Anda di halaman 1dari 9

ISOTERM ADSORPSI ZAT WARNA OLEH KARBON AKTIF

A. Tujuan Percobaan 1. Menentukan model yang sesuai untuk adsorpsi zat warna oleh karbon aktif. 2. Menghitung kapasitansi adsorpsi oleh karbon aktif.

B.

Dasar Teori 1. Adsorpsi Adsorpsi adalah penyerapan suatu zat pada permukaan zat lain. Fenomena ini melibatkan interaksi fisik, kimia, dan gaya elektrostatik antara adsorbat dengan adsorben pada permukaan adsorben. Ada dua macam adsorpsi yaitu adsorpsi fisika dan adsorpsi kimia. Dalam adsorpsi fisika, molekul-molekul teradsorpsi pada permukaan dengan ikatan yang lemah (bersifat reversible, dengan cara menurunkan tekana gas atau konsentrasi zat terlarut). Sedangkan adsorpsi kimia melibatkan ikatan koordinasi sebagai hasil penggunaan elektron bersama-sama adsorben dan adsorbat (Osick,1983; Sukardjo,1990). Adsorben adalah zat yang mengadsorpsi zat lain. yang memiliki ukuran partikel seragam, kepolarannya sama dengan zat yang akan diserap dan mempunyai berat molekul besar. Adsorbat adalah zat yang teradsorpsi zat lain. Fakttor-faktor yang mempengaruhi kapasitas adsorpsi antara lain, luas permukaan adsorben, ukuran pori adsorben, kelarutan zat terlarut, pH, dan temperatur (Castellan,1982). 2. Isoterm Adsorpsi Isoterm adsorpsi adalah hubungan yang menunjukkan distribusi adsorben antara fase teradsorbsi pada permukaan adsorben dengan fase ruah kesetimbangan pada temperatur tertentu. Ada tiga jenis hubungan matematik yang umumnya digunakan untuk menjelaskan isoterm. Isoterm ini berdasarkan asumsi bahwa adsorben mempunyai permukaan yang heterogen dan tiap molekul mempunyai potensi penyerapan yang berbeda-beda. Persamaan ini merupakan persamaan yang dikemukakan oleh Freundlich. Persamaannya adalah : x/m = k C 1/n dimana: x = banyaknya zat terlarut yng teradsorpsi (mg) m = massa adsorben (mg) C = konsentrasi adsorben yang sama k,n = konstanta adsorben

Dari isoterm ini, akan diketahui kapasitas adsorben dalam menyerap air. Isoterm ini akan digunakan dalam penelitian yang akan dilakukan, karena dengan isoterm ini dapat ditentukan efisisensi dari suatu adsorben (Castellan,1982).

3. Isoterm Langmuir Isoterm ini berdasa asumsi bahwa yaitu adsorben mempunyai permukaan yang homogen, energi adsorpsi konstan di semua sisi. Semua proses adsorpsi sama rata di setiap perukaan adsorben. Setiap sisi adsorben hanya bisa menyerap satu molekul adsorbate. Persamaan Langmuir

dimana : qe = jumlahadsorbat yang teradsorbsike dalamadsorbanpadasaatkesetimbangan. Qm = kapasitas adsorben dalam mengadsorpsi KL = konstanta Langmuir Ce = konstanta adsorbat ( Do, DD, 1998)

Pada saat kesetimbangan, laju adsorpsi dan desorpsi gas adalah sama. Bila menyatakan fraksi yang ditempati oleh adsorbat dan p menyatakan tekanan gas yang teradsorpsi maka : K1=K2 (1-) Dan K1 dan K2 masing-masing tetapan laju adsorpsi dan adsorpsi jika didefinisikan : a= K1/K2

(Underwood, 2002)

4. Karbon Aktif Karbon aktif adalah bentuk umum dari berbagai macam produk yang mengandung karbon yang telah diaktifkan untuk meningkatkan luas permukaannya. Karbon aktif berbentuk kristal mikro karbon grafit yang pori-porinya telah mengalami pengembangan kemampuan untuk mengadsorpsi gas dan uap dari campuran gas dan zat-zat yang tidak larut atau yang

terdispersi dalam cairan (Murdiyanto, 2005). Luas permukaan, dimensi, dan distribusi karbon aktif bergantung pada bahan baku, pengarangan, dan proses aktivasi. Berdasarkan ukuran porinya, ukuran pori karbon aktif diklasifikasikan menjadi 3, yaitu mikropori (diameter <2 nm), mesopori (diameter 250 nm), dan makropori (diameter >50 nm) (Kustanto, 2000). Penggunaan karbon aktif di Indonesia mulai berkembang dengan pesat, yang dimulai dari pemanfaatannya sebagai adsorben untuk pemurnian pulp, air, minyak, gas, dan katalis. Namun, mutu karbon aktif domestik masih rendah, dengan demikian perlu ada peningkatan mutu karbon aktif tersebut (Harfi, 2003). 5. Zat Warna zat warna atau zat , lebih tepat digunakan istilah zat warna, tetapi dalam industri tekstil istilah cat lebih populer. Zat warna biasanya ialah persenyawaan organik yang bewarna atau campuran, yang dapaT digunakan untuk memberi warna yang cukup permanen pada bahan atau zat lain: kain, kertas, plastik, kulit, dll. Kebanyakan zat warna yang ada dalam perdagangan ialah zat-zat yang dibuat dari hidrokarbon-hidrokarbon aromatik dan bahan-bahan dari ter batu bara. Zat warna sebenarnya merupakan gabungan daripada oksochrom dengan chromogen. (Shadily, 1997 ). Klasifikasi zat warna berdasarkan sumber diperolehnya terdiri dari zat warna alam dan zat warna buatan. Zat warna yang dibuat dengan menggunakan tumbuh-tumbuhan, binatang dan mineral, sedangkan zat warna buatan adalah zat warna yang dibuat dari hasil penyulingan residu dan minyak bumi. Klasifikasi zat warna menurut pemakaiannya terbagi menjadi dua yaitu zat warna yang larut dalam air dan yang tidak larut dalam air. Zat warna yang larut dalam air diantaranya zat warna asam, zat warna basa, zat warna direk, zat warna mordan dan kompleks logam, zat warna belerang, zat warna reaktif, dan zat warna bejana. Zat warna yang tidak larut dalam air yaitu zat warna pigmen dan zat warna dispersi.(Pudjaatmaka,1999).

C.

Alat dan Bahan 1. Alat Alat alat yang digunakan pada percobaan ini antara lain ; erlenmeyer 250 mL, labu takar 250 mL, pipet volum 10 mL, batang pengaduk, shaker, gelas beker 250 mL, kuvet, corong, gelas arloji dan spektronik 2D. 2. Bahan Bahan- bahan yang digunakan pada percobaan ini antara lain ; Zat warna, karbon aktif, kertas saring dan aluminium foil.

D. Cara Kerja

1. Pembuatan Kurva Kalibrasi Dibuat terlebih dahulu larutan zat warna 10 ppm. Setelah itu, dibuat larutan standar dengan konsentrasi 0,5 ppm, 1 ppm, 2 ppm, 4 ppm, dan 8 ppm masing-masing 50 mL dengan mengencerkan larutan zat warna 10 ppm. Kemudian ditentukan absorbansinya pada panjang gelombang yang sesuai dengan zat warna. 2. Adsorpsi Isotermal Dibuat terlebih dahulu larutan zat warna 100 ppm. Dengan mengencerkan zat warna 100 ppm dibuat larutan dengan konsentrasi 5 ppm, 10 ppm, 15 ppm, 20 ppm, dan 25 ppm masingmasing 100 mL. Setelah itu, dibersihkan dan dikeringkan 5 buah erlenmeyer 250 mL, kemudian masing-masing dimasukkan 1 g karbon aktif. Selanjutnya ditambahkan 100 mL larutan zat warna dengan konsentrasi 5, 10, 15, 20 dan 25 ppm. Kemudian kelima erlenmeyer ditutup menggunakan aluminium foil dan setelah itu diaduk menggunakan shaker selama 30 menit. Larutan kemudian disaring menggunakan kertas saring untuk memisahkan karbon aktifnya. Setelah itu diukur absorbansi larutan pada panjang gelombang zat warna.

E.

Data Hasil Pengamatan 1. Kurva Kalibrasi 1.1 Tabel

konsentrasi (ppm) 0,5 1 2 4 8


1.2 Grafik

Absorbansi 0,005 0,01 0,035 0,068 0,109

2. Adsorpsi Isotermal 2.1 Tabel

Massa Karbon Aktif (g) Konsentrasi (ppm) Absorbansi 1 5 0,073 1 10 0,083 1 15 0,168 1 20 0,188 1 25 0,236
3. Isoterm Langmuir 3.1 Tabel

Co 5 10 15 20 25
3.2 Grafik

Ce 3,895 4,421 8,895 9,947 12,474

Qe 0,111 0,558 0,611 1,005 1,253

Ce/Qe 35,2381 7,924528 14,56897 9,895288 9,957983

4. Isoterm Freundlich 4.1 Tabel

Log Ce 0,590 0,646 0,949 0,998 1,096


4.2 Grafik

Log Qe -0,957 -0,253 -0,214 0,002 0,098

F.

Pembahasan Percobaan ini berjudul isoterm adsorpsi zat warna oleh karbon aktif. Tujuan dari percobaan ini yaitu untuk menentukan model yang sesuai untuk adsorpsi zat warna oleh karbon aktif dan menghitung kapasitansi adsorpsi oleh karbon aktif. Pada percobaan ini dilakukan adsorpsi pada zat warna oleh adsorben karbon aktif. Dalam percobaan juga akan ditentukan model adsorpsi yang sesuai untuk adsorpsi oleh karbon aktif. Dua model adsorpsi tersebut yaitu isotermal Freundlich dan Langmuir. Tahap awal dari percobaan ini yaitu zat warna 100 ppm diencerkan menjadi zat warna dengan konsentrasi 5, 10, 15, 20, dan 25 ppm untuk dijadikan sebangai larutan standar. Pengenceran harus dilakukan secara teliti agar konsentrasi yang sebenarnya dari larutan tidak jauh berbeda dari konsentrasi yang diinginkan. Larutan diencerkan karena semakin pekat warna dari larutan maka larutan tersebut semakin sulit ditembus cahaya. Kemudian larutan contoh tersebut dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan ditambahkan karbon aktif. Karbon aktif disini adalah sebagai penyerap warna. Adapun sifat karbon aktif yang paling penting adalah daya serap. Berikut merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi daya serap adsorbsi.

1. Sifat Serapan Adsorpsi akan bertambah besar sesuai dengan bertambahnya ukuran molekul serapan dari sturktur yang sama, seperti dalam deret homolog. Adsorbsi juga dipengaruhi oleh gugus fungsi, posisi gugus fungsi, ikatan rangkap, struktur rantai dari senyawa serapan. 2. Temperatur/ suhu Faktor yang mempengaruhi suhu proses adsoprsi adalah viskositas dan stabilitas thermal senyawa serapan. Jika pemanasan tidak mempengaruhi sifat-sifat senyawa serapan, seperti terjadi perubahan warna mau dekomposisi, maka perlakuan dilakukan pada titik didihnya. 3. pH (Derajat Keasaman) Untuk asam-asam organik, adsorpsi akan meningkat bila pH diturunkan, yaitu dengan penambahan asam-asam mineral. Ini disebabkan karena kemampuan asam mineral untuk mengurangi ionisasi asam organik tersebut. Sebaliknya bila pH asam organik dinaikkan yaitu dengan menambahkan alkali, adsorpsi akan berkurang sebagai akibat terbentuknya garam. 4. Waktu Singgung Bila karbon aktif ditambahkan dalam suatu cairan, dibutuhkan waktu untuk mencapai kesetimbangan. Waktu yang dibutuhkan berbanding terbalik dengan jumlah arang yang digunakan. Selisih ditentukan oleh dosis karbon aktif, pengadukan juga mempengaruhi waktu singgung. Selanjutnya erlenmeyer ditutup dengan alumunium foil agar tidak ada percikan larutan yang keluar pada saat pengadukan. Larutan diaduk dengan shaker agar larutan dapat menjadi homogen dengan sempurna, sehingga penyerapan warna dari larutan dengan konsentrasi berbeda memerlukan waktu yang sama. Larutan kemudian disaring untuk memisahkan larutan dari karbon aktif. Setelah itu masing-masing larutan standar diukur absorbansinya dengan spektronik. Perlakuan selanjutnya yaitu larutan warna 10 ppm diencerkan menjadi larutan standar dengan konsentrasi 0,5, 1, 2, 4, 8 ppm. Kemudian larutan standar diukur absorbansinya. Percobaan ini menggunakan spektronik dengan panjang gelombang 510 nm. Pengukuran absorbansi dilakukan dengan menggunakan kuvet sebagai tempat larutan standar untuk analisis. Kuvet harus selalu dalam keaaan bersih dan kering karena bila kuvet dalam keadaan kotor maka penyerapan sinar oleh larutan standar tidak maksimal. Sebeum larutan standar diukur absorbansinya, terlebih dahulu diukur absorbansi larutan blangko. Larutan blangko yang digunakan adalah air. Berdasarkan hasil pengukuran absorbansi zat warna setelah diadsorpsi didapatkan bahwa semakin besar konsentrasi larutan maka semakin besar pula absorbansinya. Sedangkan pada hasil kurva kalibrasi semakin besar konsentrasi semakin besar pula nilai absorbansinya. Kurva kalibrasi menggambarkan hubungan antara konsentrasi (Co) dengan absorbansi (A). Persamaan garis yang diperoleh yaitu y = 0,0141x + 0,0018 dengan R2 = 0,9733. Dari hasil persamaan

kurva kalibrasi didapatkan nilai Ce dan Qe. Hasil ini digunakan untuk membuat kurva Langmuir, yaitu hubungan antara Ce dan Ce/Qe. Persamaan garis yang dihasilkan adalah Y= 1,6676x + 28,735 dengan R2 = 0,2958. Berdasarkan persamaan garis kurva didapatkan hasil kapasitas adsorpsi (KA) yaitu 0,6 mg/g. Data yang diperoleh pada isomer langmuir digunakan untuk menggambarkan hubungan log Ce dengan log Qe atau isoterm Freundlich. Persamaan garis yang diperoleh yaitu Y = 1,5454x 1,5873 dengan R2 = 0,7023. Berdasarkan persamaan garis kurva didapatkan hasil kapasitas adsorpsi (KA) yaitu 0,0259 mg/g. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa isoterm Freundlich adalah model yang sesuai untuk adsorpsi zat warna oleh karbon aktif. Hal ini bisa dilihat dari nilai R2 yang mendekati 1. Nilai R2 pada isoterm Freundlich lebih mendekati satu meskipun hasilnya 0,7023. Dibandingkan dengan isoterm Langmuir nilai R2 = 0,2958. Sehingga isoterm Freundlich adalah model yang sesuai untuk peristiwa adsorpsi ini.

G. Kesimpulan Model adsorpsi yang sesuai untuk adsorpsi zat warna oleh karbon aktif yaitu isoterm Freundlich. Kapasitas (KA) untuk isoterm Langmuir yaitu 0,6 mg/g. Sedangkan kapasitas adsorpsi untuk isoterm Freundlich adalah 0,0259 mg/g.

H. Daftar Pustaka

Castellan, 1982. Physical Chemestry. Edisi ketiga. Addison-Wesley Publishing Company. Day, R.A. dan Underwood, A.L. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif edisi keenam. Jakarta: Erlangga. Do, D.D. 1998. Adsorption Analysis: Equilibria and kinetics. London: Imperial College Press. Harfi, 2003. Senyawa-Senyawa Organik. Jakarta : Bumi Aksara. Kustanto, 2000. Karbon Aktif dalam Kehidupan Sehari-hari. Jogjakarta : Universitas Gadjah Mada. Murdiyanto, 2005. Senyawa Karbon.Malang : Universitas Brawijaya. Osick, J.1983. Adsorption. Ellis Hardwood Ltd.Chicester.England Pudjaatmaka, Hadyana, A. 1999. Kamus Kimia. Jakarta: Balai Pustaka. Shadily, Hassan danprof. Pringgodigdo, Mr. Ag. 1973. Ensiklopedi Umum. Yogyakarta: Kanisius. Sukardjo, 1990. Kimia Anorganik. Jakarta: Rineka Cipta.

I.

Lampiran 1. Perhitungan