Anda di halaman 1dari 9

TUGAS KIMIA LINGKUNGAN II REAKSI KIMIA DALAM TANAH

Oleh: Ni Luh Linda Ayu Oktaviani 1108105002

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA 2013

Reaksi- reaksi kimia yang terjadi pada tanah diantaranya yaitu reaksi reduksi oksidasi, reaksi asam basa, dan reaksi jerapan atau disebut juga dengan mekanisme sorption. Adapun masing-masing reaksi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Reaksi Reduksi Oksidasi dalam Tanah Faktor ini berhubungan dengan keadaan aerasi tanah yang selanjutnya sangat tergantung pada laju respirasi jasad renik dan laju difusi oksigen. Ia mempengaruhi kelarutan unsur hara mineral yang mempunyai lebih dari satu bilangan oksidasi (valensi). Unsur-unsur ini adalah C, H, O, N, S, Fe, Mn, dan Cu. Kandungan air yang mendekati atau melebihi kondisi ke-jenuhan merupakan sebab utama dari buruknya aerasi karena kecepatan difusi oksigen melalui pori yang terisi air jauh lebih lambat daripada pori yang berisi udara. Ikhtisar beberapa reaksi redoks yang penting disajikan dalam Tabel 1. Informasi dalam tabel ini menyatakan bahwa kalau tanah yang semula dalam kondisi oksidasi menjadi lebih reduksi maka akan dapat terjadi reaksi-reaksi berikut ini.

Tabel 1. Beberapa reaksi reduksi-oksidasi yang penting dalam tanah

Reaksi reduksi oksidasi didalam lingkungan tanah contohnya adalah siklus dari fotosintesis. Didalam peristiwa fotosintesis karbon (C) dalam CO2 menerima elektron, yang selanjutnya terjadi perubahan bilangan oksidasi dari C4+ ke C0 dalam karbohidrat ((CH2O)n):

CO2 + 4e- + 4H+ CH2O + H2O O0 dalam O2. 2H2O O2 + 4e- + 4H+ (10.2)

(10.1)

Setengah reaksi digambarkan pada oksidasi oksigen dalam air (H2O), dimana O2- menjadi

Oksigen dalam hal ini sebagai donor elektron, dan karbon sebagai akseptor elektron. Dalam fotosintesis (persamaan reaksi 10.1 dan 10.2) masing-masing digambarkan hanya setengah reaksi. Meskipun dalam persamaan tersebut menyiratkan adanya elektron bebas, konsentrasi elektron bebas sebenarnya makin kecil. Persamaan setengah reaksi sebenarnya menyiratkan bahwa donor elektron tidak ditentukan oleh akseptor yang ada. Keseluruhan reaksi fotosintesis digambarkan sebagai berikut: CO2 + H2O CH2O +O2 (10.3)

Setengah reaksi lainnya dari siklus karbon adalah reaksi oksidasi karbohidrat (respirasi) dan banyak senyawa-senyawa organik disintesis dari peristiwa respirasi. Oksidasi melepaskan energi dalam senyawa, oksidasi adalah peristiwa pembakaran, yang merupakan bagian penting juga yang terjadi pada hewan yang hidup pada tanaman. Sisa tanaman dan residu hewan jatuh ke tanah yang selanjutnya dioksidasi oleh mikroorganisme tanah. Setengah reaksi oksidasi karbohidrat ditunjukkan oleh reaksi berikut ini: CH2O + H2O CO2 + 4e- + 4H+ (10.4)

Dalam kegiatannya untuk memperoleh energi ini dan melaksanakan setengah reaksi, organisme harus menemukan akseptor elektron untuk untuk mengambil elektron, jika oksigen hadir maka setengah reaksi dari penerimaan elektron ini yaitu: O2 + 4e- + 4H+ 2H2O (10.5)

Peristiwa oksidasi yang ditunjukkan pada persamaan (10.4) sebenarnya dilakukan melalui langkah-langkah krebs atau siklus asam sitrat, sedangkan persamaan (10.5) adalah penyederhanaan dari proses yang sesungguhnya. Pada pengelolaan tanah sulfat masam juga menggunakan prinsip reaksi reduksi oksidasi. Kecepatan oksidasi senyawa pirit sangat ditentukan oleh peran dari bakteri pengoksidasi pirit yang disebut Thiobacillus sp. Sedangkan dalam kondisi reduksi, pembentukan pirit (H2S) sangat ditentukan oleh aktivitas bakteri pereduksi sulfat yaitu

Desulfovibro sp. Karena itu dalam pengelolaan tanah sulfat masam dapat didekati melalui pemanfaatan peranan kedua bakteri tersebut (Hardjowigeno, 2007). Mempercepat proses reduksi sulfat dan besi dengan menciptakan kondisi lingkungan yang diperlukan oleh bakteri tersebut. Hasil reduksi tersebut dikeluarkan dari lahan melalui air drainase saat air surut. Reduksi sulfat tersebut dilakukan oleh organisme yang diketahui secara kolektif sebagai bakteri pereduksi sulfur (SRB). SRB merupakan bakteri obligat anaerob yang menggunakan H2 atau senyawa organik sebagai donor elektron (chemolithotrophic). Kelompok organisme pereduksi sulfat ini secara generik diberi nama awal dengan desulfo, dimana SO42- sebagai akseptor elektron. Bakteri tersebut berasal dari genus Desulfovibrio dan Desulfotomaculum yang merupakan organisme heterothropic, yang menggunakan sulfat, thiosulfat, sulfide atau ion yang mengandung sulfur tereduksi sebagai terminal akseptor dalam proses metabolisme. Bakteri tersebut memerlukan substrat organik yang berasal dari asam organik berantai pendek seperti asam laktat atau asam piruvat. Dalam kondisi alamiah, asam tersebut dihasilkan oleh aktivitas fermentasi dari bakteri anaerob lainnya. Laktat digunakan oleh SRB selama respirasi anaerobik untuk menghasilkan asetat. H2S tersebut berguna untuk mengendapkan Cu, Zn, Cd sebagai metal sulfide (Hanafiah, 2004). Peran tanah dalam reaksi oksidasi-reduksi adalah untuk menyediakan akseptor elektron untuk oksidasi senyawa organik. Oksigen adalah akseptor elektron terkuat dialam sehingga menghasilkan energi yang besar dalam peristiwa oksidasi. Oksigen juga merupakan akseptor elektron yang dimanfaatkan oleh akar tanaman. Ketika oksigen tersedia (kondisi aerobik), ia menerima elektron seperti yang diperlihatkan pada persamaan 10.5. Permintaan oksigen yang tinggi biasanya disebabkan oleh adanya senyawa organik yang mudah terdekomposisi dan kondisi pertumbuhan yang mendukung aktivitas mikroba. Karena jumlah yang besar dari mikroba tersebut dan aktivitas yang cukup tinggi, mikroorganisme tanah biasanya mendapatkan perubahan pertama pada oksigen yang tersedia di tanah. Kebutuhan oksigen tanah dapat menguras oksigen yang terlarut dalam tanah yang tergenang air dalam waktu kurang dari 24 jam. Jika oksigen tidak tersedia, mikroorganisme tanah dapat menggunakan akseptor elektron lainnya.

b. Reaksi Asam Basa dalam Tanah Ion-ion nitrat dan khlorida sangat mudah larut dan lazimnya tidak membentuk senyawa yang tidak-larut dengan komponen tanah. Akibatnya nitrat dan khlorida yang ditambahkan ke tanah akan tetap berbentuk anion dalam larutan tanah hingga diserap oleh akar tanaman atau jasad renik, tercuci, atau mengalami reaksi denitrifikasi nitrat. Anion sulfat dalam tanah-tanah netral dan alkalis mempunyai perilaku yang serupa dengan nitrat, tetapi dalam tanah-tanah masam cenderung untuk dijerap oleh koloid tanah. Kebanyakan unsur hara lainnya membentuk beberapa tipe senyawa yang kurang melarut dan cenderungmempertahankan konsentrasi kesetimbangan dalam larutan tanah. Dengan demikian kation-kation larut air akan berkesetimbangan dengan kation tukar; kation-kation seperti Cu dan Zn mempunyai ciri-ciri asam Lewis (sebagai aseptor elektron) dapat membentuk kompleks dengan bahan organik tanah; ion ferri dan Al membentuk hidroksida atau oksida hidrous yang tidak melarut; fosfor membentuk senyawa Fe-fosfat, Al-fosfat dan Ca-fosfat yang tidak melarut. Kondisi pH tanah merupakan faktor penting yang menentukan kelarutan unsur yang cenderung berkesetimbangan dengan fase padatan. Kelarutan oksida-oksida hidrous dari Fe dan Al secara langsung tergantung pada konsentrasi hidroksil (OH-) dan menurun kalau pH meningkat. Kation hidrogen (H+) bersaing secara langsung dengan kation-kation asam Lewis lainnya membentuk tapak kompleksi dan oleh karenanya kelarutan kation kompleks seperti Cu dan Zn akan meningkat dengan menurunnya pH. Konsentrasi

kation hidrogen menentukan besarnya KTK tergantung-muatan (dependent charge) dan dengan demikian akan mempengaruhi aktivitas semua kation tukar. Kelarutan Fe-fosfat, Al-fosfat dan Ca-fosfat sangat tergantung pada pH, demikian juga kelarutan anion

molibdat (MoO4) dan sulfat yang terjerap. Anion molibdat dan sulfat yang terjerap dan fosfat yang terikat Ca kelarutannya akan menurun kalau pH meningkat. Tanah bertindak sebagai suatu buffer dan menahan perubahan pH. Oksidasi dari pirit dalam tanah menyebabkan pembentukan asam sulfat yang disebut cat clay. FeS2 + 7/2 O2 + H2O Fe2+ + 2H+ + 2SO42Telah banyak ditemui lapisan dari asam sulfat tanah dengan pH mencapai 3,0. Untuk mengetahui telah terjadi pembentukan asam sulfat dapat dilakukan tes dengan pereaksi hidrogen peroksida terhadap tanah yang mengandung FeS dengan H2O 30%.

FeS2 + 15/2 O2 + H2O Fe2+ + H+ + 2SO42- + 7H2O Kemudian dilakukan tes untuk keasaman dan sulfatnya. Bila hasil pengukuran menemukan pH dibawah 3,0 menunjukkan adanya pembentukan asam sulfat tanah. Kebanyakan tanaman dapat tumbuh dengan baik pada pH hampir netral. Bila tanah menjadi terlalu asam untuk pertumbuhan optimum dari tanaman dapat dilakukan dengan jalan menambahkan kalsium karbonat (CaCO3) ke dalam tanah. Dalam suatu lahan dengan curah hujan rendah, tanah akan cenderung menjadi sangat basa karena terdapatnya garam-garam seperti Na2CO3. Tanah bersifat basa ini juga dapat dihilangkan dengan jalan menambahkan aluminium atau besi sulfat yang melepaskan asam dalam proses hidrolisis. 2Fe3+ + 3SO42- + 6H2O 2Fe(OH)3 + 6H+ + 3SO42Untuk menghilangkan sifat basa dari tanah bisa juga dilakukan dengan menambahkan belerang. Belerang yang ditambahkan ke dalam tanah dioksidasi oleh bakteri sebagai mediator rekasi pembentukan asam sulfat. S + 3/2 O2 + H2O 2H+ + SO42-

c. Jerapan (Sorption) Sorption (peristiwa penjerapan) yaitu proses pemisahan bahan dari campuran gas atau cair, dimana bahan yang akan dipisahkan ditarik oleh permukaan zat padat. Zat yang mengadsorpsi disebut adsorben, sedangkan yang diadsorpsi disebut adsorbat.

Kebanyakan zat pengadsorpsi adalah bahan-bahan yang berpori dan adsorpsi berlangsung pada dinding-dinding pori. Pemisahan terjadi karena perbedaan berat molekul atau karena perbedaan polaritas sehingga menyebabkan sebagian molekul melekat pada permukaan itu lebih berat daripada molekul-molekul lainnya. Secara umum proses ini dapat dibedakan atas adsorpsi fisika dan adsorpsi kimia. Kemampuan adsorben menyerap suatu senyawa sangat dipengaruhi oleh sifat adsorben itu sendiri serta jenis zat yang diserap (adsorbat). Disamping hal ini, kemampuan penyerapan juga dipengaruhi oleh partikel serta sifat permukaan adsorben, suhu dan waktu kontak antar adsorben dan adsorbat. Tanah mengandung mineral lempung yang merupakan bagian penting dalam tanah yang berperan sebagai perangkap alami polutan-polutan yang mengalir bersama air di permukaan maupun didalam tanah melalui peristiwa adsorpsi atau pertukaran ion.

Berdasarkan peran tersebut serta kelimpahannya di alam, Tanah yang mengandung lempung digunakan sebagai adsorben alami termurah. Lempung yang terkonsentrasi dalam tanah memiliki keunggulan seperti memiliki luas permukaan yang spesifik yang tinggi, stabil secara kimia dan mekanik, struktur permukaan yang bervariasi, kapasitas pertukaran ion yang tinggi serta adanya asam-asam Bronsted dan Lewis. Lempung memiliki kemampuan adsorpsi logam-logam berat pada tanah. Lempug sendiri merupakan polimer anorganik alam berupa hidrat aluminisilikat. Kapasitas jerapan atau kapasitas tukar kation tanah merupakan salah satu sifat kimia yang terpenting dari tanah dan sangat erat hubungannya dengan kesuburan tanah. Pengetahuan tentang sifat ini merupakan syarat mutlak untuk mempelajari kesuburan dan kemasaman tanah. Jumlah kation yang dinyatakan dalam mili setara setiap 100 gram tanah kering oven 105 disebut Kapasitas Tukar Kation. Muatan negatif pada kompleks adsorpsi dinetralkan oleh kation-kation Ca, K, Mg, Na, NH4, Al, Fe, H dan lain-lain. Prosentasi kejenuhan dari ion-ion ini pada kompleks adsorpsi berbeda-beda. Pada umumnya semakin besar valensi suatu kation maka makin sulit kation tersebut ditukar. Mudah atau sukarnya suatu ion ditukar diberikan dalam suatu deretan lyotropi : Li>Na>K>NH4>Mg>Ca>Sr>Ba>H. Ion-ion yang terletak di sebelah kiri lebih mudah dilepaskan dari pada ion-ion yang terletak di sebelah kanannya. Adapun contoh reaksi penjerapan dalam tanah yaitu jerapan P oleh alofan yang merupakan komponen mineral amorf dari Andisol disebabkan oleh tingginya kandungan Fe dan Al amorf dari alofan ( Bohn et al., 1979), permukaan spesifik yang luas (Uehara dan Gillman, 1981) dan pH. Masduqi (2004) mengemukakan bahwa pH asam menyebabkan tanah bermuatan positif akibat masuknya ion H+ pada lapis oktahedral Al(OH)3 dan membentuk ikatan hidrogen sehingga permukaan partikel alofan menjadi bermuatan positif dan dapat mengikat ion fospat yang bermuatan negatif. Fenomena ini dapat dituliskan dalam bentuk persamaan reaksi berikut : Al(OH)3 + H+ Al(OH)3 H+ Al(OH)3...H+ + H2PO4 Al(OH)3...H3PO4 Pada pH 6 kemungkinan terjadinya jerapan adalah melalui pertukaran anion dengan mengikuti reaksi berikut : Al(OH)3 + H2PO4 Al(OH)2H2PO4 + OH(1) (2)

Contoh lain mekanisme sorption yaitu bentonit, dimana bentonit adalah suatu istilah nama dalam dunia perdagangan sejenis lempung plastis yang mempunyai kandungan mineral montmorilonit lebih dari 85% (Ganjar Labaik, 2006). Montmorilonit memiliki rumus kimia Al2O3.4SiO2.H2O + xH2O. Bentonit secara umum dapat dikelompokkan menjadi empat jenis endapan yaitu hasil endapan dari proses pelapukan, hidrotermal, terdevitrifikasi dan endapan sedimen. Secara megastropis bentonit dapat diamati secara langsung dengan ciri yang khas yaitu: mempunyai kilap lilin, lunak, berwarna abu-abu kecoklatan sampai kehijauan. Dimana penerapannya yaitu dengan adanya lempung pada tanah yang telah terkontaminasi logam berat misalkan logam Pb, maka logam Pb akan terserap di permukaan lempung, dengan begitu Pb tidak akan mencemari lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Rukaesih. 2004. Kimia Lingkungan. Jakarta: Penerbit Andi. Foth, Henry D. 1994. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Jakarta: Penerbit Erlangga. Hakim, N.M, dkk. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Lampung: Universitas Lampung. Hanafiah, Ali Kemas. 2004. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Hardjowigeno, S. 2007. Ilmu Tanah. Jakarta: Akademika Pressindo.