Anda di halaman 1dari 15

Infeksi Tetanus

Monica Sandra 102011329


lin.moona@gmail.com

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Abstrak Kata tetanus diambil dari bahasa Yunani yaitu tetanos dari teinein yang berarti menegang. 1 Tetanus yang juga dikenal dengan lockjaw adalah gangguan neurologis yang ditandai dengan meningkatnya tonus otot dan spasme yang disebabkan oleh tetanospasmin, suatu toksin protein yang kuat dan dihasilkan oleh Clostridium tetani yang menginfeksi sistem saraf dan otot sehingga saraf dan otot menjadi kaku (rigid). Tetanus berasal dari bakteri clostridium tetani yang merupakan bakteri berbentuk batang menyerupai drumstick, dengan Gram positif dan anaerob. Tetanus banyak terdapat di tanah. Tetanus masih menjadi masalah di negara berkembang, salah satunya Indonesia. Pencegahan dapat dilakukan dengan imunisasi. Untuk dapat menegakkan diagnosis penyakit tetanus ini dapat dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang. Tetanus dapat menyebabkan kematian. Kata Kunci : tetanus, clostridium tetani, kekakuan otot, bakteri Gram positif-anaerob, Indonesia, imunisasi, diagnosis, kematian.

Abstract Tetanus word derived from the Greek that means tetanos of teinein tighten. Tetanus, also known as lockjaw is a neurological disorder characterized by increased muscle tone and spasms caused by tetanospasmin, a powerful protein toxin produced by Clostridium tetani and that infects the nervous system and muscles so that the nerves and muscles become stiff (rigid). Tetanus bacteria clostridium tetani from which a rod-shaped bacteria like drumstick, with Grampositive and anaerobic. Tetanus is widely available in the soil. Tetanus is still a problem in developing countries, one of Indonesia. Prevention can be done by immunization. To be able to make a diagnosis of tetanus is to do history, physical examination, and investigation. Tetanus can cause death Keywords: tetanus, Clostridium tetani, muscle rigidity, anaerobic Gram-positive, Indonesia, immunizations, diagnosis, death

Pendahuluan
Latar Belakang Tetanus merupakan salah satu contoh penyakit yang sering terjadi. Biasa dihubungkan dengan benda tajam yang berkarat. Semua golongan usia dapat menderita tetanus, bayi, anak-anak, dewasa, maupun lansia. Bila sudah terkena, tetanus akan sangat cepat penyebaran nya di dalam tubuh dan dapat berakibat fatal. Kata tetanus diambil dari bahasa Yunani yaitu tetanos dari teinein yang berarti menegang. 1 Tetanus yang juga dikenal dengan lockjaw adalah gangguan neurologis yang ditandai dengan meningkatnya tonus otot dan spasme yang disebabkan oleh tetanospasmin, suatu toksin protein yang kuat dan dihasilkan oleh Clostridium tetani yang menginfeksi sistem saraf dan otot sehingga saraf dan otot menjadi kaku (rigid). Spora Clostridium tetani biasanya masuk kedalam tubuh melalui luka pada kulit oleh karena terpotong , tertusuk, bisa juga melalui pembedahan yang tidak steril ataupun luka bakar serta pada infeksi tali pusat.2 Tetanus dikarakteristikan dengan kekakuan umum dan kejang kompulsif pada otot-otot rangka. Kekakuan otot biasanya dimulai pada rahang ( lockjaw ) dan leher. Jika tidak segera diobati akan menyebabkan kematian. Tetanus merupakan penyakit yang serius. Ia merupakan salah satu contoh penyakit yang masih membebani di negara-negara yang beriklim tropis dan negara-negara berkembang. Indonesia merupakan salah satu negara yang masih banyak kasus tetanus nya. Tetanus dapat dicegah dengan pemberian imunisasi. Karena tetanus merupakan penyakit yang cepat berkembang menjadi fatal, maka kita perlu mengetahui sumber penularannya, pencegahan yang dapat dilakukan, pengobatan dan komplikasi yang dapat timbul. Masalah Laki-laki berusia 22 tahun mengalami kecelakaan lalu lintas mengalami luka robek di bawa ke puskesmas dan mendapat 27 jahitan pada 2 minggu yang lalu. Pasien tidak diberikan antibiotik setelah menjahit lukanya. Sekarang pasien mengeluh demam, mulut terasa kaku, dan nyeri pada tungkai bawah sebelah kanan yang dijahit. Luka tampak kemerahan, terasa panas jika di raba, dan bengkak. Dari sela-sela luka yang dijahit keluar nanah. Tekanan darah 110/70 mmHg, denyut nadi 82x/menit. Tujuan Mencari tahu sumber penularan nya, pencegahan yang dapat dilakukan, pengobatan, dan komplikasi yang dapat timbul. Hipotesis Pasien di duga mengalami tetanus
2

Isi
Pembahasan 1. ANAMNESIS Anamnesis adalah suatu wawancara medis yang merupakan tahap awal dari suatu rangkaian pemeriksaan terhadap pasien. Baik bersangkutan dengan pasien maupun dengan relasi terdekatnya. Tujuan utama wawancara adalah meningkatkan kesejahteraan pasien.3 Selain itu, anamnesis bertujuan ntuk mendapatkan fakta tentang keadaan penyakit si pasien dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya.4 Anamnesis ini dibagi menjadi dua yaitu : - Autoanamnesis merupakan anamnesis terhadap pasien itu sendiri. Pasien dalam keadaan sadar - Aloanamnesis yang merupakan anamnesis terhadap keluarga atau relasi terdekat atau yang membawa pasien tersebut ke rumah sakit atau tempat praktek. Misalnya pada pasien yang tidak sadarkan diri. Bagan anamnesis yang perlu di tanyakan pada pasien tetanus: Menanyakan identitas Menanyakan keluhan utama : demam tinggi, kejang, dapat terjadi penurunan kesadaran walaupun sangat jarang, sakit menelan, kekakuan. Menanyakan riwayat penyakit sekarang : Frekuensi demam, keluhan sakit punggung, terjadinya kejang, bila terjadi kejang frekuensi kejangnya, penanganan yang diberikan terhadap kejang, obat-obatan yang sempat diminum, apakah pasien punya riwayat luka, atau pembedahan sebelumnya. Menanyakan keluhan-keluhan penyerta : Seperti adakah kaku pada wajah, leher, perut, dan anggota gerak, bengkak pada daerah luka, jika diraba didaerah luka akan terasa panas, dari luka keluar nanah. Apakah mulut pasien hanya bisa dibuka maksimal 2 jari. Menanyakan riwayat penyakit dahulu : Apakah pernah mengalami demam atau kejang sebelumnya, pernah mengalami kecelakaan dan luka sempat berkontak dengan tempat yang kotor, apakah pasien punya riwayat pemberian ATS (anti tetanus toxoid), apakah pasien sudah pernah menderita riwayat penyakit lain dan pernah di rawat di rumah sakit. Apakah pasien punya riwayat alergi, DM, dan penyakit infeksi lain. Riwayat pemberian ulang vaksin DT (difteri dan tetanus). Punya riwayat kejang atau tidak. Menanyakan riwayat sosial : Kebersihan tempat tinggal nya. Perilaku hygiene pasien. Jika punya riwayat luka, pasien dapat merawat luka nya atau tidak. Jika punya riwayat pembedahan, apakah pasien mendapatkan antibiotik setelahnya.
3

Dari anamnesis, diketahui pasien seorang laki-laki berumur 22 tahun, pernah punya riwayat luka karna kecelakaan lalu lintas 2 minggu sebelumnya dan mendapat jahitan di puskesmas sebanyak 27 jahitan tanpa diberika antibiotik setelahnya. Pasien mengeluhkan demam, mulut terasa kaku, dan nyeri pada tungkai bawah sebelah kanan yang dijahit. 2. PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan melihat adanya luka dan gejala yang khas pada penyakit. Meminta pasien untuk membuka mulut, pada kasus tetanus biasanya hanya dapat membuka mulut maksimal 2 jari. Melihat apakah adanya kekakuan wajah (rhisus sardonikus), leher dan anggota gerak. Lakukan pemeriksaan tekanan darah, nadi, frekuensi nafas dan suhu badan. Melihat adanya tanda-tanda infeksi seperti kalor,rubor,tumor,dolor, dan functio laesa. Dari pemeriksaan fisik di dapatkan adanya kekakuan wajah, pada pemeriksaan suhu tubuh pasien demam, pada pemeriksaan tekanan darah di dapatkan hasil 110/70 mmHg, pemeriksaan denyut nadi hasilnya 82x/menit. Dan pada inspeksi terlohat ada nya tanda-tanda peradangan. 3. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan penunjang terdiri atas pemeriksaan radiologi dan pemeriksaan laboratorium. Pada pemeriksaan laboratorium biasanya terdapat leukositosis ringan dan kadang-kadang peninggian tekanan cairan otak. Diagnosis tetanus mutlak didasarkan pada gejala klinis dan anamnesis.5 Tidak ada pemeriksaan penunjang khusus yang dibutuhkan untuk mendiagnosa tetanus karena gejala klinisnya cukup khas. Namun beberapa pemeriksaan dapat menunjang diagnosa tetanus.6 4. PENEGAKAN DIAGNOSIS - WORKER DIAGNOSIS Dari skenario yang diperoleh, anamnesis dan pemeriksaan fisik yang dilakukan, diagnosis kerja yang didapatkan adalah tetanus. - DIFFERENTIAL DIAGNOSIS Ada beberapa penyakit yang mempunyai gejala yang mirip dengan tetanus. Di bawah ini merupakan differential diagnosis dari tetanus dan kenapa penyakit itu berbeda dari tetanus : Tetanus hipokalemik Pada tetanus hipokalemik muncul kejang pada kaki dan tangan (carpopedal)7, rasa perih di sekitar mulut. Trismus jarang ditemukan. Chvosteks dan Trousseaus sign mungkin ditemukan.6 Pada Chvosteks sign ditemukan kedutan pada sisi ipsilateral dari otot wajah jika wajah diketuk di anterior telinga dan di bawah tulang zygomaticus. Pada Trousseaus sign ditemukan kontraksi otot berupa
4

fleksi pada pergelangan dan metacarpophalangeal, hiperekstensi dari jarijari, dan flexi pada ibu jari ke telapak tangan jika lengan dioklusi selama beberapa menit. Pada tetanus tidak muncul kejang pada carpopedal serta Chvosteks dan Trousseaus sign. Meningitis Pada meningitis dapat ditemukan dysphagia dan kaku pada leher.6 Juga ditemukan demam dan cairan cerebrospinal yang tidak normal, ditambah dengan tidak adanya trismus merupakan perbedaannya dengan tetanus.7 Rabies6-7 Pada rabies ditemukan kejang pada oropharing. Khas dari rabies adalah hidrofobik yang dialami pasien. Pada rabies tidak ditemukan trismus dan terdapat riwayat gigitan binatang. Epilepsi Epilepsis dapat menyebabkan kejang. Namun tidak ditemukan kekakuan otot di antara kejang. Bisanya sudah ada riwayat serangan epilepsi sebelumnya.7 5. ETIOLOGI Tetanus disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani. Bakteri ini merupakan bakteri anaerob dengan Gram positif dan dapat berspora. Bakteri ini banyak terdapat ditanah yang terkontaminasi tinja binatang misalnya kuda, dan bisa juga terdapat pada manusia.8 Spora berbentuk batang, ramping, berukuran 2-5 x 0,4-0,5 milimikron menyerupai drumstick, tidak berwarna. Sporanya dapat bertahan lama hingga beberapa tahun jika menginfeksi luka.9 Clostridium tetani tidak bersifat invasif. Kuman nya akan tetap berada di luka. Spora akan menjadi bentuk vegetatif dan eksotoksin akan dibentuk apabila keadaannya memungkinkan yaitu keadaan anaerob yang biasanya terjadi karena adanya jaringan nekrotik, adanya garam kalsium, adanya kuman piogenik lainnya, vaskularisasi yang tersumbat, dan bekas pemotongan tali pusat.6,10 Clostridium tetani menghasilkan neurotoxin, yaitu suatu eksotoksin, tetanospamin yang dilepaskan kerika sel lisis.5-6 Tetanospamin ini yang akan menimbulkan efek manefestasi klinik dari tetanus yaitu kejang opistotonus dan kekakuan pada wajah, leher, perut, dan anggota gerak. Toksin ini labil pada pemanasan, pada suhu 65 C akan hancur dalam 5 menit. 6. EPIDEMIOLOGI Kuman C. Tetani tersebar luas di tanah, terutama tanah garapan, dan dijumpai pula pada tinja manusia dan hewan. Perawatan luka yang kurang baik, disamping penggunaan jarum suntik yang tidak steril (misalnya pada pecandu narkotik) merupakan beberapa faktor yang sering dijumpai sebagai pencetus timbulnya tetanus. Tetanus dapat mengenai semua golongan umur, mulai dari bayi (tetanus neonatorum), dewasa muda (biasanya pecandu narkotik), sampai orang-orang tua. Dari program
5

nasional surveillance Tetanus di AS, diketahui bahwa rata-rata usia penderita tetanus dewasa berkisar di antara 50-57 tahun. 9 Tetanus masih merupakan penyakit yang membebani di seluruh dunia terutama di negara beriklim tropis dan negara-negara sedang berkembang, sering terjadi di Brazil, Filipina, Vietnam, Indonesia, dan negara lain di benua Asia. Di Indonesia penyakit ini masih banyak dijumpai, hal ini disebabkan karena tingkat kebersihan masih sangat kurang, mudah terjadi kontaminasi, perawatan luka kurang diperhatikan, kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan dan kekebalan terhadap tetanus.7 Resiko terjadinya tetanus paling tinggi pada populasi usia tua.4 Port of entry tidak selalu dapat diketahui dengan pasti, namun dapat diduga melalui: 1. 2. 3. 4. 5. Luka tusuk, gigitan binatang, luka bakar. Luka operasi yang tidak dirawat dan dibersihkan dengan baik. OMP, caries gigi. Pemotongan tali pusat yang tidak steril. Penjahitan luka robek yang tidak steril.

7. FAKTOR PEMICU / RESIKO6 Kemungkinan terserang tetanus semakin besar pada individu yang: Tidak mendapat vaksinasi lengkap atau tidak melakukan pengulangan. Usia tua juga memperbesar resiko terserang tetanus karena imunitas terhadap tetanus sudah menurun. Mengalami luka bakar Mengalami injeksi intramuskuler Bertato Frosbite yang sering ditemukan pada pendaki gunung Infeksi gigi seperti periodontal abscesses. Mengalami luka tembus pada mata Infeksi pada luka pemotongan tali pusar Diabetes mellitus (mengalami gangren atau borok). Mengalami luka kronik seperti borok, abses, gangren, dan operasi 8. GEJALA KLINIS Terdapat beberapa gejala klinis yang sering terjadi pada pasien penderita tetanus, yakni:7 - Adanya luka - Masa inkubasi 5-14 hari, tetapi bisa lebih pendek (1 hari atau lebih lama 3 atau beberapa minggu) - Terdapat tanda-tanda utama radang seperti rubor, kalor, tumor, dolor, funtio laesa - Dapat terjadi demam ringan sampai dengan demam tinggi bisa mencapai 40 C
6

Trismus merupakan gejala utama yang sering dijumpai (50%), yang disebabkan oleh kekakuan otot-otot masseter, bersamaan dengan kekakuan otot leher yang menyebabkan terjadinya kaku kuduk dan kesulitan menelan. Risus Sardonicus (Sardonic grin) yakni spasme otot-otot muka dengan gambaran alis tertarik ke atas, sudut mulut tertarik keluar dan ke bawah, bibir tertekan kuat pada gigi Opistotonus (kekakuan otot punggung) Kejang dinding perut Spasme dari laring dan otot-otot pernafasan bisa menimbulkan sumbatan saluran nafas, sianose asfiksia Disuria dan retensi urine, kompressi fraktur dan pendarahan di dalam otot. Bila dijumpai hipertermi ataupun hipotermi, tekanan darah tidak stabil Takhikardia Dapat menyebabkan kematian Tungkai dalam ekstensi, lengan kaku dan tangan mengepal, biasanya kesadaran tetap baik

Klasifikasi tingkat keparahan tetanus7 Derajat I (ringan) Trismus ringan sampai sedang, spastisitas generalisata, tanpa gangguan pernapasan, tanpa spasme, sedikit atau tanpa disfagia. Derajat II (sedang) Trismus sedang, rigiditas yang Nampak jelas, spasme singkat ringan sampai sedang, gangguan pernafasan sedang dengan frekuensi pernafasan lebih dari 30, disfagia ringan. Derajat III (berat) Trismus berat, spastisitas generalisata, spasme reflex berkepanjangan, frekuensi pernapasan lebih dari 40, serangan apnea, disfagia berat dan takikardia lebih dari 120. Derajad (IV) sangat berat Derajat 3 dengan gangguan otonomik berat melibatkan system kadiovaskular. Hipertensi berat takikardia terjadi berselingan dengan hipotensi dan bradikardia,salah satunya dapat menetap.

Prognostic Scoring Systems in Tetanus Phillips Score


Factor Incubation Time < 48 hours 2-5 days 5-10 days 10-14 days > 14 days Score 5 4 3 2 1 7

Site of infection Internal and umbilical Head, neck, and body wall Peripheral proximal Peripheral distal Unknown State of protection None Possibly some or maternal immunisation in neonatal patients Protected > 10 years ago Protected < 10 years ago Complete protection Complicating factors Injury or life threatening illness Severe injury or illness not immediately life threatening Injury or non life threatening illness Minor injury or illness ASA Grade 1 Total Score Hasil score : o Score < 9 = Tetanus ringan o Score 9 16 = Tetanus sedang o Score > 16 = Tetanus berat

5 4 3 2 1 10 8 4 2 0 10 8 4 2 0

9. PATOFISIOLOGIS Tetanus dapat terjadi apabila tubuh terkena luka dan luka tersebut kemudian terkontaminasi oleh spora dari Clostridium tetani.7 Bentuk spora dari bakteri akan berubah menjadi vegetatif bila lingkungannya memungkinkan untuk perubahan bentuk tersebut (anaerobic) dan kemudian mengeluarkan eksotoksin yang menyebar ke seluruh bagian tubuh melalui peredaran darah dan sistem limpa. Dua macam eksotoksin yang dihasilkan, yaitu tetanolisin dan tetanospasmin. Kuman tetanusnya sendiri akan tetap tinggal di daerah luka, sehingga tidak ada penyebaran kuman. Gejala klinis timbul sebagai dampak eksotoksin pada sinaps ganglion spinal dan neuromuscular junction serta syaraf otonom. Toksin dari tempat luka menyebar ke motor end plate dan setelah masuk lewat ganglioside dijalarkan secara intraaxonal kedalam sel saraf tepi, kemudian ke kornu anterior sumsum tulang belakang, akhirnya menyebar ke SSP. Manifestasi klinis terutama disebabkan oleh pengaruh eksotoksin terhadap susunan saraf tepi dan pusat. Pengaruh tersebut berupa gangguan terhadap inhibisi presinaptik sehingga mencegah keluarnya neurotransmiter inhibisi yaitu Gama Aminobutyric Acid (GABA) dan glisin, sehingga terjadi eksitasi terus-menerus dan spasme. Kekakuan dimulai pada tempat masuk kuman atau pada otot masseter (trismus), pada saat toxin masuk ke sumsum belakang terjadi kekakuan yang makin berat, pada extremitas, otot-otot bergaris pada dada, perut dan mulia timbul kejang. Bilamana toksin mencapai korteks cerebri, penderita akan mulai mengalami kejang umum yang spontan.

Dengan penggunaan diazepam dosis tinggi dan pernafasan mekanik, kejang dapat diatasi namun gangguan saraf otonom harus dikenali dan dikelola dengan teliti.11 10. TERAPI MEDIKA MENTOSA Pada terapi diperlukan 3 prinsip penatalaksanaan4 yaitu : - Organisme yang terdapat dalam tubuh hendaknya dihancurkan untuk mencegah pelepasan toksin lebih lanjut - Toksin yang sudah di dalam tubuh tapi masih diluar sistem saraf pusat hendaknya dinetralisir - Efek dari toksin yang telah terikat pada sistem saraf pusat hendaknya diminimalisasi Penatalaksanaan umum: 1. Merawat dan membersihkan luka sebaik-baiknya, berupa: membersihkan luka, irigasi luka, debridement luka (eksisi jaringan nekrotik), membuang benda asing dalam luka serta kompres dengan H202, penatalaksanaan, terhadap luka tersebut dilakukan 1-2 jam setelah ATS dan pemberian Antibiotika. Sekitar luka disuntik ATS. 2. Diet cukup kalori dan protein, bentuk makanan tergantung kemampuan membuka mulut dan menelan. Bila ada trismus, makanan dapat diberikan personde atau parenteral. 3. Isolasi untuk menghindari rangsang luar seperti suara dan tindakan terhadap penderita 4. Oksigen, pernafasan buatan dan trachcostomi bila perlu. 5. Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit.4,7 Obat-obatan:7 - Antibiotika Diberikan parenteral Peniciline 1,2 juta unit / hari selama 10 hari, IM. Sedangkan Tetanus pada anak dapat diberikan Peniciline dosis 50.000 Unit / KgBB/12 jam secara IM diberikan selama 7-10 hari. Bila sensitif terhadap peniciline, obat dapat diganti dengan preparat lain seperti tetrasiklin dosis 30-40 mg/kgBB/ 24 jam, tetapi dosis tidak melebihi 2 gram dan diberikan dalam dosis terbagi ( 4 dosis ). Bila tersedia Peniciline intravena, dapat digunakan dengan dosis 200.000 unit /kgBB/ 24 jam, dibagi 6 dosis selama 10 hari. Antibiotika ini hanya bertujuan membunuh bentuk vegetatif dari C.tetani, bukan untuk toksin yang dihasilkannya. Bila dijumpai adanya komplikasi pemberian antibiotika broad spektrum dapat dilakukan.

Antitoksin

Antitoksin dapat digunakan Human Tetanus Immunoglobulin ( TIG) dengan dosis 3000-6000 U, satu kali pemberian saja, secara IM tidak boleh diberikan secara intravena karena TIG mengandung "anti complementary aggregates of globulin ", yang mana ini dapat mencetuskan reaksi allergi yang serius. Bila TIG tidak ada, dianjurkan untuk menggunakan Tetanus antitoksin, yang berawal dari hewan, dengan dosis 40.000 U, dengan cara pemberiannya adalah : 20.000 U dari antitoksin dimasukkan kedalam 200 cc cairan NaC1 fisiologis dan diberikan secara intravena, pemberian harus sudah diselesaikan dalam waktu 30-45 menit. Setengah dosis yang tersisa (20.000 U) diberikan secara IM pada daerah pada sebelah luar. Tetanus Toksoid

Pemberian Tetanus Toksoid (TT) yang pertama, dilakukan bersamaan dengan pemberian antitoksin tetapi pada sisi yang berbeda dengan alat suntik yang berbeda. Pemberian dilakukan secara I.M. Pemberian TT harus dilanjutkan sampai imunisasi dasar terhadap Tetanus selesai. Anti kejang

Penyebab utama kematian pada Tetanus Neonatorum adalah kejang klonik yang hebat, muscular dan laryngeal spasm beserta komplikaisnya. Dengan penggunaan obatobatan sedasi/muscle relaxans, diharapkan kejang dapat diatasi. Tabel 3: JENIS ANTIKONVULSAN (anti kejang) Jenis Obat Diazepam Meprobamat Klorpromasin Fenobarbital Dosis 0,5 1,0 mg/kg Berat badan / 4 jam (IM) 300 400 mg/ 4 jam (IM) 25 75 mg/ 4 jam (IM) 50 100 mg/ 4 jam (IM) Pengobatan menurut Adam .R.D. (1): Pada saat onset

Efek Samping Stupor, Koma Tidak Ada Hipotensi Depressi pernafasan

3000 - 6000 unit, Tetanus immune globulin satu kali saja. 1,2 juta unit Procaine penicilin sehari selama 10 hari, Intramuscular. Jika alergi beri tetracycline 2 gram sehari. Perawatan luka, dibersihkan, sekitar luka beri ATS (infiltrasi)

10

Semua penderita kejang tonik berulang, lakukan trachcostomi, ini harus dilakukan untuk mencegah cyanosis dan apnoe. Paraldehyde baik diberikan melalui mulut. Jika cara diatas gagal, dapat diberi d-Lubocurarine IM dengan dosis 15 mg setiap jam sepanjang diperlukan, begitu juga pernafasan dipertahankan dengan respirator. Pengobatan menurut Gilroy:

Kasus ringan : Penderita tanpa cyanose : 90 - 180 begitu juga promazine 6 jam dan barbiturat secukupnyanya untuk mengurangi spasme. Kasus berat : 1. Semua penderita dirawat di ICU (satu team ) 2. Dilakukan tracheostomi segera. Endotracheal tube minimal harus dibersihkan setiap satu jam dan setiap 3 hari ETT harus diganti dengan yang baru. 3. Curare diberi secukupnya mencegah spasme sampai 2 jam. Pernafasan dijaga dengan respirator oleh tenaga yang berpengalaman 4. Penderita rubah posisi/ miringkan setiap 2 jam. Mata dibersihkan tiap 2 jam mencegah conjunctivitis 5. Pasang NGT, diet tinggi, cairan cukup tinggi 6. Urine pasang kateter, beri antibiotika. 7. Kontrol serum elektrolit, ureum dan AGDA 8. Rontgen foto thorax 9. Pemakaian curare yang terlalu lama, pada saatnya obat dapat dihentikan pemakaiannya. Jika KU membaik, NGT dihentikan. Tracheostomy dipertahankan beberapa hari, kemudian dicabut/dibuka dan bekas luka dirawat dengan baik. NON MEDIKA MENTOSA Pasien yang di rawat di rumah sakit sebaiknya di pisahkan dengan pasien lain. Biarkan pasien beristirahat di ICU. Pasien harus bedrest untuk sementara waktu karna kemampuan geraknya yang berkurang akibat kekakuan. 11. PROGNOSIS Tetanus dengan masa inkubasi kurang dari 7 hari selalu merupakan tetanus berat. Angka kematian pada kasus ini adalah 80%. Tetanus dengan masa inkubasi 7-10 hari dapat berupaa tetanus sedang yang angka kematiannya bervariasi. Tetanus dengan masa inkubasi lebih dari 10 hari biasanya merupakan tetanus ringan, terkadang tidak terjadi spasme generalisata, prognosisnya baik.7 Prognosis tetanus diklasifikasikan dari tingkat keganasannya, dimana : 6 - Ringan: bila tidak adanya kejang umum ( generalized spsm )
11

- Sedang: bila sekali muncul kejang umum - Berat : bila kejang umum yang berat sering terjadi. Dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dapat memperburuk keadaan9, yaitu : a. Masa inkubasi yang pendek (kurang dari 7 hari) b. Neonatus dan usia tua (lebih dari 55 tahun) c. Frekuensi kejang yang sering d. Kenaikan suhu badan yang tinggi e. Pengobatan yang terlambat f. Periode trismus dan kejang yang semakin sering g. Adanya penyulit spasme otot pernapasan dan obstruksi jalan napas 12. KOMPLIKASI Komplikasi tetanus dapat terjadi akibat penyakitnya ataupun konsekuensi dari terapinya (terjadi perubahan fisiologi kardiovaskular, ginjal dan respirasi). Komplikasi pada jalan nafas: Aspirasi* (Spasme otot faring yang menyebabkan terkumpulnya air didalam rongga mulut karena pasien mengalami disfagia, dan keadaan ini memungkinkan terjadinya aspirasi serta dapat menyebabkan pneumonia aspirasi) Laringospasme/ obstruksi* (karena efek toksin yang menggangu neuromuskular mengakibatkan spasme otot, spasme dapat terjadi pada otot laring) Obstruksi berkaitan dengan sedatif* Komplikasi pada respirasi: Apnea* Hipoksia* Gagal nafas tipe 1* (atelektasis, aspirasi, pneumonia) Gagal nafas tipe 2* (spasme laringeal, spasme trunkal berkepanjangan, sedasi berlebihan) ARDS* Komplikasi bantuan ventilasi berkepanjangan seprti pneumonia Komplikasi trakeostomi seperti stenosis trakea Komplikasi pada kardiovaskuler: Takikardia*, hipertensi*, iskemia* Brakikardia*, hipotensi* Takiartitmia*, brakiaritmia* Asistol* Gagal jantung*

12

Komplikasi pada ginjal: Gagal ginjal curah tinggi* Gagal ginjal oligouria* Stasis urin dan infeksi Komplikasi pada gastrointestinal: Stasis gastter Ileus Diare Pendarahan*

Komplikasi lainnya: Pernurunan berat badan* Tromboembolus* Sepsis dengan gagal organ multipel* Decubitus Fraktur vertebra selama spasme )dapat terjadi karena kontraksi otot yang sangat kuat pada waktu sedang kejang) Ruptur tendon akibat spasme Ket : *Komplikasi yang mengancam jiwa.

13. PENCEGAHAN Imunisasi aktif


Imunisasi dasar DPT diberikan tiga kali sejak usia 2 bulan dengan interval 4-6 minggu, ulangan pada umur 18 bulan dan 5 tahun. Eliminasi tetanus neonatorum dilakukan dengan imunisasi TT pada ibu hamil, wanita usia subur, minimal 5 x suntikan toksoid. (untuk mencapai tingkat TT lifelong-card).

Pencegahan pada luka

Luka dibersihkan, jaringan nekrotik dan benda asing dibuang Luka ringan dan bersih Imunisasi lengkap : tidak perlu ATS atau tetanus imunoglobulin Imunisasi tidak lengkap : imunisasi aktif DPT/DT. Luka sedang/berat dan kotor Imunisasi (-)/tidak jelas : ATS 3000-5000 U, atau tetanus immunoglobulin 250-500 U. Toksoid tetanus pada sisi lain. Imunisasi (+), lamanya sudah > 5 tahun : ulangan toksoid, ATS 3000-5000 U, tetanus imunoglobulin 250-500 U(3).
13

Usaha pencegahan infeksi akibat pembedahan12 Operasi singkat Pembersihan kulit menggunakan zat kimia antibakteri dan detergen (untuk kulit pasien, dokter bedah, dan perawat) Filtrasi udara pada daerah operasi Masker dan jubah yang menutup seluruh tubuh (oklusif) Antibiotik profilatik : - Harus bakteriosidal - Harus mempunyai kadar yang tinggi dalam jaringan saat terkontaminasi - Satu dosis antibiotik praoperasi yang diberikan satu jam sebelum pembedahan harus mencukupi, kecuali bila operasi terkaontaminasi berat atau kotor atau pasien mengalami gangguan sistem imun (immunocomromised) - Antibiotik profilaktik sebaiknya diberikan untuk pasien dengan bahan prostetik yang diimplantasi, misalnya katup jantung, cangkok vaskular, prostesis sendi

Penutup
Kesimpulan Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penunjang, disimpulkan pasien menderita tetanus. Tetanus merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri anaerob Clostridium tetani. Penyakit ini berasal dari jahitan didapat pasien yang mungkin berasal dari alat-alat yang digunakan tidak. Secara etiologi, Clostrisium tetani memiliki spora yang banyak terdapat di tanah. Clostridium tetani memiliki toksin tetanus yang merupakan penyebab gejala-gejala klinis yang terjadi. Tetanus memiliki gejala awal seperti nyeri kepala, gelisah, dan iritabilitas yang sering disertai kekakuan, sukar mengunyah, dan spasme otot leher. Pada keadaan yang lebih lanjut terdapat gejala seperti trismus, kejang opistotonus, penderita berpostur lengkung, dan sampai menimbulkan kematian. Tetanus tidak menyerang saraf sensorik atau fungsi korteks. Hal ini menyebabkan penderita sadar dan harus menahan rasa yang sangat nyeri. Pengobatan yang dapat diberikan seperti pemberian globulin anti tetanus, debridemen luka, dan antitoksin tetanus. Jika pasien telah mengalami kejang, maka pasien diberikan obat yang bersifat melemaskan otot dan untuk kejang digunakan fenobarbital, klorpromazin, atau diazepam. Pada tetanus berat kadang diperlukan paralisis total otot (kurarisasi) dengan mengambil alih pernapasan memakai respirator. Pencegahan dapat dilakukan dengan 4 cara yaitu perawatan luka yang adekuat dan imunisasi aktif, penggunaan profilaksis antitoksin dan pemberian penisilin. Masa inkubasi dan periode onset (periode awal yaitu masa dari timbulnya gejala klinis pertama sampai timbul kejang) merupakan faktor yang menentukan prognosis. Tetanus dapat terjadi di semua golongan usia. Hipotesis diterima karna kecocokan gejala yang di keluhkan oleh pasien dengan gejalagejala klinis pada penyakit tetanus.

14

Sekian pembahasan tentang tetanus, semoga dapat membantu mahasiswa-mahasiswi untuk dapat lebih mudah mempelajari tentang penyakit ini. Daftar Pustaka 1. 2. Batticaca F.B. Bab 8: Asuhan keprawatan klien dengan tetanus. Jakarta. 2008. P126-127. Brooks A.G, Buthel S.J, Morse A.S. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: Buku Kedokteran EGC; 2007 3. Bickley S. Lynn. Buku saku pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan bates. Edisi 5. Jakarta: EGC; 2008. Hal 15. 4. Sudoyo Aru, Setiyohadi Bambang, Alwi Idrus, Simadibrata Marcellus, Setiati Siti. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi 5. Jilid III. Jakarta: EGC; 2007. Hal 1777-1785. 5. Ismanoe G. Tetanus. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi V, Jilid III. Jakarta: Interna Publishing; 2009: Bab 445. 6. Dire DJ. Tetanus [jurnal]: Deparment of emergency medicine. University of TexasHouston. Diunduh dari: http://emedicine.medscape.com/article/786414-diagnosis. 16 September 2010. 7. Ritarwan K. Tetanus [jurnal]. Bagian Neurologi FK USU/ RSU H. Adam Malik. Diunduh dari: http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3456/1/penysarafkiking2.pdf. 29 November 2010 8. Adams. R.D. Tetanus: Principles of New'ology. New York: McGraw-Hill; 2007. H.1205-1207 9. Soeparman. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 1991: 49 10. Rahim A, Lintong M, Suharto, Jasodiwondo S. Buku Ajar Mikrobiologi kedokteran: Batang positif gram. Edisi revisi. Jakarta: Binarupa Aksara Publishing. Bab 19. 11. Sjamsuhidajat R, Jong WD. Buku Ajar Ilmu Bedah Ed. 2. 2004;Jakarta: EGC hlm.21-24. 12. Grace PA, Borley NR. At a Glance Ilmu Bedah. Ed.3. Jakarta: Erlangga; 2006. H. 80

15