Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM KULTUR JARINGAN

INISIASI, SUBKULTUR DAN AKLIMATISASI

Diajukkan kepada: Dosen : Ayuni A., S.Si Asisten : Hilda Dewi dan Rezza Martha N

Oleh : DYNA KHOLIDAZIAH NIM : 1210702018 BIOLOGI VA

Tanggal Praktikum : 07 Desember 2012 Tanggal Pengumpulan : 14 Desember 2012

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2012

INISIASI, SUBKULTUR DAN AKLIMATISASI

Waktu Tanggal praktikum Tempat

: 08.00 WIB - selesai : 07 Desember 2012 : Di Laboratorium Kultur di Balai Pengembangan Benih Hortikultura (BPBH) Pasir Banteng

I.

PENDAHULUAN a. Tujuan Untuk mengetahui cara-cara menginisiasi tanaman Untuk mengetahui cara-cara dan mahasiswa mampu mensubkultur tanaman Untuk mengetahui tahapan dan mampu mengaklimatisasi

b. Tinjauan Pustaka Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan pada tanaman adalah bagian tunas. Dalam tahap ini juga diharapkan bahwa eksplan yang dikulturkan akan menginisiasi pertumbuhan baru, sehingga akan memungkinkan dilakukannya pemilihan bagian tanaman yang tumbuhnya paling kuat, untuk perbanyakan (multiplikasi) pada kultur tahap selanjutnya (Wetherell, 1976). Inisiasi adalah tahap pengambilan eksplan dari tanaman induk yang akan diperbanyak secara kultur jaringan. Sebelum melakukan inisiasi sebaiknya terlebih dahulu melakukan sterilisasi. Tujuan utama tahap ini adalah mengusahakan kultur yang aseptic atau aksenik. Aseptik berarti bebas dari mikroorganisme, sedangkan aksenik berarti bebas dari mikroorganisme yang tidak diinginkan. Inisiasi merupakan upaya penumbuhan meristem atau bagian

tanaman agar tumbuh dalam botol yang steril atau bebas dari hama dan penyakit atau tahap pengambilan eksplan dari tanaman induk (Torres, 1989). Sub-kultur adalah suatu usaha untuk mengganti media kultur jaringan dengan media yang baru, sehingga kebutuhan nutrisi untuk kalus atau protokormus dapat terpenuhi. Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar

flow untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. Proses penggandaan tanaman dimana tanaman dipotongpotong pada bagian tertentu menjadi ukuran yang lebih kecil kemudian ditanam kembali ke media agar yang telah disiapkan. Proses ini dilakukan secara berulang setiap tanggal waktu tertentu. Pada setiap siklusnya tanaman dipotong dan menghasilkan perbanyakan dengan tingkat RM (Rate Of Multiplication) tertentu yang berbeda-beda untuk setiap tanaman. Kemampuan multiplikasi akan meningkat apabila biakan di subkultur berulang kali. Namun perlu diperhatikan, walaupun subkultur dapat meningkatkan faktor multiplikasi dapat juga meningkatkan terjadinya mutasi. Untuk itu, biakan perlu diistirahatkan pada media MS0, yaitu tanpa zat pengatur tumbuh. Biasanya pada jarak sebelum dilakukan induksi akar planlet di pindahkan dalam media MS guna penetralan dari zpt yang sebelumnya diberikan. (Sriyanti dkk, 2004). Eksplan adalah organ penting atau sepotong jaringan dari tanaman yang digunakan dalam kultur jaringan. Eksplan yang baik adalah bagian jaringan yang belum banyak mengalami perubahan bentuk dan kekhusuan fungsi, atau dipilih bagian-bagian yang Bersifat meristematik. Tanaman yang akan di jadikan ekplan sebaiknya diisolasi terlebih dahulu didalam green house dengan perawatan khusus yaitu : melakukan pengendalian hama secara intensif, perlakuan dengan temperatur tertentu, perlakuan dengan pemupukan dan memberikan zpt. Ada tiga hal penting yang mempengaruhi respon eksplan yaitu: kemampuan regenerasi, tingkat fisiologi, kesehatan dari eksplan (Wetherell, 1976). Aklimatisasi merupakan kegiatan akhir teknik kultur jaringan. Aklimatisasi adalah proses pemindahan planlet dari lingkungan yang terkontrol (aseptik dan heterotrof) ke kondisi lingkungan tidak terkendali, baik suhu, cahaya, dan kelembaban, serta tanaman harus dapat hidup dalam kondisi autotrof, sehingga jika tanaman (planlet) tidak diaklimatisasi terlebih dahulu tanaman (planlet) tersebut tidak akan dapat bertahan dikondisi lapang. Aklimatisasi dilakukan untuk mengadaptasikan tanaman hasil kultur jaringan terhadap lingkungan baru sebelum ditanam dan dijadikan tanaman induk untuk produksi dan untuk mengetahui kemampuan adaptasi tanaman dalam lingkungan tumbuh yang kurang aseptik.

Aklimatisasi adalah suatu proses dimana suatu tanaman beradaptasi sengan perubahan lingkungan (Torres, 1989). Pada tahap ini (aklimatisasi) diperlukan ketelitian karena tahap ini merupakan tahap kritis dan seringkali menyebabkan kematian planlet. Kondisi mikro planlet ketika dalam botol kultur adalah dengan kelembaban 90-100 %. Beberapa sumber menuliskan penjelasan yang berkaitan dengan hal tersebut.Bibit yang ditumbuhkan secara in vitro mempunyai kutikula yang tipis dan jaringan pembuluh yang belum sempurna (Wetherell, 1982). II. METODE a. Alat dan Bahan 1. Inisiasi Alat Keterangan Bahan Mata tunas 1. Pisang raja sereh Pisau Gunting Botol jam Karet Saringan Spatula 3buah 3buah 6 botol jam Secukupnya 2 buah 1 buah 2. Anggrek Sunlight Aquades steril Air kran Bacterisida Fungisida Clorax 5%, 7%, 10% Alkohol 96% Alumunium foil secukupnya Keterangan

2. Subkultur Alat Pinset kecil steril Pinset besar steril Gunting steril Pisau atau tangkai pisau steril Bunsen Botol jam Cawan petril steril Botol kutur isi media 3. Aklimatisasi Alat Spatula Wadah isi sekam gunting Keterangan 2 buah 1 buah 2 buah Bahan Tanaman krisan Bakkteriosida Fungisida Aquades Keterangan 2-3 botol kultur Secukupnya Secukupnya secukupnya Keterangan 3 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 5 buah 3 buah 2 buah Aquades steril Alkohol 96% Kertas saring Alkohol 70% Secukupnya Bahan Keterangan

b. Prosedur Kerja 1. Inisiasi


pengambilan tunas pisang dan anggrek. dengan sekali potongan letakkan pada wadah (bptpl jam) yang berbeda tiap tunas tanaman sterilkan tunas bersihkan tunas-teunas dengan menggunakan sabun dan spon teteskan secukupnya pada botol jam yang telah diisi air dan tunas kocok perlahan 15 menit setelah 15 menit air sabun buang dan direndam dengan bakteriosida dan fungisida bersihkan (sterilkan kembali dengan menggunakan clorax 10%,7%,dan 5%) eksplan dipotong bagian mata tunasnya mata tunas ditanam di media kultur

2. Subkultur krisan atau eksplan yang telah disterilkan disiapkan

sterilkan alat-alat dilaminar air flow

potong explan tepat pada bagian mata tunas dan krisan bagian pucuknya kurang lebih 2-4 cm

tanam di medi kultur dengn menggunkan pinset panjang.

3. Aklimatisasi
Keluarkan tanaman ke dalam bak plastik yang berisi air bersih dengan menggunakan pipet/kawat dari botol yang telah diisi air sedikit untuk memudahkan pengambilan

Bersihkan tanaman dari sisa-sisa agar-agar yang menempel dan daun/akar yang layu (2 kali pembersihan)

Rendam dalam bakterisida+fungisida dengan dosis 1-2 gr per liter selama 10 menit

Kering anginkan diatas kertas koran. Tanam dalam media aklimatisasi yang telah steril, kemudian simpan di rumah lindung

Periksa tiap hari penyiraman jangan berlebihan/menggunakan sprayer.

Setelah satu minggu dapat dilakukan pemeliharaan secara konvensional

III.

HASIL Pengamatan inisiasi dan subkultur Foto


Akar

Keterngan
anggrek yang masih muda dan baik digunakan dikultur akar. untuk

Foto

Keterangan

Pengmbilan

tunas

Pengmbilan tanaman

tunas batang

tanaman anggrek yang didalamnya terdapat

pisang raja sere yang didalamnya terdapat mata dapat eksplan tunas yang

mata tunas yang dapat dijadikan eksplan

dijadikan

Tunas tanaman anggrek yang telah dipotong dan siap untuk diinisiasi

Mata tunas pisang raja sere yang telah dipotong dan siap untuk diinisiasi

Sterilisasi luar tunas dengan menggunakan sabun.

Sterilisasi dengan pemberian bakteriosida serta fungisida

Sterilisasi alat-alat subkultur didalam laminar

Proses inisiasi (pengmbilan mata tunas/pemotongan mata tunas) di ruang tanam pada laminar

Mata tunas uang telah dipotong dan steril ini di celupkan pada alkohol dan aquades untuk meghindari kontaminasi ulang.

Penanaman mata tunas pada media kultur yang telah dibuat (proses subkultur).

Pengamatan Aklimatisasi Foto pengamatan Keterangan Krisan pada media kultur itu dikeluarkan perlahan untuk diaklimatisasi Foto pengamatan Keterangan Krisan yang telah dikeluarkan dimasukkan pada wadah yang isi air bersih untuk dibershkan dari media-media

Masukkan serbuk fungisida dan bakteriosida secukupnya krisan

Krisan yang telah bersih dari media yang nempel di bagian akarnya dimasukkan pada wadah isi larutan

bakteriosidadan fungisida Krisan Krisan-krisan diaklimatisasi yang telah

yang siap untuk di aklimatisasi

IV.

PEMBAHASAN Praktikum yang dilakukan praktikum kali ini yaitu inisiasi subkultur serta

aklimatisasi. Praktikan melakukan praktikum ini di Balai Pengembangan Benih Hortikultura (BPBH) Pasir Banteng. Tujuan dari praktimum kali ini yaitu mengetahui cara menentukan tanaman yang akan diinisiasi, dan mengetahui cara

mensubkultur tanaman ke media kultur, serta untuk mengetahui cara mengaklimatisasi tanaman dari media kultur ke media tanah. Tahap awal yang dilakukan oleh praktikan ini yaitu memilih tanaman yang akan diambil mata tunasnya. Mata tunas yang akan digunakan untuk dijasdikan explac ini yaitu tanaman pisan raja sereh dan anggrek. Mengapa mata tunas yangdigunakan ini yaitu dari tanman anggrek dan pisang? Karena pada dasarnya tanaman yang dominan di daerah laboratorium ini yaitu tanaman anggrek, dan pengambilan mata tunas dan proses inisiasi yang lebih mudah. Proses inisiasi ini harus cermat, cepat, dan aseptik. Begitu pula pada proses subkultur. Hal ini bertujaun untuk tidak terjadinya kontaminasi pada media. Tahap selanjutnya itu yanit mensterilkan tunas-tunasnya. Dimna proses sterilisai pada eksplan ini ada dua yaitu steril luar dan steril dalam. Maksudnya yiatu steril luar. Penyeterilan tunas-tuanas di luarruang tanam dan hanya menggunakan sabun kemudian dibersihkan dengn air lalu direndam dengan bakteriosida dan fungisida masing-masing perendaman ini dilakukan selama 15 menit. Selanjutnya penyeterilan didalam ruang tanam dengan tunas-tunas tersebut di rendam dengan menggunakan clorax mulai dari 10%, 7% dan terakhir 5%. Setelah itu direndam dengan mengunakan aquades selam kurang lebih 5 menit. Setelah itu air dibuang. Dan inisiasi dan subkultur siap dilakukan dilaminar air flow. Setiap perlakuan atau tahapan kerja pada inisiasi dan subkultur ini semua kondisi dari mulai jaslab, tangan dan lainnya harus dalam keadaan steril.ini tujuan untuk menghindari terjadinya kontaminasi. Hasil dari praktikum ini tanaman yang disubkultur kontaminasi. Dimana pada media kultur ini terdapa jamur sehingga kultur jaringan pada tanaman ini tidak akan tumbuh. Perbanyakan krisan secara vegetatif biasanya melalui setek pucuk, anakan dan kultur jaringan. Perbanyakan krisan secara kultur jaringan dapat menghemat waktu dan dapat diperoleh jumlah bibit krisan banyak. Menurut Nugroho dan Sugito (2000) tanaman krisan dapat dikembangkan dengan kultur jaringan melalui teknik meristem culture yaitu teknik kultur jaringan dengan menggunakan bagian

tanaman jaringan muda atau meristem. Selain itu, kelebihan kultur meristem yang mampu menghasilkan bibit tanaman identik dengan induknya. Rice et al. (1992) mengatakan bahwa kultur meristem mampu meningkatkan laju induksi dan penggandaan tunas, mampu memperbaiki mutu bibit yang dihasilkan, serta mampu mempertahankan sifat-sifat morfologi yang positif. Dalam kultur jaringan sangat diperlukan zat pengatur tumbuh untuk merangsang pertumbuhan dan morfogenesis dalam kultur sel, jaringan dan organ. Zat pengatur tumbuh yang digunakan adalah auksin. Auksin yang digunakan adalah IAA dan NAA. Zat pengatur tumbuh ini diperlukan untuk pertumbuhan eksplan. Menurut Hendaryono dan Wijayanti (1994) pembentukan kalus, jaringan kuncup dan jaringan akar ditentukan oleh penggunaan zat pengatur tumbuh yang tepat baik macam maupun konsentrasinya. Krisan merupakan bunga potong yang mempunyai nilai ekonomi tinggi,sehingga prospeknya sangat baik. Krisan dapat diperbanyak secara generatif dan vegetatif. Perbanyakan bunga krisan secara generatif jarang dilakukan karena sulit dan bersifat neterozigot (keturunan dari biji tidak sama dengan induknya). Selain itu,perbanyakan secara generatif membutuhkan waktu lama dan penanganan khusus (Miyasyiwi, dkk 2010). Aklimatisasi dilakukan dengan mengeluarkan krisan-krisan atau tanamantanaman yang telah tumbuh tinggi di media kultur dengan mengeluarkan dari media tanam kemudia dibersihkan dari media-media yang nempel pada akar-akar tanaman tersebut. Setelah bersih tanman tersebut direndam dengan menggunakan fungisida dan bakteriosida. Dan tanaman tersebut siapa diaklimatisasi di tanam ditemoat yang telah disediakan.

DAFTAR PUSTAKA

Hendaryono D. S. dan Wijayanti . 2000. Pedoman Kultur Jaringan. Penebar Swadaya: Jakarta. Nugroho A dan Sugito. 2000. Pedoman Pelaksanaan Kultur Jaringan. Penebar Swadaya: Jakarta.

Sriyanti D.P. dan Wijayani A. 1994. Teknik Kultur Jaringan. Yayasan Kansius. Yogyakarta Tissue Culture Techniques for Horticultural

Torres, K. C. 1989.

Crops.Chapman and Hall. New York. London. Wetherelll, D. F. 1982. introduction to in vitro Propagation. Avery Publishing Group Inc. Wayne, New Jersey.