Anda di halaman 1dari 18

Makalah Teknik Pengemasan Hasil Pertanian

UJI PENGEMASAN
Oleh Kelompok I : MUHAMMAD JEFRI ( 1005106010003) MAISUR MARZUKI (1005106020017) AKBAR QADRI RAMBE (10051060100 ARIZAL FACHRI (10051060100 YAZIDUL BUSTAMI (10051060200

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA DARUSSALAM BANDA ACEH 2013

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

Hal

1.1. Latar Belakang ...................................................................................1 1.2. Tujuan .................................................................................................1 BAB II ISI DAN PEMBAHASAN 2.1. Penentuan Ketahanan Gesek Bahan Kemasan................................2 2.2. Evaluasi dan Uji Plastik......................................................................2 2.3. Uji Fisika..............................................................................................4 a. Uji resin (Resin testing)..........................................................................4 b. Uji wadah (Package testing)..................................................................4 c. Pemeriksaan visual pada kejernihan dan lapisan tambahan...................4 d. Keretakan wadah atau Paneling.............................................................4 e. Kebocoran wadah (Body leakage)..........................................................4 f. Kebocoran wadah (Body leakage)........................................................4 g. Pemeriksaan ukuran (Demensional testing)...........................................5 h. Pelabelan (labeling)...............................................................................5 2.4. Uji Kimia..............................................................................................5 a. IR spectra............................................................................................5 b. Uji logam berat....................................................................................5 c. Pengisi tambahan.................................................................................6 d. Plasticizer............................................................................................6 e. Antioksidan.........................................................................................6 2.5. Uji Biologi Plastik dan Polimer Lain.................................................6 a. Uji Reaktivitas secara Biologi in-vitro.................................................7 b. Uji Reaktivitas secara Biologi in-vivo.................................................7 2.6. Ketahanan Kemasan Susu Ultra.......................................................7 2.7. Ketahanan Gesek................................................................................8 2.8. Kekuatan Tarik dan Perpanjangan Putus Plastik...........................9

2.9. Ketahanan Kertas Terhadap Minyak.............................................10 2.10. Uji Bakar..........................................................................................10 2.11. Penentuan Daya Serap Kertas terhadap Air................................10 2.12. Uji Transmisi Daya.........................................................................11 2.13. Uji Tahan Bahan Kimia.................................................................11 2.14. Uji Ketahanan terhadap Air pada Suhu 121..............................12

BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan........................................................................................13 DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 14 LAMPIRAN.........................................................................................................15

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Perlindungan diperlukan untuk sebagian atau hampir keseluruhan dari produk yang dikemas agar mendapatkan nilai tambah, untuk promosi penjualan dan kepuasaan pemilik juga untuk mendapatkan profit secara jangka panjang dan pendek. Hal ini berkaitan dengan ketahanan kemasan. Ada dua faktor yang mempengaruhi yakni, faktor extern dan faktor intern. Faktor extern yang mempengaruhi ketahanan dari kemasan adalah iklim, transportasi, gas, air dan serangga. Sedangkan faktor intern yang mempengaruhi ketahanan dari kemasan adalah bahan pengemasnya sendiri, produk yang dikemas dan kandungan mikroba di dalam kemasan serta bahan pangan yang dikemas. Kedua faktor ini sangat erat sekali hubungannya dengan keadaan produk yang dikemas sehingga perlu mendapatkan perhatian agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti nilai tambah produk hilang, kontaminasi dengan zat-zat kimia, udara dan bakteri, profit atau laba menurun, keinginan konsumen tidak tersampaikan, kerusakan atau pengembalian produk dan kelancaran transportasi tidak baik (Sutedja, 1987). 1.2. Tujuan Untuk mengetahui pengujian tingkat ketahanan pada kemasan terhadap penyimpanan bahan.

BAB II ISI DAN PEMBAHASAN

2.1. Penentuan Ketahanan Gesek Bahan Kemasan Kertas dan Plastik Ketahanan gesek bahan kemasan berguna untuk menentukan bobot isi kemasan serta penanganan produk terkemas yang sebaiknya dilakukan. Ketahanan gesek menunjukan seberapa kuat bahan kemasan digesek dengan beban tertentu sehingga rusak atau seberapa besar penurunan bobotnya akibat bergesekan dengan beban tertentu. Pengujian ketahananan gesek menggunakan contoh uji berbentuk lingkaran berdiameter 10 cm dengan lubang kecil ditengah berdiameter 0,5 cm untuk memasukkan baut pengencang.Contoh kemudian ditimbang bobot awalnya. Contoh uji dipasang pada abrasion resistance tester dengan cara lubang pada contoh uji pada baut di tengah piringan alat dan contoh dijepit pada bagian tengah dan tepinya. Selanjutnya alat penghitung putaran diset ke angka nol dan beban 50 g dipasang pada setiap roda penggesek. Sebelum menghidupkan motor, pompa penghisap debu bekas gesekan harus dihidupkan terlebih dahulu. Selama alat bekerja dengan cara contoh uji, dilakukan pengamatan terhadap adanya lubang. Jika sudah terdapat lubang pada contoh uji, penggesekan dihentikan dan dilihat jumlah putaran pada alat. Jika contoh uji tidak rusak maka pengujian dilakukan hingga 50 kali putaran. Bobot bahan setelah pengujian ditimbang dan dilakukan perhitungan kehilangan bobot bahan per satuan luas bidang gesek (g/cm2). 2.2. Evaluasi dan Uji Plastik FDA telah memberikan batasan petunjuk masalah evaluasi dan uji bahan polimer. Dengan penggunaan plastik sebagai bahan untuk wadah LVP, berikut ini dapat dipertimbangkan kerangka dasar untuk melakukan pengujian: 1. Pemeriksaan untuk uji biologi dan fisikokimia, jumlah dan tipe senyawa yang potensial untuk leaching atau terlepas dari wadah plastik. 2. Pemeriksaan integritas atau stabilitas dengan uji terhadap efek kondisi penyimpanan, misal: waktu, suhu, cahaya, kelembaban dan efek siklus sterilisasi terhadap sifat fisik, kimia dan biologi dari wadah.

3. Melakukan uji lainnya dan menghasilkan data perkiraan untuk menjamin keamanan dari wadah. Berbeda dengan bahan plastik, penggunaan gelas sebagai wadah LVP telah diterima sejak dulu kala karena kebijakan lebih dahulu dan penggunaan dalam waktu yang lama. Hal ini bukan berarti bahwa gelas dapat digunakan pada aplikasi LVP tanpa deretan uji yang umum. Secara umum berbagai wadah atau komponen yang kontak langsung dengan cairan LVP harus diveluasi dengan perhatian yang khusus. 2.3. Uji Fisika a. Uji resin (Resin testing) Berdasarkan penerimaan karet mentah, manufaktur farmasi mencatat banyaknya jumlah dari karet mentah dan percaya tingkat spesifikasi penerimaan ditetapkan oleh manufakture resin. Uji fisik yang dilakukan meliputi ukuran titik leleh dan ukuran endapan spesifik. b. Uji wadah (Package testing) Uji fisika pada wadah yang berisi komplit merupakan cara yang paling banyak dilakukan. Pengujian biasanya meliputi uji visual, seperti kejernihan, lapisan tambahan, uji tetesan, dan uji kebocoran. Uji integritas fisik meliputi uji kebocoran wadah, kebocoran tutup dan integritas, uji dimensional (ukuran), dan kerusakan label. c. Pemeriksaan visual pada kejernihan dan lapisan tambahan Standard untuk kejernihan wadah telah ditetapkan oleh manufaktur farmasi. Kejernihan ini mengungkinkan untuk pemeriksaan. d. Keretakan wadah atau Paneling Wadah dapat menjadi rapuh karena sterilisasi atau proses manufaktur yang tidak sesuai. Pemeriksaan visual dilakukan pada waktu yang sama dengan pemeriksaan kejernihan produk. Paneling adalah peristiwa dimana wadah rata atau memipih pada salah satu sisi dari botol. e. Kebocoran wadah (Body leakage) Uji integritas setelah produk diisikan ke dalam LVP, dapat dilakukan secara manual maupun menggunakan instrumentasi elektronik, dilakukan untuk

mengukur ketahanan yang berkurang ketika melewati jembatan voltase. Cara ini medeteksi media cairan yang meninggalkan wadah. LVP ditolak bila terjadi kebocoran pada wadah. f. Kebocoran tutup dan Integritas (Closure leakage and integrity) Sisi dari wadah biasanya disegel dengan menggunakan tutup karet untuk menutup rongga udara. Tutup ini harus menjamin integritas dari wadah. Berdasarkan validasi siklus sterilisasi untuk LVP khusus, bagian ini harus diperhatikan karena bila terjadi kebocoran, maka akan berpengaruh pada sterilitas. g. Pemeriksaan ukuran (Demensional testing) Ukuran dan berat dari wadah harus diperiksa sebelum wadah diterima. Volume juga harus diperiksa seperti pada integritas wadah. h. Pelabelan (labeling) Label harus dilihat untuk memeriksa kelengkapan dari label pada wadah, termasuk expiration date, penjelasan mengenai komposisi. Jika label stampel panas dicetak pada wadah atau botol maka harus dilakukan uji kebocoran dan integritas untuk menegaskan bahwa tidak ada kerusakn pada wadah setelah pencetakan. 2.4. Uji Kimia Uji kimia dari wadah LVP dan bahan polimer mentah itu sendiri dilakukan tergantung pada polimer yang digunakan dan sifat yang dinginkan pada wadah. Umumnya, pemeriksan kimia dari polimer yang digunakan pada wadah LVP dilakukan oleh supplier/pemasok polimer. Pemeriksaan tersebut meliputi analisis berat molekul, sisa pijar, presentase logam berat dan pemeriksaan bahan tambahan seperti stearat atau antioksidan. Pemeriksaan meliputi: 1. IR spectra Identifikasi polimer dengan menggunakan spektroskopi IR sudah biasa dilakukan. Sampel disiapkan pada pellet KBr atau tekanan kuat hingga menjadi lapisan yang tipis. Gugus seperti OH, C=O, dan CH dapat identifikasi berdasarkan pita serapan yang khas.

b. Uji logam berat Kalsium (Ca) dan seng (Zn) merupakan logam yang sering diuji, biasanya dilakukan dengan menggunakan AAS (Atomic Absorption Spectrum). Logam berat ini ditambahkan pada formula polimer LVP sebagai stabilizer (logam oksida), mold releasing agent (zinc stearat), pewarna, seperti kalsium karbonat. c. Pengisi tambahan Pengisi ini merupakan bahan khusus yang harganya murah dan berguna untuk memperpanjang polimer dan mengurangi harga plastik. Pengisi memiliki efek menguatkan dam mengurangi penyusutan pada cetakan serta

meningkatkan koefisien panas. Pengisi yang sering digunakan adalah kalsium karbonat dan talc. AAS dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kalsium dari kalsium karbonat dan analisis thermogravimetric dapat digunakan untuk mengevaluasi jumlah talc yang diisikan pada polimer. d. Plasticizer Plasticizer seperti senyawa phtalat (DEHP, di-2-ethyl-hexylphtalate sering digunakan pada wadah PVC) harus diperiksa untuk melihat apakah terjadi leaching dari wadah parenteral ke larutan dengan akumulasi lebih lanjut di jaring tubuh dan organ pasien. e. Antioksidan Produk polyolefin mengandung antioksidan tertentu, seperti BHT (butylated hydroxytoluene) dan DLPTDP (dilauril thiopropionate). Untuk mengekstraksi antioksidan ini dapat digunkan kloroform sebagai pelarut. Saat ini, ketika bahan plastik digunakn untuk wadah LVP, QC testing akan menghitung secara kuantitatif antioksidan yang lepas atau migrasi dari wadah ke cairan LVP untuk memeriksa bahwa senyawa yang lepas masih di bawah tingkat toksik. 2.5. Uji Biologi Plastik dan Polimer Lain Uji ini terdiri dari dua tahap pengujian. Tahap pertama lakukan uji biologis secara in-vitro sesuai prosedur seperti yang ertera pada Uji Reaktivitas secara Biologi in-vitro. Bahan yang memerlukan uji in vitro tidak memerlukan uji lanjutan. Tidak ada kelas plastik dinyatakan termasuk golongan ini. Bahan yang

tidak memenuhi persyaratan uji in-vitro harus diuji tahap kedua yang dilakukan denga uji in-vivo seperti Uji injeksi sistemik, Uji intra-kutan, dan Uji implantasi sesuai dengan prosedur yang tertera pada Uji Reaktivitas secara Biologi in-vivo. a. Uji Reaktivitas secara Biologi in-vitro Uji berikut dirancang untuk menentukan reaktivitas biologik biakan sel mamalia setelah kontak dengan plastik elastomer dan bahan polimer lain yang kontak dengan penderita secara langsung, atau dengan ekstrak khusus yang dibuat dari bahan uji. Hal yang penting adalah menyediakan luas permukaan spesifik untuk ekstraksi. Jika luas permukaan specimen tidak dapat ditentukan, gunakan 0,1 g elastomer atau 0,2 g plastik atau bahan lain untuk setiap mL cairan ekstraksi. Juga penting untuk berhati-hati dalam penyediaan bahan-bahan tersebut untuk menghindari kontaminasi mikroba dan zat asing lain. b. Uji Reaktivitas secara Biologi in-vivo. Uji berikut dirancang untuk menentukan respon biologik hewan terhadap plastik elastomer dan bahan polimer lain yang kontak dengan penderita

secara langsung atau tidak langsung, atau dengan penyuntikan ekstrak khusus yang dibuat dari bahan uji. Hal yang penting yaitu menyediakan daerah permukaan spesifik untuk ekstraksi. Jila daerah permukaan specimen bahan lain untuk tiap mL cairan ekstraksi. 2.6. Ketahanan Kemasan Susu Ultra Suatu kemasan dilakukan pengujian dengan menggunakan uji perendaman yang sebelumnya diberi lubang, pelubangan ini bertujuan untuk mengetahui laju kebocoran dalam waktu yang ditentukan yaitu selama 1 jam, dengan jumlah 6 sampel sama dengan jumlah lubang yang berbeda maka akan terlihat sejauh mana larutan pewarna masuk ke dalam kemasan, dikarenakan saat kemasan menjadi bocor maka disaat itu kemasan sudah lagi tidak bisa melindungi produk yang ada didalamnya (Pratiwi, 2012). Dari data yang diperoleh diketahui bahwa kemasan yang ditusuk bagian atas atau bawahnya tidak sampai bocor mengalami perubahan warna susu dari merah muda pucat menjadi kehijauan. Hal ini terjadi karena

lubang kecil yang dihasilkan saat dilakukan perusakan dan memungkinkan pewarna untuk masuk ke dalam kemasan. Sehingga kemasan sudah tidak mampu melindungi produk di dalamnya. 2.7. Ketahanan Gesek Karton memiliki kehilangan bobot yang hampir sama dengan kertas minyak. Hal ini dapat disebabkan karena permukaan karton agak kasar sehingga banyak bagian yang hilang ketika terjadi gesekan. Oleh karena itu, maka karton yang digunakan untuk pengemasan dibuat tebal dengan permukaan lebih licin sehingga lebih tahan terhadap gesekan. Pada kertas lainnya, kehilangan bobotnya lebih kecil dari karton. Ini dapat disebabkan karena permukan kertas agak licin sehingga dapat mengurangi kehilangan bobot akibat gesekan dengan benda lain. Gaya gesek pada permukaan kasar lebih besar dibandingkan dengan gaya gesek pada permukaan yang lebih licin. Selain itu beban dari benda yang bergesekan juga berpengaruh. Kehilangan bobot saja belum mengindikasikan ketahanan gesek suatu jenis kertas. Jumlah gesekan yang diperlukan hingga dupleks rusak lebih besar dibandingkan dengan jumlah gesekan yang diperlukan hingga kertas rusak. Hal ini disebabkan karena dupleks lebih tebal dari pada kertas. Dengan demikian dalam hal ketahanan gesek, dupleks lebih tahan dibandingkan dengan kertas. Pada penentuan ketahanan gesek diperlukan penghisap debu untuk memisahkan debu hasil penggesekan. Hal ini disebabkan karena bila tidak ada penghisap debu, maka debu hasil penggesekan akan menghalangi bidang gesekan, sehingga dapat mengganggu hasil pengukuran. Selain itu pada aplikasinya juga bila kemasan kertas mengalami gesekan pada saat penanganannya, maka umumnya debu hasil gesekan tidak akan tertinggal pada permukaan gesekan. Pengujian contoh kertas untuk ketahanan geseknya dilakukan sampai kertas tersebut rusak. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut yaitu bila kertas atau karton digunakan untuk mengemas suatu produk, maka ia harus dapat melindungi produk tersebut dari berbagai gangguan dari luar, antara lain berupa gesekan, adanya tumpukan yang bisa merusak produk, dan mencegah kontak dengan bahan atau senyawa lain. sebagai pelindung produk (pengemas). Oleh karena itu

dilakukan pengujian daya tahan kertas/karton terhadap gesekan yang aplikasinya berkaitan dengan ketahanan kemasan digeser dan ditumpuk selama penyimpanan. Pengujian ini dihentikan bila kertas tersebut rusak (lubang atau sobek), karena bila kertas telah rusak maka pada aplikasinya ia tidak berfungsi lagi sebagai kemasan yang melindungi produk. Jumlah gesekan pada saat kertas rusak mengindikasikan bahwa kertas tersebut dapat rusak pada sejumlah gesekan dengan beban/bobot tertentu yang bisa ditahan. Nilai ketahanan gesek pada sisi velt (sisi dalam) dan sisi roll (sisi luar) berbeda. Ini dapat disebabkan karena permukaan sisi velt lebih kasar dibandingkan dengan sisi roll, sehingga pada waktu bergesekan gaya geseknyabesar dan demikian juga dengan kehilangan bobot yang terjadi. Untuk keperluan kemasan, perlu diketahui ketahanan gesek. Uji ketahanan gesek dimaksudkan untuk mengetahui ketahanan gesek kertas dengan melihat kehilangan bobot dari kertas akibat sejumlah gesekan yang diberikan pada bobot tertentu. Dengan mengetahui ketahanan gesek kertas tersebut maka kita dapat menentukan apakah kertas/karton yang digunakan sebagai pengemas dapat mengalami gesekan atau tidak, atau sampai seberapa besar gesekan yang bisa diterima kertas/karton tersebut. Kegunaan dari uji ini yaitu berhubungan dengan aplikasinya terhadap ketahanan kemasan digeser selama penggunaan dan transportasi, serta pada saat ditumpuk untuk penyimpanan. 2.8. Kekuatan Tarik dan Perpanjangan Putus Plastik Plastik HDPE dan LDPE merupakan plastik yang terdiri dari polimer yang sama dengan densitas yang berbeda. Kekuatan tarik pada plastik HDPE lebih besar dibandingkan dengan pada plastik LDPE. Hal ini dapat disebabkan karena pada HDPE rantai-rantai molekul tersusun lebih teratur dibandingkan dengan LDPE, sehingga dibutuhkan kekuatan tarik yang lebih besar untuk memutuskan plastik HDPE dibanding dengan untuk plastik LDPE. Hal ini berkaitan juga dengan nilai densitas kedua jenis plastik tersebut. HDPE yang memiliki densitas yang lebih tinggi, maka strukturnya tertutup atau susunan rantai-rantai polimernya lebih rapat dibandingkan dengan LDPE yang memiliki densitas rendah. Menurut

Harper (1975) pada polietilen jenis low density terdapat sedikit cabang pada rantai antara molekulnya yang menyebabkan plastik ini memiliki densitas yang rendah, sedangkan high density mempunyai jumlah rantai cabang yang lebih sedikit dibanding jenis low density. Dengan demikian high density memiliki sifat bahan yang lebih kuat, keras, buram dan lebih tahan terhadap suhu tinggi. Nilai kekuatan tarik ini perlu untuk mengetahui kekuatan kemasan bila diberi diberi tekanan. Semakin tinggi kemampuan suatu bahan kemasan untuk menerima suatu tekanan yang diberikan, maka semakin tinggi mutu suatu kemasan itu di dalam melindungi produk dari tekanan yang terjadi selama penyimpanan atau transportasi, sehingga kerusakan mekanis yang akan terjadi pada produk akan bisa dikurangi.

2.9. Ketahanan Kertas Terhadap Minyak Kertas yang diuji diletakkan di atas kertas indikator berwarna putih, ke atas kertas yang diuji dituang pasir hingga membentuk kerucut. Dituang terpentin berwarna merah ke atasnya waktu dari mulai terpentin dituang hingga terbentuk spot merah pertama kali menunjukkan tingkat ketahanan kertas terhadap minyak kertas tahan minyak relatif lebih mahal. 2.10. Uji Bakar Dari hasil percobaan bahwa yang paling mudah terbakar dari semua jenis bahan plastik yang diteliti adalah jenis polietilen (LDPE), bahkan pada LDPE ini, saat sumber api dijauhkan tidak mati. Hal ini sesuai dengan tinjauan literatur dari Christopher (1981) yang menyatakan bahwa PE dengan massa jenis 38 mempunyai konduktivitas thermal 0.046, sedangkan PVC dengan massa jenis 35 memiliki konduktivitas thermal 0.028. Jadi wajar saja LDPE lebih mudah terbakar, karena bahan plastik ini mempunyai daya penghantar panas yang lebih tinggi dibandingkan dengan PVC. 2.11. Penentuan Daya Serap Kertas terhadap Air Contoh kertas dengan diameter 10 cm ditimbang bobot awalnya, kemudian diselipkan pada alat COBB tester diantara plat dan tabung. Selanjutnya baut penahan dipasang rapat agar tidak terjadi kebocoran.Sebanyak 100 ml air

dimasukkan ke dalam alat dan didiamkan selama 10 menit. Air kemudian dikeluarkan dari alat dan contoh uji dikering anginkan. Contoh uji ditimbang kembaliberatnya. Selanjutnya dilakukan perhitungan jumlah air yang diserap oleh kertasper satuan luas (g/cm2. menit). Pengujian dilakukan senbanyak dua kali ulangan.

2.12. UJI Transmisi Cahaya Spektrofotometer dengan kepekaan dan ketelitian yang sesuai untuk pengukuran jumlah cahaya yang ditransmisi oleh wadah sediaan farmasi yang terbuat dari bahan gelas. Penyiapan contoh: Potong wadah kaca dengan gergaji melingkar yang dipasang dengan roda abrasif basah, seperti suatu roda berlian. Wadah dari kaca tiup dipilih bagian yang mewakili ketebalan rata-rata dinding dan potong secukupnya hingga dapat sesuai untuk dipasang dalam spektrofotometer. Wadah gelas tadi dicuci dan dikeringkan dengan hati-hati untuk menghindari adanya goresan pada permukaan. Gelas contoh kemudian dibersihkan dengan kertas lensa dan dipasang pegangan contoh dengan bantuan paku lilin Prosedur: Potongan diletakkan dalam spektrofotometer denagn sumbu silindris sejajar terhadap bidang celah dan lebih kurang di tengah celah. Jika diletakkan dengan benar, sorotan cahaya normal terhadap permukaan potongan dan kehilangan pantulan cahaya minimum. Ukur tranmitans potongan dibandingkan dengan udara pada daerah spektrum yang diinginkan terus-menerus dengan alat perekam atau pada interval lebih kurang 20 nm dengan alat manual pada daerah panjang gelombang 290 nm450nm.

2.13. Uji Tahan Bahan Kimia Menetapkan daya tahan wadah kaca atau gelas baru (yang belum pernah digunakan) terhadap air. Tingkat ketahanan ditentukan dari jumlah alkali yang

terlepas dari kaca karena pengaruh media pada kondisi ynag telah ditentukan. Pengujian dilakukan di ruangan yang relatif bebas dari asap dan debu berlebihan.

2.14. Uji Ketahanan terhadap Air pada Suhu 121 Penyiapan contoh: Pilih secara acak 3 atau lebih wadah bilas 2 kali dengan air kemurnian tinggi. Prosedur : Isi setiap wadah dengan air kemurnian tinggi hingga 90% dari kapasitas penuh dan lakukan prosedur seperti yang tertera pada uji serbuk kaca mulai dengan Tutup semua labu.., kecuali waktu pemansan dengan otoklaf 60 menit bukan 30 menit dan diakhiri dengan untuk mencegah terjadinya hampa udara. Kosongkan isi dari 1 atau lebih wadah ke dalam gelas ukur 100 ml. Jika wadah lebih kecil, gabungkan isi dari beberapa wadah untuk memperoleh voluyme 100 ml. Masukkan kumpulan contoh dalam labu erlenmeyer 250 ml terbuat dari kaca tahan bahan kimia, tambahkan 5 tetes larutan metil merah, titrasi dalam keadaan hangat dengan asam sulfat 0,020N LV. Selesaikan titrasi dalam waktu 60 menit setelah otoklaf dibuka. Catat volume asam sulfat 0,020 N yang digunakan , lakukan titrasi blanko dengan 100 ml air kemurnian tinggi pada suhu yang sama dan dengan jumlah indikator yang sama. Volume tidak lebih dari yang tertera pada tabel tipe kaca dan batas uji untuk tipe kaca yang diuji.

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan 1. Ketahanan gesek menunjukan seberapa kuat bahan kemasan digesek dengan beban tertentu sehingga rusak atau seberapa besar penurunan bobotnya akibat bergesekan dengan beban tertentu. 2. Pada penentuan ketahanan gesek diperlukan penghisap debu untuk memisahkan debu hasil penggesekan. Hal ini disebabkan karena bila tidak ada penghisap debu, maka debu hasil penggesekan akan menghalangi bidang gesekan, sehingga dapat mengganggu hasil pengukuran. 3. Uji ketahanan gesek dimaksudkan untuk mengetahui ketahanan gesek kertas dengan melihat kehilangan bobot dari kertas akibat sejumlah gesekan yang diberikan pada bobot tertentu 4. Kekuatan tarik pada plastik HDPE lebih besar dibandingkan dengan pada plastik LDPE. Hal ini dapat disebabkan karena pada HDPE rantai-rantai molekul tersusun lebih teratur dibandingkan dengan LDPE. 5. Semakin tinggi kemampuan suatu bahan kemasan untuk menerima suatu tekanan yang diberikan, maka semakin tinggi mutu suatu kemasan itu di dalam melindungi produk dari tekanan yang terjadi selama penyimpanan atau transportasi. 6. Karton memiliki kehilangan bobot yang hampir sama dengan kertas minyak. Hal ini dapat disebabkan karena permukaan karton agak kasar sehingga banyak bagian yang hilang ketika terjadi gesekan.

DAFTAR PUSTAKA

Aspihani H. 2006. Kajian Pengaruh Tipe Kemasan dan Bahan Kemasan. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta. Bachriansyah, 1997. Identifikasi Plastik. Departemen Perindustrian dan

Perdagangan. Bogor. Harper,1975. Polymer Materials. Mac Millan Publishers LTD. London. Pratiwi, 2012. Kajian Perubahan Suhu Dalam Kemasan. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB.Bogor. Sutedja, 1987. Perancangan Kemasan. Hyatt regency.Surabaya.

LAMPIRAN

1. Berapakah biasa nya penentuan ketahanan gesek di ulang jika contoh uji tidak rusak? Jawaban : Maka pengujian dilakukan hingga 50 kali putaran. 2. Kenapa nilai ketahanan gesek pada sisi velt (sisi dalam) dan sisi roll (sisi luar) berbeda? Jawaban : Karena permukaan sisi velt lebih kasar dibandingkan dengan sisi roll, sehingga pada waktu bergesekan gaya geseknyabesar dan demikian juga dengan kehilangan bobot yang terjadi. 3. Kenapa penentuan ketahanan gesek diperlukan penghisap debu? Jawaban : Karena bila tidak ada penghisap debu, maka debu hasil penggesekan akan menghalangi bidang gesekan, sehingga dapat mengganggu hasil pengukuran. 4. Pada wadah digunakan uji integritas fisik, sebutkan meliputi apa-apa saja? Jawaban : Uji kebocoran wadah, kebocoran tutup dan integritas, uji dimensional (ukuran), dan kerusakan label. 5. Kenapa pengujian daya tahan kertas/karton terhadap gesekan dihentikan pada saat karton rusak dan sobek? Jawaban : Karena bila kertas telah rusak maka pada aplikasinya ia tidak berfungsi lagi sebagai kemasan yang melindungi produk. 6. Untuk apa pengujian tahan gesek dilakukan? Jawaban :

Dengan mengetahui ketahanan gesek kertas tersebut maka kita dapat menentukan apakah kertas/karton yang digunakan sebagai pengemas dapat mengalami gesekan atau tidak. 7. Mengapa Kekuatan tarik pada plastik HDPE lebih besar dibandingkan dengan pada plastik LDPE? Jawaban : Hal ini dapat disebabkan karena pada HDPE rantai-rantai molekul tersusun lebih teratur dibandingkan dengan LDPE, sehingga dibutuhkan kekuatan tarik yang lebih besar untuk memutuskan plastik HDPE dibanding dengan untuk plastik LDPE. 8. Kenapa plastik LDPE mudah terbakar di bandingkan PVC? Jawaban : Karena bahan plastik ini mempunyai daya penghantar panas yang lebih tinggi dibandingkan dengan PVC. 9. Mengapa Suatu kemasan dilakukan pengujian dengan menggunakan uji perendaman? Jawaban : Untuk mengetahui laju kebocoran dalam waktu yang ditentukan yaitu selama 1 jam, dengan jumlah 6 sampel sama dengan jumlah lubang yang berbeda maka akan terlihat sejauh mana larutan pewarna masuk ke dalam kemasan. 10. Mengapa penyebab bahwa kemasan yang ditusuk bagian atas atau

bawahnya tidak sampai bocor mengalami perubahan warna susu dari merah muda pucat? Jawaban : Hal ini terjadi karena lubang kecil yang dihasilkan saat dilakukan perusakan dan memungkinkan pewarna untuk masuk ke dalam kemasan.