Anda di halaman 1dari 14

Tugas Eksipien Tablet Effervescent

Disusun Oleh: Maharani

Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2013

Tablet Efervesen
Pendahluan Efervesen didefinisikan sebagai timbulnya gelembung gas dari cairan sebagai hasil dari reaksi kimia. Tablet efervesen merupakan metode yang nyaman untuk pemberian sejumlah zat aktif atau bahan kimia yang telah diukur sebelumnya dengan disolsi yang relatif cepat. Tablet efervesen tidak ditelan sebelum disolusi. Lartan efervesen berkilau, lezat, dan menyediakan zat aktif dalam bentuk larutan dengan ketersediaan hayati yang terjamin bagi orang yang sulit menelan tablet atau kapsul biasa. Reaksi Efervesen Reaksi yang terjadi pada pelarutan effervescent adalah reaksi antara senyawa asam dan senyawa karbonat untuk menghasilkan gas karbondioksida. Reaksi ini dikehendaki terjadi secara spontan ketika effervescent dilarutkan di dalam air. Garam-garam efervesen biasanya diolah dari suatu kombinasi asam sitrat dan asam tartrat daripada hanya satu macam asam saja, karena penggunaan bahan asam tunggal saja akan menimbulkan kesukaran. Apabila asam tartrat sebagai asam tunggal, granul yang dihasilkan akan mudah kehilangan kekuatannya dan akan menggumpal. Asam sitrat saja akan menghasilkan campuran lekat dan sukar menjadi granul. Reaksinya adalah sebagai berikut :

Harus diingat bahwa dibutuhkan 3 molekul natrium bikarbonat untuk menetralisasi satu molekul asam sitrat (reaksi 1) dan 2 molekul natrium bikarbonat untuk menetralisasi satu molekul asam tartrat (reaksi 2). Dalam pengolahan suatu formula sediaan obat dalam bentuk garam efervesen, dari komponen-komponen ini seseorang dapat menentukan jumlah pereaksi yang akan digunakan.

Reaksi tersebut tidak diharapkan terjadi sebelum tablet efervesen dilarutkan, oleh karena itu perlu pengendalian kadar air bahan baku dan kelembaban lingkungan agar tetap rendah untuk mencegah penguraian dan ketidakstabilan produk. Ruang pencampuran bahan dan

pencetakan yang memiliki kelembaban maksimal 25% dan suhu maksimal 25 C merupakan kondisi yang baik untuk proses pembuatan tablet efervesen. Kelarutan yang tinggi merupakan salah satu hal yang penting dalam pembuatan tablet efervesen agar tablet dapat larut dengan cepat. Bahan Mentah Karakteristik Dalam banyak hal, prinsip yang berlaku pada produksi tablet konvensional, non efervesen, berlaku pada produksi tablet efervesen yang telah diuraikan sebelumnya dalam buku ini. Banyak dari proses dan peralatan yang digunakan untuk tablet konvensional, begitu juga sifat-sifat umum granulasi tablet yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu tablet yang memuaskan, seperti bentuk, ukuran dan keseragaman distribusi partikel untuk menghasilkan granul yang mengalir bebas yang sesuai untuk penggunaan mesin tablet rotasi kecepatan tinggi. Selain itu, granul harus kompresibel baik melalui sifat hakiki bahan mentah maupun melalui penggunaan aditif atau proses khusus untuk memberi kempa yang diinginkan. Satu sifat bahan mentah yang dipilih untuk digunakan dalam tablet efervesen yang mungkin lebih penting daripada untuk tablet konvensional adalah kandungan kelembapan. Reaksi yang paling sering digunakan untuk disintegrasi tablet dalam suatu formulasi tablet efervesen adalah antara sumber asam yang larut dan suatu logam alkali karbonat untuk menghasilkan gas karbondioksida yang bertindak sebagai disintegran tablet. Reaksi ini terjadi secara spontan apabila komponen asam dan karbonat dicampur dengan air. Reaksi juga dapat terjadi sedikit banyak dalam kehadiran sejumlah kecil air yang terikat pada atau terabsorpsi pada bahan mentah yang digunakan dalam formulasi. Reaksi yang terjadi setelah tablet dibuat dan dikemas menyebabkan produk menjadi tidak stabil secara fisik dan terurai. Setelah dimulai, reaksi akan berlangsung dengan lebih cepat karena produk sampingan dari reaksi ini adalah air. Oleh karena itu, tablet efervesen sebaiknya menggunakan bahan mentah dalam keadaan anhidrat, dengan sedikit atau tidak ada kelembapan yang diabsorbsi, atau dengan molekul air yang terikat dalam suatu hidrat yang stabil. Namun, sedikit air dibutuhkan sebagai pengikat karena granul yang sama sekali anhidrat biasanya tidak dapat mampat. Bahan mentah dapat dipilih dengan teliti untuk memberikan air yang diperlukan untuk mengikat. Kelarutan merupakan sifat lain bahan mentah yang paling penting dalam memformulasi tablet efervesen. Jika komponen tablet tidak larut, reaksi efervensen tidak akan terjadi dan tablet tidak akan terintegrasi dengan cepat. Kecepatan kelarutan mungkin bahkan lebih penting daripada kelarutan itu sendiri, karena zat yang dapat larut tapi melarut denganlambat dapat mencegah disintegrasi tablet dan meninggalkan residu yang sering tidak menyenangkan setelah tablet terdisintegrasi. Idealnya, semua komponen tablet hendaknya memiliki kecepatan melarut yang sama.

Pertimbangan berkaitan dengan kompresibilitas dan kompaktibilitas bahan mentah dalam produk efervesen sama dengan pertimbangan yang berlaku dalam mengevaluasi bahan mentah untuk tablet konvensional. Namun kompaktibilitas yang buruk dapat diimbangi dengan menggunakan pengikat, karena hal ini akan mencegah disolusi produk efervensen yang cepat. Dewasa ini, umumnya telah diketahui bahwa penggabungan (konsolidasi) serbuk dalam lubang kempa dengan gaya kempa dapat terjadi dengan dua mekanisme yaitu pemecahan (fragmentasi) dan perubahan bentuk (deformasi). Kebanyakan padatan mengamai konsolidasi dengan kombinasi dua mekanisme, walaupun proposrsi relatif terhadap dapat berbeda antarpadatan.kekutan partikel yang rapuh elastik sempurna menunjukkan tidak ada derajat ketergantungan. Akan tetapi, suatu partkel viskoelastik mungkin diharapkan mengalami perubahan bentuk (deformasi) yang tergantung waktu. Berdasarkan hal ini, semakin penting peranan deformasi dalam konsolidasi suatu padatan tertentu, semakin besar kemungkinan bahwa padatan akan menunjukkan sifat pengempaan yang tergantung waktu. 1. Sumber Asam Keasaman yang diperlukan untuk reaksi efervesen dapat diperoleh dari tiga sumber utama : asam makanan, asam anhidrat, dan garam asam. Asam makanan merupakan asam yang paling umum digunakan karena terdapat secara alami dan digunakan sebagai bahan tambahan makanan (BTM), serta semuanya dapat dimakan. a. Asam Makanan 1. Asam Sitrat Sinonim : E330, 2-hydroxypropane-1,2,3-tricarboxylic, acid monohydrate Fungsi : sumber asam, agen buffer, agen pengkhelat, dan peningkat rasa (flavour enhancer) Pemerian : Asam sitrat monohidrat tidak berwarna atau kristal tembus cahaya atau kristalin putih, serbuk efflofrescent ( granul halus). Tidak berbau dan memiliki rasa asam yang kuat. Struktur kristalnya orthormobic. Kelarutan : Larut 1 dam 1,5 bagian etanol (95%) dan 1 dalam kurang dari 1 bagian air, mudah larut dalam eter. Asam sitrat mudah larut dalam etanol. asam sitrat monohidrat mencair pada suhu 100 C. Asam ini kehilangan air pada suhu 75 C, menjadi anhidrat pada suhu 135 C dan melebur paa suhu 153 C. Pada kelembapan relatif yang lebih rendah dari 65%, asam sitrat mengembang pada suhu 25 C. Higroskopik : Asam anhidrat dibentuk pada kelembapan dibawah kirakira 40%. Pada kelembapan relatif kira-kira 65 dan 75%, asam ini

mengabsorbsi sejumlah lembap yang signifikan. Akan tetapi, diatas kelembapan relatif tersebut, sejumlah besar lembap diabsorbsi. Inkompatibilitas : Asam sitrat inkompatibel dengan kalium tartrat, alkali dan alkalin karbonat dan bikarbonat, asetat dan sulfida. Inkompatibel juga dengan agen oksidasi, basa, agen pereduksi, dan nitrat. Berpotensi terjadi ledakan pada kombinasi dengan nitrat. Pada penyimpanan, sukrosa dapat mengkristaldan sirup dengan kehadiran asam sitrat. Penyimpanan : Bahan ini sangat higroskopik sehingga harus disimpan dengan hati-hati untuk mencegah pemaparan pada daerah dengan kelembapan yang tinggi jika bahan ini dikeluarkan dari wadah aslinya dan dikemas kembali dengan tidak sesuai. Oleh karena itu asam sitrat disimpan pada wadah kedap udara, kondisi sejuk atau kering. 2. Asam Tartrat Asam tartrat digunakan dalam banyak sediaan efervesen karena banyak tersedia secara komersial. Asam tartrat lebih mudah larut daripada asam sitrat dan juga lebih higroskopis. Bahan ini memiliki kekuatan asam, seperti asam sitrat, tetapi lebih banyak digunalan untuk mencapai konsentrasi asam yang ekivalen karena asam ini diprotik sedangkan asam sitrat triprotik. Sinonim : E334, 2,3-dihydroxysuccinic acid Fungsi : Sumber asam, peningkat rasa, sesquestering agent Pemerian : Asam tartrat merupakan kristal monoklinik tidak berwarna atau serbuk kristalin putih atau hampir putih. Tidak berbau dengan rasa yang terlalu pahit. Kelarutan :

Inkompatibilitas : Asam tartrat inkompatibel dengan perak dan bereaksi dengan logam karbonat dan bikarbonat ( hal ini dimanfaatkan untuk sediaan efervesen) Higroskopis : asam tartrat mengabsorbsi sejumlah lembab yang signifikan pada kelembapan relatif sampai kira-kira 65%, tetapi pada kelembabpan relatif diatas kira-kira 75%, asam ini menjadi lembap cair (deliquescent). Asam tartrat memiliki sifat yang sama dengan sifat sitrat anhidrat.

Pembandingan pembentuk karbondioksida dari tablet efervesen yang mengandung asam sitrat anhidrat, asam askorbat, atau asam tartrat, dan natrium bikarbonat dalam perbandingan stokiometri menunjukkan bahwa

asam askorbat dan asam sitrat anhidrat mempunyai sifat yang sama. Akan tetapi, asam tartrat membentuk karbondioksida paling banyak, walaupun dengan waktu disintegrasi lebih lama. 3. Asam Malat Asam malat tersedia dalam jumlah yang cukup untuk kemungkinan penggunaan dalam sedia efervesen. Asam malat juga higroskopis dan mudah larut. Kekuatan asamnya kurang dari asam sitrat atau asam tartrat, tetapi cukup tinggi untuk memberikan efervesen apabila digabung dengan suatu sumber karbonat. Sinonim : E296, hydroxy-butanedioic acid, Apple acid Fungsi : acidulant (sumber asam), antioksidan, agen buffer dan pengkhelat, flavouring agent, agen terapetik Pemerian : asam ini mempunyai rasa halus, rasa asam yang tidak menyengat seperti rasa asam dari asam sitrat. Putih atau hampir putih, serbuk kristalin atau granul, sedikit berbau dan rasa asam yg kuat. Higroskopis. Kelarutan : Larut bebas dalam etanol (95%) dan air tapi praktis tidak larut dalam benzena. Larutan air jenuh mengandung 56% asam malat pada suhu 20 C.

Inkompatibel : Asam malat dapat bereaksi dengan baha oksidasi. Larutan aquades sedikit korosif dari karbon. 4. Asam Fumarat Asam fumarat, walaupun memiliki kekuatan asam seperti asam sitrat, pada umumnya tidak berguna dalam formulasi tablet efervesen karena sukar larut dalam air. Assam ini sebenarnya tidak higroskopis dan paling ekonomis diantara asam makanan. Bentuk yang larut dalam air dari asam fumarat banyak tersedia. Peningkatan kelarutan disebabkan oleh penambahan 0.3 % dioktil natrium sulfosuksinat, namun bahkan penambahan aditif ini tidak membuat asam fumarat sesuai untuk sediaan efervesen. 5. Asam Adipat dan Asam Suksinat Baik asam adipat dan asam suksinat tidak digunakan secara luas dalam sediaan efervesen karena jauh kurang larut dibandingkan asam sitrat dalam rentang, suhu penggunaan kebanyakan sediaan efervesen. Sediaan itu, asam ini kurang

tersedia dan kurang ekonomis. Akan tetapi, keduanya mempunyai keuntungan, yakni tidak higroskopis. Keduanya berguna sebagai lubrikan tablet. b. Asam anhidrat Anhidrat dari asam makanan kemungkinan bernilai dalam sediaan efervesen. Apabila dicampur dengan air, anhidrat asam ini terhidrolisis menjadi asam, yang dapat bereaksi dengan sumber karbonat untuk menghasilkan efervesen. Jika kecepatan hidrolisis dikendalikan, asam akan dihasilkan secara kontinu didalam larutan, menimbulkan pengaruh efervesen volume tinggi berkelanjutan. Air tidak dapat digunakan dalam membuat sediaaan yang mengandung senyawa anhidrat karena anhidrat akan diubah menjadi asam sebelum sediaan digunakan. Suksinat anhidrat tersedia secara komersial dan telah digunakan dalam suatu formulasi perndam gigi palsu. Anhidrat asam mengurangi kecenderungan caking dengan bertindak sebagai pengering (desikan) internal selain untuk meningkatkan pengembangan karbondioksida. c. Garam Asam Beberapa garam asam digunakan dalam formulasi produk efervesen, antara lain : 1. Natrium Dihirogen Fosfat Senyawa ini juga dikenal sebgai mononatrium fosfat, tersedia dalam perdagangan dalam bentuk granul dan serbuk anhidrat, mudah larut dalam air, dan menghasilkan suatu larutan asam dengan PH kira-kira 4,5. Ketika dilarutkan, senyawa ini mudah bereaksi dengan karbonat atau bikarbonat untuk menghasilkan efervesen. Sinonim : Asam sodium fosfat, Monobasic sodium phosphate, E339 Fungsi : Agen Buffer, emulsifying, sesquestering agent Pemerian : Pada USP 32 menyatakan jika sodium (natrium) dihidrogen fosfat mengandung satu atau dua molekul air hidrasi atau anhidrat. Bentuk hidratnya tidak berbau, tidak berwarna atau putih, kristal yang tembus cahaya. Bentuk anhidratnya serbuk kristalin atau granul. Kelarutan : Larut 1 dalam 1 bagian air, sangat mudah larut dalam etanol (95%) Inkompatibel : Inkompatibel dengan garam asam dan secara umum inkompatibel dengan bahan alkalin dan karbonat. Larutan air dari natrium dihidrogen fosfat bersifat dan akan menyebabkan karbonat mengalami efervesen. 2. Dinatrium Dihidrogen Pirofosfat Senyawa yang juga disebut dengan natrium asam pirofosfat ini adalah garam asam lain yang telah digunakan dalam tablet efervesen. Mudah diperoleh dan larut dalam air menghasilkan larutan asam. Sinonim : E339, garam disodium, dinatrii phosphas anhidrat. Fungsi : Agen Buffer, sesquetering agent

Pemerian: Dalam bentuk kering mengandung 1,2,7 atau 12 molekul air dari hidrasi. Bentuk anhidratnya merupakan serbuk putih. Bentuk dihirat Kristal tidak berbau, bentuk heptahidrat kristal tidak berwarna atau granul putih atau endapan garam yang mengembang dalam hangat, udara kering. Bentuk dodecahydrat mengembang kuat, tidak berwarna atau kristal transparan. Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, lebih mudah dalam air panas atau air mendidih, praktis tidak larut dalam etanol (95%). Bentuk anhidrat larut 1 dalam 8 bagian air, heptahidrat 1 dalam 4 bagian air, dan dodecahydrat 1 dalam 3 bagian air. Inkompatibilitas : inkompatibel dengan akkaloid, antipirin, kloral hidrat, timah asetat, pirogalol, resorcinol dan kalsium gluconate dan ciprofloxacin. Interaksi antara kalsium dan fosfat, membentuk endapat kalsium fosfat yang tidak larut. 3. Garam Asam Sitrat Baik natrium dihidrogen sitrat maupun dinatrium hidrogen sitrat telah digunakan dalam suatu komposisi efervesen. Keduanya mudah larut dan menghasilkan larutan asam yang sesuai untuk dimakan. 4. Natrium Asam Sulfit Bahan mentah ini dikenal sebagai natrium bisulfit, menghasilkan suatu larutan asam yang mampu melepaskan gas karbondioksida dari suatu sumber karbonat. Natrium bisulfit tidak sesuai untuk dimakan, tetapi dapat dipergunakan dalam formulasi tablet efervesen yang digunakan untuk membersihkan toilet. Senyawa ini merupakan suatu reduktor kuat dan tidak kompatibel dengan zat-zat oksidator. 2. Sumber Karbonat Garam karbonat padatan kering meberikan efervensen dalam kebanyakan tablet efervesen yang menggunakan gas karbondioksida sebagai disintegran. Baik bentuk bikarbonat maupun karbonat dapat digunakan, namun bikarbonat lebih reaktif dan paling sering digunakan. 1. Natrium Bikarbonat Natrium bikarbonat merupakan sumber utama utama karbondioksida dalam sistem efervesen. Senyawa ini larut sempurna dalam air, tidak mahal, banyak tersedia di pasaran dalam lima tingkat ukuran partikel (mulai dari serbuk halus sampai granul seragam yang mengalir bebas), dapat dimakan, digunakan secara luas sebagai suatu antasida baik sendirian maupun sebagai bagian dari sediaan antasida, dan digunakan secara luas dalam produk makanan sebagai soda kue. Natrium bikarbonat merupakan alkali natrium yang paling lemah, mempunyai PH 8,3 dalam larutan air dalam konsentrasi 0,85%. Zat ini menghasilkan kira-kira 52% karbondioksida.

Pada kelembaban relatif dibawah 80% (pada suhu kamar), kandungan kelembapan kurang dari 1%. Pada kelembapan relatif diatas 85% zat ini mengabsorbsi air dalam jumlah berlebihan dan dapat mulai terurai. kelarutan dalam air adalah 1 bagian dalam 11 bagian pada suhu 20 C dan tidak larut dalam etanol 96% pada suhu 20 C. Dengan pemanasan pada 250 sampai 300 C, natrium bikarbonat terurai dan diubah menjadi natrium karbonat anhidrat. Proses ini tergantung pada waktu dan suhu, mulai pada kira-kira 50 C. Perubahan terjadi 90% dan sempurna dalam 75 menit pada suhu 93 C. Natrium bikarbonat terutama bergabung karena deformasi plastik, bukan karena fragmentasi. Kekuatan tablet natrium bikarbonat murni yang rendah menunjukkan bahwa partikel-partikel terikat oleh gaya tarik yang relatif kecil. Penambahan pengikat yang terbagi halus akan meningkatkan jumlah total ikatan. Natrium bikarbonat merupakan suatu zat yang tidak elastik. Untuk mengatasi fluidits natrium bikarbonat yang buruk dan kompresibilitasnya yang rendah, digunakan teknik semprot kering. Bahan tambahan seperti Polivinilpirolin dan minyak silikon diketahui perlu digunakan untuk memperoleh natrium bikarbonat semprot kering kempa langsung. Dengan ini, produk menunjukkan karakteristik kempa yang baik dan kompresibilitas yang baik sekali tanpa diubah menjadi natrium bikarbonat. Konsentrasi penggunaan bikarbonat.

2. Natrium Karbonat Natrium bikarbonat, juga diketahui sebagai soda kue, merupakan bahan mentah yang dapat berguna bagi formulator tablet efervesen. Selain berfungsi sebagai sumber karbondioksida, zat ini berguna sebagai zat alkalisasi karena PH-nya yang tinggi (11,5) dalam larutan air pada konsentrasi 1%. Natrium karbonat juga menunjukkan suatu efek stabilasi apabila dicampur ke dalam tablet efervesen. Hal ini disebabkan oleh kemampuannya untuk terlebih dahulu mengabsorbasi kelembapan, mencegah dimulainya reaksi efervesen. Untuk alasan ini, bentuk anhidrat lebih baik daripada bentuk hidrat yang juga tersedia. Dalam perdagangan, natriun karbonat tersedia dalam bentuk anhidrat, dan sebagai monohidrat atau suatu dekahidrat. Semua bentuk tersebut sangat larut

dalam air. Bentuk anhidrat higroskopis dan secara lambat mengabsorbsi lembap membentuk monohidrat, sedang dekahidrat mengembang. 3. Kalium Bikarbonat dan Kalium Karbonat Kedua garam ini dapat digunakan dalam tablet efervesen, terutama apabila ion natrium tidak dikehendaki atau perlu dibatasi, seperti dalam kasus sediaan antasida yang dosisnya tergantung pada jumlah natrium yang direkomendasikan untuk ditelan. Zat ini lebih mudah larut dan secara signifikan lebih mahal. Rentang bentuk yang tersedia secara komersial kurang memuaskan bagi formulator dibandingkan garam natrium yang tersedia dalam rentang bentuk yang luas. Kalium bikarbonat sangat mudah larut dalam air. Apabila dipanaskan kira-kira 200 C, kalium bikarbonat terurai dan terbentuk kalium karbonat, air dan karbondioksida. Akibatnya, kalium bikarbonat (KHCO3) kurang sensitif terhadap panas, berhubungan dengan pengeringan daripada natrium bikarbonat. Pada kelembapan relatif diatas kira-kira 80% pada 20 C, sejumlah besar air diabsorpsi oleh kalium bikarbonat. Kalium karbonat hidrat dengan 1,5 mol air merupakan suatu serbuk yang sangat lembap cair dengan rasa alkalis yang kuat. Senyawa ini larut dalam 1 bagian air dan hampir tidak larut dalamalkohol. Kalium karbonat higroskopis pada kelembapan relatif diatas 2% tetapi lembap cair pada kelembapan relatif lebih dari 40% pada 25 C. 4. Natrium Glisin Karbonat Bahan ini merupakan suatu kompleks dari asam aminoasetat dan natrium karbonat. Keuntungan bahan ini dibandingkan sumber karbondioksida lainnya adalah bahan ini merupakan granul kempa langsung, memiliki kelarutan dalam air lebih besar, kebasaan (alkalintas) lebih rendah, lebih stabil terhadap panas, tidak menghasilkan air bebas atau reaksi, dan oleh karena itu dapat membuat tablet dengan stabilitas yang lebih besar dalam kehadiran sejumlah kecil air. Harga bahan ini dapat merupakan keterbatasan dalam beberapa formulasi sediaan tablet efervesen. Natrium glisin karbonat, yang dibentuk dengan mengkondensasi natrium karbonat dan glisisn, merupakan zat yang stabil. Tidak higroskopis, dan tahan panas. Akan tetapi, CO2 yang dihasilkan kira-kira 18% b/b, hanya kira-kira sepertiga dari CO2 yang dihasilkan oleh natrium bikarbonat. 3. Sumber Efervesen Lainnya Gas yang dihasilakan selama efervesen tidak perlu selalu karbondioksida, walaupun hal ini merupakan yang paling sering digunakan. Evolusi (perkembangan) gas oksigen dapat digunakan sebagai suatu sumber efervesen dalam sediaan tertentu, terutama sediaan pembersih gigi palsu. Tablet dibuat dengan bahan mentah natrium perborat anhidrat atau perborat efervesen. Bahan mentah ini dibuat dengan pemanasan natrium perborat monohidrat atau tetrahidrat dibawah kondisi terkendali untuk mengeluarkan molekul air

terhidrasi. Apabila dicampur dengan air, gas oksigen dibebaskan dalam volume besar, menghasilkan efervesen. Metode lain untuk menimbulkan gas oksigen yang bertindak sebagai disintegran tablet efervesen adalah reaksi antara senyawa peroksigen yang menghasilkan oksigen aktif ketika dicampur dengan air, misalnya natrium perborat monohidrat atau natrium perkarbonat dan suatu senyawa klor yang membebaskan hipoklorit ketika berkontak dengan air, misalnya natrium dikloroisosianurat atau kalsium hipoklorit. Pengembangan gas oksigen, yang paling baik terjadi dalam media alkalis, berlangsung sebagai senyawa peroksida yang diuraikan oleh senyawa klorin. Suatu sediaan yang dipatenkan menguraikan pembuatan dan penggunaan suatu bahan efervesen yang dibuat dengan mengabsorbsi suatu gas, seperti karbondioksida, ke dalam suatu media basa anhidrat yang terdiri dari suatu zat anorganik oksida, seperti zeolit alumonosilikat. Dengan berkontak dengan air, gas didesorpsi dari matriks anorganik dan menghasilkan efervesen. Proses ini paling berguna untuk penggunaan sediaan semipadat, seperti pasta gigi dan pembersih tangan. Bahan Pembantu (Adjuvant) 1. Pengikat dan Penggranulasi Dibandingkan dengan tablet konvensional, penggunaan pengikat dalam formulasi tablet efervesen lebih terbatas, bukan karena pengikat tidak diperlukan, tetapi karena dua cara kerja dari pengikat itu sendiri, penggunaan setiap pengikat, bahkan pengikat yang larut air, akan memperlambat disintegrasi tablet yang dikehendaki. Kebanyakan tablet efervesen terutama terdiri dari zat-zat yang diperlukan untuk menghasilkan efervesen atau untuk melaksanakan fungsi tablet. biasanya hanya sedikit tempat untuk eksipien, yang diperlukan dalam konsentrasi besar agar efektif. Polivinilpirolidon (PVP) adalah pengikat yang efektif untuk tablet efervesen. Zat ini biasanya ditambahkan pada serbuk yang akan digranulasi dalam keadaan kering, kemudian dibasahi dengan cairan penggranulasi, atau dalam suatu larutan dengan air, alkohol, atau cairan penggranulasi hidroalkohol. Isopropanol dan etanol tidak mempunyai efek mengikat sendirinya, tetapi digunakan dalam cairan penggranulasi sebagai pelarut untuk pengikat kering maupun sebagai pengikat sendiri. Sejumlah kecil air yang ditambahkan secara teliti dan dikendalikan untuk mencegah permulaan reaksi efervesen sangat efektif sebagai pengikat karena disolusi sebagian (parsial) dari bahan mentah diikuti oleh kristalisasi berikutnya pada pengeringan. Masalah bahaya dan perolehan kembali pelarut organik biasa terjadi pada pembuatan tablet efervesen dan tablet konvensional. Polivinylpyrrolidone

Sinonim : Povidone, E1201, Kollidons, Plasdone Fungsi : Disintegrant, disolusi enhancer, agen suspensi, pengikat tablet. Funsi povidone berdasarkan konsentrasi yang dibutuhkan :

Pemerian: Povidone berupa serbuk, berwarna putih sampai krim putih, tidak berwarna atau hampir tidak berwarna, serbuk higroskopis. Kelarutan : mudah larut dalam asam, kloroform, etanol 95%, keton, metanol dan air. Praktis tidak larut dalam eter, hidrokarbon, dan minyak mineral. Dalam air, konsentrasi pelarut dibatasi dengan viskositas hasil pelarut, disinilah fungsi K-value. Inkompatibilitas : Povidon kompatibel dengan garam inorganik spektrum luas resin alami dan sintetik, dan zat kimia lainnya. 2. Pengisi (Pengencer/Diluent) Karena sifat bahan-bahan dalam suatu tablet efervesen, biasanya sedikit pengisi perlu ditambahkan. Bahan efervesen sendirinya biasanya hadir dalam kuantitas yang cukup besar untuk menghindari penggunaan pengisi guna mencapai bobot tablet yang dikehendaki. Natrium bikarbonat merupakan pengisi yang bermanfaat dan murah, dimasukkan. Berbagai penambah rasa kering yang dapat digunakan dalam tablet tersedia asalkan efervesen ekstra (tambahan) dan efek PH larutan tidak menimbulkan masalah. Selain itu, ada juga bahan lain yang dianggap mudah larut, tersedia dalam ukuran partikel yang serupa dengan bahan lain dalam sediaan, dan bersifat kristal guna memberikan kompresibilitas yang memadai, misal natrium klorida dan natrium sulfat. Kedua zat ini relatif padat dan mungkin berguna dalam memproduksi tablet yang lebih padat jika dikehendaki. 3. Lubrikan Lubrikan merupakan salah satu yang paling penting karena tanpa bahan ini produksi tablet efervesen pada alat kecepatan tinggi tidak akan mungkin. Granul efervesen sulit pada dasarnya dilubrikasi, sebagian disebabkan oleh sifat bahan mentah yang digunakan dan sebagian karena biasanya dikehendaki disintegrasi tablet yang cepat. a. Lubrikasi intrinsik diberikan oleh zat-zat yang langsung ditambahkan ke tablet ketika mengerjakan granulasi. Hal ini merupakan metode yang paling efisien dan paling banyak digunakan.

1. Garam magnesium, kalsium, dan garam seng dari asam stearat adalah zat yang paling efisien dan biasa digunakan. Konsentrasi 1% atau kurang biasanya efektif. Akan tetapi, zat tersebut tidak larut air sehingga dapat merintangi disintegrasi tablet dan menghasilkan larutan keruh. 2. Talk dan polietrafluoroetilen yang diserbuk juga tidak larut air tetapi pada umumnya memungkinkan disintegrasi tablet lebih cepat. 3. Serbuk natrium benzoat dan polietilenglikol 8000 yang mikronisasi merupakan lubrikan larut air yang efektif. Perbaikan efisiensi natrium benzoat telah ditunjukkan setelah penambahan parafin, dimetikon, atau polioksietilenglikol. 4. Natrium stearat dan natrium oleat larut dalam konsentrasi kecil. Oleh karena itu, kombinasi sejumlah kecil keduanya mungkin efektif. Namun cita rasa zat ini mungkin tidak menyenangkan untuk sediaan yang ditelan. 5. L-Lisin, jarang digunakan karena mahal. Asam amin ini sangat efisien, mempunyai struktur stereokimia yang serupa dengan grafit. Zat ini paling sering digunakan untuk melubrikasi tablet hipodermik bukan efervesen yang harus larut sempurna sebelum disuntikkan. 6. Magnesium lauril sulfat memberikan sifat lubrikasi dengan efek penghambat disintegrasi yang minimal. Suatu campuran magnesium lauril sulfat dengan polimer polietilen glikol yang dimikronisasi merupakan lubrikan larut air yang baik sekali untuk tablet. 7. Kristal asam asetilsalisilat memberikan sifat lubrikan larut air yang memadai sehingga formulasi analgesik efervesen yang mengandung zat ini pada tingkat dosis yang efektif biasanya tidak memerlukan lubrikan tambahan. b. Lubrikasi ekstrinsik merupakan suatu mekanisme yang berlaku sebagai zat lubrikasi pada permukaan alat pentabletan selama pemrosesan. Dalam suatu metode, suatu lapisan malam yang telah dicairkan disemprotkan pada permukaan alat setelah satu tablet dikeluarkan dan sebelum granul tablet berikutnya memasuki lubang kempa. c. Metode lain menggunakan suatu (oiled felt washer) yang dilekatkan pada pons bawah dibawah ujung yang menyapu lubang kempa dengan pengeluaran tiap tablet. Syarat lubrikan yang sempurna atau adjuvant tablet efervesen : harus nontoksik, tidak berasa dan larut air. 4. Glidan Glidan biasanya tidak diperlukan. Granul yang mengalir bebas, bahan-bahan dengan bentuk fisik yang cocok untuk kempa langsung, dan diameter tablet yang besar membuat penggunaan glidan dapat ditiadakan 5. Pemanis Sukrosa dan pemanis alami lainnya, seperti sorbitol, dapat digunakan dalam sediaan efervesen, walaupun lazimnya adalah pemanis buatan. Akan tetapi, penggunaan pemanis buatan dibatasi oleh peraturan kesehatan. Oleh karena itu, penggunaan pemanis buatan

seperti ini akan berbeda-beda antarnegara, berdasarkan standar nasional masing-masing negara. 6. Penambah rasa (Flavour) Penggunaan zat pemanis saja bisa jadi tidak cukup untuk membuat suatu sediaan yang mengandung suatu zat aktif dengan rasa yang tidak enak menjadi enak. oleh karena itu, penambah rasa dapat dimasukan. Berbagai penambah rasa kering yang dapat digunakan dalam tablet tersedia dari pemasok. Penambah rasa harus larut air. 7. Pewarna Pewarna larut air dapat ditambahkan. Akan tetapi, beberapa pewarna berubah warna sesuai dengan variasi PH. Oleh karena itu, pertimbangan harus dilakukan sebelum suatu warna dipilih. 8. Surfaktan Jenis eksipien ini kadang-kadang digunakan untuk meningkatkan pembasahan dan laju disolusi zat aktif. Penggunaan surfaktan harus diperhatikan pada pembentukan busa. 9. Zat antibusa Untuk mengurangi pembentukan busa serta kecenderungan zar aktif melekat pada dinding gelas di atas permukaan air, zat antibusa seperti polidimetilsilokan dapat digunakan. Akan tetapi, zat antibusa tidak biasa digunakan dalam formulasi sediaan efervesen. 10. Bahan Lain Tablet efervesen dapat mengandung bahan-bahan lain. Bahanbahan ini berkaitan dengan beberapa fungsi tablet selain dari sistem efervesennya, dan dalam beberapa hal dapat merupakan beagian penting dari tablet. bahan-bahan ini mencakup zat aktif, seperti analgesik, dekongestan, antihistamin, suplemen kalium, dan antasida, zat oksidator, seperti natrium perborat atau kalium monopersulat yang umumnya terdapat dalam formulasi pembersi gigi palsu.