Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM ENERGI DAN ELEKTRIFIKASI PERTANIAN

ENERGI BIOMASSA

oleh: Nama : Raenyta Adhe Wulandari NIM : A1H011077

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO 2013

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Semakin meningkatnya kebutuhan bahan bakar untuk memasak, semakin berkurangnya/habis cadangan minyak bumi di alam dan rusaknya hutan sebagai penyedia kayu bakar, Sehingga perlu di cari energi alternatif pengganti bahan bakar minyak bumi dengan memanfaatkan sampah biomasa yang masih melimpah. Serta sebagai salah satu pemenuhan tugas mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup. Briket merupakan salah satu alternatif energi pengganti minyak bumi serta penyediaan energi berwawasan lingkungan. Potensi biomassa di Indonesia yang bisa digunakan sebagai sumber energi jumlahnya sangat melimpah. Limbah yang berasal dari hewan maupun tumbuhan semuanya potensial untuk dikembangkan. Tanaman pangan dan perkebunan menghasilkan limbah yang cukup besar, yang dapat dipergunakan untuk keperluan lain seperti bahan bakar nabati. Pemanfaatan limbah sebagai bahan bakar nabati memberi tiga keuntungan langsung. Pertama, peningkatan efisiensi energi secara keseluruhan karena kandungan energi yang terdapat pada limbah cukup besar dan akan terbuang percuma jika tidak dimanfaatkan. Kedua, penghematan biaya, karena seringkali membuang limbah bisa lebih mahal dari pada memanfaatkannya. Ketiga, mengurangi keperluan akan tempat penimbunan sampah karena penyediaan tempat penimbunan akan menjadi lebih sulit dan mahal, khususnya di daerah perkotaan.

B. Tujuan

1. Mengetahui proses pembuatan briket. 2. Mengetahui perbandingan bahan baku briket dengan perekat yang digunakan dalam proses pembutan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Biomassa merupakan sumber energi terbarukan dan tumbuh sebagai tanaman. Sumber-sumber biomassa adalah sebagai berikut (Kong 2010): 1. Sisa-sisa hasil pertanian, seperti ampas tebu, batang dan serat jagung. 2. Sisa-sisa hutan, misalnya serbuk gergaji industri pengolahan kayu. 3. Sampah perkotaan, misalnya kertas-kertas bekas dan dedaunan kering. 4. Lumpur sisa pulp. 5. Sumber-sumber masa depan, seperti tanaman energi yang khusus ditanam. 6. Jenis tanaman lain yang tidak mengandung pati maupun gula yang dipakai untuk memproduksi bioetanol. Potensi energi biomassa sebesar 50,000 MW antara lain bersumber dari produk samping hasil pengolahan beberapa tanaman perkebunan dan

pertanian, seperti: kelapa sawit, penggilingan padi, kayu, plywood, pabrik gula, kakao, dan lain-lain. Saat ini, jumlah energi biomassa yang telah

dimanfaatkan hanya sebesar 302 MW dari total potensi energi biomassa yang ada atau setera dengan 0.604%. Sekam padi merupakan salah satu by productyang dihasilkan pada

proses penggilingan padi. Rendemen produk yang diperoleh pada proses penggilingan padi, antara lain: 55% biji utuh, 15% beras patah, 20% sekam, dan 10% dedak halus (Haryadi 2003 dalam Prihandana dan Hendroko 2007). Berdasarkan angka ramalan (ARAM) III, produksi padi tahun 2010

diperkirakan sebesar 65.98 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), naik 1.58 juta ton (2.46%) dibandingkan produksi tahun 2009. Kenaikan produksi diperkirakan terjadi karena peningkatan luas panen sebesar 234.54 ribu hektar (1.82 %) dan produktivitas sebesar 0.31 kuintal/hektar (0.62 %). Berdasarkan rendemen produk yang diperoleh pada proses penggilingan padi, maka pada tahun 2010 dihasilkan 36.29 juta ton beras utuh, 9.89 juta ton beras patah, 13.12 juta ton sekam, dan 6.59 juta ton bekatul.

Peningkatan

produksi

padi

dari

tahun

ke

tahun

menyebabkan

terjadinya peningkatan limbah sekam padi yang dihasilkan. Saat ini, sekam padi hanya dimanfaatkan untuk pembakaran dan pembuatan batu bata dalam jumlah yang sangat kecil. Aktivitas lain pemanfaatan sekam padi adalah

pembuatan arang sekam untuk media tanaman dan arang aktif untuk pembuatan adsorben (Suyitno 2009). Karbonisasi merupakan proses pembakaran biomassa menggunakan alat pirolisis dengan oksigen terbatas (Compete 2009). Ketiadaan oksigen dalam proses karbonisasi menyebabkan hanya komponen zat terbang saja yang terlepas dari bahan, sedangkan bagian karbon akan tetap tinggal di dalam bahan. Karbonisasi sekam padi bertujuan untuk mengurangi kadar zat terbang penyebab asap dan meningkatkan nilai kalor pembakaran (Liliana 2010). Tujuan lain dari proses karbonisasi sekam padi adalah untuk mempermudah penanganan sekam padi menjadi bahan bakar, penyimpanan, serta mengurangi asap pembakaran. Reaksi pada proses karbonisasi adalah reaksi eksoterm, yaitu jumlah panas yang dikeluarkan lebih besar daripada yang diperlukan. Reaksi utama terjadi pada suhu 150-300 oC dimana terjadi kehilangan banyak kandungan air dari dalam bahan, sehingga dihasilkan arang. Semakin lambat proses karbonisasi, maka mutu arang yang dihasilkan akan semakin baik (Abdullah et all. 1998). Proses karbonisasi menghasilkan material berupa arang. Arang

merupakan sisa proses karbonisasi bahan yang mengandung karbon pada kondisi terkendali di dalam ruangan tertutup (Masturin 2002). Sudrajat dan Soleh (1994) dalam Triono (2006) menambahkan bahwa arang memiliki bentuk padat dan berpori, dimana sebagian besar porinya masih tertutup oleh hidrogen, ter, dan senyawa organik lain, seperti: abu, air, nitrogen, dan sulfur. Hasil penelitian Liliana (2010) menunjukkan bahwa pada proses karbonisasi bungkil jarak pagar, suhu karbonisasi berbanding terbalik dengan rendemen arang yang dihasilkan. Semakin tinggi suhu karbonisasi, maka

rendemen arang yang dihasilkan semakin kecil dan begitu pula sebaliknya. Suhu karbonisasi berbanding lurus dengan nilai kalori pembakaran. Semakin tinggi suhu karbonisasi, nilai kalori yang dihasilkan akan semakin tinggi pula.

Densifikasi merupakan salah satu cara untuk memperbaiki sifat fisik suatu bahan yang bertujuan untuk mempermudah penggunaan dan

pemanfaatannya, sehingga terjadi peningkatan efisiensi nilai bahan yang digunakan (Abdullah et al. 1998) karena produk yang dihasilkan mempunyai densitas lebih tinggi daripada bahan baku aslinya (Bhattacharya 1998). Proses densifikasi dilakukan pada bahan berbentuk curah atau memiliki sifat fisik yang tidak beraturan. Terdapat tiga tipe proses densifikasi, antara lain : extruding, briquetting, dan pelleting. Pada proses extruding, bahan dimampatkan

menggunakan sebuah ulir (screw) atau piston yang melewati dies sehingga menghasilkan produk yang kompak dan padat. Proses briquetting

menghasilkan produk berbentuk seperti tabung dengan ukuran diameter dan tinggi yang bervariasi sesuai dengan kebutuhan. Proses pelleting terjadi karena adanya aliran bahan dari roll yang

berputar disertai dengan tekanan menuju lubang-lubang dies pencetak biopelet. Peletisasi merupakan proses pengeringan dan pembentukan biomassa dengan menggunakan tekanan tinggi untuk menghasilkan biomassa padat berbentuk silinder dengan diameter maksimum 25 mm. untuk menghasilkan bahan Proses peletisasi bertujuan volume yang secara

bakar biomassa dengan

signifikan lebih kecil dan densitas energi lebih tinggi, sehingga lebih efisien untuk proses penyimpanan, transportasi, dan konversi ke dalam b entuk energi listrik atau energi kimia lainnya (AEAT 2003).

III. METODOLOGI

A. Alat dan Bahan

1. Bahan arang 2. Tepung kanji 3. Kompor 4. Gas 5. Panci 6. Pengaduk kayu 7. Alat pencetak briket 8. Air 9. Timbangan digital

B. Prosedur Kerja

1. Persiapkan alat dan bahan. 2. Menimbang bahan arang dan tepung kanji dengan timbangan digital 3. Membuat bahanperekat dengan tepung kanji,lalu dicampur dengan air panas hingga membentuk adonan kanji. 4. Campurkan adonan perekat dengan bahan arang, perbandingan 1:9. 5. Cetak adonan dengan alat pencetak briket, setelah terbentuknya briket, lakukan penimbangan. 6. Menghitung volume briket. 7. Mencatat hasil pada lembar kerja.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Prosedur kerja 1. Persiapan alat dan bahan. 2. Bahan ditimbang dengan bobot sesuai kebutuhan. 3. Melakukan proses pembakaran bahan baku (pengarangan) hingga menjadi arang kemudian dihaluskan. 4. Timbang arang sebanyak 150 gr. 5. Membuat perekat (5%, 10%). 6. Membuat campuran jenis perekat dengan air panas menggunakan perbandingan 1:9. 7. Mencampurkan perekat dengan bahan arang secara perlahan-lahan lalu aduk rata. 8. Lakukan pengeringan menggunakan a. Oven b. Sinar matahari Selama 15 menit, menimbang massa awal dan massa akhir bahan. Sekam 5% No Briket Massa (gram) Awal Akhir 20,30 16,53 19,08 15,63 Diameter (cm) Luar Dalam 3,5 3,5 0,5 0,5 Tinggi (cm) 2,3 2,0 Volume (cm3) 21,67 18,84

1. 1,5 sendok (oven) 2. 1 sendok (matahari)

1.

Susut bobot (oven) = = = 6,0%

2.

Susut bobot (matahari) = = = 5,44%

x 100%

Kakao 10% No Briket Massa (gram) Awal Akhir 22,24 22,23 21,39 20,47 Diameter (cm) Luar Dalam 3,9 3,6 0,8 0,7 Tinggi (cm) 2,3 2,2 Volume (cm3) 26,3 21,53

1. 1sendok (matahari) 2. 1,5 sendok (oven)

1.

Susut bobot (matahari) = = = 4%

2.

Susut bobot (oven) = = = 7,9%

Kakao 5% No Briket Massa (gram) Awal Akhir 28,07 23,23 27,35 22,27 Diameter (cm) Luar Dalam 3,5 3,5 0,6 0,6 Tinggi (cm) 2,8 2,5 Volume (cm3) 26,13 23,33

1. 1,5 sendok (matahari) 2. 1 sendok (oven)

1.

Susut bobot (matahari) = =

= 2,458 2. Susut bobot (oven) = = = 4,1326% Sekam 7% No Briket Massa (gram) Awal Akhir 17,01 24,53 16,12 24,03 Diameter (cm) Luar Dalam 3,5 3,5 0,5 0,5 Tinggi (cm) 2 2,5 Volume (cm3) 18,84 23,55

1. 1,5 sendok (oven) 2. 1 sendok (matahari) 1. Bobot susut (oven) = =

= 5,23% 2. Bobot susut (matahari) = = = 2,04% Sekam 10% No Briket Massa (gram) Awal Akhir 17,03 19,66 15,98 19,01 Diameter (cm) Luar Dalam 3,1 3,3 Tinggi (cm) Volume (cm3) 14,2359 18,9372

1. 1 sendok (oven) 2. 1,5 sendok (matahari)

1.

Bobot susut (oven) = = = 6,166%

2.

Bobot susut (matahari) = = = 3,306%

Tempurung kelapa 7% No Briket Massa (gram) Awal Akhir 35,37 25,52 34,11 26,04 Diameter (cm) Luar Dalam 3,5 3,5 0,5 0,5 Tinggi (cm) 3,1 2,4 Volume (cm3) 29,2 22,6

1. 2 sendok (oven) 2. 1,5 sendok (matahari)

1.

Susut bobot (oven) = = = 3,56%

x 100%

2.

Susut bobot (matahari) = = = 1,81%

B. Pembahasan

Biomassa adalah bahan organik yang dihasilkan melalui pross fotosintetik, baik berupa produk maupun buangan. Contoh biomassa antara lain adalah tanaman, pepohonan, rumput, ubi, limbah pertanian, limbah hutan, tinja dan kotoran ternak. Selain digunakan untuk tujuan primer serat, bahan pangan, pakan ternak, miyak nabati, bahan bangunan dan sebagainya, biomassa juga digunakan sebagai sumber energi (bahan bakar). Umum yang digunakan sebagai bahan bakar adalah biomassa yang nilai ekonomisnya rendah atau merupakan limbah setelah diambil produk primernya.

Sumber energi biomassa mempunyai beberapa kelebihan antara lain merupakan sumber energi yang dapat diperbaharui (renewable) sehingga dapat menyediakan sumber energi secara berkesinambungan (suistainable). Di

Indonesia, biomassa merupakan sumber daya alam yang sangat penting dengan berbagai produk primer sebagai serat, kayu, minyak, bahan pangan dan lain-lain yang selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik juga diekspor dan menjadi tulang punggung penghasil devisa negara. Energi nonfosil , sebagai negera agraris yang besar Indonesia menyimpan potensi luar biasa dari sector energi biomassa. Energi Biomassa dapat kita artikan sebagai energi yang berasal dari aktifitas mahkluk hidup, seperti seperti tumbuhan maupun hewan. Dan yang lebih di tekankan di sini bahwa energi biomassa adalah energi yang dihasilkan dari limbah sisa atau hasil samping yang selama ini kurang digunakan baik dari pertanian seperti jerami dan sekam padi, perkebunan seperti sisa-sisa tandan kosong kelapa sawit, kehutanan seperti kayu atau serbuk sisa penggergajian ataupun peternakan seperti kotoran sapi maupun kerbau. Penekanan sumber biomassa berasal dari limbah / hasil samping, di karenakan jangan sampai dalam pemenuhan akan sumber energi berbenturan dengan pemenuhan sumber pangan bagi kehidupan manusia. Penggunaan biomassa sebagai sumber energi telah berlangsung jauh sebelum di temukannya energi fosil, seperti penggunaan kayu sebagai bahan bakar untuk berbagai keperluan, tetapi karena tergeser oleh penggunaan bahan bakar minyak, akhirnya biomassa menjadi tersingkirkan. Tetapi melihat kondisi saat ini, dengan semakin mahalnya bahan bakar minyak, semoga bisa membuat energi biomassa untuk semakin di kembangkan sebagai energi alternatif dan dalam rangka penganeka ragaman energi. Perekat pati dalam bentuk cair sebagai perekat menghasilkan briket arang bernilai rendah dalam hal kerapatan, keteguhan tekan, kadar abu, dan kadar zat meguap. Tetapi akan lebih tinggi dalam hal kadar air, kadar karbon terikat, dan nilai kalornya apabila dibandingkan dengan briket arang yang mnggunakan molase (tetes tebu) akan menghasilkan briket yang sangat kuat dan baik mutu pembakarannya, akan tetapi berasap (Sudrajat 1983).

Proses pembuatanbiomassa briket terdapat tahapan tahapan yang harus dilakukan terlebih dahulu agar memperoleh hasil yang sesuai. 1. Persiapan alat dan bahan. 2. Bahan ditimbang dengan bobot sesuai kebutuhan. 3. Melakukan proses pembakaran bahan baku (pengarangan) hingga menjadi arang kemudian dihaluskan. 4. Timbang arang sebanyak 150 gr. 5. Membuat perekat (5%, 10%). 6. Membuat campuran jenis perekat dengan air panas menggunakan perbandingan 1:9. 7. Mencampurkan perekat dengan bahan arang secara perlahan-lahan lalu aduk rata. 8. Lakukan pengeringan menggunakan Hasil praktikum kali ini terdapat perbedan hasil akhir sesuai % jenis briket kakao, hal ini dipengaruhi oleh faktor massa, diameter tinggi dan volume briket. Pada jenis briket kakao 5% susut bobot 1,5 sendok sebesar 2,57 % dan susut bobot 1 sendok sebesar 4,13%. Jenis briket sekam 5% susut bobot 1,5 sendok sebesar 6,009% dan susut bobot 1 sendok 5,445%. Jenis briket kakao 10% susut bobot 1,5 sendok sebesar 3,822% dan susut bobot 1 sendok sebesar 7,9175. Jenis briket sekam 10% susut bobot 1 sendok sebesar 6,166% dan susut bobot 2 sendok sebesar 3,306%. Jenis briket arang sekam 7% susut bobot 1,5 sendok sebesar 5,23% dan susut bobot 2 sendok sebesar 2,04%. Jenis briket tempurung kelapa susut bobot 2 sendok sebesar 3,56% dan susust bobot 1,5 sendok 1,81%. Biomassa merupakan sumber energi terbarukan (tanaman dapat tumbuh kembali pada lahan yang sama). Biomassa dapat membantu mengurangi impor bahan bakar asing dan membantu meningkatkan kemandirian energi negara (biomassa digunakan untuk mengurangi kebutuhan bahan bakar fosil seperti batubara, minyak dan gas alam). Peningkatan penggunaan biomassa dari limbah dapat menyebabkan polusi jauh lebih sedikit di dunia (dengan mengkonversi sampah menjadi sumber energi yang berguna). Menggunakan biomassa adalah pilihan yang lebih ramah lingkungan bila dibandingkan dengan menggunakan bahan bakar fosil dan dapat membantu mengurangi tingkat total emisi gas rumah

kaca (jika tanaman tidak dibakar secara langsung). Terbukti merupakan teknologi energi terbarukan yang mampu memberikan hasil instan. Sumber biomassa dapat ditemukan di semua negara di dunia. Banyak teknologi berbeda yang dapat digunakan untuk mengkonversi biomassa menjadi bentuk energi yang berguna. Biomassa juga terdapat kekurangan karena kayu masih merupakan sumber biomassa utama di dunia dan terlalu banyak menggunakan kayu sebagai bahan bakar bisa mengakibatkan efek yang lebih buruk untuk iklim daripada bertahan dengan bahan bakar fosil (ini dapat dihindari dengan menggunakan limbah kayu saja dan dengan memberlakukan peraturan yang sangat ketat berapa banyak kayu yang digunakan dan bagaimana mereka dibakar). Menggunakan banyak lahan untuk biomassa dapat menyebabkan berkurangnya lahan untuk menanam tanaman pangan yang dapat meningkatkan kelaparan di dunia. Banyak teknologi yang digunakan untuk mengkonversi biomassa menjadi bentuk energi yang berguna masih tidak cukup efisien dan membutuhkan biaya yang signifikan. Jika tanaman dibakar langsung, biomassa dapat menyebabkan tingkat polusi yang sama seperti bahan bakar fosil. Energy biomassa memerlukan teknologi untuk mengkonversinya sebagai bahan bakar. Secara umum teknologi konversi biomassa menjadi bahan bakar dapat dibedakan menjadi tiga pembakaran yaitu pembakaran langsung, konversi termokimiawi, dan konversi biokimiawi. Pembakaran langsung merupakan teknologi yang paling sederhanakarena pada umumnya biomassa telah dapat langsung dibakar. Konversi termokimiawi merupakan teknologi yang memerlukan perlakuan termal untuk memicu terjadinya reaksi kimia dalam menghasilkan bahan bakar. Dan konversi biokimiawi merupakan teknologi konversi yang menggunakan bentuan mikroba dalam menghasilkan bahan bakar.

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

1. Persiapan alat dan bahan. Bahan ditimbang dengan bobot sesuai kebutuhan. Melakukan proses pembakaran bahan baku (pengarangan) hingga menjadi arang kemudian dihaluskan. Timbang arang sebanyak 150 gr. Membuat perekat (5%, 10%). Membuat campuran jenis perekat dengan air panas menggunakan perbandingan 1:9. Mencampurkan perekat dengan bahan arang secara perlahan-lahan lalu aduk rata. Lakukan pengeringan menggunakan Oven Sinar matahari Selama 15 menit, menimbang massa awal dan massa akhir bahan 2. Perekat pati dalam bentuk cair sebagai perekat menghasilkan briket arang bernilai rendah dalam hal kerapatan, keteguhan tekan, kadar abu, dan kadar zat meguap. Tetapi akan lebih tinggi dalam hal kadar air, kadar karbon terikat, dan nilai kalornya apabila dibandingkan dengan briket arang yang mnggunakan molase (tetes tebu) akan menghasilkan briket yang sangat kuat dan baik mutu pembakarannya, akan tetapi berasap (Sudrajat 1983).

B. Saran

Penjelasan mengenai panel listrik masih kurang seperti dalam pembagian ruang, akan lebih menarik jika membuat desain dari suatu panel lsitrik.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Kalorimeter. Http://id.wikipedia.go.id. (Online). Diakses pada 29 Desember 2012. Chaloner, Jack. Jendela Iptek.1998. Jakarta, Balai Pustaka. Nugraha, Sigit. 2008. Briket Arang Sekam sebagai Bahan Bakar Alternatif. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian - Bank Pengetahuan Padi Indonesia. Triono, Agus.2006. Karekteristik Briket Arang dari Campuran Serbuk Gergaji. Respiratory. IPB. Bogor