Madrasah
sudah memiliki pengalaman yang sangat lama.
Dalam pendidikan Madrasah proses demokratisasi sudah muncul dalam proses belajar
mengajar, yang mana kegiatan (proses) ini akan akan membantu perkembangan berpikir

5 Tilaar HAR, Paradigma Baru Pendidikan Nasional, Jakarta, Renika Cipta, 2004. Hal 78

9
siswa yang kreatif, disamping itu Madrasah juga membentuk dan mempersiapkan manusia
yang beriman dan bertaqwa dan menguasai ilmu dan teknologi untuk mengahapi era
globalisasi.
b. Permasalahan UU BHP Bagi Madrasah
Undang-undang badan hukum pendidikan yang telah disahkan oleh Dewan Perwakilan
Rkyat pada tanggal 17 Desember 2009. UU ini menyisakan persoalan yang cukup pelik
bagi madrasah khususnya swasta, sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa pengelolaan
madrasah khusunya swasta dalam pengelolaannya lebih dikuasai oleh yayasan sebagai
penguasa tunggalnya dan kepala madrasah hanya sebagai “ban serap”, dengan diterapkan
UU ini akan menghilangkan kekuatan/peran yayasan yang berupah menjadi Majlis Wali
Amanat (MWA) yang menjadi bagian dari lembaga pendidikan (madrasah). Dalam UU
BHP pengurus yayasan tidak lagi mempunyai kewenangan yang selama ini melekat pada
yayasan, seperti pengangkatan kepala sekolah dan mengelola keuangan tentu yayasan
tidak akan menerima dengan keadaan semacam ini karena madrasah yang selama ini ada
merupak ladang dalam “menghidupi” anggota yayasan, masalah krusial semacam ini
harusnya peka untuk segera mencarikan solusinya. Disamping itu dikhawatirkan madrasah
dimasuki orang luar yang akan melunturkan atau bahkan bisa menghilangkan visi dan misi
madrasah yang telah dibangun oleh pendiri madrasah tersebut.
Undang-undang Badan Hukum Pendidikan, nampaknya masih membuat cemas
lembaga pendidikan swasta (madrasah) dan bersifat diskriminatif terhadap madrasah
swasta, bentuk diskriminasi salah satunya masih biasnya adalah pendanaan. BHP madrsah
dan sekolah swasta tidak diakomodasi, karena dalam undang-undang badan hukum
pendidikan hanya disebutkan “dibantu” pemerintah. Sementara untuk BHP negeri
Pemerintah dalam hal ini akan memberikan bantuan kepada BHPP paling sedikit sebesar
½ dari biaya opersional dan untuk BHPP/BHPD untuk pendidikan menengah sebesar 1/3
untuk biaya operasional, sedangkan nantinya BHPM tidak boleh memungut kepada wali
murid/siswa tidak lebih besar dari 1/3.

Tentu hal ini akan menyulitkan keberlangsungan madrasah swasta yang menurut data
dari Departemen Agama menunjukkan bahwa jumlah total madrasah Madrasah Ibtidaiyah
sebasar 2.870.83, dari jumlah tersebut yang negeri 342.579 atau 7,4% sedangkan jumlah
Ibtidiyah swasta sebesar 2.528.260 atau 92,6%. Pada tingkatan MTs terdapat 2.347.186
untuk seluruh wilayah Indonesia, untuk MTs swasta berjumlah 1.789.086, adapun untuk
MTs negeri hanya berjumlah 558.100. Pada tingkatan yang lebih tinggi yaitu Madrasah
Aliyah swasta sebesar 4.754 atau 88,1% sisanya adalah Madrasah Aliyah negeri yang
berjumlah 644 atau 11,9% jumlah Madrasah Aliyah sebesar 5.3986. Seperti yang
diungkapkan Mendiknas “Disini kata-katanya memberikan bantuan, artinya pemerintah
wajib memberikan bantuan, lebih tegas lagi, bukan dapat memberikan bantuan, seperti
bunyi ayat dalam UU Sisdiknas. Namanya bantuan tentu tidak total seperti negeri, kalau
total lebih baik dinegerikan saja, kata Menteri”7.

Perkataan Mendiknas, di atas semakin menyudutkan posisi madrasah pasca


diundangkannya BHP, disatu sisi tidak boleh memungut biaya dari masyarakat terlalu
besar disisi lainnya pemerintah dalam membantu madrasah khususnya swasta masih
setengah-tengah. Padahal secara umum pendidikan Islam (madrasah) masih dihadapkan
pada empat permasalahan pokok sebagai berikut: fasilitas (prasarana dan sarana), guru,
mulai lunturnya jati diri serta mutu pendidikan.
Pendidikan Islam (Madrasah) yang sebagaian besar berstatus swasta memiliki masalah
yang sangat klasik yaitu minimnya prasarana dan sarana pendidikan. Hal ini dapat diamati
dari gedung madrasah yang kurang mendukung bagi kegiatan belajar mengajar, ruang
laboratorium (bahasa, ilmu pengetahuan alam, komputer) yang kurang memadai, sarana
bermain dan olah raga bagi siswa yang sangat sempit (kalau boleh dikatakan tidak punya),
ruang perpustakaan (itu pun kalau hanya ada sisa ruangan) dan buku yang dimilikinya
hanyalah buku pelajaran yang sudah usang dan tidak lagi mengikuti perkembangan
zaman, fasilitas pembelajarnnya pun masih sangat tertinggal bahkan kalau boleh dikata
tradisional (memang ada yang sudah baik tapi tidak banyak). Hal ini tentu tidak bisa
dilepaskan dari minimnya dana yang dimiliki oleh madrasah yang rata-rata siswanya
berasal dari menengah kebawah untuk meningkatkan prasarana dan sarana. Lembaga
pendidikan semacam ini boleh dikatakan laya mutu wa la yahya.

Permasalahan yang tidak kalah peliknya adalah kualitas guru yang dimiliki
Departemen Agama yang belum memenuhi standar, indikator yang dapat dilihat masih
banyaknya guru yang tidak mengajar pada bidang yang dikuasainya, serta guru
6 Lihat Buku Saku Depag, diunduh dari www.depag.go.id pada tanggal 5 Mei 2009
7 www. Kompas. Com. Diunduh tanggal 23 juni 2009

11
berdasarkan status PNS dan non PNS menurut depag masih banyak yang non PNS, dari
221.051 guru MI hanya 17,3% yang berstatus PNS dan 82,7 berstatus non PNS, begitu
juga MTs dari 242.175 hanya PNS 15,1% serta sisanya 84,9 berstatus non PNS, pada
tingkat MA dari 112.410 yang berstatus PNS 17,8% dan sisanya 82,2% non PNS8.

Dengan permasalahan madrasah yang kebanyakan berstatus swasta, dengan tidak


diperbolehkan memungut dana dari masyarakat lebih dari 1/3, sedangkan kebanyakan dari
siswa dan orang tua golongan menengah kebawah tentu hal ini akan membuat madrasah
kesulitan untuk menarik dana sumbangan dari wali murid, tentu dalam hal ini madrasah
kesulitan untuk menutupi biaya yang dibutuhkan, sedangkan bantuan dari pemerintah
terhadap BHPM tidak ada kejelasannya seberapa besar. Ketika hal ini terjadi bukan tidak
mungkin banyak madrasah yang akan gulung tikar dan akan menimulkan implikasi yang
sangat besar mulai social, ekonomi serta politik.

Permasalahan lain diterapkan BHP bagi madrasah adalah berkaitan dengan


akuntabilitas keuangan, dimana ada keharusan pengelola pendidikan untuk melaporkan
keuangan mulai dari Madrasah Ibtidaiyah Sampai Madrasah Aliyah diaudit oleh akuntan
public atau tim audit independen9, Tentu menimbulkan masalah baru bagi madrasah yang
kebanyakan swasta “gurem”, karena audit memakan biaya yang sangat mahal dan akan
membebani madrasah serta kemungkin sulit untuk dilaksanakan.
3. Komersialisasi dan Mahalnya Madrasah Pasca BHP Benarkah?
Sejak kemunculan RUU BHP diwarnai dengan kecemasan dan kegelisahan oleh
berbagai pihak, karena undang-undang ini akan menghilangkan peran pemerintah, sebagai
penyelenggara pendidikan, seperti amanat undang-undang dasar 45. Disamping itu pada
saat sekarang pemerintah mengalami kesulitan dalam pembiayaan terutama bidang
pendidikan dan yang lainnya. Sehingga permasalahan inilah yang membuat banyak pihak
merasa pendidikan akan sulit diakses oleh masyarakat miskin.

Persoalan yang paling dikhawatirkan oleh banyak pihak adalah privatisasi pada dunia
pendidikan, karena pendidikan akan dimiliki atau dijual kepada masyarakat, dengan
terjadinya hali ini maka perguruan tinggi ataupun sekolah akan menjadi komoditas

8 www.depag.go.id
9 www.jawapos.com. diunduh pada tanggal 24 Mei 2009
perusahaan, dimana yang ada hanya untuk mencari keuntungan semata tanpa
memperhatikan keadaan kaum tertindas. Maka akan terjadi orang yang berduit akan dapat
mengeyam pendidikan berpapun mereka hurus bayar, tinggal merogoh kantong, serta
pendidikan hanya dan harus menjadikan mereka tetap menjadi penguasa, dan terus
menjadi konglomerat. Sedang keadaan sebaliknya pendidikan haram bagi orang miskin
dan mereka harus terpakasa menjadi orang minskin dan yang dikuasai, mereka hanya
pantas menjadi pembantu.

Namun semenjak disahkannya RUU BHP menjadi UU BHP tidak banyak masyarakat
yang memprotesnya, mungkin karena mereka telah melihat banyak perubahan dan mereka
telah mencermati apa yang ada pada uu tersebut, kalau kita menengok kebelakang
pendidikan sebelum diterapkannya UU BHP dunia pendidikan sudah sangat mahal
terutama swasta. Dengan diundangkan bhp sebetulnya peran pemerintah masih sangat
pokok dalam menyelenggarakan proses pendidikan mulai dari pendidikan tinggi sampai
sekolah dasar.

Hal ini dapat dicermati pada pasal 41 dimana pemeritah menanggun untuk BHPP dan
BHPD khusus untuk pendidikan dasar menanggung seluruh biaya pendidikan mulai
operasional ,investasi10 dan lian sebagainya. Sedangkan untuk BHPP dan BHPD untuk
pendididikan menengah pemerintah menaggung 1/3 dari biaya operasional11 dan biaya
yang linnya. Dan untuk BHPP pemerintah menanggung ½ dari biaya operasional. Dengan
demikian masyarakat tidak akan terbebani biaya pendidikan yang tinggi, seperti yang
diungkapkan oleh Dikti “masyarakat dapat menikmati pendidikan yang layak tanpa
membayar dengan biaya tinggi”12. Sehingga tidak terjadi komersialisasi dan privatisasi
pendidikan, karena seluruh laba yang diperoleh oleh bhp dikembalikan kepada lembaga
pendidikan, tidak boleh dibagikan kepada yayasan atau orang lain (pasal 38).

Kemungkinan pendidikan mahal dan komersial serta hanya diperuntukkan bagi orang
kaya juga tidak akan terjadi. Khusus bagi keluarga miskin dengan diterapkan BHP bagi
sekolah menengah dan perguruan tinggi menjadi sedikit melegakan. Sebab, UU BHP
mewajibkan semua lembaga pendidikan menyisihkan kursi/jatahnya 20 persen dari semua
10 Biaya investasi meliputi lahan pendidikan dan selain lahan pendidikan
11 Biaya operasional adalah biaya personalia dan non personalia
12 www.media Indonesia.com

13
keseluruhan peserta didik yang baru. Disamping itu lembaga pendidikan harus
menyediakan biasiswa, kredit pendidikan, pekerjaan, sehingga proses pendidikan tidak
hanya dinikmati oleh mereka yang kaya.

Ajaran islam dalam UU BHP mendapatkan pengakuan secara eksplisit (pasal 45).
Masyarakat dapat memberikan bantuan biaya pendidikan berupa wakaf, zakat, nazar, hal
ini termuat dalam surat at-taubah yat 60 disebutkan 8 asnaf penerima zakat, disini penulis
hanya menyebutkan beberapa, dalam dunia modern saat ini budak sudah tidak ada
alangkah baiknya dana tersebut digunakan untuk membiaya pendidikan masyarakat islam
yang tidak dapat melanjutkan pendidikan, serta nazar yang selama ini banyak masyarakat
muslim tidak memberikan untuk pendidikan dapat dialihkan kedunia pendidikan. Dengan
kesadaran masyarakat seperti itu maka pendidikan islam akan menjadi bagus. Lembaga
pendidikan hanya diperbolehkan untuk menarik biaya dari masyarakat 1/3 untuk biaya
operasional, itupun sesuai dengan kemampuan para orang tua murid. Sehingga peserta
didik tidakakan terbebani biaya pendidikan yang tinggi. Jadi mahal dan komersialisasi
pendidikan dengan diterapkannya undang-undang badan hukum pendidikan dengan uraian
diatas akan dapat diminimalisir.

D. Penutup
UU BHP lahir merupakan amanat dari undang-undang Sisdiknas khususnya pasal 53,
dimana di dalamnya untuk membentuk undang-undang Badan Hukum Pendidikan. Di
samping itu BHP ingin memberikan kebebasan dan otonomi pada satuan pendidikan
sehingga pengelolaannya lebih transparan dan akuntabel.
BHP akan dapat meminimalisir diskriminasi antara pendidikan di bawah Diknas maupun
non Diknas, baik itu pendidikan negeri atau swasta. BHP memberikan keleluasaan kepada
sekolah swasta untuk mengelola lembaga pendidikannya lebih baik karena tidak dicampuri
oleh pengurus yayasan yang kadang-kadan menjadi penghambat kemajuan madrasah. Dilain
hal masyarakat akan mengetahui penggunaan dana madrasah, karena harus diaudit dan
ldilaporkan secara taransparan. Namun disisi lain kebjikan ini memiliki kekurangnan dengan
dihilangkannya peran yayasan akan memberikan damapak lembaga pendidikan ada
kemungkinan dimasuki orang lain yang kan merubah visi dan misi madrasah tersebut.
Pemerintah nampaknya masih setengah hati untuk menghilangkan diskriminasi terhadap
madrasah swasta dengan tidak memberikan kejelasan seberapa besar kewajiban pemerintah
membantu bhpm dalam hal operasionalnya dll, sedang disisi lain madrasah tidak boleh
menarik biaya pendidikan yang lebih dari 1/3 dari masyarakat.
Namun anehnya BHP lagi-lagi lebih memperhatikan kesejahteraan guru PNS, dimana
disebutkan mereka akan mendapatkan penghasilan dari pemerintah dan BHP, lalu nasib guru
swasta dalam undang-undang ini belum ada kejelasan perbaikan nasib mereka, ataukah
mereka menginduk kepada UU tenaga kerja, atau yang lainnya belum ada kejelasan. Padahal
Madrasah lebih banyak di huni oleh guru yang berstatus swasta.
Undang-undang BHP lebih memberikan kejelasan peran serta pemerintah dalam
memberikan pendidikan kepada masyarakatnya secara layak. Dalam undang-undang badan
hukum pendidikan melindungi masyarakat dari pengeluaran biaya pendidikan yang mahal,
disamping itu lebih mengakomodasi para masyarakat yang notabene dalam keadaan yang
kurang mampu. Karena badan hukum pendidikan mewajibkan memberikan ruang kepada
mereka yang kurang mampu, dengan beasiswa, pekerjaan dan lain sebagainya.
E. Rekomendasi
1. Kepada pembuat kebijakan, langkah baik jika segera membuat
peraturan turunannya sehingga lembaga pendidikan dapat
mempersiapkan diri sejak dini, sehingga mereka tidak akan
kebingungan ketika BHP ini diterapkan.
2. Pemerintah dan DPR alangkah tepatnya memberikan peraturan
kejelasan tentang peran pemerintah dalam memberikan bantuan
kepada madrasah swasta, karena madrasah nantinya tidak
dperbolahkan untuk menarik dala lebih dari 1/3 dari
masayarakat.
3. Kepala sekolah dan yayasan sudah seharusnya mulai saat ini
menyelaraskan pemikirannya untuk menghadapi undang-
undang BHP, serta madrasah mulai utuk melaporkan dari mana
dan digunakan untuk apa dana yang diperohnya secara
trasparan kepada wwarga sekolah.
4. Kepada pendidik, dalam uu ini statusnya menjadi orang yang
dipekerjakan maka sudah selayaknya meningkatkan

15
profesionalismenya dalam proses belajar-mengajar. Sehingga
akan memberikan layanan yang memuaskan kepada seluruh
pelanggan pendidikan.
5. Kepada masyarakat, seharusnya lebih peduli terhadap
pendidikan dengan membayarkan zakat dan nazarnya untuk
memajukan pendidikan khususnya islam

Daftar Pustaka
Arief Armai, Reformulasi Pendidikan Islam, Jakarta, CDRS Press, 2007.

Azra Azumardi, Pendidikan Islam “Tradisi dan Modernisasi Menuju Millennium Baru”, Jakarta,
Logos, 1999.
Hasbullah, Otonomi Pendidikan (Kebijakan Otonomi Daerah dan Implikasinya Terhadap
Penyelenggaraan Pendidikan), Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2007.
Imron Ali, “Kebijaksanaan Pendidikan Indonesia “Proses, Produk dan Masa Depannya”,
Jakarta, cet III, Bumi Aksara, 2008
Maksum, Madrasah dan Perkembangannya, Jakarta, Logos, 1999.
PP nomor 48 tahun 2008 tentang pembiayaan pendidikan
Rachman Saleh Abdul, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa (Visi, Misi dan Aksi), Jakarta,
Rajawali Press, 2004.
Tilaar HAR, Paradigma Baru Pendidikan Nasional, Jakarta, Renika Cipta, 2004
UU RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
UU RI nomor 9 tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan.
UU nomor 9 tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan
www.depag.go.id
www.diknas.go.id
www.surabaya post.com
www.republika.com
www.cyber suara mendeka.com
www.media Indonesia.com

Lampiran

Sisdiknas
Pasal 53

17
(1) Penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau
masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan.
(2) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berfungsi memberikan
pelayanan pendidikan kepada peserta didik.
(3) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berprinsip nirlaba dan dapat
mengelola dana secara mandiri untuk memajukan satuan pendidikan.
(4) Ketentuan tentang badan hukum pendidikan diatur dengan Undang-undang tersendiri.

BHP

BAB I (Ayat 11 dan 12)

11. Pemimpin organ pengelola pendidikan adalah pejabat yang memimpin pengelolaan pendidika
dengan sebutan kepala sekolah/madrasah atau sebutan lain pada pendidikan dasar dan pendidika
menengah, atau rektor untuk universitas/institut, ketua untuk sekolah tinggi, atau direktur untuk
politeknik/akademi pada pendidikan tinggi.
12. Pimpinan organ pengelola pendidikan adalah pemimpin organ pengelola pendidikan dan
semua pejabat di bawahnya yang diangkat dan/atau ditetapkan oleh pemimpin organ pengelola
pendidikan atau ditetapkan lain sesuai anggaran dasar dan/atau anggaran rumah tangga badan
hukum pendidikan.
Pasal 39

Kekayaan berupa uang, barang, atau bentuk lain yang dapat dinilai dengan uang milik badan
hukum pendidikan, dilarang dialihkan kepemilikannya secara langsung atau tidak langsung
kepada siapa pun, kecuali untuk memenuhi kewajiban yang timbul sebagai konsekuensi
pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (6).

BAB VI
PENDANAAN
Pasal 40
(1) Sumber dana untuk pendidikan formal yang diselenggarakan badan hukum pendidikan
ditetapkan berdasarkan prinsip keadilan, kecukupan, dan keberlanjutan.
(2) Pendanaan pendidikan formal yang diselenggarakan badan hukum pendidikan menjadi
tanggung jawab bersama antara Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Badan hukum pendidikan menyediakan anggaran untuk membantu peserta didik Warga
Negara Indonesia yang tidak mampu membiayai pendidikannya, dalam bentuk:
a. beasiswa;
b. bantuan biaya pendidikan;
c. kredit mahasiswa; dan/atau
d. pemberian pekerjaan kepada mahasiswa.
(4) Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya bertanggung jawab dalam
penyediaan dana pendidikan sebagaimana diatur dalam Pasal 31 ayat (4) Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
(5) Dana pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) yang disalurkan dalam bentuk hibah
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan untuk badan hukum pendidikan diterima
dan dikelola oleh pemimpin organ pengelola pendidikan.
Pasal 41
(1) Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menanggung seluruh biaya
pendidikan untuk BHPP dan BHPPD dalam
menyelenggarakan pendidikan dasar untuk biaya operasional, biaya investasi, beasiswa, dan
bantuan biaya pendidikan bagi peserta didik, berdasarkan standar pelayanan minimal untuk
mencapai Standar Nasional Pendidikan.
(2) Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat dapat memberikan bantuan sumberdaya
pendidikan kepada badan hukum pendidikan.
(3) Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menanggung seluruh biaya
investasi, beasiswa, dan bantuan biaya pendidikan pada BHPP dan BHPPD yang
menyelenggarakan pendidikan menengah berdasarkan standar pelayanan minimal untuk
mencapai Standar Nasional Pendidikan.
(4) Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menanggung paling sedikit
1/3 (sepertiga) biaya operasional pada BHPP dan BHPPD yang menyelenggarakan pendidikan

19
menengah berdasarkan standar pelayanan minimal untuk mencapai Standar Nasional Pendidikan.
(5) Pemerintah bersama-sama dengan BHPP menanggung seluruh biaya investasi, beasiswa, dan
bantuan biaya pendidikan pada BHPP yang menyelenggarakan pendidikan tinggi berdasarkan
standar pelayanan minimal untuk mencapai Standar Nasional Pendidikan.
(6) Pemerintah bersama-sama dengan BHPP menanggung paling sedikit 1/2 (seperdua) biaya
operasional, pada BHPP yang menyelenggarakan pendidikan tinggi berdasarkan standar
pelayanan minimal untuk mencapai Standar Nasional Pendidikan.
(7) Peserta didik yang ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan harus menanggung
biaya tersebut sesuai dengan kemampuan peserta didik, orang tua, atau pihak yang bertanggung
jawab membiayainya.
(8) Biaya penyelenggaraan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) yang ditanggung
oleh seluruh peserta didik dalam pendanaan pendidikan menengah berstandar pelayanan minimal
untuk mencapai Standar Nasional Pendidikan pada BHPP atau BHPPD paling banyak 1/3
(sepertiga) dari biaya operasional.
(9) Biaya penyelenggaraan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) yang ditanggung
oleh seluruh peserta didik dalam pendanaan pendidikan tinggi berstandar pelayanan minimal
untuk mencapai Standar Nasional Pendidikan pada BHPP paling banyak 1/3 (sepertiga) dari
biaya operasional.
(10) Dana pendidikan dari Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya
pada badan hukum pendidikan diberikan dalam bentuk hibah sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangundangan.
Pasal 42
(1) Badan hukum pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi dapat melakukan
investasi dalam bentuk portofolio.
(2) Investasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dalam
Pasal 37 ayat (6) huruf d.
(3) Investasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) danayat (2) dan investasi tambahan setiap
tahunnya tidak melampaui 10% (sepuluh persen) dari volume pendapatan dalam anggaran
tahunan badan hukum pendidikan.
(4) Investasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan atas dasar prinsip kehati-hatian
untuk membatasi risiko yang ditanggung badan hukum pendidikan.
(5) Investasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelola dan dibukukan secara profesional
oleh pimpinan organ pengelola pendidikan, terpisah dari pengelolaan kekayaan dan pendapatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (1) sampai dengan ayat (4).
(6) Seluruh keuntungan dari investasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan sesuai
dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (6).
(7) Perusahaan yang dikuasai badan hukum pendidikan melalui investasi portofolio sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dapat dimanfaatkan untuk sarana peserta didik.

21