Anda di halaman 1dari 6

Program Studi

: Program Pendidikan Profesi Apoteker, Jurusan Farmasi FMIPA UNUD

Mata Kuliah Kode MK.SKS Diskusi Kelompok Judul Makalah

: Farmakoterapi Terapan : FAPT1112/2SKS : IV : Penatalaksanaan Obat Pada Acne Vulgaris

Anggota Kelompok : 1. Margaretta Indra Pratiwi 2. Ni Putu Chintya Sandra Bhuana 3. Ni Putu Oka Mahayani 4. Putu Yuri Candra Dewi 5. Ni Made Intan Pertiwi 6. I Gst Agung Gde Bayu Wirama Hari/Tgl/Waktu : Kamis, 12 Desember 2013 (1308515004) (1308515012) (1308515021) (1308515028) (1308515036) (1308515044)

Nama Anggota Kelompok Kecil Diskusi Kelas (Case Study): No 1 2 3 4 5 6 Nama Mahasiswa Niken Lilies Handayani Ni Putu Wahyu Pradnya Icwari Made Gede Praditya Putra Ida Ayu Gede Astiti Ni Nengah Sri Wahyuni Pande Nyoman Handayani NIM 1308515001 1308515009 1308515024 1308515025 1308515033 1308515041

Koordinator Kelompok Kecil: Made Gede Praditya Putra

CASE STUDY

II.

IDENTITAS PASIEN : Tuan AGS : 21 tahun : Laki-laki : Acne vulgaris

Nama Pasien Umur Jenis Kelamin Diagnosis

II. SUBYEKTIF Keluhan Utama : Jerawat hilang timbul pada bagian wajah, punggung sejak 3bulan yang lalu. Tanpa rasa gatal dan perih

III. OBYEKTIF Riwayat penyakit terdahulu : Riwayat pengobatan : Laboratorium : Paramater Effluoresensi (Kelainan kulit yang dapat dilihat dengan mata telanjang (secara obyektif), dan bila perlu dapatdiperiksa dengan perabaan) Letak Acne Hasil Pemeriksaan Pasien Lesi papulopustul multipel Nodul multipel Pustulasi multipel Eritema Krusta

- Wajah - Punggung Bagian Atas

IV. ASSESMENT 4.1 Terapi Pasien R/ Clindamycin tab 200 mg s3dd1 15 tab R/ Metylprednisolone tab s1dd1 5 tab

4.2 Problem medik dan DRP pasien PROBLEM MEDIK Pasien mengalami Acne vulgaris SUBYEKTIF dan OBYEKTIF Subyektif: pasien mengeluh mengalami jerawat hilang timbul pada bagian wajah dan punggung sejak 3 bulan yang lalu. gatal (-), perih (-). Obyektif: lesi papulopustul multipel, nodul multipel, pustulasi multipel, eritema (+), krusta (+) Clindamycin tablet Needs Additional 200 mg Drug Therapy 3 x 1 tab selama lima hari. TERAPI DRP

Metylprednisolone tablet 1 x 1 selama 5 hari

Wrong Drug

4.3 Pertimbangan pengatasan DRP (1) Needs Additional Drug Therapy Pemberian clindamycin terapi acne vulgaris sudah tepat akan tetapi sesuai algoritma terapi, akan tetapi pada acne vulgaris golongan moderate popular pustular first line terapi diberikan obat antibiotika dan topical retinoid (Dipiro et al., 2005). Oleh karena diberikan terapi tambahan retinoid topikal yaitu adapalene, guna untuk menanggulangi acne yaitu nodul dan pustular. Adapalene tersedia dalam bentuk gel 0,1% (Dipiro et al., 2005)., adapalene memiliki aktifitas ketatolitik, dan anti inflamasi yang di indikasikan untuk acne vulgaris ringan sampai sedang. Adapalene dipakai bersamaan dengan antibiotik topical atau orang merupakan terapi yang rasioal untu acne vulgaris moderat. (Cyntia et al, 2008; Dipiro et al., 2005). (2) Wrong Drug Penggunaan Metylprednisolone dikatakan obat salah karena walaupun

pemberiannya untuk indikasi yang tepat yaitu sebagai agen anti infalmasi (Lacy et al.,
2009),

namun pemberiannya tidak tepat obat karena pemberian Metylprednisolone

meliliki efek samping memicu terjadinya acne (Hengge et al.,2006) maka dari itu apabila pemberian Metylprednisolone acne vulgaris agen anti infalmasi dapat memparah acne yang diderita pasien. Oleh karena pada terapi pasien ini lebih efektif jika diberikan tambahan retinoid topikal yaitu adapalene, karena adapalene juga memiliki efek anti inflamasi (Dipiro et al., 2005).

V. Plan 5.1 Care Plan Pasien direkomendasikan untuk melakukan terapi non-farmakologi dan

farmakologi setelah apoteker berkonsultasi dengan dokter. a. Terapi non farmakologi Asupan gizi seimbang. Tidak menggosok kulit (scrubbing) atau mencuci wajah secara berlebihan karena dapat menimbulkan iritasi kulit. Penggunaan zat pembersih yang lembut dan yang tidak menyebabkan kering, untuk menghindari iritasi dan kulit kering pada terapi acne Jangan menggunakan kosmetik yang berminyak dan pelembab.

b. Terapi farmakologi Clindamycin (Sediaan yang ada di Indonesia adalah Albiotin yang mengandung Clindamycin 150 mg) diberikan 15 tablet yang diminum 3x sehari selama 5 hari. Adaptalene gel (Sediaan yang ada di Indonesia adalah evalen yang mengandung adapalene 0,1%) diberikan 1 tube yang dioleskan 1x sehari. Pemberian informasi kepada pasien mengenai dosis obat, cara pemakaian dan waktu pemakaiannya. Pemberian informasi dan konseling mengenai efek samping obat yang mungkin terjadi.

5.2 Implementasi Care Plan a) Menginformasikan pada pasien tentang penggunaan obat yaitu clindamycin tablet 200 mg tiga kali sehari setelah makan selama 5 hari dimana clindamycin ini merupakan antibiotik yang harus diminum sampai habis serta diberi tambahan retinoid topikal yaitu Adaptalene yang tersedia dalam bentuk gel 0,1% (Dipiro et al., 2005), diberikan satu kali sehari sebelum tidur setelah mencuci wajah dengan mengoleskan tipis-tipis pada acne setelah kulit dikeringkan.

b) Menyarankan pasien untuk mengubah asupan gizi seperti menghindari makanan berkalori tinggi karena dapat meningkatkan produksi sebum di wajah selain itu pasien diharapkan untuk menghindari begadang dan stress. c) Menyarankan pasien untuk tidak memegang atau memijat lesi-lesi yang telah ada. d) Menyarankan pasien untuk tidak terlalu kasar dalam mencuci muka (Dipiro et al., 2005), karena dapat menyebabkan iritasi (Halim dan Sambijono, 1986). e) Menyarankan pasien untuk mencuci muka dengan sabun dan air hangat 2 kali sehari (Halim dan Sambijono, 1986). f) Jangan mencuci muka berlebihan dengan sabun (6-8 kali sehari) karena sabun bersifat komedogenik (Halim dan Sambijono, 1986). g) Menyarankan pasien untuk memilih kosmetik yang sesuai, contohnya menghindari penggunaan kosmetik berbasis lemak yang dapat meningkatkan produksi sebum pada kulit (Halim dan Sambijono, 1986). h) Perlu dikomunikasikan kepada pasien untuk disiplin menggunakan obat acne dan berikan pemahaman kepada pasien karena pengobatan acne memerlukan waktu yang lama. i) Menginformasikan pada pasien apabila terjadi tanda dari kegagalan terapi.

5.3 Monitoring 5.3.1 Efektivitas Terapi 1. Kondisi klinik : Monitoring efektivitas terapi dapat dilakukan dengan melihat kondisi jerawat sudah membaik atau tidak dengan melihat jumlah komedo, papula, dan postula. 2. Tanda-tanda vital 3. Laboratorium ::-

5.3.2 Efek samping 1. Kondisi klinik : terjadinya iritasi kulit. 2. Tanda tanda vital : 3. Laboratorium :-

DAFTAR PUSTAKA

Cynthia E. Irby, B.A.a, Brad A. Yentzer, M.D.a, and Steven R. Feldman, M.D., Ph.D. 2008. A Review of Adapalene in the Treatment of Acne Vulgaris: Journal of Adolescent Health 43 (2008) 421424 Dipiro, Talberet, Yee, Malzke, Weels, & Posey. 2005. Pharmacotherapy a Pathophysiologic Approach Ed. VI. New York: Mc Graw-Hill Companies Inc. Halim, Hamma dan Sambijono, Widowati. 1986. Penatalaksanaan Akne Vulgaris. Cermin Dunia Kedokteran No. 41 Hengge. Ulrich R, MD,a Thomas Ruzicka, MD,a Robert A. Schwartz, MD,b and Michael J. Cork, MD.2006. Adverse effects of topical glucocorticosteroids: the American Academy of Dermatology, Inc Lacy, C. F., L. L. Armstrong, M. P. Goldman, and L. L. Lance. 2009. Drug Information Handbook Eighteen Edition (I and II). Amerika : Lexicom :P. 344-347, 976-979