Anda di halaman 1dari 16

Tinjauan CMRR Kepadatan populasi suatu jenis atau kelompok hewan dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah atau

biomassa perunit. Atau persatuan luas atau persatuan volume. Kepadatan populasi sangat penting diukur untuk menghitung produktifitas, tetapi untuk membandingkan suatu komunitas dengan komunitas lain. Keberadaan dan kepadatan popuasi suatu jenis hewan bergantung dari faktor lingkungan yaitu faktor biotik dan faktor abiotik. Faktor biotik bagi hewan itu sendiri yaitu lingkungan dan organisme lain yang terdapat di habitatnya seperti mikroflora, tumbuh-tumbuhan dan jenis hewan lainnya. Pada komunitas itu jenis-jenis organisme saling berinteraksi satu sama lain. Interaksi itu dapat berupa predasi, parasit, kompetensi, simbiosis dan interaksi yang lainnya. Interaksi antara populasi merupakan interaksi yang terjadi antara populasi-populasi dari berbagai spesies yang berbeda yang hidup bersama dalam suatu komunitas. Dapat dikatakan bahwa populasi dari berbagai spesies berbeda yang terdapat dalam suatu komunitas yang hidup berdampingan satu sama lain. Beberapa ciri statistik penting pada populasi adalah kerapatan, natalitas, mortalitas, sebaran umur, potensi biotik, pancaran dan bentuk pertumbuhan. Di samping itu populasi itu juga memiliki karakteristik genetik yang langsung berhubungan dengan egologinya, adalah keadaptifan, ketegaran reproduktif, dan persistensi meninggalkan keturunan dalam waktu yang lama. Perhitungan populasi bertujuan untuk mengetahui keragaman dan kemelimpahan jenis hewan yang tinggal di suatu tempat. Dalam melakukan penelitian ekologi hewan di lakukan di pantai Sawarna, kecamatan Bayah kabupaten Lebak yaitu dengan menghitung kemelimpahan populasi (metode CMRR), kemelimpahan fauna tanah (metode Pit fall trap), dan menghitung kemelimpahan gastropoda (metode survey). Penelitian ini juga dilakukan untuk memenuhi salah satu tugas praktikum lapangan mata kuliah Ekologi Hewan. Suatu komunitas terdiri dari berbagai kumpulan populasi yang saling berinteraksi satu sama lain. Oleh karena itu dalam komunitas berarti ada keanekaragaman jenis-jenis ynag terkumpul membentuk populasi dan saling berinteraksi antar populasi tersebut membentuk komunitas. Sehingga dapat dikatakan bahwa di dalam komunitas salah satu cirri utama adalah adanya keanekaragaman jenis. Keanekaragaman jenis dari seluruh jumlah jenis di dalam komponen tropic atau dalam suatu komunitas secara keseluruhan ditentukan oleh jenis yang jarang, dominan, atau umum (Odum, 1971). Untuk mengetahui keanekaragaman suatu organisme maka kita harus mengetahui kemelimpahan suatu individu, kemelimpahan dapat di ketahui dengan menggunakan beberapa metode yaitu CMRR (Capture, Mark, Release, dan Recapture), Pit Fall trap, dan Transek. CMMR (Capture, Mark, Release, dan Recapture) Metode ini sangat penting dalam ekologi hewan sebab tidak hanya perkiraan kerapatan yang diperoleh tetapi perkiraan laju kelahiran dan laju kematian populasi yang dikaji juga diketahui.syarat berlakunya metode CMRR yaitu : Pergantian antar individu rendah (tidak mudah mati, tidak mudah besar, tidak mudah berkembang biak). Hal yang pertama dilakukan adalah dengan menentukan tempat yang akan dilakukan estimasi, lalu menghitung dan mengidentifikasinya, dan hasil dapat dibuat dalam sistem daftar. Suatu populasi dapat pula ditafsirkan sebagai suatu kelompok makhluk yang sama spesiesnya dan mendiami suatu

ruang khusus pada waktu yang khusus. Karakteristik dasar populasi adalah besar populasi atau kerapatan. Pengukuran kerapatan mutlak ialah dengan cara penghitungan menyeluruh yaitu cara yang paling langsung untuk mengerti berapakah makhluk yang di pertanyakan di sutau daerah adalah menghitung makhluk tersebut semuanya dan metode cuplikan yaitu dengan menghitung proporsi kecil populasi pada rumus Paterson.

http://mitrapustaka.blogspot.com/2011/05/laporan-praktikum-kuliah-lapangan.html

Kepadatan populasi satu jenis atau kelompok hewan dapat dinyatakan dalam dalam bentuk jumlah atau biomassa per unit, atau persatuan luas atau persatuan volume atau persatuan penangkapan. Metode CMRR secara sederhana adalah menangkap hewan, menandai, melepaskan dan menangkap kembali. Kadang-kadang ada beberapa hewan yang bersifat suka ditangkap (trap happy) atau susah (trap shy). Percobaan yang dilakukan untuk pengamatan simulasi estimasi populasi hewan ini diperlukan dua buah toples yang masing-masing berisi dua macam warana kancing baju dengan jumlah tertentu. Percobaan dilakukan dengan pengambilan segenggam kancing baju hitam yang ada di dalam toples, dihitung jumlahnya (ni) kemudian diganti dengan kancing berwarna putih dengan dikembalikan lagi ke dalam toples berisi kancing hitam tadi, hal ini diberlakukan sebagai penanda hewan. Toples dikocok sehingga seluruh kancing tercampur secara homogen. Dari percobaan yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa saat pengambilan kancing dalam pengamatan poulasi menggunakan metode CMMR, saat pengambilan cuplikan pertama kancing hitam yang dianggap sebagai hewan yang akan ditandai (ni), diperoleh hasil jumlah yang tertangkap adalah 26, dan pada cuplikan kedua ni menunjukkann nilai 28 dengan dengan Ri sebanyak 2, sehingga jumlah hewan yang bertanda sebanyak 26. hingga pada cuplikan ke 10 ni mendapatkan hasil 32 dan Ri 15, sehingga hasil jumlah hewan yang bertanda adalah 17. Dari keseluruhan percobaan didapatkan hasil bahwa jumlah total ni adalah 386 dan Ri sebanyak 100, sehingga perhitungan hewan yang bertanda menjadi sebanyak 286. Percobaan simulasi estimasi populasi hewan dilakukan dengan cara sederhana, yaitu metode Capture-Mark-Release-Recapture (CMMR). Penghitungan sebaran populasi yang diperoleh dapat dilakukan dengan penghitungan Schanabel dan Patersen. Penggunaan rumus Schanabel lebih akurat karena perhitungan dilakukan untuk setiap cuplikan yang dilakukan.

Kepadatan populasi satu jenis atau kelompok hewan dapat dinyatakan dalam dalam bentuk jumlah atau biomassa per unit, atau persatuan luas atau persatuan volume atau persatuan penangkapan. Kepadatan pupolasi sangat penting diukur untuk menghitung produktifitas, tetapi untuk membandingkan suatu komunitas dengan komnitas lainnya parameter ini tidak begitu tepat. Untuk itu biasa digunakan kepadatan relatif. Kepadatan relatif dapat dihitung dengan membandingkan kepadatan suatu jenis dengan kepadatan semua jenis yang terdapat dalam unit tersebut. Kepadatan relatif biasanya dinyatakan dalam bentuk persentase.(Suin.N.M.1989). Populasi ditafsirkan sebagai kumpulan kelompok makhluk yang sama jenis (atau kelompok lain yang individunya mampu bertukar informasi genetik) yang mendiami suatu ruangan khusus, yang memiliki berbagai karakteristik yang walaupun paling baik digambarkan secara statistik, unik sebagai milik kelompok dan bukan karakteristik individu dalam kelompok itu.(Soetjipta.1992)

Ukuran populasi Ukuran populasi umumnya bervariasi dari waktu, biasanya mengikuti dua pola. Beberapa populasi mempertahankan ukuran poulasi mempertahankan ukuran populasi, yang relatif konstan sedangkan pupolasi lain berfluktasi cukup besar. Perbedaan lingkungan yang pokok adalah suatu eksperimen yang dirangsang untuk meningkatkan populasi grouse itu. Penyelidikan tentang dinamika populasi,

pada hakikatnya dengan keseimbangan antara kelahiran dan kematian dalam populasi dalam upaya untuk memahami pada tersebut di alam.(Naughton.Mc.1973) Tingkat pertumbuhan populasi yaitu sebagai hasil akhir dari kelahiran dan kematian, juga mempengaruhi struktur umur dan populasi (Hadisubroto.T.1989). Suatu populasi dapat juga ditafsirkan sabagai suatu kelompok yang sama. Suatu populasi dapat pula ditafsirkan sebagai suatu kolompok makhuk yang sama spesiesnya dan mendiami suatu ruang khusus pada waktu yang khusus. Populasi dapat dibagi menjadi deme, atau populasi setempat, kelompok-kelompok yang dapat saling membuahi, satuan kolektif terkecil populasi hewan atau tumbuhan. KARAKTERISTIK POPULASI Populasi memiliki beberapa karakteristik berupa pengukuran statistik yang tidak dapat diterapkan pada individu anggota populasi. Karakteristik dasar populasi adalah besar populasi atau kerapatan. Kerapatan populasi ialah ukuran besar populasi yang berhubungan dengan satuan ruang, yang umumnya diteliti dan dinyatakan sabagai cacah individu atau biomassa per satuan luas per satuan isi. Kadang kala penting untuk membedakan kerapatan kasar dari kerapatan ekologik (=kerapatan spesifik). Kerapatan kasar adalah cacah atau biomassa persatuan ruang total, sedangkan kerapatan ekologik adalah cacah individu biomassa persatuan ruang habitat. Dalam kejadian yang tidak praktis untuk menerapkan kerapatan mutklak suatu populasi. Dalam pada itu ternyata dianggap telah cukup bila diketahui kerapan nisbi suatu populasi. Pengukuran kerapatan mutlak ialah dengan cara : 1. Penghitungan menyeluruh yaitu cara yang paling langsung untuk mengerti berapakah makhluk yang di pertanyakan di sutau daerah adalah menghitung makhluk tersebut semuanya. 2. Metode cuplikan yaitu dengan menghitung proporsi kecil populasi (Soetjipta.1992). Metode yang paling akurat untuk mengetahui kerapatan populasi adalah dengan cara menghitung seluruh individu mahkluk hidup yang di maksud (sensus), namun situasi alam atau lokasi penelitian sering tidak memungkinkan pelaksaan hal tersebut, terutama pada penghitungan hewan liar misalnya nyamuk atau rusa. Mungkin sebagian medan habitat tidak dapat atau sukar dicapai, atau beberapa individu sangat sulit untuk dijumpai secara langsung. Selain itu pergerakan hewan dari dan ke arah lokasi sensus menyebabkan tidak akuratnya perhitungan. Perhitungan populasi baik untuk hewan maupun tumbuhan dapat dilaksanakan dengan dua cara yaitu secara langsung dan tidak langsung. Secara tidak langsung yaitu dengan perkiraan besarnya populasi sedemikian rupa sesuai dengan sifat hewan atau tumbuhan yang akan dihitung. Misalnya untuk menghitung sampling populasi rumput di padang rumput dapat digunakan metode kuadarat rumput, untuk hewan-hewan besar dapat dilakukan dengan metode track count atau fecal count, sedangkan untuk hewan yang relatif mudah ditangkap misalnya tikus, belalang atau burung dapat diperkirakan populasinya dengan metode capture mark release recapture (CMRR). Penggunaan metode CMRR pada populasi ikan diuji dengan meneliti sisiknya, atau dengan meneliti otolith atau mengenai lensa mata. Pada hewan jenis lain dapat diuji dengan penelitian umur meliputi penelitian tentang gigi geligi, atau mungkin metode catch - perunit - effort. Perlu diingat harus diperhitungkan adanya kesalahan baik sejak perencanaan maupun sampai pelaksanaan dan juga analisisnya serta interpretasinya. Pengaruh luas medan penelitian dan unit pengambilan

sampel, letak stasiun pengambilan sampel, jenis alat sampling dan waktu sampling semuanya perlu dimasukkan dalam analisis, demikian pula pengaruh faktor lingkungan. Metode CMRR secara sederhana adalah menangkap hewan, menandai, melepaskan dan menangkap kembali. Kadang-kadang ada beberapa hewan yang bersifat suka ditangkap (trap happy) atau susah (trap shy). Southwood (1971) menyatakan bahwa penerapan metode CMRR dengan asumsi- asumsi sebagai berikut. a. Hewan yang ditandai tidak terpengaruh oleh tanda dan tanda tidak mudah hilang. b. Hewan yang ditandai harus tercampur secara homogen dalam populasi. c. Populasi harus dalam sistem tertutup (tidak ada migrasi atau migrasi dapat dihitung). d. Tidak ada kelahiran atau kematian selama periode sampling. e. Hewan yang ditangkap sekali atau lebih, tidak mempengaruhi hasil sampling selanjutnya. f. Populasi sampling secara random dengan asumsi semua kelompok umur dan jenis kelamin dapat ditangkap serta semua individu mempunyai kemampuan yang sama untuk ditangkap. g. Sampling dilakukan dengan interval waktu yang tetap.

Rumus dasar yang digunakan untuk penghitungan adalah rumus Petersen yaitu: M.n N = R

Untuk menghitung kesalahan (error) metode CMRR dapat dilakukan dengan cara menghitung kesalahan baku (standar errornya) dengan rumus: _______________________ SE = ( M . n ) [(M - R) . (n - R)] R

Setelah ditentukan standar errornya, kemudian ditentukan selang kepercayaannya dengan rumus: N t. SE
Untuk memperbaiki keakuratan metode Peterson (karena sampel yang diambil relatif kecil), dapat digunakan metode Schnabel. Metode Schnabel selain membutuhkan asumsi yang sama dengan metode Petersen, juga ditambahkan dengan asumsi bahwa ukuran populasi harus konstan pada periode sampling yang berikutnya. Pada metode ini, penangkapan, penandaan dan pelepasan kembali hewan dilakukan lebih dari 2 kali. Untuk setiap periode sampling, semua hewan yang belum

bertanda diberi tanda dan dilepaskan kembali. Dengan cara ini besarnya populasi dapat diduga dengan rumus:

Karena pengambilan sampel dengan cara diatas dilakukan berulang kali, maka hal ini akan mengurangi kesalahan sampling. Kesalahan baku (SE) metode ini dihitung dengan rumus: 1 SE = _____________________________________ 1 (k - 1) 1 [ ] [ + ] (N - M) N (N - n)

Setelah ditentukan standar errornya, kemudian ditentukan selang kepercayaannya dengan rumus : N t. SE
HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel hasil percobaan

K
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 26 28 51 20 34 60 71 29 39 32 386

ni
2 1 3 8 15 22 14 20 15 100

Ri
26 26 50 17 26 45 49 15 19 17 26 52 102 119 145 190 239 254 271 271

Mi

(ni.mi)
2652 2040 4046 8700 13490 6931 9906 8672 989 57165

Dari percobaan yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa saat pengambilan kancing dalam pengamatan poulasi menggunakan metode CMMR, saat pengambilan cuplikan pertama kancing hitam yang dianggap sebagai hewan yang akan ditandai (ni), diperoleh hasil jumlah yang tertangkap adalah 26, dan pada cuplikan kedua ni menunjukkann nilai 28 dengan dengan Ri sebanyak 2, sehingga jumlah hewan yang bertanda sebanyak 26. hingga pada cuplikan ke 10 ni mendapatkan hasil 32 dan Ri 15, sehingga hasil jumlah hewan yang bertanda adalah 17. Dari keseluruhan percobaan didapatkan hasil bahwa jumlah total ni adalah 386 dan Ri sebanyak 100, sehingga perhitungan hewan yang bertanda menjadi sebanyak 286. Dari percobaan dapat terlihat bahwa dalam penelitian kita dapat menduga sifat-sifat suatu kumpulan objek penelitian hanya dengan mempelajari dan mengamati sebagian dari kumpulan itu.

Menurut McNaughton, (1990:63), mengatakan bahwa bagian yang diamati itu disebut sampel, sedangkan kumpulan objek penelitian disebut populasi. Objek penelitian dapat berupa orang, hewan, maupun tumbuhan. Dalam penelitian, objek penelitian ini disebut satuan analisis (units of analysis) atau unsur-unsur populasi. Bila kita meneliti seluruh unsur populasi, kita melakukan sensus. Menurut Sukarno (1989:89), sensus mudah dilakukan bila jumlah populasi terbatas. Sensus, memang, tidak selamanya sempurna. Hasil sensus, Yang mengungkapkan karakteristik populasi (seperti rata-rata, ragam, modus, atau (range), disebut parameter. Bila jumlah unsur populasi itu terlalu banyak, padahal kita ingin menghemat biaya dan waktu, kita harus puas dengan sampel. Karakteristik sampel disebut statistik. Kita ingin menduga secara cermat parameter dari statistik. Metode pendugaan inilah yang dikenal sebagai teori sampling. Teori sampling ini menurut Sudarsono (1978:90), terbagi atas 2 yaitu yang mencerminkan semua unsur dalam populasi secara proporsional. Yang pertama sampel seperti itu dikatakan sampel tak bias (unibased sample) atau sampel yang representatif. Kedua sampel bias adalah sampel yang tidak memberikan kesempatan yang sama pada semua unsur populasi untuk dipilih. Memang, sampel mungkin menunjukkan karakteristik yang menyimpang dari karakteristik populasi. Penyimpangan dari karakteristik populasi disebut galat sampling (sampling error). Jadi, galat sampling adalah perbedaan antara hasil yang diperoleh dari sampel dengan hasil yang didapat dari sensus. Statistik dapat membantu kita menentukan sampling error hanya bila kita menggunakan sampel tak bias. Sampel tak bias adalah sampel yang ditarik berdasarkan probabilitas (probability sampling). Dalam sampel probabilitas, setiap unsur populasi mempunyai nilai kemungkinan tertentu untuk dipilih. Karena sampel ini mengasumsikan kerandoman (randomness), maka sampel probabilitas lazim juga disebut sebagai sampel random. Bila kita mengambil sampel tertentu berdasarkan pertimbanganpertimbangan tertentu, kita memperoleh sampel pertimbangan (judgemental sampling), disebut juga sample non-probabilitas. Untuk kedua jenis sampling ini, ada beberapa alternatif teknik penelitian sampel. Teknik penarikan sampel sering disebut rencana sampling atau rancangan sampling (sampling design). Dari praktikum yang telah dilakukan mengenai simulasi estimasi populasi hewan. Kami mendapatkan hasil perhitungan menggunakan rumus Schanabel, maka didapat hasil 1046,06 dan standart errornya adalah11,1. Sedangkan pada data yang dilakukan perhitungan dengan Patersen didapat hasil 613,2 dan standart errornya adalah 102,12. Model Peterson menangkap sejumlah individu dari sujumlah populasi hewan yang akan dipelajari. Individu yang ditangkap itu diberi tanda kemudian dilepaskan kembali dalam beberapa waktu yang singkat. Setelah itu dilakukan pengambilan ( Penangkapan Ke 2 terhadap sejulah individu dari populasi yang sama. Dari penangkapan kedua inilah diidentifikasi indifidu yang bertanda yang berasal dari penangkapan pertama dan individu yang tidak bertanda dari hasil penangkapan ke dua. Metode schanebel ini dapat digunakan untuk mengurangi ke tidak validan dalam metode Patersen. Metode ini membutuhkan asumsi yang sama dengan metode Peterson yang ditambahkan dengan asumsi bahwa ukuran populasi harus konstan dari suatu periode sampling dengan periode berikutnya. Pada metode ini penangkapan penandaan dan pelepasan hewan dilakukan lebih dari 2 kali. Untuk setiap periode sampling semua hewan yang belum bertanda diberi tanda dan dilepaskan kembali (Odum,1992:67).

Pengambilan sampel yang hanya dengan menggunakan kancing tidak lah akurat untuk di lapangan. Bisa saja keadaan di lapangan tidak sesuai dengan apa yang kita kira. Menurut Michael (1994: 305), pengambilan contoh dalam populasi dapat menghasilkan prakiraan yang akurat mengenai populasi adalah keliru, kesadaran akan penyeberan tidak menentu suatu spesies yang di pelajari dapat di perhitungkan, peneliti dapat membuat pola-pola atas tempat penambilan sampel yang diamati. Suatu sampel dinyatakan tidak keliru apabila setiap individu populasi yang dipelajari memiliki kesempatan yang sama dan tidak bergantung untuk di kumpulkan.

KESIMPULAN Percobaan simulasi estimasi populasi hewan dilakukan dengan cara sederhana, yaitu metode Capture-Mark-Release-Recapture (CMMR). Penghitungan sebaran populasi yang diperoleh dapat dilakukan dengan penghitungan Schanabel dan Patersen. Penggunaan rumus Schanabel lebih akurat karena perhitungan dilakukan untuk setiap cuplikan yang dilakukan. Penghitungan dengan rumus Patersen mendapatkan hasil 613,2 dengan kesalahan baku (standar eror) 102,12. Penghitungan dengan rumus Schanabel melalui total seluruh data mendapatkan hasil 1046,06 dengan kesalahan baku (standar eror) 11,1. Populasi ditafsirkan sebagai kumpulan kelompok makhluk yang sama jenis (atau kelompok lain yang individunya mampu bertukar informasi genetic) yang mendiami suatu ruangan khusus, yang memiliki berbagai karakteristik yang walaupun paling baik digambarkan secara statistik, unik sebagai milik kelompok dan bukan karakteristik individu dalam kelompok itu. Kesalahan pengambilan sampel dapat terjadi karena keadaan lapangan tidak sesuai dengan prakiraan.

DAFTAR PUSTAKA Hadisubroto.T.1989. Dasar dan Teknik Pengambilan Sampel dalam Penyelidikan. UGM Press. Yogyakarta. McNaughton, S.J., dan Larry, W.F. 1990. Ekologi Umum. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Michael, P. 1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang Dan Laboratorium. UI Press. Jakarta. Odum, Howard, T. 1992. Ekologi Sistem. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Soetjipta.1992. Ekologi Sistem Suatu Pengantar. UI Press. Jakarta. Southwood. 1971. Ekologi Umum. Angkasa. Bandung. Sudarsono. 1978. Analisa Statistika. Aneka Cipta. Jakarta. Suin, N. M. 1989. Ekologi Umum. UGM Press. Yogyakarta. Sukarjo. 1989. Biostatistika. UGM Press. Yogyakarta.

http://widyadyas.blogspot.com/2012/01/v-behaviorurldefaultvmlo.html

Jumat, 20 Januari 2012


Diakses tanggal 18 Mei 2013.

Karakteristik Populasi adalah : 1. kepadatan (jumlah individu per satuan luas atau volume), 2. struktur umur (proporsi individu pada setiap kelas umur atau tahap kehidupan), 3. laju kelahiran 4. laju kematian
http://www.ut.ac.id/html/suplemen/biol4421/karakteristikpopulasi.html Pegertian Populasi Populasi adalah kumpulan organisme yang berasal dari spesies yang sama dan hidup di wilayah geografis yang sama pada waktu tertentu. Wilayah yang dihuni oleh populasi merupakan wilayah yang memungkinkan pasangan populasi dapat berkembangbiak melalui interaksi genetik sedemikian rupa, sehingga kecil kemungkinannya berinteraksi genetik dengan individu dari daerah lain. Jika populasi bisa bertahan pada taraf yang ideal, maka keseimbangan antara lingkungan dan regenerasi populasi dapat tercapai. Namun kenyataannya adalah populasi bertumbuh lebih cepat dari kemampuan bumi dan lingkungan kita untuk memperbaiki sumber daya yang ada sehingga pada akhirnya kemampuan bumi akan terlampaui dan berdampak pada kualitas hidup manusia yang rendah. Faktor yang mempengaruhi populasi Terdapat 2 faktor yang mempengaruhi pertumbuhan populasi, yaitu : 1. Density-dependent, tergantung kepada jumlah individu didalam populasi.

2. Density-independent,tidak tergantung kepada jumlah individu didalam populasi. Karena faktor: cuaca dan iklim (kekeringan, badai, banjir, angin, suhu dan lain-lain), kerusakan geologis (gempa, tsunami, letusan gunung berapi, dan lain-lan). Karakteristik POpulasi Pada dasarnya populasi mempunyai karakteristik yang khas untuk kelompoknya yang tidak dimiliki oleh masing-masing individu anggotanya. Karakteristik ini antara lain : kepadatan (densitas), laju kelahiran (natalitas), laju kematian (mortalitas), potensi biotik, penyebaran umur, dan bentuk pertumbuhan. Natalitas dan mortalitas merupakan penentu utama pertumbuhan populasi. Dinamika populasi dapat juga disebabkan imigrasi dan emigrasi. Hal ini khusus untuk organisme yang dapat bergerak, misalnya ternak dan manusia. Imigrasi adalah perpindahan satu atau lebih organisme ke daerah lain atau peristiwa didatanginya suatu daerah oleh satu atau lebih organisme; didaerah yang didatangi sudah terdapat kelompok dari jenisnya. Imigrasi ini akan meningkatkan populasi. Emigrasi adalah peristiwa ditinggalkannya suatu daerah oleh satu atau lebih organisme, sehingga populasi akan menurun. Secara garis besar, imigrasi dan natalitas akan meningkatkan jumlah populasi, sedangkan mortalitas dan emigrasi akan menurunkan jumlah populasi. Populasi ternak atau manusia dapat berubah, namun perubahan tidak selalu menyolok. Pertambahan atau penurunan populasi dapat menyolok bila ada gangguan drastis dari lingkungannya, misalnya adanya penyakit, bencana alam, dan wabah hama.

Karakteristik Populasi Populasi memiliki sifat-sifat (karakteristik) yang dapat diukur secara statistik dan bukan sifat daripada individu-individu penyusunnya, di antara sifat-sifat tersebut adalah kepadatan, laju perkembangan populasi, natalitas danmortalitas, distribusi umur, potensi biotik, penyebaran dan bentuk pertumbuhan.

1.

Laju Perkembangan Populasi

Laju perkembangan populasi ditandai dengan adanya perubahan jumlah populasi disetiap waktu. Perubahan ini biasanya dipengaruhi oleh jumlah kelahiran, kematian dan migrasi. Model eksponensial merupakan model pertumbuhan yang sangat sederhana. Pada model ini individu berkembang tidak dibatasi oleh lingkungan seperti kompetisi dan keterbatasan akan suplai makanan. Laju perubahan populasi dapat dihitung jika banyaknya kelahiran, kematian dan migrasi diketahui. Jeda waktu untuk populasi merespon terhadap perubahan dalam ketersediaan sumberdaya dapat mempengaruhi laju tercapainya keseimbangan pada daya dukung. Dengan berkurangnya sumber daya, laju pertumbuhan populasi akan menurun dan akhirnya berhenti; pola ini disebut sebagai pola pertumbuhan logistik. Tingginya laju pertumbuhan populasi, maka jumlah kebutuhan makanan pun meningkat padahal lahan yang ada sangat terbatas. Untuk memenuhi kebutuhan makanan, maka hutan pun mulai dibabat habis untuk menambah jumlah lahan pertanian yang ujungnya juga makanan untuk manusia. Konversi hutan menjadi tanah pertanian bisa menyebabkan erosi. Selain itu bahan kimia yang dipakai sebagai pupuk juga menurunkan tingkat kesuburan tanah. Dengan adanya pembabatan hutan dan erosi, maka kemampuan tanah untuk menyerap air pun berkurang sehingga menambah resiko dan tingkat bahaya banjir. Dalam demografi dan ekologi , tingkat pertumbuhan populasi (PGR= Percentage Growth) adalah tingkat di mana jumlah individu dalam suatu populasi meningkat dalam jangka waktu tertentu sebagai fraksi dari populasi awal. Secara khusus, PGR biasanya mengacu pada perubahan dalam populasi selama periode waktu unit, sering dinyatakan sebagai persentase dari jumlah individu dalam populasi pada awal periode itu. Cara yang paling umum untuk mengekspresikan pertumbuhan populasi adalah sebagai persentase, bukan sebagai tingkat. Perubahan dalam populasi selama periode satuan waktu dinyatakan sebagai persentase dari populasi pada awal periode waktu. Dengan Rumus:

Percentage Growth = Growth rate x 100%

Untuk periode waktu kecil dan tingkat pertumbuhan, populasi ditambahkan adalah tingkat pertumbuhan dikalikan dengan jangka waktu. Sebuah rasio pertumbuhan positif (atau tingkat) menunjukkan bahwa populasi meningkat, sementara rasio pertumbuhan negatif menunjukkan

populasi menurun. Sebuah rasio pertumbuhan nol menunjukkan bahwa ada jumlah yang sama orang di dua kali - selisih bersih antara kelahiran, kematian tingkat pertumbuhan mungkin nol bahkan ketika ada perubahan signifikan dalam tingkat kelahiran, tingkat kematian, tingkat imigrasi, dan usia distribusi antara dua kali. Demikian pula, persen angka kematian = jumlah rata-rata kematian dalam setahun untuk setiap 100 unit/individu dalam total populasi. (Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Population_growth) 2. Natalitas (Kelahiran)

Natalitas merupakan kemampuan suatu populasi untuk menambah jumlah anggotanya secara inheren/besar. Laju natalitas adalah sama dengan laju kelahiran dalam terminology ilmu kependudukan (demography). Natalitas maksimum adalah penambahan jumlah anggota populasi dalam kondisi ideal (tidak ada faktor eksternal yang membatasi). Sedangkan natalitas ekologi adalah pertambahan jumlah anggota populasi dalam kondisi alam senyatanya. Natalitas biasanya dinyatakan sebagai laju yang diperoleh dengan membagi jumlah individu baru yang dihasilkan dengan satuan waktu (dNt/dt, laju natalitas absolute) yang dapat juga dinyatakan dalam jumlah individu baru per-satuan waktu per-satuan populasi (dNt/Ndt) disebut natalitas spesifik). Untuk natalitas dNn menunjukkan jumlah individu baru yang ditambahkan kepada populasi. Laju natalitas dapat nol (0) atau positip, tetapi tidak pernah negatif. Tetapi untuk laju pertumbuhan dN menunjukkan jumlah bersih penambahan atau pengurungan dalam populasi yang merupakan hasil bukan saja oleh natalitas tetapi juga oleh mortalitas, emigrasi. Jadi laju pertumbuhan mungkin negatip, nol atau positip karena populasi dapat berkurang atau tetap bertambah besar (Sumber: http://www.kamusbesar.com/26886/natalitas) Angka kelahiran adalah angka yang menunjukkan bayi yang lahir dari setiap 1000 populasi per tahun. Angka kelahiran pedet/anak dapat dibagi menjadi tiga kriteria, yaitu: 1. Angka kelahiran dikatakan tinggi jika angka kelahiran > 30 per tahun. 2. Angka kelahiran dikatakan sedang jika angka kelahiran 20-30 per tahun. 3. Angka kelahiran dikatakan rendah jika angka kelahiran < 20 per tahun.

3.

Mortalitas

Mortalitas adalah ukuran jumlah kematian (umumnya, atau karena akibat yang spesifik) pada suatu populasi, skala besar suatu populasi, per dikali satuan. Mortalitas khusus mengekspresikan pada jumlah satuan kematian per 1000 individu per tahun, hingga, rata-rata mortalitas sebesar 9.5 berarti pada populasi 100.000 terdapat 950 kematian per tahun. Mortalitas berbeda dengan morbiditas yang merujuk pada jumlah individual yang memiliki penyakit selama periode waktu tertentu. (Sumber :http://id.wikipedia.org/wiki/Mortalitas) Angka kematian kasar adalah angka menunjukkan banyaknya per 1000 pupulasi pada pertengahan tahun tertentu, disuatu wilayah tertentu.

Rumus : CDR = D/P x K

(Dimana : CDR = Crude Death Rate/Angka Kematian Kasar; D =Jumlah kematian (death) pada tahun tertentu; P = Jumlah populasi pada pertengahan tahun tertentu; K = Bilangan konstan 1000). Definisi mortalitas tersebut harus diketahui, untuk mendapatkan data mortalitas yang benar. Mortalitas hanya bisa terjadi kalau sudah terjadi kelahiran hidup atau keadaan mati selalu didahului dengan keadaan hidup. Oleh karena itu, harus dibedakan dengan Lahir hidup (live birth) dan Lahir mati (fetal death). Lahir hidup (live birth) yaitu peristiwa keluarnya hasil konsepsi dari rahim seekor ternak secara lengkap tanpa memandang lamanya kebuntingan dan setelah perpisahan tersebut terjadi; hasil konsepsi bernafas dan mempunyai tanda-tanda hidup lainnya, seperti denyut jantung, denyut tali pusat, atau gerakan-gerakan otot, tanpa memandang apakah tali pusat sudah dipotong atau belum. Lahir Mati (fetal death) yaitu peristiwa menghilangnya tanda-tanda kehidupan dari hasil konsepsi sebelum hasil konsepsi tersebut dikeluarkan dari rahim induknya. Lahir mati dibedakan menjadi: Stillbirth (late fetal death) yaitu kematian yang terjadi pada janin yang berusia 20-28 minggu Aborsi yaitu kematian janin yang terjadi pada awal kebuntingan Laju mortalitas adalah sama dengan laju kematian dalam demografi manusia/ternak. Mortalitas dapat dibedakan atas mortalitas fisiologik dan ekologik. Mortalitas fisiologik adalah pengurangan individu anggota populasi dalam kondisi yang ideal. Semua organisme dalam kondisi ideal sekalipun akan mengalmi kematian sekalipun dalam umur relatif tua, yang secara teoritis ditentukan oleh longivitas fisiologik. Sedangkan mortalitas ekologik adalah pengurangan individu anggota populasi dalam kondisi alam senyatanya. Angka kematian ini biasanya lebih besar dibandingkan dengan kematian dalam kondisi ideal dan bukan merupakan tetapan. Umurnya mortalitas spesifik dinyatakan sebagai persentase yang mati dalam waktu yang tertentu dari populasi permulaan. Karena kita sering tertarik kepada organisme yang hidup dari pada mati, maka sering mortalitas ditunjukkan dari segi kadar (persentase) survival. (Sumber : http://lumele.blogspot.com/2009_01_01_archive.html) Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 2000) mendefinisikan kematian sebagai suatu peristiwa menghilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen, yang biasa terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup. Mortalitas atau kematian merupakan salah satu diantara tiga komponen proses demografi yang berpengaruh terhadap struktur populasi selain fertilitas dan migrasi. Tinggi rendahnya tingkat mortalitas di suatu daerah tidak hanya mempengaruhi pertumbuhan populasi, tetapi juga bisa dijadikan sebagai barometer dari tinggi rendahnya tingkat kesehatan di daerah tersebut. Kasus kematian terutama dalam jumlah banyak berkaitan dengan masalah sosial, ekonomi, adat istiadat maupun masalah kesehatan lingkungan.

http://blogalexanderkakaspt.blogspot.com/2011/11/beberapa-karakteristik-atau-sifat-sifat.html BEBERAPA KARAKTERISTIK ATAU SIFAT-SIFAT POPULASI Oleh : Alexander Kaka, S.Pt Mahasiswa Undana-Kupang Tahun 2011 Ciri-Ciri Dasar Populasi Ada dua ciri dasar populasi, yaitu :ciri biologis, yang merupakan ciri-ciri yang dipunyai oleh individu-individu pembangun populasi itu, serta ciri-ciri statistik, yang merupakan ciri uniknya sebagai himpunan atau kelompok individu-individu yang berinteraksi satu dengan lainnya 1.ciri- ciri biologi Seperti halnya suatu individu, suatu populasi pun mempunyai ciri- ciri biologi, antara lain : a. Mempunyai struktur dan organisasi tertentu, yang sifatnya ada yang konstan dan ada pula yang berfluktuasi dengan berjalannya waktu (umur) b. Ontogenetik, mempunyai sejarah kehidupan (lahir, tumbuh, berdiferensiasi, menjadi tua = senessens, dan mati) c. Dapat dikenai dampak lingkungan dan memberikan respons terhadap perubahan lingkungan d. Mempunyai hereditas e. Terintegrasi oleh faktor- faktor hereditaa oleh faktor- fektor herediter (genetik) dan ekologi (termasuk dalam hal ini adalah kemampuan beradaptasi, ketegaran reproduktif dan persistensi. Persistensi dalam hal ini adalah adanya kemungkinan untuk meninggalkan keturunanuntuk waktu yang lama. 2. ciri- ciri statistik Ciri- ciri statistik merupakan ciri- ciri kelompok yang tidak dapat di terapkan pada individu, melainkan merupakan hasil perjumpaan dari ciri- ciri individu itu sendiri, antara lain: a. Kerapatan (kepadatan) atau ukuran besar populasi berikut parameter- parameter utama yang mempengaruhi seperti natalitas, mortalitas, migrasi, imigrasi, emigrasi. b. Sebaran (agihan, struktur) umur c. Komposisi genetik (gene pool = ganangan gen) d. Dispersi(sebaran individu intra populasi

http://roryblog-rory.blogspot.com/2011/12/populasi.html Untuk memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan populasi kita harus mengenal istilah-istilah yang dipakai, bahkan karena penelitian tentang populasi menggunakan angka-angka, maka juga harus mengerti tentang matematika. Istilah-istilah yang dimaksud misalnya yang dijumpai dalam mempelajari karakteristik populasi. Dinamika Populasi Merupakan ilmu yang mempelajari pertumbuhan serta pengaturan populasi. Hal ini tentu berkaitan dengan parameter populasi. Khusus di dalam pengaturan kerapatan populasi dikenal adanya mekanisme density dependent (mekanisme yang bergantung kepada kerapatan) dan mekanisme density independent (mekanisme yang tak bergantung pada kerapatan). Secara umum, aspek-aspek yang dipelajari dalam dinamika populasi adalah: a. b. Populasi sebagai komponen dari sistem lingkungan. Perubahan jumlah individu dalam populasi.

c. Tingkat penurunan, peningkatan, penggantian individu dan proses yang menjaga kestabilan jumlah individu dalam populasi. d. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perubahan jumlah individu dalam populasi.

Kingdom: Plantae (Tumbuhan) Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Sub Kelas: Rosidae Ordo: Fabales Famili: Fabaceae (suku polong-polongan) Genus: Arachis Spesies: Arachis hypogaea L.

http://www.plantamor.com/index.php?plant=122 Ukuran Populasi


Selanjutnya, sebuah kesimpulan dapat ditarik dari cuplikan tersebut yang dapat menggambarkan seluruh populasi dan komunitas yang dimaksud. 1) Kepadatan/ Kerapatan (Density) Kepadatan adalah nilai yang menunjukkan jumlah individu dari jenis-jenis yang menjadi anggota suatu komunitas flora dalam luasan tertentu. Dalam studi ekologi populasi, jumlah individu merupakan informasi dasar, dan kepadatan adalah jumlah individu per satuan luas atau per satuan volume. Salah satu masalah yang sering menghambat dalam melakukan pencuplikan (sampling) tumbuhan adalah penentuan jumlah individu. Perhitungan jumlah pohon dan banyaknya tumbuhan herba lainnya mungkin tidaklah sulit namun bila tanaman tersebut tumbuh berkelompok/bergerombol atau berkembang biak melalui akar rhizoma dalam tanah, maka konsep umum tentang individu bisa membingungkan. Kita harus menghitung tunasnya atau batangnya satu per satu, atau bila tumbuhan tersebut bisa tumbuh dalam kelompok-kelompok yang berbeda bisa saja kita menganggap satu rumpun tersebut menjadi satu individu.

2) Frekuensi (frequency) Frekuensi adalah jumlah kehadiran (ditemukannya) suatu jenis flora dalam suatu kawasan (kemungkinan ditemukannya suatu jenis flora dalam areal sampel). Dalam beberapa studi, frekwensi diartikan sebagai jumlah sampel dimana jenis yang dimaksud ditemukan. Hal ini digambarkan sebagai proporsi/ bagian dari jumlah seluruh sampel yang berisi jenis yang dimaksud. Jadi bila suatu jenis terdapat dalam 7 dari 10 sampel yang diambil maka frekuensinya adalah 7/10 atau 0,7. Hal ini sama saja dengan mengatakan probabilitas untuk menemukan jenis yang dimaksud dalam sampel adalah 0,7. Perhitungan nilai frekuensi sangat penting dalam mengetahui pola distribusi individu suatu jenis, dan juga berguna untuk menggambarkan dan untuk menguji pola distribusi berbagai jenis tumbuhan. 3) Biomassa (biomass) Biomassa merupakan berat individu suatu populasi, atau kelompok populasi per unit kawasan atau volume. Sebagai contoh, bila kita mengatakan jumlah kilogram suatu jenis per ha, atau jumlah miligram suatu jenis dalam kolam air. Biomassa berguna untuk menggambarkan strukturb topik suatu komunitas. Dalam komunitas terestrial misalnya, jenis yang memiliki biomassa yang besar seringkali sangat berpengaruh dalam aliran energi dan material dalam tingkat tropiknya. Setiap jenis memiliki perbedaan biomassa sehingga data biomassa seringkali lebih berguna dari nilai padatnya. 4) Penutupan (coverage/dominance) Penutupan merupakan bagian tanah yang ditutupi oleh bagian atas suatu individu tumbuhan melalui proyeksi vertikalnya (bila dilihat dari atas). Penutupan dihitung sebagai daerah tertutup oleh suatu jenis dibagi seluruh luas areal sampel. Contohnya, penutupan suatu jenis tumbuhan 180 cm2/ha. Dalam mengukur tutupan tajuk (foliage coverage) umumnya dicari dengan mengukur keliling atau diameter tanaman yang tumbuh berkelompok setinggi 2 s/d 3 cm dari atas tanah dan menggunakannya sebagai data penutupan tajuknya.

http://www.ideelok.com/sumber-daya-alam/ukuran-ukuran-ekologis-populasi-flora