Anda di halaman 1dari 9

JURNAL PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN 2013

Fototropisme pada Kacang Hijau (Phaseolus


radiata) dan Jagung (Zea mays)
Ifa Ahdiyah (1508100001), Windasari Putri Septarina (1511100023), Diya Larasati (1511100046)
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh
Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
e-mail : windaseptarina@yahoo.com
Abstrak Fototropisme adalah gerak yang terjadi pada
tumbuhan yang disebabkan oleh adanya rangsangan cahaya.
Bila cahaya yang datang dari atas tumbuhan, tumbuhan akan
tumbuh tegak mengarah ke atas. Praktikum dilakukan dengan
cara mengecambahkan biji kacang hijau dan biji jagung dengan
perbedaan perlakuan yaitu penutupan seluruh botol dengan
aluminium foil, penutupan sebagian botol dengan aluminium
foil, serta tidak dilakukannya penutupan dengan aluminium foil
pada botol, yang masing-masing botol diisi 10 biji, sehingga
akan di dapatkan 6 buah botol. Cahaya yang mempengaruhi
tumbuhan baik secara langsung melalui fotosintesis dan tidak
langsung yaitu dalam pertumbuhan dan perkembangan. . Pada
tumbuhan terbuka tidak terjadi mekanisme fototropisme. Pada
tumbuhan terbuka sedikit terjadi mekanisme fototropisme.
Pada tumbuhan tertutup terjadi gejala etiolasi.
Kata KunciEtiolasi, Fototropisme, Perkecambahan,

I. PENDAHULUAN
T
umbuhan dapat mengenali waktu harian dan waktu tahunan.
Tumbuhan dapat mengindera gravitasi dan arah cahaya dan
menanggapi stimulus-stimulus.Tropisme mengorientasikan
pertumbuhan organ tumbuhan mendakati atau menjauhi
stimulus. Tropisme adalah respon pertumbuhan yang
menyebabkan pembengkokan organ tumbuhan yang utuh
menuju atau menjauhi stimulus. Tiga stimulus yang
menginduksi tropisme, dan perubahan bentuk tubuh yang
mengikutinya adalah cahaya (fototropisme), gravitasi
(gravitropisme) dan sentuhan (thigmotropisme)[1].
Fototropisme adalah gerak yang terjadi pada tumbuhan
yang disebabkan oleh adanya rangsangan cahaya. Bila cahaya
yang datang dari atas tumbuhan, tumbuhan akan tumbuh
tegak mengarah ke atas. Tujuan praktikum Fototropisme ini
adalah untuk mengetahui arah perkecambahan karena
pengaruh cahaya. Menurut pendapat[2] berdasarkan
rangsangannya, gerak pada tumbuhan dikelompokkan
menjadi tiga, yaitu :
Gerak Autonom (Endonom)
Gerak autonom (endonom) adalah gerak yang belum
diketahui penyebabnya secara pasti, namun diperkirakan
gerak ini disebabkan oleh rangsangan yang berasal dari
dalam tubuh tumbuhan itu sendiri. Dengan kata lain, gerak
autonom adalah gerak yang tidak disebabkan oleh
rangsangan dari luar. Contohnya gerak mengalirnya
sitoplasma dalam sel, gerak melengkungnya kuncup daun
karena
perbedaan kecepatan tumbuh, gerak yang

diperlihatkan tumbuhan ketika tumbuh seperti tumbuhnya


akar, batang, daun, dan bunga. Gerak kloroplas memutar
mengelilingi isi sel pada sel-sel daun Hydrilla sp.
Gerak Higroskopis
Gerak higroskopis adalah gerak bagian tumbuhan yang
diakibatkan oleh pengaruh perubahan kadar air dari sel-sel
sehingga terjadi pengerutan yang tidak sama. Pecahnya buah
polong yang sudah kering pada lamtoro, jarak, dan kembang
merak. Membukanya sporangium pada tumbuhan paku akibat
berkerutnya sel-sel anulus.
Gerak Esionom
Gerak esionom merupakan gerak tumbuhan yang
disebabkan oleh rangsangan dari luar tubuh tumbuhan
tersebut. Macam - macam gerak esionom pada tumbuhan:
Gerak Nasti
Nasti adalah gerak tumbuhan terhadap rangsangan, yang
arah geraknya tidak ditentukan oleh rangsangan tetapi oleh
tumbuhan itu sendiri. Gerak nasti terjadi karena perbedaan
tekanan turgor. Contoh paling mudah adalah gerak tidur
yang di tunjukkan oleh bermacam-macam tumbuhan polong
(leguminosae). Gerak tidur itu disebut niktinasti.
Gerak tropisme
Gerak tropisme adalah gerak menanggapi rangsang dari
bagian organ tumbuhan.arah gerakanya dapat menuju atau
menjauhi
sumber
rangsang.
Berdasarkan
jenis
rangsangannya, tropisme dibedakan menjadi lima:
Geotropisme
Geotropisme merupakan gerak tropisme yang mengikuti
gaya gravitasi bumi. Geotropisme dibagi menjadi 2 yaitu : (a)
Geotropisme positif, geotropisme positive adalah gerak
geotropism yang arahnya ke bawah (menuju pusat bumi).
Misalnya ujung akar tumbuh menuju ke arah gravitasi. (b)
Geotropisme negative, geotropisme negatif adalah gerak
geotropisme yang arahnya ke atas (menjauhi pusat bumi).
Misalnya ujung batang tumbuh ke atas menjauhi gaya
gravitasi.
Kemotropisme
Kemotropisme merupakan gerak tropisme yang
disebabkan oleh rangsangan zat kimia. Kemotropisme
dibedakan atas dua macam, yaitu (a) Kemotropisme Positif,
kemotropisme positif adalah gerak kemotropisme yang
arahnya mendekati sumber rangsangan. Misalnya gerak akar
menuju zat makanan di dalam tanah. (b) Kemotropisme
Negatif, kemotropisme negatif adalah gerak kemotropisme
yang arahnya menjauhi sumber rangsangan, misalnya gerak
akar yang menjauhi racun.

JURNAL PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN 2013


Tigmotropisme
Tigmotropisme merupakan gerak tropisme yang
disebabkan oleh rangsangan sentuhan pada benda yang lebih
keras. Gerak tanaman sulur menanggapi rangsangan
sentuhan itu disebut tigmotropi (thigmo = sentuh).
Contohnya sirih (Piper betle) dan mentimun.
Hidrotropisme
Hidrotropisme merupakan gerak tumbuh akar yang
dipengaruhi oleh ketersediaan air tanah. Pada umumnya,
akar tumbuhan lurus ke bawah, tetapi jika pada arah ini tdak
terdapat cukup air, maka akar akan tumbuh membelok kearah
yang cukup air.
Gerak taksis
Taksis merupakan gerak pindah tempat seluruh tubuh
tumbuhan menuju atau menjauhi rangsangan di sebut gerak
taksis. Berdasarkan jenis rangsanganya, taksis dibedakan
menjadi dua macam, yaitu fototaksis dan kemotaksis.
Fototropisme
Fototropisme adalah gerak yang terjadi pada tumbuhan
yang disebabkan oleh adanya rangsangan cahaya. Bila cahaya
yang datang dari atas tumbuhan, tumbuhan akan tumbuh
tegak mengarah ke atas.
Mekanisme Fototropisme
Menurut [3] fototropisme kuncup utama pada kebanyakan
tanaman yang tumbuh di tempat terbuka dilakukan untuk
berkembang kearah vertikal, meskipun batangnya sering
tumbuh secara horizontal. Jika sebuah kotak diisi tanaman
yang tumbuh secara vertikal dan lubang dibuat agar cahaya
dapat masuk dari salah satu sisi, maka ujung taaman mulai
membengkok kearah cahaya. Pada beberapa saat bila kotak
tersebut dipindahkan dengan kompensasi pertumbuhamn
pembengkokan dikarenakan ujung tanaman tumbuh secara
vertikal. Pergerakan pertumbuhan kearah cahaya disebut
fototropisme positif, sedangkan pergerakan tumbuhan
menjauhi cahaya disebut fototropisme negatif. Pucuk dan
kuncup ujung beberapa tanaman merupakan fototropisme
positif, namun akan sangat sensitif dengan cahaya.
Jagung adalah tanaman yang menghendaki keadaan
hawa yang cukup panas dan lembab dari waktu tanam sampai
periode mengakhiri pembuahan. Jagung tidak membutuhkan
persyaratan tanah yang tajam karena tanaman ini dapat
ditanam hampir di semua macam tanah. Dalamnya
penanaman benih, jagung sangat tergantung kepada iklim.
Apabila keadaan tanah cukup lembab maka penanaman
jagung dapat dilakukan sedalam 2,5 cm sedangkan untuk
keadaan tanah yang agak kering dapat ditanam lebih dalam
lagi sampai 5 cm [4].
Kacang hijau merupakan tumbuhan semusim yang tegak,
percabangannya bermula dari buku terbawah. Kacang hijau
dapat ditanam di daerah iklim hangat dan di daerah
subtropik. Sebagian besar genotipnya memperlihatkan
tanggapan terhadap hari pendek. Kacang hijau adalah
tanaman musim hangat dan tumbuh dibawah suhu rata-rata
yang berkisar 20 40C dengan suhu optimumnya 20
30C. Tanaman kacang hijau hampir dapat tumbuh pada
semua jenis tanah yang banyak mengandung bahan organik,
dengan drainase yang baik. Namun demikian, tanah yang
paling cocok bagi tanaman kacang hijau ialah tanah liat

2
berlempung atau tanah lempung, misalnya podsolik merah
kuning (PMK) dan latosol [5].
II.METODOLOGI
A. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu botol kaca
bermulut lebar, wadah plastik kecil untuk merendam biji.
B. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu biji
kacang hijau (Phaseolus radiatus), biji jagung (Zea mays),
kertas aluminium foil,dan kapas.
C.Cara Kerja
Praktikum Fototropisme ini dilakukan pada hari Selasa,
12 November 2013 pada pukul 15.00 WIB. Pada praktikum
ini, di lakukan pemilihan biji kacang hijau (Phaseolus
radiatus) dan jagung (Zea mays) dilakukan dengan cara
direndam beberapa biji kacang hiaju dan biji jagung tersebut
dalam wadah yang telah diisi air dan direndam selama 2 jam.
Biji yang tenggelam merupakan biji yang baik dan yang
dipilih untuk bahan percobaan. Disiapkan 6 buah botol
bermulut lebar bersih yang telah diberi alas bagian dasar
botol dengan kapas dan dibasahi dengan air secukupnya.
Dipilih masing-masing 30 biji kacang hijau (Phaseolus
radiatus) dan jagung (Zea mays. Dimasukkan masing-masing
10 butir biji kacang hijau (Phaseolus radiatus) ke dalam 3
buah botol, dan dimasukkan masing-masing 10 biji jagung
(Zea mays) ke dalam 3 buah botol. Diberi label masingmasing botol. Pada botol I dan II yang berisi biji kacang hijau
(Phaseolus radiatus) dan biji jagung (Zea mays) masingmasing ditutup semua permukaan samping serta mulut botol
dengan alumunium foil sehingga tidak ada cahaya yang
masuk ke dalam botol. Pada botol III dan IV yang berisi biji
kacang hijau (Phaseolus radiatus) dan biji jagung (Zea mays)
masing-masing ditutup semua permukaan samping serta
mulut botol dengan alumunium foil, namun pada bagian
samping permukaan botol diberi sedikit lubang pada
aluminium foil. Pada botol V dan VI yang berisi biji kacang
hijau (Phaseolus radiatus) dan biji jagung (Zea mays)
masing-masing dibiarkan botol secara terbuka dan tidak
ditutup dengan aluminium foil sebagai kontrol. Diamati
pertumbuhannya selama 14 hari serta dicatat perbedaan dari
ketiga perlakuan tersebut.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Fungsi dan Perlakuan
Pemilihan biji jagung (Zea mays) dan biji kacang hijau
(Phaseolus radiatus) yang baik dilakukan dengan cara dipilih
biji yang tenggelam hal tersebut karena biji yang tenggelam
dimungkinkan telah mengalami pecahnya masa dorman
sehingga biji tersebut dapat dipilih sebagai biji yang akan
dikecambahkan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat [6]
yang menyatakan bahwa salah satu faktor yang sangat
penting dalam proses perkecambahan yaitu tersedianya air.
Air merupakan salah satu faktor yang mutlak diperlukan dan
tidak dapat digantikan oleh faktor lain seperti pemberian
rangsangan atau perlakuan untuk memacu agar benih dapat

JURNAL PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN 2013

berkecambah. Proses awal perkecambahan adalah proses


imbibisi yaitu proses masuknya air kedalam benih. Pada
proses ini yang perlu mendapatkan perhatian adalah kadar
air akhir setelah imbibisi, karena benih hanya akan
berkecambah jika kadar air di dalam benih mencapai 50-60
%.
Sedangkan fungsi dari perbedaan perlakuan yaitu
penutupan seluruh botol dengan aluminium foil, penutupan
sebagian botol dengan aluminium foil, serta tidak
dilakukannya penutupan dengan aluminium foil pada botol
adalah sebagai perbedaan perlakuan untuk mengetahui
respon perkecambahan baik perkecambahan pada biji kacang
hijau (Phaleolus radiatus) serta biji jagung (Zea mays)
terhadap cahaya (fototropisme)
B. Hasil Fototropisme
Tabel 1. Hasil Pengamatan Botol Kaca Terbuka Kacang Hijau

Tabel 3. Hasil Pengamatan Botol Kaca Terbuka Sedikit


Kacang Hijau

Tabel 2. Hasil Pengamatan Botol Kaca Terbuka Kecambah


Jagung

JURNAL PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN 2013

Tabel 5. Hasil Pengamatan Botol Kaca Tertutup Semua


Kacang Hijau

Tabel 4. Hasil Pengamatan Botol Kaca Terbuka Sedikit


Kecambah Jagung

JURNAL PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN 2013

Tabel 6. Hasil Pengamatan Botol Kaca Tertutup Semua


Kecambah Jagung

C.Perkecambahan
Proses perkecambahan disebut juga proses germinasi pada
biji. Germinasi biji adalah suatu fase dalam proses
pertumbuhan dari pembuahan sel telur menjadi tanaman tua.
Germinasi dimulai dengan penyerapan air oleh biji dan
berakhir dengan dimulainya elongasi oleh sumber embrio
yang biasanya terjadi di bulu akar. Kecambah muncul karena
hipokotil (bagian kecambah di bawah kotiledon) yang
memanjang, sehingga mendorong kotiledon ke permukaan
dan titik tumbuh mulai tumbuh [7].Sedangkan [8]
menerangkan bahwa perkecambahan merupakan suatu proses
keluarnya bakal tanaman dari lembaga yang disertai dengan
terjadinya mobilisasi cadangan makanan dari jaringan
penyimpanan atau keping biji ke bagian vegetatif. Germinasi
pada biji merupakan proses kompleks yang berjalan terus
menerus yang mencirikan tumbuhan tingkat tinggi,
dipengaruhi oleh sejumlah besar gen dan faktor lingkungan
[9]. Serangkaian proses perubahan morfologi dan biokimia
yang terjadi selama perkecambahan benih ialah :
Imbibisi
Imbibisi air dalam proses perkecambahan benih
merupakan suatu fase yang disebut sebagai langkah awakeing
yang berhubungan dengan tiga peristiwa, yaitu penyerapan

5
air secara cepat oleh lapisan bikoloid dari benih yang kering,
reaktivasi dari makromolekul dan organel-organel, dan
respirasi yang menghasilkan ATP untuk suplai energi. Proses
imbibisi adalah suatu proses difusi atau dapat pula disebut
proses osmosis atau absorbsi. Disebut difusi karena pada sel
benih kering yang mempunyai nilai tekanan osmosis yang
tinggi menyebabkan air bergerak dari tekanan yang rendah ke
tekanan yang tinggi. Disebut peristiwa osmosis atau absorbsi
karena dinding sel kulit benih permeabel terhadap molekulmolekul air. Kedudukan molekul-molekul air yang akhirnya
mengisi ruang-ruang antarmolekul dan ruang antarmisel dari
benih dapat disebut sebagai proses absorbsi. Selama proses
imbibisi, terjadi proses hidrasi dari koloid-koloid hidrofil
yang
Berakibat bertambahnya volume dan timbulnya tekanan
imbibisi. Tekanan ini merupakan kekuatan yang diperlukan
untuk melindungi benih dari pembengkakan selama hidrasi.
Akibat dari tekanan ini terjadi keretakan pada bagian kulit
benih, mendesak bagian tanah tempat benih berkecambah
dan selanjutnya mengatur masuknya air ke dalam benih
selama proses perkecambahan. Peristiwa ini merupakan
proses fisik yang tidak ada kaitannya dengan viabilitas benih,
jadi tidak dipengaruhi oleh viabilitas benih tetapi dipengaruhi
oleh permeabilitas kulit benih, komposisi kimia benih,
ketersediaan air baik dalam bentuk cair maupun uap di
sekitar benih, suhu, luas permukaan benih yang berhubungan
dengan air, dan konsentrasi air [10]
Pengaktifan enzim dan hormon
Pada benih kering, aktivitas metabolismenya kurang. Hal
ini dapat dibuktikan pada benih kering yang telah
dihancurkan, bila dimasukkan ke dalam medium lain yang
sesuai, akan mampu menunjukkan adanya aktivitas beberapa
enzim. Reaksi ini diawali dengan proses hidrasi pada protein
sehingga terjadi aktivitas biologi yang menyebabkan
perubahan komposisi kimia pada semua bagian benih.
Hormon giberelin pada benih kering terdapat dalam bentuk
terikat dan tidak aktif, kemudian akan menjadi aktif setelah
benih mengimbibisi air, yaitu mendorong pembentukan
enzim-enzim hidrolisis seperti -amilase, protease,
ribonuklease, -glukonase, dan fosfatase. Enzim-enzim ini
akan berdifusi ke dalam endosperma dan mengakatalisis
bahan makanan cadangan di dalam endosperma menjadi
gula, asam amino, dan nukleosida yang mendukung
tumbuhnya embrio selama perkecambahan dan pertumbuhan
kecambah [10]
Proses perombakan cadangan makanan
Setelah masuknya air ke dalam benih terjadi reaktivasi
enzim dan hormone, maka berlangsunglah proses
perombakan di dalam jaringan cadangan makanan. Pada
serealia (misalnya jagung), enzim-enzim hidrolisis dibentuk
pada stadium dini pada lapisan aleuron yang mengelilingi
jaringan endosperma. Hasil perombakan selanjutnya
dipindahkan ke poros embrio yang digunakan untuk
perkembangannya. Dalam hal ini skutelum berperan aktif
membantu pemindahan bahan-bahan hasil perombakan
cadangan makanan dari endosperma ke embrio. Selain itu,

JURNAL PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN 2013


skutelum mengeluarkan sejumlah enzim yang berperan
membantu pencernaan endosperma dan dinding sel [10]
Pecahnya kulit benih dan munculnya akar
Pecahnya kulit benih dan munculnya radikel
menunjukkan bahwa proses perkecambahan sudah
berlangsung secara lengkap. Munculnya akar terjadi akibat
adanya pemanjangan sel yang selanjutnya diikuti dengan
pembelahan sel. Pada umumnya pada hampir semua benih
terjadi pemanjangan sel terlebih dahulu yang kemudian
diikuti pembelahan sel. Proses pemanjangan sel terjadi dalam
dua fase. Pada fase pertama, pemanjangan sel radikel terjadi
tanpa penambahan bobot keringnya dan hanya sedikit
penambahan bobot basah. Fase ini menunjukkan aktivitas sel
dalam pembentukan dinding sel baru selama proses
pemanjangan. Pada fase kedua, pemanjangan radikel secara
cepat meningkatkan bobot basah maupun bobot kering
diiringi oleh mobilisasi nutrisi ke dalam radikel. Kejadian ini
menyebabkan munculnya radikel dan benih berubah dari
organisme yang autotrof menjadi heterotrof [10]
Pertumbuhan kecambah
Kecambah mulai tumbuh sebagai organisme yang
heterotrof bila ia mulai menyerap air dan melakukan
fotosintesis. Pada saat awal stadium pertumbuhannya melalui
fase transisi, kecambah tersebut mulai memproduksi
makanannya sendiri walaupun masih bergantung juga pada
cadangan makanan yang masih tersisa di dalam endosperma.
Setelah kecambah berkembang dan mampu memproduksi
seluruh makanannya untuk tumbuh maka sedikit demi sedikit
menjadi tidak tergantung lagi pada cadangan makanan pada
jaringan penyimpanan yang pada stadium ini telah
mengalami pengosongan. Pada saat ini, tanaman muda telah
berkembang menjadi organisme autotrof [10]
Perkecambahan Jagung (Zea mays)
Secara umum jagung mempunyai pola pertumbuhan yang
sama, namun interval waktu antar tahap pertumbuhan dan
jumlah daun yang berkembang dapat berbeda. Pertumbuhan
jagung dapat dikelompokkan ke dalam tiga tahap yaitu (1)
fase perkecambahan, saat proses imbibisi air yang ditandai
dengan pembengkakan biji sampai dengan sebelum
munculnya daun
pertama; (2) fase pertumbuhan vegetatif, yaitu fase mulai
munculnya daun pertama yang terbuka sempurna sampai
tasseling dan sebelum keluarnya bunga betina (silking), fase
ini diidentifiksi dengan jumlah daun yang terbentuk; dan (3)
fase reproduktif, yaitu fase pertumbuhan setelah silking
sampai masak fisiologis. Perkecambahan benih jagung terjadi
ketika radikula muncul dari kulit biji. Benih jagung akan
berkecambah jika kadar air benih pada saat di dalam tanah
meningkat >30% [11]
Proses perkecambahan benih jagung, mula-mula benih
menyerap air melalui proses imbibisi dan benih membengkak
yang diikuti oleh kenaikan aktivitas enzim dan respirasi yang
tinggi. Perubahan awal sebagian besar adalah katabolisme
pati, lemak, dan protein yang tersimpan dihidrolisis menjadi
zat-zat yang mobile, gula, asam-asam lemak, dan asam
amino yang dapat diangkut ke bagian embrio yang tumbuh

6
aktif. Pada awal perkecambahan, koleoriza memanjang
menembus pericarp, kemudian radikel menembus koleoriza.
Setelah radikel muncul, kemudian empat akar seminal lateral
juga muncul. Pada waktu yang sama atau sesaat kemudian
plumule tertutupi oleh koleoptil. Koleoptil terdorong ke atas
oleh pemanjangan mesokotil, yang mendorong koleoptil ke
permukaan tanah. Mesokotil berperan penting dalam
pemunculan kecambah ke atas tanah. Ketika ujung koleoptil
muncul ke luar permukaan tanah, pemanjangan mesokotil
terhenti dan plumul muncul dari koleoptil dan menembus
permukaan [12]
Perkecambahan Kacang Hijau (Phaleolus radiata)
Kacang hijau merupakan tanaman tropis yang
membutuhkan suasana panas sepanjang hidupnya. Tanaman
kacang hijau dapat ditanam 2000 m di bawah permukaan laut
di daerah tropik. Kacang hijau sebagai tanaman musim
hangat, tumbuh di bawah suhu rata-rata yang berkisar antara
20C sampai 40C, dengan suhu optimum antara 28C
sampai 30C. Tanaman ini rentan terhadap genangan,
sebaliknya tahan terhadap kekeringan, dengan cara
mempersingkat periode antara pembungaan dan pematangan.
Keperluan airnya sekitar 200 sampai 300 mm untuk masa
pertumbuhan. Tahapan yang terjadi pada proses
perkecambahan secara garis besar meliputi : (1) Penyerapan
air oleh biji yang menyebabkan melunaknya
kulit biji. Calon akar mulai keluar dan tumbuh ke arah bumi
(geotropisme). (2) Mulai terjadi aktifitas sel dan enzim-enzim
yang terdapat dalam biji, serta ditandai dengan meningkatnya
proses respirasi biji. Pada tahap ini secara morfologis dapat
diamati dengan mulai tumbuhnya hypocotyl dan cotyledon
atau daun lembaga. (3) Penguraian komponen kimia
kompleks (karbohidrat, protein dan lemak menjadi unsur
yang lebih sederhana untuk ditranslokasikan ke titik-titik
tumbuh. Penyusutan keping lembaga mulai tampak seiring
dengan mulai terbentuknya paracotyledon yang menyerupai
daun tersusun berhadapan. (4) Terjadinya proses asimilasi
untuk menghasilkan energi bagi pertumbuhan sel-sel baru.
Pembentukan calon daun muda mulai terlihat pada fase ini.
(5) Pertumbuhan kecambah berlanjut melalui proses
pembelahan, pembesaran dan pembagian sel. Terbentuknya
daun yang tetap merupakan ciri morfologis yang bisa diamati
pada tahap ini [13]
D.Tipe Perkecambahan
Berdasarkan hasil praktikum dapat diketahui jika tipe
perkecambahan pada jagung (Zea mays) adalah tipe
perkecambahan hipogeal, hal tersebut karena tampak radikel
muncul diikuti dengan pemanjangan plumula sedangkan
kotiledon tetap berada di dalam kulit biji di bawah
permukaan tanah. Sedangkan tipe perkecambahan pada
kacang hijau (Phaseolus radiatus) merupakan tipe
perkecambahan epigeal, hal tersebut karena saat
perkecambahan tampak kotiledon serta plumula terangkat ke
atas permukaan tanah.
Sesuai dengan pendapat [14] yang menyatakan bahwa
pada monokotil, akan tumbuh koleoptil sebagai pelindung
ujung bakal batang. Begitu koleoptil muncul di atas
permukaan tanah, pucuk daun pertama akan muncul

JURNAL PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN 2013


menerobos koleoptil. Biji masih tetap berada di dalam tanah
dan memberi suplai makanan kepada kecambah yang sedang
tumbuh.
Perkecambahan
seperti
ini
dinamakan
perkecambahan hypogeal.
Tidak muncul koleoptil. Dari dalam tanah, kotiledonnya
akan muncul ke atas permukaan tanah bersamaan dengan
munculnya daun pertama. Kotiledon akan memberi makan
bakal daun dan bakal akar sampai keduanya dapat
mengadakan fotosintasis. Itulah sebabnya lama-kelamaan
kotiledon menjadi kecil dan kisut. Perkecambahan yang
kotiledonnya terangkat ke permukaan tanah dinamakan
perkecambahan epigeal [14]. Sedangkan [15] menyatakan
bahwa perkecambahan biji dapat dibedakan menjadi dua
yaitu : (1) Perkecambahan Epigeal, perkecambahan epigeal
adalah apabila terjadi pembentangan ruas batang di bawah
daun lembaga dan kotiledon terangkat keatas tanah, misalnya
pada kacang hijau (Phaseolus radiatus). (2) Perkecambahan
Hipogeal, perkecambahan hipogeal adalah apabila terjadi
pembentangan ruas batang teratas (epikotil) sehingga daun
lembaga ikut tertarik ke atas tanah, tetapi kotiledon tetap di
bawah tanah, misalnya pada biji jagung (Zea mays), kacang
kapri (Pisum sativum).

7
Intensitas cahaya yang diterima tanaman selama fotosintesis
akan dimanfaatkan sebagai sumber energi, sedangkan lama
penyinaran mengendalikan pembungaan sebagian besar jenis
tanaman. Gejala ini dikenal dengan nama fotoperiodisme
[17].
Cahaya yang mempengaruhi tumbuhan baik secara
langsung melalui fotosintesis dan tidak langsung yaitu dalam
pertumbuhan dan perkembangan. Pengaruh cahaya terhadapa
tumbuan dibagi dalam tiga komponen penting yaitu: kualitas,
lama penyinaran, dan intensitas. Kualitas cahaya
berhubungan dengan panjang gelombang dimana panjang
gelombang yang mempunyai laju pertumbuhan baik adalah
cahaya tampak. Disisi lain intensitas cahaya mempengaruhi
pertumbuhan melalui sintesis klorofil, fase reaksi cahaya
dalam fotosintesisi, sintesis hormon, dan pembukaan stomata
[3]. Lamanya penyinaran atau panjang hari berhubungan
dengan inisiasi bunga pada berbagai jenis spesies tanaman
yang hanya terjadi pada panjang hari tertentu. Walaupun
respon panjang hari ini biasanya antar asesi pada spesies
yang sama bervariasi [18].

Gambar 1. Perlakuan dalam Praktikum Fototropisme

Gambar 1. Perkecambahan Jagung (Zea mays) [12]

Pada praktikum fototropisme ini dilakukan perkecambahan


kacang hijau (Phaseolus radiata) dan jagung (Zea mays)
untuk diketahui arah perkecambahannya karena pengaruh
cahaya dalam 3 perlakuan berbeda yaitu: perkecambahan
botol kaca terbuka, botol kaca terbuka sedikit, dan botol kaca
tertutup yang diamati setelah 1 minggu.

Gambar 2. Kecambahan Kacang Hijau (Phaseolus radiata) dan Jagung (Zea


mays) dalam Botol Terbuka

Gambar 2. Perkecambahan Kacang Hijau (Phaleolus radiatus) [12]

E. Peran Cahaya
Iklim mikro merupakan iklim di lapisan udara dekat
dengan permukaan bumi dengan ketinggian 2 meter yang
memberikan pengaruh langsung terhadap fisik tanaman.
Iklim mikro meliputi suhu, kelembaban dan cahaya [16].
Cahaya matahari mempunyai peranan penting bagi
tanaman dalam proses fotosintesis dan pembungaan.

Hasil pengamatan menunjukan terjadi pertumbuhan yang


sehat pada kecambah kacang hijau (Phaseolus radiata) dan
jagung (Zea mays) dalam botol gelas terbuka. Hal ini
ditunjukkan dengan pertambahan panjang batang yang baik
dengan rata-rata kecambah kacang hijau (Phaseolus radiata)
adalah 20,82 cm dan rata-rata kecambah jagung (Zea mays)
adalah 3,24 cm. Hal ini disebabkan karena intensitas cahaya
yang cukup menyebabkan fotosintesis dan pertumbuhan yang
optimum. Pada kecambah kacang hijau (Phaseolus radiata)
rata-rata daun yang muncul dari 10 benih adalah 2 dan
berwarna hijau. Sementara pada kecambah jagung (Zea

JURNAL PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN 2013


mays) kebanyakan jumlah daun yang muncul dari 10 benih
adalah 2 dan berwarna kekuningan. Hal ini menunjukan
pertumbuhan daun dan pembentukan klorofil yang baik. Hal
ini sesuai dengan literatur yang menuturkan bahwa intensitas
cahaya mempengaruhi pertumbuhan melalui sintesis klorofil,
fase reaksi cahaya dalam fotosintesisi, sintesis hormon, dan
pembukaan stomata [3] dan literatur yang menyebutkan
bahwa cahaya meningkatkan pembentukan klorofil dan
perkembangan kloroplas [19].
Selain itu, pada pengamatan botol terbuka tidak
ditemukannya mekanisme fototropisme baik pada kecambah
kacang hijau (Phaseolus radiata) dan jagung (Zea mays).
Keduanya memiliki arah tumbuh ke atas. Hal ini disebabkan
oleh terpaparnya semua sisi tubuh kecambah secara seimbang
oleh cahaya.

Gambar 2. Kecambahan Kacang Hijau (Phaseolus radiata) dan Jagung (Zea


mays) dalam Botol Terbuka

Hasil pengamatan menunjukan mekanisme fototropisme


pada kecambah kacang hijau (Phaseolus radiata) dan jagung
(Zea mays) dalam botol gelas terbuka sedikit. Hal ini
ditunjukkan dengan adanya pertumbuhan kecambah ke arah
datangnya cahaya melalui lubang pada alumunium foil yang
membungkus botol gelas. Hal ini sesuai dengan literatur yang
menyebutkan bahwa auksin bergerak ke bawah sepanjang
batang secara seragam akan tetapi cahaya dapat menembus
ke dalam dan akibatnya akan merusak atau mengalirkan
uksin ke arah lain dari yang terkena cahaya. Akibatnya
pemanjangan batang berjalan jauh lebih cepat di sisi yang
jauh dari cahaya [20] sehingga pertumbuhan tanaman
mengarah ke sumber cahaya.
Pertumbuhan rata-rata panjang batang pada kecambah
kacang hijau (Phaseolus radiata) adalah 19,78 cm dan ratarata kecambah jagung (Zea mays) adalah 3,91 cm. Pada
kecambah kacang hijau (Phaseolus radiata) rata-rata daun
yang muncul dari 10 benih adalah 2 dan kebanyakan
berwarna kuning. Sementara pada kecambah jagung (Zea
mays) kebanyakan jumlah daun yang muncul dari 10 benih
adalah 2 dan berwarna kuning kehijaun. Daun yang berwarna
kuning menandakan terjadinya klorosis.Hal ini menunjukan
pertumbuhan daun dan pembentukan klorofil yang buruk. Hal
ini sesuai dengan literatur yang menuturkan bahwa intensitas
cahaya mempengaruhi pertumbuhan melalui sintesis klorofil
[3]. Sintesis klorofil menjadi terhambat akibat kekurangan
cahaya dan kurang unsur makro dan mikro yang diserap oleh
tumbuhan sehingga warna daun menjadi kuning. Literatur
lain menyebutkan daun yang tumbuh pada intensitas cahaya

8
rendah biasanya mengalami kerusakan. Peristiwa ini disebut
photoinhibition yang dapat merendahkan laju fotosintesi [21]
dan daun menjadi tipis dengan kandungan air yang tinggi
[22].

Gambar 3. Kecambahan Kacang Hijau (Phaseolus radiata) dan Jagung (Zea


mays) dalam Botol Tertutup

Hasil pengamatan menunjukan adanya peristiwa etiolasi


pada kecambah kacang hijau (Phaseolus radiata) dan jagung
(Zea mays) dalam botol gelas tertutup atau terbungkus semua
dengan alumnium foil. Hal ini ditunjukkan dengan adanya
pertumbuhan kecambah ke arah yang tak tentu akan tetapi
sangat tinggi pertumbuhan panjangnya. Sebagian besar
tanaman menunjukkan gejala etiolasi dalam keadaan gelap
[23]. Gejala etiolasi ini merupakan pertumbuhan tanaman
yang sangat tinggi. Hal ini disebabkan oleh peningkatan
auksin, yang bekerja secara sinergis dengan giberelin [24].
Hal inilah yang menyebabkan pertambahan tinggi yang
sangat besar pada kecambah kacang hijau (Phaseolus
radiata) dan jagung (Zea mays) dalam botol gelas tertutup
atau terbungkus semua dengan alumnium foil.
Pertumbuhan rata-rata panjang batang pada kecambah
kacang hijau (Phaseolus radiata) adalah 21,95 cm dan ratarata kecambah jagung (Zea mays) adalah 6,83 cm. Pada
kecambah kacang hijau (Phaseolus radiata) rata-rata daun
yang muncul dari 10 benih adalah 2 dan berwarna kuning
semua. Sementara pada kecambah jagung (Zea mays) belum
ada helaian daun yang muncul sehingga masih berupa
kuncup yang berwarna kuning. Daun yang berwarna kuning
menandakan terjadinya klorosis. Hal ini menunjukan
pertumbuhan daun dan pembentukan klorofil yang buruk. Hal
ini sesuai dengan literatur yang menuturkan bahwa intensitas
cahaya mempengaruhi pertumbuhan melalui sintesis klorofil
[3]. Naungan yang diberikan secara spesifik mengurangi
intensitas radiasi matahari dan unsur-unsur mikro [25]
sehingga sintesi klorofil terhambat dan warna daun menjadi
kuning.
IV. KESIMPULAN
Cahaya yang mempengaruhi tumbuhan baik secara
langsung melalui fotosintesis dan tidak langsung yaitu dalam
pertumbuhan dan perkembangan. Intensitas cahaya yang
cukup menyebabkan fotosintesis dan pertumbuhan yang
optimum. Cahaya meningkatkan pembentukan klorofil dan
perkembangan kloroplas. Pada tumbuhan terbuka tidak
terjadi mekanisme fototropisme atau membengkoknya batang
menuju sumber cahaya karena terpaparnya semua sisi tubuh

JURNAL PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN 2013


kecambah secara seimbang oleh cahaya. Pada tumbuhan
terbuka sedikit terjadi mekanisme fototropisme karena cahaya
merusak auksin sehingga pemanjangan batang berjalan jauh
lebih cepat di sisi yang jauh dari cahaya menyebabkan batang
membengkok menuju sumber cahaya. Pada tumbuhan
tertutup terjadi gejala etiolasi yaitu pemanjangan batang
secara cepat akibat dari peningkatan auksin, yang bekerja
secara sinergis dengan giberelin yang menyebabkan
pertambahan tinggi yang sangat besar. Sintesis klorofil
menjadi terhambat akibat kekurangan cahaya dan kurang
unsur makro dan mikro yang diserap oleh tumbuhan
sehingga warna daun menjadi kuning atau klorosis yang
terjadi pada tumbuhan terbuka sedikit dan tertutup.
DAFTAR PUSTAKA
[1]
[2]
[3]
[4]
[5]
[6]
[7]

[8]

[9]
[10]
[11]
[12]
[13]

[14]
[15]
[16]
[17]
[18]
[19]
[20]
[21]
[22]
[23]
[24]

Champbell, at all. 2003. Biologi. Edisi Ke Lima, Jilid II. Erlangga.


Jakarta.
Rianawaty, Ida. 2010. Gerak pada Tumbuhan. Universitas Pendidikan
Indonesia. Jakarta.
Salisbury, F. B. Dan Ross C. W. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 3.
Terjemahan R. Lukman dan Sumaryono. Penerbit ITB. Bandung.
Khaerudin, Hadi. 2010. Disain Mesin Penanam dan Pemupuk Jagung
Terintegrasi dengan Tenaga Penggerak Traktor Roda Dua. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Putra, Ahmad Syah. 2011. Evaluasi Varietas Kacang Hijau. Universitas
Sumatera Utara. Medan.
Kuswanto, Hendarto.1996. Dasar-Dasar Teknologi, Produksi dan
Sertifikasi Benih. Andi, Yogyakarta
Andarwulan H. 2005. Optimasi Produksi Anti Oksidan pada Proses
Perkecambahan Biji-bijian dan Deversifikasi Produk Pangan
Fungsional dari Kecambah yang Dihasilkan [laporan penelitian]. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Satyagraha H. 2005. Optimasi Proses Pengolahan dan Karakterisasi
Produk serta Penentuan Umur Simpan Beras Ubi Kayu yang Disubsidi
dengan Kecambah Kedelai [skripsi]. Fakultas Teknologi Pertanian,
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Henk, Hilhorst, et al. 2002. Seed Dormancy and Germination. Elsevier
Science Ltd. Current Opinion in Biology: 2005, 5:33-36
Tim Pengampu, 2011. Bahan Ajar Ilmu Teknologi Benih. Program
Hibah Penulisan Buku Ajar. Universitas Hasanuddin
McWilliams, D.A., D.R. Berglund, and G.J. Endres. 1999. Corn Growth
and Management Quick Guide.www.ag.ndsu.edu.
Subekti, Nuning Argo, et al, 2013. Morfologi Tanaman dan Fase
Pertumbuhan Jagung. Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros
Mudiana, Deden. 2007. Perkecambahan Syzygium cumini (L.) Skeels.
Volume 8, Nomor 1. Halaman: 39-42. Balai Konservasi Tumbuhan
Kebun Raya Purwodadi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),
Pasuruan 67163
Ferdinand F dan Moekti A 2007. Biologi. Jakarta: Visindo Media Persada
Pratiwi. 2006. Biologi. Erlangga. Jakarta
Bunyamin dan Agil. Analisis Iklim Mikro Tanaman Jagung (Zea Mays.
L) pada Sistem Tanam Sisip. Prosiding Pekan Serealia Nasional (2010)
Fisher MJ. Crop Growth and Development: Flowering Phisiology. UK
CABI Publising (1999)
Gonzales RJM, Clements RJ, Humphyers LR. Flowering and Seed
Production in Centrosema spp. XVII International Grassland Congress
(1993)
Indrianingsih, Citra. Pengaruh Perbedaan Lama Penambahan Cahaya
Terhadap Pertumbuhan Vegetati Tanaman Krisan (Chrysanthemum
indicum cv Town Talk). Undergraduated Thesis. FMIPA Undip. (2004)
Harjadi, S, S. Pengantar Agronomi. Gramedia. Jakarta. (1991)
Taiz L, Zeiger E. Plant Physiology. USA: Benyamin cummings (1991)
Wong CC, Mohd Sharudin MA, Rahim H. Shade Tolerance Potential of
Some Tropical Forages for Integration with Plantation Legumes. Mardi
Research Bulletin 13:249-269 (1985)
Fitter, A. H. and R. K. M. Hay. Enviromental Physiology of Plant.
Academic Press, Inc. London. 421p. (1981)
Gardner, F., RB Pearce., R. L Mitchell. Physiology Of Crop Plants
(Fisiologi Tanaman Budidaya : Terjemahan Herawati Susilo). Penerbit
Universitas Indonesia, Jakarta. (1991)

9
[25] Sirait J. Pertumbuhan dan Serapan Nitrogen Rumput pada Naungan
dan Pemupukan yang Berbeda. [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana IPB
(2005)