Anda di halaman 1dari 10

RACIKAN UTAMA

The Art of Healing


Healing... is not a science but the intuitive art of wooing nature.

.H AUDEN dalam tulisannya The Art of Healing sudah memperingatkan bahwa penyembuhan luka, bisa terjadi secara alami. Tinggal bagaimana kita membantu proses alamiah itu terjaga dan tidak membuat tindakan intervensi yang justru memperburuk kondisi. Penyembuhan luka merupakan respons alamiah terhadap kerusakan ja-

ringan. Proses penyembuhan sendiri bukan hal yang sederhana, tetapi merupakan proses bertahap yang sangat kompleks di tingkat selular. Mekanisme di tingkat sel akan diikuti proses penutupan, rekonstitusi, dan restorasi peregangan kulit yang telanjur koyak. Luka yang menahun atau luka kronik menjadi beban baik mental maupun material yang sangat signifikan tak hanya pada pasien tetapi juga

dokter dan keluarga pasien karena biaya perawatan yang sangat besar. Di Amerika Serikat, sekitar 5,7 juta pasien memiliki luka kronik dengan beban perawatan mencapai lebih dari 20 miliar dolar setiap tahun. Agar penatalaksaan luka berjalan efektif, maka semua pihak yang terlibat dalam proses penyembuhan luka harus memahami konsep proses penyembuhan luka secara alami, meningkatkan kemampuan fisik dan lingkungan biokimiawi yang mendukung. Beberapa luka kronik yang sulit ditangani adalah luka diabetik terutama pada kaki, luka karena tekanan (pres-

FARMACIA

16

Maret 2013

RACIKAN UTAMA

sure ulcer) dan luka vena statis. Luka diabetik menjadi penyebab utama amputasi kaki di Amerika Serikat, dan di negara lain. Insiden kaki diabetik mencapai 2% per tahun dengan biaya perawatan yang sangat besar. Patogenesis kaki diabetik adalah gangguan neuropati, gangguan keseimbangan muskuloskeletal serta penurunan sistem imun akibat disfungsi leukosit dan penyakit vaskular perifer. Gangguan-gangguan ini menyebabkan komplikasi pada luka. Luka kronik sulit disembuhkan karena disertai penurunan faktor-faktor pertumbuhan yang sangat berperan dalam proses penyembuhan. Pasien yang berbaring dalam waktu lama akibat lumpuh atau menderita penyakit kronis yang mengharuskan dia berbaring sepanjang tahun di tempat tidur, rentan terkena luka akibat tekanan. Sedangkan luka akibat vena statis terjadi akibat hipoksia pada area-area di ekstremitas bawah, disebabkan vena yang tersumbat. Suplai oksigen terhambat.

maturasi, terbentuk ikatan kolagen yang berikatan dengan molekul-molekul protein yang akan menyangga peregangan kulit sebagai penutup luka. Nampaknya, proses ini seperti tahap-tahap berurutan yang terpisah. Namun proses keseluruhan jauh lebih rumit. Banyak aspek dalam penyembuhan luka yang belum terungkap. Dijelaskan Dr Poengki Dwi Poer-

Wound healing: TIME Principle


Penyembuhan luka merupakan proses sistemik yang secara tradisional bisa dijelaskan dalam empat proses: hemostatis, inflamasi, proliferasi, dan maturasi. Platelet memegang peran penting dalam proses pembekuan darah di tahap hemostatis. Sel-sel inflamasi akan memakan jaringan yang rusak di tahap inflamasi. Proses epitelisasi, fibroplasia, dan angiogenesis terjadi selama fase proliferasi. Sementara itu jaringan granulasi terbentuk dan luka mulai menutup. Akhirnya, di fase

Dr Poengki Dwi Poerwantoro SpBP BP

wantoro, SpBP, MM dari Divisi Bedah Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta, kadang proses penyembuhan luka tidak mulus. Bisa terhenti di fase inflamasi atau proliferasi. Akibatnya luka tidak kunjung membaik dan harus diintervensi, jelas dokter bedah plastik yang mendalami manajemen luka bakar ini. Dari empat fase penyembuhan luka, fase hemostatis buka termasuk fase penyembuhan. Ia merupakan mekanisme alamiah tubuh untuk melindungi diri. Jadi tiga fase penyembuhan luka dimulai dari fase inflamasi dilanjutkan fase proliferasi, dan epitelisasi. Cedera akan menyebabkan rekruitmen sel-sel inflamasi. Mereka ditarik sebanyak-banyaknya ke area luka. Skenario ini melibatkan interaksi yang kompleks antara mediator-mediator jaringan lokal dan sel-sel yang bermigrasi ke area luka. Fase inflamasi terjadi di hari-hari pertama terjadinya luka. Migrasi sel-sel epitel terjadi dalam 12-24 jam pertama namun pembentukan jaringan baru terjadi pada 1014 hari kemudian. Epitelisasi dan neovaskularisasi merupakan dampak dari peningkatan aktivitas di tingat selular. Elemen-ele-

Maret 2013

17 FARMACIA

RACIKAN UTAMA

men stromal pada pembentukan matriks ekstraselular disekresi dan diorganisir dengan rapi. Jaringan baru yang disebut jaringan granulasi sangat tergantung dari keberadaan faktor pertumbuhan yang spesifik. Proses ini berlangsung dalam hitungan minggu bahkan berbulan-bulan tergantung kondisi individual. Akhirnya di tahap remodeling jaringan, di mana kontraksi dan ketegangan jaringan bisa dicapai, terjadi pada 6-12 bulan. Luka seakan lenyap dan sudah terganti dengan kulit baru. Namun jarigan yang terjadi tidak akan sama persis dengan aslinya. Paling bagus adalah 80% dari kulit sebelum terjadi luka. Ada beberapa penyebab proses penyembuhan luka berhenti. Penyakit sistemik dan faktor-faktor lokal sangat mempengaruhi penyembuhan luka. Kadang diperlukan intervensi untuk mempercepat penyembuhan luka. Dalam manajemen luka saat ini dikenal TIME principle, yaitu Tissue, Infection, Moisture, dan wound Edge. Prinsip TIME dimaksudkan membantu klinisi membuat langkah sistematik dalam menangani luka.

menghalangi migrasi sel epidermal dan hidrasi pada luka menjadi tidak optimal. Debridement adalah proses pembuangan jaringan nekrosis. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan yaitu dengan pembedahan, pisau, autolitik atau penggunaan enzim, larva, atau secara mekanik.

I Infeksi/Inflamasi
Infeksi di luka menyebabkan nyeri dan rasa tidak nyaman pada pasien. Tetapi yang lebih berbahaya, infeksi memperlama penyembuhan dan bisa mengancam nyawa. Belum lagi bicara tentang penambahan biaya perawatan untuk antibiotik. Pada dasarnya semua luka mengandung bakteri dengan derajat berbeda-beda yang didapatkan dari kontaminasi, kolonisasi hingga terjadi infeksi. Adanya bakteri pada luka kronik tidak selalu mengindikasikan infeksi, tetapi infeksi yang terjadi akan mengganggu proses penyembuhan. Beberapa bakteri bisa menguntungkan karena menghasilkan enzim seperti hyaluronidase yang berkontribusi dalam proses debridement dan menstimulasi neutrofil melepaskan protease.
FARMACIA

T Tissue/Jaringan
Inti dalam observasi jaringan adalah menemukan dan membuang jaringan mati atau nekrosis. Nekrosis biasanya berwarna hitam, kering dan keras, terbentuk dari jaringan granulasi setelah kematian fibroblast dan sel-sel endotel. Nekrosis bisa mengandung sel inflamasi sehingga bisa meningkatkan risiko inflamasi dan menunda pembentukan matriks ekstraselular. Jaringan ini secara fisik

Diagnosis infeksi harus berdasarkan kemampuan klinis dan data mikrobiologi. Secara klasik, gejala infeksi pada luka akut berupa nyeri, eritema, edema, adanya duh yang purulen dan peningkatan suhu. Untuk luka kronik harus ditambahkan kriteria berupa penyembuhan yang lama, peningkatan eksudat, diskolorisasi menjadi merah menyala pada jaringan granulasi, bau, dan sebagainya. Infeksi harus menjadi fokus utama dalam manajemen luka. Antibiotik sistemik tidak diperlukan, kecuali infeksi sangat dalam yang tidak bisa dijangkau terapi lokal. Metode penanganan infeksi lokal bisa dilakukan dengan debridement untuk membuang jaringan yang tidak perlu, pembersihan luka, dan pemberian antimikroba topikal seperti dressings dan silver. Untuk terapi sistemik harus berdasarkan gejala seperti adanya demam dan selulitis setidaknya melebihi 1 cm dari margin luka dan menjangkau struktur yang dalam.

M moisture imbalance
Menciptakan keseimbangan kelembaban pada luka sangat penting. Eksu-

18

Maret 2013

RACIKAN UTAMA

dat diproduksi sebagai respons tubuh akan adanya kerusakan jaringan. Jumlah eksudat yang diproduksi tergantung seberapa besar tekanan pada jaringan. Luka yang sedang dalam tahap penyembuhan memproduksi cukup kelembaban untuk merangsang proliferasi dan membantu membuang jaringan yang tidak dibutuhkan dengan proses autolisis. Tetapi jika luka meradang dan atau terhenti di fase inflamasi, maka produksi eksudat meningkat akibat pembuluh darah melebar. Manajemen pembuangan eksudat berlebih pada luka kronik cukup sulit, karena ada faktor sistemik dan lokal. Dalam pemilihan dressing, harus dipertimbangkan volume eksudat dan viskostas dressing. Beberapa dressing memiliki daya serap lebih banyak sehingga lebih efektif untuk luka dengan eksudat berlebih. Ada beberapa dressing untuk mengatasi eksudat ini, mulai bentuk busa, hidrokoloid, alginat, hidrofibrat, cadexomer iodine

hingga dressing dengan aksi kapiler. Semuanya memegang peran penting dalam membuang cairan dari permukaan luka. Beberapa jenis dressing melalui kemampuan mengubah eksudat menjadi gel, bisa mempertahankan kelembaban permukaan luka.

E edge
Jika margin epidermal gagal bermigrasi melewati luka atau tebing luka gagal menyusut maka bisa jadi ada kesalahan dalam manajemen T, I, dan M. Tahap final penyembuhan luka adalah epitelisasi. Yang merupakan proses pembelahan aktif, migrasi, dan pematangan sel-sel epidermal dari tepi luka hingga luka sepenuhnya tertutup. Ada beberapa faktor yang dibutuhkan agar proses epitelisasi bisa berjalan sempurna. Dasar luka harus dipenuhi jaringan granulasi dengan vaskularisasi bagus agar sel-sel epidermal yang berproliferasi bisa bermigrasi.

Harus dipastikan nutrisi dan oksigen cukup untuk mendukung regenerasi epidermal. Beberapa penyebab kegagalan proses ini adalah bakteri dan jaringan mati yang eksis. Selain itu hipoksia, infeksi, dressing tidak tepat, hyperkeratosis dan adanya kalus bisa juga menjadi hambatan. Pada luka diabetik, ada overproduksi hiperkaratosis atau kalus. Penting untuk diingat bahwa luka sangat tergantung mikro dan makro vaskulariasasi terutama di tungkai bawah. Harus dilakukan penilaian menyeluruh adanya penyakit iskemia untuk melihat sejauh mana luka bisa sembuh tanpa intervensi vaskular. Melihat luka dengan tepat sejak awal merupakan praktik terbaik untuk memberikan penilaian akurat pada hasil intervensi klinis. Pemantauan harus terus dilakukan untuk melihat kesuksesan intervensi atau justru kegagalan. Ujung luka tidak akan pernah bisa terjadi epitelisasi selama dasar luka tidak disiapkan dengan baik. Selalu mempertimbangkan T,I dan M terlebih dahulu untuk memastikan bahwa penggunaan terapi secara luas akan bermanfaat. Manajemen luka kronik saat ini sudah mengalami kemajuan signifikan mulai dari penilaian status luka, pemahaman secara molekular dan selular, dan pencegahan komplikasi. Konsep persiapan dasar luka secara simultan terus dikembangkan. Dengan demikian manajemen secara sistemik bisa mengatasi berbagai hambatan penyembuhan luka secara alami dan meningkatkan efek terapi tingkat lanjut. Preparasi dasar luka dan prisnipprinsip TIME bisa berhasil jika dilakukan dengan benar. F tan

Maret 2013

19 FARMACIA

RACIKAN UTAMA

Luka Bakar: Kuras Fisik dan Mental


ALAM pergantian tahun 2012 menjadi malam yang mengubah hidup Amelia Yunita. Rencana melewatkan pergantian tahun dengan barbeque di apartemen bersama keluarga musnah berganti bencana. Bahan bakar bensin yang ia percikkan ke tungku batu bara tiba-tiba boom. menyulutkan api dan langsung menyambar muka, tangan dan bajunya. Malang, pemilih biro petualangan Arus Liar ini saat itu mengenakan baju berbahan silk, menjadikan api dengan mudahnya merajalela menguasi sebagian tubuhnya. Secepat kilat, Amelia melepas baju dan lari ke kamar mandi. Darah terus mengalir diikuti rasa panas tiada terkira. Ia mengguyur tubuhnya di bawah shower sembari berteriak minta bantuan. Anak-anak dan kerabat tengah berusaha memadamkan api yang terus membesar. Suasana kacau dan chaos terjadi. Bantuan pun tidak begitu saja datang mengingat saat itu semua orang merayakan tahun baru. Ambulans tak bisa datang karena macet. Dengan taksi, Amelia berhasil mencapai rumah sakit. Ia tak sadarkan diri selama 3 jam di UGD. Genap satu tahun lewat satu bulan peristiwa itu terjadi. Kini Amelia bisa dikatakan terlahir kembali. Bagi yang melihat langsung bagaimana parahnya luka bakar yang ia derita, serasa keajaiban melihat kondisi ibu dua anak ini pasca perawatan. Tak hanya cantik kembali, Amelia bisa beraktivitas seperti semula, termasuk menyalurkan hobinya berpetualang. September lalu, ia baru kembali dari mendaki pegunungan Cartenz, di Papua.

Keberhasilan terapi Amelia ditentukan sejak insiden terjadi. Pertolongan pertama yang ia lakukan sangat tepat sehingga memudahkan penanganan selanjutnya di rumah sakit. Luka bakar memang dikenal sangat katastropik dan meninggalkan penderitaan berat bagi penderitanya: rasa sakit, kecacatan, dan biaya yang besar. Data di Amerika menunjukkan tak kurang dari 2 juta penduduknya mengalami luka bakar, meskipun sebagian besar bersifat minor. Tahun 1991, ada 5.053 kematian akibat luka bakar. Luka bakar tersering diperoleh di tempat kerja. Di Unit Luka Bakar RSCM, setidaknya 150 pasien luka bakar masuk setiap tahunnya. Sebagian besar luka

bakar dikarenakan api dengan penyebab yang bermacam-macam. Ada pula yang disebabkan hal lain selain api, namun dengan persentase yang kecil. Luka bakar bisa diklasifikasikan menjadi enam jenis berdasarkan mekanisme terjadinya luka: luka karena air mendidih, kontak dengan benda panas, api, listrik dan radiasi. Dalam dua dekade terakhir, kematian akibat luka bakar berhasil diturunkan. Penurunan ini merupakan hasil pelayanan kesehatan dan teknik penanganan luka bakar yang terus berkembang. Namun jauh sebelum dibawa ke unit perawatan, langkah pertama menolong penderita adalah menghentikan proses luka bakar. Menghentikan

FARMACIA

20

Maret 2013

RACIKAN UTAMA

Penanganan luka bakar sangat kompleks, melibatkan interaksi fisik dan metabolik di hampir semua organ tubuh. Prinsip penyembuhannya sama dengan manajemen luka secara umum. Namun, penanganan luka bakar menjadi sedikit berbeda karena biasanya lukanya sangat luas dan berat.
RSCM, dr Aditya Wardana SpBP, yang termasuk dalam kategori luka bakar minor adalah luka bakar yang meliputi luka bakar dangkal <10% dari seluruh permukaan tubuh pada dewasa atau <5% pada anak-anak. Sedangkan luka bakar dalam < 1% dan tanpa komorbiditas, misalnya trauma dan atau penyakit penyerta. Luka dapat dibersihkan dengan air dan sabun atau antibakteri ringan seperti chlorhexidin 0,05%. Lepuh yang timbul dikempeskan dengan teknik aseptik. Luka bakar hendaknya dibalut agar terlindung, menampung eksudat atau cairan, mengurangi nyeri, memberikan efek psikologi yang baik, serta menjaga kulit tetap lembab dan hangat untuk mempermudah penyembuhan. Sementara untuk kategori luka bakar berat dan kritis, tentunya tindakan penanganannya sesuai standar yang diterima internasional yang meliputi resusitasi, critical care, early excison dan skin grafting, wound care, nutrition, infection control, psikoterpi, dan rehabilitation. Pananganan tindakantindakan tersebut dilakukan melalui tim interdisiplin. Penanganan luka bakar sangat kompleks, melibatkan interaksi fisik dan metabolik di hampir semua organ tubuh. Penyembuhan luka pada luka bakar pada prinsipnya sama dengan manajemen luka secara umum yaitu mencapai kesembuhan luka. Namun seperti dijelaskan dr Parintosa Atmodiwirjo SpPB, dari Divisi Bedah Plastik RSCM, penanganan luka bakar menjadi sedikit berbeda karena biasanya lukanya sangat luas dan berat. Intervensi pertama luka bakar yang luas adalah memberikan resusitasi cairan. Aditya dalam acara Jakarta

proses luka bakar dapat dilakukan dengan menjauhkan sumber panas atau membawa korban menjauhi sumber panas, misalkan dengan memadamkan api. Langkah selanjutnya adalah dengan mendinginkan luka. Cara mendinginkan luka adalah dengan membasuh luka dengan air mengalir (suhu 15 derajat celsius) selama 20 menit. Mengaliri daerah yang terkena dengan air seperti ini akan mendinginkan luka, mengurangi nyeri dan mencegah bengkak atau luka lebih lanjut. Selain itu proses irigasi ini akan meningkatkan proses penyembuhan dan mencegah timbulnya skar (luka parut) atau bekas menonjol. Tidak disarankan penggunaan kecap, sabun, pasta gigi, minyak dan lain sebagainya karena justru akan membuat luka bakar

menjadi lebih dalam. Obat seperti parasetamol atau ibuprofen dapat pula digunakan untuk mengurangi nyeri. Menutup luka adalah tahap selanjutnya. Tujuan dari tindakan ini adalah perlindungan terhadap hipotermia. Luka dapat ditutup menggunakan polyvinyl chloride film (cling film) atau yang mudah ditemukan adalah plastik yang biasanya digunakan untuk menutup makanan. Plastik ini dipilih sebagai bahan penutup karena tidak lengket, mudah digunakan, dan transparan sehingga mudah untuk melihatnya. Bisa juga ditambah dengan hidrogel atau gel khusus luka bakar, namun ini jarang digunakan.

Tatalaksana Luka Bakar


Dijelaskan Kepala Unit Luka Bakar Maret 2013

21 FARMACIA

RACIKAN UTAMA

Burn Congres, 9 Februari lalu menjelaskan, resusitasi cairan diberikan untuk pasien dengan luka bakar lebih dari 20% untuk orang dewasa dan 10% untuk pasien anak. Namun di RSCM, menurut Aditya, infus diberikan untuk luas luka bakar > 16%. Selain resusitasi dengan infus, yang tidak boleh dilupakan adalah kateter untuk pemantauan. Pada prinsipnya, menurut Aditya, menangani luka bakar harus secara simultan dan melibatkan tim. Hal pertama yang dilakukan ketika pasien datang adalah life saving. Selalu ingat ACLS. Periksa ABC atau airway, breathing, dan sirkulasi. Saat akan dilakukan resusitasi cairan selalu tanyakan kapan luka bakar terjadi bukan saat pasien datang ke pelayanan kesehatan, jelas Aditya. Setelah pasien stabil, baru lakukan penilaian cepat tentang luas dan kedalaman luka. Jangan sampai, terbalik. Dokter sibuk menilai kondisi luka dan melupakan life saving. Selaku Kepala Burn Unit RSCM, Aditya merasakan kendala utama dalam penanganan luka bakar adalah terbatasnya jumlah tempat tidur. RSCM hanya memiliki 7 tempat tidur untuk luka bakar. Sementara negara tetangga Singapura memiliki 23 bed untuk mengakomodasi 4 juta penduduknya. Demikian pula, RSCM sementara ini hanya hanya mampu melayani 6 pasien luka bakar berat dan kritis, karena jumlah tersebut sesuai dengan rasio bed dan perawat, ungkap Aditya. Di samping itu, keadaan psikis pasien selama perawatan juga menjadi kendala tersendiri. Lamanya perawatan dan tindakan operasi yang harus

dilakukan berkali-kali khususnya pada kasus luka bakar kritis, membuat kondisi psikis pasien tertekan. Itulah sebabnya keberadaan psikiatris sangat dibutuhkan dalam proses perawatan pasien dengan luka bakar. Kendala lain adalah biaya yang besar dalam penanganan luka bakar. Lamanya perawatan tentu saja berdampak pada membengkaknya biaya yang harus dikeluarkan Luka bakar pada anak. pasien. Hal ini tentu saja sering memberatkan bagi pasien, khu- butuhkan untuk debridement dasar susnya mereka yang tidak mampu. luka. Setelah luka bersih, tutup luka dengan krim antibiotik. Kemajuan di bidang dressing saat Penggunaan Dressing ini sudah sangat signifikan. Dressing Pengaplikasian dressing pada luka yang baik, dijelaskan Dr Poenky Dwi terus menerus sampai proses penyem- Poerwantoro SpPB dari Divisi Bedah buhan lengkap, atau intervensi bedah Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta, kadang dibutuhkan agar luka me- setidaknya memenuhi 9 syarat. Tetapi nutup. Dulu, banyak dokter bedah tidak ada satupun dressing yang memenggunakan dressing dua kali seha- menuhi kesembilan kriteri dressing ri. Praktik ini kini berubah dengan cu- ideal. Kalaupun ada, maka harganya kup mengganti dressing sehari sekali. akan sangat mahal. Masing-masing Hal ini sangat menghemat dari sisi dressing pada akhirnya akan saling biaya, nursing time, dan nyeri. Peng- melengkapi. gantian dressing sekali sehari sangat Occlusive dressings merupakan baik buat penderita anak dengan luka metode alternatif dalam manajemen bakar superfisial. Namun penggantian luka bakar selain krim antibiotik. dressing dua kali sehari masih diindi- Occlusive dressings bisa diaplikasikasikan pada pasien dengan luka ter- kan pada luka bakar derajat 2 dangkal infeksi atau dengan produk eksudat yang bersih dan baru (kurang dari 24 yang banyak. Selama penggantian jam). Dressing ini mampu mempertadressing, luka dibersihkan dengan hankan kelembaban luka yang berpespons berpori ukuran sel dan diren- ran besar dalam proses penyembuhan dam dalam poloxamer 188, gel terla- dan mengurangi kebutuhan pengganrut air, untuk membuang sepenuhnya tian dressing. antibiotik topikal. Forsep kadang diTransCyte adalah dressing yang diFARMACIA

22

Maret 2013

RACIKAN UTAMA

Lapisan kasa ini kemudian ditutup dengan lapisan multipel dari kasa yang kasar (tipe 6) dan dilindungi kasa melingkar yang inelastis. Kasa ini dilekatkan di luka bakar menggunakan pelekat berpori mikro.

Tunjangan Nutrisi
Terapi yang komprehensif pada luka, jika tidak disertai dukungan nutrisi yang memadai tidak akan tercapai kemajuan yang signifikan. Dr Inge Permadi MS, SpGK menjelaskan, penderita luka bakar membutuhkan kalori yang jauh lebih besar. Komposisi nutrisi untuk pasien adalah 60% karbohidrat, protein 15-20%, dan sisanya lemak. Jika pasien tidak bisa makan secara normal, bisa diberikan makanan pengganti dalam bentuk cairan. Prinsipnya, tambah Inge, regenerasi jaringan pada pasien luka bakar membutuhkan protein tinggi, melebihi orang sehat. Pada orang sehat, kebutuhan protein sekitar 0,8-1 gram/kgBB sedangkan pada penderita luka bakar sekitar 1,5-2 gram/kgBB. Protein juga tidak boleh terlalu tinggi karena akan berdampak pada fungsi ginjal. Inge mengakui bahwa banyak pasien luka bakar yang dirawat di rumah sakit yang pada akhirnya mengalami malnutrisi akibat dukungan nutrisi yang tidak adekuat. Untuk menjaga pasien tetap mendapatkan nutrisi cukup, jadwal pemberian makan bisa dibagi menjadi 8 kali per tiga jam. jadi untuk proses penyembuhan cepat tidak bisa hanya dengan mengandalkan obat-obatan tetapi juga kebutuhan nutrisi yang cukup, pungkasnya. F tan/yap

buat dari kultur fibroblast kulit dibuah menjadi material biosintetis berupa membran semipermeabel sangat tipis dan dilekatkan pada jaring nylon. Jaring nylon ini akan menjadi media pertumbuhan jaringan kulit 3-dimensi. Selanjutnya, membran akan membentuk epidermis sintetis. Fibroblast yang berproliferasi di jaring nylon akan mensekresi protein dan faktor-faktor pertumbuhan yang berkontribusi pada pembentukan matriks dermal 3-dimensi. Jenis lain adalah biobrane yang merupakan dressing biosintetsis lain yang terdiri dari film silikon dengan kain nylon melekat di film. Saat ini berbagai dressing sintetsis sudah dikembangkan. Dressing generasi pertama (misalnya film tipis, hi-

drokoloid hidrogel) berdasarkan konsep bahwa regenerasi epidermal paling baik terjadi di lingkungan lembab. Generasi kedua dressing mengombinasikan bahan film yang mampu menahan cairan dari sekaligus menyerap hidrokoloid. Secara teori, membrane sentral menyerap cairan dari luka melalui poros lapisan terdalam. Lapisan luar akan membuat uap keluar namun cairan maupun bakteri dari luar tidak bisa masuk. Dressing generasi kedua memiliki fitur-fitur yang lebih baik, namun harganya masih tinggi. Untuk mensiasatinya, bisa digunakan alternatif yaitu dengan menggunakan kasa biasa (tipe 1) yang steril direndam dalam sodium klorida 0,9% untuk menutup luka. Maret 2013

23 FARMACIA

RACIKAN UTAMA

Merawat Luka

dengan Hati

ABTU siang, 16 Februari silam menjadi hari pertama bagi Neneng Sovia Diningsih, S.Kep, Ners bertugas secara resmi di Klinik Perawatan Luka Surya Medika, yang berada di wilayah Gading Serpong, Tangerang. Klinik ini sebenarnya sebuah klinik fisioterapi dan stroke, yang tergerak membuka pelayanan khusus perawatan luka. Pemotongan tumpeng oleh pemilik klinik dan dihadiri dokter serta pegawai klinik menandai dibukanya layanan perawatan luka. Neneng, bukan orang baru di dalam perawatan luka. Sejak kuliah di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjajaran Bandung, Neneng sudah berminat mengurus luka yang bagi sebagian orang tampak mengerikan. Sebagai bukti keseriusannya, ia mengambil kursus perawatan luka modern yaitu CWCC (Certified Wound Care Clinician) di Bogor, tahun 2012 lalu. Setelah itu perempuan usia 30 ini sempat bekerja sebagai perawat khusus luka di Bogor, BSD, dan sekarang berlabuh di Serpong. Namanya saja perawatan luka, maka yang bertanggungjawab adalah perawat, jelas Neneng kepada FARMACIA. Merawat luka dalam konsep manajemen luka secara modern, sambung Neneng, sangat membantu pasien. Selama ini, pasien luka cenderung mendapatkan perawatan yang belum semestinya bahkan di rumah sakit sekalipun. Biaya yang dikeluarkan juga mahal namun kondisinya tidak kunjung membaik terutama pada luka kronis seperti luka diabetik. Psikologis pasien, menjadi salah

Neneng sedang merawat pasien.

satu aspek yang diperhatikan dalam merawat luka. Neneng menceritakan beberapa pasiennya yang sudah dibuang oleh keluarga karena luka yang sudah berbau. Di klinik, selain luka-luka dirawat dengan standar perawatan luka modern, pasien juga ditempatkan pada lingkungan yang nyaman seperti rumah sendiri. Neneng sengaja membangun kedekatan personal dengan pasien, agar pasien mau datang lagi. Perawatan luka tidak bisa hanya sekali datang. Untuk luka diabetik dia harus datang setiap 3 hari sekali untuk mengganti dressing, dan memberikan obat sampai pasiennya sembuh, jelasnya. Ia mengaku terharu dan merasa puas saat melihat pasien-pasiennya datang berjalan kaki dengan gagah. Padahal beberapa bulan sebelumnya si pasien datang dengan digendong keluarganya karena luka di kaki yang parah. Neneng tidak bekerja sendirian. Ia selalu berkonsultasi dengan dokter terutama jika pasien harus diberikan obat-obat yang diminum. Untuk perawatan luka sendiri, Neneng sudah memiliki kompetensi khusus. Konsep klinik khusus perawatan luFARMACIA

ka masih belum popular di Indonesia. Padahal kebutuhannya sangat tinggi. Untuk luka diabetik saja, diperkirakan lebih dari 20% penderita diabetes akan mengalaminya. Belum lagi penderita luka bakar, luka tekan, dan luka karena kecelakaan lalu lintas. Peluang ini ditangkap oleh PT Yasa Promedika Lentera, selaku konsultan manajemen klinik khusus perawatan luka. Klinik tempat Neneng bekerja adalah satu dari 7 klinik yang dikelola PT YPL. Sebelumnya, YPL sudah membuka klinik perawatan luka di RS MMC Jakarta, RS Melia Cibubur Jakarta, Klinik Siaga Medika di Jakarta Timur, RS Pancaran Kasih di Manado, dan RS AnNufus di Brebes, Jawa Tengah. Tugas YPL sendiri sebagai konsultan adalah menyediakan fasilitas dan alat, sistem, manajemen, hingga SDM seperti perawat dan dokter. Dengan semakin banyaknya klinik perawatan luka di daerah perifer, tentu akan lebih banyak pasien terlayani. Pendekatan di klinik, seperti dituturkan Neneng, jauh lebih manusiawi dalam pendekatan kepada pasien. Biaya pun jauh lebih rendah dibandingkan di rumah sakit. F tan

24

Maret 2013