Anda di halaman 1dari 15

BAB III

BANTUAN HIDUP DASAR


(BASIC LIFE SUPPORT)

Bantuan Hidup Dasar adalah suatu pertolongan pertama yang harus


segera dilakukan agar tidak terjadi kerusakan oragan vital yan membuat
pasien tidak dapat tertolong. Resusitasi Jantung Paru/RJP adalah metode
yang dilakukan untuk menyelamatkan pasien yang mengalami henti jantung
dan henti nafas yang dapat menyebabkan kerusakan atau bahkan kematian
organ vital. Cara melakukan RJP adalah dengan cara melakukan nafas buatan
dan pijatan jantung luar.
Kemampuan BHD/BLS ini harus dimiliki oleh orang awam sekalipun
karena kasus-kasus yang membutuhkan, BHD dapat terjadi dimanapun dan
kapanpun. Sedangkan materi ini menjadi sesuatu yang wajib bagi tenaga
kesehatan, polisi, pemadam kebakaran dan penjaga pantai.

III.1 PRINSIP DASAR BHD/BLS


Pola pikir atau pendekatan dalam menghadapi kasus (situasi gawat
darurat) adalah berdasarkan primary survey yaitu D-R-A-B-C (Danger –
Respon - Airway and C-Spine Control – Breathing - Circulation and Bleeding
Control). D-R-A-B-C inilah yang akan terus menjadi perhatian dan harus
selalu ada dalam kepala kita pada saat melihat, menilai, dan sebelum
melakukan tindakan apapun pada seorang pasien. D-R-A-B-C ini dibuat
berdasarkan kondisi kegawatan dan paling potensial dalam menimbulkan
kematian. Prinsip BHD/BLS :
D = Danger
Perhatikan bahaya di sekitar. Jangan panik. Bertindak cekatan dan
tetap tenang Dahulukan keselamatan anda sebagai penolongan, kemudian
lingkungan sekitar dan korban dengan memperhatikan bahaya-bahaya yang
mungkin akan dihadapi penolong..
Bagi Penolong
 Senantiasa menggunakan pelindung seperti sarung tangan, kacamata,
sepatu ataupun benda lain yang dapat melindungi anda dari cairan
tubuh korban yang dapat menularkan penyakit berbahaya.
Bagi lingkungan
 Pada kasus kecelakaan lalu lintas atau kasus apapun yang dapat
membahayakn lingkunagn yang ada di sekitar, usahakan untuk
mengamankan daerah sekitar.
Bagi Korban
 Pada saat korban tergeletak ditempat yang sekiranya berbahaya, maka
coba untuk memindahkan pasien dari tempat tersebut tapi berhati-
hatilah dengan pasien yang dicurigai multiple trauma, jangan lakukan
ekstensi leher sebelum memakai collar neck
 Penglepasan collar neck baru dapat dilakukan setelah ada kejelasan
apakah ada cedera cervical atau tidak

Hubungi layanan gawat darurat segera (ambulance, polisi, pemadam


kebakaran)

R = Respon
Merupakan cara untuk mengetahui seberapa besar tingkat kesadaran
korban. Ada beberapa metode untuk menilai kesadaran seseorang. Yang
terdiri dari beberapa kategori yaitu AVPU :
- Alert (sadar)
Bila korban masih bersuara / berteriak minta tolong dan bergerak.
- Voice
Bila korban masih dapat menjawab pertannyaan penolong.
- Pain
Bila korban memberikan respon dari rangsang sakit yang diberikan
penolong.
- Unrespon
Bila korban tidak ada respon sama sekali
Korban dengan kategori Pain dan Unrespon, memerlukan pertolongan ABC
segera. Sebelum penanganan ABC, harus diperiksa apakah korban mengalami
trauma cervical atau tidak. Ciri-ciri korban dengan trauma cervical yaitu :
- terlihat jejas di sekitar clavicula / bahu
- biomekanika kecelakaan
- multiple trauma

A = Airway and C-spine Control


Airway berkaitan dengan kondisi jalan napas korban. Jika penolong
menemukan pasien dengan suara nafas yang ramai (tidak bersih). Pada kondisi
ini berarti ada suara nafas yang timbul akibat adanya sumbatan parsial jalan
napas. Jika jalan napas tersumbat seluruhnya, maka suara napas tidak
terdengar lagi. Untuk menilai adanya gangguan jalan napas ini, lakukan ”LOOK,
LISTEN, FEEL”.
LOOK
Lihat adanya pergerakan jalan napas. Perhatikan naik turunnya dada
penderita, cuping hidung dan perut.
LISTEN
Dengarkan kemungkinan adanya suara napas tembahan yang dapat
berupa :
- Snoring (ngorok), terjadi karena adanya obstruksi mekanis seperti
lidah jatuh ke belakang dan menghalangi jalan napas.
- Gargling (suara berkumur) disebabkan adanya cairan seperti darah
atau sekret yang berlebihan
- Crowing (suara melengking saat inhalasi) karena adanya spasme laring.
FEEL
Rasakan ada atau tidak hembusan udara dari lubang hidung.

Bila salah satu dari hal-hal tersebut kita temukan maka segeralah
lakukan pembebasan jalan napas.
Prosedur penatalaksanaan masalah airway di lapangan adalah :
1. Bersihkan mulut pasien dengan tangan kita (Finger Swap)
2. Lakukan triple airway manuvre yaitu ekstensi leher, head tilt, dan chin
lift. Berhati-hati pada pasien multiple trauma yang dicurigai dengan
patah tulang leher/fraktur cervical, jangan lakukan ekstensi leher tapi
segera pasang collar neck.
3. Pada pasien tersedak akan terlihat gejala yang khas sumbatan jalan
napas baik total ataupun parsial. Pada kasus ini, kita dapat melakukan
Heimlich Manuvre atau Back Blows. Pasien yang tertelan benda asing
dan masih sadar, manipulasi dengan pukulan pada punggung kadang-
kadang dapat memperberat keadaan. Oleh karena itu dapat dicoba dulu
dengan menganjurkan pasien batuk.

Teknik mempertahankan Airway dalam keadaan stabil :


- Triple Manuvre (Ekstensi leher, Head Tilt, Chin Lift)
Cara ini dilakukan pada sorban dengan riwayat tidak ada trauma
cervikal.
Kepala diekstensikan dengan carameletakkan tangan di dahi korban
sambil menekan atau mendorongnya ke belakang, lalu tangan yang lain
diletakkan di bawah leher korban dengan sedikit mengangkatnya
keatas.
- Jaw Thrust
Cara ini dilakukan pada korban dengan riwayat trauma cervical.
Posisi penolong berada di puncak kepala korban kemudian dorong
rahang korban ke depan dengan kedua tangan, sementara ibu jari
membuka mulut pasien sehingga pernapasan dapat melalui mulut dan
hidung
- Heimlich Manuvre
Adalah hentakan padda daerah ulu hati/ epigastrium dengan prinsip
seperti pada botol yang tertutup rapat dan dapat dikerjakan pada
pasien terlentang atau pun pada saat pasien dalam posisi tegak.
Berhati-hati pada pasien hamil atau balita. Cara ini dilakukan apabila
korban mengalami gangguan airway yang disebabkan akibat tersedak
benda asing.
Posisi tangan yang lebih dominan mengepal dan tangan yang lain
diletakkan diatasnya. Posisi tangan tersebut berada di daerah sekitar
epigastrium / ulu hati. Lalu hentakan dengan kuat.
- Back Blows
Adalah pukulan atau tepukan
pada punggung pasien 2-3x
yang dapat dikerjakan pada
siapapun
Apabila dengan cara-cara ini pasien belum dapat bernapas maka
lakukan pemasangan oropharingeal tube, sedangkan bila gangguan disebabkan
oleh cairan dapat dilakukan suction (sedot). Berhati-hati dengan pemasangan
oropharingeal tube pada anak-anak. Bila belum dapat tertangani maka
pikirkan pemasangan airway definitifseperti cricotiroidhectomy needle atau
surgery dan pemasangan tube orotrakeal atau nasotrakeal.

B = Breathing
Breathing / ventilasi adalah suatu proses pnegambilan oksigen dari
udara bebas dan pengeluaran karbondioksida ke udara bebas. Airway yang
baik tidak menjamin proses bernapas berlangsung dengan baik karena dengan
jalan napas yang baik belum tentu oksigen dapat masuk dan karbondioksida
dapat dikeluarkan.
Untuk menilai gangguan pada Breathing dengan melihat ada atau
tidaknya pergerakan napas yaitu tidak adanya suara napas dan tidak
dirasakannya hembusan udara yang keluar dari mulut pasien (Initial
Assesment Breathing).
- Bila dicurigai henti napas, perlu lakukan tiupan napas (Breathing
Support) dengan hembusan efektif sebanyak 2 kali. Lalu cek nadi dan
napas.
- Bila sudah ada walau lemah, maka posisikan pasien dalam posisi
Recovery Position. Bila setelah 2 kali tiupan napas diberikan dan tidak
ada perbaikan, maka segera lakukan pemeriksaan terhadap sirkulasi
sambil terus dilakukan pernapasan buatan (Artificial Ventilation).

Teknik Breathing Support


Merupakan usaha ventilasi buatan dan oksigenasi dengan inflasi
tekanan positif secara intermitten dengan menggunakan udara ekshalasi dari
mulut ke mulut, mulut ke hidung atau dari mulut ke alat (S – tube masker atau
bag valve mask). Ventilasi buatan dengan tekanan positif jangka panjang
sebaiknya dilakukan melalui intubasi dengan pipa endotrakeal atau dengan
trakeostomi.
Pada pasien yang trauma, pemberian oksigen lebih penting daripada
ventilasi buatan karena henti napas panjang jarang terjadi pada trauma,
biasanya hanya berupa hipoksemi.

Cara ventilasi buatan dari mulut ke mulut dari mulut ke hidung :


- Posisi pasien tetap dipertahankan seperti pada posisi membebaskan
jalan napas. Tangan kanan di samping menekan dan pasien juga dipakai
menutup hidung. Diusahakan mulut tetap terbuka sedikit.
- Tarik napas dalam dan tiupkan dengan kuat pada orang dewasa dan
perlahan-lahan pada anak-anak. Kemudian perhatikan apakah dada
mengembang atau tidak.
- Bila dada mengembang maka tiupan dihentikan, lepas mulut penolong
dari pasien dan biarkan pasien bernapas secara pasif.
- Setelah selesai ekshalasi, ulangi tiupan dengan lebih dahulu bernapas
dalam. Dalam hal ini volume lebih penting daripada irama. Pada orang
dewasa ulangi inflasi setiap 5 detik atau 12 kali permenit, sedangkan
pada anak-anak tiap 3 detik atau 20 kali permenit.
- Bila dada tidak mengembang, malahan perut menjadi gembung, berarti
jalan napas tidak terbuka dengan baik.

Cara ventilasi buatan dari mulut ke hidung prinsipnya sama, hanya disini
yang ditutup adalah mulut untuk mencegah terjadinya kebocoran.

Cara ventilasi buatan dapat juga dilakukan dari mulut ke alat


- Dengan memakai S – shape oropharyngeal plastic airway with acupped
flange (Resusitube). Di sini harus tetap dipertahankan posisi kepala
pasien ke belakang. Selain itu saat memasukkan alat harus perlahan-
lahan untuk mencegah muntah atau spasme laring.
- Atau pula dapat memakai self refilling bag and mask seperti ambu
(automatic manual breathing unit) bag atau MPR (Puritan manual
resucitation) bagian yang dapat disambung ke tabung oksigen atau ke
udara bebas dalam ruangan.

Setelah dilakukan usaha pertolongan dengan membebaskan jalan napas


dan usaha ventilasi buatan, diperhatikan apakah dada pasien memperlihatkan
gerakan naik turun atau terdengar udara keluar pada waktu ekshalasi.
Apakah denyutan nadi teraba atau suara denyutan jantung dan pembuluh
darah terdengar dengan stetoskop. Bila nadi teraba, lanjutkan dengan 12 kali
inflasi permenit untuk orang dewasa dan 20 kali semenit untuk anak-anak. Bila
nadi tidak teraba, mulai dengan pijat jantung dan pembuluh darah luar untuk
memberikan bantuan sirkulasi.

C = Circulation and Bleeding Control


Setelah problem A-B dapat ditangani segera pindah ke C dan raba nadi
carotis, adakah pulse? Berapa frekuensinya? Bagaimana pengisiannya?
Lemah? Cepat?
Bila tidak kita temukan adanya denyut, curigai adanya henti jantung
dan segera lakukan kompresi jantung luar. Bila ditemukan adanya nadi
walaupun lemah dan cepat segera berpikir adanya suatu problem sirkulasi,
segera lakukan pengkajian lebih lanjutdengan menilai akral (hangat atau
dingin), warna kulit (merah atau pucat), pengisian kapiler (nilai normal
RCT/Refill Capilary Test < 2 detik). Bersamaan dengan pemeriksaan ini segera
lakukan balut tekan pada pasien tersebut untuk menghentikan perdarahan.
Bila sudah jelas problem yang terjadi maka segera lakukan pertolongan
seperti pemasangan infus (IV Line), abocath kaliber besar dengan
transfusi/blood set, dua jalur, cairan RL, dan jangan lupa lakukan pengambilan
darah untuk crossmatch. Apabila terjadi syok, maka cairan intravena harus
diguyur pemberiannya.
Teknik melakukan kompresi jantung luar :
1. Letakkan satu tapak tangan di atas permukaan dinding dada pada ½
bagian ujung sternum, namun tidak boleh diletakkan di atas processus
xiphoideus.
2. Beri tekanan berarah ke bawah kira-kira 3-5 cm untuk orang dewasa.
Frekuensi gerakan diatur 1 kali perdetik atau 60-70 kali permenit.
3. Pada waktu gerakan penekanan, diusahakan menahan sternum ke bawah
selama ½ detik (50 % siklus), kemudian lepas dengan cepat dan tunggu
½ detik lagi (50% siklus), agar jantung dan pembuluh darah terisi
darah.
4. Kompresi harus teratur, halus dan tidak terputus-putus.
5. Dalam keadaan apapun kompresi tidak boleh terhenti lebih dari 5
detik.
6. Tindakan Kompresi jantung luar harus dibarengi ventilasi buatan
dengan frekuensi 15 kali kompresi diiringi 2 kali inflasi paru atau 5 kali
kompresi diiringi 1 kali inflasi secara cepat.
7. Selama tindakan kompresi jantung luar, hendaklah dilakukan
pemeriksaan denyut nadi arteri karotis dan pupil secara berkala. Bila
pupil dalam keadaan konstriksi dengan reflex cahaya positif,
menandakan oksigenasi aliran darah otak cukup. Bila sebaliknya yang
terjadi, merupakan tanda kerusakan otak berat dan RJP dianggap
kurang berhasil.
KJL ini dapat menimbulkan penyulit berupa :
- Patah tulang iga, sternum, kerusakan tulang belakang.
- Laserasi paru, hati, atau laserasi/ruptur jantung dan pembuluh darah,
herniasi jantung dan pembuluh darah melalui pericardium.
- Tamponade jantung dan pembuluh darah.
- Emboli lemak pada paru dan otak.
- Hematotoraks dan pneumotoraks.

Untuk menghindari penyulit-penyulit di atas, maka dalam melakukan KJL perlu


diperhatikan beberapa hal :
- Kompresi tidak boleh melewati batas processus xiphoideus.
- Pada waktu kompresi harus berhati-hati agar jari tangan tidak
menyentuh iga pasien dan telapak tangan harus diletakkan tepat pada ½
distal sternum.
- Tidak melakukan gerakan tiba-tiba atau terputus-putus serta kompresi
dan relaksasi haruslah seirama.
- Tidak melakukan kompresi dada dan perut bersamaan.
- Harus sangat berhati-hati pada pasien dengan katup buatan karena
KJL dapat menimbulkan laserasi katup.

Dalam beberapa hal KJL merupakan kontraindikasi, seperti : luka tajam


dinding dada, trauma pada bagian dalam dada, emboli udara atau paru massif,
tension pneumotoraks atau pneumotoraks bilateral, emfisema berat atau
tamponade jantung dan pembuluh darah.

Diagram Penatalaksanaan Bantuan Hidup Dasar


Call for Help Tentukan kesadaran Panggil/goyang

Recovery position Buka jalan napas Triple manuvre

Periksa pernapasan Look,listen,feel

Beri napas buatan 2 napas efektif

Periksa sirkulasi Denyut nadi carotis

Sirkulasi ada Tidak ada sirkulasi

Selalu cek ulang Kompresi jantung luar

III.2 HENTI JANTUNG (CARDIAC ARREST) dan HENTI


NAFAS (APNEU)
Henti jantung
Sebab – sebab henti jantung
- penyakit kardiovaskular
- kekurangan oksigen akut
- kelebihan dosis obat
- gangguan asam basa
- kecelakaan, sengatan listrik dan tenggelam
- refleks vagal
- anastesi dan pembedahan
- terapi dan diagnostik medik
- syok (hipovolemik, neurogenik, toksik, dan anafilaktik)

Tanda – tanda henti jantung


- kesadaran hilang
- tidak teraba denyut arteri carotis
- terlihat seperti mati (death like appearance)
- warna kulit pucat
- pupil dilatasi

Henti nafas
Sebab – sebab henti nafas
- sumbatan jalan nafas
- depresi pernapasan akibat obat-obatan opiate

Tanda – tanda henti nafas


- tidak ada gerakan nafas
- tidak terdengar suara nafas
- tidak terasa hembusan nafas di pipi

III.4 RESUSITASI JANTUNG PARU (RJP)


Dikenal juga dengan Cardio-Pulmoner Resusitation (CPR). RJP adalah
suatu tindakan darurat sebagai suatu usaha untuk mengembalikan keadaan
henti jantung dan henti nafas (yang dikenal sebagai kematian klinis) ke fungsi
yang optimal, guna mencegah kematian biologis. Indikasi dilakukan RJP adalah
apabila terjadinya henti jantung dan nafas.
Kematian klinis adalah kematian yang ditandai dengan hilangnya nadi
arteri karotis atau arteri femoralis, terhentinya denyut jantung dan
pembuluh darah atau pernafasan dan terjadinya penurunan/hilangnya
kesadaran.
Kematian biologis bila kerusakan otak tidak dapat diperbaiki lagi
terjadi hanya kurang lebih 4 menit setelah kematian klinis.
Oleh karena itu berhasilnya tindakan RJP tergantung pada cepatnya
tindakan dan tepatnya teknik pelaksanaannya, walaupun dalam beberapa hal
tergantung pula pada faktor penyebabnya.

Teknik melakukan RJP :


Untuk Dewasa
• Posisikan tangan untuk kompresi dada :
1. Dengan jari tengah dan telunjuk, temukan salah satu rusuk paling
bawah korban pada sisi dekat anda. Geser ujung jari sepanjang tulang
rusuk itu menuju titik temu tulang rusuk dengan tulang dada. Letakan
jari tengah anda di titik ini dan telunjuk disampingnya di atas tulang
dada.
2. Letakan pangkal telapak tangan anda yang lain di atas tulang dada ;
geser ke bawah mendekati telunjuk. Inilah titik tempat anda menekan.
3. Letakan pangkal telapak tangan pertama di atas lengan tadi, dengan
jari saling mengunci.
• Beri kompresi dada dan napas bantuan :
1. Membungkuklah ke arah korban, dengan lengan anda tegak lurus. Tekan
vertikal pada tulang dada, dan tekan dada sedalam ± 4-5 cm.
2. Tekan dada 15 kali dengan kecepatan 100 kompresi/menit.
3. Tengadahkan kepala, angkat dagu, dan berilah 2 napas bantuan.
4. Berilah 15 kompresi dada bergantian dengan 2 napas bantuan.
5. Lanjutkan CPR sampai bantuan datang, korban bernapas, atau anda
terlalu lelah melanjutkannya.

Untuk Anak-anak
• Posisikan tangan untuk kompresi dada :
1. Dengan telunjuk dan jari tengah anda, cari salah satu tulang rusuk yang
paling bawah pada sisi terdekat anda. Geser ujung jari sepanjang
tulang rusuk ke titik temu tulang rusuk dengan tulang dada. Letakan
jari tengah anda pada titik ini dan telunjuk di sampingnya di atas
tulang dada.
2. Letakan pangkal telapak tangan anda yang lain pada tulang dada ; geser
ke bawah agar bertemu telunjuk anda. Inilah titik yang harus anda
tekan.
• Beri kompresi dada dan napas bantuan :
1. Gunakan 1 pangkal telapak tangan untuk menekan titik. Angkat jari
anda untuk memastikan anda tidak menekan tulang rusuk anak.
2. Membungkuk ke arah anak, dengan lengan tegak lurus. Tekan vertikal
pada tulang dada, kempiskan dadanya kira-kira 1/3 kedalamannya.
3. Tekan dada 5 kali dengan kecepatan 100 kompresi/menit.
4. Berilah 1 napas bantuan.
5. Lanjutkan memberi 5 kompresi dada bergantian dengan 1 napas
bantuan selam 1 menit, kemudian panggil ambulance.

Untuk Bayi
• Posisikan jari untuk kompresi dada :
1. Letakan ujung jari telunjuk dan jari tengah anda selebar 1 jari di
bawah garis yang menghubungkan puting susu bayi.
• Beri kompresi dada dan napas bantuan :
1. Tekan tegak lurus ke bawah pada dada, 1/3 kedalaman dada. Lakukan 5
kali dengan kecepatan 100 kompresi/menit.
2. Beri 1 napas bantuan.
3. Beri 5 kompresi dada bergantian dengan 1 napas bantuan.
4. Lanjutkan CPR hingga bantuan medis datang, bayi bergerak atau
bernapas, atau anda terlalu lelah untuk melanjutkannya.

CPR being performed


CPR in basic life support. Figure A: The victim should be flat on his back and his mouth
should be checked for debris. Figure B: If the victim is unconscious, open airway, lift neck,
and tilt head back. Figure C: If victim is not breathing, begin artificial breathing with four
quick full breaths. Figure D: Check for carotid pulse. Figure E: If pulse is absent, begin
artificial circulation by depressing sternum. Figure F: Mouth-to-mouth resuscitation of an
infant. (Illustration by Electronic Illustrators Group.)

RJP yang dilakukan pada pasien dengan henti jantung dapat memberikan
kemungkinan hasil:
- Korban / pasien menjadi sadar kembali.
- Korban / pasien dinyatakan mati.
- Korban / pasien belum dapat dinyatakan mati dan belum timbul denyut
jantung spontan. Dalam hal ini perlu diberi pertolongan lebih lanjut
(Advance Trauma Life Support).
- Denyut jantung spontan timbul, tetapi korban / pasien belum pulih
kesadarannya. Ventilasi spontan bisa ada atau tidak.

Selain kompresi dada luar, yang juga termasuk bantuan sirkulasi adalah
penghentian perdarahan dan penentuan posisi untuk mengatasi syok, yaitu
dengan meletakkan kepala lebih rendah daripada kaki. Dalam keadaan
darurat, resusitasi dapat diakhiri bila terdapat salah satu dari berikut ini :
- Telah timbul kembali sirkulasi dan ventilasi spontan yang efektif.
- Ada orang lain yang mengambil alih tanggung jawab.
- Penolong terlalu lelah sehingga tidak sanggup meneruskan resusitasi.
- Pasien dinyatakan mati.
- Setelah dimulai resusitasi, ternyata kemudian diketahui bahwa pasien
berada dalam stadium terminal suatu penyakit yang tidak dapat
disembuhkan atau hampir dipastikan bahwa fungsi serebral tidak akan
pulih, yaitu sesudah ½ - 1 jam terbukti tidak ada nadi pada
normotermia tanpa RJP.

Pasien dinyatakan mati apabila :


- Telah terbukti terjadi kematian batang otak.
- Fungsi spontan pernapasan dan jantung telah berhenti secara pasti /
irreversibel.

Petunjuk terjadinya kematian otak adalah pasien tidak sadar, tidak ada
pernapasan spontan dan refleks muntah, serta terdapat dilatasi pupil yang
menetap selama 15-30 menit atau lebih, kecuali pada pasien hipotermik,
dibawah efek barbiturat, atau dalam anestesi umum. Sedangkan mati jantung
ditandai oleh tidak adanya aktivitas listrik jantung (asistol) selama paling
sedikit 30 menit walaupun dilakukan upaya RJP dan terapi obat yang optimal.
Tanda kematian jantung adalah titik akhir yang lebih baik untuk membuat
keputusan mengakhiri upaya resusitasi.

Daftar pustaka
1. Sudoyo, Aru. W., dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV. Jakata
: Pusat Penerbitan IPD FKUI.
2. Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi III Jilid 2. Jakarta : Media
Aesculapius FKUI.
3. Kartawinata, Jenny, dkk. 2006. Manual Pertolongan Pertama. Jakarta : PT Gaya
Favorit Press.
4. Sunatrio, Joenarham J. Resusitasi Jantung Paru dalam : Anastesiologi. Bagian
Anastesiologi dan Terapi intensif FKUI. 1989:143-62.