Anda di halaman 1dari 74

Misteri Cakar Perunggu

dari The Adventure of The Bronze Claw

oleh Mark Zahn

dialihbahasakan oleh FXRBDS

Ilustrasi oleh Mark Zahn

KATA PENGANTAR -- DAN PERINGATAN -- DARI JOHN CROWE

Para penggemar misteri, hati-hatilah! Jika hati kalian menciut kala berhadapan dengan bahaya
besar, kriminal yang jahat, atau bajak laut yang berkeliaran dari dalam kubur, kusarankan
kalian tidak meneruskan! Sebenarnya, mereka yang gemetar ketika mendengar papan berderik
di sebuah rumah kosong sebaiknya membaca cerita yang lain sama sekali! Bagaimanapun, aku
akan berpikir dua kali sebelum membaca kisah ini pada malam hari...

Sampai di sini kalian mungkin bertanya-tanya, siapakah gerangan John Crowe dan mengapa ia
menuliskan kata pengantar untuk kisah petualangan Trio Detektif? Nah, kurasa penjelasan
diperlukan. Aku adalah seorang penulis novel misteri dan aku pertama kali bertemu dengan
Jupe, Pete, dan Bob beberapa bulan yang lalu ketika sebuah kasus mereka yang menarik, yang
diberi judul Misteri Karang Hiu, membawa mereka ke kediamanku di Santa Barbara, California -
- sebuah kota di sebelah selatan kota tempat tinggal mereka, Rocky Beach.

Tidak perlu dikatakan, anak-anak itu memecahkan misteri tersebut dan kemudian pulang
kembali namun dengan bangga kukatakan bahwa kami tetap berhubungan dan menjadi sahabat
dalam beberapa bulan terakhir. Aku bahkan telah mengirimi mereka masing-masing sebuah
kopi bertanda tangan dari novel misteri terbaruku: "Kematian di dalam Bayang-Bayang."

Ada satu persamaan lagi di antara kami, yaitu bahwa kami sama-sama berteman dengan
seorang penulis misteri yang hebat, angkatanku dan sahabatku, Hector Sebastian. Hector telah
menuliskan kata pengantar untuk kasus-kasus anak-anak itu sejak pembimbing mereka, Alfred
Hitchcock, meninggal dunia belum lama ini. Saat ini Hector sedang berada di luar negeri karena
salah satu skenario karyanya sedang difilmkan, dan takkan kembali selama beberapa bulan. Aku
telah diminta oleh anak-anak itu untuk memberi kata pengantar yang layak bagi kasus ini --
dengan seizin Sebastian, tentu saja.

Nah, sekarang setelah semua yang disebutkan di atas, marilah kita lanjutkan kata pengantar
ini! Pertama-tama, mari kita berbicara tentang Penyelidik Pertama, Jupiter Jones. Jupe --
begitu teman-temannya memanggilnya -- mengangkat dirinya sebagai pemimpin mereka bertiga
dan memang sudah sepantasnya! Daya ingatnya yang luar biasa, yang bagi beberapa orang
dewasa terasa mengganggu, dan kecerdasannya dalam memecahkan misteri, yang telah
memusingkan beberapa orang dewasa itu, membuat penyelidik yang sedikit kelebihan berat
badan ini lawan yang berbahaya bagi para kriminal yang kurang beruntung harus berjumpa
dengannya.
Pete Crenshaw adalah Penyelidik Kedua yang jangkung dan berotot. Pete adalah bintang di
beberapa cabang olahraga -- ia bahkan masuk tim gulat SMU-nya. Terlahir dengan kemampuan
atletis seperti ini, Pete selalu dapat melompati pagar atau memanjat atap rumah jika suatu
kasus menuntutnya. Harus dikatakan bahwa Pete juga terlahir sebagai orang yang senantiasa
berhati-hati dan seringkali harus diyakinkan lebih dahulu sebelum mengambil bagian dalam
rencana Jupiter yang berbahaya. Bukan berarti ia penakut... hanya berhati-hati.

Akhirnya, Bob Andrews -- yang dikenal juga sebagai Data. Bob bertanggung jawab atas segala
catatan dan riset, yang tentu saja diperlukan oleh sebuah biro detektif, dan ia sungguh hebat
dalam tugasnya itu! Jangan salah mengerti, ia mungkin saja bertampang kutu buku namun Bob
sama beraninya dengan rekan-rekannya! Bob memiliki bakat untuk menemukan informasi
penting ketika sebuah kasus menemui jalan buntu.

Seperti telah kukatakan, anak-anak itu tinggal di Rocky Beach, sebuah kota di tepi pantai di
California, tidak jauh dari Hollywood. Markas mereka adalah sebuah karavan sepanjang sepuluh
meter yang mereka sembunyikan di balik barang-barang bekas di Jones Salvage Yard. Pangkalan
barang bekas itu sungguh terkenal di pesisir Pasifik sebagai tempat yang memiliki apapun yang
dapat dibayangkan. Pangkalan itu dikelola oleh bibi dan paman Jupe, Titus dan Mathilda Jones,
yang merawat Jupe sejak ia menjadi yatim piatu dalam usia yang sangat muda, dan yang juga
memainkan peran dalam misteri yang akan kalian baca ini.

Sepertinya aku sudah cukup banyak memberi latar belakang sehingga kalian dapat mulai tapi
ingatlah peringatanku! Petualangan menakjubkan ini mungkin saja membuat kalian tidur
dengan lampu menyala selama beberapa hari setelah ini! Masih tetap tertarik? Jangan berkata
kalian tidak kuperingatkan...

JOHN CROWE

BAB I

PERJALANAN KE OREGON

"Awas!" seru Jupiter Jones.

Terlambat bagi Pete Crenshaw. Dibebani oleh sebuah peti model kuno, sepasang dayung antik,
dan berbagai benda kelautan lainnya, anak bertubuh jangkung itu tidak melihat bahwa ia
berjalan tepat ke arah setumpuk per tempat tidur yang telah disusun dengan rapi oleh Jupiter
pada pagi hari itu di dekat gerbang depan Jones Salvage Yard.

Pete berhenti ketika mendengar peringatan Jupiter namun terlambat. Tumpukan per tempat
tidur itu roboh, memaksa Bob Andrews untuk melompat menjauh sebelum ia terkubur!

Tepat pada saat itu Bibi Mathilda keluar tergopoh-gopoh dari kabin kecil yang berfungsi sebagai
kantor pangkalan barang bekas itu.

"Demi Tuhan!" serunya. "Apa-apaan semua ini?" Ketika ia melihat Bob bangkit berdiri sambil
mengibas-ngibaskan debu di tubuhnya, kekhawatiran muncul di wajah wanita itu. "Kau tidak
apa-apa, Robert? Apakah kau terluka?"

"Saya tidak apa-apa," jawab anak yang bertubuh paling kecil di antara rekan-rekannya itu, "tapi
per-per itu perlu bantuan."
Bibi Mathilda melihat jam saku antik yang selalu dibawanya dan mengerutkan kening. "Biarkan
per-per itu," katanya, "kita harus memuati truk itu sebelum Titus dan Hans kembali dari
membeli-beli di Burbank!" Wanita baik hati itu, yang sebenarnya menjalankan pangkalan
barang bekas itu, berpaling dan berjalan kembali ke kantor. Ketika ia sampai di pintu, ia
berhenti dan berseru melewati bahunya.

"Dan kau lebih hati-hati, Pete Crenshaw!"

Pete menatapnya dengan rasa bersalah. "Ya, ma'am," katanya. "Saya rasa saya tidak seharusnya
berusaha membawa semua barang bekas itu sekali jalan."

Mathilda Jones nampak galak dari luar namun semua orang tahu ia memiliki hati emas. Ia
tersenyum kepada Pete. "Tidak ada yang rusak," katanya. "Aku cuma tidak ingin harus
menjelaskan kepada orang tua Bob bagaimana ia sampai masuk rumah sakit dengan per ranjang
di kepalanya!"

Sambil tetap tersenyum wanita itu menghilang ke dalam kantor untuk menyelesaikan
pekerjaannya. Ketika ia telah hilang dari pandangan, Pete berpaling ke arah Jupe.

"Apa sih yang diinginkan Paman Titus dari semua peralatan kelautan ini? Bukankah kita semua
akan pergi ke Oregon untuk berlibur?"

Seminggu sebelumnya bibi dan paman Jupiter telah mengumumkan sesuatu yang tak terduga --
mereka akan berlibur selama dua minggu! Jupiter sama sekali tidak pernah mendengar hal
semacam itu. Terakhir kali Titus dan Mathilda Jones berusaha berlibur adalah beberapa tahun
yang lalu. Mereka seharusnya pergi ke Monterey namun belum lagi satu minggu berlalu ketika
mereka telah memenuhi truk dengan barang bekas, termasuk beberapa kuda kayu dari sebuah
komidi putar rusak, patung gips setinggi 180 cm yang merupakan replika dari "Daud" karya
Michaelangelo, dan sebuah meja tulis yang bagian atasnya bisa dibuka, yang menurut Paman
Titus pernah digunakan oleh seorang penulis ternama meskipun ia tidak ingat siapa. Dengan
semua benda tak ternilai di bak belakang truk menunggu untuk dicuri, Keluarga Jones tidak
punya pilihan lain kecuali berkemas dan pulang lebih cepat ke rumah -- tempat mereka paling
bahagia sesungguhnya!

Kini tanpa diduga mereka mengumumkan bahwa kali ini mereka akan benar-benar berlibur.
Hans dan Konrad, dua bersaudara berambut pirang dari Bavaria yang membantu-bantu di
pangkalan, akan bertanggung jawab selama mereka pergi.

Ketika Jupiter mendengar bahwa bibi dan pamannya akan pergi ke Oregon untuk mengunjungi
adik lelaki Titus, Atticus, dengan segera ia bertanya kalau Pete dan Bob boleh ikut serta.

"Aku tidak melihat alasan mengapa tidak," jawab Paman Titus sambil mengisap pipanya penuh
perasaan. "Dua minggu bersama Atticus Cornelius Jones akan merupakan pelajaran yang bagus
bagi kalian," katanya dengan mata berbinar mencurigakan, "meskipun yang akan kalian pelajari
mungkin saja lebih baik tidak pernah dimasukkan ke dalam buku pelajaran di sekolah!"

Jupiter baru sekali bertemu dengan Paman Atticus sebelum itu, ketika ia masih sangat kecil --
tidak lama setelah kedua orang tuanya meninggal. Dari yang bisa diingatnya dan cerita-cerita
Paman Titus, Atticus Jones juga berjual-beli barang bekas tapi dari jenis yang berbeda. Titus
Jones senang menggambarkan adiknya sebagai seorang "arkeolog bawah air," yang berarti ia
mencari barang bekasnya di bawah air, di dalam ceruk dan celah yang banyak terdapat di
pesisir di dekat kediamannya di Anchor Bay, Oregon.
Atticus Jones juga dianggap sebagai salah satu orang yang paling tahu tentang legenda bajak
laut dan Jupiter masih ingat akan banyak karakter seram yang membumbui kisah-kisah
pamannya lama dulu, kisah-kisah yang sebenarnya tidak diinginkan Bibi Mathilda untuk
didengar oleh Jupiter! Mathilda bukannya tidak suka akan adik Titus, ia hanya tidak habis pikir
bahwa Atticus seharusnya menikah dengan seorang wanita baik hati daripada hidup sebagai
seorang petualang laut yang penuh semangat.

Jupiter, yang tengah melamun sambil mengangkat peti tua dan memasukkannya ke bak
belakang truk pangkalan, tidak mendengar pertanyaan Pete.

"Jupe, aku tanya, apa yang diinginkan pamanmu dari semua rongsokan ini?"

Jupiter tersentak dari lamunannya. "Oh, itu untuk Paman Atticus. Kalau tidak salah ia telah
memulai suatu bisnis baru, sebuah toko kecil yang menjual segala peralatan kelautan yang
menarik dan benda-benda bajak laut yang ia temukan ketika menyelam."

"Apakah ia pernah menemukan harta terpendam?" tanya Bob penuh semangat, "emas atau
permata?"

"Setahuku tidak, Data," jawab Penyelidik Pertama yang gempal. "Hanya beberapa bekas debu
emas tapi tidak pernah sesuatu yang benar-benar harta karun bajak laut. Meskipun,"
tambahnya, "menurut Paman Titus adiknya berkata bahwa ia baru-baru ini menemukan sesuatu
yang mungkin saja bernilai sejarah sangat tinggi."

"Wah, aku ingin tahu benda apa itu," kata Pete sambil membantu Jupiter dan Bob memasukkan
sisa barang bekas ke dalam truk.

Jupiter menggeleng. "Ia tidak mau bilang. Ia hanya menyuruh Paman Titus untuk datang dan
melihatnya sendiri."

"Mungkin ia akhirnya menemukan harta karun yang sesungguhnya!" seru Bob. "Mungkin ia kaya
raya sekarang!"

Anak-anak masih berbincang-bincang penuh semangat tentang kemungkinan ini ketika Titus
Jones mengemudikan truk yang kecil melewati gerbang besi besar. Ia melompat keluar dan
tersenyum lebar ke arah anak-anak.

"Semua sudah berkemas dan siap untuk berangkat?" katanya dengan suara keras. "Tidak lupa
akan sikat gigimu, Peter?"

"Tidak, sir," jawab Pete, "semua yang kami perlukan sudah siap!"

"Hebat!" seru Paman Titus. Ia memilin kumis besarnya dan melirik Jupiter. "Apakah bibimu
sudah selesai dengan pembukuan atau apakah selama ini ia hanya membuang-buang waktu,
Nak?"

Jupiter baru akan menjawab ketika ia terpotong oleh sebuah geraman dari pintu kantor.

"Membuang-buang waktu!" Bibi Mathilda mengerutkan kening. "Kuhabiskan sepagian untuk


membetulkan kesalahanmu dalam pembukuan, Titus Andronicus Jones!"
Paman Titus mengedipkan mata ke arah Jupiter, lalu mengangkat Bibi Mathilda dan
mendaratkan sebuah ciuman di pipi wanita itu. Anak-anak tertawa terbahak-bahak sementara
ia berubah merah padam, berteriak-teriak agar suaminya menurunkannya.

Masih tertawa-tawa, anak-anak menutup pintu gerbang dan memanjat naik ke bak belakang
truk yang besar. Setelah memberikan instruksi terakhir kepada Hans dan Konrad dan
memastikan semua barang bekas yang diminta adiknya telah dimuat, Titus melompat ke
belakang kemudi truk dan menyalakan mesin.

"Jaga pangkalan baik-baik!" serunya ke arah Hans dan Konrad. "Jangan lupa mengunci semuanya
setelah malam. Dan jaga kotak uang. Dan jangan lupa mengambil surat-surat dari rumah."

"Ya," jawab Hans, menganggukkan kepalanya yang pirang pada setiap instruksi, "jangan cemas,
Mr. Jones. Konrad dan aku, kami urus semuanya."

Konrad menyeringai ke arah Paman Titus. "Kali ini cobalah benar-benar pergi selama dua
minggu, hokay?"

"Ada daging dan kue apel baru di dalam kulkas dan banyak makanan kaleng di dapur," kata Bibi
Mathilda.

Paman Titus terkekeh dan memasukkan gigi. "Sampai jumpa dua minggu lagi!" serunya.

Sementara truk keluar dari pangkalan, Trio Detektif melambai ke arah Hans dan Konrad. Di
depan Paman Titus melantunkan versi sumbang dari "Asleep in the Deep," lagu kesukaannya.
Semua sungguh bersemangat. Sepertinya perjalanan itu akan menarik. Anak-anak tidak tahu
akan seberapa menarik nantinya!

BAB II

SELAMAT DATANG DI ANCHOR BAY!

Titus Jones mengemudi terus sepanjang malam, mengaku terlalu bergairah akan bertemu
dengan saudaranya untuk hal-hal sepele seperti tidur. Fajar mulai menyingsing ketika truk
besar itu melintasi jalan bebas hambatan yang berkabut. Lampu-lampu dari desa nelayan kecil
Anchor Bay berkilauan bagai permata di tengah langit pagi yang kelabu.

Anak-anak telah mengundi siapa di antara mereka yang dapat tidur di dalam kabin truk yang
hangat. Pete menang dan pada awalnya Jupiter dan Bob menyesali nasib buruk mereka. Namun
mereka segera kembali ke semangat petualangan mereka dan memutuskan bahwa mereka lebih
baik meringkuk di dalam kantong tidur di bawah terpal yang melindungi barang bekas Atticus
Jones daripada berdesak-desakan di antara bibi dan paman Jupe -- terlebih lagi dengan
reputasi Bibi Mathilda akan dengkurnya, yang menurut Jupe dapat membangunkan orang mati!

Jupiter terbangun ketika ia merasa truk melambat saat memasuki batas kota Anchor Bay. Ia
menguap dan meregangkan badan seperti seekor kucing gemuk, kemudian menggoyang-
goyangkan Bob hingga terbangun. Anak yang lebih kecil dan bertampang serius itu mengerang
di dalam kantung tidurnya.
"Pergi... Jika kau punya perasaan sedikit saja, kau akan membiarkanku tidur seminggu lagi!"

Jupiter tersenyum dan membuka beberapa ikatan terpal di dekatnya. Ia menyingkapkan


sebagian terpal dan memunculkan kepalanya di hawa pagi yang dingin. Bob akhirnya menyerah
dan mengeluarkan kepalanya dari dalam kantung tidur bagaikan seekor kura-kura.

"Hari sudah terang namun otakku berkata aku seharusnya masih tidur," gerutunya.

"Kita sekarang secara resmi berada di Oregon," lapor Jupiter. "Mari berharap Paman Atticus
telah menyiapkan sarapan besar untuk kita. Aku kelaparan!"

Bob menyeringai. "Seperti kata Pete: aku setuju sepenuhnya!"

Kedua anak itu menyaksikan pelabuhan tua di belakang mereka mulai beraktivitas. Di sebelah
kiri mereka, tertutup oleh kabut pagi, nampak toko-toko yang termakan cuaca dengan papan
nama mengiklankan umpan dan kail, yang bersebelahan dengan toko-toko roti tua yang menjual
makanan dan minuman dingin. Di sebelah kanan mereka terdapat dermaga panjang yang
menuju ke laut tempat jala-jala sedang dimuat oleh para nelayan yang mengenakan jas hujan
kuning, bersiap-siap akan hari panjang di atas air, memeriksa perangkap udang karang dan,
lebih jauh ke laut, berburu ikan salem dan tuna.

Jupe merasa kesunyian kota itu mencekam, tidak ada yang bangun sepagi ini kecuali para
nelayan. Ia menatap dengan takjub sementara para lelaki itu, dengan jas hujan, topi, dan
sepatu lars karet, membuka tambatan perahu mereka dan menjauh masuk ke dalam teluk yang
berkabut.

Di kabin depan Paman Titus sedang berjuang dengan selembar peta, berusaha menemukan
jalan kecil yang menuju ke rumah adiknya. Setelah tanpa hasil berusaha mengemudi dan
mengikuti peta sekaligus, ia akhirnya membangunkan Pete dan menugaskannya mempelajari
peta. Sebagai tim mereka menemukan jalan yang benar dengan cepat. Pete sepertinya selalu
tahu tujuan yang tepat bahkan jika ia belum pernah berada di kota itu sebelumnya.

Truk barang bekas itu berbelok ke kiri dan terguncang-guncang di sepanjang jalan tanah yang
kecil dan curam, mengarah ke laut. Jupiter menduga rumah Paman Atticus berada tepat di atas
air.

Jupe merasa puas ketika melihat pengamatannya sebagian benar. Kediaman Atticus Jones
adalah sebuah rumah kecil yang tidak berbeda dengan kediaman para nelayan yang tinggal di
daerah itu. Orang-orang sederhana itu lebih memilih tempat tinggal yang praktis dan sederhana
pula daripada sesuatu yang megah dengan kemewahan yang tidak perlu. Cuaca yang keras dan
air laut yang mengandung garam menuntut rumah yang kokoh dan kasar. Kediaman Atticus
Jones nampak terpelihara dengan baik meskipun Jupe mendapat firasat bahwa Bibi Mathilda
akan menyuruh anak-anak menyapukan cat baru sebelum liburan itu berakhir.

Di sebelah rumahnya terdapat sebuah perahu besar berwarna biru dengan garis putih yang
nampak cukup besar untuk ditinggali. Perahu itu tertambat di dinding tebing laut, tiga meter
ke bawah, dan bisa dicapai melalui tangga kayu yang menuju ke sebuah dermaga kecil. Tertulis
dengan huruf-huruf rapi di bagian belakang perahu nama "Pembalasan Ratu Anne." Jupiter
menduga bahwa perahu itulah yang digunakan pamannya untuk menyelam dan juga, hampir
pasti, mencari nafkah.

Paman Titus menghentikan truk di depan pintu dan mematikan mesin. Ia telah memarkir truk di
samping sebuah mobil barang tua. Kendaraan merah berkarat itu pastilah milik Atticus Jones.
Bibi Mathilda keluar perlahan-lahan dari dalam truk, bergerak dengan kikuk dengan sendi-
sendinya yang kaku. Titus, sebaliknya, keluar dengan penuh semangat, menyerukan nama
adiknya.

"Atticus Jones! Di mana kau, Penjahat Tua? Tunjukkan dirimu, Perompak, atau aku terpaksa
menaikkan bendera tengkorakku dan menyerbu rumahmu, merampok daging dan telurmu!"

Jupiter berdiri di jalan tanah dengan tangan di pinggang dan mendengarkan, kepalanya miring
ke satu sisi. Tidak ada jawaban dari dalam rumah dan suara Paman Titus yang menggelegar
hanya membuat gugup sekelompok gagak yang hinggap di atap rumah Atticus. Burung-burung
itu berkaok-kaok marah kepada mereka dan terbang menjauh dengan bulu-bulu bergemerisik.

"Demi para malaikat!" desis Bibi Mathilda. "Kau akan membangunkan semua tetangga, Titus
Jones!"

"Siapapun yang tinggal sedekat ini dengan air akan bangun sepagi matahari, Sayang!" seru
paman Jupiter. "Nelayan yang masih tidur sesiang ini sebaiknya tinggal saja di ranjang -- tidak
ada tempat bagus yang tersisa untuknya!"

"Mungkin ia sedang keluar atau ada di belakang," kata Bob.

"Kalau dia manusia normal, tentulah dia masih tidur," gumam Pete.

"Atticus selalu bangun ketika fajar merekah sejak kami masih kanak-kanak," jawab Paman
Titus. "Dia jelas tidak normal tapi aku tidak menyangka bahwa dia lupa kita datang hari ini."

Bibi Mathilda telah mencapai batas kesabarannya. Dengan gerutuan dan menggumamkan "sama
saja!" wanita itu bergegas menuju ke balik rumah untuk mencari tuan rumah mereka.

"Mungkin kita harus..." Bob hendak mengusulkan untuk membawa barang-barang mereka masuk
ketika ia melihat raut wajah Jupiter. Remaja gempal itu tengah sibuk mencubiti bibir
bawahnya -- suatu tanda yang dikenal baik oleh Bob dan Pete -- Jupiter sedang memikirkan
sesuatu dengan serius. Itu adalah kebiasaan Penyelidik Pertama jika ia sedang berpikir keras.
Seringkali ia sendiri bahkan tidak sadar ia melakukan hal itu.

"Ada apa, Bob?" tanya Pete sambil menyentuh ujung jari-jari kakinya, berusaha meregangkan
kaki dan lututnya yang pegal, terbentur-bentur di kabin truk sepanjang malam.

"Kurasa ada yang dipikirkan Jupe. Apa yang kau lihat, Pertama?"

Jupiter mendekati pintu depan rumah kecil itu sambil meletakkan jari di bibir. Ia berpaling dan
berbisik kepada Pete. "Dua, pergi ke belakang dan cari Bibi Mathilda. Dan jaga agar ia tetap
tenang."

Pete sama sekali tidak ragu-ragu. Ia percaya akan firasat Jupe. Remaja jangkung itu bergegas
mengelilingi rumah, berjingkat-jingkat agar menimbulkan suara sepelan-pelannya.

"Ada apa, Jupiter?" tanya Paman Titus. Kekhawatiran terdengar di suaranya.

"Pintu depan sedikit terbuka," kata Jupiter. "Sebaiknya kita bergerak dengan hati-hati hingga
kita tahu apa yang sedang berlangsung dan apa yang telah terjadi terhadap Paman Atticus."
"Kau kira ia ada dalam bahaya?" tanya Bob.

"Sebaiknya kita tidak berspekulasi sampai kita selidiki lebih lanjut," kata Jupiter. Ketika Pete
telah membawa Bibi Mathilda yang terbelalak kembali ke depan rumah, Jupe memberi aba-aba
kepada Bob, Pete, dan Paman Titus.

"Data, tinggal di sini bersama Bibi Mathilda. Paman Titus dan Dua akan bergerak di setiap sisi
rumah, menuju ke balik rumah dan Pembalasan Ratu Anne sementara aku masuk melalui pintu
depan."

"Apa yang harus kita lakukan jika menjumpai seseorang?" tanya Pete gelisah.

Jupiter diam selama beberapa saat, memikirkan tanda yang baik. Ia mengangkat bahu.
"Berkaoklah seperti seekor gagak."

"Hati-hati, Anak-anak," kata Bibi Mathilda, "mungkin saja ada seorang pencuri. Jika kalian
mengejutkannya, ia bisa saja melakukan tindakan nekat."

"Wah, aku tidak berpikir ke situ," Pete mengernyit seraya mengendap-endap di sisi rumah.

Begitu berada di dalam rumah pamannya, Jupiter menyipitkan mata dan menunggu hingga
terbiasa dengan bagian dalam rumah yang remang-remang. Sambil berjingkat-jingkat di dalam
rumah yang sunyi, ia dapat melihat sosok-sosok besar di dalam bayang-bayang, tumpukan-
tumpukan rongsokan dari laut, dan peralatan menyelam. Di latar belakang terdengar bunyi laut
yang terus-menerus.

Tiba-tiba dari balik keremangan terdengar suara pintu ditutup secara perlahan. Jupe berhenti
sejenak di tengah rumah dan mengamati sekelilingnya. Remaja gempal itu menahan nafas dan
menunggu suara lain terdengar. Matanya menelusuri tumpukan barang bekas yang diambil dari
laut. Sepertinya Paman Atticus mempunyai barang bekas sebanyak Paman Titus -- hanya saja
miliknya berada di dalam rumah!

Ada beberapa peta pelayaran antik di dalam bingkai kayu buatan tangan. Ada jangkar-jangkar
berkarat yang berasal dari kapal yang telah lama tenggelam, tergeletak di samping tumpukan
peluru meriam. Bahkan ada pula sebuah pakaian selam model kuno yang digunakan untuk
menyelam di laut dalam, lengkap dengan helm tembaga dan katup-katup bundar. Helm itu
serupa dengan yang mereka bawa dari Rocky Beach.

Jupe mendekati pakaian kuno itu, yang tergantung dengan rantai tebal, dan berdiri di
depannya. Pastilah diperlukan seseorang yang sangat besar dan sangat kuat untuk
mengoperasikan pakaian itu, pikirnya. Ia telah membantu Pete mengangkat helm yang mereka
bawa dan memasukkannya ke dalam truk dan helm itu beratnya hampir 25 kg, tanpa katup-
katup bundarnya yang masing-masing terbuat dari kaca setebal 2,5 cm! Bagian-bagian lain
pakaian selam itu terbuat dari kanvas putih tebal dengan sebuah sabuk timah dan sepatu lars
timah besar. Jupiter merasa pakaian itu mirip dengan yang dikenakan alien-alien dalam sebuah
film fiksi ilmiah.

Ia mengagumi pakaian selam antik itu beberapa lama, kemudian berpaling, hendak meneruskan
mencari si penyusup. Namun tanpa peringatan pakaian antik itu sekonyong-konyong hidup!
Dengan gemerincing rantai lengan dan sarung tangannya yang besar merentang dan menangkap
Jupiter, mengunci lengan anak itu ke samping. Penyelidik Pertama, yang biasanya selalu
tenang, hanya dapat berteriak tertahan sebelum sebuah sarung tangan tebal membekap
mulutnya! Ia didekap dengan kuat dan kasar dan sekuat apapun ia memberontak, ia tidak dapat
membebaskan diri!

BAB III

LEGENDA SI JANGGUT HITAM

Reaksi pertama Jupiter dalam dekapan pakaian selam itu adalah panik namun
otaknya segera mulai bergerak dengan cara kerjanya yang teliti dan teratur. Ia
teringat akan suatu gerakan gulat yang pernah diajarkan oleh Pete dan tanpa
ragu-ragu ia mengangkat tangan kanannya yang digenggam si penyerang dan
merentangkannya di atas kepala, secara efektif membebaskan diri dari dekapan
maut si penyerang.

Dari balik pakaian selam itu terdengar sebuah geraman samar-samar. "Kau tak
bisa lari sekarang, pencuri sial! Akhirnya kutangkap basah kau!"

Begitu terlepas dari genggaman orang itu, Jupier segera berkaok seperti seekor
gagak sekencang-kencangnya. Selagi ia berbuat demikian, seraut wajah yang
tak asing muncul di samping pakaian selam itu dan mengerutkan kening.

"Pencuri macam apa kau ini?"

Jupiter berhenti berkaok-kaok dan berkedip. "Paman Atticus?"

"Jupiter?"

Pada saat itu orang-orang yang lain masuk berbondong-bondong ke dalam


ruangan yang remang-remang itu. Atticus Jones menyalakan lampu dan
tersenyum. Anak-anak takjub melihat seraut wajah yang nampak tidak asing.
Selain bahwa ia lebih pendek beberapa sentimeter dan memiliki kumis yang
lebih besar, Atticus Jones bisa mengaku sebagai saudara kembar Titus Jones.

"Titus Andronicus! Dasar penjahat tua, aku kira kau akan datang malam ini! Dan
kau membawa wanita tercantik di California Selatan bersamamu."

Bibi Mathilda mencibir dan menggoyang-goyangkan jari tangannya di depan


Atticus. "Kau sama sekali tidak berubah, Atticus Jones! Menakut-nakuti kami
dengan tipuanmu. Dan jangan coba-coba bermanis mulut di hadapanku. Simpan
saja untuk seorang wanita yang belum menikah, mungkin ia akan bisa
membantumu membereskan tempat ini. Kulihat sepertinya banyak yang harus
kulakukan di sini!"
Atticus Jones mencium tangan Bibi Mathilda dan terkekeh. "Jangan berani-
berani melakukan itu, Nyonya. Segala sesuatu yang ada di sini telah diatur dan
dikatalogkan dengan seksama. Aku punya sistem khusus dan jika kau
membereskannya, kau akan merusak segalanya. Aku melarangmu!" Kini ia
berpaling ke arah anak-anak, kumis walrusnya bergoyang-goyang seiring dengan
senyumannya. "Jupiter, sudah lama sekali. Kau tahu kau selalu merupakan
keponakan kesayanganku. Siapakah teman-temanmu ini?"

Tanpa ragu-ragu Jupe merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan salah satu
kartu nama Trio Detektif yang berukuran besar dan satu kartu lagi, dan
memberikannya kepada pamannya. "Mungkin ini bisa menjelaskan," katanya.
Pada kartu pertama tertulis:

TRIO DETEKTIF

"Kami Menyelidiki Apa Saja"

???

Penyelidik Pertama...........Jupiter Jones

Penyelidik Kedua............Peter Crenshaw

Catatan dan Riset..............Bob Andrews

Kartu kedua bertuliskan:

Dengan ini menyatakan bahwa pemegang kartu ini adalah seorang

Asisten Muda Sukarela yang bekerja sama dengan kepolisian

Rocky Beach. Bantuan apapun yang diberikan kepadanya akan

kami hargai.

Tertanda

Samuel Reynolds

Kepala Polisi

Jupiter, yang tidak pernah melewatkan kemungkinan akan adanya misteri,


segera meneruskan. "Tadi aku dengar yang Paman katakan dari balik pakaian
selam itu, Paman Atticus. Paman sepertinya menyangka aku adalah seorang
penjahat. Jika akhir-akhir ini terjadi pencurian, mungkin Trio Detektif bisa
membantu Paman."

Atticus Jones tertawa dan seperti menyembunyikan sesuatu mengusap


hidungnya yang besar, lalu menunjuk ke arah Jupe dan mengedipkan sebelah
mata. "Kakakku selalu berkata bahwa kau setajam paku payung. Aku mungkin
punya sesuatu untuk biro penyelidikmu."

Tapi sebelum ia sempat melanjutkan, terdengar ketukan keras di pintu depan.


Atticus Jones berjalan ke ruang depan, diikuti oleh para tamunya.

Seorang lelaki muda yang tampan, berusia kira-kira tiga puluh tahun, dengan
rambut pirang dan mata biru seperti kristal, berdiri terengah-engah di depan
pintu. Ia mengusap keringat dari keningnya dan berusaha mengatur nafas.

"Ada hasil, Cutter?" tanya Atticus suram.

Lelaki bernama Cutter itu menggelengkan kepala, sama sekali tidak


menghiraukan orang-orang yang berkumpul di dalam ruangan.

"Sayangnya tidak. Kukira aku melihatnya menuju kota, pakaiannya serba hitam.
Ia bisa ada di mana saja. Mungkin sekali ia bersembunyi di dalam salah satu
perahu yang masih tertambat. Kita takkan menemukannya sekarang."

"Demi petir!" geram Atticus. "Penjahat itu baru saja mencuri untuk terakhir
kalinya! Lihat saja nanti!"

Mata Jupiter berbinar-binar. "Jadi memang ada yang telah mencuri dari rumah
Paman! Dan bukan untuk pertama kalinya!"

Bibi Mathilda berdiri dengan tangan dilipat. Ia menatap Jupiter dengan galak.
"Jangan ikut campur urusan orang, Jupiter Jones. Klub teka-teki kalian harus
menunggu sampai kita kembali ke Rocky Beach. Ini urusan polisi."

Lelaki yang bernama Cutter menatap Jupiter, kemudian Atticus, dengan


bingung. "Klub teka-teki? Siapa mereka ini, Jones?"

Paman Atticus melingkarkan tangannya di pundak Jupe dan tersenyum. "Di


manakah sopan-santunku? Kapten Oscar Cutter, ini keponakanku Jupiter Jones,
sahabat-sahabatnya Bob dan Peter, dan kakakku Titus dan istrinya yang cantik
Mathilda. Mereka datang jauh-jauh dari Rocky Beach, California untuk
mengunjungiku."

Dengan sopan Kapten Cutter bersalaman dengan semuanya. "Sungguh


menyenangkan dapat bertemu dengan kalian. Kuharap kalian menikmati
kunjungan kalian di Anchor Bay. Aku berani jamin, kalian takkan menemukan
masakan salmon yang lebih enak di Pesisir Barat!"

Mendengar makanan disebut-sebut, perut Jupe mengeluarkan suara cukup


keras dan mereka semua tertawa terbahak-bahak.

Pete menepuk punggung Jupiter. "Inilah misteri yang sesungguhnya. Bagaimana


Jupiter bertahan sedemikian lamanya tanpa makanan?"

Titus Jones berdiri di samping adiknya dan menyalakan pipa, mengisapnya


dengan penuh perasaan selama beberapa saat. "Kurasa kita harus memanggil
polisi dan kemudian mencari makan. Anak-anak ini belum makan apa-apa sejak
makan malam kemarin."

Jones yang lebih muda menggelengkan kepala. "Tidak ada gunanya memanggil
polisi. Aku memanggil mereka setiap dua minggu selama dua bulan terakhir.
Mereka datang, mengendus-endus di sana-sini, dan setiap kali mengatakan hal
yang sama. Tidak ada yang dapat mereka lakukan. Mereka menyarankan aku
memasang alarm atau mengganti kunci pintu. Tapi apa gunanya? Bagi sebagian
besar orang, yang kujual hanyalah rongsokan tak berharga! Hanya seorang
kolektor benda-benda kelautan sejati tahu nilai sebenarnya dari penemuan-
penemuanku ini."

Jupiter memberi isyarat kepada Bob untuk mengeluarkan buku catatan kecil
dan pensilnya. Begitu Jupiter Jones mencium sebuah kasus, tidak ada yang
dapat menghentikannya hingga kasus itu terungkap -- apapun yang dikatakan
oleh Bibi Mathilda. "Apakah pencuri berpakaian hitam itu mengambil sesuatu
yang berharga pagi ini, Paman Atticus?"

Atticus Jones nampak terkejut. "Aku... aku tidak tahu. Sampai kini pencuri itu
hanya mengambil benda-benda sepele: beberapa peluru meriam, botol-botol
anggur tua, satu atau dua blunderbuss."

"Blunder-apa...?" tanya Pete.

"Blunderbuss," jawab Oscar Cutter. "Sejenis pistol antik yang digunakan oleh
bajak laut dan militer dulu. Benda semacam itu banyak terdapat di dasar laut
sekitar sini."

Giliran Bob yang bersuara. "Paman Titus pernah menyinggung bahwa Anda
menemukan suatu harta baru-baru ini, Mr. Jones. Sesuatu dengan nilai sejarah
yang besar. Mungkinkah benda itu yang dicari si pencuri?"

"Kau menemukan sesuatu yang besar?" tanya Cutter, suaranya terdengar sedikit
kesal karena tidak diikutsertakan dalam penemuan terbaru Atticus Jones.
"Kapan? Kau tidak pernah bercerita..."
Tapi Atticus tidak mendengarkannya. Wajahnya berubah muram. "Ya ampun!
Aku sama sekali tidak berpikir ke sana. Lebih baik kulihat kalau benda itu masih
ada!"

Atticus berlari melintasi rumah, diikuti oleh semua orang. Ia berhenti di


sebelah pakaian selam yang tadi dipakainya untuk menyergap Jupiter. Jupe kini
dapat melihat bahwa pakaian itu hanyalah sebuah hiasan yang ditopang oleh
sebuah papan miring di baliknya. Atticus membuka dua buah gerendel dan
membuka suatu peti tua. Ia berseru tertahan.

"Hilang! Demi Tuhan... benda itu hilang!"

Jupiter, Pete, dan Bob berkerumun di sekeliling Atticus dan mengintip ke


dalam peti tua itu. Peti itu nampak seperti satu dari ratusan peti serupa yang
muncul di pangkalan barang bekas selama bertahun-tahun. Jelas tidak cukup
kokoh untuk menyimpan suatu harta di dalamnya, pikir Jupiter. Seorang anak
kecil dapat dengan mudah mengambil isinya. Peti itu bahkan tidak dikunci!

Titus seperti berdansa, melompat dari satu kaki ke kaki yang lain. "Apa itu, Dik?
Apa yang telah diambil? Ayo bicara sebelum aku mati penasaran!"

Atticus Jones mendesah dan mengusap keningnya dengan sehelai sapu tangan.
"Penemuan terbaruku..." ia menghela nafas tanpa daya. "Kalau benda itu
benar-benar seperti yang kuduga, segala sesuatu yang sekarang kita ketahui
tentang peninggalan William Teach akan berubah!"

"William Teach?" kata Jupiter bersemangat. "Maksud Paman Si Janggut Hitam?"

"Satu-satunya," gumam Atticus.

"Kau pikir kau telah menemukan sesuatu milik Janggut Hitam?" Cutter berseru
tak percaya. Pria itu seolah-olah hendak pingsan dan harus meraih sebuah meja
kayu untuk mengembalikan keseimbangannya.

"Kemungkinan... Kemungkinan," kata Atticus Jones, menggeleng-gelengkan


kepala. "Aku sedang mencari rongsokan dari sebuah kapal karam di dekat
Semenanjung Ocracoke -- kalau kau tahu tempat yang tepat, banyak sekali
bangkai kapal di sana -- ketika aku menemukan sesuatu yang besar!" Atticus
memandang anak-anak. "Kalian tahu sejarah William Teach?"

"Jupe tahu banyak!" kata Pete bangga. "Kami telah mengungkap berbagai kasus
yang menyangkut perompak, meskipun misteri-misteri itu berhubungan dengan
perompak dari Pantai Barat, seperti legenda Perompak Ungu."

Jupiter, yang memiliki daya ingat yang menakjubkan dan bakat untuk
mengingat kembali nyaris semua yang pernah dibacanya, menarik nafas
panjang. "William Teach, lebih dikenal sebagai Si Janggut Hitam, memulai
petualangan lautnya pada akhir 1600-an sebagai perompak di kawasan yang kini
dikenal sebagai North Carolina. Perompak adalah suatu profesi yang legal dan
bahkan didukung oleh pemerintahan waktu itu. Sebenarnya karir Janggut Hitam
sebagai bajak laut tidak berlangsung lama. Sekitar tahun 1716 ia memiliki
armada yang terdiri dari empat buah kapal: kapal utamanya Pembalasan Ratu
Anne, dua buah kapal bertiang satu Petualangan dan Balas Dendam, dan kapal
kecil yang digunakan untuk memperbaiki tiga yang lain."

Atticus Jones mengagumi pengetahuan keponakannya akan bajak laut namun


Jupiter baru saja mulai. "Pada tahun 1718 Si Janggut Hitam dan anak buahnya
yang terdiri dari hampir tiga ratus orang sangat ditakuti di kawasan Pantai
Timur sehingga kapal-kapal lebih suka berlayar menjauhi North Carolina,
ratusan mil menyimpang dari tujuan untuk menghindari mereka.

"Gubernur Spotswood dari Virginia, setelah yakin bahwa gubernur North


Carolina tidak melakukan apapun, memutuskan untuk menindak para bajak
laut. Ia mengirim dua kapal perang di bawah komando Letnan Robert Maynard
ke sebuah kanal yang dikenal sebagai Lubang Teach.

"Yang terjadi selanjutnya adalah pertempuran berdarah yang di dalamnya


Pembasalan Ratu Anne dan Petualangan tenggelam. Konon Janggut Hitam
mendapat lebih dari tiga puluh luka dalam pertempuran itu, termasuk luka
tembakan dan pisau. Dikatakan bahwa ia mengarahkan peluru terakhirnya ke
arah kepala Letnan Maynard sebelum kemudian jatuh dan tewas di atas geladak
kapal Maynard yang penuh darah tanpa sempat menarik pelatuk. Letnan
Maynard memenggal kepala Janggut Hitam sebagai bukti kematian bajak laut
itu dan menggantungnya di tiang utama kapalnya. Kemudian ia membuang
tubuh bajak laut itu ke laut. Menurut para anak buahnya tubuh Si Janggut
Hitam demikian jahatnya sehingga ia sempat berenang mengelilingi kapal
Angkatan Laut itu tiga kali sebelum akhirnya tenggelam."

Bibi Mathilda menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah-olah hendak


menyingkirkan bayangan tewasnya Si Janggut Hitam. "Cerita yang sungguh
seram! Aku tidak dapat membayangkan mengapa kau mengisi kepalamu dengan
sampah seperti itu, Jupiter."

"Jadi sekarang kita semua tahu latar belakang Si Janggut Hitam," kata Oscar
Cutter dengan tidak sabar, "apa hubungannya dengan penemuanmu?"

Atticus Jones memandang peti yang kosong dengan tatapan kosong dan
mendesah lagi. "Kau telah mendengar bagaimana Pembasalan Ratu Anne dan
Petualangan tenggelam dalam pertempuran di Lubang Teach?"

"Ya, lalu?" desak Cutter.


"Nah," kata Atticus, "sekarang kutanya: apa yang terjadi terhadap kapal ketiga?
Balas Dendam tidak pernah disebut-sebut, begitu pula dengan kapal keempat.
Menurut legenda setempat di North Carolina, Janggut Hitam memindahkan
semua harta dari kedua kapalnya ke atas Balas Dendam dan kemudian
menenggelamkan Pembasalan Ratu Anne dan Petualangan untuk mengurangi
ukuran armadanya. Secara kebetulan, pada hari yang sama Maynard menyerbu.
Harta itu tidak pernah ditemukan hingga kini."

Oscar Cutter terlihat tidak percaya. Ia bangkit dan mulai mondar-mandir.


"Apakah kau bilang Balas Dendam berlayar mengelilingi Kepulauan America
hingga ke Pantai Barat? Ke Oregon? Kuharap kau sadar betapa tidak masuk
akalnya hal ini! Kejadian itu lama sebelum Terusan Panama mulai
direncanakan! Kapal itu terlalu kecil untuk melakukan perjalanan sejauh itu!"

Atticus mengangkat tangannya dalam keputusasaan. "Aku tahu, aku tahu!


Meskipun demikian berdasarkan penemuanku, memang itulah yang telah
terjadi!"

"Dan apakah penemuan Anda itu, Mr. Jones?" Pete ingin tahu.

Atticus Jones menatap kosong ke arah peti. "Terkubur di bawah pasir dan
kerikil Semenanjung Ocracoke terdapat sesuatu yang kupercaya merupakan
tiang haluan dari kapal ketiga Janggut Hitam, Balas Dendam."

"Apa itu tiang haluan?" tanya Bob.

"Tiang haluan," Jupiter menjelaskan, "adalah suatu tiang panjang atau patung
yang menempel di haluan sebuah kapal. Pada masa itu seringkali dalam bentuk
wanita cantik atau putri duyung."

"Juputer benar," kata Atticus. "Namun tiang haluan Balas Dendam berwujud
seekor elang raksasa setinggi empat kaki. Cakar dan paruhnya terbuat dari
perunggu dan matanya batu delima!"

"Dan itukah yang kau temukan?" desak Bibi Mathilda. "Seekor burung raksasa?"

"Tidak juga," jawab Atticus, menggelengkan kepala. "Kayu itu pasti telah lapuk
dan hancur ratusan tahun yang lalu. Yang kutemukan adalah sebuah cakar
perunggu di dasar laut -- dengan ukuran dan bentuk yang tepat untuk seekor
elang kayu setinggi empat kaki!"

BAB IV

KASUS BARU!
"Tidak masuk akal!" Oscar Cutter tertawa. "Cerita yang terlalu ajaib untuk
menjadi kenyataan!"

"Aku tahu hal itu memang terdengar mustahil," Atticus Jones mengakui, "dan
sangat mungkin cakar itu berasal dari sebuah kapal yang lain sama sekali.
Namun kemungkinan itu -- kemungkinan sejuta banding satu bahwa harta karun
Si Janggut Hitam tersebar di dasar perairan Ocracoke ... ayolah, Cutter,
bahkan kau pun, seorang skeptis sejati, pasti mengakui bahwa ini adalah
impian seorang pemburu bajak laut!"

Oscar Cutter mengibaskan tangan dengan kesal dan berjalan menuju pintu.
"Kau ingin tahu apa pendapatku, Jones? Kurasa ada buih nitrogen di dalam
otakmu akibat terlalu cepat keluar dari ruang dekompresi. Kata-katamu tidak
masuk akal! Dan sekarang, aku mohon diri, aku harus pergi. Universitas tidak
membayarku untuk memburu legenda gila. Mereka menuntut bukti nyata." Ia
menoleh ke arah Titus dan Mathilda, tidak menghiraukan anak-anak. "Senang
berkenalan dengan Anda." Dan ia pun berpaling dengan kaku dan berjalan ke
mobilnya.

Pete menggaruk-garuk kepalanya sambil memandangi lelaki pirang itu pergi


menjauh di dalam mobil putihnya yang kecil. "Wah, ada apa dengannya?"

Atticus Jones menenangkannya. "Jangan hiraukan Cutter. Ia berasal dari


keluarga pelaut dan kesal jika bajak laut disebut-sebut. Ia emosional namun
tidak berbahaya. Ia juga seorang penyelam. Bahkan ia punya tempat penggalian
besar beberapa mil di sebelah utara tempat penggalianku. Sebuah universitas
di Portland mendanainya dan ia terus-menerus ditekan. Universitas itu
menginginkan hasil atau mereka akan menghentikan kucuran dana. Itulah
sebabnya aku bekerja seorang diri. Aku tidak tahan jika ada seseorang yang
mengawasiku selagi aku bekerja!"

Jupiter masih sibuk berpikir tentang si penyusup berpakaian serba hitam. Ia


mendesak pamannya. "Paman Atticus punya dugaan siapa orang itu? Maksudku,
siapa yang mau menyusup ke rumah ini? Sepertinya benda-benda rongsokan dari
kapal karam bukanlah sesuatu yang berharga. Tidak ada pasar yang besar untuk
jangkar dan peluru timah."

Atticus Jones menatap Jupe. "Jupiter, Anakku, itu adalah pengamatan yang
sangat teliti. Dan aku tahu siapa penjahat yang menyusup ke rumahku!"

"Anda tahu siapa orangnya?" Pete terkejut. "Kalau demikian mengapa Anda
tidak bilang dari tadi? Kita bisa memanggil polisi!"

"Ahh..." kata Atticus, "tidak ada bukti, Peter. Tapi dengan bantuan Trio
Detektif kurasa aku bisa mendapatkan cukup bukti untuk mengirim para
Perompak Baru dari Barat ke balik terali besi selama beberapa waktu!"
"Perompak Baru dari Barat!" seru Bob bersemangat. "Maksud Anda, benar-benar
ada bajak laut yang masih hidup di Anchor Bay?"

Atticus tertawa dengan ceria, mengembalikan penutup peti, dan duduk di atas
peti itu, yang hingga beberapa saat sebelum itu menyimpan Cakar Perunggu.
Atticus tidak mau bersusah payah memasang kembali gerendel di peti yang kini
kosong itu. "Bukan bajak laut sesungguhnya, Bob, meskipun mereka menyebut
diri perompak. Perompak Baru dari Barat adalah sebuah organisasi pria dan
wanita dari California Selatan hingga Washington yang mengaku keturunan
bandit-bandit zaman dahulu dari Pantai Barat. Bajak laut seperti Black Jack
Sebastian, Kapten Ronald 'Kaki Kayu' LeForge, Salty Jon Waters, dan Black
Peter Blanch. Banyak yang tidak punya bukti kuat selain nama keluarga yang
sama namun beberapa memang benar-benar keturunan langsung."

"Perompak di Anchor Bay," dengus Bibi Mathilda, "sekarang aku sudah


mendengar semuanya! Ide konyol..." gumamnya, lalu kembali ke tumpukan
peta kuno yang sedang dirapikannya di atas meja Atticus yang penuh sesak.

Jupiter tidak menghiraukan bibinya dan menatap pamannya dengan tatapan


puas. "Kuduga Perompak Baru dari Barat menentang pengambilan barang-
barang dari kapal karam, terutama kapal bajak laut. Mereka menganggap
Paman mengganggu ketenangan tempat peristirahatan terakhir leluhur
mereka."

"Benar-benar menakjubkan!" seru Paman Atticus. "Memang itulah pekerjaan


mereka! Setiap kali aku pergi untuk mengadakan ekspedisi, aku harus
berurusan dengan tiga atau empat perahu motor yang mengelilingi perahuku.
Perahu-perahu mereka mengeruhkan air dan membuat penyelamanku sungguh
berbahaya. Tapi aku tidak akan menyerah! Aku pernah menyelam dalam kondisi
terburuk dan air yang sedikit berombak takkan cukup untuk menakut-nakuti
Atticus Jones!"

"Tapi kini lebih dari air yang berombak," tukas Titus. "Kini mereka melanggar
dan mencuri hak milikmu."

"Memang benar," kata Atticus setuju. "Dan aku tidak dapat menjelaskannya.
Seperti yang kukatakan tadi, kejadiannya hanya sekali setiap dua minggu kira-
kira dan setiap kali mereka hanya mengambil satu benda. Sesungguhnya aku
belum pernah memergoki seorang pun. Oscar melihat seseorang pagi ini dan itu
pertama kalinya. Kurasa kejadian-kejadian itu hanyalah peringatan bahwa para
perompak itu mengawasiku, berusaha menakut-nakuti aku sehingga berhenti
menyelam. Mungkin tidak akan terjadi apa-apa selama kalian di sini."

"Dapatkah aku dan rekan-rekan berasumsi Paman hendak menyewa Trio


Detektif?" tanya Jupiter dengan gayanya yang paling profesional.
Bibi Mathilda mencibir dan menggeleng-gelengkan kepala sementara Atticus
Jones mengeluarkan dompet usangnya dan mengambil selembar uang kertas
senilai dua puluh dolar. "Uang muka," katanya sambil menyerahkannya kepada
Jupiter. "Nanti akan ada dua puluh lagi untuk kalian masing-masing jika kalian
berhasil menangkap pencuri yang mengambil Cakar Perunggu sebelum kalian
kembali ke Rocky Beach dua minggu lagi!"

Jupiter tidak tahan untuk tidak menyeringai. Tidak ada yang dicintainya lebih
daripada sebuah misteri yang menantang dan otaknya sudah mulai berputar
kencang memikirkan kasus baru ini. "Paman tahu perwakilan Perompak Baru
dari Barat di daerah ini?"

"Aku tahu," kata pria berkumis besar itu, "tapi aku tidak akan memberi tahu
kalian!"

Jupiter, Pete, dan Bob nampak terkejut. "A-Apa..." Jupe hendak mengatakan
sesuatu. Ia berhenti ketika melihat seringai nakal pamannya.

"Maksudku, aku tidak akan memberi tahu kalian sebelum kita memasukkan telur
dan daging panas serta jus jeruk ke dalam perut lapar kalian masing-masing!"

BAB V

PARA PEROMPAK BARU

Setelah menyantap sarapan besar di sebuah rumah makan di pusat Anchor Bay, Trio Detektif
berjalan melewati jalan setapak yang penuh dengan turis, mengikuti petunjuk Atticus, menuju
ke markas Perompak Baru dari Barat.

"Menurut Paman Atticus Anchor Bay benar-benar telah berubah menjadi sarang turis," kata
Jupiter, mengamati suatu keluarga yang sedang berkantong-kantong permen dari seorang
pedagang pinggir jalan. "Sebagian tertarik untuk memancing, yang lain menikmati toko-toko
kecil dan rumah makan. Bahkan ada permainan video dan lintasan go-kart untuk anak-anak.
Kurasa semua orang berusaha meraup keuntungan dari para turis. Itulah sebabnya Paman
Atticus membuka toko barang antiknya. Ia merasa ada baiknya ia mengambil untung dari segala
benda tua yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun. Ini dia tokonya."

Anak-anak berhenti di depan sebuah toko kecil yang terjepit di antara sebuah toko lilin dan
sebuah toko teh. Mereka mengintip melalui jendela kaca yang tebal. Bagian dalam toko itu
nampak kosong dan sunyi. Sebuah tanda di pintu berbunyi:

"BARANG-BARANG ANTIK KELAUTAN JONES"

Atticus Jones, Pemilik

Akan Dibuka Tanggal 8 Juni


Anak-anak membeli permen dan mengunyahnya sambil melanjutkan berjalan menyusuri jalan
setapak beralas kayu itu. Mereka telah melewati beberapa blok lagi dan hampir mencapai batas
kawasan bisnis itu ketika Bob berseru.

"Lihat!"

Jupe dan Pete mengikuti pandangannya ke arah atap-atap. Sebuah bendera besar berwarna
hitam dengan gambar tengkorak dan tulang bersilang putih berkibar di sebuah tiang di samping
sebuah pos pemadam kebakaran tua.

"Jolly Roger," kata Pete. "Teman-teman, kurasa kita telah menemukan para perompak kita!"

"Menurutmu apakah ada baiknya kita semua masuk, Pertama?" tanya Bob kepada Jupiter.

Remaja gempal itu menggeleng dan berpikir sejenak. "Sebaiknya hanya satu saja yang masuk.
Tidak ada gunanya kita bertiga memamerkan wajah, ada kemungkinan kita nanti harus
membuntuti seseorang."

"Kubilang Jupe saja yang masuk," kata Pete. "Ia lebih cocok untuk hal-hal semacam ini. Aku
tidak pernah tahu harus berkata apa."

Bob setuju. "Ia benar, Pertama. Kau jauh lebih baik daripada kami berdua dalam hal mengarang
cerita."

Jupiter menatap kedua rekannya. "Kalian berdua perlu berlatih mengumpulkan informasi. Tapi
karena kita tidak punya banyak waktu di Anchor Bay, biar aku yang masuk."

"Sementara itu, Pete dan aku akan mengamat-amati sekitar gedung itu," kata Bob, "siapa tahu
kami melihat sesuatu yang mencurigakan."

"Kita bertemu di ujung blok ini dua puluh menit lagi," kata Jupiter sambil berjalan menuju ke
pos pemadam kebakaran tua itu. "Kalau saat itu aku belum muncul, kembalilah ke rumah
Paman Atticus dan tunggu aku di sana."

Bob dan Pete mengangguk dan mulai berjalan mengelilingi blok itu, menuju ke arah suatu
lorong sempit yang berada di belakang gedung-gedung tua itu.

Seraya berjalan mendekati markas Perompak Baru dari Barat, Jupiter membiarkan bahunya
turun dan wajahnya yang tembam cemberut. Jupe pernah menjadi seorang aktor kanak-kanak
untuk televisi dan sangat berbakat dalam berakting. Jika mau, ia dengan bagus sekali dapat
memerankan seorang anak yang agak terbelakang. Ia menarik pegangan pintu yang aus dan
sebuah lonceng tembaga besar di atas pintu berbunyi. Ketika ia menutup pintu di belakangnya,
lonceng itu berbunyi lagi.

Jupe berdiri di samping pintu depan itu dan mengamati sekelilingnya. Bekas markas pemadam
kebakaran itu sedang dalam proses perbaikan. Bau cat basah dan bubuk gergaji mengambang di
udara dan ia dapat melihat gergaji, papan, palu, dan paku berserakan di ruang depan yang
besar. Ia memasuki ruangan besar yang remang-remang itu dan memanggil, suaranya memecah
kekosongan.

"Halo! Ada orang di sini?"


Tidak ada jawaban. Ia melihat jam tangannya dan melihat bahwa saat itu baru pukul sembilan
lewat empat puluh lima menit. Sudah terlambat untuk sarapan dan terlalu pagi untuk makan
siang. Penyelidik Pertama berjalan lebih jauh ke dalam ruangan dan kembali memanggil.

"Halo! Ada orangkah?"

Jupiter nyaris tidak mendengar suara aneh yang bergemerisik dari suatu tempat di atasnya
sebelum ia mendapati dirinya bertatapan muka dengan seorang perompak yang bengis! Ia
tersentak dan mundur beberapa langkah, membentur kuda-kuda gergaji dan menjatuhkan
sebuah palu dan sekantong paku ke lantai, menimbulkan bunyi keras!

Bajak laut berwajah kejam itu mengenakan topi khas bajak laut, jaket pelaut panjang
berwarna merah, sepatu lars hitam setinggi lutut, dan kemeja putih yang lusuh. Yang paling
parah, sebilah belati menyeramkan terselip di sela-sela gigi-giginya yang putih berkilau.

Ketika Jupe melihat pisau tergigit di antara gigi-gigi perompak itu, ia segera menemukan
kembali keberaniannya.

"Kostum Anda cukup meyakinkan," katanya, mulai tenang, "namun gigi Anda terlalu putih untuk
seorang bajak laut sejati. Untuk efek yang lebih meyakinkan, Anda harus mendatangi toko
kostum dan membeli gigi palsu."

Perompak menyeramkan itu meluruskan tubuhnya dan memiringkan kepalanya ke samping. Ia


mengambil belati di mulutnya, mengusapkan mata pisaunya ke celana, dan menyeringai.
"Baiklah, aku bukan bajak laut sejati. Tapi akuilah, untuk sesaat kau benar-benar ketakutan."

Jupiter menyadari bahwa ia telah lupa sama sekali akan aktingnya sebagai seorang anak bodoh
akibat kemunculan si perompak yang mengagetkan itu. Sudah terlambat sekarang. "Bukan
ketakutan," katanya, tersenyum kecut, "terkejut lebih tepatnya. Saya sempat lupa bahwa
bangunan ini tadinya merupakan pos pemadam kebakaran. Saya tidak menyadari bahwa tiang
kuningan yang ada di sebelah saya ini merupakan tiang yang digunakan para petugas pemadam
kebakaran untuk meluncur turun."

Bajak laut itu menaikkan alisnya, tercengang. "Pernahkah ada yang bilang kepadamu bahwa kau
bicara seperti kamus?" tanyanya. "Namaku Gaspar St. Vincent. Sebenarnya nama asliku adalah
Francis Shoe. Tapi siapa yang pernah mendengar ada perompak laut bernama Francis? Jadi
panggil saja Gaspar."

Jupe berjabat tangan dengan bajak laut yang ramah itu dan kemudian segera menuju ke pokok
masalah. "Apakah Anda satu-satunya yang bekerja di Perompak Baru dari Barat, Gaspar?"

"Sebenarnya tidak ada yang bekerja di sini," kata Gaspar menjelaskan, "kami organisasi nirlaba.
Semua orang hanyalah sukarelawan. Satu-satunya syarat menjadi anggota adalah hubungan
keluarga dengan seorang perompak masa lalu. Apakah kau hendak mendaftarkan diri?"

Jupiter berpikir cepat. "Oh, sebenarnya saya sedang mengerjakan suatu tugas tentang bajak
laut untuk semester pendek. Saya mendengar tentang Perompak Baru dari Barat dari paman
saya dan merasa menemukan subjek yang tepat untuk karya tulis saya. Anda keberatan saya
wawancarai?"
Gaspar menarik kerah jaket panjangnya dan mendongakkan dagu. "Kurasa sudah waktunya
orang-orang bodoh di atas itu kuberi daging kambing dan arak. Ikuti aku, anjing kurap!"

Jupiter terkekeh mendengar ucapan khas perompak yang kasar itu dan ia mengikuti pria itu
menaiki tangga melingkar ke lantai dua markas pemadam kebakaran tua itu. Dalam hati ia
merasa Gaspar St. Vincent akan cocok sekali berperan dalam pertunjukan Sarang Perompak
Ungu milik Jeremy Joy yang pernah ditontonnya bersama Bob dan Pete ketika mereka
mengusut Misteri Perompak Ungu.

Ketika mereka sampai di ujung tangga, mata Jupiter terbelalak dan mulutnya ternganga,
terkejut melihat yang ada di lantai dua.

Seluruh lantai itu merupakan suatu ruangan besar yang mirip museum. Dinding-dindingnya
dibuat terlihat seperti bagian dalam sebuah kapal, dengan roda-roda kemudi besar dari kapal-
kapal kuno, jaring, jangkar, dan layar setinggi enam meter. Di tengah ruangan terdapat
tempat-tempat dari kaca. Masing-masing berisi artifak seperti pistol, pisau, alat makan, dan
pakaian. Penjelasan masing-masing benda tertempel dengan rapi di sisinya.

Namun yang paling mengejutkan Jupiter adalah patung-patung lilin. Di dalam ruangan itu Jupe
menghitung ada paling tidak selusin patung para bajak laut paling terkenal dalam ukuran
sebenarnya. Ada Si Janggut Hitam yang berdiri di samping Caesar dan Red Anny tepat di
sebelah William Evans. Masing-masing patung diukir dengan memperhatikan bagian-bagian
terkecil, dari janggut di dagu hingga ke belati di ikat pinggang mereka. Jupe merasa patung-
patung itu cukup hidup untuk melompat turun dari landasan berdiri mereka dan siap
membantai!

Gaspar memulai narasi yang jelas dihapal. "Perompak Baru dari Barat adalah suatu atraksi yang
menghibur sekaligus mendidik seluruh keluarga yang akan dibuka dari pukul sembilan hingga
pukul lima selama musim panas dan dua kali seminggu dari pukul sembilan hingga pukul dua
setelah musim berlibur usai -- jika kami dapat menyelesaikan pekerjaan ini sebelum
pembukaan. Sayangnya pembukaan tinggal dua minggu lagi dan kami bahkan belum mulai
dengan lantai dasar."

"Anda berkata 'kami'," sela Jupiter, memandang berkeliling, "siapa lagi yang ada di sini?"

"Ah, konyolnya aku," desah Gaspar, "yang lain ada di atap. Seperti yang kau lihat sendiri, ini
adalah bangunan tua dan kami harus bekerja keras memperbaikinya. Untunglah banyak pendiri
Perompak Baru yang berprofesi dokter dan pengacara. Atap bangunan ini sungguh butuh sapuan
tir. Anggota kelompokku yang lain ada di atas, mengerjakannya. Kau ingin bertemu dengan
mereka?"

Jupe hendak berkata tidak usah namun Gaspar St. Vincent yang aneh itu sudah mulai
melangkah di tangga yang menuju ke atap. "Ikuti aku!" serunya.

Jupiter menaiki anak-anak tangga itu dan muncul di teriknya matahari. Di atas atap ada dua
orang lelaki dan seorang gadis, semua berpakaian bajak laut. Mereka baru saja selesai dengan
tir.

Gaspar menoleh ke arah Jupe dengan wajah memerah. "Maaf, anak muda, aku tidak tahu
namamu."

"Jupiter Jones."
"Cocok!" seru Gaspar. "Nama yang cocok untuk seorang bajak laut!" Ia berpaling kepada ketiga
perompak dengan kuas tir. "Perhatian! Awak Kapal Bly, Peterson, dan O'Reilly, perkenalkan
Master Jones. Ia sedang menyusun laporan tentang bajak laut untuk tugas sekolah."

Ketiga perompak itu meletakkan kuas mereka ke dalam ember berisi cairan hitam dan lengket
dan mendekat. Seorang pria besar dan berotot dengan penutup mata menyulut sebatang rokok.
"Sekolah mana?" tanyanya dingin.

"Maaf?" Jupiter terkejut.

"Francis bilang kau di sini untuk tugas sekolah. Sekolah mana itu?" ulang Bly, mata satunya
menyipit memandang Jupe dengan melecehkan.

Jupe tidak ragu-ragu. "Sekolah Menengah Rocky Beach. Semester pendek untuk kelas sejarah.
Saya sedang menulis tentang bajak laut."

"Tidak pernah dengar," kata Bly curiga.

"Cukup jauh ke selatan dari sini," Jupe menjelaskan dengan lancar. "Saya sedang berlibur di
sini."

"Sepertinya ada udang di balik batu," perompak kekar itu bergumam sambil berjalan menuju
tangga.

Gaspar menepuk punggung Jupe sementara mereka memandangi pria itu menuruni tangga.
"Lupakan Connie Bly. Ia bekerja sepanjang pagi di bawah terik matahari. Siapa tahu setelah ini
ia akan mengikatmu di ujung geladak dan memberimu lima puluh cambukan."

Seorang gadis muda yang cantik dengan kawat gigi tersenyum dan menjabat tangan Jupe.
Usianya tidak jauh berbeda dengan Jupe. Ia mengenakan kemeja bergaris-garis dan kepalanya
terbungkus bandana. "Hai! Namaku Ashley O'Reilly. Ayahku anggota di sini. Aku hanya
membantu-bantu secara suka rela."

Perompak yang kedua mengangguk ke arah Jupe dan tersenyum. "Senang bertemu denganmu,
Nak. Aku Vic Peterson, salah seorang pendiri Perompak Baru. Apakah ada leluhurmu yang bajak
laut? Hanya itu yang kau butuhkan untuk bergabung. Bahkan kalaupun tidak, kami selalu
menerima sukarelawan yang dapat menggunakan gergaji dan palu. Kau punya teman yang
mungkin tertarik?"

Jupiter tersenyum sopan dan kemudian menjelaskan bahwa ia hanya akan berada di Anchor Bay
selama dua minggu. Selain itu, pikir Jupiter, ia lebih suka mengkaryakan otaknya daripada
ototnya.

Gaspar tersenyum kepada teman-teman perompaknya. "Silakan menyelesaikan dan setelah itu
pergi makan siang."

Gaspar memimpin Jupiter kembali ke bawah. Ketika mereka tiba di lantai dasar, Jupe
menoleh. "Mr. St. Vincent, saya sempat melihat hiasan-hiasan di lantai dua. Saya mendapat
kesan Perompak Baru menentang pengambilan benda-benda dari kapal bajak laut yang
tenggelam."
"Memang demikian!" Gaspar berkata dengan penuh perasaan. "Semua yang kau lihat di atas itu
adalah replika yang sama persis. Replika adalah tiruan benda asli, aku yakin kau tahu. Tujuan
utama Perompak Baru adalah mendidik masyarakat dan menghentikan pengrusakan warisan
kita! Tapi karena kami belum lagi buka, bagaimana, kutanya, kau bisa tahu bahwa kami
menentang penghancuran sejarah leluhur kita -- juga batu karang yang menjadi rumah bagi
jutaan spesies yang hidup di laut?"

Jupiter merasa tidak ada salahnya berkata jujur kepada Gaspar. Perompak itu nampak sangat
ramah. "Paman saya adalah Atticus Jones, penyelam yang sedang bekerja di suatu tempat dua
mil ke arah pantai. Ia berkata bahwa organisasi ini telah mengitari perahu-perahu mereka
sebagai protes."

Mendengar pengakuan ini kedua mata Gaspar menyipit dan berubah dingin. "Jadi kau
bersaudara dengan dia! Hal itu sebenarnya sudah cukup untuk menyuruhmu berjalan di atas
papan!"

"Berjalan di atas papan" adalah istilah bajak laut yang mengacu pada salah satu hukuman
mereka yang terkenal. Orang terhukum diperintahkan berjalan sepanjang papan pendek yang
menjorok ke atas laut dari sisi geladak kapal, hingga akhirnya tercebur ke laut.

Lonceng di atas pintu berdentang ketika Gaspar membukanya. Ia praktis mendorong Jupe
keluar. "Hingga pamanmu berhenti menghancurkan makam leluhur kami, kau dilarang masuk ke
Perompak Baru dari Barat! Selamat jalan, Jones!"

"T-t-tapi..." Jupiter tergagap.

"Ah, ah," potong Gaspar sambil menggoyang-goyangkan jari. "Dan jangan sampai kulihat kau di
sekitar sini lagi!" tukasnya -- sebelum membanting pintu di depan wajah Jupiter!

BAB VI

PRIA BERPAKAIAN HITAM

Sementara Jupiter menyelidiki bagian dalam pos pemadam kebakaran tua, Pete
dan Bob berjalan ke balik bangunan itu. Mereka melihat bahwa terdapat lorong
sempit di belakang kawasan bisnis itu, digunakan oleh truk-truk untuk
menurunkan muatan. Pete menduga salah satu dari bangunan itu adalah rumah
makan karena ia dapat mencium bau sedap makanan laut yang sedang dimasak.
Meskipun ia baru saja makan, ia menjilat bibirnya dan menghirup dalam-dalam.

"Aku mencium aroma kaki kepiting," erangnya. "Aku berani bertaruh Jupe dapat
menciumnya dari dalam markas pemadam kebakaran itu."

Bob tidak menghiraukan rekannya dan terus berjalan. Di sisi jalan yang
menghadap ke laut tertanam pohon-pohon pinus dan semak-semak. Semak-
semak itu kemudian dilanjutkan oleh batu-batu karang besar dan kemudian
beberapa meter pantai berpasir, sebelum akhinya bermil-mil air hingga ke kaki
langit.
Pete memandangi ombak dan mendesah. Secara naluriah ia mencintai laut dan
terkadang merasa lebih baik berada di lautan daripada mengusut suatu kasus.
Namun setiap kali ia berpikir demikian, Jupe dan Bob selalu mengingatkannya
bahwa Trio Detektif sedang bekerja.

"Bumi kepada Dua," kata Bob. "Tenang, Pete, akan ada banyak waktu untuk
masuk ke air sebelum kita pulang."

"Kuharap demikian," gerutu anak yang lebih besar itu. "Aku ingin menyelam
bersama paman Jupiter. Aku ingin mencari harta Si Janggut Hitam untuk
dibawa pulang ke Rocky Beach!"

Kedua detektif itu sedang mendekati pintu belakang markas Perompak Baru
dari Barat ketika Bob tiba-tiba berhenti. Ia bergegas merunduk di balik
beberapa tong sampah, menarik Pete agar berbuat yang sama.

"Hei..." seru Pete terkejut.

Bob meletakkan jari di bibir dan menunjuk ke arah pos pemadam kebakaran.
"Ada yang keluar lewat pintu belakang," bisiknya.

Pete mengintip dari atas tong-tong sampah dan mengamati seorang pria
berbadan besar dengan kostum bajak laut membuka pintu belakang sebuah
mobil kecil berwarna putih. Pria itu mengenakan bandana merah di kepalanya
dengan gaya perompak yang pernah anak-anak lihat di dalam buku, anting-
anting besar, dan penutup mata.

"Wah, ia benar-benar seram," bisik Bob. "Ia sungguh nampak seperti bajak laut
sejati!"

"Benar," Pete sependapat. "Tidak sulit membayangkan ia punya hubungan darah


dengan Si Janggut Hitam."

Pete dan Bob mengintip lagi. Mereka menyaksikan perompak penuh otot itu
menyulut sebatang rokok, kemudian menanggalkan rompi kostumnya dan
menggantinya dengan rompi kulit yang diambilnya dari bagian belakang mobil
kecil itu. Ia membanting pintu belakang hingga tertutup dan hendak masuk ke
mobil ketika sesuatu yang tidak disangka-sangka terjadi.

Tutup tempat sampah di depan Pete tiba-tiba jatuh dengan suara berdentang
dan seekor kucing liar melompat keluar dari dalam, mengeong dengan ganas.
Terkejut, Pete berteriak dan jatuh ke belakang, menjatuhkan beberapa tong
sampah lainnya.

Sejenak Bob menyangka si perompak tidak mendengar keributan itu. Namun


kemudian pria seram itu membanting rokoknya ke tanah sambil mengumpat
dan berlari ke arah mereka. Bob menelan ludah dan memandang berkeliling
mencari jalan keluar. Ia tahu Pete dapat berlari lebih cepat daripada orang itu
namun ia tidak yakin akan dirinya sendiri. Tatapannya jatuh pada sebuah pintu
besar berwarna abu-abu dengan tulisan "PINTU PELAYAN." Ia menyeret Pete dan
membuka pintu itu. Aroma masakan laut yang kuat menghantam hidung
mereka.

Mereka berada di dapur rumah makan yang aromanya tercium oleh Pete tadi!
Pete bergegas menutup pintu dan menggerendelnya.

"Ayo!" seru Bob.

Kedua detektif itu melintasi dapur yang penuh asap itu secepat yang mereka
berani, menimbulkan pandangan bingung dari para pelayan dan koki yang
berpakaian putih. Bob nyaris menabrak seorang pelayan yang membawa
senampan besar lobster dan kemudian harus menahan Pete agar tidak
membentur kuali panas yang berisi kerang.

"Kita bisa makan nanti," katanya. "Mari pulang ke rumah paman Jupe!"

Anak-anak berlari melewati pintu ayun, masuk ke ruang makan, mengakibatkan


beberapa tamu berhenti mengunyah dan menatap mereka. Mereka bergegas
keluar melalui pintu depan menuju ke jalan. Mereka memandang berkeliling,
mencari tanda-tanda si bajak laut bertubuh besar.

"Aman," kata Pete. Tepat pada saat ia berkata demikian, mereka berdua
mendengar bunyi mesin sebuah mobil direm dan ban-ban berdecit.

"Belum!" kata Bob. Mereka berlari menyusuri trotoar dan kemudian


menyeberang jalan, bersembunyi di pintu masuk sebuah tempat minum kecil
bernama Kamar Tujuh Lautan. Pete berhenti cukup lama untuk melihat nama
rumah makan di seberang jalan.

"Kait Sang Kapten," ia menyeringai, mengingat-ingat nama itu sambil menjilat


bibir. "Kau kan kenal Jupe, ia selalu ingin tahu segala sesuatu dari laporan
kita."

Bob menggeleng-geleng dan kemudian mengintip keluar. Ia melihat perompak


bengis itu berhenti di lampu lalu lintas hanya sekitar tiga puluh meter dari
tempat mereka. Lelaki itu memandang berkeliling mencari mereka, kemudian
memacu mobilnya menjauh diiringi bunyi ban berdecit.

Pete mengusap keringat di dahinya. "Wah, perompak itu benar-benar tidak suka
dimata-matai."
"Benar sekali," kata Bob. "Ia cocok sekali untuk menakut-nakuti orang agar
tidak menyelam mencari barang bekas lagi."

"Kau pikir dialah yang menyusup ke rumah Paman Atticus?" tanya Pete.

Bob mengangkat bahu. "Ia anggota Perompak Baru dan sangat pemarah.
Menurutku ia adalah tersangka utama!"

Mereka memikirkan hal ini dalam perjalanan pulang ke rumah Atticus Jones.
Ketika mereka tiba, Jupiter belum kembali dan rumah itu sangat sunyi. Satu-
satunya bunyi yang terdengar adalah ombak yang membentur Pembalasan Ratu
Anne.

Mereka memutuskan untuk berjalan ke dermaga dan menikmati matahari


sambil menunggu kedatangan rekan mereka. Belum jauh mereka berjalan
ketika Pete mendengar sesuatu yang berat berdebam, membuatnya berpaling.

"Apa itu?" tanyanya.

"Apa itu apa?" tanya Bob.

"Mungkin aku sedikit berlebihan akibat segala sesuatu yang terjadi sepagian ini
tapi kurasa ada seseorang di kapal Paman Atticus!"

Sebelum Bob sempat menjawab, seorang lelaki berwajah jahat, berpakaian


serba hitam dari kepala hingga ujung kaki, melompat keluar dari dalam kapal
dan berlari menaiki tangga dermaga menuju ke jalan!

Pete tidak pernah ragu-ragu untuk melakukan pengejaran -- sebagai Penyelidik


Kedua, itulah keahliannya. Ia bergegas mengejar Pria Berpakaian Hitam.
Namun orang itu terlalu jauh di depan Pete dan ketika Penyelidik Kedua tiba di
ujung blok, Pria Berpakaian Hitam telah mencapai sebuah sedan hitam tua dan
memacunya, meninggalkan Pete terbatuk-batuk terkena asap knalpot.

Terengah-engah, Pete berlari-lari kecil kembali ke tempat Bob menunggu.


Sebagai seorang penyelidik berpengalaman Pete tahu pertanyaan yang akan
diajukan Bob sebelum anak itu sempat bertanya.

"Tidak, aku tidak melihat wajahnya dengan jelas dan tidak, aku tidak dapat
membaca plat nomornya," kata remaja jangkung itu sambil tersengal-sengal.

Bob mengusap dagunya dan menatap Pete.

"Kasus ini semakin lama semakin menarik!"


BAB VII

CAKAR PERUNGGU

Setelah Jupiter kembali ke rumah pamannya, ia menemukan Bob dan Pete


sedang menunggunya di teras depan. Ia duduk di samping rekan-rekannya dan
tersenyum.

"Wah, kunjunganku ke Perompak Baru dari Barat benar-benar menarik!"

Pete tidak dapat menahan diri. "Aku berani bertaruh kunjunganmu sama sekali
tidak semenarik petualangan kami!" Pete melanjutkan dengan pertemuan
mereka dengan bajak laut bernama Bly dan pengejarannya terhadap Pria
Berpakaian Hitam. Bob menyela sesekali untuk menambahkan hal-hal kecil
yang dilupakan Pete. Jupiter mencubiti bibirnya setiap kali mendengar sebuah
petunjuk baru.

"Menakjubkan," katanya setelah Pete dan Bob selesai bercerita. Kemudian


giliran Jupe melaporkan kejadian di markas Perompak Baru dan Gaspar St.
Vincent yang melarangnya kembali. Ia mengakhiri laporannya dengan berkata,
"Kasus ini semakin lama semakin menarik!"

"Tepat itulah yang baru saja kubilang!" seru Bob. "Dalam waktu sepagian kita
telah melipatgandakan jumlah tersangka!"

Jupe memutuskan bahwa Trio Detektif sebaiknya memeriksa Pembalasan Ratu


Anne dengan seksama. Ketika pencarian mereka terbukti sia-sia, anak-anak
berjalan ke ujung dermaga dan duduk berjemur.

"Kalian yakin kalian tidak mengenali Pria Berpakaian Hitam?" desak Jupe.

Bob menggeleng dan membetulkan letak kacamatanya. "Ia mengenakan topi


lebar hitam dan kacamata hitam. Ia tidak berkumis ataupun berjanggut dan
mengenakan jas hitam dan dasi. Bisa jadi siapa saja."

"Hmm," Jupiter bergumam. Ia bangkit berdiri dan mulai berjalan mondar-


mandir. "Masuknya Pria Berpakaian Hitam yang misterius ke dalam teka-teki ini
tidak terduga dan tidak cocok dengan suatu teori yang telah kususun mengenai
kasus ini. Pencarian kita di atas Pembalasan Ratu Anne tidak menghasilkan apa-
apa. Namun saat pamanku pulang, kita harus memintanya memeriksa kapalnya
kalau-kalau ada yang hilang."

"Menurutmu siapakah Pria Berpakaian Hitam itu, Jupe?" tanya Pete.

"Mungkin si perompak yang mengejar Pete dan aku?" kata Bob.


"Kurasa bukan, Data. Ingat, ia pasti langsung keluar dari pos pemadam
kebakaran itu setelah bertemu denganku di atap. Kalian melihatnya pergi ke
arah yang berlawanan dengan rumah Paman Atticus. Karena kalian langsung
datang ke sini setelah itu, dia tidak akan punya cukup waktu untuk berganti
pakaian. Dan mengapa harus ganti? Tidak," kata Jupe, "ia jelas seseorang yang
perlu kita amat-amati namun kurasa dia bukanlah Pria Berpakaian Hitam.
Dengan alasan yang sama Gaspar St. Vincent juga bisa kita coret."

"Mungkin Kapten Cutter!" seru Pete. "Mungkin ia iri akan segala penemuan
pamanmu dan ingin mencuri beberapa. Mungkin saja ia penderita kleptomania.
Mungkin ia tidak dapat menahan diri untuk mencuri!"

"Itu salah satu kemungkinan yang sedang kupikirkan," kata Jupe mengakui.
"Ketika ia pergi pagi ini, ia berkata akan ke tempat penelitiannya. Hanya ada
satu cara untuk mengetahui kebenarannya!"

Anak-anak berlari ke rumah dan dengan menggunakan kunci yang diberikan


paman Jupiter mereka masuk. Bob segera menemukan buku telepon Atticus
Jones dan membalik-balik halamannya hingga menemukan nomor kantor Oscar
Cutter di universitas di Portland. Bob menghubungi nomor itu dan seorang
penerima telepon dengan datar memberitahunya bahwa pria itu berada di
tempat penelitian sejak pagi. Kemudian mereka mencoba nomor telepon
seluler Kapten Cutter. Ketika Cutter menjawab, Bob hanya samar-samar
mendengar suaranya di tengah-tengah gemuruh ombak dan aba-aba yang
diteriakkan awak kapalnya.

"Halo. Cutter di sini," pria itu berseru untuk mengatasi keributan. "Halo?
Bicaralah lebih keras, aku tidak dapat mendengarmu!"

Bob lekas-lekas memutuskan hubungan dan menatap rekan-rekannya. "Belum


terbukti ia memang di tempat penelitian tapi jelas ia ada di atas sebuah kapal."

Jupiter berpikir sejenak. "Seharusnya tidak sulit untuk memastikan ia ada di


sana hari ini. Kurasa kita bisa menyimpulkan bahwa Pria Berpakaian Hitam
bukanlah perompak penuh otot yang bernama Bly itu, bukan juga Kapten
Cutter."

"Apa yang kita lakukan sekarang?" tanya Pete.

Jupiter menimbang-nimbang dan kemudian menggeleng. "Kita perlu bertanya


kepada pamanku dan Kapten Cutter jika mereka pernah melihat seseorang yang
ciri-cirinya seperti Pria Berpakaian Hitam. Sepertinya orang itulah si pencuri
yang telah memasuki rumah pamanku."
"Mungkin kita perlu mengamat-amati Perompak Baru dan memata-matai Bly
dan Gaspar?" usul Bob. "Bly sudah jelas mencurigai aktingmu tentang tugas
sekolah itu dan ia sama sekali tidak senang Pete dan aku memata-matainya!"

"Gagasan bagus, Data," kata Jupiter setuju. "Ini ideku: aku akan tinggal di sini
dan menjaga rumah Paman Atticus kalau-kalau Pria Berpakaian Hitam kembali.
Kau pergi ke pos pemadam kebakaran dan lihat kalau Connie Bly muncul. Pete
dapat meminjam sepeda Paman Atticus dan pergi ke pantai ke tempat
penelitian Oscar Cutter. Tanyakan kepada orang-orang di sana untuk
memastikan bahwa Cutter berada di sana sepanjang pagi -- dan jika ada
kesempatan, tanyakan kepadanya kalau-kalau ia pernah melihat seseorang
berpakaian hitam-hitam luntang-lantung di sekitar tempat penelitiannya
ataupun rumah pamanku."

Pete mengedipkan mata ke arah Bob. "Aku tidak tahu persis arti luntang-
lantung namun hal-hal yang lain masuk akal!"

Bob tertawa dan memukul punggung Pete. "Pikirkan saja betapa kosa katamu
bertambah setiap kali Trio Detektif mengusut sebuah kasus!"

Jupiter tidak peduli akan sindiran teman-temannya tentang kegemarannya


menggunakan kata-kata sukar. Ia telah terbiasa akan hal itu. Ia berdehem
dengan lagak penting dan melanjutkan. "Ada satu hal lagi yang perlu kita
diskusikan sebelum kita mengerjakan tugas kita masing-masing," katanya
dengan resmi.

Bob dan Pete menatap rekan mereka yang gempal itu, tidak mengerti hal apa
yang belum mereka bahas. "Apa itu, Jupe?" tanya Bob.

Jupiter meringis dan berlari ke dapur sambil berseru, "Makan siang!"

***

Ketika Bob kembali dari pengintaiannya di markas pemadam kebakaran tua, ia


melaporkan bahwa Connie Bly tidak kembali ke sana dan Gaspar St. Vincent
secara wajar mengunci markas dan pulang ke apartemennya, yang terletak
hanya di seberang jalan.

Hari sudah hampir gelap ketika Pete meluncur masuk dengan sepeda tua
Atticus Jones. Titus, Mathilda, dan Atticus telah lama kembali dari berbelanja
dan setelah mendengar penuturan Jupiter mengenai Pria Berpakaian Hitam
yang berkeliaran di kapal, Atticus memeriksanya dengan teliti dan menyatakan
tidak ada yang hilang. Dengan bantuan Jupe ia kemudian memasang sebuah
gembok besar di pintu depan dan mereka duduk-duduk di beranda depan sambil
minum es teh dan mendengarkan kisah Atticus tentang bajak laut, ranjau-
ranjau, dan barang-barang rampasan.
Atticus berhenti bercerita ketika melihat Pete memasuki halaman. "Peter! Ke
mana saja kau sepanjang hari?"

Pete sengaja berlagak lelah, lapar, dan mengibakan. "Melakukan satu lagi tugas
dari kemenakan Anda!" keluhnya. "Kapten Cutter ada di atas kapal sepanjang
hari dan diantar pulang oleh seorang kawan. Ketika kutanyai tentang Pria
Berpakaian Hitam, ia berkata tidak yakin. Menurutnya, sepertinya orang yang
sama dengan yang dikejarnya pagi ini."

"Kalian menyelidiki Cutter?" tanya Atticus kaget. "Demi langit, untuk apa?"

"Ia nampak seperti seorang lelaki terhormat menurutku," Bibi Mathilda


keberatan. "Aku tidak ingin kalian mengganggunya, ia sudah punya cukup
banyak masalah dengan kapal yang akan datang itu!"

"Kapal?" seru Jupe. "Kapal apa?"

Paman Titus menendang pergelangan kaki istrinya dan Bibi Mathilda menutupi
mulutnya dengan sebelah tangan. "Oh, maaf!" katanya menghembuskan nafas.

Atticus Jones menatap Bibi Mathilda dengan kesal. "Dasar wanita, tidak dapat
menyimpan rahasia sekalipun yang menyangkut nyawamu!" keluhnya. Ia
berpaling ke arah anak-anak. "Pertama-tama katakan padaku apa yang kalian
mau dari sahabatku Oscar Cutter dan kemudian akan kuceritakan tentang kapal
yang seharusnya merupakan kejutan itu."

Jupiter duduk di pinggiran beranda dan menyilangkan kaki. Ia terlihat seperti


patung Buddha yang terbakar matahari dan mengenakan kemeja Hawaii. Ia
menyatukan kedua telapak tangannya. "Apa sebenarnya yang dilakukan Kapten
Cutter di sini sepagi itu, Paman Atticus?"

Atticus Jones menghirup tehnya dan mengerutkan kening. "Oscar Cutter ada di
sini pagi ini atas permintaanku. Karena kami berdua selalu bangun pagi-pagi
sekali, aku memintanya mampir sebelum pergi ke tempat penelitiannya untuk
memeriksa beberapa meriam besar yang kutemukan minggu lalu. Meriam
adalah bidang khususnya, aku perlu tahu jika yang kutemukan itu berasal dari
militer atau sebuah kapal yang lebih kecil seperti milik Si Janggut Hitam. Kau
kan tidak berpikir bahwa Oscar menyusup ke dalam rumahku? Kuakui dia
memang mudah marah namun ia bukanlah penjahat!"

Jupiter sama sekali tidak ragu-ragu. "Sejauh yang kami tahu, hanya ialah selain
Bob dan Pete yang benar-benar pernah melihat si pencuri. Kuakui bahwa ia dan
Pria Berpakaian Hitam tidak mungkin orang yang sama namun kita juga belum
dapat mencoret namanya."
Atticus Jones memandangi keponakannya lama, kemudian tersenyum. "Aku
percaya akan kemampuanmu sebagai seorang detektif, Jupiter. Namun aku
tidak segan memberitahumu bahwa kau menyalak di pohon yang salah dengan
Kapten Cutter. Aku telah mengenalnya selama bertahun-tahun dan ia selalu
jujur dan terbuka denganku. Sepertinya Pria Berpakaian Hitam inilah yang kita
cari."

Mata Pete berbinar-binar. "Sekarang beri tahu kami tentang perahu atau kapal
atau apalah itu!"

Paman Atticus tertawa keras. "Ini seharusnya merupakan kejutan tapi kurasa
tidak ada salahnya memberi bocoran kepada kalian. Dua hari lagi Seruling
Belanda, sebuah kapal bertiang layar tiga sepanjang tiga puluh meter, sangat
serupa dengan Pembalasan Ratu Anne milik Si Janggut Hitam, akan datang ke
Anchor Bay, berlabuh hanya beberapa meter dari tempat penelitian Cutter.
Kapal itu adalah bagian dari acara yang disponsori oleh universitas untuk
mengumpulkan dana dan membangkitkan minat publik sehingga Cutter dapat
melanjutkan pekerjaannya. Oscar telah mengusahakan tanda masuk khusus
bagi kita, sehingga kita dapat melihat-lihat seluruh bagian kapal -- tidak hanya
geladak atas seperti para pengunjung yang lain!" Atticus bersandar, matanya
berbinar-binar. "Apa pendapat kalian?"

"Hebat!" seru anak-anak serempak.

"Sebuah kapal bajak laut asli!" seru Bob. "Aku harus membeli persedian film
untuk kameraku!"

"Menakjubkan!" kata Pete lantang. "Aku sudah tidak sabar!"

Anak-anak begitu penuh semangat dan mereka mengobrol dengan hebohnya


seraya masuk dan bersiap-siap untuk tidur. Karena Paman Titus dan Bibi
Mathilda menggunakan kamar tidur tambahan di dalam rumah, anak-anak
diizinkan tidur di atas kapal bersama Atticus. Mereka bergegas mengambil
kantung tidur dan bantal mereka dan menuju pintu belakang.

Sebelum tiba di pintu, Jupiter berhenti dan memandang peti tua yang sempat
menyimpan Cakar Perunggu sebelum dicuri. Wajahnya berubah. "Sudah cukup
banyak misteri untuk hari ini, Jupe," protes Pete. "Marilah menyelidiki seberapa
cepat kita bisa terlelap."

Jupiter menggelengkan kepala dan mencubiti bibir bawahnya. Ia berdiri diam


selama beberapa saat, menyuruh ingatannya yang tajam bekerja keras,
berusaha mengingat hal yang berbeda dari peti itu sebelumnya.
Bibi Mathilda memanggil dari dalam kamar. "Aku tidak mau kalian berjaga
sepanjang malam. Kalian perlu istirahat untuk tugas-tugas yang telah kusiapkan
besok."

"Aku kurang suka mendengarnya," kata Bob. "Ayo, Jupe. Mari kita tidur."

Namun Jupiter tidak bergeming. Ia tetap berdiri kaku hingga sebuah bola lampu
seolah-olah menyala di otaknya. Mukanya yang tembam sekonyong-konyong
menyunggingkan senyum dan ia berjalan ke arah peti.

"Aku tahu!" serunya. "Peti ini telah dipindahkan!"

"Mungkin Bibi Mathilda telah berbenah," Bob menguap.

Jupiter mencubiti bibirnya. "Ya, namun ketika Paman Atticus menutupnya pagi
tadi, ia tidak memasang kembali pengunci kuningan di bagian depan."

"Jadi?" tanya Pete. "Pamanmu bukanlah orang paling rapi di Anchor Bay.
Lihatlah berkeliling. Ada rongsokan di mana-mana!"

Tiba-tiba Bob mengerti maksud Jupiter.

"Tunggu dulu," katanya. "Jika pagi ini pamanmu hanya mengembalikan


penutupnya, lalu mengapa sekarang peti ini terkunci?"

"Tepat!" kata Jupiter. Dan dengan satu gerakan cepat Penyelidik Pertama
berlutut, membuka pengunci, dan mengangkat penutup peti.

Di dasar peti itu tergeletak Cakar Perunggu.

BAB VIII

SERULING BELANDA

"Ya ampun!" seru Pete. "Bagaimana benda itu bisa kembali sendiri?"

Jupiter mengambil cakar elang yang telah aus itu dan mengangkatnya di bawah cahaya lampu.
"Aku tidak tahu, Dua, namun aku jelas ingin tahu!"

"Pasti itulah yang dilakukan Pria Berpakaian Hitam hari ini," tebak Bob, "mengembalikan Cakar
Perunggu ke dalam peti."

"Tapi mengapa?" desak Pete. "Sama sekali tidak masuk akal. Mengapa bersusah-payah
mencurinya hanya untuk mengembalikannya lagi?"
Anak-anak terdiam beberapa saat sambil berpikir mengenai hal ini. "Mungkin pemalsuan," kata
Bob menduga. "Mungkin Pria Berpakaian Hitam mengambilnya cukup lama untuk membuat
tiruannya dan menyimpan cakar yang asli."

Jupiter menggeleng. "Tidak mungkin. Cakar ini nampak sangat tua. Perunggunya telah
menghijau dan penuh ganggang. Cakar ini jelas telah berada di dalam air selama bertahun-
tahun. Hal ini tidak mungkin dipalsukan."

"Mau kita apakan benda ini sekarang?" tanya Pete. "Kita tidak mungkin membiarkannya di dalam
peti."

Jupiter tersenyum nakal dan berpaling menuju kapal pamannya. "Aku punya ide."

***

Pagi harinya Jupiter bangun pagi dan meraba bagian bawah kantung tidurnya dengan kaki.
Cakar Perunggu masih ada. Ia meraihnya dan menimang-nimangnya. "Bagaimana dan mengapa
kau kembali?" ia bergumam. Beberapa saat kemudian Jupe membangunkan Bob dan Pete dan
ketiga anak itu berbaris masuk untuk sarapan. Jupe membawa cakar itu di balik punggungnya.

Titus dan Atticus sedang duduk di meja dapur yang penuh barang-barang kelautan. Bibi
Mathilda telah bersikeras agar benda-benda itu disingkirkan, paling tidak cukup untuk piring-
piring dan perangkat makan lainnya -- dan ia jelas tidak senang melihat kurangnya ruangan
untuk memasak di kompor dan meja dapur.

"Demi langit!" gerutunya sambil menuangkan mentega ke dalam panci. "Aku sungguh tidak
mengerti bagaimana kau bisa memasak dengan segala rongsokan ini, Atticus Jones!"

Atticus menurunkan surat kabarnya dan mengisap pipanya dalam-dalam. Ia tersenyum kepada
anak-anak ketika mereka masuk melalui pintu belakang, lalu kembali menghilang di balik
koran.

Jupiter melirik Paman Titus yang sedang sibuk membaca halaman humor. Sambil mengedip ke
arah Bob dan Pete, ia diam-diam meletakkan Cakar Perunggu di tengah meja yang penuh sesak.

Bibi Mathilda membawa sepiring penuh tumpukan panekuk dan sosis panas ke meja. Ia menatap
Cakar Perunggu dan mengerutkan kening, berkata kepada Jupiter dengan suara galak, "Cendera
mata yang bagus, Anak-anak, tapi tolong singkirkan dari atas meja."

"Menurutku itu adalah hiasan yang cocok diletakkan di tengah meja," kata Jupiter, berusaha
memasang tampang serius. "Mungkin beberapa kuntum bunga akan membuatnya lebih menarik.
Apa pendapat Paman, Paman Atticus?"

Atticus Jones bergumam di balik surat kabarnya namun tidak mengalihkan pandangan dari
berita utama. Bibi Mathilda tidak melihat kelucuan dalam gurauan Jupe. "Aku tidak tahu apa
yang terjadi padamu, Anak Muda, tapi aku tidak pernah mengira kau akan mengambil resiko
kehilangan sepiring panekuk panas hanya demi sebuah gurauan!"

Pete tidak tahan lagi dan tawanya meledak. Ia segera diikuti oleh Bob dan kemudian Jupiter.
Segera saja ketiga anak itu berguling-guling di lantai, tertawa terbahak-bahak. Bibi Mathilda
berdiri dengan mulut ternganga, menyaksikan pemandangan itu. Titus dan Atticus akhirnya
meletakkan koran mereka untuk melihat yang terjadi.
Sekonyong-konyong mata Atticus Jones melotot dan ia melompat berdiri seolah-olah disengat
lebah -- pipanya terjatuh dari mulutnya dan jatuh ke dalam sirup di piringnya. "Demi pipaku!
Aku tidak percaya ini!" Ia mengangkat Cakar Perunggu dan memandanginya seolah-olah benda
itu terbuat dari emas murni. "A-apa... Di-di mana..." ia tergagap.

Sambil masih terkekeh-kekeh, Jupiter menjelaskan betapa cakar itu telah kembali semalam
dan kemudian meminta maaf kepada Bibi Mathilda atas gurauannya.

"Benda jelek itu adalah sumber segala masalah ini?" tukas Bibi Mathilda. "Itukah harta karun
yang harus kita lihat sendiri sebelum percaya?"

"Hmm... begitulah!" jawab Atticus, mengangguk tanpa percaya. "Ditemukannya tiang haluan
dari kapal ketiga Si Janggut Hitam, Balas Dendam, berarti kapal itu tenggelam di Pantai Barat,
bukan Timur, atau kapal itu dijarah dan hartanya disembunyikan. Apapun yang terjadi, ini
sangat berarti bagi sejarah!"

"Bagiku benda itu adalah barang rongsokan besar berwarna hijau," kata Titus. "Aku ingin
barang-barang bekasku berguna, dengan demikian aku bisa mendapat keuntungan. Siapa yang
mau mencuri benda seperti itu?"

Bibi Mathilda mendengus seraya membagikan panekuk kepada anak-anak. "Jelas mereka tidak
menginginkannya jika mereka mengembalikannya lagi. Mungkin mereka menyadari bahwa
benda itu hanyalah logam hijau tidak berharga."

Paman Atticus memainkan jemarinya di atas cakar itu dengan penuh kasih sayang dan
tersenyum. "Sepertinya kasus ini sudah selesai ya? Berarti aku berhutang kepada kalian bertiga
karena telah mengembalikan cakar Si Janggut Hitam. Begitu kan perjanjiannya?"

"Tidak, sir," kata Jupiter dengan mulut penuh panekuk. "Trio Detektif disewa untuk menemukan
siapa yang mengambil cakar itu dan mengapa ia kemudian mengembalikannya kepada
pemiliknya yang sah. Cakar itu sudah kembali namun kita tetap belum tahu siapakah Pria
Berpakaian Hitam dan mengapa ia menginginkannya." Jupiter mengigit panekuknya dan
tersenyum. "Menurutku kasus ini baru saja dimulai!"

Pete mengerang sambil mengiris sosis. "Aku tahu kau akan berkata seperti itu."

Setelah sarapan, anak-anak menemani Atticus ke toko perkakas untuk membeli sebuah gembok
yang dinyatakan tidak bisa dijebol, yang kemudian dipasangnya di peti yang menyimpan Cakar
Perunggu.

Jupiter sudah gatal ingin melanjutkan penyelidikian namun begitu mereka tiba di rumah segera
dikecewakan oleh Bibi Mathilda yang telah menyiapkan sederetan panjang tugas yang harus
dikerjakan. Anak-anak tahu lebih baik tidak membantah bibi Jupe jika menyangkut pekerjaan.
Dengan segan mereka mulai bekerja dan baru dua hari kemudian mereka mendapat
kesempatan untuk membahas kasus itu secara panjang lebar.

Selama dua hari itu Jupiter telah menyusun potongan-potongan misteri itu di otaknya seperti
sebuah teka-teki gambar, berusaha menyusun gambar yang benar. Penyelidik Pertama merasa
potongan yang ada terlalu sedikit untuk membentuk gambar yang akurat. Pria Berpakaian
Hitam belum muncul lagi sejak Bob dan Pete mengejarnya dua hari yang lalu dan keadaan
wajar-wajar saja di tempat penelitian Oscar Cutter dan markas Perompak Baru dari Barat.
Jupiter berdiam diri sepanjang perjalanan mereka di bak belakang truk untuk melihat pameran
Seruling Belanda. Bob dan Pete sudah terbiasa dengan rekan mereka yang penuh konsentrasi
saat sedang menangani kasus. Mereka tahu lebih baik anak itu dibiarkan saja, ia akan bersuara
jika ia telah yakin dan siap.

Sementara Paman Titus mengemudikan truk milik pangkalan barang bekas itu melalui kawasan
niaga kota dan kemudian sepanjang jalan pantai ke luar kota, anak-anak merasa sungguh
bergairah. Kini mereka dapat melihat tiang-tiang layar Seruling Belanda yang menjulang tinggi,
layar-layarnya tergulung dan bendera-benderanya berkibar-kibar.

Namun semangat mereka segera menurun begitu mereka melihat lautan manusia yang
bergerombol memenuhi dermaga dan landasan yang menuju ke kapal, semuanya ingin menaiki
kapal mewah itu. Mobil-mobil antri sepanjang hampir setengah mil sepanjang sisi jalan dan
lahan parkir kecil di sebelah dermaga penuh dengan turis yang berebut tempat parkir.

Paman Titus mengeluh namun terus mengemudi sepanjang jalan hingga menemukan tempat
parkir yang cocok. Mereka melompat keluar dan mulai berjalan menuju jalan masuk ke kapal
yang penuh orang. Bob nampak pesimis sementara mereka mendekati ekor antrian orang-orang
yang hendak naik. Ia menggelengkan kepala sambil memasukkan segulung film baru ke dalam
kameranya. "Wah, dengan semua orang ini di antrian kita tidak akan sempat naik."

"Jangan cemas, Robert," kata Atticus lantang. "Kulihat sahabatku Oscar Cutter." Adik Titus
Jones itu melambaikan tangan dan bersuit untuk menarik perhatian Cutter. Peneliti tampan itu
tersenyum dan balas melambai dari geladak kapal, memberi isyarat agak mereka langsung
menuju ke depan antrian. Hal ini tidak bisa diterima oleh beberapa turis yang telah mengantri
lama, berusaha menggendong anak mereka, kamera, dan botol minuman pada saat yang
bersamaan. Mereka memprotes dengan suara keras ketika Trio Detektif dipersilakan naik.

"Wah, kita seolah-olah ada di Magic Mountain," tukas Pete.

Oscar Cutter menemui mereka di ujung jembatan kapal. Senyum yang dipamerkannya selama
ini kepada para pengunjung segera lenyap. "Bencana!" serunya. "Benar-benar bencana! Lihatlah
segala sampah yang mereka buang ke air! Tidak punya otakkah mereka? Makanan-makanan itu
akan menarik ikan-ikan dan mereka akan mengeruhkan air. Pekerjaan seminggu akan terbuang
percuma hanya demi suatu publisitas konyol!"

Mereka berdiri diam selama beberapa saat, tidak tahu harus berkata apa. "Tapi pikirkanlah
segala donasi yang akan masuk," kata Jupiter. "Anda mungkin saja akan mendapatkan cukup
dana untuk mempertahankan tempat ini paling tidak setahun lagi!"

Kapten Cutter nampak malu akan emosinya tadi. Ia tersipu-sipu dan mengusap rambutnya yang
terbakar matahari. "Maaf. Kurasa aku hanya sedikit kesal akan orang-orang yang tidak peduli
dan mengotori air. Maafkan aku. Sekarang bagaimana kalau kita mulai tur yang kujanjikan?"

Anak-anak mengangguk penuh semangat dan Oscar Cutter tersenyum tulus untuk pertama
kalinya pagi itu. "Baiklah! Mari kita mulai dari bawah sehingga kita bisa jauh dari gerombolan
itu." Peneliti itu meminta seorang awak kapal yang mengenakan baju kaos universitas untuk
menggantikannya dan ia memimpin mereka ke bawah.

Selama sejam berikutnya anak-anak, Bibi Mathilda, Paman Titus, dan Atticus menikmati tur
keliling Seruling Belanda yang mengagumkan. Bob mengambil gambar seperti hilang ingatan
sementara mereka mendengarkan keterangan tentang dapur, ruang bagasi, kabin tempat tidur,
dan berbagai ruang kapal khas lainnya, juga tentang para bajak laut yang pernah berlayar di
atas kapal hebat itu.

Ketika mereka akhirnya muncul kembali ke geladak atas yang disinari matahari terik, anak-anak
merasa kenyang akan segala informasi yang mereka serap dan Bibi Mathilda nampak lemah oleh
kisah-kisah pertumpahan darah. Oscar Cutter menjabat tangan semua orang dan berterima
kasih karena mereka telah datang berkunjung, memohon maaf sekali lagi atas emosinya.

"Jangan salah mengerti," katanya muram, "aku benar-benar menghargai niat baik universitas
mengadakan pameran ini. Hanya saja orang-orang ceroboh itu..." suaranya menghilang seiring
dengan tatapan aneh yang muncul di wajahnya yang terbakar matahari.

Jupiter mengikuti tatapan pria itu ke arah jalan masuk dan kerumunan yang bagaikan sirkus di
bawah. Ia mengamat-amati puluhan wajah hingga akhirnya tatapannya jatuh pada seorang
lelaki yang sedang bersandar di sebuah sedan hitam. Lelaki itu mengenakan topi hitam dan
kaca mata gelap dan sepertinya menatap langsung ke arah mereka. Pria Berpakaian Hitam!

BAB IX

SEMAKIN SERU

"Oh," Oscar Cutter tergagap, "kubilang, orang-orang ceroboh itu benar-benar


tidak menghargai sumber daya alam kita, aku benar-benar marah dibuatnya."
Jupe menggamit Bob sementara pelaut tampan itu lekas-lekas mengantarkan
mereka turun dari kapal, berterima kasih sekali lagi atas kunjungan mereka.
"Maafkan aku, aku benar-benar harus kembali."

"Ada apa, Pertama?" desis Bob di sela-sela giginya.

Jupiter menggerakkan bola matanya ke arah Pria Berpakaian Hitam. Bob


melihatnya -- ia mengenakan kemeja biru muda dan dasi hitam hari ini namun
jelas orang yang sama. "Berapa banyak lagi film yang ada di kameramu, Data?"

Sambil berusaha tetap mengamati pencuri itu, Bob dengan cepat melirik
indikator di kameranya, yang menunjukkan angka 1. "Ini yang terakhir,
Pertama," jawabnya suram.

Penyelidik Pertama bertubuh gempal itu mulai menerobos kerumunan menuju


ke arah Pria Berpakaian Hitam. "Usahakan yang terakhir itu benar-benar
berguna!" perintahnya.

Ketika mencapai deretan mobil-mobil yang pertama, Jupiter dan Bob


memandang berkeliling tanpa daya. "Ke mana dia?" mereka saling bertanya.

"Siapa yang kita cari?" tanya Pete heran.


"Pria Berpakaian Hitam!" seru Bob, menunjuk ke arah pintu keluar. Pria
Berpakaian Hitam ada di dalam sedannya, menunggu peluang untuk masuk ke
jalan raya. "Itu dia!"

Trio Detektif berlari namun lalu lintas sedikit berkurang dan lelaki itu meluncur
menjauh pada saat mereka tiba di pintu keluar. Bob bergegas menggunakan
film terakhirnya, berharap agar penyusup misterius itu masuk di dalamnya.

"Nyaris!" serunya.

Pete berusaha mengatur nafasnya. "Apa yang dilakukan Pria Berpakaian Hitam
di Seruling Belanda dengan semua turis ini?" tanyanya.

"Pertanyaan yang lebih penting, Dua," kata Jupiter sambil tersenyum kecut,
"bagaimana Oscar Cutter mengenali Pria Berpakaian Hitam? Ia jelas-jelas
nampak ketakutan ketika melihat orang itu di tengah kerumunan!"

"Wah!" kata Bob. "Akhirnya kita membuktikan bahwa Kapten Cutter bukanlah
Pria Berpakaian Hitam namun dengan itu kita kini tahu mereka saling
mengenal!"

Jupiter mencubiti bibir bawahnya. "Kurasa waktu kita untuk memecahkan kasus
ini hampir habis. Kusarankan kita mendesak Kapten Cutter saat ini juga untuk
melihat apa yang dia tahu mengenai Pria Berpakaian Hitam!"

"Kudukung," Pete setuju.

"Marilah!" kata Bob, berlari kecil kembali ke Seruling Belanda. "Tapi kita lebih
baik memberi tahu Paman Atticus bahwa kita akan menyusul pulang nanti."

"Setuju," Jupiter mengangguk.

Setelah hal itu beres, ketiga anak itu bergabung dengan antrian dan menunggu
giliran mereka untuk dapat naik ke atas kapal megah itu lagi. Hampir tiga puluh
menit kemudian mereka sekali lagi disilakan naik ke geladak. Oscar Cutter
terkejut melihat mereka. Ia mengusap keningnya dengan saputangan dan
tersenyum lemah.

"Belum puas juga?" tanyanya tidak meyakinkan.

Jupiter menegakkan badan dan mengangkat bahu -- sebagaimana ia mampu


tampil sebagai seorang anak yang agak terbelakang, ia juga mampu tampil jauh
lebih dewasa dan berwibawa. Hal ini selalu mengesankan orang-orang dewasa.

"Anda mungkin ingat bahwa saya dan rekan-rekan saya adalah detektif,"
katanya memulai, menyerahkan selembar kartu nama Trio Detektif kepada
penyelam itu. "Kami telah disewa oleh paman saya untuk mengusut pencurian
yang telah terjadi di kediamannya. Saya harap Anda tidak keberatan kami
mengajukan beberapa pertanyaan."

Kening Cutter berkerut dan ia memimpin anak-anak ke lantai bawah yang sejuk
dan tenang. Ketika mereka telah tiba di sebuah kabin yang penuh dengan
barang, ia berujar dengan serius, "Apapun untuk membantu sahabat-sahabatku.
Apa yang ingin kalian ketahui?"

Jupiter mendesaknya. "Apa hubungan Anda dengan pria bertopi dan


berkacamata hitam yang dilihat Bob dan Pete menyusup ke kapal paman saya
dan yang baru saja kita lihat meninggalkan pameran ini?"

Oscar Cutter merah padam. "Begundal itu? Penjahat itu? Ia salah satu dari
mereka!" Peneliti yang mudah naik darah itu menggiring mereka kembali ke
lantai atas dan menuju ke buritan. Ia menuding dengan jari gemetar ke arah
laut dan menggeram. "Lihat? Kalian lihat yang menggangguku selama ini?"

Trio Detektif memandang ke arah lautan dengan terkejut. Dari atas kapal
mereka dapat melihat tiga perahu motor kecil tidak lebih dari lima puluh meter
jauhnya, mengibarkan spanduk besar berwarna putih dengan tulisan
"PERAMPOK MAKAM!", "BIARKAN YANG MATI BERISTIRAHAT!", dan "KAU MAU
MEMBONGKAR PEMAKAMAN UMUM?" Mereka tidak menyadari kehadiran para
pengunjuk rasa itu ketika mereka menaiki Seruling Belanda untuk pertama
kalinya.

Oscar Cutter nampak hampir meledak. "Menggangguku dan orang-orangku selagi


kami menyelam adalah satu hal -- namun mengancamku di rumah, di darat,
adalah hal lain! Aku tidak akan tinggal diam! Pria bertopi dan berkacamata
hitam itu hanyalah salah satu taktik mereka untuk menakut-nakuti. Ia adalah
masalah! Kunasihati kalian agar menjauhi orang itu! Terlebih lagi karena
mereka tahu kau adalah keponakan Atticus Jones."

Beberapa orang telah mulai berkerumun dan menatap penyelam yang tengah
marah itu. Jupiter sempat terdiam sejenak namun dengan segera kembali
menguasai diri. "Saya -- Anda tentu paham -- kami harus memastikan," katanya
cepat. "Terima kasih atas waktu Anda, Kapten. Kami harus pergi sekarang."

Sambil berkata demikian Jupiter berbalik dan bergegas menjauh, diikuti oleh
Bob dan Pete. Ia menghembuskan nafas lega ketika mereka telah tiba di
tempat parkir.

"Wah! Orang itu benar-benar akan hilang akal sebentar lagi!" kata Bob.

"Begitulah," tukas Pete. "Aku berani bertaruh tekanan darahnya mencapai


langit-langit!"
Anak-anak mulai menempuh perjalanan jauh mereka kembali ke rumah paman
Jupiter. Bob bersuara, "Kita tahu bahwa Cutter mengenal Pria Berpakaian
Hitam -- seorang tukang pukul dari Perompak Baru."

Jupiter berpikir keras. "Namun setiap kali kita menemukan jawaban atas Oscar
Cutter, sebuah pertanyaan baru muncul."

"Apa maksudmu, Pertama?" tanya Pete.

"Tepatnya, bagaimana Cutter bisa tahu bahwa aku memberi tahu Gaspar St.
Vincent aku adalah keponakan Atticus Jones? Bukankah ia seharusnya berkata:
'terlebih lagi jika mereka tahu kau adalah keponakannya' dan bukan 'karena
mereka tahu kau adalah keponakannya'?"

"Benar juga," kata Pete. "Bagaimana ia bisa tahu kau memberi tahu Gaspar jika
ia tidak berbicara kepada salah satu dari Perompak Baru? Dan jelas ia bukanlah
seseorang yang bisa berbincang-bincang akrab dengan salah seorang dari
mereka!"

"Mungkin ia hanya salah memilih kata," kata Bob. "Ia demikian penuh emosi,
kurasa ia sendiri tidak tahu apa yang dikatakannya."

"Suatu kemungkinan, Data," gumam Jupe. "Tetap saja, tidak ada salahnya kita
mengamat-amatinya. Kasus ini sepertinya menemui jalan buntu. Kita perlu
melipatgandakan usaha kita kalau kita masih ingin menemukan si pencuri
sebelum kita pulang minggu depan."

"Nah, sekarang setelah kita mengambil keputusan, apa yang harus kita lakukan
dengan makan siang?" tanya Bob.

Pete menyeringai. "Teman-teman, kebetulan aku tahu suatu tempat yang hebat
untuk menikmati kaki kepiting!"

BAB X

JUPE DAN PETE MELACAK

Trio Detektif melanjutkan diskusi tentang kasus mereka sambil menikmati


makan siang berupa kaki kepiting yang berlimpah-ruah. Jupiter meminta Bob
membacakan catatannya dan merangkum para tersangka yang mungkin
memiliki motif untuk mencuri Cakar Perunggu.

"Lupakan siapa yang mencurinya," tukas Pete, "aku ingin tahu siapa yang
mengembalikannya!"
Jupiter menyuapkan makanannya. "Sekarang lebih baik kita berkonsentrasi
pada para tersangka. Mudah-mudahan alasan kejadian-kejadian ini akan jelas
setelah kita tahu siapa penjahatnya." Ia mengangguk ke arah Bob. "Lanjutkan
dengan catatanmu, Data."

Bob membuka buku catatan kecil yang selalu dibawanya di saku belakang.
"Coba kita lihat," mulainya, membetulkan letak kacamatanya, "ada Pria
Berpakaian Hitam yang misterius, yang dikejar oleh Mr. Cutter pada pagi hari
ketika kita tiba dan kemudian oleh Pete pada siang harinya. Menurut teman
pamanmu, ia ada hubungannya dengan Perompak Baru dan telah mengancam
pamanmu dan Mr. Cutter selama beberapa minggu. Kemudian kita punya
Perompak Baru dari Barat, termasuk Gaspar St. Vincent dan Connie Bly. Gaspar
sepenuh hati ingin menghentikan kegiatan pamanmu namun tidak memberi
kesan seorang pencuri. Di lain pihak, Bly nampak seperti seseorang yang
mungkin mencuri demi uang semata-mata. Terakhir adalah Oscar Cutter, yang
mungkin menyabot pamanmu karena iri, meskipun jika memang demikian ia
tidak punya alasan untuk mengembalikan Cakar Perunggu."

Anak bertampang serius itu menutup buku catatannya dan meneguk


minumannya. "Itulah rangkumannya, Pertama. Apa pendapatmu?"

Jupiter meraih potongan kaki kepiting terakhir di piringnya dan menimbang-


nimbang untuk memakannya atau tidak. "Pamanku mungkin saja benar
mengenai Cutter," katanya, mencelupkan kaki kepiting itu ke dalam mentega,
"kalau tadi ia hanya salah bicara, kurasa ia bersih.

"Dengan demikian tinggal tiga orang di dalam daftar tersangka kita." Sambil
berpikir keras ia tanpa sadar memasukkan kaki kepiting itu ke dalam mulut.
"Dan hanya ada dua tempat kita dapat menemukan anggota-anggota Perompak
Baru dari Barat -- bekas pos pemadam kebakaran atau perahu-perahu yang
mengelilingi tempat penelitian."

Ketika menyadari bahwa piringnya sekarang telah kosong, Penyelidik Pertama


tersenyum malu dan meminta bon. "Kuusulkan kita berpencar. Bob dapat
meminjam sepeda pamanku kali ini dan membuntuti Cutter pulang dari
pameran Seruling Belanda. Pete dan aku akan mengamat-amati Connie Bly di
markas Perompak Baru. Semuanya harus waspada akan kemunculan Pria
Berpakaian Hitam!"

Setelah membayar, Jupiter merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan tiga


batang kapur, satu biru, satu hijau, dan satu putih. Ia memberikan yang biru
kepada Pete dan yang hijau kepada Bob. Kapur itu adalah gagasan cemerlang
Jupe saat menangani salah satu kasus sebelumnya. Para anggota Trio Detektif
dapat meninggalkan jejak tanda tanya jika mereka harus berpencar. Hampir
tidak ada yang menyadari sebuah tanda tanya yang dibuat dengan kapur di
trotoar atau di pagar, orang dewasa biasanya menyangka itu hanyalah suatu
permainan kanak-kanak. Namun bagi Trio Detektif tanda tanya itu adalah
petunjuk yang berharga.

"Selalu ada gunanya siap siaga," Jupe menggurui sementara mereka keluar ke
jalan yang terang. "Aku merasa kita tidak akan membutuhkan kapur-kapur ini
selama liburan kita ini namun aku tetap membawanya, siapa tahu." Ia melihat
jam tangannya. "Kita berkumpul kembali di rumah pamanku lima jam lagi.
Paman Atticus akan memasak lobster malam ini, jadi jangan sampai
terlambat!"

"Oh," erang Pete. "Bagaimana kau dapat berpikir tentang makanan setelah
makan besar tadi?"

Anak-anak tertawa dan Bob pergi ke arah rumah Atticus Jones sementara Pete
dan Jupe menuju ke markas Perompak Baru dari Barat. Karena hari itu
bukanlah akhir pekan, jumlah turis yang bergerombol di jalan tidaklah terlalu
besar, sehingga kedua penyelidik itu bisa mencapai bekas pos pemadam
kebakaran dalam waktu relatif singkat. Setelah sepakat untuk bersuit dua kali
jika melihat sesuatu yang mencurigakan, Jupe duduk di salah satu bangku
taman di seberang jalan, mengamat-amati pintu depan bangunan batu bata itu.
Pete memanjat tangga darurat sebuah bangunan beberapa pintu jauhnya dari
pintu belakang pos pemadam kebakaran.

Dari tempatnya mengintai Pete dapat melihat sebuah Mercedes dan sebuah
Jeep terparkir di belakang pos pemadam kebakaran. Ia tidak melihat mobil
kecil berwarna putih yang digunakan Bly beberapa hari lalu. Anak-anak telah
melakukan pengintaian berkali-kali sebelumnya dan mereka semua terbiasa
akan kebosanan yang melanda jika tidak ada yang terjadi dalam waktu lama.
Sepertinya itulah yang akan terjadi kali ini. Setelah dua jam Jupe membeli es
krim dari seorang pedagang jalanan, lalu gulali. Pete turun untuk mengambil
sebuah kursi tua yang telah dibuang seseorang bersama dengan sampah. Ia
menaikkan kursi itu ke tempat mengintainya di atas tangga darurat dan
meregangkan kakinya yang panjang sambil tersenyum.

Satu jam lagi telah berlalu. Hari mulai sangat terik. Jupiter pindah ke sebuah
bangku taman lain yang terlindung bayang-bayang sebatang pohon. Di atas
tangga darurat keadaan Pete sungguh menyedihkan. Tidak ada yang
melindunginya dari panas matahari dan anak itu sangat haus. Ia melihat
arlojinya untuk kesekian ratus kalinya dan mendesah. Ia berharap sesuatu akan
segera terjadi. Meskipun ia telah menikmati makan siang besar tadi, perutnya
mulai bersuara.

Tepat pada pukul lima pemilik Mercedes dan Jeep muncul membawa ember-
ember cat dan kotak perkakas. Pete berdiri tegak dan mengintip melalui sela-
sela pegangan tangga yang berkarat. Ia tidak mengenali kedua orang itu namun
itu bukan masalah -- mereka berdua masuk ke mobil masing-masing dan pergi.
Pete menghela nafas dan hendak melihat jam tangannya lagi ketika pintu
belakang sekali lagi terbuka. Kali ini Gaspar St. Vincent! Pete mengamati pria
berkostum bajak laut itu menjatuhkan seberkas anak kunci dan kemudian
mengunci pintu. Penyelidik Kedua merasa perompak itu nampak sangat marah -
- ia berjalan demikian cepatnya sehingga boleh dikatakan berlari! Pete
menahan nafas ketika Gaspar berjalan tepat di bawahnya. Perompak itu
kemudian masuk ke sebuah toko obat di sebelah kiri jalan melalui pintu
belakang. Pete memasukkan jari ke mulut dan bersuit dua kali.

Di bangku taman yang kini didudukinya bersama beberapa ekor merpati,


Jupiter menegakkan badannya. Ia mendengar sinyal dari Pete. Penyelidik
Pertama menatap bagian depan toko-toko dengan bergairah. Sekonyong-
konyong ia memahami tanda dari Pete. Gaspar St. Vincent dapat dikatakan lari
keluar dari sebuah toko obat, beberapa bangunan dari pos pemadam
kebakaran. Bajak laut jangkung itu melihat ke kiri dan ke kanan, kemudian
berlari menyeberangi jalan. Mata Jupe terbelalak. Gaspar menuju tepat ke
arahnya!

Jupiter membungkuk dan berpura-pura mengikat tali sepatunya. Gaspar St.


Vincent, yang juga dikenal sebagai Francis Shoe, tidak memperhatikannya
meskipun lewat setengah meter dari Jupiter! Jupe begitu dekat dengan
Perompak Baru itu hingga ia dapat melihat kecemasan yang merambati wajah
lelaki itu. Ia memandang penuh minat sementara Gaspar memasuki sebuah
pintu di samping Kamar Tujuh Lautan dan berlari menaiki tangga, sekali
melangkah melompati dua anak tangga sekaligus.

Saat itu Pete Crenshaw yang kehabisan nafas mengusir burung-burung merpati
dan duduk di samping rekannya. "Kau melihat Gaspar?"

Jupe mengangguk. Apartemennya pastilah berada di atas tempat minum itu.


Kalau melihat wajahnya, seolah-olah sesuatu yang mengerikan telah terjadi.
Apa yang kau lihat?"

"Tidak ada apa-apa..."

Sebelum Pete dapat berkata lebih lanjut, Gaspar telah muncul kembali di
pintu. Kedua anak itu berusaha untuk tidak menarik perhatian namun
sebenarnya tidak perlu. Gaspar, mengenakan pakaian baru, berjalan tepat di
samping mereka tanpa mengatakan apa-apa.

"Kau pikir ia melihat kita?" tanya Pete.

"Masa bodoh!" seru Jupe. "Mungkin akhirnya kita mendapat angin segar dalam
kasus ini. Mari kita buntuti dia dan lihat ke mana dia pergi!"
Kedua penyelidik itu mulai berjalan di belakang bajak laut itu, berhati-hati
dengan menjaga jarak kalau-kalau pria itu berpaling. Di ujung blok pria
jangkung itu berbelok ke kanan dan menghilang. Jupe dan Pete lekas-lekas
berlari ke belokan itu dan mengintip.

"Ia naik mobil!" teriak Pete.

Dalam hati Jupiter sangat kesal sementara mereka memandangi Gaspar


mengemudikan mobil kecilnya yang berwarna biru bergabung dengan lalu
lintas. "Mengapa kita berikan sepeda kepada Bob?" keluhnya. "Kita harus
berusaha mengikutinya dengan berjalan kaki sejauh yang kita bisa!"

Berkat arus lalu lintas dan beberapa lampu merah yang membawa
keberuntungan, kedua anak itu berhasil mengikuti mobil biru itu sejauh
beberapa blok. Namun ketika Gaspar berbelok masuk ke jalan raya, mereka
hanya dapat berdiri tanpa daya sambil memandangi pria itu meluncur menjauh.

"Kita kehilangan dia," erang Pete.

Jupiter memandangi mobil yang kian lama kian mengecil itu dengan hati
menciut. Ketika kendaraan itu hampir hilang dari pandangan, hatinya tiba-tiba
melonjak. Ia melihat lampu rem dan sen! Digamitnya lengan Pete.

"Ayo! Mungkin belum terlambat!" Anak-anak berlari sekencang-kencangnya.


Namun mobil Gaspar berbelok ke kiri dan menghilang sebelum mereka berada
setengah jalan dari belokan itu.

Pete menggeleng-geleng dan memperlambat larinya. "Tidak ada gunanya,"


katanya terengah-engah. "Mungkin sekarang dia sudah satu mil jauhnya dari
sini!"

Jupiter pantang menyerah. "Belum tentu, Dua," ia tersengal-sengal, berusaha


mempercepat langkah. "Kalau aku tidak salah, jalan yang dimasukinya itu
buntu! Kita melewati daerah ini ketika pergi melihat Seruling Belanda." Tanpa
mempedulikan rasa nyeri di pinggang mereka, anak-anak terus berlari. Ketika
akhirnya mereka tiba di belokan tempat Gaspar menghilang, dengan muka
merah dan penuh keringat, Jupiter berseru penuh kemenangan.

"Ya!" teriaknya, menunjuk ke suatu arah di tengah-tengah blok. Pete mengusap


keringat di dahinya dan tersenyum. Mobil biru Gaspar terparkir di depan sebuah
gedung apartemen kecil! Terpampang sebuah papan nama: APARTEMEN
LYNDALE LANE. Anak-anak menyelinap sedekat yang mereka berani di seberang
jalan, kemudian merunduk di balik pagar semak yang tinggi.

Dengan penuh minat mereka memandang Gaspar berbicara dengan ramai


kepada seseorang melalui interkom apartemen. Mereka terlalu jauh untuk
mendengar pembicaraan itu namun Gaspar jelas nampak marah. Tangannya
bergerak-gerak penuh emosi dan ia berulang kali menekan tombol-tombol di
interkom itu.

"Wah, siapapun yang tinggal di sana jelas tidak ingin ia masuk!" kata Pete.

"Lihat siapa yang datang," desis Jupiter.

Pete hampir-hampir tidak dapat mempercayai pandangannya. Pria Berpakaian


Hitam! Pria itu mengenakan kemeja lengan pendek berwarna ungu dan dasi
putih, serta topi hitam dan kacamata gelap yang biasa. Ia tiba di gedung
apartemen itu dan berjalan menuju ke pintu depan. Ia nampak berbicara
kepada Gaspar.

Jupe nyaris meledak penuh rasa ingin tahu. "Seandainya kita bisa mendengar
pembicaraan mereka!" keluhnya. "Mungkin kita bisa lebih mendekat lagi."

Pete menggeleng. "Mereka jelas akan melihat kita. Satu-satunya mobil di depan
apartemen itu adalah milik Gaspar. Mungkin..."

Ia terdiam ketika kedua pria itu berjalan keluar bersama. Mereka berhenti di
depan mobil kecil milik Gaspar dan Pria Berpakaian Hitam menyerahkan
sesuatu kepada Gaspar, kemudian berjalan menjauh. Anak-anak mengamatinya
masuk ke mobilnya sendiri yang diparkir beberapa rumah jauhnya.

Sambil memasukkan benda kecil itu ke dalam saku, Gaspar St. Vincent masuk
ke mobilnya dan mereka berdua pergi ke arah yang berlawanan -- Pria
Berpakaian Hitam lewat tepat di depan Jupe dan Pete. Jupiter tidak ragu-ragu.
Dengan mengambil resiko ketahuan, ia keluar dari balik pagar semak dan
berlari-lari kecil di tepi jalan, cukup lama untuk melihat nomor polisi Pria
Berpakaian Hitam. Dengan cepat diingatnya nomor itu.

"DLH 555," lapornya ketika tersusul oleh Pete. "Mungkin Chief Reynolds di Rocky
Beach bisa membantu kita mengidentifikasi Pria Berpakaian Hitam yang
misterius!"

Pete menganggukkan kepala ke arah pintu depan kompleks apartemen itu.


"Mari kita lihat, siapa yang berbicara dengan Gaspar tadi."

Kedua anak itu berjalan ke pintu depan gedung kecil itu dan Pete
menggerakkan jarinya menelusuri daftar penghuni. Terdapat empat nama
dengan nomor interkom masing-masing.

1. ADRAGNA, R. #1113
2. KANE, H. #8216
3. VEBBELL, E.D. #0505
4. MOTT, H. #0915

Pete mengerutkan kening. "Aku tidak mengenali satupun dari nama-nama ini.
Siapakah yang diajak bicara oleh Gaspar dengan penuh semangat tadi?"

"Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya," kata Jupiter muram. "Kita harus
mengetuk pintu satu demi satu." Selama beberapa saat Jupe dengan cepat
mengarang suatu cerita dan kedua anak itu mulai mengetuk. Lima menit
kemudian mereka telah berbicara dengan semuanya kecuali KANE, H. di
apartemen nomor dua. Semuanya sama sekali tidak dikenal oleh anak-anak.

Pete menuliskan alamat apartemen itu di telapak tangannya, kemudian


menggaruk kepalanya dengan pen. "Menurutmu apakah Pria Berpakaian Hitam
itu adalah H. KANE ini?"

"Suatu kemungkinan," kata Jupiter sambil berjalan ke sisi gedung. "Mari kita
coba mengintip melalui jendela, siapa tahu kita akan melihat sesuatu yang
dapat memberi petunjuk."

Kedua detektif itu menemukan jendela-jendela apartemen H. KANE. Hanya


satu yang tirainya terbuka. Anak-anak meletakkan tangan mereka di kaca dan
mengintip ke dalam.

Apartemen H. KANE sungguh berantakan. Sebuah meja penuh sesak dengan


kertas dan tagihan terletak di balik jendela. Tumpukan majalah dan surat
kabar dengan gambar kuda pacuan dan anjing balap teronggok di atas meja dan
kursi.

"Sepertinya hari ini pembantu libur," kata Pete tidak terkesan.

"Itu majalah-majalah mingguan tentang pacuan," Jupiter memberitahunya.


"Sepertinya Mr. Kane adalah seorang penjudi yang sering mengunjungi arena
pacuan." "Lalu?" Pete mengangkat bahu. "Semua orang perlu hobi. Aku ingin
tahu siapa Pria Berpakaian Hitam -- bukan apa yang dilakukannya pada waktu
senggang!"

Jupiter berjalan keluar dan membuat tanda tanya besar dengan kapur putihnya
di sebatang pohon di halaman apartemen. Ia memasukkan kapur ke dalam
sakunya dan menyatukan telapak tangan dengan puas. "Coba kita lihat apakah
Chief Reynolds dapat memberi tahu kita siapa orang itu, Dua. Mungkin DLH 555
sama dengan H. KANE!"

BAB XI

BIARKAN DIA HIDUP


Setelah mengambil sepeda tua dari rumah Paman Atticus, Bob bergegas pergi
ke pameran Seruling Belanda. Ketika tiba di tempat parkir sepeda, ia melihat
bahwa tidak ada terlalu banyak turis hari ini. Sebuah papan yang tergantung di
haluan kapal itu mengumumkan bahwa pameran itu akan menuju Kanada
besok.

Bob memandang berkeliling, mencari tempat yang tepat untuk mengawasi


Seruling Belanda dan kedua perahu motor pengunjuk rasa yang berada di teluk.

Anak bertubuh kecil itu tersenyum ketika pandangannya jatuh pada sebuah
toko memancing di dekat situ. Ia berjalan ke sana dan merogoh saku
celananya, mencari uang. "Siapa bilang mengintai pastilah membosankan?"
katanya kepada dirinya sendiri, meletakkan selembar sepuluh dolar di kasir.
Seorang gadis cantik mengenakan atasan bikini berwarna merah muda cerah
mengambil tempat di belakang mesin kasir. "Ada yang bisa kubantu?"

"Aku ingin menyewa kail dan umpan," Bob tersenyum, merasa yakin Jupe tidak
akan setuju akan metode pengintaiannya. Bob tertawa membayangkan dirinya
pulang membawa ikan besar selagi menangani kasus. Itulah yang akan didapat
Jupiter Jones yang berani-beraninya menemukan suatu misteri tatkala sedang
berlibur!

Gadis itu menyiapkan peralatan di atas meja sambil tersenyum manis dan
berkata semoga Bob sukses. Bob tersipu-sipu dan keluar ke dermaga, memilih
tempat yang tidak membuat pandangannya ke arah Seruling Belanda terhalang.

Setelah dengan teliti memasang umpan di kailnya, anak itu melecutkan


jorannya dengan sempurna. Ia mulai memainkan kail perlahan-lahan dan
menggulungnya dengan lembut, seperti yang telah diajarkan ayahnya beberapa
musim panas yang lalu.

Sambil memancing Bob dapat melihat Oscar Cutter di geladak Seruling Belanda,
menjelaskan metode penyelamannya dan menceritakan sejarah kapal megah
itu. Pria itu nampak sangat bosan dan sedikit kesal terhadap para turis. Bob
melihat bahwa para pengunjuk rasa di kedua perahu pun nampak bosan dan
jelas sekali kehilangan antusiasme yang mereka tunjukkan kemarin.

Beberapa jam berlalu dan Bob menduga sepertinya ia akan sama beruntungnya
dalam memancing dengan dalam mengintai. Kemudian ia merasa ada yang
membuat tali pancingnya bergetar. Tiba-tiba talinya terulur dan jorannya
melengkung oleh tarikan seekor ikan besar! Penuh semangat, Bob menarik
tongkat pancingnya dengan kedua tangan. Dua puluh meter di depannya, Bob
melihat cipratan air ketika seekor ikan besar melompat keluar, bergerak-gerak
dengan liar di udara, sebelum akhirnya masuk kembali ke air. Jantung Bob
berdebar kencang. Menangkap ikan yang besarnya setengah kali ikan ini pun ia
belum pernah. Jupe dan Pete pasti akan ternganga! Ia sedang menimbang-
nimbang untuk memakan ikan itu atau mengawetkannya ketika suatu gerakan
di atas Seruling Belanda membuat hatinya menciut.

Oscar Cutter hendak pergi! Bob mengerutkan kening dan menggulung talinya
sekuat-kuatnya, berusaha mengamati si ikan dan Cutter pada saat yang
bersamaan. Peneliti itu sedang menyerahkan suatu catatan kepada seorang
mahasiswa dan nampak memberikan instruksi. Ia lalu menepuk punggung
mahasiswa itu, menuruni kapal, dan menuju ke jalan tepat ketika Bob menarik
ikan raksasa itu keluar dari air ke atas dermaga!

Bob dengan cekatan melepaskan mata kail bagaikan seorang pemancing ulung
dan menjulurkan kepala untuk melihat arah yang diambil Cutter. Pandangannya
terhalang oleh kapal yang besar itu! Tahu bahwa ia tidak mungkin membuntuti
Cutter sambil membawa-bawa ikan, hati Bob semakin ciut. Tepat pada saat itu
gadis cantik berbikini merah muda yang tadi menyewakan kail kepada Bob
muncul sambil membawa kamera.

"Hebat sekali!" katanya. "Mau kuambil gambarmu? Hanya satu dolar."

"Tentu saja," Bob mendesah, memegang ikan itu di hadapannya. "Paling tidak
kini aku punya bukti."

Gadis itu mengambil gambarnya. "Apa maksudmu, 'bukti'?" tanyanya,


memberikan foto kepada Bob dan menerima satu dolar sebagai gantinya.

Bob patah hati ketika ia melemparkan ikan raksasa itu ke air dan
menyaksikannya berenang pergi di balik ombak. "Biarkan dia hidup, begitulah,"
ia mengangkat bahu, terpukul.

Bob berlari kecil meninggalkan dermaga untuk mengejar Cutter. "Terima kasih
atas fotonya!" serunya.

Ketika Bob mencapai Seruling Belanda, ia berdiri di atas tiang pendek yang
membatasi tepi dermaga untuk memandang di atas kepala orang-orang yang
antri untuk naik ke kapal. Bob semakin kesal ketika melihat bahwa Oscar
Cutter sebenarnya tidak pergi ke mana-mana. Pria itu hanya berjalan tidak
jauh dari kapal ke dermaga sebelah tempat tertambatnya sebuah perahu kecil
yang digunakan tim penelitinya untuk pergi ke tempat penelitian lima puluh
meter ke tengah laut. Bob merasa ingin menangis! Ia telah melepaskan
tangkapan terhebatnya seumur hidup dengan percuma!

Anak itu menatap dengan sebal pelaut tampan itu mengemudikan perahu motor
ke kapalnya yang kosong. Kedua perahu pengunjuk rasa tidak bergeming,
sepertinya memutuskan untuk tetap tinggal di sekitar Seruling Belanda.
Bob menduga-duga apa yang dilakukan Cutter di kapal penelitinya sendirian
saja, jaraknya terlalu jauh untuk melihat dengan jelas. Mungkin hanya
memeriksa keadaan, memastikan peralatan sonarnya yang peka tidak dijamah
oleh para Perompak Baru, pikir Bob.

Dalam usahanya untuk mengalihkan pikirannya dari ikan raksasa kembali ke


kasus itu, Bob berlari-lari kecil ke toko pancing kecil tempat ia menyewa kail
tadi.

"Mau mencoba lagi?" gadis berbikini itu tertawa. "Tak perlu membayar lagi
kalau kau ingin menggunakan kail yang sama."

Bob tersenyum berterima kasih. "Tidak, terima kasih. Aku hanya ingin minta
tolong."

"Silakan," gadis cantik itu mengangguk.

"Apakah kau punya teropong yang bisa kupinjam sebentar? Penting sekali -- aku
hanya akan pergi ke dermaga di dekat pameran Seruling Belanda."

Gadis itu setuju dan mencari-cari di bawah meja kasir, lalu menyerahkan
sebuah teropong kepada Bob. "Jangan sampai hilang," katanya
memperingatkan. "Itu milik atasanku. Aku bisa dipecat kalau ia tahu aku
meminjamkan teropongnya yang bagus kepada seorang asing. Apakah kau dari
sekitar sini?"

Bob menyeringai dan menggelengkan kepala. "Tidak, aku dan teman-teman


hanya berlibur di sini. Terima kasih atas teropongnya. Aku berjanji akan
mengembalikannya."

Bob meletakkan teropong di depan matanya begitu tiba di dermaga, tepat di


depan tempat penelitian Cutter. Ia terkejut melihat Cutter mengenakan
pakaian menyelam. Bob ingat bahwa salah satu pelajaran dasar yang diterima
Trio Detektif di sekolah menyelam di Rocky Beach adalah tidak menyelam
sendirian.

Setelah memasang tabung udara dan kacamata selam, peneliti itu memandang
sekilas ke arah perahu-perahu Perompak Baru, kemudian menceburkan diri ke
air.

Bob menurunkan teropongnya. Apakah yang demikian pentingnya sehingga


tidak dapat menunggu sampai Seruling Belanda berlayar besok? Bob tidak
sempat memikirkan jawaban atas pertanyaannya sendiri. Beberapa menit
kemudian pria itu muncul di permukaan dan mulai memanjat tangga di samping
kapalnya.
Bob dapat melihat bahwa Cutter menggenggam suatu benda kecil di tangannya.
Benda itu terlihat seperti sebuah pistol. Mungkin salah satu dari blunder-apalah
yang disebut-sebutnya di rumah Paman Atticus. Lempengan kuningan di laras
dan gagang kayunya berkilau ditimpa matahari.

Bob menyingkir dari dermaga ketika ia melihat Cutter menanggalkan pakaian


selamnya dan menyimpannya. Ia hendak kembali ke pantai -- dan ia membawa
pistol itu! Bob kembali ke toko pancing dan mengembalikan teropong kepada
sang gadis.

"Datanglah lagi jika kau ingin memancing," kata gadis itu. "Dan ajak teman-
temanmu. Kami menyewakan kail termurah di teluk ini!"

Bob melambai sambil berlari ke dermaga Oscar Cutter. Penyelam itu baru saja
menambatkan perahu motornya. Bob membaur dengan para turis yang
mengantri, lalu berlari mendapatkan sepedanya ketika Cutter melemparkan
pistol antik itu ke tempat duduk penumpang di mobil kecilnya dan mulai
bergerak.

Bob membuat tanda tanya besar dengan kapur hijaunya di trotoar lapangan
parkir dan mulai membuntuti dari jarak yang aman.

Bob Andrews merasa semakin lama ia mengayuh, semakin banyak pertanyaan


yang muncul di benaknya. Seperti, ke manakah Cutter membawa pistol itu? Dan
mengapa para pengunjuk rasa dari Perompak Baru tidak berusaha
mencegahnya?

BAB XII

MENGHUBUNGI ROCKY BEACH!

Menjelang makan malam Jupiter dan Pete tiba kembali di rumah Atticus Jones.
Anak-anak dapat mencium harumnya masakan lobster yang menerbitkan air liur
mereka ketika mereka baru setengah jalan menuju pintu.

Pada saat mereka masuk, mereka hanya dapat meringis mendengar suara
sumbang Titus dan Atticus yang menyanyikan salah satu lagu pelaut kegemaran
mereka sambil sibuk di dapur. Bibi Mathilda tidak sabar dan berusaha
membantu-bantu namun setiap kali diusir keluar oleh Atticus.

"Selamat datang kembali, Pelaut!" seru Atticus ketika anak-anak masuk ke


dapur. "Meja untuk tiga orang? Kebetulan kami ada satu meja kosong dengan
pemandangan menghadap ke teluk!"
"Masakan istimewa malam ini adalah udang karang panggang mentega, salad
yang lezat, dan kue keju nikmat yang akan menggelitik selera Anda!" Titus
menirukan pelayan rumah makan mewah.

Jupiter memandang berkeliling dapur, tersadar bahwa anggota ketiga biro


mereka belum kembali. "Bob belum pulang juga?"

"Tidak kelihatan sepanjang hari!" Titus bernyanyi, memotong bonggol selada.


"Kami kira ia bersama kalian."

"Kami berpencar," jawab Pete. "Kami sepakat untuk berkumpul lagi di sini saat
makan malam."

"Ah," Atticus mengedipkan mata, "dan bagaimana dengan pengusutan kalian?


Ada perkembangan baru yang menjanjikan?"

"Mungkin," jawab Jupiter, memikirkan Gaspar dan Pria Berpakaian Hitam.


"Bolehkah kami mengadakan hubungan interlokal dengan telepon Paman,
Paman Atticus? Aku berjanji kami akan mengganti ongkosnya."

"Ongkos apa? Hubungi siapa saja yang kau mau, Nak -- asal jangan sampai
kalian terlambat makan saja," tukas pamannya.

Kedua detektif itu pergi ke ruang kerja Atticus yang berantakan. Jupiter
menemukan pesawat telepon tua yang nomornya harus diputar dan
menghubungi nomor langsung Chief Samuel Reynolds di Kepolisian Rocky Beach.
Trio Detektif pernah bekerja sama dengan kepala polisi itu dalam beberapa
kasus yang telah lewat. Meskipun kepala polisi itu menghargai mereka sebagai
detektif sesungguhnya, seringkali ia merasa anak-anak, terutama Jupiter Jones,
terlalu sering mencampuri urusan pihak berwajib. Chief Reynolds selalu
beranggapan hanya ada garis tipis yang memisahkan pengabdi masyarakat dan
pengganggu!

Pete memandang sekilas ke arah jam yang juga berfungsi sebagai barometer di
dinding dan nampak cemas. "Wah, Jupe, sudah pukul enam lewat. Chief
Reynolds mungkin telah pulang."

Namun kecemasan Pete tidaklah beralasan ketika kepala polisi itu mengangkat
telepon pada deringan ketiga. Ia menjawab dengan tegas, "Reynolds."

"Selamat petang, sir. Ini Jupiter Jones. Bolehkah saya mengganggu Anda
sebentar?"

Terdengar desahan enggan di ujung saluran. "Aku tidak punya waktu, Jones,"
tukas kepala polisi itu. "Ada perampokan tadi di pompa bensin Save-U-More --
kini aku harus bekerja lembur untuk menyelesaikan laporan!"
"Perampokan?" secara naluriah Jupiter ingin tahu lebih lanjut. "Save-U-More
yang di bagian timur atau barat?"

"Sudahlah, Jones," geram kepala polisi itu. "Dengar. Mengapa kau tidak mencari
kepala polisi lain untuk kau ganggu -- di Meksiko, misalnya."

Jupiter menutupi gagang telepon dengan telapak tangannya dan berbisik


kepada Pete, "Ia sedang kesal. Aku harus cepat-cepat." Remaja gempal itu
mengembalikan gagang telepon ke telinganya. "Sir, saya mengerti Anda sangat
sibuk namun hal ini hanya perlu waktu sebentar." Ia menahan nafas, menunggu
jawaban kepala polisi di ujung saluran. Akhirnya Chief Reynolds menyerah.

"Baiklah, Jones, apa maumu?"

"Terima kasih, sir."

"Ya, ya, kembali," tukas kepala polisi itu, "jangan lama-lama. Dan jangan
gunakan kata-kata sukar!"

"Ada nomor polisi yang perlu Anda usut, sir. Nomor Oregon DLH 555. Mobilnya
sebuah Ford hitam. Menurut saya, sedan model baru dengan empat pintu.
Nama pemiliknya mungkin adalah 'H. KANE'," Jupiter juga menyebutkan alamat
apartemen kecil itu. "Sudah? Hanya itu?" sindir kepala polisi itu. "Tidak sukakah
kalian akan kegiatan anak-anak normal, seperti bermain bisbol? Atau
berselancar? Dan apa yang kalian lakukan di Oregon?"

"Ceritanya panjang, sir," Jupiter meyakinkan.

"Pasti. Baiklah. Perlu waktu satu atau dua hari untuk memperoleh data dari
Departemen Transportasi Oregon. Bisa diterima, Jones? Apakah setelah ini aku
perlu menelepon Presiden Amerika Serikat untukmu?"

"Tidak, sir," Jupiter menyeringai. "Itu sudah cukup baik, sir."

Ia memberitahukan nomor telepon pamannya kepada Chief Reynolds dan


memutuskan hubungan. "Wah, nyaris."

"Berapa lama?" tanya Pete.

"Katanya satu atau dua hari. Mulai besok kita punya satu minggu lagi, mudah-
mudahan cukup untuk memecahkan kasus ini."

Bibi Mathilda memanggil dari dapur. "Jupiter! Pete! Bob! Ayo cuci tangan,
waktunya makan!"
Mendengar nama Bob disebut, kedua anak itu teringat bahwa rekan mereka
belum kembali juga. Mereka sedang melewati gudang belakang tempat Paman
Atticus menyimpan pakaian selam antiknya dan peti Cakar Perunggu ketika
Jupiter tiba-tiba berhenti dan meletakkan kedua belah telapak tangan di
kepala.

"Benda itu hilang!"

"Maksudmu anak itu hilang," Pete membetulkan. "Di mana menurutmu Bob
berada?"

Jupiter berdiri dengan kedua tangan di kening dan menggeleng-geleng tanpa


daya. "Bukan -- memang maksudku benda itu hilang! Lihatlah!" Ia menunjuk ke
arah peti. Peti yang telah dipasangi gembok istimewa oleh Atticus. Peti yang
pernah menyimpan Cakar Perunggu, yang kemudian dicuri dan dikembalikan
lagi. Peti itu kini kosong, tutupnya pecah seolah-olah dihantam sebuah kapak
dengan keras!

"Ada yang mencurinya lagi!" Pete tersentak.

"Aku tidak dapat mengerti," Jupe bergumam sambil memeriksa peti rusak itu.
"Mengapa mencurinya, hanya untuk mengembalikannya, dan kemudian
mencurinya lagi? Sama sekali tidak rasional." Ia berdiri dan berjalan ke pintu
belakang, mendorongnya. Pintu itu terbuka dengan mudahnya.

"Kunci pintu ini telah dirusak juga," katanya muram. "Ada yang bersusah-payah
hanya untuk mengambil cakar itu."

"Lagi," kata Pete mengingatkan. "Mungkin ada hubungannya dengan Bob yang
tidak muncul untuk makan malam. Pasti ada sesuatu yang sungguh penting jika
Data sampai melewatkan lobster dan kue keju!"

Jupiter mengangguk dan mencubiti bibirnya. "Sebaiknya kita lapor Paman


Atticus," putusnya. "Lalu mulai mencari Bob, mungkin ia berada dalam bahaya."

Anak-anak dengan murung kembali ke dapur. Mereka benci untuk melewatkan


makan malam istimewa itu namun Bob perlu bantuan. Jupiter melaporkan
bahwa rumah telah dibobol sekali lagi dan Cakar Perunggu telah dicuri lagi.
Suasana ceria di sekitar meja segera berubah.

"Di-dicuri," Paman Atticus tergagap-gagap.

"Lagi?" Ia bangkit dari tempat duduknya dan menyerbu ke gudang. Ketika yang
lain tiba di sana, Atticus Jones sedang berdiri di depan peti rusak itu sambil
menariki kumis besarnya dan mengumpat-umpat ke arah langit-langit.
Bibi Mathilda tidak tahan lagi. Wanita itu masuk ke kamarnya, membuka koper,
dan mulai berkemas-kemas, bibirnya terkatup rapat. "Tempat ini tidak aman
lagi!" jeritnya. "Aku mau kalian anak-anak berkemas dan mengambil kantung
tidur kalian dari kapal! Aku takkan tinggal di sebuah rumah yang dimasuki
pencuri sesuka hati mereka! Rumah ini tidak aman, dengar itu!"

Jupiter dan Paman Titus berusaha menenangkan wanita itu namun tatapan
marah Bibi Mathilda membuat mereka menutup mulut sebelum sempat
bersuara.

Atticus menunduk dengan muram. "Kurasa bibimu benar," katanya. "Terlalu


berbahaya bagi kita untuk tinggal di sini sebelum orang gila ini tertangkap!"

Jupiter menggamit Paman Titus.

"Kurasa Paman sebaiknya membawa Bibi Mathilda ke penginapan terdekat."

"Dan apa rencanamu, Nak?" kata pamannya dengan bijak. "Permainan ini sudah
terlalu berbahaya. Menurutku sudah saatnya polisi mengambil alih sekarang."

"Kami cemas akan Bob," Jupiter menjelaskan. "Ia belum kembali dari
pengintaiannya di Seruling Belanda. Aku hendak meminta tolong Paman Atticus
mengantarkan kami mencari anak itu. Jika kami tidak dapat menemukannya,
maka tidak ada pilihan lagi selain menghubungi polisi."

Paman Titus menimbang-nimbang sesaat, kemudian menyetujuinya dan


membantu istrinya memasukkan barang-barang mereka ke bak belakang truk.
Sekali lagi ia memperingatkan Jupe agar benar-benar berhati-hati. "Sepertinya
ada orang tidak waras di luar sana. Aku tidak ingin kalian anak-anak pergi
sendirian!"

Jupiter berjanji bahwa ia dan Pete akan berusaha untuk tetap bersama Paman
Atticus sepanjang waktu sementara mereka semua naik ke truk.

"Ke pameran Seruling Belanda," Jupiter memberi aba-aba. "Dan buka mata
terhadap tanda tanya yang dibuat dengan kapur hijau!"

BAB XIII

HANTU SI JANGGUT HITAM

Kaki Bob gemetar sementara ia berusaha mengimbangi mobil putih Oscar Cutter yang melaju
menuju kota. Untuk kesepuluh kalinya anak itu berpikir, seandainya ia mengendarai sepeda
gunungnya yang bergigi lima, yang diperolehnya sebagai hadiah Natal tahun lalu, membuntuti
tersangka jauh lebih mudah dengannya. Paling tidak di Rocky Beach Trio Detektif bisa
memanfaatkan layanan Worthington!

Worthington adalah supir berkebangsaan Inggris yang mengemudikan Rolls Royce mewah, yang
dimenangkan Jupiter dalam sebuah kontes. Berkat kebaikan hati seorang klien yang sangat
berterima kasih, Trio Detektif bisa menggunakan mobil mewah itu tanpa batas dan Worthington
telah menjadi seorang sahabat sekaligus 'Penyelidik Keempat tidak resmi.'

Namun hari ini Worthington berada ratusan mil jauhnya dan Bob sendirian, mengayuh sepeda
antik Atticus Jones!

Remaja berambut pirang itu menghembuskan nafas lega dan mulai memperlambat kayuhannya
ketika melihat mobil kecil Cutter berbelok masuk ke jalan raya. Berhati-hati, Bob menjaga
jarak satu blok di belakang peneliti itu. Ia terheran-heran melihat Cutter membelokkan mobil
ke dalam sebuah lorong sempit di belakang deretan toko yang pernah dimasukinya dan Pete
ketika melarikan diri. Bob memarkir sepeda tuanya di tempat parkir terdekat dan mengintip di
sudut jalan.

Cutter sedang berdiri di depan pintu belakang markas Perompak Baru dari Barat -- dan ia
menggenggam pistol yang belum lama diambilnya dari dasar laut! Bob mengamati dan
kemudian mengendap-endap mendekat untuk dapat melihat lebih jelas. Apa yang dilakukan
seorang peneliti kapal karam di tempat orang-orang yang memprotes dan mengancamnya? Bob
sempat berpikir bahwa penyelam itu mungkin hendak menjual pistol itu kepada Perompak Baru
sebagai tambahan koleksi museum mereka. Namun kemudian ia teringat akan perkataan Jupe
bahwa semua yang dipamerkan adalah imitasi belaka -- lagipula, segala sesuatu yang
ditemukan Cutter tentu menjadi milik universitas yang membiayai penelitiannya.

Tak lama kemudian pintu terbuka dan Cutter tanpa bersuara disilakan masuk ke dalam pos
pemadam kebakaran yang gelap. Bob menggigiti kukunya dengan gelisah. Apa yang harus
dilakukannya? Anak yang bertanggung jawab akan Catatan dan Riset tidak ingin terpisah dari
teman-temannya jika ia memutuskan untuk membuntuti Cutter ke dalam. Pete melakukan hal
itu dalam kasus sebelumnya di Inggris, Misteri Warisan Hitchcock, dan hasilnya ia terkurung di
ruang penyimpan anggur sepanjang hari! Bob tidak ingin mengulangi kesalahan temannya.

Dengan muram Bob memikirkan segala alat yang dirancang Jupiter untuk menangani kasus
seperti ini. Sungguh akan berguna alat-alat itu baginya sekarang! Ia sedikit kesal terhadap Jupe
yang hanya membawa kapur khusus mereka namun sadar bahwa ia sendiri patut disalahkan. Ia
seharusnya tahu bahwa suatu liburan pun dapat berubah menjadi bahaya jika ada Jupiter
Jones!

Bob memutuskan bahwa ia harus puas dengan kapur untuk saat ini. Ia membuat sebuah tanda
tanya besar berwarna hijau di dinding dan beberapa lagi sementara ia mendekati pintu
belakang markas Perompak Baru. Ketika ia telah mencapai pintu yang tadi dimasuki Cutter, ia
berlutut dan menggambar satu lagi tanda tanya dan tanda panah di lantai. Sambil menarik
nafas panjang dan mengumpulkan segenap keberaniannya, Bob memasuki bagian dalam yang
gelap.

Hidungnya segera mencium bau cat basah dan serbuk gergaji. Ruangan lembab itu hanya
diterangi oleh cahaya matahari yang masuk melalui jendela kaca berwarna yang menghadap
jalan raya. Bob membiarkan matanya terbiasa dengan keremangan ruangan itu selama
beberapa saat, lalu berjingkat-jingkat maju.
Brak! Ia menabrak sebuah kuda-kuda gergaji dengan gergaji di atasnya. Bunyi yang ditimbulkan
terasa sungguh kencang memecah kesunyian bangunan besar itu. Bob mengumpat tertahan,
mengatupkan gigi, dan mendengarkan. Setelah beberapa menit di dalam kesunyian, yakin akan
tertangkap basah dengan senter yang disorotkan ke arahnya, Bob melanjutkan langkahnya ke
bagian depan ruangan.

Melihat turis-turis di luar jendela besar itu membuat perasaan Bob sedikit lebih baik. Ia tahu
kalau ada bahaya, paling tidak ia akan dapat menggedor kaca jendela dan berteriak minta
tolong -- bahkan memecahkannya kalau terpaksa!

Ia mengendap-endap di lantai bawah, mencari petunjuk, dan ketika merasa lebih percaya diri,
mulai menaiki tangga menuju ke lantai dua. Cutter pastilah ada di sana!

Setelah tiba di atas kepercayaan diri Bob luntur. Hanya ada beberapa jendela kecil di ruangan
besar itu dan secercah cahaya matahari yang masuk hanya menimbulkan bayang-bayang
menyeramkan. Ia menggambar satu lagi tanda tanya di anak tangga teratas.

Bob menelan ludah dan kembali maju dengan tangan terentang ke depan bagaikan antena,
berjaga-jaga kalau-kalau ada lagi kuda-kuda gergaji di depannya. Tiba-tiba tangannya
menyentuh sesuatu yang membuatnya tersentak penuh keringat dingin. Rasanya seperti tangan
manusia -- namun dingin, bagaikan tangan mayat!

Bob berteriak tertahan dan menarik tangannya penuh kengerian. Lalu, berkat cahaya lemah
yang menerobos masuk, ia melihat benda yang disentuhnya.

Itu hanyalah patung lilin William Evans -- yang lebih dikenal oleh Bob sebagai Perompak Ungu.
Dengan matanya yang mulai terbiasa dengan cahaya remang-remang Bob dapat melihat bahwa
ada beberapa patung lilin yang tersebar di ruangan besar itu. Hal ini tidak membuatnya merasa
lebih baik. Matanya menatap patung-patung itu satu per satu -- begitu ia mengalihkan tatapan
ke patung yang lain, patung yang sebelumnya seolah-olah bergerak sedikit. Begitu ia menatap
yang lain lagi, patung yang pertama seolah-olah siap menghantamnya.

Sambil menggigiti kuku-kukunya lagi Bob memaksa diri meneruskan pencariannya terhadap
Kapten Cutter. Ketika penyelidik bertubuh kecil itu telah tiba di dinding seberang museum itu
tanpa menemukan tanda-tanda si penyelam, ia menghembuskan nafas lega. Ia nyaris gembira
karena tidak menemukannya. Satu-satunya yang ingin ia lakukan adalah kabur dari ruangan
seram ini! Bob memutuskan bahwa cukup sudah penyelidikan yang dilakukannya untuk hari itu
dan ia ingin pulang dan berpesta lobster untuk makan malam.

Setelah mengambil keputusan itu, Bob mulai berjalan dengan cepat namun tanpa suara,
melintasi ruangan, menuju ke tangga.

"Aaaahhhhhhhhhh!"

Sekonyong-konyong ketakutan terbesarnya menjadi kenyataan. Ketika ia berjalan melewati


patung William Teach, lebih terkenal sebagai Si Janggut Hitam, sosok tinggi itu menggeram
marah dan melompat turun dari landasan tempatnya berdiri!

Anak bertubuh kecil itu menjerit kencang penuh ketakutan dan terhuyung ke belakang,
menimpa sebuah benda pameran, dan menjatuhkannya ke lantai dengan suara keras! Bob
berlari melintasi ruangan sambil dilanda kengerian, otaknya berusaha memerintahkan kakinya
agar bergerak -- dan bergerak dengan cepat!

Si Janggut Hitam mendesis sambil mendekati Bob, sepatu larsnya berdencing di lantai
sementara ia semakin mendekat. Salah satu matanya tertutup kain dan yang lain menatap
dengan tidak waras. Janggut Hitam mencabut sebilah belati panjang dari sabuknya. "Ini yang
kami lakukan terhadap para pencuri!" ia meringis bengis, menggerakkan jari seolah-olah
memotong lehernya.

Bob menelan ludah dan menghambur ke tangga. Baru dua anak tangga dilewatinya ketika
sebuah jala nelayan yang besar menyelubunginya dan membuatnya terjatuh ke lantai. Ia
menendang-nendang jala itu dengan liar namun hal itu hanya membuatnya semakin erat
terjerat.

Si Janggut Hitam berdiri di depannya dan mengejek. "Mungkin aku harus membiarkanmu hidup
sebagai umpan! Aku ingin tahu apa yang bisa kutangkap dengan anak yang suka ikut campur
sebagai umpan di kailku!" Perompak itu mencibir, meraih ujung-ujung jala, dan menyeret Bob
di lantai.

"Mudah-mudahan kau telah memberi ciuman selamat tinggal kepada ibu dan ayahmu, Teman,"
katanya bengis, "karena yang akan kau temui berikutnya adalah Setan Laut! Ha ha ha!"

BAB XIV

BOB DALAM BAHAYA!

Setelah Jupiter dan Pete memanjat naik ke dalam kabin truk Paman Atticus,
Jupe meminta pamannya pergi ke pameran Seruling Belanda.

"Di sanalah Data seharusnya berada. Jika ia mendapat kesulitan, mungkin ia


meninggalkan petunjuk bagi kita di sana."

Matahari mulai menghilang di bawah kaki langit dan langit berona campuran
biru, jingga, dan ungu. Sementara pamannya mengemudikan kendaraan tua itu
sepanjang jalan pantai, Jupiter menyaksikan kabut bergumpal-gumpal di atas
ombak yang memecah di pantai. Ia mencubiti bibirnya, cemas akan bahaya
yang mungkin mengancam Bob.

***

Ketika Bob Andrews diseret menuruni tangga di bekas pos pemadam kebakaran,
ia berhasil mengeluarkan kapur hijau dari saku depan celananya. Dalam
kegelapan yang mencekam Si Janggut Hitam tidak dapat melihat garis hijau
panjang yang ditinggalkan Bob di lantai sementara ia diseret ke pintu belakang
yang beberapa saat lalu dimasuki Cutter.
Bajak laut itu menoleh dan menatap Bob dengan matanya yang tidak tertutup
sambil mengikat pergelangan tangan dan kaki anak itu dengan pita perekat
barang. "Kau harus tutup mulut kalau kau ingin tetap sehat. Siapa tahu aku
akan menjadikanmu budak dan tidak melemparkanmu ke ikan-ikan hiu!"

Bob menelan ludah dan mengangguk ke arah bajak laut itu. Ketika potongan
pita perekat yang tebal direkatkan di mulutnya, anak bertubuh kecil itu tiba-
tiba menyadari bahwa dalam dua kesempatan Trio Detektif melihat Connie Bly,
orang itu selalu mengenakan penutup mata. Dugaan Bob tentang identitas asli
perompak itu terbukti benar ketika Si Janggut Hitam mengangkat Bob dalam
jalanya dan melemparkannya ke bagian belakang sebuah mobil kecil berwarna
putih, menutupkan selimut tebal di atasnya. Jadi Connie Bly ada di balik semua
ini!

Tidak sulit bagi Bob untuk membayangkan perompak itu terlibat dalam suatu
kejahatan. Ia menduga Bly adalah seorang pencuri profesional yang disewa oleh
seseorang yang berminat akan bajak laut atau kapal karam.

Sementara mobil kecil itu berjalan, Bob meraba-raba lantai di sekitarnya


dengan jari-jarinya, mencari-cari sesuatu yang dapat digunakan untuk
memotong pita perekat di pergelangan tangan dan kakinya. Jemarinya
menyentuh sesuatu yang keras dan dingin. Setelah meraba-raba permukaan
yang kasar dengan jarinya, Bob tiba-tiba menyadari benda yang disentuhnya --
Cakar Perunggu! Hatinya melonjak namun hanya untuk sesaat. Cakar itu tidak
berguna untuk membebaskan tangan dan kakinya. Ia melanjutkan mencari-cari.
Tangannya meraba beberapa lembar kertas dan secara naluriah
memasukkannya ke dalam saku, bisa jadi kertas-kertas itu berisi nama atau
alamat orang yang mempekerjakan Bly!

Ketika pencariannya sia-sia, Bob menggambar sebuah tanda tanya kasar di


lantai dengan kapurnya, lalu menyibukkan diri dengan berusaha menyingkirkan
selimut di atasnya, cukup untuk memungkinkannya melihat keluar melalui kaca
belakang.

Baru saja ia berhasil, mobil itu berhenti. Melalui kaca yang gelap Bob dapat
melihat tiang layar kapal yang menjulang tinggi dengan matahari terbenam di
latar belakangnya. Bly telah membawahnya ke Seruling Belanda! Tapi
mengapa?

Kemudian Bob mendengar pintu mobil ditutup dan kesunyian yang cukup lama.
Sepuluh menit berlalu. Ia mulai berpikir bahwa Bly telah meninggalkannya
ketika bajak laut besar itu kembali dan membuka pintu belakang.

Bajak laut itu mendesis tajam di telinga Bob. "Jangan bergerak sedikit pun --
jangan bersuara atau kau akan menjadi umpan ikan hiu! Anggukkan kepalamu
jika mengerti."
Bob mengangguk.

"Bagus. Ingat, jangan bersuara sedikit pun."

Perompak itu membungkus Bob dengan selimut, mengangkatnya, dan


memanggulnya. Kini Bob dapat mencium bau air laut yang asin dan mendengar
deburan ombak. Ia terlonjak-lonjak sementara Bly berjalan cepat menuju pintu
masuk kapal. Bob berusaha mengingat-ingat tata letak kapal besar itu dan
segera menduga bahwa ia sedang dibawa ke bawah geladak.

Bly berhenti mendadak dan Bob mendengar sebuah pintu dibuka. Pencuri itu
menjatuhkannya bagaikan sekantung kentang ke atas sebuah ranjang dan
menyingkirkan selimut dan jala.

"Jangan macam-macam," geramnya. "Kau tahu apa yang akan terjadi..."


ejeknya, menggerakkan jari di depan leher lagi.

Bob mengangguk sekali lagi, lalu, setelah Bly pergi, menggunakan jari-jarinya
untuk melepaskan pita perekat di mulutnya, menimbulkan rasa nyeri. Pada saat
itu Bob teringat akan pisaunya. Tentu saja! Ia ingin menendang dirinya sendiri!
Ia tidak pernah pergi ke mana pun tanpa pisau lipatnya. Ia begitu panik
sehingga melupakan pisau itu!

Bob menggerakkan tangannya yang terikat ke saku depannya. Ia bersyukur Bly


tidak repot-repot menggeledahnya. Jari-jarinya menyentuh pisau kecil itu.
Pisau itu terlepas dari tangannya yang berkeringat. Dengan berkonsentrasi
penuh Bob meraih ke dalam sakunya dan akhirnya berhasil mengeluarkan pisau
itu. Dengan ujung-ujung jarinya anak bertubuh kecil itu membuka mata pisau
dan dengan hati-hati mulai memotong pita perekat yang mengikat tangannya.

Setelah beberapa menit tangannya bebas. Dengan cepat ia memotong ikatan


pergelangan kakinya, lalu mengamati sekeliling. Ia dikurung di sebuah kabin
penumpang di lantai bawah kapal. Hanya ada sebuah pintu dan tidak ada
jendela kecuali jendela bundar di pintu.

Bob memeriksa pintu itu. Engsel-engselnya terlalu besar untuk dicongkel


dengan pisau lipat kecilnya -- namun jendela bundarnya nampak cukup besar
bagi seorang anak bertubuh kecil untuk menyusup keluar! Dengan menggunakan
mata pisau petugas Catatan dan Riset mulai mencopoti baut-baut jendela.

Pekerjaan itu memakan waktu lama. Keringat menetes dari keningnya


sementara ia dengan penuh semangat mulai membuka baut terakhir.
Sekonyong-konyong ia mendengar suara! Siapa lawan bicara Bly? Oscar Cutter?
Apakah mereka bekerja sama? Ataukah itu Pria Berpakaian Hitam -- atau
Gaspar St. Vincent?
Bob menempelkan daun telinganya ke kaca, berusaha mendengar perkataan
mereka. Tidak ada gunanya, mereka terlalu jauh. Kemudian ia mendengar
langkah-langkah kaki mendekat. Bob melemparkan dirinya ke ranjang,
menjatuhkan kapur dan pisaunya ke dalam saku, dan menempelkan potongan
pita perekat kembali di mulut, tangan, dan kakinya.

Ia hanya dapat berharap Bly tidak menyadari bahwa baut-baut di jendela telah
dicopot dan ikatannya telah dipotong! Perompak berwajah bengis itu masuk ke
ruangan dan mengangkat Bob di bahunya. "Layanan kamar," ejeknya. "Saatnya
memindahkanmu ke tempat baru. Tidak sebesar ini namun ingat, jika kau
berkelakuan baik, kau mungkin bisa hidup cukup lama untuk bercerita tentang
semua ini!"

BAB XV

JANGAN COBA-COBA!

"Lihat! Di atas kapal!" teriak Pete.

Jupiter dan Atticus memandang melalui kaca truk tua sementara Atticus menghentikannya di
lapangan parkir kosong di depan Seruling Belanda.

"Aku tidak melihat apa-apa, Dua."

"Apa yang kau lihat, Nak?"

"Aku berani bersumpah aku tadi melihat seseorang di atas kapal!" Pete berseru seraya
melompat keluar truk. "Ayo! Mungkin itu Bob!"

Atticus dan Jupiter segera mengikutinya. Ketika mereka tiba di kapal besar itu, Pete berkata
tertahan, "Aku berani bersumpah..." Seruling Belanda menjulang dingin dan diam di kegelapan
malam. Kabut yang beberapa saat lalu hanya sekitar 30 cm di atas permukaan laut kini mulai
merambat naik dan menyelubungi kapal. Jembatan untuk naik ke kapal dinaikkan dan terdapat
tanda di haluan kapal: "TUTUP." Dan di bawahnya terdapat tulisan: "Terima kasih, Anchor Bay!
Seruling Belanda Akan Berlayar Pukul 8:30 Pagi."

Satu-satunya kegiatan yang terlihat hanyalah toko pancing kecil sekitar lima puluh meter dari
mereka yang sedang ditutup. Sebuah mobil kecil berwarna putih terparkir di sampingnya.
Seorang gadis mematikan lampu-lampu, mengunci pintu, dan kemudian pergi menaiki sepeda.
Mereka kini sendirian.

Ombak memukul-mukul lambung kapal dan bunyi sosok kayu raksasa itu menimbulkan rasa
seram tatkala digabungkan dengan kabut yang tebal. Pete memandang berkeliling dengan
gelisah. "Mungkin aku hanya berkhayal," bisiknya. Ia tidak tahu mengapa ia berbisik, seolah-
olah sudah sepantasnya dalam suasana menegangkan itu.

"Lihat ini," desis Jupiter. Pete dan Paman Atticus bergegas mendatangi tempat anak gempal itu
berdiri. Ia menuding ke trotoar.

Terdapat sebuah tanda tanya besar yang digambar dengan kapur hijau di trotoar.
"Jadi Bob tadi ada di sini," Atticus mendesah. "Kita harus memeriksa kapal itu. Besok akan
sudah terlambat seandainya ia disekap di dalamnya!"

Jupiter mengangguk dengan muram dan menatap Pete. "Kau tahu apa yang harus dilakukan,
Dua."

Pete menelan ludah dan memandang ke atas ke arah kapal besar itu. Tambang setebal 10 cm
menghubungkan sisi kapal dengan suatu gelang besi di dermaga. Pete meminta Jupe menjaga
tali itu agar tidak bergoyang-goyang, lalu meludah ke kedua telapak tangannya.

Bagaikan seorang pemain akrobat sirkus, remaja atletis itu meraih tali dan mengaitkan kedua
kakinya di belakang. Tanpa suara Pete bergantung di tali raksasa itu dan beringsut maju hingga
mencapai sisi geladak terbawah. Sambil bergantung dengan kedua tangannya Pete memeriksa
geladak, berjaga-jaga akan gerakan yang mencurigakan. Merasa aman, ia mengayunkan kakinya
ke atas dan memanjat.

Matahari benar-benar menghilang ke bawah kaki langit ketika Pete menurunkan jembatan
kapal. Jupiter dan Atticus bergegas menaiki kapal. Lampu-lampu jalan di sepanjang dermaga
mendengung dan satu per satu menyala, memberikan cahaya yang cukup bagi para pencari itu.

Ketika mereka telah memeriksa geladak, Atticus menyuruh Pete mengambil senter di truknya.
"Aku tidak mau turun tanpa lampu," bisiknya gelisah. Setelah Pete kembali dengan senter,
mereka menuruni anak tangga menuju ke lantai bawah. "Seandainya aku juga membawa
pemukul bisbolku!" kata Atticus. "Sepertinya ini adalah..."

"Sebuah perangkap?" suatu suara kasar memotongnya. Mereka bertiga menudungi mata dengan
tangan ketika cahaya kuat sebuah senter besar menerpa. "Aku punya pistol," kata suara itu,
"jadi jangan coba-coba lari. Angkat tangan dan teruslah turun. Jangan coba-coba!"

"Lakukan perintahnya, Anak-anak," kata Atticus.

Mereka berbaris dalam kegelapan lantai bawah. "Kami tidak ingin masalah, kami hanya mencari
seorang teman," kata Atticus.

"Diam!" bentak suara di belakang senter. "Masuk!"

Ketiganya didorong masuk ke dalam sebuah ruangan besar dengan langit-langit sangat rendah.
Beberapa jendela bundar terdapat di dinding. Lampu-lampu jalan di luar memberikan cukup
penerangan untuk saling melihat. Jupiter mengingat-ingat tur yang dipimpin Cutter dan
menduga bahwa mereka sekarang berada di dalam ruangan kapten.

"Jupe! Lihat!" seru Pete.

Di sudut ruangan duduklah Oscar Cutter -- pergelangan tangan dan kakinya terikat oleh tali!
Peneliti itu duduk dengan mata terbelalak dan penuh ketakutan. Mereka bertiga didorong ke
tempat Cutter dan diperintahkan untuk duduk.

"Aku-aku hendak menelepon dan mem-memperingatkanmu," penyelam itu tergagap, "namun


penjahat ini memukulku! Aku sungguh ketakutan!"
"Diam!" suara itu membentak. "Kecuali kalau kau ingin dipukul lagi!"

Dengan cahaya lampu-lampu jalanan yang masuk Jupiter dapat melihat bahwa suara di
belakang senter itu adalah Connie Bly. Perompak itu mengambil beberapa utas tali. Ia
melemparkan tali-tali itu kepada Jupiter.

"Ikat teman-temanmu. Jangan ada simpul pura-pura, Gendut -- aku akan mengikatmu terakhir
dan memeriksa pekerjaanmu!"

Jupiter melakukan seperti yang disuruh dan kemudian membiarkan Bly mengikat tangan dan
kakinya.

"Apa yang akan kau lakukan terhadap kami?" tanya Atticus. "Apa pun itu," gertaknya, "kau tidak
akan dapat kabur. Polisi sedang menuju ke sini!"

Bly menatap Atticus dengan bengis, matanya yang sehat bersinar di dalam cahaya lampu.
"Kuberi tahu apa yang akan kulakukan, Pak Tua. Aku akan menyuruh kalian berjalan di atas
papan, seperti yang telah kulakukan dengan detektif kecil tadi! Sekarang diam. Ingat, aku
punya pistol," ancamnya, kemudian keluar.

Ketika perompak itu telah lenyap, Pete menoleh ke arah Jupiter. "Kau dengar yang
dikatakannya tentang Bob?" tanyanya.

"Aku yakin ia hanya menggertak," jawab Jupiter, berusaha terdengar percaya diri sementara ia
mempelajari simpul yang mengikat pergelangan tangannya.

"Jupiter benar," Atticus setuju, "ia hanyalah pencuri kelas teri, bukan seorang pembunuh."

"Aku tidak terlalu yakin," erang Oscar Cutter. "Lebih baik kita ikuti kemauannya, sehingga kita
tidak perlu tahu!"

Bahkan dengan tangan terikat Jupe masih dapat mencubiti bibir bawahnya dengan penuh
konsentrasi. "Aku sedang berpikir..." Ia berhenti dengan tiba-tiba, raut wajahnya yang bulat
berubah aneh, nampak puas. Di luar terdengar bunyi pintu mobil ditutup.

"Berpikir apa, Pertama?" Pete berteriak. "Tolong katakan bahwa kau punya rencana!"

Namun Jupiter tetap diam sementara suara langkah-langkah kaki terdengar mendekati ruangan
kapten. Connie Bly masuk ke kabin dan menyeringai buas, matanya yang sehat berbinar-binar.
Ia mendapati Jupiter dan menarik kemeja anak itu dengan kasar.

"Baiklah, Gendut, bagaimana jika kau dan aku berjalan-jalan -- di atas papan pendek yang
menuju ke laut!" Ia tertawa terbahak-bahak dan mulai menyeret Jupiter di sepanjang lantai.

Sekonyong-konyong semua lampu menyala, selama beberapa saat membutakan semua orang di
dalam ruangan.

"Jangan ada yang bergerak!" suatu suara tegas berseru dari ambang pintu.

Jupiter berlutut dan tersentak. Ia berpaling dengan cepat ke arah Pete dan Atticus, yang juga
menatap ke arah pintu dan ternganga.
Pria Berpakaian Hitam! Dan ia menggenggam sepucuk pistol!

BAB XVI

KEDOK PRIA BERPAKAIAN HITAM TERUNGKAP

"Jangan bergerak!" ancam Pria Berpakaian Hitam. "Pistolku asli, Bly, tidak
seperti milikmu -- jadi dengar baik-baik!"

Penjahat berkostum Si Janggut Hitam itu menjatuhkan pistolnya dan perlahan


mengangkat tangan. "Siapa kau?" perompak itu menukas, "dan bagaimana kau
tahu namaku?"

Dengan lampu-lampu menyala Jupe kini dapat melihat bahwa pistol Connie Bly
adalah sebuah blunderbuss -- sangat mungkin berasal dari museum Perompak
Baru. Kemudian ia memandang Pria Berpakaian Hitam. Pria misterius itu
memiliki rahang yang kokoh serta mata yang dingin dan tajam. Sebuah bekas
luka yang seram menghiasi pipi kanannya.

Di kejauhan mereka mendengar raungan sirene polisi yang mendekat.

Bly menatap Oscar Cutter dan Pria Berpakaian Hitam dengan putus asa. "Mari
kita membuat perjanjian," katanya cepat-cepat. "Bukan aku yang kau inginkan,"
serunya, menunjuk ke arah Cutter. "Dialah yang kau kejar! Semua ini idenya!"

"Apa?" teriak Cutter, wajahnya penuh kemarahan. "Aku? Orang ini mengigau!
Seumur hidupku aku belum pernah bertemu dengannya!"

Jupiter mengikuti percakapan itu dengan penuh minat, kemudian mengangguk


ke arah Pria Berpakaian Hitam. "Aku tahu siapa dia," Penyelidik Pertama
berkata riang.

Paman Atticus dan Pete menatap Jupiter, terbengong-bengong.

"Kau tahu?" mereka berseru serempak.

Jupiter mengangguk dengan puas dan berpaling ke arah lelaki bertopi hitam
itu. "Jika aku tidak salah, dia adalah seorang detektif."

Pria Berpakaian Hitam berdiri diam. Pete menatapnya, kemudian Jupiter,


kemudian kembali Pria Berpakaian Hitam. Ia tahu dugaan Jupe biasanya tepat -
- namun seringkali Pete tidak dapat mengikuti jalan pikiran rekannya itu.

"Dan bagaimana kau tahu itu, Pertama?"


Masih dalam keadaan terikat, Jupiter berhasil duduk di samping Pete. "Karena
polisi ada di luar dan ia tidak berusaha lari. Berarti dia bukan penjahat. Dia
punya pistol namun tidak berusaha menangkap Bly. Berarti dia bukan polisi.
Karena banyak detektif yang memiliki izin membawa senjata api, kuduga ia
adalah detektif swasta."

Pria Berpakaian Hitam menggangguk. "Anak pintar," katanya. "Ia benar, aku
seorang detektif swasta. Namaku Seth Cooley dan aku..."

Cooley menurunkan kewaspadaannya sesaat dan Bly beraksi. Sambil


menggeram ia berlari melewati detektif itu, membuatnya terhuyung. Pistolnya
meletus ke langit-langit. Bly berlari menaiki tangga menuju ke geladak. Mereka
mendengar teriakan terkejut dari atas, diikuti oleh suara ceburan.

Cooley bangkit perlahan-lahan dan mengibaskan debu di pakaiannya.

"Ia takkan lari jauh-jauh," tukasnya, nampak agak malu karena lengah. "Tempat
ini telah dipenuhi polisi!" Detektif swasta itu menggeleng kesal dan mulai
melepaskan ikatan Jupiter.

"Sudah berapa lama Anda membuntuti Mr. Bly?" Pete bertanya kepada detektif
swasta itu. Ia mengangguk ke arah Oscar Cutter. "Kapten Cutter menyangka
Anda tukang pukul dari Perompak Baru!"

"Yang diselidikinya bukanlah Connie Bly," ujar Jupe tiba-tiba.

Sesaat suasana sunyi senyap di dalam ruangan kapten sementara semua orang,
termasuk Seth Cooley, menatap Jupiter dengan kaget.

"Bukan?" Paman Atticus berkedip kebingungan. "Lalu siapa, Nak?"

Jupiter mengangguk ke arah detektif itu. "Mungkin tidak etis bagi Mr. Cooley
untuk menyebutkan nama kliennya namun saya menduga ia disewa oleh
universitas. Begini, Kapten Cutter adalah penjahat yang sebenarnya. Saya yakin
jika Anda menggeledah kapal ini atau mungkin apartemennya di Lyndale Lane,
Anda akan menemukan Cakar Perunggu -- dan juga Bob!"

Wajah Cutter nampak penuh kemarahan. "Aku tidak percaya telingaku!" ia


meledak. "Aku duduk di sini, terikat, tawanan, dan dituduh juga?" Penyelam itu
menatap Jupiter dengan marah. "Anak muda, seharusnya kau berpikir dua kali
sebelum melemparkan tuduhanmu itu! Aku sudah lama bersahabat dengan
pamanmu -- kini kuminta kau melepaskan ikatanku dan..."

"Anak ini benar," Cooley memotongnya, nadanya datar saja. "Aku tidak tahu
bagaimana ia bisa tahu namun ia benar." Cooley memasukkan pistolnya ke
sarung yang tersembunyi di balik jaketnya, lalu melepaskan ikatan Pete dan
Atticus. Ketika semuanya telah bebas, mereka menatap Oscar Cutter.

Cutter memandang paman Jupe. "Atticus, jangan percaya! Konyol sekali!


Cepat, lepaskan tali ini sehingga kita dapat menangkap Bly!"

Tepat pada saat itu Paman Titus dan Bibi Mathilda menyerbu masuk ke dalam
kabin, diikuti oleh beberapa petugas polisi. Mereka menatap Oscar Cutter yang
terikat, lalu Jupiter.

"Tolong! Polisi!" Cutter berteriak. "Orang-orang gila ini... Lepaskan ikatanku


cepat! Namun hati-hati terhadap mereka -- mereka gila!"

Polisi yang menjadi pemimpin memandang Seth Cooley dengan ragu-ragu. "Saya
Kapten Blake. Andakah yang memanggil kami?" Polisi itu menatap pemandangan
di depannya sekilas dan kemudian menanggalkan topinya untuk menggaruk
kepala. "Anda mau menjelaskan apa yang terjadi di sini?"

"Mengapa Kapten Cutter terikat, Jupiter Jones?" Bibi Mathilda menuntut


jawaban.

"Kalian menemukan Bob?" Paman Titus bertanya sebelum Jupiter dapat


membuka mulut untuk menjawab pertanyaan yang pertama.

Jupiter berpaling ke arah Cutter. "Maukah Anda memberi tahu kami di mana
kami dapat menemukan rekan kami dan Cakar Perunggu? Atau kami terpaksa
menggeledah kapal ini?"

Keringat membasahi hidung Cutter. "Geledah kapal ini!" ia mengangkat bahu.


"Geledah apartemenku. Aku tidak menyembunyikan apa-apa. Aku tidak
mengerti apa yang kau bicarakan! Aku diikat oleh Connie Bly sepertimu.
Nantinya akan terbukti bahwa tidak ada orang lain di kapal ini dan aku tidak
bersalah. Silakan, geledahlah!"

Kapten Blake menyerukan aba-aba kepada anak buahnya. "Periksa kapal ini dari
atas hingga bawah." Setelah ketiga petugas polisi itu pergi, ia menoleh kepada
Seth Cooley. "Sebaiknya Anda mulai menjelaskan apa yang sedang terjadi di
sini!"

Jupiter berdiri tegap dan tersenyum ke arah Oscar Cutter. "Saya berpikir
tentang perkataan Kapten Cutter tadi. Ia mengaku telah diikat oleh Connie
Bly." Jupiter menggelengkan kepala dengan dramatis. "Sebenarnya, Kapten, tali
di tangan dan kaki Andalah yang membuktikan sebaliknya!"

Semua orang di kabin kapten menatap ikatan Cutter.


"Apa maksudmu, Pertama?" tanya Pete. "Ia sudah terikat ketika kita tiba di
sini."

"Tepat sekali," kata Jupiter. "Dan jika kau ingat, Bly menyuruhku mengikatmu
dan Paman Atticus, kemudian ia mengikatku. Saat itulah aku memperhatikan
simpulnya."

"Simpulnya?" Bibi Mathilda mengulangi. "Hentikan dramatisasimu, Jupiter Jones,


dan katakan apa yang kau lihat!"

Jupiter tidak mengacuhkan interupsi itu. "Jika Bly memang mengikat Mr.
Cutter, maka simpul di talinya tentulah akan sama dengan yang ada di taliku.
Namun tidaklah demikian! Bly mengikatku dengan simpul biasa, simpul sehari-
sehari yang bisa dibuat semua orang. Namun ketika mengamati ikatan Mr.
Cutter, aku melihat bahwa tangannya diikat sepertiku namun kakinya diikat
dengan simpul jangkar. Simpul jangkar, sebagaimana Paman Atticus dapat
memastikan, adalah simpul yang sering digunakan oleh pelaut dan penyelam.
Aku mulai bertanya-tanya, mengapa Bly harus mengikat tangan dan kakinya
berbeda? Jawabannya adalah... bukan dia yang mengikatnya! Cutter mengikat
kakinya sendiri, mungkin sekali ketika ia melihat Pete dan aku datang bersama
Paman Atticus. Kemudian ia menyuruh Bly mengikat tangannya sehingga kita
berpikir bahwa Bly telah menyergap dan menawannya di sini!"

"Tapi mengapa, Jupiter?" desak Atticus. "Mengapa segala permainan ini?


Sejujurnya, aku masih merasa hal ini sulit dipercaya!"

Oscar Cutter mengangguk-angguk dengan penuh semangat. "Anda lihat, Kapten?


Tidak masuk akal. Bly yang harus Anda tangkap! Andalah pemimpin di sini --
lepaskan saya!"

Selama percakapan itu Seth Cooley berdiri diam di dekat pintu. Jupiter
memandangnya. "Anda membingungkan kami ketika rekan-rekan saya
memergoki Anda di kapal Paman Atticus. Kami beranggapan bahwa Andalah si
pencuri. Saya rasa saya bisa menduga apa yang sedang Anda lakukan." Jupiter
menarik nafas panjang sebelum melanjutkan.

"Dalam penyelidikan atas Kapten Cutter, Anda membuntutinya atau Bly ke


rumah paman saya. Di sana mereka masuk ke rumah atau Pembalasan Ratu
Anne atau keduanya. Rumah kosong dan Anda tidak menyangka akan ada yang
pulang segera. Namun kedatangan Pete dan Bob mengejutkan Anda. Bukannya
menjelaskan bahwa Anda adalah seorang detektif, Anda berusaha bersembunyi
di kapal hingga teman-teman saya meninggalkan dermaga. Tapi Anda
menjatuhkan sesuatu dan terpergok."
Seth Cooley mengangguk, kagum akan Jupe. "Tepat itulah yang terjadi. Aku
mengikuti Bly ke rumah pamanmu. Cutter menyuruh Bly mengerjakan segala
pekerjaan kotornya."

Semuanya menatap Oscar Cutter. Peneliti itu nampak keras kepala. "Aku tidak
akan berkata apa-apa hingga bertemu dengan pengacaraku -- dan setelah itu
kalian semua akan mendapat masalah!"

"Aku tidak mengerti," kata Pete. "Mengapa Cutter bekerja sama dengan salah
seorang Perompak Baru? Bukankah mereka bermusuhan?"

"Kurasa aku bisa menjawab itu juga," Jupiter berkata penuh kemenangan.
"Ingat semua terbitan mengenai pacuan di apartemen Lyndale Lane? Kuduga
Kapten Cutter adalah seorang penjudi. Ia suka berjudi atas pacuan kuda dan
anjing. Bahkan ia begitu sukanya hingga kehilangan semua uangnya. Namun ia
tidak berhenti di sana, melainkan mempertaruhkan semua dana riset yang telah
diberikan oleh universitas di Portland!"

Seth Cooley mengangguk setuju. "Dan itu belum cukup juga," tambah detektif
itu. "Berdasarkan yang kulihat, Cutter sepertinya menderita ketergantungan
sehingga ia tidak dapat berhenti berjudi, bahkan setelah ia tidak punya uang
lagi untuk dipertaruhkan. Satu-satunya kesimpulan yang logis adalah meminjam
dari seorang lintah darat atau bandarnya sebagai usaha terakhir untuk
memenangkan kembali semua uang yang telah hilang."

Oscar Cutter duduk di sudut ruangan dengan wajah memelas. "Apa itu bandar?"
tanya Pete.

"Bandar," Cooley menjelaskan, "adalah seseorang yang menentukan pasar


taruhan dalam suatu pacuan dan kemudian menerima serta membayarkan uang
taruhan untuk pacuan itu." Detektif itu memandang Jupiter. "Memang itu yang
kutemukan, Nak. Ketika Cutter tidak dapat mengembalikan uang itu,
bandarnya mengirim seorang tukang pukul seperti Connie Bly untuk
memaksanya mendapatkan uang."

Jupiter mengangguk. "Jadi Cutter membuat suatu rencana. Ia akan


menggunakan dana berikut dari universitas untuk membayar sang bandar.
Namun ada beberapa penghalang. Pertama, universitas takkan mendanai
penelitiannya tanpa bukti nyata bahwa memang ada cukup banyak harta di
bawah sana. Dan kedua, ia terpaksa berhenti menyelam ketika pameran
Seruling Belanda tiba. Tanpa penyelaman tidak akan ada dana. Ketika Seruling
Belanda pergi lagi, Cutter dapat meneruskan penyelaman dan menerima dana
lagi. Nantinya setelah dana itu cair, ia akan memberikannya kepada Bly,
kemudian meninggalkan kota dengan membawa Cakar Perunggu!"
"Aku mengerti sekarang!" seru Pete. "Sepertinya nasib Kapten Cutter sebagai
peneliti tidak lebih baik daripada nasibnya sebagai seorang penjudi! Universitas
mungkin mengancam akan menghentikan penelitian kecuali jika ia dapat
menunjukkan benda-benda yang memang berharga. Maka ia menyuruh Bly
masuk ke rumah pamanmu untuk mencuri peluru meriam dan pistol -- dan
kemudian meletakkan barang-barang itu di tempat penelitiannya dan berpura-
pura menemukannya di sana!"

"Satu hal aku tidak mengerti," kata Cooley, "mengapa Bly bergabung dengan
Perompak Baru dari Barat? Itu tidak sesuai dengan sifatnya sebagai seorang
tukang pukul."

"Saya pun ingin tahu," kata Jupiter mengakui. "Dugaan saya adalah bahwa
Cutter mungkin merasa tidak enak mencuri dari paman saya. Maka ketika
mendengar sebuah museum akan segera dibuka di bekas pos pemadam
kebakaran, ia merasa menemukan jalan keluar. Saya berani bertaruh ia
menyuruh Bly bergabung dengan Perompak Baru untuk mencuri beberapa benda
dan kemudian meletakkannya di tempat penelitian dengan alasan semakin
cepat ia menemukan sesuatu, semakin cepat pula Bly akan mendapat uangnya.
Yang tidak diketahui Cutter adalah bahwa semua benda di museum Perompak
Baru palsu! Replika dari benda-benda aslinya!"

Jupiter menghela nafas panjang dan mulai berjalan mondar-mandir. "Bly tidak
tahu perbedaan pistol tua dan baru. Gagang kayu blunderbuss asli pastilah
sudah lapuk bertahun-tahun yang lalu dan bagian logamnya tentu akan
menghijau dan tertutup organisme laut. Ketika Cutter menemukan pistol dan
pisau yang masih mengkilat dan baru, ia menyadari kesalahannya!"

"Mungkin itu sebabnya ia terpaksa menyembunyikan Data," Pete berseru. "Bob


pasti telah melihat sesuatu ketika mengintai tadi. Aku berani bertaruh Cutter
menyembunyikan Bob di suatu ruangan lain karena ia tahu yang sebenarnya!"

Bibi Mathilda membungkuk dan memungut pistol tua yang telah dijatuhkan Bly.
Ia menatap gagangnya dan membaca keras, "Milik Perompak Baru dari Barat." Ia
memandang Oscar Cutter dengan tajam dan menggoyang-goyangkan jari di
depan penyelam itu. "Kau harus malu akan dirimu sendiri!"

BAB XVII

TAPI DI MANAKAH BOB?

"Itukah sebabnya Cutter harus mencuri dari Atticus lagi?" tebak Paman Titus.

Jupiter terlihat penuh kemenangan. Ia gemar menerangkan sesuatu sejelas-jelasnya. "Benar.


Namun nasib buruk Oscar Cutter terus berlanjut. Ketika ia menyuruh Bly kembali ke rumah
Paman Atticus untuk mencuri lagi, Bly tanpa sengaja mengambil Cakar Perunggu -- tidak tahu
bahwa benda itu adalah penemuan abad ini! Cutter pun tidak mengenalinya. Karena itulah ia
nampak terkejut ketika pagi itu Paman Atticus menjelaskan nilai benda itu yang sebenarnya!"

"Jadi itulah sebabnya Cakar Perunggu dikembalikan!" seru Pete.

Jupiter mengangguk setuju dan mencubiti bibirnya selama beberapa saat. "Kapten Cutter tahu
ia tidak akan dapat menyamarkan Cakar Perunggu sebagai salah satu temuannya -- beritanya
pasti akan sampai ke telinga Paman Atticus. Dan ia tahu ia tidak dapat menjualnya dengan
cepat. Cakar itu tidak ada gunanya. Tidak, Cutter butuh peninggalan bajak laut yang tidak
terlalu menarik perhatian, seperti peluru meriam atau pistol antik. Maka ia menyuruh Bly
mengembalikan Cakar Perunggu dan mencuri sesuatu yang lain.

"Pada saat itulah aku mulai mencurigai Cutter. Aku bertanya-tanya, siapa yang akan mendapat
untung dengan mencuri cakar itu, hanya untuk mengembalikannya kemudian. Aku menduga
bahwa begitu Cutter memutuskan untuk membayar hutang judinya dengan dana dari
universitas, bagaimanapun juga ia harus pergi dan lagipula ia menginginkan Cakar Perunggu --
mungkin untuk dijual di pasar gelap atau kepada seorang kolektor untuk mengongkosi
pelariannya. Itu sebabnya ia mencurinya dari rumah Paman Atticus untuk kedua kalinya."

"Ada yang terus menggangguku, Pertama," kata Pete. "Aku ingin tahu, apa hubungan Gaspar St.
Vincent dengan semua ini? Dan siapakah orang bernama H. KANE di Lyndale Lane itu?"

"Kurasa Gaspar hanyalah seorang Perompak Baru yang penuh dedikasi -- dan terkadang radikal.
Kemungkinan besar ia mengetahui bahwa Bly telah mencuri dari museum dan ingin
memaksanya mengaku. Karena Bly selama ini tinggal bersama Cutter di apartemennya untuk
menjaga agar ia tidak kabur tanpa membayar hutangnya, Bly mungkin menuliskan apartemen
Lyndale Lane sebagai alamatnya ketika mendaftar ke Perompak Baru. Gaspar pergi ke
apartemen itu untuk mencari Bly. Ketika melihat Gaspar mencoba menggunakan interkom
dengan kesal, Mr. Cooley mendatanginya untuk menanyakan beberapa hal dengan dugaan
bahwa ia adalah teman Cutter atau Bly."

"Benar lagi," detektif itu mengiyakan. "Aku telah mengintai apartemen itu beberapa lama dan
aku tahu bahwa Bly tinggal bersama Cutter untuk menjaga agar ia tidak lari. Tulisan di
interkom itu, H. KANE, hanyalah nama orang yang tinggal di sana sebelumnya. Tulisan itu tidak
diganti ketika universitas menyewa apartemen itu untuk tempat tinggal Cutter selama
penelitian."

Seorang polisi memasuki ruangan dan berbicara dengan suara pelan kepada Kapten Blake. Blake
berpaling dan memandang Oscar Cutter. "Sepertinya keadaan tidak terlalu baik bagimu,
Kawan," katanya suram. "Di luar ada sebuah mobil putih kecil dengan cakar yang dibicarakan
semua orang itu ada di bagasinya. Dan ada pula beberapa tanda tanya yang dibuat dengan
kapur hijau."

"Itu Bob!" seru Jupiter. "Terbukti ia dibawa dalam mobil Cutter!"

Pete nampak bingung. "Tapi itu mobil Bly," katanya. "Bob dan aku melihatnya naik mobil putih
kecil di pos pemadam kebakaran pada hari pertama kita di sini."

Jupiter menatap rekannya itu dengan tidak percaya dan memukulkan telapak tangan ke kening.
"Apa? Mengapa kau tidak bilang dari dulu, Dua? Bly dan Cutter selama ini menggunakan mobil
yang sama?"
Pete membela diri. "Kami tidak tahu bahwa jenis mobil yang dikendarainya itu penting.
Lagipula kau tidak bertanya!"

Jupiter mengalah dengan segan. "Kurasa kau benar. Seorang penyelidik yang baik seharusnya
tahu bagian paling sepele biasanya adalah yang paling penting."

Bibi Mathilda masih menatap Oscar Cutter dengan marah. "Yang penting sekarang adalah kita
menemukan Bob," katanya tegas. "Kalau Jupiter benar, dia tentu ada di kapal ini atau di
apartemen itu."

Atticus sependapat. "Mari kita periksa kapal ini lagi." Ia berpaling kepada Kapten Blake dan
menunjuk ke arah Cutter. "Mungkin Anda dapat meminta salah satu anak buah Anda untuk
memeriksa apartemen orang ini."

"Tidak tanpa surat perintah pengadilan," Kapten Blake berkata dengan serius. "Dan itu akan
makan waktu." Ia menoleh ke arah Cutter. "Kecuali, tentu saja, jika Anda mengizinkan."

Oscar Cutter memandang Blake dengan memelas. "B-B-Bly mencuri mobilku... ia... ia
meletakkan cakar itu di sana. Anda harus percaya kepadaku! Geledah kapal ini, geledah
apartemenku. Jika anak itu tidak ada, Anda akan tahu bahwa aku tidak bersalah!"

Kapten Blake memerintahkan salah satu anak buahnya untuk memeriksa apartemen Cutter di
Lyndale Lane dan melaporkan hasilnya melalui radio. "Baiklah," ia berseru untuk menarik
perhatian semua orang, "mari berpencar dan memeriksa kapal ini sekali lagi dari atas sampai
bawah. Saya mau setiap jengkal diperiksa!"

Sejam kemudian seluruh bagian kapal telah disisir tanpa ada tanda-tanda Bob. Para pencari
sedang duduk dengan muram di ruangan kapten ketika seorang petugas masuk.

"Anda menemukannya?" tanya Bibi Mathilda, melompat bangkit dari tempat duduknya. "Adakah
Bob di apartemen itu?"

Kapten Blake menggelengkan kepala. "Aku khawatir tidak ada tanda-tanda teman kalian itu,
Anak-anak. Aku benci mengatakan ini namun jika kita tidak dapat menemukannya, kita harus
membiarkan Kapten Cutter pergi." Polisi itu mulai membuka ikatan Cutter. "Tidak cukup bukti
untuk menahannya. Connie Bly memiliki catatan kriminal sepanjang lenganku -- nampaknya dia
ada di balik semua ini."

Oscar Cutter nampak lega. "Tunggu saja sampai aku bertemu dengan pengacaraku!" penyelam
tampan itu menggeram. Ia menatap Atticus dengan marah. "Teman!" cibirnya. "Menikam
punggung sahabat sendiri. Sudah kukatakan aku tidak ada sangkut-pautnya dengan semua ini!
Sekarang permisi, aku harus memeriksa kerusakan yang ditimbulkan si berandal Cooley itu
ketika membahayakan kita semua dengan pistolnya."

Bibi Mathilda nampak cemas dan Paman Titus berusaha menenangkannya sementara mereka
naik ke geladak. Suhu udara telah turun tajam dan gigi-gigi anak-anak bergemeletuk. Kabut
menebal dan menipis, seolah-olah hidup dan merambati kaki mereka.

Pete memandang Jupiter tanpa daya. "Di mana ia mungkin berada, Pertama?"

Jupiter mengerutkan kening dan berusaha agar tidak menggigil. Ia yakin ada sesuatu yang
terlewatkan olehnya. Suatu petunjuk penting yang tidak disadarinya -- seandainya ia dapat
mengingat! Pete nyaris dapat mendengar roda gigi berputar di dalam kepala temannya
sementara Jupiter berpikir keras.

Atticus merangkul keponakannya. "Mungkin Robert sekarang sudah di rumah, Jupiter. Ya, aku
bertaruh di sanalah ia berada. Mungkin saja ia lelah menunggu kita dan dengan cepat terlelap
di atas Pembalasan Ratu Anne. Aku berani bertaruh..."

"Itu dia!" teriak Jupiter.

Mereka sudah setengah jalan menuruni jembatan penghubung. Semuanya berhenti dan
menatap Jupiter.

"Apa itu?" desak Atticus.

Wajah Jupiter yang bulat memancarkan kemenangan. Ia tersenyum kepada pamannya. "Paman
baru saja memberikan petunjuk paling penting dalam misteri ini!"

Seth Cooley dan yang lainnya menatap Jupiter dengan penuh harap. "Ada yang terpikirkan,
Nak?"

"Kau tahu di mana dia!" seru Pete.

"Mungkin," kata Jupe. "Aku punya sebuah teori..."

"Demi petir, Anakku!" suara Bibi Mathilda melengking tinggi, "kau dan dramatisasimu itu
sungguh keterlaluan! Cepat katakan!"

Raut muka Oscar Cutter seolah-olah kehilangan rona. Ia mengayun-ayunkan tangannya dengan
panik dan mencegah mereka naik kembali. "Polisi... Ini benar-benar keterlaluan! Kapal ini harus
berlayar besok pagi -- saya sudah punya banyak pekerjaan tanpa berandal-berandal ini bermain
petak umpet. Saya rasa saya harus memaksa semuanya pergi." Ia menoleh dan membentak
Jupiter. "Anak muda, semuanya sudah bosan akan permainanmu. Kau telah membuktikan
dirimu lebih cerdas dari anak-anak seusiamu namun cukup sudah!"

"Anda hanya mengulur-ulur waktu!" tukas Pete marah. "Jika Bob ikut berlayar bersama kapal
ini, Anda akan bebas mengambil dana itu!"

Penyelam itu mendatangi Pete dengan penuh ancaman dan nampak siap memukul. Titus dan
Atticus Jones mengambil tempat di samping Pete.

"Biarkan kami memeriksa kapal ini sekali lagi," desak Atticus. "Jika kami tidak menemukan Bob,
kami akan pergi tanpa ribut-ribut dan tidak akan ada masalah."

Cooley dan Kapten Blake kembali menaiki jembatan dan berdiri di samping Jupiter.

"Baiklah, Nak," kata Blake, "menurutmu di manakah temanmu itu?"

Jupiter tersenyum. "Ketika Paman Atticus menyinggung nama Pembalasan Ratu Anne, saya jadi
berpikir tentang William Teach, yang juga dikenal sebagai Si Janggut Hitam! Ingat, Janggut
Hitam adalah perompak jahat yang menjarah dan menyelundupkan berbagai macam harta.
Saya perkirakan jika Seruling Belanda ini benar-benar seotentik yang dikatakan Kapten Cutter,
maka tentulah ada semacam ruang tersembunyi yang terlewatkan oleh kita!"
Cooley memandang Jupiter dengan kagum. "Tentu saja! Aku seharusnya juga berpikir ke sana!"

Kapten Blake kembali mengumpulkan anak buahnya di geladak. "Kita akan menggeledah kapal
ini lagi -- carilah sesuatu yang mungkin saja merupakan ruangan rahasia!"

Oscar Cutter menggeram dan memaki-maki. Kapten Blake menatapnya tajam dan
memerintahkan salah seorang anak buahnya menjaga penyelam itu. "Saya tidak mau Anda pergi
ke mana-mana. Banyak yang harus Anda jelaskan nanti setelah anak itu ditemukan!"

Mereka turun ke lantai bawah dan berpencar. Setelah lima belas menit Pete berteriak penuh
kemenangan. Matanya yang tajam telah melihat sesuatu di lorong yang sempit, yang tidak akan
dilihatnya seandainya ia tidak tahu apa yang dicarinya.

"Lihat!" ia menunjuk ke arah lantai. "Aku pasti telah berjalan melewati koridor ini berkali-kali
tanpa menyadarinya!"

Para pencari dengan penuh semangat berkerumun di lorong yang kini penuh sesak itu dan
menatap lantai.

"Apakah itu, Pete?" seru Jupiter. Remaja gempal itu memeriksa lantai tempat Pete berlutut.
Mendadak wajahnya nampak berseri. "Tentu saja! Papan lantai ini tidak cocok! Lihatlah, papan
kayu di bagian ini telah diganti -- warnanya sedikit lebih gelap! Aku tidak menyadarinya
sebelum ini!"

Pete dan Jupiter bergegas mengeluarkan pisau lipat mereka yang berharga dan menyelipkan
mata pisau ke sela-sela papan yang rapat. Mereka menekan dan sebagian dari papan itu tiba-
tiba bergerak beberapa senti. Jupiter meraba-raba dengan jemarinya ke dalam celah itu.
Dalam satu gerakan cepat papan lantai sepanjang satu setengah meter itu terbuka sambil
berderit dan di sana terbaring Bob Andrews dengan pita perekat di mulutnya.

Anak bertubuh kecil itu duduk dan bergegas melepas perekat itu.

"Sudah saatnya!" teriaknya. "Kusangka kalian tidak akan pernah menemukan aku! Perekat ini
kukembalikan ke mulutku untuk menipu Bly saat ia datang untuk membawaku. Aku tidak tahu
bahwa ia akan memasukkan aku ke dalam suatu ruangan yang begitu sempit sehingga aku tidak
dapat menggerakkan tangan ke wajah untuk melepaskannya!"

Jupiter dan Pete membantu rekan mereka keluar dari ruang rahasia itu.

"Kalian menangkap Cutter?" tanya Bob. "Ia bekerja sama dengan Bly dan mereka berdua
mencuri dari rumah pamanmu dan markas Perompak Baru! Merekalah yang memasukkan aku ke
situ."

Remaja terkecil di antara Trio Detektif itu merogoh saku depannya dan mengeluarkan robekan-
robekan kertas. "Kutemukan ini di belakang mobil Bly!" katanya, menyerahkan kertas-kertas itu
kepada Jupiter.

Penyelidik Pertama memeriksa potongan-potongan kertas itu.


"Ini potongan dari karcis untuk menonton pacuan. Dan surat peringatan atas pembayaran kartu
kredit yang terlambat. Sepertinya teoriku tentang Oscar Cutter terbukti benar!"

"Bly memberi tahu Kapten Cutter bahwa aku tahu dia terlibat," lanjut Bob. "Cutter menyadari
bahwa ia harus mengamankanku hingga semuanya pergi!"

Jupiter menyeringai ke arah rekannya itu sementara mereka naik ke geladak dan ke dalam
kabut. "Kami tahu tentang itu, Data. Pria Berpakaian Hitam -- maksudku Seth Cooley -- juga
tahu."

Mendengar namanya disebut, Cooley menghampiri dan memperkenalkan diri kepada Bob. "Aku
gembira kau tidak apa-apa, Nak. Kalian bertiga sungguh merupakan trio yang hebat. Jika suatu
saat nanti salah satu penyelidikanku menemui jalan buntu, aku tentu akan menghubungi Trio
Detektif!"

Jupiter, begitu bangga mendengarnya, bertukar kartu nama dengan Cooley.

Atticus Jones sungguh berbangga hati dan menjabat tangan anak-anak. "Pekerjaan yang luar
biasa, Teman-teman! Benar-benar luar biasa!" serunya. "Titus, Mathilda... Jupiter sungguh
mengharumkan nama Keluarga Jones, bukankah demikian?"

Titus tersenyum lebar dan merangkul keponakannya. Mathilda menggeleng-geleng, lalu tertawa
senang. "Aku tetap berpendapat ia seharusnya mengurusi urusannya sendiri. Namun kurasa ia
memang punya bakat dalam memecahkan teka-teki."

Perut Jupiter berbunyi seolah-olah menyatakan setuju. "Sekarang marilah kita desak Oscar
Cutter agar mengaku sehingga kita bisa pulang dan akhirnya menikmati makan malam lobster
itu!" ia tertawa.

BAB XVIII

JOHN CROWE BERBICARA

Ada beberapa hal menyangkut Misteri Cakar Perunggu yang mungkin membuat
kalian bertanya-tanya, maka aku akan berusaha membuat pikiran kalian
tenang.

Oscar Cutter akhirnya mengakui segala rencana buruknya. Tepat seperti yang
disimpulkan oleh Jupiter, penyelam bernasib malang itu memiliki hutang
bertumpuk setelah kehilangan uangnya hingga ke sen terakhir di meja judi.
Seandainya saja ia berhasil menyembunyikan Bob selama beberapa jam lagi, ia
akan dapat melarikan diri dengan leluasa! Untunglah intuisi Jupiter
menyelamatkan sahabatnya dan menyelesaikan misteri itu dengan baik.

Connie Bly menolak mengatakan apa-apa, kecuali bahwa Cutter ada di balik
semua itu. Karena bukti-bukti yang memberatkan Bly lebih sedikit dibandingkan
Cutter, ia menerima hukuman yang lebih ringan, dan kini sedang menjalani dua
tahun di penjara Oregon atas penculikan dan penyerangan.
Chief Reynolds menelepon kembali beberapa hari kemudian dengan informasi
tentang nomor polisi DLH 555. Tentu saja nomor itu terdaftar atas nama si
detektif, Seth Cooley. Jupiter memberi tahu kepala polisi itu bahwa mereka
telah menyelesaikan kasus itu namun menambahkan bahwa ia takkan ragu-ragu
menelepon lagi jika mereka membutuhkan informasi lain. Kepala polisi itu
memutuskan hubungan.

Atticus Jones memanfaatkan tenaga tambahan di rumahnya dan mengkaryakan


mereka untuk memindahkan segala barang bekas dan hartanya ke toko antik
kelautan barunya di kawasan kota Anchor Bay. Tanggal pembukaannya
dimajukan sehingga Trio Detektif dapat secara resmi menggunting pita sebelum
kembali ke Rocky Beach. Foto mereka bahkan terpampang di surat kabar
setempat, lengkap dengan kisah singkat mengenai bantuan mereka dalam
memecahkan kasus itu. Tidak perlu dikatakan, sistem pengamanan paling
canggih dipasang di toko itu untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan
pencurian.

Dengan gembira kukatakan bahwa anak-anak akhirnya berhasil menikmati


lobster sebanyak yang mereka mampu dan Pete sempat menyelam beberapa
kali bersama Atticus. Meskipun tidak ada harta karun yang ditemukan, Pete
menemukan beberapa peluru meriam dan pistol timah, yang baginya sudah
merupakan harta tersendiri.

Mengenai Cakar Perunggu sendiri, hal itu tetap merupakan sebuah misteri
hingga sekarang. Atticus Jones tidak dapat menemukan bukti lebih lanjut yang
mendukung teorinya bahwa benda itu berasal dari tiang haluan kapal Si Janggut
Hitam meskipun universitas di Portland menyatakan sangat berminat dan
hendak membelinya dengan harga tinggi dari Jones. Sepertinya hilangnya harta
karun rampasan Si Janggut Merah akan tetap merupakan salah satu teka-teki
terbesar dalam sejarah.

Seperti yang sebelumnya kukatakan, sahabatku Hector Sebastian


mengizinkanku menuliskan kata pengantar untuk petualangan Trio Detektif
yang menarik ini dan aku hanya dapat berharap agar dalam waktu tidak terlalu
lama aku akan mendapat kehormatan untuk melakukannya lagi. Aku harus
mengakui bahwa sikapku jauh lebih lunak terhadap anak-anak itu ketika
membahas kasus dibandingkan Mr. Hitchcock ataupun Sebastian. Jupiter sangat
kesal akan dirinya sendiri ketika kutunjukkan sebuah petunjuk di awal misteri
yang terlewatkan olehnya! Ia akan sudah curiga terhadap Oscar Cutter dari
awal seandainya saja ia lebih menaruh perhatian pada mobil kecil putihnya.

Ingat, hanya truk tua berwarna merah milik Atticus yang ada di jalan masuk
ketika mereka tiba pertama kalinya -- namun Cutter yang terengah-engah pergi
dengan mobilnya pagi itu. Bagaimana mungkin Cutter bisa kehabisan nafas
mengejar pencuri jika selama ini ia mengendarai mobilnya? Jawabannya: ia
sama sekali tidak mengejar pencuri!
Baiklah, satu hal sudah jelas: tidak diragukan lagi, Trio Detektif akan
menemukan misteri lain untuk diselesaikan dan ketika itu terjadi, kalian dapat
bertaruh bahwa hasilnya akan menakjubkan. Suatu taruhan yang dapat
dimenangkan bahkan oleh Oscar Cutter sekalipun!

JOHN CROWE