Anda di halaman 1dari 14

Manusia Pejuang Lingkungan

Allah berfirman pada malaikat: Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Malaikat berkata: Mengapa engkau akan menjadikan (khalifah) di muka bumi itu orang yang akan membat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau. Tuhan Berfirman: Sesunguhnya Aku Mengetahui apa yang tidak kamu ketahui (QS Al Baqarah: 30). Dari firman diatas menunjukkan bahwa malaikat tidak setuju manusia sebagai pemimpin (khalifah) di muka bumi. Hal ini dikarenakan ada dua alasan mengapa malaikat terkesan tidak setuju. Pertama, malaikat menganalisis dengan nalar, terdapat makhluk hidup sebelum manusia eksis dengan perilaku sosialnya membuat malaikat cemas, yakni membuat kerusakan di muka bumi seperti menciptakan huru-hara dan saling bunuh, berebut kekuasaan, kekayaan, dan merusak semua tatanan di bumi. Oleh karena itu, malaikat skeptis, jangan-jangan makhluk baru itu juga akan memiliki kelakuan yang tidak jauh berbeda. Kedua, malaikat mendasarkan pada kemampuan berpikir, nalar, logika atau rasio. Malaikat sudah mampu meramalkan bahwa manusia itu akhirnya akan membuat kerusakan di bumi. Allah maha mengetahui, malaikat hanya memandang manusia dari sisi negatif saja. Malaikat tidak menyadari bahwa dalam diri manusia juga terdapat sisi positif dengan memiliki watak ramah, bersahabat, berpihak pada alam dan seisinya. Jika potensi-potensi baik ini bisa diberdayakan, sekalipun jumlahnya tidak banyak masih ada sekelompok manusia yang berjuang dengan tujuan menyelamatkan dan melakukan konservasi lingkungan. Pada firman allah tersebut, munculnya paham-paham pejuang lingkungan. Tiga paham yang dikategorikan sebagai para pejuang lingkungan itu, yakni paham biosentrisme, ekosentrisme, dan ekofeminisme. Ketiga paham tersebut sama-sama memiliki pandangan bahwa manusia sebagai bagian dari alam, bukan sebagai dunia terpisah, diatas atau bahkan berlawanan. Ketiganya memiliki satu tujuan, yakni penyelamatan lingkungan. Sekalipun, dalam paham-paham tersebut bukan

murni produk komunitas ilmuwan muslim atau tidak muncul dari sumber-sumber utama umat islam, atau tanpa menggunakan simbol-simbol agama tetapi visi ketiganya secara substansial benar-benar mengusung ideologi islami, yakni menyelamatkan lingkungan demi membangun keselarasan kehidupan makhluk Tuhan. A. Paham Biosentrisme Paham biosentrisme menyatakan bahwa bukan hanya manusia dan komunitasnya yang pantas mendapatkan pertimbangan moral, melainkan juga dunia binatang. Biosentrisme mendasarkan perhatian dan perlindungan pada seluruh spesies, baik mamalia, melata, biota laut maupun unggas. Paham Biosentrisme memiliki pokok-pokok pandangan sebagai berikut : 1. Alam memiliki nilai pada dirinya sendiri (instrik) lepas dari kepentingan manusia Setiap kehidupan dan makhluk hidup mempunyai nilai dan berharga pada diri sendiri, tanpa harus dihubungkan pada persoalan bagaimana hubungan makhluk hidup dengan kebutuhan manusia. Misalnya burungburung dihutan, paham biosentrisme tidak berpikiran berapa harga burung-burung tersebut jika dijual di pasar atau menghitung uang dari hasil penjualan burung itu akan sebanyak apa untuk memenuhi kesenangan dan kebutuhan hidup kita. 2. Alam diperlakukan sebagai moral, terlepas bagi manusia ia bermanfaat atau tidak, sebab alam adalah komunitas moral Biosentrisme menganjurkan bahwa kehidupan di alam semesta ini akan dihormati seperti manusia menghormati sistem sosial yang terdapat dalam kehidupan mereka. Biosentrisme mengajak dan memperluas etika manusia yang dihubungkan dengan keadaa alam semesta. Menurut Sony Keraf mengatakan bahwa paham biosentrisme

berpegangan pada pilar-pilar teori sebagai berikut :

1. Teori Lingkungan yang Berpusat pada Kehidupan Teori ini menyatakan bahwa manusia memiliki kewajiban moral terhadap alam bukan hanya menghargai pada diri sendiri saja, tetapi kepada semua bentuk kehidupan. Paul Taylor menyatakan bahwa terdapat beberapa pokok pilar biosentrisme, yaitu sebagai berikut: a. Manusia dengan makhluk-makhluk hidup lainnya memiliki derajat yang sama. Manusia pada dirinya sendiri tidak lebih unggul daripada makhluk hidup yang lain. b. Spesies manusia bersama spesies lain, membangun sistem yang saling bergantung sehingga keberlangsungan dan keberadaan manusia tidak ditentukan oleh lingkungan fisik saja, tetapi lingkungan biologis juga. c. Semua organisme merupakan pusat kehidupan yang memiliki dunia dan tujuan tersendiri. Ia adalah unik dalam mengejar kepentingannya melalui caranya sendiri. Inilah yang sering dinyatakan sebagai komunitas moral. Sebagai subjek moral, manusia bisa menghormati moral alam dengan beragam cara, seperti kewajiban untuk tidak melakukan sesuatu yang merugikan alam dengan segala isinya, kewajiban untuk tidak menghambat kebebasan organisme lain untuk berkembang sesuai dengan hakikatnya, dan kesediaan untuk tidak menjebak, memperdaya, atau menjerat binatang liar. 1. Etika Bumi Bumi dengan segala isinya adalah subjek moral. Oleh karena itu, bumi bukan objek dan alat yang bisa digunakan sesuka hati sebab bumi memiliki banyak keterbatasan sama dengan manusia. Dengan demikian, bumi harus dihargai bernilai pada diri sendiri. 2. Anti Spesiesisme Paham biosentrisme ini menolak adanya spesiesisme sebab ia menganggap bahawa spesies manusia lebih unggul dibandingkan spesies lainnya bahwa manusia dengan spesies lainnya memiliki sisi yang tidak sama, terutama dari sisi biologi maupun kemampuan menciptakan kebudayaan-kebudayaan. Saat menemukan perbedaan antara manusia

dengan makhluk hidup yang lain harus mengandung prinsip moral perlakuan yang sama, yakni sikap yang membela kepentingan dan kelangsungan hidup semua spesies di bumi, sebab masing-masing memiliki hak hidup yang sama. Paham biosentrisme belum diketahui dengan baik, sosialisasi

biosentrisme harus dilakukan sebagai upaya menciptakan para pejuang lingkungan. Hingga mereka meyakini paham biosentrisme dan merasakan penghormatan moral atas alam sesungguhnya adalah tindakan yang paling beradab dan bermoral yang dilakukan oleh manusia atas makhluk hidup lain. B. Paham Ekosentrisme (The Deep Ecology): Memperjuangkan

Keseimbangan Sebagai paham yang peduli terhadap lingkungan, kemunculan

ekosentrisme tidak lepas dari dua latar belakang. Kemunculan paham ini merupakan tanggapan atas pandangan filsafat antroposentrisme yang terbukti tidak bijak mengatur hubungan manusia dengan alam. Gerakan penyelamatan lingkungan yang menjadikan ekosentrisme sebagai landasan gerakan, merupakan cara hidup orang-orang primitif seluruh dunia. Ini merupakan salah satu gerakan dari the deep ecology. Membicarakan the deep ecology sama dengan mengkaji filsafat ekosentrisme. The deep ecology sebagai sebuah gerakan adalah antithesis dari paradigma antroposentrisme yang bisa dilihat pada tabel di bawah ini:

Komponen-komponen Pertumbuhan dan Paradigma Lingkungan No 1. 2. Paradigma Dominan Sosial (Pendukung Antroposentrisme) Dominan melawan alam Lingkungan alam sebagai sumber Paradigma The Deep Ecology Harmonis dengan alam Nilai-nilai di alam/ Biosfer yang tidak memihak 3. Tujuan ekonomi 4. material/ pertumbuhan Tujuan nonmaterial /

keberlanjutan ekologis

Cadangan banyak/ bahan pengganti Cadangan terbatas

yang sempurna 5. Teknologi tinggi/ penyelesaian Penyelesaian sesuai Kebutuhan dasar/ daur ulang Desentralisasi/ skala kecil Partisipatoris/ demokratis system yang teknologi yang

ilmu pengetahuan 6. 7. 8. Konsumerisme Tersentral/ skala besar Otoriter/ struktur yang memaksa

Pengembangan biosentrisme tidak hanya berhenti pada dunia tumbuhtumbuhan atau binatang, tetapi diperluas dengan memberikan cakupan komunitas ekologis secara keseluruhan. Karenanya, banyak kalangan menyatakan bahwa ekosentrisme adalah paham lingkungan yang holistic. Makhluk hidup dengan benda-benda abiotis memiliki hubungan saling terkait. Tanggung jawab moral berlaku bagi semua realita ekologis. Deep ecology, sebagai bagian ekosentrisme adalah etika yang berpusat pada makhluk hidup secara keseluruhan dalam kaitan memberikan penghormatan terhadap semua spesies. Ekosentrisme memandang hubungan antara alam dan kehidupan sosial dengan pokok-pokok gagasan sebagai berikut: 1. Manusia dan kepentingannya bukan lagi ukuran bagi sesuatu yang lain. Ia tidak hanya melihat spesies manusia saja, tetapi juga memandang spesies lain. 2. Pandangan tentang lingkungan harus bersifat praktis. Artinya, etika ini menuntut suatu pemahaman baru tentang relasi yang etis dalam alam semesta (terutama antara manusia dengan makhluk yang lain) disertai prinsip-prinsip yang bisa diterjemahkan dalam gerakan lingkungan. Adapun di bawah ini prinsip-prinsip gerakan the deep ecology diantaranya: 1. Kesejahteraan dan kemajuan kehidupan manusia dan nonmanusia di bumi memiliki nilai dalam diri mereka. 2. Kekayaan dan keragaman bentuk-bentuk hidup memberikan sumbangan pada realisasi nilai-nilai ekologis dan juga nilai-nilai dalam diri mereka.

3. Kebudayaan dan kesejahteraan manusia adalah berbanding lurus dengan penurunan kualitas dari populasi. Akibatnya, kesejahteraan kehidupan nonmanusia turun pula. 4. Campur tangan manusia atas dunia nonmanusia terlalu banyak dan situasi ini dengan cepat mengarah kepada kualitas lingkungan yang semakin buruk. 5. Oleh karena itu, kebijakan harus diubah. Kebijakan harus menyentuh struktur ideology, ekonomi dan dasar-dasar teknologi. 6. Perubahan ideology adalah penting guna mengapresiasikan kualitas hidup lebih daripada melekat dalam standar hidup yang lebih tinggi. Hal ini akan berakibat pada kesadaran atas perbedaan besar (big) dan besar (great), yaitu kemewahan dan keseimbangan lingkungan. Sony Keraf menyatakan bahwa the deep ecology bisa dijelaskan sebagai berikut: 1. Teori normative, artinya the deep ecology bisa dikatakan sebagai cara pandang normatif yang melihat alam semesta dengan segala isinya pada dirinya sendiri. Bisa dikatakan bahwa pandangan the deep ecology memiliki keberpihakan pada nilai dan norma yang dimiliki oleh alam dan lingkungan. 2. Teori kebijakan, yakni cara pandang yang tidak semata-mata diarahkan pada individu tetapi pada setiap kebijakan publik tentang gerakan lingkungan. 3. Teori gaya hidup, yakni cara pandang dan norma-norma yang dikampanyekan harus memengaruhi setiap orang., kelompok masyarakat dan seluruh individu sebagai gaya hidup baru. Banyak yang menyatakan bahwa kerusakan lingkungan terjadi tidak terlepas dari perubahan gaya hidup manusia. The deep ecology bertindak dalam dua ranah, yakni ranah praktis dan ranah filosofis. Bill Deval meletakan komitmen deep ecology dalam tindakan praktis. Ia mempraktikan hidup dalam tempat tinggal (living in place) dengan entropi dan gaya hidup mengonsumsi yang sangat sedikit. Sedangkan

dalam ranah filosofis, the deep ecology bisa juga disebut sebagai ecosophy (eikos = rumah tangga, sophy = kearifan). Ecosophy adalah kearifan yang mengatur kehidupan selaras dengan alam sebagai sebuah rumah tangga dalam arti luas. Bisa disimpulkan bahwa the deep ecology adalah penggabungan antara pendekatan ekologi sebagai ilmu dengan filsafat sebagai studi pencarian kearifan. Pertama, realisasi diri manusia berlangsung dalam komunitas ekologis. Manusia tidak hanya memiliki hubungan-hubungan dengan manusia saja. Kedua, realisasi manusia seharusnya memerhatikan dirinya sebagai ecological self. Dalam artian bahwa manusia harus menyadari, ia akan berhasil menjadi manusia yang sempurna hanya dalam kesatuan asasi dengan alam atau melalui interaksi positif manusia dengannya secara keseluruhan dan dengan bagian lain dari alam. C. Paham Ekofeminisme: Melawan Androsentrisme Ekofeminisme merupakan tahapan bagian yang tidak lepas dari perkembangan ideologi feminisme. Definisi ekofeminisme menurut Ariel Salleh ialah sebagai berikut. Eco-feminisme adalah pengembangan kini dalam pemkiran feminisme yang menyatakan bahwa krisis lingkungan global akhirakhir ini adalah diramalkan hasil dari kebudayaan patriarkhal (Salleh, 1988). Ekofeminisme bukan gerakan atau filsafat feminisme umum, tetapi feminisme yang membatasi diri khusus fokus kepada isu-isu lingkungan. Cara berpikir ekofeminisme tidak bisa lepaskan dari karakter para pendukungnya yang heterogen. Sekalipun pandangan masing-masing masih bisa dikategorikan sama-sama melihat hubungan antara nasib perempuan dan alam, titik pijakan antara satu dengan yang lain tidak sama. Sherry B. Ortner menyatakan bahwa tidak mudah bagi perempuan untuk memutuskan kedekatannya dengan alam sebab praktis hampir semua kebudayaan menunjukan bahwa, dibanding dengan laki-laki, perempuan lebih

dekat dengan alam. Ada tiga alasan untuk menjelaskan mengapa demikian. Pertama, fisiologi perempuan lebih terlibat dalam waktu yang lebih lama dengan spesies kehidupan adalah tubuh perempuan yang merawat masa depan kemanusiaan. Kedua, tempat perempuan adalah domestik, yakni tempat bayi-bayi serupa binatang perlahan-lahan ditransformasi menjadi makhluk kultural. Ketiga, Psikologi perempuan yang dibentuk sesuai dengan fungsi ibu melalui sosialisasi dirinya sendiri yang condong berpikir konkret, relasional, dan lebih khusus dibandingkan laki-laki. Mary Daly lebih menyoroti pada sampah-sampah dari budaya

patriarki. Sebelum tegaknya budaya patriarki, tatanan awal yang ada adalah matriarki, dimana perempuan mengendalikan diri sendiri. Budaya patriarki tidak hanya menolak alam, tetapi juga merusak hal-hal yang bersifat alamiah. Sementara itu, Susan Grifin menyatakan bahwa dibanding laki-laki, perempuan mempunyai cara khusus untuk mengetahui dan melihat realitas, sebab perempuan memiliki modal pengalaman hubungan antara dirinya dengan alam. Dunia perempuan cenderung bersifat subjektif, penuh gairah, dan bertubuh, sedangkan dunia laki-laki bersifat datar, objektif, dan tidak bertubuh. Starhawk menjelaskan paham feminisme dalam kerangka spiritual. Sebagai seorang penganut spiritual tertentu, ia tidak mau menyalahkan semata-mata pada laki-laki sebagai biang kerok dari persoalan kerusakan lingkungan. Ia sangat ingin mendekatkan antara alam dengan perempuan, bahkan dinyatakan bahwa alam dan perempuan adalah menyatu. Ekofeminisme menjadi semakin populer tidak lepas dari kenyataan bahwa dampak kerusakan lingkungan lebih banyak diterima dan dirasakan oleh kaum laki-laki, alam lebih dekat kepada perempuan. Dalam kenyataan, berhubungan kegiatan-kegiatan melakukan penyelamatan dan konservasi lingkungan, tidak jarang kaum perempuan sebagai pelopor atau sebagai pionir yang berdiri pada barisan terdepan. Ekofeminisme tidak lepas dari adanya

ketidakadilan di masyarakat yang diterima oleh perempuan. Ketidakadilan yang diterima oleh perempuan pertama-tama berangkat dari pengertian ketidakadilan yang dilakukan oleh manusia atas non-manusia (alam) oleh karena perempuan dikaitkan dengan alam, secara konseptual, linguistik, maupun simbolik sesungguhnya terdapat keterkaitan antara isu feminisme dengan isu ekologis. Cikal bakal ekosentrisme adalah bentuk penggabungan antara ekologi (ilmu lingkungan) dengan filsafat, ekofeminisme merupakan produk penggabungan antara feminisme dengan ekologi. Kedua pandangan tersebut memungkinkan untuk disatukan sebab memiliki visi sama dalam melihat mesyarakat dan lingkungan yang sama-sama sedang mengalami krisis. Baik feminisme maupun ekologi memiliki satu visi yakni hendak membangun pandangan dunia dan praktiknya yang tidak berdasarkan pada model dominasi jika ekologi memperlakukan baik makhluk hidup maupun yang tidak hidup sama dan sederajat, sama halnya dengan itu, feminisme pun memperjuangkan relasi sosial atau hubungan kesetaraan antara laki-laki dengan perempuan. Baik laki-laki atau perempuan tidak ada yang berposisi dominan maupun subordinan. D. Arti Penting Gerakan Politik dalam Perjuangan Lingkungan Dalam pembahasan terakhir ini dijelaskan mengenai pentingnya mambahas dimensi-dimensi politik yang idealnya turut mewarnai perjuangan lingkungan. Dimensi-dimensi politik ini memiliki relevansi erat dengan kajian the deep ecology. Dari pembahasan the deep ecology, persoalan lingkungan otomatis persoalan kebijakan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa persoalan lingkungan termasuk juga persoalan politik. Dalam hal ini, membicarakan politik sama dengan membicarakan kekuasaan (power) dan kewenangan (authority). Jika membicarakan keduanya akan sangat terkait erat dengan apa yang dimaksud kebijakan (policy).

Charles F. Andrain menyatakan bahwa kekuasaan didefinisikan sebagai penggunaan sejumlah sumber daya (aset, kemampuan) untuk memperoleh kepatuhan (tingkah laku menyesuaikan) dari pihak lain. Tipe-tipe Sumber Daya Politik: No. 1. 2. Tipe Sumber Daya Fisik Ekonomi Contoh Sumber Daya Senjata: senapan, rudal, dan bom Kekayaan, pendapatan, barang dan jasa, sumber daya, dan alam 3. Normatif Moralitas, kebenaran, tradisi religius, legitimasi, kewenangan 4. Personal Karisma pribadi, daya tarik, kepribadian, popularitas 5. Keahlian Informasi, pengetahuan, IQ, keahlian teknis

Jika melihat pada sumber daya ekonomi yang dimaksudkan adalah penguasaan: kekayaan, pendapatan, barang, jasa, dan sumber daya alam lain. Siapapun mampu menguasai atau memiliki kewenangan mengatur sumber daya alam, ia akan memiliki kekuasaan yang lebih. Dari batasan kekuasaan tersebut, sebenarnya tampak jelas bagi kita bahwa ada pertautan politik antara politik dengan lingkungan. Kekayaan diciptakan untuk melayani kekuasaan dan meningkatkan kekayaan itu selaras dengan tujuan meningkatkan kekuasaan. Ini berarti hampir tidak bisa dibedakan antara kekuasaan dengan kekayaan (Smelser, 1987:14, Green & Soetrisno, 1994:32). Kaum merkantilis menyebutkan bahwa kekayaan suatu negara diukur dengan jumlah uang yang dimiliki. Oleh karena itu, negara-negara yang kaya akan diukur dari seberapa banyak mereka mengakumulasi kekayaan. Demi kepentingan ini sah saja jika suatu negara menjajah dan mengekspansi wilayah atau negara lain. Dari hal diatas dapat terlihat bahwa ada hubungan kuat antara sumber daya alam dengan politik suatu negara. Ketika sumber daya dikuasai dan dikontrol oleh negara, berarti persoalan sumber daya telah masuk dalam wilayah politik.

10

Persoalan politik disini adalah persoalan lingkungan, perjuangan dan perdebatan tentang lingkunngan menjadi masalah atau tidak sangat bergantung dari bentuk interaksi antara kekuatan politik dengan momen historis tertentu yang terjadi dalam suatu masyarakat. Membicarakan persoalan lingkungan bukanlah sekedar persoalan tertentu, sebab akan berkembang sebagai isu politik karena hasil interaksi antara ilmu pengetahuan, teknis, kondisi psikologis, dan kondisi ekonomi masyarakat. (George Junus Aditjondro, 2003: 158). Perjuangan politik selalu dikaitkan oleh kemunculan dan perkembangan ideologi politik hijau. Politik hijau adalah ideologi penyelamat lingkungan dimana kedudukannya bisa disejajarkan dengan ideologi-ideologi besar lain seperti komunisme maupun kapitalisme. Hal yang paling spesifik tentang politik hijau adalah meletakan pencapaian perjuangan politik dengan mengangkat isu-isu penyelamatan lingkungan dibandingkan isu-isu lainnya. Partai politik nasional yang pertama, bernama values party dibentuk di Selandia Baru tahun 1972. Partai hijau di Inggris dibentuk pada tahun berikutnya. Di inggris partai ini pada awalnya bernama PEOPLE, yang kemudian diganti nama menjadi Ecological Party dan akhirnya tahun 1985 berubah menjadi Green Party. Diantara partai-partai hijau yang berhasil memenangkan pemilu adalah Partai Hijau Jerman, yang didirikan pada tahun 1981. Sekalipun belum menjadi partai dominan sesungguhnya terdapat jasa yang diberikannya terutama mendesak pesoalan lingkungan menjadi agenda global. Demikian yang dinyatakan oleh Ian Adams dalam buku Ideologi Politik Mutakhir (Ian Adams, 1993: 409-411). E. Kasus di Indonesia Masih menggunakan pengertian the deep ecology, realitas menunjukan pada kita bahwa dalam memperjuangkan lingkungan rata-rata partai politik masih dalam tataran wacana saja. Bukti menunjukan, sekalipun persoalan lingkungan sesekali dilontarkan mereka kemudian menjadi isu publik, akan tetapi itu baru sebatas instrumen demi mencari simpati.

11

Emil Salim dan Nabiel Makarim, kedua-duanya mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup suatu hari pernah menyesalkan, sekalipun telah dua kali mengadakan pemilu yang demokratis (1999 dan 2004), namun tidak banyak partai politik yang mengusung isu lingkungan sebagai tujuan perjuangan. Terjadinya keadaan ini sebenarnya tidak lepas dari dua persoalan. Pertama, kebanyakan partai politik kita masih berorientasi pada kekuasaan semata. Kedua, hampir setiap perubahan kondisi lingkungan mau tidak mau menghadirkan konflik dan konsekuensi. Konflik dalam bidang lingkungan terjadi karena beberapa faktor, diantaranya: a. Perbedaan pengetahuan dan pemahaman tentang rusak tidaknya suatu lingkungan. b. Perbedaan nilai tentang pemanfaatan lingkungan. c. Perbedaan kepentingan yang disebabkan oleh ketidaksamaan

posisi/jabatan. d. Pesoalan pribadi, latar belakang sejarah, dan motivasi balas dendam (Bruce Mitchell dkk, 2002:23) Berdasarkan faktor-faktor ini, memperjuangkan isu lingkungan pada dasarnya mau tidak mau harus siap bertentangan dengan kekuatan politik yang mengharuskan terjadinya konflik. Kalaupun terjadi konflik, kebanyakan demi mengejar kekuasaan, tidak terkait dengan penyelamatan lingkungan. Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sementara ini sangat mustahil mengharapkan partai-partai politik menjadi inisiator perjuangan diskursus lingkungan. Terlebih, memang belum ada partai politik di Indonesia yang benar-benar mengusung ideiologi hjau. Bila melihat keadaan ini, dibandingkan melewati jalur partai politik, perjuangan lingkungan akan lebih bagus dengan memanfaatkan kekuatan-kekuatan potensial yang tumbuh dari masyarakat. Alternatif ini bisa dipilih sebab hampir semua persoalan lingkungan, masyarakat sekitar pasti menjadi korban langsung. George Junus Aditjondro menyatakan bahwa perjuangan lingkungan bisa dilakukan dengan memberdayakan keterkaitan (linkages) komponenkomponen gerakan lingkungan strategis yang ada di masyarakat. Komponen-

12

komponen lingkungan bisa diperinci sebagai berikut: pertama, penyelamatan lingkungan publik (Public Environmentalist), yaitu warga sekitar lokasi kerusakan lingkungan yang berkepentingan penyelamatan lingkungan dengan menggunakan sikap dan tindakan mereka. Kedua, penyelamat lingkungan terorganisasi (organized

environmentalist), yaitu kelompok yang bergerak melalui organisasiorganisasi yang khusus didirikan untuk mengartikulasi isu-isu lingkungan. Ketiga, organisasi gerak lingkungan institusional (Institutional Environmental Movement organization), yakni mereka yang bergerak melalui birokrasibirokrasi resmi yang memiliki kewenangan dan kepedulian atas masalahmasalah lingkungan. Sebagai bentuk gerakan lingkungan, penolakan warga Porsea, Toba Samosir, Sumatera Utara atas beroperasinya PT Inti Indorayon Utama merupakan wujud nyatanya. Gerakan perlawanan ini lebih banyak mengedepankan aktivitas organisatoris berupa aksi-aksi demostrasi di lapangan, lobi-lobi dengan para pejabat negara maupun informasi dan opini ke berbagai kalangan. Sejak era orde baru sampai era Megawati Soekarno Putri, pemerintah sempat melakukan buka tutup pabrik. Kebijakan ini dilakukan karena menghadapi tekanan dari aktivis-aktivis gerakan lingkungan. Hanya saja kini gerakan lingkungan politik ini belum menunjukan keberhasilan, sekalipun perjuangan untuk menutup PT Indorayon yang telah berjalan selama 14 tahun. Sama halnya dengan kasus Indorayon, ketegangan pun pernah terjadi antara Walhi dengan PT NMR (Newmont Minahasa Raya) dan lambatnya pemerintah menangani persoalan sosial semburan lumpur panas PT Lapindo di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Dalam persoalan ganti rugi PT Lapindo Brantas atas kelalaian mereka melakukan ekplorasi, hingga lumpur panas menyembur dan memaksa ribuan manusia hengkang dari tanah kelahirannya. Banyak terjadi benturan antara PT Lapindo, pemerintah daerah, pemerintah pusat dan waraga korban lumpur

13

dalam menangani persoalan ini. Demonstrasi mereka pun telah sampai kepada Presiden dan Wakil Presiden, tetapi pemerintah pun tidak bisa menembus barikade korporasi yang menjadi salah satu anak perusahaan Bakrie tersebut. Ketika perjuangan menuntut hak dan perjuangan lingkungan mulai memanas, pihak PT Lapindo cerdik memainkan trik dengan memberikan janji-janji tertentu yang sebenarnya bertujuan untuk mengelabui korban. Dari berbagai kasus tersebut, menunjukan bahwa menyelamatkan lingkungan dengan memberdayakan kekuatan-kekuatan politik bukanlah pekerjaan yang mudah. Jeff Haynes dalam Demokrasi & Mayarakat Sipil di Dunia ke-3 (YOI,2000) menegaskan bahwa kelompok aksi adalah mereka yang berjuang tidak terlembaga, tidak mempunyai kekuasaan (miskin, perempuan, kaum muda, dan minoritas etnis/ agama tertentu). Secara lebih rinci kelompok aksi memiliki sifat-sifat sebagai berikut: a. Tujuan untuk menggerak penduduk setempat guna mempertahankan lingkungan setempat terhadap kepentingan pihak luar. b. Berbasis di wilayah pedesaan. c. Perempuan merupakan inti keanggotaan. d. Sementara itu, beberapa kelompok memiliki focus pelestarian yang sempit, banyak kelompok lain memiliki kepentingan sosial, ekonomi, politik yang luas. e. Mungkin sekali berhasi mencapai keberhasilan dalam tujuannya jika mereka dapat menggunakan salurasn demonstrasi dan hukum. f. Ada gunanya untuk mencatat sekutu mereka di luar negeri yang penting. g. Seringkali tidak memperoleh kemenangan alam perjuangannya atau kegagalan lebih besar dibandingan keberhasilannya. Dalam hal ini, dapat ditarik kesimpulan bahwasanya, karena persoalan lingkungan mengarah menjadi persoalan politik, sangat dibutuhkan keberanian dari siapa pun kelompok pro lingkungan untuk mengambil keputusan semacam ini.

14