Anda di halaman 1dari 13

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Saluran pencernaan makanan merupakan saluran yang berperan menerima makanan dari luar dan mempersiapkan nya untuk diserap oleh tubuh dengan jalan proses pencernaan,mulai dari mulut sampai dengan anus.Setiap organ saluran cerna memiliki tugas khusus dan saling mempengaruhi antara organ satu dengan organ yang lain sehingga apabila terjadi gangguan pada slah satu organ akan berdampak pula pada proses pencernaan itu sendiri maupun pada sistem lain,misalnya gangguan pada lambung dan usus yang disebut gastroentritis. Gastroentritis merupakan proses peradangan yang terjadi pada daerah lambung dan usus yang biasanya disertai dengan gejala diare secara terus menerus. Angka kejadian gangguan gastoenteritis yang disertai dengan adanya gejala diare masih merupakan penyebap kesakitan dan kematian bila tidak ditangani secara cepat,tepat,dan sesuai prosedur yang benar. Dampak penyakit diare bila dibiarkan berlarut-larut maka akan menimbulkan komplikasi seperti ; dehidrasi (kehilangan cairan),hipokalemia (kekurangan kalium),hipokalsemia (kekurangan kalsium),dan lain-lain (Suriadi,2001) yang kemudian berlanjut pada kematian. Diare atau dikenal dengan sebutan mencret memang merupakan penyakit yang masih banyak terjadi pada masa kanak dan bahkan menjadi salah satu penyakit yang banyak menjadi penyebab kematian anak yang berusia di bawah lima tahun (balita). Karenanya, kekhawatiran orang tua terhadap penyakit diare adalah hal yang wajar dan harus dimengerti. Justru yang menjadi masalah adalah apabila ada orang tua yang bersikap tidak acuh atau kurang waspada terhadap anak yang mengalami diare. Misalnya, pada sebagian kalangan masyarakat, diare dipercaya atau dianggap sebagai pertanda bahwa anak akan bertumbuh atau berkembang. Kepercayaan seperti itu secara tidak sadar dapat mengurangi kewaspadaan orang tua. sehingga mungkin saja diare akan membahayakan anak.

1.2 Tujuan penulisan 1. Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan Pada anak dengan diare 2. Untuk mengetahui tinjauan teoritis gastroenteritis (diare) 3. Mampu memahami dan mengetahuai tentang gangguan gastroenteritis untuk dapat mengaplikasikannya kedalam kehidupan sehari-hari dan mampu melakukan pencegahan dimulai dari keluarga dan masyarakat luas.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Definisi Diare adalah perubahan pola defekasi (buang air besar) yakni pada bentuk atau frekuensinya dimana bentuk feses (tinja) berubah menjadi lunak atau cair, atau frekuensinya yang bertambah menjadi lebih dari tiga kali dalam sehari. Menurut WHO (1980) diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali dalam sehari.

2.2 Epidemiologi Penyakit diare akut lebih sering terjadi pada bayi dari pada anak yang lebih besar. Kejadian diare akut pada anak laki-laki hamper sama dengan anak perempuan. Penyakit ini ditularkan secara fecal-oral melalui makanan dan minuman yang tercemar. Di Negara yang sedang berkembang, prevalensi yang paling tinggi dari penyakit diare merupakan kombinasi dari sumber air yang tercemar,kekurangan protein dan kalori yang menyebabkan turunnya daya tahan badan(McCormick MC,1982). Untuk bayi, baik di Negara-negara maju, penurunan angka kejadian dare erat kaitannya dengan pemberian ASI, yang sebagian disebabkan oleh kurangnya pensemaran minum anak dan sebagian lagi leh karena factor pencegah imunologik dari pada ASI(Learsen SA dan Homer DR,1978). Sejauh ini imunitas spesifik usus merupakan peran dari limposit dalamPlaque peyeri yang membuat immunoglobulin, tetapi anti body spesifik dengan kuman pathogen usus terdapat di dalam kolostrum dari ASI ( Mata L dan Black RE,1982).

2.3 Etiologi a. Faktor infeksi Infeksi enteral Yaitu infeksi saluran pencernaan sebagai penyebab utama diare pada anak. Infeksi enteral ini meliputi : Infeksi bakteri; Vibrio, E.coli, Salmonela, Shigella, Campylobacter, dsb.

Infeksi virus ; Enterovirus (virus echo, coxsakie), adeno virus, rota virus, dsb Infeksi parasit; cacing (ascariasis, trichuris) Protozoa (Entamuba hystolitica, Giardia lambia) Jamur (Kandida Albican) Infeksi parenteral Yaitu; infeksi dibagian tubuh lain di luar alat pencernaan seperti: OMA, tonsilofaringitis, bronchopneumonia, encefalitis, dsb. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur dibawah 2 tahun. b. Factor non infeksi

Faktor malabsorbsi 1) Malabsorbsi karbohidrat karbohidrat disakarida (intoleransi, lactosa, maltosa, dan sukrosa), non sakarida (intoleransi glukosa, fruktusa dan galaktosa). Pada bayidan anak yang terpenting dan tersering ialah intoleransi laktosa. 2) 3) Malabsorbsi lemak Malabsorbsi protein : long chain triglyceride : asam amino, B-laktoglobulin

Faktor makanan : Makanan basi, baracun, alergi terhadap makanan Faktor psikologis : rasa takut, cemas, walaupun jarang dapat menimbulkan diare terutama pada anak yang lebih besar. Factor resiko tejadinya diare 1) Umur Kebanyakan episode diare terjadi pada dua tahun pertama kehidupan. Insiden paling tinggi pada golongan umur 6-11 bulan, pada masa diberikan makanan pendamping. Hal ini karena belum terbentuknya kekebalan alami dari anak pada umur di bawah 24 bulan. 2) Jenis Kelamin Resiko kesakitan diare pada golongan perempuan lebih rendah daripada laki-laki karena aktivitas anak laki-laki dengan lingkungan lebih tinggi. 3) Musim

Variasi pola musim di daerah tropik memperlihatkan bahwa diare terjadi sepanjang tahun, frekuensinya meningkat pada peralihan musim kemarau ke musim penghujan. 4) Status Gizi Status gizi berpengaruh sekali pada diare. Pada anak yang kurang gizi karena pemberian makanan yang kurang, episode diare akut lebih berat, berakhir lebih lama dan lebih sering. Kemungkinan terjadinya diare persisten juga lebih sering dan disentri lebih berat. Resiko meninggal akibat diare persisten atau disentri sangat meningkat bila anak sudah kurang gizi. 5) Lingkungan Di daerah kumuh yang padat penduduk, kurang air bersih dengan sanitasi yang jelek penyakit mudah menular. Pada beberapa tempat shigellosis yaitu salah satu penyebab diare merupakan penyakit endemik, infeksi berlangsung sepanjang tahun, terutama pada bayi dan anak-anak yang berumur antara 6 bulan sampai 3 tahun. 6) Status Sosial Ekonomi Status sosial ekonomi yang rendah akan mempengaruhi status gizi anggota keluarga. Hal ini nampak dari ketidakmampuan ekonomi keluarga untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga khususnya pada anak balita sehingga mereka cenderung memiliki status gizi kurang bahkan status gizi buruk yang memudahkan balita tersebut terkena diare. Mereka yang berstatus ekonomi rendah biasanya tinggal di daerah yang tidak memenuhi syarat kesehatan sehingga memudahkan seseorang untuk terkena diare.

2.4 Klasifikasi Diare a. Diare akut Diare akut merupakan penyebab awal penyakit pada anak dengan umur < 5 tahun, dehidrasi dapat terjadi dan dapat mengakibatkan kefatalan kira-kira pada 400 anak tiap tahun di Amerika Serikat ( Kleinman, 1992 dalam Wholey & Wong's, 1994).Diare akut adalah BAB dengan frekuensi meningkat > 3 kali /hari dengan konsistensi tinja cair, bersifat mendadak dan berlangsung dalam waktu kurang

dari 1 minggu. Diare akut lebih banyak disebabkan oleh agent infectius yang mencakup virus, bakteri dan patogen parasit. Diare akut adalah diare yang kurang dari 14 hari yang sebagian besar disebapkan oleh Infeksi. Biasenye diare akut disebabkan oleh infeksi/toksin bakteri Adanya riwayat makan makanan tertentu( terutama makan siap santap) dan adanya keadaan yang sama dengan orang lain, sangat mungkin merupakan keracunan makanan yang disebabkan oleh toksin bakteri. Adanya riwayat pemakaian antibiotika yang lama/jangka panjang. Diare yang terjadi tanpa kerusakan mukosa usus( non inflamotorik) dan disebabkan oleh toksin bakteri.bilka muntah sangat mencolok biasanya disebapkan oleh virus aureus dalam bentuk keracunan makanan. Bila diare dalam bentuk bvercampur darah,lendir dan disertai demam biasanya karena kerusakan mukosa usur karena invasi shingella,salmonela atau amdeba,daerah yang terkena adalah kolon. Diare akut bersifat sembuh sendiri dalam 5 hari dengan pengobatan sederhana yang disertai dengan dehidrasi b. Diare Kronik Kondisi dimana terjadi peningkatan frekuensi BAB dan peningkatan konsistensi cair dengan durasi 14 hari atau lebih ( Wholey & Wong's, 1994) Diare kronik adalah diare yang lebih dari 14 hari atau lebih. Pertumbuhan normal,pertumbuhan minimal Infeksi (virus,bakteri,protozoa) biakan tinja,telur dan parasit,preparat kriptosporidium,toksin clostridium difficile,pemeriksaan virus Malabsorbsi karbohidrat Percobaan rektrisi laktosa,sukrosa,kanji,atau uji nafas. Uji laboratorium penyaring,hindari minuman berkafein dan jus buah,tambahkan serat kedalm makanan sesuai usia Diare non spesifik kronik(bayi) Kurangi asupan cairan untuk pemeilharaan,hindari jus buah,tambahkan lemak dan serat untuk makanan sesuai usia.

Sindrom munchausen by proxy Elektrolit dan osmolalitas tinja ,fenoftalein,magnesium Penurunan pertumbuhan,keterlambatan pematangan,seksual,atau penurunan berat yang signifikan kerusakan mukosa usus halus. Defesiensi imun

2.5 Manifestasi Klinis Mula-mula anak/bayi cengeng gelisah, suhu tubuh mungkin meningkat, nafsu makan berkurang. Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer, kadang disertai wial dan wiata. Warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur empedu. Anus dan sekitarnya lecet karena seringnya difekasi dan tinja menjadi lebih asam akibat banyaknya asam laktat. Terdapat tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelas (elistitas kulit menurun), ubun-ubun dan mata cekung membran mukosa kering dan disertai penurunan berat badan. Perubahan tanda-tanda vital, nadi dan respirasi cepat tekan darah turun, denyut jantung cepat, pasien sangat lemas, kesadaran menurun (apatis, samnolen, sopora komatus) sebagai akibat hipovokanik. Diuresis berkurang (oliguria sampai anuria). Bila terjadi asidosis metabolik klien akan tampak pucat dan pernafasan cepat dan dalam. (Kusmaul).

2.6 Patofisiologi Mekanisme dasar yang menyebabkan diare ialah: Gangguan osmotik, akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus, isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.

Rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekali air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus. Gangguan motalitas usus, terjadinya hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula. Selain itu diare juga dapat terjadi, akibat masuknya mikroorganisme hidup ke dalam usus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung, mikroorganisme tersebut berkembang biak, kemudian mengeluarkan toksin dan akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare. Sedangkan akibat dari diare akan terjadi beberapa hal sebagai berikut: 1) Kehilangan air (dehidrasi) Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output) lebih banyak dari pemasukan input), merupakan penyebab terjadinya kematian pada diare. Gangguan keseimbangan asam basa (metabik asidosis). Hal ini terjadi karena kehilangan Na-bicarbonat bersama tinja. Metabolisme lemak tidak sempurna sehingga benda kotor tertimbun dalam tubuh, terjadinya penimbunan asam laktat karena adanya anorexia jaringan. Produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal (terjadi oliguria/anuria) dan terjadinya pemindahan ion Na dari cairan ekstraseluler kedalam cairan intraseluler. 2) Hipoglikemia Hipoglikemia terjadi pada 2-3% anak yang menderita diare, lebih sering pada a nak yang sebelumnya telah menderita KKP. Hal ini terjadi karena adanya gangguan penyimpanan/penyediaan glikogen dalam hati dan adanya gangguan absorbsi glukosa.Gejala hipoglikemia akan muncul jika kadar glukosa darah menurun hingga 40 mg% pada bayi dan 50% pada anak-anak gangguan gizi. 3) Terjadinya penurunan berat badan dalam waktu singkat, hal ini disebabkan oleh:

Makanan sering dihentikan oleh orang tua karena takut diare atau muntah yang bertambah hebat. Walaupun susu diteruskan, sering diberikan dengan pengeluaran dan susu yang encer ini diberikan terlalu lama. Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorbsi dengan baik karena adanya hiperperistaltik. 4) Gangguan sirkulasi Sebagai akibat diare dapat terjadi renjatan (shock) hipovolemik, akibatnya perfusi jaringan berkurang dan terjadi hipoksia, asidosis bertambah berat, dapat mengakibatkan perdarahan otak, kesadaran menurun dan bila tidak segera diatasi klien akan meninggal.

2.7 Komplikasi 1. 2. 3. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik). Renjatan hipovolemik. Hipokalemia (dengan gejala mekorismus, hiptoni otot, lemah, bradikardi,

perubahan pada elektro kardiagram) 4. 5. Hipoglikemia. Introleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena

kerusakan vili mukosa, usus halus. 6. 7. Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik. Malnutrisi energi, protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga

mengalami kelaparan.

2.8 Pencegahan diare Perhatikan kebersihan dan gizi yang seimbang. Menjaga kebersihan dengan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan kebersihan dari makanan yang kita makan. Pengguna an jamban yang benar. Imunisasi campak

2.9 Penatalaksanaan Diare Penanggulangan kekurangan cairan merupakan tindakan pertama dalam mengatasi pasien diare. Hal sederhana seperti meminumkan banyak air putih atau oral rehidration solution (ORS) seperti oralit harus cepat dilakukan. Pemberian ini segera apabila gejala diare sudah mulai timbul dan kita dapat melakukannya sendiri di rumah. Kesalahan yang sering terjadi adalah pemberian ORS baru dilakukan setelah gejala dehidrasi nampak. v Pada penderita diare yang disertai muntah, pemberian larutan elektrolit secara intravena merupakan pilihan utama untuk mengganti cairan tubuh, atau dengan kata lain perlu diinfus. Masalah dapat timbul karena ada sebagian masyarakat yang enggan untuk merawat-inapkan penderita, dengan berbagai alasan, mulai dari biaya, kesulitam dalam menjaga, takut bertambah parah setelah masuk rumah sakit, dan lain-lain. Pertimbangan yang banyak ini menyebabkan respon time untuk mengatasi masalah diare semakin lama, dan semakin cepat penurunan kondisi pasien kearah yang fatal. v Diare karena virus biasanya tidak memerlukan pengobatan lain selain ORS. Apabila kondisi stabil, maka pasien dapat sembuh sebab infeksi virus penyebab diare dapat diatasi sendiri oleh tubuh (self-limited disease). v Diare karena infeksi bakteri dan parasit seperti Salmonella sp, Giardia lamblia, Entamoeba coli perlu mendapatkan terapi antibiotik yang rasional, artinya antibiotik yang diberikan dapat membasmi kuman. v Oleh karena penyebab diare terbanyak adalah virus yang tidak

memerlukan antibiotik, maka pengenalan gejala dan pemeriksaan laboratorius perlu dilakukan untuk menentukan penyebab pasti. Pada kasus diare akut dan parah, pengobatan suportif didahulukan dan terkadang tidak membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut kalau kondisi sudah membaik. Prinsip menangani diare adalah: Rehidrasi: mengganti cairan yang hilang, dapat melalui mulut (minum) maupun melalui infus (pada kasus dehidrasi berat). Pemberian makanan yang adekuat: jangan memuasakan anak, teruskan memberi ASI dan lanjutkan makanan seperti yang diberikan sebelum sakit.

Pemberian obat seminimal mungkin. Sebagian besar diare pada anak akan sembuh tanpa pemberian antibiotik dan antidiare. Bahkan pemberian antibiotik dapat menyebabkan diare kronik.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Diare adalah perubahan pola defekasi (buang air besar) yakni pada bentuk atau frekuensinya dimana bentuk feses (tinja) berubah menjadi lunak atau cair, atau frekuensinya yang bertambah menjadi lebih dari tiga kali dalam sehari.Bila hal ini terjadi maka tubuh anak akan kehilangan cairan tubuh sehingga menyebabkan dehidrasi.Hal ini membuat tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik dan dapat membahayakan jiwa, khususnya pada anak dan orang tua. Diare ini bisa menyebapkan beberapa komplikasi,yaitu dehidrasi,renjatan

hivopolemik,kejang,nbakterimia,mal nutrisi,hipoglikemia,intoleransi skunder akibat kerusakan mukosa usus. 3.2 Saran Dalam upaya meningkatkan kualitas perawatan pada klien gastroenteritis perlu ditingkatkan tentang keperawatan pada klien tersebut sehingga asuhan keperawatan dapat lebih efektif secara komprehensip meliputi Bio-Psiko-Sosial-Spiritual pada klien melalui pendekatan proses keperawatan mencakup didalamnya pelayanan promotif,preventif,kuratif,rehabilitative yang dilandasi oleh ilmu dan kiat

keperawatan profeisonal yang sesuai nilai mopral etika profesi keperawatan sehingga dimasa yang akan datang dapat mengantisipasi dan menjawab tantangan-tangan dan perubahan sosial yang menitik beratkanpada pemeliharaan dan peningkatan

kesehatan individu,keluarga,masyarakat,serta lingkungannya.

DAFTAR PUSTAKA .H. Markum, 1991, Buku Ajar Kesehatan Anak, jilid I, Penerbit FKUI Ngastiyah, 997, Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta Price & Wilson 1995, Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Buku 1, Ed.4, EGC, Jakarta Soetjiningsih 1998, Tumbuh Kembang Anak, EGC, Jakarta