Anda di halaman 1dari 8

KELARUTAN TIMBAL BALIK SISTEM BINER FENOL-AIR Dian Mustikasari, Agnes Ikawati Lab.

Kimia Fisika Jurusan Kimia Universitas Negeri Semarang Gedung D8 Lt.2 Sekaran Gunungpati Semarang, Indonesia mustikadian94@gmail.com, 085712399023 Abstrak Kelarutan timbal balik sistem biner fenol-air bertujuan untuk menentukan titik kritis atau temperature kritis pada campuran zat cair-cair pada fenol-air. Untuk mengetahui hubungan antara keduanya digunakan massa fenol yang tetap dan variabel ubah yaitu volum air akuades yang ditambahkan pada larutan sehingga akan memengaruhi fraksi massa fenol yang semakin berkurang dan fraksi massa air yang meningkat. Volum air awal yang ditambahkan pada padatan fenol 5,1754 gram yaitu 3 ml. larutan fenol yang keruh kemudian dipanaskan hingg warnanya berubah menjadi bening, dicatat sebagi T1. Kemudian didinginkan pada temepratur kamar hingga keruh kembali, dicatat sebagai T2. Percobaan dilakukan secara berulang dengan variasi penambahan air dilakukan mulai 0,2; 0,7; 1,0; 1,1; 1,2; 1,4; 1,6; 2,5; 4; 7,5 dan 10 ml. Maka akan didapatkan kurva b=parabola sesuait teori dengan temperature rata-rata (T) sebagai sumbu y dan fraksi massa fenol sebagai sumbu x. temepratur kritis yang didapatkan yaitu pada 650C dengan fraksi massa fenol 33.6603 %. Hasil ini sesuai dengan pendapat Remington dalam Essentials of pharmauceutics menyatakan bahwa temperatur kritis untuk kurva sistem biner fenol-air adalah 65,8oC dengan 34,5% komposisi massa fenol. Kata kunci: kelarutan biner; kelarutan fenol; temperatur kritis. Abstract Mutual solubility of phenol - water binary system aims to determine the critical point or critical temperature on the liquid - liquid mixture in the phenol - water . To determine the both relationship is used both the mass of phenol and variable volume of water which is added to a solution that will affect the decrease of the mass fraction of phenol and water mass fraction is increased . Initial volume of water is added to solid phenol 5.1754 grams is 3 ml . Phenol solution was cloudy then heated till the color changed to a clear , recorded as a T1 . Then cooled at room temperature until the solution recloudy , recorded as T2 . The experiments were performed repeatedly with variations of the addition of water was

conducted from 0.2, 0.7, 1.0, 1.1 , 1.2 , 1.4 , 1.6 , 2.5, 4 , 7.5 and 10 ml . It will get the parabolic curve suitable with the theory. Where using an average temperature ( T ) as the yaxis and the mass fraction of phenol as the x-axis. The critical temperature is obtained at 650C with a mass fraction of 33.6603 % phenol . These results are in accordance with the opinion of the Remington Essentials of pharmauceutics stated that the critical temperature curve for the binary system phenol - water is 65.8 C with a mass composition of 34.5 % phenol . Keywords : binary solubility ; critical temperature; solubility of phenol. Pendahuluan Dalam kehidupan sehari-hari, sering dijumpai larutan yang tidak hanya terdiri dari satu fase namun dua fase. Tipe pasangan yang terdiri dari dua fase ini dikenal dengan nama sistem biner. Pasangan cai-cair yang tergolong dalam sistem biner terdiri dari tiga macam. Pertama adalah pasangan yang dapat saling melarutkan satu sama lain secara sempurna dalam semua komposisi, contohnya alkohol dan air, glicerin dan air, alkohol dan gliserin. Kedua adalah pasangan yang dapat melarutkan satu sama lain dalam komposisi tertentu, contohnya fenol dan air, eter dan air, nikotin dan air. Sedangkan yang ketiga adalah pasangan yang tidak dapat melarutkan satu sama lain dalam sembarang komposisi, contohnya minyak dan air, petroleum cair dan air. (Remington, 1961). Kelarutan timbal balik adalah kelarutan dari suatu larutan yang bercampur sebagian bila temperaturnya di bawah temperatur kritis (belum bercampur secara sempurna). Jika telah mencapai temperatur kritis, maka larutan tersebut dapat bercampur sempurna, namun jika temperaturnya telah melewati temperatur kritis maka sistem larutan tersebut akan kembali dalam kondisi bercampur sebagian lagi. Kelarutan fenol dalam air merupakan salah satu contoh kelarutan timbal balik. (Sukardjo, 2003) Pada temperatur konstan, komposisi dari kedua lapisan tersebut tidak berubah begitu juga kedua fase dalam larutan tersebut yang tidak berubah. Ketika suhu dinaikkan, kelarutan timbal balik dari kedua larutan tersebut juga naik, sampai pada temperatur tententu kedua larutan tersebut akan saling melarutkan satu sama lain secara sempurna. Temperatur tersebut dikenal sebagai mutual solubility temperatur (MST).(Negi dan Anand, 2004).

Pada percobaan ini diharapkan dapat memahami lebih pada kesetimbangan komponen zat cair-cair yaitu pada larutan biner fenol-air yang mana kelarutan kedua cairan akan menunjukkan suatu timbal balik pada temperatur dan tekanan tertentu. Temperatur kritis adalah batas atas temperatur dimana terjadi pemisahan fase. Diatas temperatur batas atas, kedua komponen benar-benar bercampur.Temperatur ini ada gerakan termal yang lebih besar menghasilkan kemampuan campur yang lebih besar pada kedua komponen, (Atkins PW, 1999). Remington dalam Essentials of pharmauceutics menyatakan bahwa temperatur kritis untuk kurva sistem biner fenol-air adalah 65,8oC dengan 34,5% komposisi massa fenol. Masalah yang berusaha dipecahkan dalam percobaan ini ada tiga yaitu: 1) bagaimana kurva komposisi sistem fenol air terhadap temperatur pada tekanan tetap, 2) bagaimana pengaruh penambahan air pada kelarutan sistem biner fenol-air dan 3) bagaimana menentukan temperatur kritis dari kelarutan timbal balik sistem biner fenol-air sedangkan tujuan dilakukannya percobaan ini adalah 1) memperoleh kurva komposisi sistem fenol air terhadap temperatur pada tekanan tetap, 2) mengetahui pengaruh penambahan air pada kelarutan sistem biner fenol-air dan 3) menentukan temperatur kritis dari kelarutan timbal balik sistem biner fenol-air. Metode Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah padatan fenol dari Merck sebanyak 5,1754 gram dan akuades. Alat yang digunakan adalah buret 25 ml, statif, spatula, pengaduk kaca, Erlenmeyer dari Pyrex 100 ml dan 600 ml, tabung reaksi Pyrex diameter 4 cm, termometer alcohol 1000C, penjepit kayu dan penangas air (waterbath), neraca analitik dan botol aquades. Padatan fenol ditimbang didalam tabung reaksi dengan neraca analitik sehingga kalibrasi dilakukan dengan tabung reaksi didapatkan sebanyak 5,1754 gram. Setelah seluruh alat telah disiapkan dan terpasang dengan baik. Atur temepratur penangas pada temperatur 900C. Padatan fenol dilarutkan pada 3 ml akuades hingga warnanya keruh. Larutan dipanaskan pada penangas air yang telah disiapkan hingga berubah menjadi bening. Temepratur larutan berubah dari keruh ke bening dicatat sebagai T1. Langkah selanjutnya dinginkan larutan pada suhu kamar hingga warnanya keruh kembali. Temperatur larutan dari bening ke keruh dicatat sebagai T2. Temperatur larutan yang didapatkan berdasarkan

rata-rata dari T1 dan T2 dicatat sebagai T. Temperatur (T) ini yang akan digunakan dalam perhitungan untuk menentukan temperatur kritis dari kelarutan timbal balik sistem biner fenol-air. Kemudian tambahkan akuades sedikit demi sedikit secara berulang. Penambahan akuades kembali pada larutan fenol yaitu dengan volume penambahan 0,2; 0,7; 1,0; 1,1; 1,2; 1,4; 1,6; 2,5; 4; 7,5 dan 10 ml kemudian diberikan perlakuan yang sama hingga mendapatkan kurva parabola. Kurva parabola didapatkan dengan mencari hubungan antara temperatur rata-rata (T) dengan persen massa fenol. Untuk menghitung persen massa fenol digunakna rumus persen massa yaitu % massa fenol = . Massa air diperoleh dari volume air

yang ditambahkan karena massa jenis air adalah 1 gram/cm3. Sedangkan persen massa air dapat diketahui setelah persen massa fenol diketahui.Dimana data tersebut akan didapatkan titik puncak suatu temperatur kritis kelarutan sistem biner fenol-air dengan temperatur sebagai sumbu y dan persen massa fenol sebagai sumbu x.

Hasil dan pembahasan Pada percobaan kelarutan sistem biner fenol-air dilakukan dengan volume yang divariasikan. Penambahan akuades ditambahkan sebelum larutan dipanaskan hingga larutan menjadi keruh terlebih dahulu. Komposisi fenol dan air dalam setiap penambahan akuades sebelum dan sesudah pemanasan dapat dilihat pada tabel 1 dan tabel 2. Tabel 1. Komposisi fenol dan air sebelum pemanasan Massa Fenol (g) 5,1754 3 Akuades (ml) Pengamatan Keruh 52 T1 0C 45 T2 0C T 0C 48,5

Sebelum pemanasan menggunakan akuades sebanyak 3 ml hingga larutan menjadi keruh. Penambahan akuades menyebabkan larutan membentuk campuranyang heterogen (dua fasa) kemudian dipanaskan sehingga menjadi larutan homogeny pada temperatur 52 0C dan keruh kembali pada temepratur 45 0C. Tabel 2. Komposisi fenol dan air setelah pemanasan

No

Penambahan Massa (g) Akuades Air Fenol (ml) 1. 0,2 2. 0,7 3. 1,0 4. 1,1 5. 1,2 6. 1,4 7. 1,6 8. 2,5 9. 4 10. 7,5 11. 10 3,2 3,9 4,9 6,0 7,2 8,6 10,2 12,7 16,7 24,2 34,2 5,1754 5,1754 5,1754 5,1754 5,1754 5,1754 5,1754 5,1754 5,1754 5,1754 5,1754

Temperatur 0C T1 55 58 59 61 63 65 67 65 61 59 51 T2 46 50 53 54 59 60 63 59 57 54 47 T 50,5 54 56 57,5 61 62,5 65 62 59 56,5 49

% Massa Air 38.2071 42.9733 48.6333 53.6894 58.1799 62.4301 66.3397 71.0474 76.3415 82.3819 86.8563 Fenol 61.7929 57.0267 51.3667 46.3106 41.8201 37.5699 33.6603 28.9526 23.6585 17.6181 13.1437

Dari data dalam tabel 2. Dapat dilihat bahwa variasi volum pada penambahan akuades dilkukan sedikit demi sedikit kemudian semakin lama semakin banyak. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan kurva parabola sehingga temperatur kritis dapat diketahui. Penambahan volum air yang semakin banyak sementara massa fenol tetap menyebabkan persen massa fenol semakin berkurang sedangkan persen massa air semakin meningkat sehingga penambahan air pada larutan fenol dari keruh menjadi bening menghasilkan temperature yang berbeda pada setiap titiknya. Kelarutan timbal balik ini dapat terlihat pada penambahan akuades menyebabkan kelarutan fenol semakin berkurang sehingga larutan menjadi jenuh (keruh) dan ketika temperatur dinaikkan menyebabkan kelarutannya meningkat sehinnga berubah menjadi bening. Titik kritis atau temperatur kritis diperoleh setelah menghubungkan antara temperature dengan persen massa fenol yang dapat dilihat pada gambar 1.

Temperatur
70 60 50 40 Series 1 30 20 10 0 Column1 Column2

Fraksi Massa Fenol

Gambar 1. Kurva hubungan antara temperature dengan fraksi massa fenol Setelah dihubungkan pada dalam koordinat temperature sebagai sumbu y dan fraksi massa fenol sebagai sumbu x didapatkan suatu kurva parabola dengan titik puncaknya yaitu pada temperatur 650C dengan fraksi massa fenol 33.6603 %. Titik kritis ini merupakan temepratur kritis campuran zat cair-cair pada fenol-air dimana terjadi pemisahan fase. Daerah dibawah kurva yaitu daerah dua fase yaitu pada kondisi keruh sedangkan daerah diatas kurva merupakan daerha satu fase yaitu ketika larutan berwarna bening. Temperatur kritis yang didapatkan sesuai dengan teori dengan teori dari Remington dalam Essentials of pharmauceutics yang menyatakan bahwa temperatur kritis untuk kurva sistem biner fenolair adalah 66,8oC dengan 34,5% komposisi massa fenol. Meskipun hasil yang didapat pada percobaan ini sesuai dengan teori. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dimana percobaan ini seharusnya dilakukan pada temperature yang dapat dikendalikan karena temperature pada penangas air (waterbath) tidak bisa dijaga kekonsitensiannya sehingga prosedur penambahan temepratur pada larutan ketika keruh diabaikan. Kesimpulan Simpulan yang diperoleh dari percobaan kelarutan timbal balik sistem biner fenolair yaitu 1) meningkatnya penambahan volum air pada larutan fenol menyebabkan

berkurangnya fraksi massa fenol dan meningkatnya fraksi massa air, 2) grafik yang diperoleh pada percobaan ini membentuk kurva parabola dengan temperature kritis sebagai titik puncaknya dimana temperature sebagi sumbu y dan fraksi massa fenol sebagai sumbu x dan 3) temperatur kritis pada percobaan didapatkan pada 65 0C dengan fraksi massa fenol 33.6603 %.

Daftar Pustaka Joseph P, Remington. 1961. Essentials of pharmaceutics. Philadhelpia : Philadelphia College of Pharmacy Negi, A. S. dan S. C. Anand. 2004. A Textbook of Physical Chemistry. India : Taj press P.W Atkins . 1999. Kimia Fisika. Jakarta : Erlangga Sukardjo. 2003. Dasar-Dasar Kimia Fisika. Jogjakarta : Universitas Gajah Mada

Lampiran Komposisi campuran fenol dan air dalam % (w/w) pada suhu kritis larutannya? Yaitu pada temepratur pada 65 0C

Massa fenol

= 5,1754 g

Fraksi mol fenol =

Massa air

= 10,2 g

Fraksi mol air

= 0,9116

Komposisi campuran dalam % Fenol:

Air: