Anda di halaman 1dari 7

PENULUSURAN SENY AW A AKTIF DARI BUAH MENGKUDU (MORlNDA CITRlFOLIA) DENGAN AKTIVITAS ANTELMINTIK TERHADAP HAEMONCHUS CONTORTUS

T.B. MURDIATII, G. ADIWINATALdan D.HILDASARI2 IBalai Penelitian Veteriner

Jalan R. E. Martadinata No.3D, P. O. Box 151, Bogar 16114, Indonesia 'Jurusanfarmasi, FM1PA -ISTN, Jakarta

(Diterima dewan redaksi 23 Agustus 2000)

ABSTRACT MURDIATI, T.B., G. ADIWINATA and D.HILDASARI.2000. To trace the active compound in mengkudu (morinda citrifolia) with anthelmintic acvtivity against Haemonchus contortus. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 5 (4): 255-259.

Intestinal parasites such Haemonchus cantor/us is usually controlled by management improvement and regular administration of anthelmintic. However, there is an indication of H con/ortus resistance to several anthelmintic available in the market,which makes medicmal plants as an alternative anthelmintic and mengkudu or noni fruit (Morinda citrifolia) have been reportedas an effective anthelmintic. To trace the active compounds responsible for anthelmintic activity against Hcontortus, the mengkudufruit was continuosly extracted into hexane, chloroform, metanol and water, followed by in-vitro study on the anthelmintic activity. The in-vitro anthelmintic activity was base on the ability of the extracts to kill the worm and the ability of the extractsto preventegg development. The study suggested that chloroform fraction which contains alkaloid and anthraquinon havethe highestanthelminticactivity and showed significant different compared to control (PS 0.05).

Key words: Morinda citrifolia, anthelmintic, Haemonchus

contortus

ABSTRAK
MURDIATI, r.B., G. ADIWINATA dan D.HILDASARI.2000. Penulusuran senyawa aktif dari buah mengkudu (morinda citrifolia) dengan aktivitasantelmintikterhadap Haemonchus contortus. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 5 (4): 255-259.

Untuk mengatasi parasit saluran pencernaan seperti Haemonchus contortus umumnya dilakukan dengan perbaikan manajemenkandang dan pemberian obat cacing secara teratur. N<.an tetapi adanya indikasi resistensi Hcontortus terhadap beberapaobat cacing yang ada di pasaran telah menyebabkan meningkatnya usaha penggunaan tanaman obat sebagai obat cacing.Salahsatunyaadalah buah mengkudu (Morinda citrifolia) yang telah dilaporkan sebagai antelmintik yang efektif. Untuk menelusurisenyawaaktif dalam buah mengkudu yang aktif sebagai obat cacing, telah dilakukan ekstraksi secara berturut-turut menggunakan pelarut heksana, kloroform, metanol dan air, yang dilanjutkan dengan uji aktivitas antelmintik dari fraksi fraksi secarain-vitro.Uji aktivitas in-vitro yang diamati adalah kemampuan dalam membunuh cacing dan kemampuan menghambat perkembangantelur cacing H.contortus. Ternyata fraksi kloroform yang mengandung senyawa alkaloid dan antrakinon
menunjukkan aktivitas antelmintik yang paling tinggi yang berbeda secara nyata dibandingkan kelompok kontrol (PSO,05). Kata kunci: Morinda citrifolia, antelmintik, Haemonchus contortus

Pasifik (HEYNE,1987). Hampir semua bagian dari tanamaninidikatakandapat dipergunakan sebagai obat, daun selain untuk sayuran juga digunakan untuk mengobati perut mulas, radang amandel, masuk angin, dan kencingmanis. Akar mengkudu digunakan untuk mengobatikekejangan dan tetanus, dan kulit batang dapat digunakan untuk mengobati diare. Buah

Secara in-vitro daun mengkudu telah dilaporkan efektif sebagai antelmintik untuk mengatasi Ascaridia galli pada unggas dan Ascaris suum pada babi (SOEMARDJI et aI, 1994). Sedangkan FATHURRAHMAH (J 992) juga telah membuktikan aktivitas antelmintik dari buah mengkudu terhadap cacing Raillietina spp dan Ascaridia galli pada ayam. Dilaporkan juga bahwa 255

T.B. MURDIATI ei al.: Penulusuran

Senyawa Ilktifdari

Buah Mengkudu (Morinda citrifolia)

dengan Aktivitas Antelmintik

buah mengkudu telah dipergunakan sebagai obat cacing secara turun temurun untuk ternak kambing dan domba di beberapa daerah di Pulau Jawa (SANGATROEMANTYO dan RISWAN,1991; WAHYUNI SRI et ai, 1992). Adanya indikasi bahwa telah terjadi resistensi cacing Heontortus terhadap beberapa antelmintik yang ada di pasaran telah mendorong pemakaian tanaman obat sebagai antelmintik. Uji aktivitas antelmintik perasan buah mengkudu terhadap cacing H.eontortus pada domba telah dilakukan oleh MUCHT AR(1991) dan melaporkanbahwa pemberianperasan buah mengkudu sebanyak I glkg berat badan dapat menurunkan nilai ttgt (telur tiap gram tinja) dari domba yang terinfeksi Heontortus. Untuk itu perlu dilakukan suatu penelusuran untuk mengetahui senyawa aktif yang mempunyai afek antelmintik terhadap H.eontortus. Menurut RONOHARJO dan WILSON(1986) infeksi yang disebabkan oleh cacing nematoda saluran pencernaan seperti halnya H.eontartus merupakan salah satu kendala dalam pengembangan peternakan kambing dan domba di Indonesia. Kerugian yang disebabkan oleh cacing H eantartus adalah menurunnya daya tahan tubuh, terhambatnya pertumbuhan dan produksi, bahkan kematian. Cacing H.eantartus merupakan cacing penghisap darah yang rakus dan dapat menyebabkan anemia pada inangnya (CLARK et ai, 1962). MATERI DAN METODE Fraksinasi buah menglmdu Buah mengkudu yang dipergunakan adalah buah mengkudu yang matang, setelah dibersihkan kemudian diiris tipis tipis dan dikeringkan dibawah sinar matahari hingga cukup kering. Kemudian dikeringkan dengan oven pada suhu 50C hingga kering. Buah mengkudu yang sudah kering kemudian digiling dengan ukuran penyaring 0,75 mesh. Sejumlah 200 g serbuk buah mengkudu diekstraksi dengan soxhlet, mempergunakan

Pemeriksaan kandungan kimia dalam fraksi buah mengkudu Uji penelusuran golongan senyawa kimia dilakukan berdasarkan senyawa yang terlarut dalam tiap ftaksi. Senyawa aktif akan terlarut didalam pelarut yang sesuai dengan sifat kepolaran dari pelarut yang dipergunakan pada ftaksinasi. Penulusuran senyawa aktif dilakukan dengan melakukan uji yang sesuai dengan senyawa yang diduga kuat yang terlarut dalam tiap ftaksi seperti yang terlihat dalam Tabel I (MATERIAMEDlKA
INDONESIA,1989; STAHL, 1967).

Tabell.

Uji yang dilakukan terhadap ftaksi ftaksi buah mengkudu guna penelusuran golongan senyawa kimia Uji terhadap senyawa lemak terpene alkaloid antrakinon alkaloid flavonoid antrakinon tanin/fenol saponin gula tanin/fenol saponin gula

No.

Fraksi Heksana Kloroform Metanol

2 3

Air

Uji aktivitas antelmintik secara in-vitro Uji aktivitas antelmintik dilakukan dengan melihat kemampuan ekstrak dalam membunuh cacing H eaneartus dan kemampuan menghambat perkembangan telur cacing H,eantartus secara in-vitro. Untuk kedua jenis uji tersebut dipergunakan ekstrak dengan konsentrasi I%, yang dipersiapkan dalam bentuk suspensi dengan penambahan Tween 20 dengan

--

semua

menguap, kemudian diekstraksi dengan pelarut air (1:3) dengan cara perebusan. Perebusan dilakukan selama 15 menit dihitung setelah mendidih, filtrat kemudian dikeringkan secara beku kering ([rezze dlying) untuk mendapatkan ftaksi air.

kelompok 2 : fraksi kloroform I % b/v kelompok 3 : ftaksi metanol I % b/v kelompok 4 : fraksi air I % b/v kelompok 5 : larutan NaCI 0,9 % dengan Tween 20 (1:5) sebagai kontrol.

256

Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner Vol. 5 No.4 Th. 2000

Uji kemampuan membunuh cacing H. contortus

Cacing dewasa diperoleh dari dalam abomasum domba yang diperoleh dari rumah potong hewan di Bogor. Setelah abomasum dibuka, cacing yang ada kemudiandiambil dan sementara dikumpulkan dalam larutanNaCI fisiologis 0,9 %. Tiap kelompok terdiri dari 3 cawan petri, tiap cawan diisi 1 ml sediaan ekstrak buah mengkudu yang telah dipersiapkan, kemudian dimasukkan 10 ekor cacing kedalam tiap cawanpetri. Pengamatan dilakukan pada suhu kamar, jumlahcacingyang mati dihitung setiap 15 menit untuk 1 jam pertama, kemudian setiap jam selama 6 jam. Cacing dikatakan mati apabila tidak bergerak oleh
rangsang sentuhan.

ditemukan didalam fraksi metanol dan ada senyawa fenol yang ditemukan dalam fraksi air. Adanya lebih dari satu senyawa alkaloid dibuktikan dengan pemeriksaan dengan kromatografi lapis tipis, temyata pada kromatogram fraksi kloroform ditemukan adanya bercak yang berbeda dengan bercak pada kromatogram fraksi metano!. Dengan kata lain senyawa alkaloid yang terlarut dalam kloroform berbeda dengan senyawa alkaloid yang terlarut dalam metanol (HILDASARI, 1998). Tabel 2. Penelusuran senyawa kimia dalam fraksi fraksi buah mengkudu yang diekstraksi dengan mempergunakan soxhlet
No I 2 3 4 5 6 7 8 9 Golongan senyawa terpen lemak alkaloid antrakinon saponin flavonoid tanin fenol gula heksana + + x x x x x x x kloroform metanol x x + + x x x x x x + + air x x x x x + + +

Uji kemampuanmenghambat perkembangan telur eacing H. contortus Telur diperoleh dari telur yang dikeluarkan cacing betina dewasa secara alami dewasa yang diletakkan pada cawan petri sekitar 2jam. Telur juga dapat dikumpulkan atau dikeluarkan dari cacing betina dewasadenganbantuanjarum. Dalam cawan petri yang berisi 1,5 ml cairan uji dimasukkan sekitar 40-50 telur cacing. Pengamatan dan penghitungan telur cacing dilakukan dibawah mikroskop dengan bantuan alat hitung. Pengamatan dilakukan setelah masa inkubasi selama24 jam pada suhu kamar, diamati perkembangan telur menjadi larva tingkat 1. Telur dikatakan mengalami kegagalan menetas apabila tidak terjadi perubahanmenjadibentuk larva tingkat 1. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil penelusuran senyawa kimia diketahui bahwa adanya senyawa lemak / minyak dan triterpen dalam fraksi heksana, sedangkan dalam fraksi kloroform ditemui adanya senyawa alkaloid dan antrakinon. Senyawa alkaloid dan antrakinon juga ditemukan dalam fraksi metanol disamping adanya

Keterangan:

x : tidak dilakukan, + : positif,

- : negatif

Uji efek antelmintik terhadap kemampuan membunuh cacing H contortus yang tertinggi temyata ditunjukkan oleh fraksi kloroform, yang mampu membunuh cacing sebanyak 13,33 % pada menit ke 15. Dan pada menit ke 120 atau 2 jam setelah perlakuan telah membunuh semua cacing (100 %) yang ada dalam cawan petri (Tabel 3), sedangkan fraksi heksana pada menit ke 120 hanya mampu membunuh sebanyak 6,66 % cacing yang ada. Fraksi metanol maupun fraksi air pada menit yang sarna belum mampu menyebabkan kematian cacing Hcontortus. Fraksi metanol menunjukkan kemampuan membunuh cacing sebanyak

fraksi kloroform dan fraksi metanol dapat dimengerti karenakemungkinanbesar terdapat lebih dari satu jenis alkaloid dan antrakinon dalam buah mengkudu. Tergantung dari polaritas senyawa alkaloid dan antrakinonyang bersangkutan maka ada alkaloid dan antrakinonyang larut dalam kloroform dan ada pula yang larut dalam metano!. Demikian juga yang terjadi pada senyawa fenol, sehingga ada senyawa fenol yang

menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap kontrol (P:::;0,05),Fraksi yang lain yaitu fraksi heksana, fraksi metanol maupun fraksi air tidak menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap kontrol dalam kemampuan membunuh cacing H contortus (P::::O,05). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa senyawa yang mempunyai aktivitas membunuh cacing H contortus yang tertinggi berada dalam fraksi kloroform. 257

T.B. MURDIATI ei al.: Penulusuran Senyawa Aktif dari Buah Mengkudu (Morinda citrifolia)

dengan Aktivilas Antelmintik

92,23%, sedangkan fraksi metanol menunjukkan kemampuan menghambat perkembangan telur sebanyak 51,61%. Kemampuan fraksi kloroform dalam menghambat perkembangan telur cacing H eontortus Waktu Rata rata kematian kumulatif cacing H.contortus mendukung hasil pengamatan aktivitas altelmintik (menit) (%) terhadap kemampuan membunuh cacingnya. Sehingga Fraksi Fraksi Fraksi Fraksi kontrol. dapat dikatakan bahwa aktivitas antelmintik dari buah heksana kloroform metanol air mengkudu berada dalam fraksi kloroform yang 0 0 0 0 0 0 mengandung senyawa alkaloid dan antrakinon. 0 13.33 0 0 0 15 Adanya senyawa alkaloid yang diberi nama 0 0 0 0 30 43,33 "xeronine" dalam buah mengkudu dilaporkan oleh 0 70 0 0 45 0 HIRAZUMI et al (1994), yang menyatakan mempunyai 90 0 0 0 60 0 aktivitas sebagai obat anti kanker. Antrakinon dan 0 0 0 100 120 6,66 turunannya yang diberi nama morindon dan soranjidiol 100 0 0 180 0 63,33 juga dilaporkan sebagai senyawa aktif dalam buah 0 0 100 240 13,33 86,66 mengkudu. Senyawa lainnya dalam buah mengkudu 0 0 100 300 86,66 26,66 0 0 100 adalah minyak lemak, alizarin, ester metil asam 360 100 63,33 kuprilal, dan karoten dan vitamin C (WlJAYAKUSUMA et Dan, dalam penulusuran senyawa kimia yang ai, 1996). Perasan buah mengkudu telah diperjual dilakukan ditemukan adanya senyawa alkaloid dan beJikan sebagai minuman sehat yang dapat menghambat antrakinon didalam fraksi kloroform (Tabel 3), berarti kanker dan mencegah beberapa macam penyakit 1999). Pada penelitian ini tidak senyawa yang mempunyai aktivitas membunuh cacing lainnya (ANONIMUS, yang terbesar merupakan senyawa golongan alkaloid dilakukan penulusuran lebih lanjut, tidak dilakukan pemisahan lebih lanjut antara senyawa alkaloid dari dan antrakinon yang lamt dalam kloroform. Fraksi kloroform juga menunjukkan kemampuan senyawa antrakinon, sehingga tidak dapat diketahui menghambat perkembangan telur H eontortus yang perbedaan aktivitas antelmintik dari senyawa alkaloid terbesar dibandingkan dengan kemampuan fioaksi dan antrakinon. Sehingga dapat dikatakan bahwa heksana, metanol maupun fraksi air (Tabel 4). Dari aktivitas membunuh cacing yang terbesar disebabkan pengamatan setelah 24 jam terlihat bahwa fraksi oleh senyawa alkaloid dan atau antrakinon yang larut kloroform mampu menghambat perkembangan sel telur dalam kloroform. sebanyak 100 %, fraksi heksana mampu menghambat
Tabel 2: Rata rata (3 ulangan) kematian kumulatif cacing H.contortus dalam fraksi buah mengkudu yang diekstraksi dengan mempergunakan soxhlet

Tabel 4. Kemampuan fraksi fraksi buah mengkudu yang diekstraksi dengan mempergunakan soxhlet dalam menghambat perkembangan telur Heontortus Fraksi
Pengamatan

lumlah telur awal Heksana Kloroform lumlah telur gagaI berkembang Persentase telur gagal berkembang lumlah telur awal

dml~rt~l~r;g~gal

b~r!<e~paJ1g

Kegagalan perkembangan I 2 3 53 51 51 48 48 47 90,60 94,12. 96,12 50 48 52 . 50 . 48. 52 .

Rata rata

Air Kontrol

lumlah telur gagal berkembang Persentase telur gagal berkembang lumlah telur awal lumlah telur gagal berkembang Persentase telur gagal berkembang

2 4,0 50 1 2,0

I 2,1 48 0 0

2 3,8 48 0 0

1,67 3,30 48,67 0,33 0,67

258

JurnalIlmu

Ternak dan Veteriner Vol. 5 No.4 Th. 2000

KESIMPULAN

DAN SARAN

Senyawa golongan allakoid dan antrakinon yang dapat larot dalam kloroform merupakan senyawa yang mempunyai aktivitas antelmintik secara in-vitro terhadapcacing Haemonchus con/or/us. Fraksi kloroform yang mengandung senyawa alkaloid dan antrakinon mempunyai aktivitas antelmintikyang terbesar dibandingkan dengan fraksi yanglain,danberbeda nyata terhadap kontrol (P~O,05). Disarankanpenelitian lebih lanjut untuk mengetahui jenis alkaloid atau antrakinon dalam fraksi kloroform yangaktifsebagaiantelmintik.
DAFTAR PUSTAKA

MATERIAMEDIKA INDONESIA.1989. Direktorat Jendral Pengawasan Gbat dan Makanan, Departemen Kesehatan Jakarta. Jilid V: 536-540. MUCHTAR, I. 1991. Pemeriksaan efek antelmintik perasan buah mengkudu (Morinda citrifolia) terhadap nematoda pada domba. Skripsi Sarjana Farmasi VI, Depok, Jakarta. RONOHARJO, P and A.J.WILSON.1986. Disease problems of small ruminant in Indonesia. In C.Davendra (ed). Small Ruminant Production Systems in South and Southeast Asia. Proceedings of workshop : 280-288. SANGAT-ROEMANTYO, H dan S. RISWAN. 1991. Ethnobotanical aspects of medicinal plants for ruminants. In Mathias-Mundy and T.B.Murdiati (ed). Traditional Veterinary Medicine for Small Ruminant in Java. Indonesian Small Ruminant Network, Bogor. : 1-3 SJAMSUHIDAYAT, S. S. dan 1. R. HUTAPEA. 1991. Inventarisasi Tanaman obat Indonesia, JBid I.Badan penelitian dan Pengembangan Kesehatan RI, Jakarta: 390-39. SOEMARDJI, A. A, N. C. SOEGIARTO dan 1. L. SIGIT.1994. Dekok daun Morinda citrifolia sebagai obat cacing Abstrak Simposium Penelitian Bahan Gbat Alami VIII dan Muktamar PERHIPBA VI, Bogor: 65.
WAHYUNI, SRI, T.B.MURDIATl, BERIAJAYA, H.SANGATROEMANTYO, ASUPARYANTO, D.PRIYANTO, ISBANDI

ANONIMUs. 1999. Keajaiban buah noni hambat sel kanker. HarianRadar Bogor 19 September 1999. CLARK, C. H., G. K. LIESELand C. H. GORBY. 1962. Measurements of blood loss caused by Haemonchus contortus"infection in sheep. American J. Vet.Res. 23: 977-980.
FATHURRAHMAH. 1992. Efek antelmintik beberapa tanaman obat terhadap cacing Raillentina spp secara in vitro. Skripsi, Fakultas Kedokteran Hewan, IPB. HEYNE, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Terjemahan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Jakarta: 390-391

HILDASARI, D. 1998.Penapisan kandungan kimia dan uji efek antelmintik buah mengkudu (Morinda citrifolia Linn) terhadap cacing lambung (Haemonchus contortus) secarain vitro. Skripsi,Jurusan Farmasi, FMIPA, ISTN, Jakarta.
HIRAZUMI, A., E.FURRASAWA., S.c. CHOU and Y.HOKAMA

dan E. MATHIAS-MUNDY. 1992. The sociology of animal health: Traditional veterinary knowledge in Cinangka, West Java, Indonesia.Working Paper no. 127. Small Ruminant Collaborative Research Support Program. Balai Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor, Indonesia. STAHL,E. 1969. Thin Layer Chromatography, alaboratory handbook, 2nded, Springer Verlag, New York: 873
WIJAYAKUSUMA,RM.R, S.DALlMARTHA dan AS.WIRIAN 1996. Tanaman berkhasiat Gbat di Indonesia, Jilid IV, Pustaka Kartini, Jakarta: 109-1 12.

1994. Anti cancer activity of Morinda citrifolis on intraperitoneallyimplanted Lewis lung carcinoma in syngenicmice.Proc WestPharmacol Soc.: 37:145-146

-'--

259

PETUNJUK BAGI PENULIS NASKAH

Jurnal IImu Tcrnak dan Vctcrincr, disingkat JITV, memuat naskah ilmiah primer bidang ilmu petemakan dan veteriner, bempa hasil penelitian yang belull1 pemah diterbitkan. Ketentuan berikut mempakan petunjuk bagi penulisnaskah yang hendak dimuat dalam mv. I. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris yang baik disertai abstrak dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Naskah diketik pada kertas bemkuran A4 dengan jarak 2 spasi dengan mang sisi 4 em dari tepi kiri, 2 em dari tepi kanan, 3 em dari tepi atas dan bawah. 2. Sistematika penulisan naskah disusun sebagai berikut: a. Judul, hendaknya yang komprehensif, namun dibuat sesingkat mungkin. Jika perlu dapat diberi subjudul. Judul (dan subjudul) diketik dengan humfKAPITAL. b. Nama dan alamat penulis: Nama penulis, ditulis lengkap dan diketik dengan humf KAPITAL. Jikanama penulis lebih dari seorang dengan alamat instansi yang berbeda, maka di belakang setiap nama diberi indeks atas (superscript) angka arab. Alamat penulis, ditulis di bawah nama penulis, meneakup nama instansi beserta alamat lengkap, dibuat sesuai dengan banyaknya indeks-atas nama penulis, diketik dengan humfMIRING. c. Abstrak, merupakan intisari naskah, ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris tidak lebih dari 250 kata dan dituangkan dalam satu paragraf. Isi abstrak menca1rupmasalah, tujuan, materi dan metode serta hasil dan kesimpulan. Nama' penulis (huruf KAPITAL), tahun terbit, judul 113skahdan nama jurnal, dicantumk:an sebelum isi abstrak, dengan susunan seperti daftar pustaka. Di bawah abstrak dieantumkan kata kunei (key words) maksimum 5 kata. d. Pendahuluan, berisi latar belakang penelitian, pennasalahan yang dihadapi, ..usaha:usaha..yang telal1'dilaktikall; <pendekatall' 'yahgdlteillpuh

meneakup penjelasan tentang arti dan manfaat penelitian, dikaitkan dengan masalah-masalah yang akan dipecahkan. Satuan ukuran baik di dalam teks maupun pada tabel dan ilustrasi menggunakan sistem metrik. g. Kesimpulan dan Saran, merupakan rangkuman akhir dari naskah, dapat disajikan secara terpisah atau disatukan" sebagai bagian akhir dari Hasil dan Pembahasan. h. Ucapan Terima Kasih, dapat ditulis jika dianggap perlu. i. Daftar Pustaka, menyajikan semua pustaka yang dikutip (sebaiknya terbitan 10 tahun terakhir). Kutipan di dalam teks menggunakan nama penulis dan tahun terbit. Pustaka di dalam daftar disusun secara alfabetis menurut nama penulis. Di belakang tahun, baik di dalam kutipan teks maupun di dalam daftar dapat dibubuhi huruf kecil (a, b, c), jika penulis yang sarna menulis lebih dari satu artikel dalam tahun yang sarna. Nama penulis, baik di dalam kutipan teks maupun di dalam daftar menggunakan huruf KAPITAL. Nama penulis yang lebih dari 2 orang, di dalam kutipan teks menggunakan et aL. di be1akang nama pertama, sedangkan di da]am daftar hams ditulis semua. Contoh Penulisan Daftar Pus taka: DEMARTINI, lC., R.A. BOWEN,J.O. CARLSON, and A. DE LA CONCHA-BERMEJILLO. 199]. Strategies for the genetic control of Ovine Lentivirus infections. In: Breeding for Disease Resistance in Farm Animals. J.B. Owen and R.F.E. Axford (Eds). CAB International, UK. pp. 293-301. HARn., D.L. ]991. Basic Genetics. 2nd ed. Jones and Bartlett Publishers. Boston. PIEDRAFITA, D.M. 1995. munune Mechanism of Killing of Juvenile Fasciola hepatica. Ph.D. Thesis. La Trobe University, Victoria, Australia.

membahas seeara jelas dan lengkap hasil-hasil penelitian yang dieapai dengan mengaeu kepada tujuan. Hasil dan Pembahasan dapat disajikan seeara terpisah atau disatukan. Uraian tentang

Nasiona] Sains dan Teknologi Peternakan. Ciawi, Bogor 25-26 Januari 1994. Balai Penelitian Ternak. Bogor. hal. 297-300. 3. Naskah lengkap dikirim dalam rangkap 3 (tiga) dan dialamatkan kepada:

Hasil dapat dilengkapi dengan tabel\ yang


ringkas dan ilustrasi (grafik, gambar atau t'oto, sebaiknyahitam-putih) yang jelas pada halaman terpisah. Keterangan untuk tabel (di atasnya) dan ilustrasi (di bawalmya) hams jelas dan bersifatm.andirisehingga pembaea dapat dengan mudah memahami maknanya tanpa membaca teks. Uraian tentang Pembahasan se1ain meneakup kupasan mengenai hasil, juga

Redaksi Jumal Dmu Temak dan Veteriner Pusat Penelitian Peternakan Jalan Raya Pajajaran Kav. E. 59, Bogor 16151, Indonesia Te]p. (0251) 322185, 322138, 328383 Fax. (0251) 328382 E-mail: criansci@indo.netid.

Jurnal Ilmu Ternakdan Veteriner vol. 5 No.4 Th. 2000

DAFTAR ISI Halaman Pengaruh Suplementasi Kultur Bacillus spp Melalui Pakan atau Air Minum Terhadap Kinerja Ayam Petelur (1 P. Kompiang) .................................................................. Persilangan Timbal Balik antara Itik Alabio dan Mojosari : Periode Awal Bertelur (L.H Prasetyo dan T. Susanti) .................................................. Pemanfaatan Limbah Chitosan dalam Ransum Ayam (T. P asaribu dan 1.P. Kompiang) ............................................... Penggunaan N Mudah Tersedia pada Pakan Basal Rumput Lapangan pada Kambing Lepas Sapih (Kuswandi, Muchji Martawidjaja, Zulbardi Muhammad, Bambang Setiadi, dan Didi Budi Wiyono) ... ... ... ... ... ... ... ... ............

205

210 215

219

Penggunaan Probiotik Dalam Pakan untuk Meningkatkan Kualitas Karkas dan Daging Domba (Budi Haryanto) .................................................................. Pengaruh Media IVM dan IVC pada Perkembangan Embrio Sapi secara In Vitro (E. T. Margawati, E. M Kahn, K. Eriani, ND. Yanthi, dan Indriawati) .. Variasi Serotipe Isolat Virus Infectious bronchitis yang Berasal dari Beberapa Daerah di Pulau Jawa (Risa Indriani dan Darminto) ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...... Population Dynamics of Snail Lymnaea rubiginosa in Rice Fields and Its Infection with Larvae of Trematodes in The Subdistrict of Surade, West Java (Suhardono and D. B. Copeman) ................................................ Kons.entrasi..'Metal()tiQtleitl. dalatll Hatil\yam..yang...Dipe riPakan<Mengatldili1g

224

229

234

241

,.

Anda mungkin juga menyukai