Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN MINGGUAN KIMIA FISIK 2

No. / Judul Percobaan Tanggal Percobaan

: Kinematika Adsorpsi : 16 Maret 2012

Tanggal Percobaan : Kinematika Adsorpsi : 16 Maret 2012 Disusun Oleh : Nama : Eunike Lois

Disusun Oleh :

Nama

: Eunike Lois Palapessy

NIM

: 1007035007

Kelompok

:

5 A

Asisten

: Ahmad Maulana

NIM

: 0907035028

LABORATORIUM KIMIA ANALITIK, ANORGANIK DAN FISIK FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS MULAWARMAN SAMARINDA

2012

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kinetika kimia merupakan pengkajian laju dan mekanisme reaksi kimia. Besi lebih cepat berkarat dalam udara lembab daripada dalam udara kering; makanan lebih cepat membusuk bila tidak didinginkan ; kulit (bule) lebih cepat menjadi gelap pada musim panas daripada dalam musim dingin. Ini merupakan tiga contoh lazim dari perubahan kimia yang kompleks dengan laju yang beraneka menurut kondisi reaksi. Yang lebih mendasar daripada sekedar laju reaksi adalah bagaimana perubahan kimia berlangsung. Proses pada permukaan menentukan kebanyakan aspek kehidupan sehari- hari, termasuk kehidupan itu sendiri. Bahkan jika kita membatasi perhatian kita pada permukaan padat saja, pentingnya proses itu hampir tidak berkurang. Salah satu sifat penting dari permukaan zat adalah adsorpsi. Adsorpsi digunakan untuk menyatakan bahwa zat lain yang terserap pada zat itu. Misalnya karbon aktif dapat menyerap molekul-molekul asam asetat dalam larutannya. Pada praktikum “Kinetika Adsorpsikali ini, kami menggunakan zeolit sebagai adsorben, yang akan menyerap molekul-molekul asam asetat dalam larutan pada varisi waktu yang telah ditentukan. Yang melatarbelakangi praktikum “Kinetika Adsorpsi” ini adalah agar praktikan dapat mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kinetika adsorpsi, Menentukan nilai k pada orde reaksi satu, orde reaksi dua, dan orde reaksi tiga, serta dapat mengetahui pengaruh waktu terhadap adsorpsi.

1.2. Tujuan

- Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kinetika adsorpsi

- Menentukan nilai k pada orde reaksi satu, orde reaksi dua, dan orde reaksi tiga secara praktek

- Mengetahui pengaruh waktu terhadap adsorpsi secara praktek

1.3. Prinsip Praktikum “Kinetika Adsorpsi” ini berprinsipkan pada pengaruh variasi waktu pengadukan selama 10 menit, 20 menit, 30 menit dan 40 menit terhadap campuran zeolit dan asam asetat apakah menyebabkan perubahan konsentrasi pada asam asetatnya setelah diadsorpsi, dimana zeolit sebagai adsorben akan menyerap molekul-molekul asam asetat, yang menjadi adsorbatnya yaitu zat yang akan diserap oleh adsorben. Dalam hal ini, konsentrasi asam asetat setelah diadsorpsi didapatkan setelah dititrasi dengan larutan NaOH, asam asetat sebelumnya ditambahi beberapa tetes indikator pp sehingga titik akhir titrasi ditandai oleh perubahan warna larutan menjadi merah lembayung.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Kinetika kimia merupakan pengkajian laju dan mekanisme reaksi kimia. Besi lebih cepat berkarat dalam udara lembab daripada dalam udara kering; makanan lebih cepat membusuk bila tidak didinginkan. Ini merupakan contoh lazim dari perubahan kimia yang kompleks dengan laju yang beraneka menurut kondisi reaksi. Yang lebih mendasar daripada sekedar laju reaksi adalah bagaimana perubahan kimia berlangsung. Adsorpsi . Banyak zat padat yang bertindak sebagai katalis, dapat mengikat cukup banyak kuantitas gas dalam cairan pada permukaan mereka berdasarkan adsorpsi. Nikel yang bubuk halus dan platinum dikenal dengan kemampuannya mengadsorpsi sejumlah besar anekaragam gas. Molekul yang teradsorpsi seringkali lebih aktif daripada molekul yang tak teradsorpsi. Dalam beberapa hal naiknya kereaktifan ini dapat disebabakan oleh naiknya konsentrasi molekul yang teradsorpsi; mereka berjejalan pada permukaan zat padat itu, sedangkan dalam keadaan gas mereka terpisah jauh satu sama lain. ( Keenan, dkk. 1984 ) Proses pada permukaan menentukan kebanyakan aspek kehidupan sehari- hari, termasuk kehidupan itu sendiri. Proses pada permukaan padat, menentukan kelangsungan hidup industri, baik yang konstruktif, seperti dalam katalisis, maupun yang destruktif seperti dalam korosi. Akumulasi partikel pada permukaan, disebut absorpsi. Zat yang mengabsorpsi disebut absorbat dan material yang dibawahnya merupakan adsorben atau substrat. Kebalikan dari absorpsi adalah desorpsi. Molekul dan atom dapat menempel pada permukaaan dengan dua cara. Dalam fisisorpsi (kependekan dari “adsorpsi fisika”), terdapat antaraksi van Der Waals (contohnya dispersi atau antaraksi dipolar) antara absorpat dan substrat. Dalam kimisorpsi (kependekan sari “adsorpsi kimia”), partikel melekat pada permukaan dengan membentuk ikatan kimia (biasanya ikatan kovalen), dan

cenderung mencari tempat yang memaksimumkan bilangan koordinasinya dengan substrat. Entalpi kimisorpsi jauh lebih besar daripada unutk fisisorpsi, dan nilai khasnya adalah sekitar -200kJ mol -1 . Molekul yang terkimisorpsi, dapat terpisah karena tuntutan valensi atom permukaan yang tidaak terpenuhi. Adanya fragmen molekul pada permukaan, sebagai hasil kimisorpsi, merupakan salah satu alasan mengapa permukaan mengkatalisa reaksi. Laju tertutupnya permukaan oleh absorpat, bergantung pada kemampuan substrat untuk menghamburkan energi partikel datang sebagai gerakan termal, saat partikel itu menabrak permukaan. Jika energi itu tidak dihamburkan dengan cepat, partikel itu bermigrasi di atas permukaan, sampai sebuah vibrasi mengeluarkannnya ke dalam gas pelapis, atau partikel itu mencapai tepian. Perbandingan antara tabrakan dengan permukaan yang menghasilkan absorpsi disebut peluang melekat s :

Penyebutnya dapat dihitung dari teori kinetika, dengan pembilangnya dapat diukur dengan mengamati laju perubahan tekanan.

(Atkins, P.W. 1996) Dalam struktur silikat dan borat jenis kation atau bahkan muatannya relatif tidak penting, selama muatan positif total setara dengan muatan negatif total. Pada struktur pyroxene yang dijumpai dalam banyak mineral, bisa didapatkan MgSiO 3 , CaMg(SiO 3 ) 2 , dan sebagainya. Kation terletak di anatara rantai, sehingga identitasnya yang khas tidak begitu berperan dalam struktur, sejauh muatan positif yang diperlukan memang tersedia.Begitu pula dalam hal anion lembaran, kation berada di antara lembaran. Zat semacam itu diharapkan dapat mudah dibelah; mica menunjukkan sifart tersebut karena merupakan silikat lembaran. Jika keempat atom oksigen pada setiap tetrahedron SiO 4 digunakan bersama, terjadilah struktur silika SiO 2 . Namun bila beberapa ion Si 4+ diganti oleh Al 3+ , maka rangka harus bermuatan negatif, dan ion lawan yang positif harus didistribusikan ke dalamnya.

Mineral rangka semacam itu adalah alumininasilikat. Ini merupakan mineral silikat alam yang paling beragam, banyak didapatkan, dan sangat bermanfaat. Banyak aluminasilikat sintetik dapat dibuat, beberapa diproduksi secara industri untuk digunakan sebagai penukar ion (bila basah) dan sebagai penapis molekul (bila kering). Di antara aluminasilikat yang paling penting adalah zeolit. Ciri-cirinya yang utama adalah kerangaka [(Al,Si)O 2 ] n yang selalu terbuka. Komposisinya selalu dengan tipe M x/n [(AlO 2 ) x (SiO 2 ) y ] z H 2 O dimana n adalah muatan kation logam , M n+ , yang selalu Na + , K + , atau Ca 2+ , dan z adalah jumlah mol air hidrasi yang sangat beragam. Keterbukaan struktur ini dihasilkan dalam pembentukan saluran dan rongga dengan ukuran garis tengah yang berbeda-beda meranah dari 2

sampai 11 . Molekul dengan ukuran yang tepat dapat terperangkap dalam lubang, dan sifat inilah yang memungkinkan penggunaanya sebagai adsorben yang selektif. Zeolit dinamakan juga “penapis molekul”, digunakan juga sebagai pendukung logam-logam yang kompleks atau logam kompleks yang dipakai dalam reaksi katalis heterogen. Zeolit yang dipakai, terutama sintetis. Misalnya, kristalisasi lambat dari gel natrium aluminasilikat pada , kondisi yang diawasi dengan cermat dan komposisi yang tepat menghasilkan senyawaan kristal Na 12 [(AlO 2 ) 12 (SiO 2 ) 12 ] 27 H 2 O. Bentuk terhidrat ini dapat dipakai sebagai nukar kation dalam larutan basa. Dalam hidrat, semua rongga mengandung molekul air, dalam keadaan anhidrat yang diperoleh dengan pemanasan dalam vakum sampai kira-kira 350 o , rongga yang terisi oleh molekul lain yang bersentuhan dengan zeolit, menghasilkan suatu molekul yang dapat menekan melalui celah yang menghubungkan rongga-rongga. Molekul-molekul dalam rongga-rongga. Molekul-molekul dalam rongga kemudian cenderung untuk bertahan disana dengan gaya tarik elektrostatis dan gaya van der Waals. Jadi, zeolit dapat menahan dan menahan secara kuat molekul-molekul yang tepat cukup kecil untuk masuk ke dalam rongga. Zeolit tidak akan memnyerap molekul-molekul yang terlalu besar untuk masuk ke dalam rongga, dan tidak menyerap molekul-molekul lemah yang sangat kecil atau atom-atom yang dapat masuk tapi mudah akan

terlepas kembali. Misalnya, hidrogen karbon berantai lurus dapat diserap, tapi yang berantai cabang dan aromatis tidak. (Cotton, F.Albert & Wilkinson, Geoffrey. 1989) Adsorpsi suatu zat pada permukaan adsorben bergantung pada beberapa faktor dan memiliki pola isoterm adsorpsi tertentu. Untuk proses adsorpsi yang terjadi dalam larutan, jumlah zat yang teradsorpsi bergantung pada : (1) jenis adsorben, (2) jenis adsorbat atau zat yang teradsorpsi, (3) luas permukaan adsorben, (4) konsentrasi zat terlarut, dan (5) temperatur. Terdapat tiga pola isoterm adsorpsi, yaitu isoterm adsorpsi Freundlich, Lamngmuir, dan BET (Brunauer, Emmet dan Teller). Adsorpsi molekul atau ion pada permukaan padatan umumnya terbatas pada lapisan satu molekul (monolayer). Dengan demikian adsorpsi tersebut biasanya mengikuti persamaan adsorpsi Freundlich

3+

dan atau Langmuir. Menurut hasil penelitian Rumiati (2007), adsorpsi ion Cr oleh abu sekam padi varietas IR 64 mengikuti pola isoterm adsorpsi Langmuir.

Menurut Fatria (2006), adsorpsi ion Cr 3+ oleh serbuk gergaji kayu kamper juga sesuai dengan pola isoterm adsorpsi Langmuir. Menurut Mawardi (2000),

adsorpsi ion Pb 2+ oleh dedak padi sesuai dengan pola isoterm adsorpsi Langmuir. Menurut Redhana (1994), adsorpsi amoniak dalam larutan air oleh karbon aktif sesuai dengan pola isoterm adsorpsi Freundlich dan Langmuir. (I Nyoman Suardana, et all. 2008) Kinetika adsorpsi menyatakan adanya proses penyerapan suatu zat oleh adsorben dalam fungsi waktu. Adsorpsi terjadi pada permukaan zat padat karena adanya gaya tarik atom atau molekul pada permukaan zat padat. Molekul-molekul pada permukaan zat padat atau zat cair, mempunyai gaya tarik ke arah dalam, karena tidak ada gaya-gaya lain yang mengimbangi. Adanya gaya-gaya ini menyebabkan zat padat dan zat cair, mempunyai gaya adsorpsi. Adsorpsi berbeda dengan absorpsi. Pada absorpsi zat yang diserap masuk ke dalam absorbens sedangkan pada adsorpsi zat yang diserap hanya terdapat pada permukaannya (Sukardjo, 1990).

BAB 3

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1.

Alat dan Bahan

3.1.1.

Alat

Buret

Labu Erlemenyer

Labu Ukur

Corong kaca

Gelas Beker

Pipet Tetes

Stopwatch

Spatula

Neraca Analitis

Termal shaker

Tiang statip

Klem

3.1.2.

Bahan

Kertas saring

Tissue

Aquades

Zeolit

Indikator pp

Larutan CH 3 COOH

Larutan NaOH

3.2. Prosedur Percobaan

Ditimbang 10 gram Zeolit & dimasukkan ke dalam beaker glass

Di tambahkan 20 ml asam asetat ke dalam beaker glass

Dikocok beaker glass selama 10 menit, 20 menit, 30 menit, dan 40 menit

Disaring masing-masing filtrat & diukur volumenya untuk yang 10 menit, 20 menit, 30 menit dan 40 menit

Dimasukkan ke dalam labu Erlemenyer, filtrat yang telah didapatkan , masing-masing ditambahkan indikator pp

Dititrasi filtrat yang telah di dapatkan dengana NaOH 0,5 M

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.

Tabel Pengamatan

 
     

V

     

t

[CH 3 COOH] 0

CH 3 COOH S

[CH 3 COOH] S

[NaOH]

V NaOH

10

0,5

 

17

 

0,52

 

0,5

17,8

20

0,5

 

16

 

0,48

 

0,5

15,2

30

0,5

 

16

 

0,50

 

0,5

16,1

40

0,5

 

16

 

0,52

 

0,5

16,5

 

In [CH 3 COOH]

   

t

10

-0,654

 

1,923

   

3,698

 

20

-0,734

 

2,083

   

4,34

30

-0,693

 

2

 

4

40

-0,654

 

1,923

   

3,698

 

4.2.

Reaksi

4.2.1.

CH 3 COOH + NaOH CH 3 COOH + NaOH → CH 3 COONa + H 2 O

 

4.2.2.

Indikator PP + NaOH

 

OH

OH

+ NaOHNaOH → CH 3 COONa + H 2 O   4.2.2. Indikator PP + NaOH  

O ONa C COONa
O
ONa
C
COONa

+ H 2 O

4.2.3. Indikator PP + CH 3 COOH

OH

OH

C O C O
C
O
C
O

+ CH 3 COOH

PP + CH 3 COOH OH OH C O C O + CH 3 COOH 4.3.

4.3.

Perhitungan

4.3.1.

Konsentrasi [CH 3 COOH] setelah dititrasi

- t = 10 menit

17mL . M 1

M 1

- t = 20 menit

16mL . V 1

V 1

- t = 30 menit

16mL . V 1

V 1

- t = 40 menit

16mL . V 1

V 1

= 0,5 M . 17,8 mL = 0,52 mL

= 0,5 M . 15,2 mL = 0,48 mL

= 0,5 M . 16,1 mL = 0,50 mL

= 0,5 M . 16,5 mL = 0,52 mL

4.3.2. Penentuan nilai k secara teori

4.3.2.1.Orde Satu In C = -kt + In Co

Co = 0,5 M

k

=

 

In Co = - 0,693

 

- t = 10 menit In C = -kt + In Co

k

k

=

=

k

=

k

=

k

= 0,1347

- t = 20 menit In C = -kt + In Co

k

k

=

=

k

=

k

=

k

= 0,07135

- t = 30 menit In C = -kt + In Co

k

k

k

=

=

=

k

k

=

= 0,0693

- t = 40 menit In C = -kt + In Co

k

k

=

=

k

=

k

k = 0,033675

=

4.3.2.2.Orde Dua

- t = 10 menit

k

k

= - 0,0077

C 0

= 0,5 M

- t = 20 menit

k

k = 0,0415

- t = 30 menit

k

k = 0

- t = 40 menit

k

4.3.2.3.Orde Tiga

- t = 10 menit

 

=

=

k

= 0,0151

- t = 20 menit

 

=

=

k

= 0,00850695

C o = 0,5

=

- t = 30 menit

=

=

k = 0

- t = 40 menit

 

=

=

k

= 0,003775

4.3.3. Penentuan nilai k secara praktek

4.3.3.1.Orde Satu

y

= ax + b

k

= a

y

= 0,0004x - 0,694

4.3.3.2.Orde Dua

y

= ax + b

k

= a

y

= -0,0008x + 2,003

k

= -0,0008

4.3.3.3.Orde Tiga

y

= ax + b

k

= a

y

= -0,0034x + 4,019

k

= -0,0034

4.4.

Grafik

4.4.1.

Orde 1

Orde 1

-0.64 0 10 20 30 40 50 -0.66 -0.68 -0.7 -0.72 -0.74 In C
-0.64
0
10
20
30
40
50
-0.66
-0.68
-0.7
-0.72
-0.74
In C

t

Series1 Linear (Series1) y = 0.0004x - 0.694 R² = 0.0192
Series1
Linear (Series1)
y = 0.0004x - 0.694
R² = 0.0192

4.4.2.

Orde 2

Orde 2 1/([CH 3 COOH]) 2.1 2.05 2 1.95 1.9 0 10 20 30 40
Orde 2
1/([CH 3 COOH])
2.1
2.05
2
1.95
1.9
0
10
20
30
40
50

t

Series1 Linear (Series1) y = -0.0008x + 2.003 R² = 0.0197
Series1
Linear (Series1)
y = -0.0008x + 2.003
R² = 0.0197

4.4.3. Orde 3

1/[CH 3 COOH] 2 Orde 3 4.4 4.3 4.2 4.1 4 3.9 3.8 3.7 3.6
1/[CH 3 COOH] 2
Orde 3
4.4
4.3
4.2
4.1
4
3.9
3.8
3.7
3.6
0
10
20
30
40
50

t

2 Orde 3 4.4 4.3 4.2 4.1 4 3.9 3.8 3.7 3.6 0 10 20 30

Series1

Linear (Series1)

c

R² = 0,0206

4.5. Pembahasan Kinetika kimia adalah pengkajian laju dan mekanisme reaksi kimia. Adsorpsi adalah penyerapan suatu zat pada permukaan zat lain. Absorpsi adalah penyerapan suatu zat dari dalam zat tersebut. Desorpsi adalah pelepasan kembali molekul-molekul yang telah diserap oleh suatu zat. Adsorben adalah substansi yang bertindak sebagai penyerap molekul tertentu pada substansi lain. Adsorbat adalah substansi yang terserap atau substansi yang akan dipisahkan dari zat lain.

Contoh adsorben yang saya ketahui adalah kapas, zeolit, karbon aktif (norit), kapas, silika gel,bentonit. Secara umum peristiwa adsorpsi yang terjadi pada larutan terbagi atas dua bagian yaitu adsorpsi fisika dan adsorpsi kimia. Adsorpsi fisika merupakan adsorpsi yang disebabkan oleh gaya Van der Waals yang ada pada permukaan adsorben, panas adsorben biasanya rendah dan terjadi di lapisan pada permukaan adsorben yang umumnya lebih besar dari satu mol. Sedangkan adsorpsi kimia adalah adsorpsi yang terjadi karena adanya reaksi antara zat yang diserap dan adsorben, lapisan molekul pada permukaan adsorben hanya satu lapis dan panas adsorpsinya tinggi. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan adsorpsi suatu adsorben diantaranya adalah sebagai berikut:

1.Luas permukaan adsorben Semakin luas permukaan adsorben, semakin banyak adsorbat yang diserap, sehingga proses adsorpsi dapat semakin efektif. Semakin kecil ukuran diameter partikel maka semakin luas permukaan adsorben. 2.Ukuran partikel Makin kecil ukuran partikel yang digunakan maka semakin besar kecepatan adsorpsinya. Ukuran diameter dalam bentuk butir adalah lebih dari 0.1 mm, sedangkan ukuran diameter dalam bentuk serbuk adalah 200 mesh. 3.Waktu kontak Semakin lama waktu kontak dapat memungkinkan proses difusi dan penempelan molekul adsorbat berlangsung lebih baik. Konsentrasi zat-zat organik akan turun apabila kontaknya cukup dan waktu kontak biasanya sekitar 10-15 menit. 4.Distribusi ukuran pori Distribusi pori akan mempengaruhi distribusi ukuran molekul adsorbat yang masuk ke dalam partikel adsorben. Kebanyakan zat pengadsorpsi atau adsorben merupakan bahan yang sangat berpori dan adsorpsi berlangsung terutama pada dinding-dinding pori atau letak-letak tertentu didalam partikel terse. 5. Macam adsorben

Jenis adsorben yang kita pakai, dapat mempengaruhi adsorpsi,karena setiap adsorben pasti memiliki ukuran pori-pori yang berbeda sehingga daya serapnya pun berbeda pula

6. Macam zat yang diadsorpsi

Sama halnya dengan jenis adsorben, zat yang diadsorpsi memilki ukuran partikel yang berbeda-beda pula, apabila ukurannya sama dengan ukuran pori-pori pada adsorben maka dapat mempercepat adsorpsi. Selain itu, semakin kecil ukuran partikel maka semakin banyak pula partikel yang mampu diserap oleh

adsorbennya.

7. Temperatur

8. Tekanan

9. Konsentrasi

Kinetika adsorpsi adalah menyatakan adanya proses penyerapan suatu zat oleh adsorben dalam fungsi waktu. Laju reaksi proses penyerapan molekul tertentu pada suatu zat (adsorbat) oleh suatu zat lain(adsorben) pada konsentrasi tertentu pada variasi waktu yang ditetapkan, apakah mempengaruhi perubahan konsentrasi zat (adsorbat) tersebut atau tidak. Adsorpsi terjadi pada permukaan zat padat karena adanya gaya tarik atom atau molekul pada permukaan zat padat. Pada praktikum ini, kita mempelajari bagaimana pengaruh waktu terhadap kinetika adsorpsi. Perlakuan pertama , ditimbang 10 gram Zeolit, yang digunakan sebagai adsorben untuk menyerap molekul pada suatu larutan. Penimbangan dilakukan untuk memastikan bahwa berat zeolit yang digunakan sesuai denagn prosedur yang ada.Setelah ditimbang zeolit sebanyak 4 kali, dimasukkan ke dalam beaker glass masing-masing. Sebelum dicampur dengan larutan asam asetat, zeolit dicuci terlebih dahulu untuk menghilangkan kelebihan kapur dan pengotor lainnya pada zeolit. Pada setiap beaker glass, diberi label masing-masing secara berturut

10 menit, 20 menit, 30 menit, dan 40menit. Lalu ke dalam ke empat beaker glass tersebut dimasukkan masing-masing 20mL asam asetat 0,5 M, dan diaduk dalam termal shaker sesuai dengan waktu yang tertera. Larutan asam asetat ini bertindak sebagai adsorbat, dimana zeolit akan menyerap molekul asam asetat.

Setelah pengadukan selesai, campuran zeolit dan larutan asam asetat yang warnannya keruh kekuningan tersebut masing-masing disaring dengan kertas saring untuk memisahkan zeolit dari larutan asam asetat, sehingga didapatkan lagi asam asetat sebagai filtratnya bening. Lalu filratnya ini dimasukkan ke dalam labu Erlemenyer dan ditambahkan indikator pp. Indikator pp sebagai indikator yang akan mendeteksi adanya ion OH - dalam larutan yang ditandai dengan perubahan warna larutan menjadi merah lembayung dan menandakan TAT. Lalu filratnya dititrasi masing-masing dengan NaOH 0,5M dan dihitung masing-masing konsentrasi asam asetatnya setelah di standarisasi. Titrasi bertujuan untuk menstandarisasi larutan asam asetat yang telah melalui adsorpsi, sehingga dapat dihitung konsentrasinya. Pada 10 menit, konsentrasi asam asetatnya adalah 0,52 M. Pada 20menit, 0,48M. Pada 30 menit adalah 0,50 M dan pada 40 menit adalah 0,52 M. Kemudian, dihitung nilai k secara teori pada variasi waktu untuk orde satu, orde dua, dan orde tiga. Hasilnya pada t = 10 menit,nilai k pada orde 1, orde 2, dan orde 3 secara berturut adalah 0,01347 ; -0,0077, dan 0,0151. Hasilnya pada t =20 menit, nilai k orde 1, orde 2, dan orde 3 secara berturut adalah 0,07135 ; 0,0415, dan 0,00850695. Hasilnya pada t = 30 menit, nilai k orde 1, orde 2, dan orde 3 secara berturut adalah 0,0693 ;0 dan 0. Hasilnya pada t =20 menit, nilai k orde 1, orde 2, dan orde 3 secara berturut adalah 0,033675 ; 0,001925 dan 0,003775. Adapun nilai k secara praktek berdasarkan grafiknya pada orde1 ,orde 2 dan orde 3 secar berturut adalah 0,0004 ; -0,0008 dan -0,0034. Adapun faktor-faktor kesalahan yang terjadi pada saat praktikum adalah :

kurangteliti dalam menimbang bahan

kurang bersihnya pencucian zeolit karena masih mengandung kapur

kurang maksimalnya pengadukan

penetesan indikator pp tidak merata pada setiap larutan

jenis zeolit yang dipakai bukan zeolit yang murni

BAB 5

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

- Faktor-faktor yang mempengaruhi kinetika adsorpsi , yaitu : luas permukaan adsorben, ukuran partikel, macam adsorben, jenis zat yang diadsorpsi, tekanan, temperatur, konsentrasi, distribusi ukuran pori, dan waktu kontak.

- Nilai k pada orde 1, orde 2 dan orde 3 secara praktek secara berturut adalah 0,0004 ; -0,0008 dan 0,0034.

- Dalam hal ini, seharusnya semakin lama waktu kontak antara adsorbat dan adsorben maka semakin banyak zat yang teradsorpsi oleh adsorbennya. Namun, pada praktikum ini kenyataannya tidak, karena sepertinya zelit yang dipakai tidak benar-benar murni zeolit karena masih mengandung zat lain.

5.2. Saran Sebaiknya pada praktikum selanjutnya dapat digunakan jenis adsorben lain seperti kapas, karbon aktif (norit), kapas, silika gel,bentonit.

DAFTAR PUSTAKA

Atkins, P.W. 1996. Kimia Fisika Edisi keempat Jilid 2. Jakarta : Erlangga. Cotton, F.Albert & Wilkinson, Geoffrey. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta :

UI-Press. Keenan, Charles W dkk. 1984. Kimia untuk Universitas Jilid 1. Jakarta :

Erlangga. I Nyoman Suardana, et all. 2008. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains & Humaniora 2(1) : Optimalisasi Daya Adsorpsi Zeolit Terhadap Ion Kromium (III). Sukardjo. 1990. Kimia Anorganik. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.