Anda di halaman 1dari 38

ASUHAN KEPERAWATAN CA NASOFARING

Di Susun Oleh : 1. 2. 3. 4. 5. ANDIK CAHYONO DWI OKTI M. KURNIA HANA LISTIANI LISA AFNIDAH ROKHIMI

PROGRAM STUDI D3 KEPRAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INSAN CENDEKIA MEDIKA JOMBANG 2010/2011

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb. Puji syukur kehadirat Allah YME karena atas rahmat dan hidayah-Nya saya selaku penulis akhirnya dapat menyelesaikan makalah Perkemihan dengan tema BPH sebagai tugas keleompok dalam semester ini. Makalah ini disusun dari berbagai sumber reverensi yang relevan, baik buku-buku diktat kedokteran dan keperawatan, artikel-artikel nasional dan internasional dari internet dan lain sebagainya. Semoga saja makalah ini dapat bermanfaat baik bagi penulis sendiri khususnya maupun bagi para pembaca pada umumnya. Tentu saja sebagai manusia, penulis tidak dapat terlepas dari kesalahan. Dan penulis menyadari makalah yang dibuat ini jauh dari sempurna. Karena itu penulis merasa perlu untuk meminta maaf jika ada sesuatu yang dirasa kurang. Penulis mengharapkan masukan baik berupa saran maupun kritikan demi perbaikan yang selalu perlu untuk dilakukan agar kesalahan - kesalahan dapat diperbaiki di masa yang akan datang. Wassalamualaikum Wr.Wb.

Jombang, 11 Desember 2011

Penulis,

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Bila kita merujuk pada data statistik yang dikeluarkan oleh American Cancer Society dalam Cancer.Net (2008) teercatat bahwa Kasus Karsinoma Nasofaring termasuk jarang ditemukan di Amerika Serikat, yaitu sekitar 2000 orang yang terdiagnosa setiap tahunnya. Dalam beberapa tahun terakhir, dan angka ini telah mengalami penurunan. Karsinoma nasofaring lebih banyak ditemukan di belahan dunia lain seperti Asia dan Afirika Utara, misalnya saja China bagian Selatan banyak kasus ditemukan untuk penyakit ini. Sementara itu, Indonesia sebagai bagian dari Asia mencatat bahwa tumor ganas yang paling banyak dijumpai di antara tumor ganas THT di Indonesia adalah Karsinoma nasofaring, dimana jenis tumor yang satu ini termasuk dalam lima besar tumor ganas dengan frekwensi tertinggi, sedangkan di daerah kepala dan leher menduduki tempat pertama (Lutan & Soetjipto dalam Asroel, 2002). Dan dalam Roezin dan Adham (2007) disebutkan bahwa hampir 60 % tumor ganas kepala dan leher merupakan karsinoma nasofaring. Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring dengan predileksi di fossa Rossenmuller pada nasofaring yang merupakan daerah transisional dimana epitel kuboid berubah menjadi epitel skuamosa (Efiaty, 2001). Tumor ganas nasofaring (karsinoma nasofaring) adalah sejenis kanker yang dapat menyerang dan membahayakan jaringan yang sehat dan bagian-bagian organ di tubuh kita. Nasofaring mengandung beberapa tipe jaringan, dan setiap jaringan mengandung beberapa tipe sel. Dan kanker ini dapat berkembang pada tipe sel yang berbeda. Dengan mengetahui tipe yang sel yang berbeda merupakan hal yang penting karena hal tersebut dapat menentukan tingkat seriusnya jenis kanker dan tipe terapi yang akan digunakan (American Cancer Society dalam Cancer.Net, 2008). 1.2 RUMUSAN MASALAH 1. Apa definisi Ca Nasofaring? 2. Bagaimana anatomi fisiologi Nasofaring? 3. Apa etiologi dari Ca Nasofaring? 4. Bagaimana patofisiologi dari Ca Nasofaring? 5. Bagaimana tanda dan gejala dari Ca Nasofaring?

6. Bagaimana pembagian Ca Nasofaring? 7. Bagaimana perluasan tumor ke jaringan sekitar dari Ca Nasofaring? 8. Bagaimana penentuan stadium dari Ca Nasofaring? 9. Apa komplikasi dari Ca Nasofaring? 10. Bagaimana pemeriksaan penunjang Ca Nasofaring? 11. Bagaimana penatalaksanaan Ca Nasofaring? 12. Bagaimana pencegahan dari Ca Nasofaring? 1.3 TUJUAN 1. Menjelaskan definisi Ca Nasofaring. 2. Menjelaskan anatomi fisiologi Ca Nasofaring. 3.Menyebutkan etiologi dari Ca Nasofaring. 4. Menjelaskan patofisiologi dari Ca Nasofaring. 5. Menyebutkan tanda dan gejala dari Ca Nasofaring. 6. Menyebutkan pembagian Ca Nasofaring. 7. Menjelaskan perluasan tumor ke jaringan sekitar dari Ca Nasofaring. 8. Menjelaskan stadium dari Ca Nasofaring. 9. Menyebutkan komplikasi dari Ca Nasofaring. 10. Menyebutkan pemeriksaan penunjang dari Ca Nasofaring. 11. Menjelaskan penatalaksanaan dari Ca Nasofaring. 12. Menjelaskan pencegahan dari Ca Nasofaring. 1.4 MANFAAT 1. Menambah wawasan pengetahuan mengenai kasus Ca Nasofaring dan penerapan konsep keperawatan pada kasus Ca Nasofaring.

2. Menambah wawasan pengetahuan mengenai penerapan diagnosa keperawatan pada kasus Ca Nasofaring.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 DEFINISI Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring dengan predileksi di fossa Rossenmuller dan atap nasofaring. Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146). Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring dengan predileksi di fossa Rossenmuller pada nasofaring yang merupakan daerah transisional dimana epitel kuboid berubah menjadi epitel skuamosa (Efiaty, 2001). Karsinoma nasofaring adalah keganasan pada nasofaring yang berasal dari epitel mukosa nasofaring atau kelenjar yang terdapat di nasofaring. Carsinoma Nasofaring merupakan karsinoma yang paling banyak di THT. Sebagian besar klien datang ke THT dalam keadaan terlambat atau stadium lanjut. 2.2 ANATOMI FISIOLOGI Nasofaring letaknya tertinggi di antara bagian-bagian lain dari faring, tepatnya di sebelah dorsal dari cavum nasi dan dihubungkan dengan cavum nasi oleh koane. Nasofaring tidak bergerak, berfungsi dalam proses pernafasan dan ikut menentukan kualitas suara yang dihasilkan oleh laring. Nasofaring merupakan rongga yang mempunyai batas-batas sebagai berikut : Atas : Basis kranii. Bawah : Palatum mole Belakang : Vertebra servikalis Depan : Koane Lateral : Ostium tubae Eustachii, torus tubarius, fossa rosenmuler (resesus faringeus). Pada atap dan dinding belakang Nasofaring terdapat adenoid atau tonsila faringika.

2.3 ETIOLOGI Kaitan Virus Epstein Barr dengan ikan asin dikatakan sebagai penyebab utama timbulnya penyakit ini. Virus ini dapat masuk dalam tubuh dan tetap tinggal disana tanpa menyebabkan suatu kelainan dalam jangka waktu yang lama. Untuk mengaktifkan virus ini dibutuhkan suatu mediator kebiasaan untuk mengkonsumsi ikan asin secara terus menerus mulai dari masa kanak-kanak, merupakan mediator utama yang dapat mengaktifkan virus ini sehingga menimbulkan Ca Nasofaring. Mediator yang berpengaruh untuk timbulnya Ca Nasofaring : 1. Ikan asin, makanan yang diawetkan dan nitrosamine. 2. Keadaan social ekonomi yang rendah, lingkungan dan kebiasaan hidup. 3. Sering kontak dengan Zat karsinogen ( benzopyrenen, benzoantrance, gas kimia, asap industri, asap kayu, beberapa ekstrak tumbuhan). 4. Ras dan keturunan (Malaysia, Indonesia) 5. Radang kronis nasofaring 6. Profil HLA 2.4 PATOFISIOLOGI Urutan tertinggi penderita karsinoma nasofaring adalah suku mongoloid yaitu 2500 kasus baru pertahun. Diduga disebabkan karena mereka memakan makanan yang diawetkan dalam musim dingin dengan menggunakan bahan pengawet nitrosamin. (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146). Insidens karsinoma nasofaring yang tinggi ini dihubungkan dengan kebiasaan makan, lingkungan dan virus Epstein-Barr (Sjamsuhidajat, 1997 hal 460). Selain itu faktor geografis, rasial, jenis kelamin, genetik, pekerjaan, kebiasaan hidup, kebudayaan, sosial ekonomi, infeksi kuman atau parasit juga sangat mempengaruhi kemungkinan timbulnya tumor ini. Tetapi sudah hampir dapat dipastikan bahwa penyebab karsinoma nasofaring adalah virus Epstein-barr, karena pada semua pasien nasofaring didapatkan titer anti-virus EEB yang cukup tinggi (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146). Infeksi virus Epstein Barr dapat menyebabkan karsinoma nasofaring. Hal ini dapat dibuktikan dengan dijumpai adanya keberadaan protein-protein laten pada penderita karsinoma nasofaring. Pada penderita ini sel yang teerinfeksi oleh EBV akan menghasilkan protein tertentu yang berfungsi untuk proses poliferasi dan mempertahankan

kelangsungan virus didalam sel host. Protein laten ini dapat dipakai sebagai pertanda delam mendiagnosa karsinoma nasofaring. Hubungan antara karsinoma nasofaring dan infeksi virus Epstein-Barr juga dinyatakan oleh berbagai peneliti dari bagian yang berbeda di dunia ini . Pada pasien karsinoma nasofaring dijumpai peninggian titer antibodi anti EBV (EBNA-1) di dalam serum plasma. EBNA-1 adalah protein nuklear yang berperan dalam mempertahankan genom virus. Huang dalam penelitiannya, mengemukakan keberadaan EBV DNA dan EBNA di dalam sel penderita karsinoma nasofaring.

WOC

Konsumsi ikan asin

Riwayat keluarga Kerusakan DNA pd sel dimana pola kromosomnya abnormal Terbentuk sel-sel muatan Pola kromosom abnormal Kromosom ekstra terlalu sedikit translokasi kromosom Sifat kanker diturunkan pd anak

Mengaktifkan EBV

Menstimulasi pembelahan sel abnormal yg tdk terkontrol

Diferensiasi dan pol ferasi protein laten (EBNA-1) Pertumbuhan sel kanker pd nasofaring (utama pd fosa rossamuller) Metastase sel-sel kanker ke kelenjar getah bening melalui aliran limfe Pertumbuhan dan perkembangan sel-sel kanker di kel. getah bening Benjolan massa pd leher bagian samping Menembus kelenjar dan mengenai otak di bawahnya Kelenjar melekat pd otot dan sulit di gerakkan Nyeri Indikasi keoterapi Perangsangan elektrik zona pencetus kemoreseptor di ventrikel IV otak Resti perubahan membran mukosa oral Supresi sum-sum tulang Penekanan ps tuba eustachius Penyubatan muara tuba Gangguan persepsi sensori (pendengaran)

Iritasi traktus GI Rangsangan

Gangguan pembuluh sel darah merah

Diare

Konstipasi

Eritrosit, leukosi trombosit

Imunosupressi

Resti infeksi

Merusak selsel epitel kulit Kerusakan integritas kulit

Iritasi mukosa mulut Stomatitis Anoreksia

Mual muntah Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan

Gangguan integritas kulit

Kerusakan pd kulit kepala Alopesia Gangguan harga diri rendah

2.5 TANDA DAN GEJALA Simtomatologi ditentukan oleh hubungan anatomic nasofaring terhadap hidung, tuba Eustachii dan dasar tengkorak. Gejala hidung : Epistaksis : rapuhnya mukosa hidung sehingga mudah terjadi perdarahan. Sumbatan hidung. Sumbatan menetap karena pertumbuhan tumor kedalam rongga nasofaring dan menutupi koana, gejalanya : pilek kronis, ingus kental, gangguan penciuman. : Kataralis/ oklusi tuba Eustachii : tumor mula-mula dofosa Rosen Muler, pertumbuhan tumor dapat menyebabkan penyumbatan muara tuba ( berdengung, rasa penuh, kadang gangguan pendengaran). Otitis Media Serosa sampai perforasi dan gangguan pendengaran. Gangguan mata dan saraf : Karena dekat dengan rongga tengkorak maka terjadi penjalaran melalui foramen laserum yang akan mengenai saraf otak ke III, IV, VI sehingga dijumpai diplopia, juling, eksoftalmus dan saraf ke V berupa gangguan motorik dan sensorik. Karsinoma yang lanjut akan mengenai saraf otak ke IX, X, XI dan XII jika penjalaran melalui foramen jugulare yang sering disebut sindrom Jackson. Jika seluruh saraf otak terkena disebut sindrom unialteral. Prognosis jelek bila sudah disertai destruksi tulang tengkorak. Metastasis ke kelenjar leher : Yaitu dalam bentuk benjolan medial terhadap muskulus sternokleidomastoid yang akhirnya membentuk massa besar hingga kulit mengkilat. Hal inilah yang mendorong pasien untuk berobat. Suatu kelainan nasofaring yang disebut lesi hiperplastik nasofaring atau LHN telah diteliti dicina yaitu 3 bentuk yang mencurigakan pada nasofaring seperti pembesaran adenoid pada orang dewasa, pembesaran nodul dan mukositis berat pada daerah nasofaring. Kelainan ini bila diikuti bertahun tahun akan menjadi karsinoma nasofaring.(Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 147 -148). Tumor pada nasofaring relatif bersifat anaplastikdan banyak terdapat kelenjar limfe, maka karsinoma nasofaring dapat menyebar ke kelenjar getah bening leher. Melalui aliran pembuluh limfe, sel-sel kanker dapat sampai ke kelenjar limfe leher dan tertahan di sana dan karena memang kelenjar ini merupakan pertahanan pertama agar sel-sel kanker tidak langsung ke bagian tubuh yang lebih jauh.

: Limfadenopati servikal : melalui pembuluh limfe, sel-sel kanker dapat mencapai kelenjar limfe dan bertahan disana. Dalam kelenjar ini sel tumbuh dan berkembang biak hingga kelenjar membesar dan tampak benjolan dileher bagian samping, lama kelamaan karena tidak dirasakan kelenjar akan berkembang dan melekat pada otot sehingga sulit digerakkan. 2.6 PEMBAGIAN CA NASOFARING Menurut Histopatologi :

- Keratinizing - Non Keratinizing. carcinoma - Transitional - Lymphoepithelioma.

Menurut bentuk dan cara tumbuh :

(creeping tumor) Klasifikasi Histopatologi menurut WHO (1982) : Tipe WHO 1 - Karsinoma sel skuamosa (KSS) - Deferensiasi baik sampai sedang. - Sering eksofilik (tumbuh dipermukaan).

Tipe WHO 2 - Karsinoma non keratinisasi (KNK). - Paling banyak pariasinya. - Menyerupai karsinoma transisional Tipe WHO 3 - Karsinoma tanpa diferensiasi (KTD). - Seperti antara lain limfoepitelioma, Karsinoma anaplastik, Clear Cell Carsinoma, varian sel spindel. - Lebih radiosensitif, prognosis lebih baik. 2.7 PERLUASAN TUMOR KE JARINGAN SEKITAR 1. Perluasan ke atas : ke N.II dan N. VI, keluhan diplopia, hipestesi pipi 2. Sindrom petrosfenoid terjadi jika semua saraf grup anterior terkena dengan gejala khas :

3. Perluasan ke belakang : N.VII-N.XII, trismus, sulit menelan, hiper/hipo/anestesi palatum,faring dan laring,gangguan respirasi dan salvias, kelumpuhan otot trapezius, stenokleidomastoideus, hemiparalisis dan atrofi sebelah lidah. 4. Manifestasi kelumpuhan :

pengecap pada sepertiga belakang lidah. dan laring disertai gangguan respirasi dan salvias.

-otot trapezius, sterno kleido mastoideus, serta hemiparese palatum mole.

2.8 PENENTUAN STADIUM TUMOR SIZE (T) Tumor primer Tidak tampak tumor Tumor terbatas pada satu lokasi saja Tumor dterdapat pada dua lokalisasi atau lebih tetapi masih terbatas pada rongga nasofaring Tumor telah keluar dari rongga nasofaring Tumor teah keluar dari nasofaring dan telah kmerusak tulang tengkorak atau saraf-saraf otak Tumor tidak jelas besarnya karena pemeriksaan tidak lengkap REGIONAL LIMFE NODES (N) Tidak ada pembesaran Terdapat pembesarantetapi homolateral dan masih bisa digerakkan Terdapat pembesaran kontralateral/ bilateral dan masih dapat digerakkan Terdapat pembesaran, baik homolateral, kontralateral maupun bilateral yang sudah melekat pada jaringan sekitar METASTASE JAUH (M) Tidak ada metastase jauh Metastase jauh

T T0 T1 T2 T3 T4 Tx N0 N1 N2 N3

M0 M1

Stadium I : T1 No dan Mo Stadium II : T2 No dan Mo Stadium III : T1/T2/T3 dan N1 dan Mo atau T3 dan No dan Mo Stadium IV : T4 dan No/N1 dan Mo atau T1/T2/T3/T4 dan N2/N3 dan Mo atau T1/T2/T3/t4 dan No/N1/N3/N4 dan M1 2.9 KOMPLIKASI Sel-sel kanker dapat ikut mengalir bersama getah bening atau darah, mengenai organ tubuh yang letaknya jauh dari nasofaring. Yang sering adalah tulang, hati dan paru. Hal ini merupakan hasil akhir dan prognosis yang buruk. Dalam penelitian lain ditemukan bahwa karsinoma nasofaring dapat mengadakan metastase jauh, ke paru-paru dan tulang, masing-masing 20 %, sedangkan ke hati 10 %, otak 4 %, ginjal 0.4 %, dan tiroid 0.4 %.

Komplikasi lain yang biasa dialami adalah terjadinya pembesaran kelenjar getah bening pada leher dan kelumpuhan saraf kranial. 2.10 PEMERIKSAAN PENUNJANG a. Nasofaringoskopi b. Rinoskopi posterior dengan atau tanpa kateter c. Biopsi multiple d. Radiologi :Thorak PA, Foto tengkorak, Tomografi, CT Scan, Bone scantigraphy (bila dicurigai metastase tulang) e. Pemeriksaan Neuro-oftalmologi : untuk mengetahui perluasan tumor kejaringan sekitar yang menyebabkan penekanan atau infiltrasi kesaraf otak, manifestasi tergantung dari saraf yang dikenai. f. MRI g. Sinar X 2.11 PENETALAKSANAAN Prinsipnya pengobatan untuk karsinoma nasofaring meliputi terapi sbb :7,8 1. Radioterapi 2. Kemoterapi 3. Kombinasi 4. Operasi 5. Imunoterapi 6. Terapi paliatif A. TERAPI RADIASI PADA KARSINOMA NASOFARING Definisi Terapi Radiasi Terapi radiasi adalah terapi sinar menggunakan energi tinggi yang dapat menembus jaringan dalam rangka membunuh sel neoplasma. Persyaratan Terapi Radiasi Penyembuhan total terhadap karsinoma nasofaring apabila hanya menggunakan terapi radiasi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

- Belum didapatkannya sel tumor di luar area radiasi - Tipe tumor yang radiosensitif - Besar tumor yang kira-kira radiasi mampu mengatasinya - Dosis yang optimal. - Jangka waktu radiasi tepat - Sebisa-bisanya menyelamatkan sel dan jaringan yang normal dari efek samping radiasi. Dosis radiasi pada limfonodi leher tergantung pada ukurannya sebelum kemoterapi diberikan. Pada limfonodi yang tak teraba diberikan radiasi sebesar 5000 cGy, < 2 cm diberikan 6600 cGy, antara 2-4 cm diberikan 7000 cGy dan bila lebih dari 4 cm diberikan dosis 7380 cGy, diberikan dalam 41 fraksi selama 5,5 minggu. Sifat Terapi Radiasi Terapi radiasi sendiri sifatnya adalah : - Merupakan terapi yang sifatnya lokal dan regional - Mematikan sel dengan cara merusak DNA yang akibatnya bisa mendestrukasi sel tumor - Memiliki kemampuan untuk mempercepat proses apoptosis dari sel tumor. - Ionisasi yang ditimbulkan oleh radiasi dapat mematikan sel tumor. - Memiliki kemampuan mengurangi rasa sakit dengan mengecilkan ukuran tumor sehingga mengurangi pendesakan di area sekitarnya.. - Berguna sebagai terapi paliatif untuk pasien dengan perdarahan dari tumornya. - Walaupun pemberian radiasi bersifat lokal dan regional namun dapat mengakibatkan defek imun secara general. Efek Samping Terapi Radiasi : 1. Radiomukositis, stomatitis, hilangnya indra pengecapan, rasa nyeri dan ngilu pada gigi. 2. Xerostomia, trismus, otitis media 3. Pendengaran menurun 4. Pigmentasi kulit seperti fibrosis subkutan atau osteoradionekrosis. 5. Pada terapi kombinasi dengan sitostatika dapat timbul depresi sumsum tulang dan gangguan gastrointestinal. 6. Lhermitte syndrome karena radiasi myelitis. 7. Hypothyroidism Pengaruh Terapi Radiasi Terhadap Sistem Imun Secara luas dilaporkan bahwa segera setelah pemberian radiasi terjadi gangguan terhadap sel limfosit T, yang akibatnya memudahkan timbulnya berbagai macam infeksi.11 Pasien dengan tumor primer di leher dimana drainase limfatiknya juga di leher , setelah diberikan radiasi mengakibatkan berkurangnya limfosit darah tepi secara signifikan. Jumlah limfosit T CD4+ menurun lebih bermakna dibandingkan penurunan jumlah sel limfosit T CD8+. Gangguan akibat radiasi tidak hanya mempengaruhi jumlah sel limfosit

T namun juga mengakibatkan defek pada fungsi sel T. Adanya gangguan fungsi dibuktikan dengan sulitnya sel T ini distimulasi pada percobaan invitro. Apakah defek jumlah dan fungsi limfosit T pada penderita yang diterapi radiasi dapat reversibel?

Penelitian menunjukkan bahwa ada kecenderungan normalisasi sel limfosit T CD4+ setelah 3-4 minggu pasca radiasi. Jenis Pemberian Terapi Radiasi Terapi radiasi pada karsinoma nasofaring bisa diberikan sebagai : - Radiasi eksterna dengan berbagai macam teknik fraksinasi. - Radiasi interna ( brachytherapy ) yang bisa berupa permanen implan atau intracavitary barchytherapy. Radiasi eksterna dapat digunakan sebagai : - pengobatan efektif pada tumor primer tanpa pembesaran kelenjar getah bening - pembesaran tumor primer dengan pembesaran kelenjar getah bening - Terapi yang dikombinasi dengan kemoterapi - Terapi adjuvan diberikan pre operatif atau post operatif pada neck dissection Radiasi Interna/ brachyterapi bisa digunakan untuk : - Menambah kekurangan dosis pada tumor primer dan untuk menghindari terlalu banyak jaringan sehat yang terkena radiasi. - Sebagai booster bila masih ditemukan residu tumor - Pengobatan kasus kambuh. B. KEMOTERAPI PADA KARSINOMA NASOFARING Definisi Kemoterapi Kemoterapi adalah segolongan obat-obatan yang dapat menghambat

pertumbuhan kanker atau bahkan membunuh sel kanker. Obat-obat anti kaker ini dapat digunakan sebagai terapi tunggal (active single agents), tetapi kebanyakan berupa kombinasi karena dapat lebih meningkatkan potensi sitotoksik terhadap sel kanker. Selain itu sel-sel yang resisten terhadap salah satu obat mungkin sensitif terhadap obat lainnya. Dosis obat sitostatika dapat dikurangi sehingga efek samping menurun. Tujuan Kemoterapi Tujuan kemoterapi adalah untuk menyembuhkan pasien dari penyakit tumor ganasnya. Kemoterapi bisa digunakan untuk mengatasi tumor secara lokal dan juga untuk mengatasi sel tumor apabila ada metastasis jauh. Secara lokal dimana vaskularisasi

jaringan tumor yang masih baik, akan lebih sensitif menerima kemoterapi sebagai antineoplastik agen. Dan karsinoma sel skuamosa biasanya sangat sensitif terhadap kemoterapi ini. Obat-Obat Sitostatika yang direkomendasi FDA untuk Kanker Kepala Leher Beberapa sitostatika yang mendapat rekomendasi dari FDA (Amerika) untuk digunakan sebagai terapi keganasan didaerah kepala dan leher yaitu Cisplatin, Carboplatin, Methotrexate, 5-fluorouracil, Bleomycin, Hydroxyurea, Doxorubicin, Cyclophosphamide, Doxetaxel, Mitomycin-C, Vincristine dan Paclitaxel. Akhir-akhir ini dilaporkan penggunaan Gemcitabine untuk keganasan didaerah kepala dan leher. Sensitivitas Kemoterapi terhadap Karsinoma Nasofaring Kemoterapi memang lebih sensitif untuk karsinoma nasofaring WHO I dan sebagian WHO II yang dianggap radioresisten. Secara umum karsinoma nasofaring WHO-3 memiliki prognosis paling baik sebaliknya karsinoma nasofaring WHO-1 yang memiliki prognosis paling buruk. Adanya perbedaan kecepatan pertumbuhan (growth) dan pembelahan (division) antara sel kanker dan sel normal yang disebut siklus sel (cell cycle) merupakan titik tolak dari cara kerja sitostatika. Hampir semua sitostatika mempengaruhi proses yang berhubungan dengan sel aktif seperti mitosis dan duplikasi DNA. Sel yang sedang dalam keadaan membelah pada umumnya lebih sensitif daripada sel dalam keadaan istirahat. Berdasar siklus sel kemoterapi ada yang bekerja pada semua siklus ( Cell Cycle non Spesific ) artinya bisa pada sel yang dalam siklus pertumbuhan sel bahkan dalam keadaan istirahat. Ada juga kemoterapi yang hanya bisa bekerja pada siklus pertumbuhan tertentu ( Cell Cycle phase spesific ). Obat yang dapat menghambat replikasi sel pada fase tertentu pada siklus sel disebut cell cycle specific. Sedangkan obat yang dapat menghambat pembelahan sel pada semua fase termasuk fase G0 disebut cell cycle nonspecific. Obat-obat yang tergolong cell cycle specific antara lain Metotrexate dan 5-FU, obat-obat ini merupakan anti metabolit yang bekerja dengan cara menghambat sintesa DNA pada fase S. Obat antikanker yang tergolong cell cycle nonspecific antara lain Cisplatin (obat ini memiliki mekanisme crosslinking terhadap DNA sehingga mencegah replikasi, bekerja pada fase G1 dan G2), Doxorubicin (fase S1, G2, M), Bleomycin (fase G2, M), Vincristine (fase S, M). Dapat dimengerti bahwa zat dengan aksi multipel bisa mencegah timbulnya klonus tumor yang resisten, karena obat-obat ini cara kerjanya tidak sama. Apabila resiten

terhadap agen tertentu kemungkinan sensitif terhadap agen lain yang diberikan, dikarenakan sasaran kerja pada siklus sel berbeda. Mekanisme Cara Kerja Kemoterapi Kebanyakan obat anti neoplasma yang secara klinis bermanfaat, agaknya bekerja dengan menghambat sintesis enzim maupun bahan esensial untuk sintesis dan atau fungsi asam nukleat. Berdasarkan mekanisme cara kerja obat , zat yang berguna pada tumor kepala leher dibagi sebagai berikut : 1. Antimetabolit, Obat ini menghambat biosintesis purin atau pirimidin. Sebagai contoh MTX, menghambat pembentukan folat tereduksi, yang dibutuhkan untuk sintesis timidin. 2. Obat yang mengganggu struktur atau fungsi molekul DNA. Zat pengalkil seperti CTX ( Cyclophosphamide) mengubah struktur DNA, dengan demikian menahan replikasi sel. Di lain pihak, antibiotika seperti dactinomycin dan doxorubicin mengikat dan menyelip diantara rangkaian nukleotid molekul DNA dan dengan demikian menghambat produksi mRNA. 3. Inhibitor mitosis seperti alkaloid vinka contohnya vincristine dan vinblastine, menahan pembelahan sel dengan mengganggu filamen mikro pada kumparan mitosis. Cara Pemberian Kemoterapi Secara umum kemoterapi bisa digunakan dengan 4 cara kerja yaitu : 1. Sebagai neoadjuvan yaitu pemberian kemoterapi mendahului pembedahan dan radiasi. 2. Sebagai terapi kombinasi yaitu kemoterapi diberikan bersamaan dengan radiasi pada kasus karsinoma stadium lanjut. 3. Sebagai terapi adjuvan yaitu sebagai terapi tambahan paska pembedahan dan atau radiasi 4. Sebagai terapi utama yaitu digunakan tanpa radiasi dan pembedahan terutama pada kasus kasus stadium lanjut dan pada kasus kanker jenis hematologi (leukemia dan limfoma). Menurut prioritas indikasinya terapi terapi kanker dapat dibagi menjadi dua yaitu terapi utama dan terapi adjuvan (tambahan/ komplementer/ profilaksis). Terapi utama dapat diberikan secara mandiri, namun terapi adjuvan tidak dapat mandiri, artinya terapi adjuvan tersebut harus meyertai terapi utamanya. Tujuannya adalah membantu terapi utama agar hasilnya lebih sempurna. Terapi adjuvan tidak dapat diberikan begitu saja tetapi memiliki indikasi yaitu bila setelah mendapat terapi utamanya yang maksimal ternyata :

- kankernya masih ada, dimana biopsi masih positif - kemungkinan besar kankernya masih ada, meskipun tidak ada bukti secara makroskopis. - pada tumor dengan derajat keganasan tinggi ( oleh karena tingginya resiko kekambuhan dan metastasis jauh). Berdasarkan saat pemberiannya kemoterapi adjuvan pada tumor ganas kepala leher dibagi menjadi : 1. neoadjuvant atau induction chemotherapy 2. concurrent, simultaneous atau concomitant chemoradiotherapy 3. post definitive chemotherapy. Efek Samping Kemoterapi Agen kemoterapi tidak hanya menyerang sel tumor tapi juga sel normal yang membelah secara cepat seperti sel rambut, sumsum tulang dan Sel pada traktus gastro intestinal. Akibat yang timbul bisa berupa perdarahan, depresi sum-sum tulang yang memudahkan terjadinya infeksi. Pada traktus gastro intestinal bisa terjadi mual, muntah anoreksia dan ulserasi saluran cerna. Sedangkan pada sel rambut mengakibatkan kerontokan rambut. Jaringan tubuh normal yang cepat proliferasi misalnya sum-sum tulang, folikel rambut, mukosa saluran pencernaan mudah terkena efek obat sitostatika. Untungnya sel kanker menjalani siklus lebih lama dari sel normal, sehingga dapat lebih lama dipengaruhi oleh sitostatika dan sel normal lebih cepat pulih dari pada sel kanker. Efek samping yang muncul pada jangka panjang adalah toksisitas terhadap jantung, yang dapat dievaluasi dengan EKG dan toksisitas pada paru berupa kronik fibrosis pada paru. Toksisitas pada hepar dan ginjal lebih sering terjadi dan sebaiknya dievalusi fungsi faal hepar dan faal ginjalnya. Kelainan neurologi juga merupakan salah satu efek samping pemberian kemoterapi. Untuk menghindari efek samping intolerable, dimana penderita menjadi tambah sakit sebaiknya dosis obat dihitung secara cermat berdasarkan luas permukaan tubuh (m2) atau kadang-kadang menggunakan ukuran berat badan (kg). Selain itu faktor yang perlu diperhatikan adalah keadaan biologik penderita. Untuk menentukan keadaan biologik yang perlu diperhatikan adalah keadaan umum (kurus sekali, tampak kesakitan, lemah sadar baik, koma, asites, sesak, dll), status penampilan (skala karnofsky, skala ECOG), status gizi, status hematologis, faal ginjal, faal hati, kondisi jantung, paru dan lain sebagainya. Penderita yang tergolong good risk dapat diberikan dosis yang relatif tinggi, pada poor risk (apabila didapatkan gangguan berat pada faal organ penting) maka dosis obat

harus dikurangi, atau diberikan obat lain yang efek samping terhadap organ tersebut lebih minimal. Efek samping kemoterapi dipengaruhi oleh : 1. Masing-masing agen memiliki toksisitas yang spesifik terhadap organ tubuh tertentu. 2. Dosis. 3. Jadwal pemberian. 4. Cara pemberian (iv, im, peroral, per drip infus). 5. Faktor individual pasien yang memiliki kecenderungan efek toksisitas pada organ tertentu. Persyaratan Pasien yang Layak diberi Kemoterapi Pasien dengan keganasan memiki kondisi dan kelemahan kelemahan, yang apabila diberikan kemoterapi dapat terjadi untolerable side effect. Sebelum memberikan kemoterapi perlu pertimbangan sbb : 1. Menggunakan kriteria Eastern Cooperative Oncology Group (ECOG) yaitu status penampilan <= 2 2. Jumlah lekosit >=3000/ml 3. Jumlah trombosit>=120.0000/ul 4. Cadangan sumsum tulang masih adekuat misal Hb > 10 5. Creatinin Clearence diatas 60 ml/menit (dalam 24 jam) ( Tes Faal Ginjal ) 6. Bilirubin <2 mg/dl. , SGOT dan SGPT dalam batas normal (Tes Faal Hepar). 7. Elektrolit dalam batas normal. 8. Mengingat toksisitas obat-obat sitostatika sebaiknya tidak diberikan pada usia diatas 70 tahun. Status Penampilan Penderita Ca ( Performance Status ) Status penampilan ini mengambil indikator kemampuan pasien, dimana penyait kanker semakin berat pasti akan mempengaruhi penampilan pasien. Hal ini juga menjadi faktor prognostik dan faktor yang menentukan pilihan terapi yang tepat pada pasien dengan sesuai status penampilannya. Skala status penampilan menurut ECOG ( Eastern Cooperative Oncology Group) adalah sbb : - Grade 0 : masih sepenuhnya aktif, tanpa hambatan untuk mengerjakan tugas kerja dan pekerjaan sehari-hari. - Grade 1 : hambatan pada perkerjaan berat, namun masih mampu bekerja kantor ataupun pekerjaan rumah yang ringan.

- Grade 2 : hambatan melakukan banyak pekerjaan, 50 % waktunya untuk tiduran dan hanya bisa mengurus perawatan dirinya sendiri, tidak dapat melakukan pekerjaan lain. - Grade 3 : Hanya mampu melakukan perawatan diri tertentu, lebih dari 50% waktunya untuk tiduran. - Grade 4 : Sepenuhnya tidak bisa melakukan aktifitas apapun, betul-betul hanya di kursi atau tiduran terus. C. KEMORADIOTERAPI PADA KARSINOMA NASOFARING Definisi Kemoradioterapi Kemoradioterapi kombinasi adalah pemberian kemoterapi bersamaan dengan radioterapi dalam rangka mengontrol tumor secara lokoregional dan meningkatkan survival pasien dengan cara mengatasi sel kanker secara sistemik lewat mikrosirkulasi. Begitu banyak variasi agen yang digunakan dalam kemoradioterapi ini sehingga sampai saat ini belum didapatkan standar kemoradioterapi yang definitif. Manfaat Kemoradioterapi Manfaat Kemoradioterapi adalah : 1. Mengecilkan massa tumor, karena dengan mengecilkan tumor akan memberikan hasil terapi radiasi lebih efektif. Telah diketahui bahwa pusat tumor terisi sel hipoksik dan radioterapi konvensional tidak efektif jika tidak terdapat oksigen. Pengurangan massa tumor akan menyebabkan pula berkurangnya jumlah sel hipoksia. 2. Mengontrol metastasis jauh dan mengontrol mikrometastase. 3. Modifikasi melekul DNA oleh kemoterapi menyebabkan sel lebih sensitif terhadap radiasi yang diberikan (radiosensitiser). Terapi kombinasi ini selain bisa mengontrol sel tumor yang radioresisten, memiliki manfaat juga untuk menghambat pertumbuhan kembali sel tumor yang sudah sempat terpapar radiasi. Kemoterapi neoajuvan dimaksudkan untuk mengurangi besarnya tumor sebelum radioterapi. Pemberian kemoterapi neoadjuvan didasari atas pertimbangan vascular bed tumor masih intak sehingga pencapaian obat menuju massa tumor masih baik. Disamping itu, kemoterapi yang diberikan sejak dini dapat memberantas mikrometastasis sistemik seawal mungkin. Kemoterapi neoadjuvan pada keganasan kepala leher stadium II IV dilaporkan overall response rate sebesar 80 %- 90 % dan CR ( Complete Response ) sekitar 50%. Kemoterapi neoadjuvan yang diberikan sebelum terapi definitif berupa

radiasi dapat mempertahankan fungsi organ pada tempat tumbuhnya tumor (organ preservation). Secara sinergi agen kemoterapi seperti Cisplatin mampu menghalangi perbaikan kerusakan DNA akibat induksi radiasi. Sedangkan Hidroksiurea dan Paclitaxel dapat memperpanjang durasi sel dalam keadaan fase sensitif terhadap radiasi. Kemoterapi yang diberikan secara bersamaan dengan radioterapi (concurrent or concomitant chemoradiotherapy ) dimaksud untuk mempertinggi manfaat radioterapi. Dengan cara ini diharapkan dapat membunuh sel kanker yang sensitif terhadap kemoterapi dan mengubah sel kanker yang radioresisten menjadi lebih sensitif terhadap radiasi. Keuntungan kemoradioterapi adalah keduanya bekerja sinergistik yaitu mencegah resistensi, membunuh subpopulasi sel kanker yang hipoksik dan menghambat recovery DNA pada sel kanker yang sublethal. Kelemahan Kemoradioterapi Kelemahan cara ini adalah meningkatkan efek samping antara lain mukositis, leukopeni dan infeksi berat. Efek samping yang terjadi dapat menyebabkan penundaan sementara radioterapi. Toksisitas Kemoradioterapi dapat begitu besar sehingga berakibat fatal. Beberapa literatur menyatakan bahwa pemberian kemoterapi secara bersamaan dengan radiasi dengan syarat dosis radiasi tidak terlalu berat dan jadwal pemberian tidak diperpanjang, maka sebaiknya gunakan regimen kemoterapi yang sederhana sesuai jadwal pemberian. Untuk mengurangi efek samping dari kemoradioterapi diberikan kemoterapi tunggal (single agent chemotherapy) dosis rendah dengan tujuan khusus untuk meningkatkan sensitivitas sel kanker terhadap radioterapi (radiosensitizer). Sitostatika yang sering digunakan adalah Cisplatin, 5-Fluorouracil dan MTX dengan response rate 15%-47%. 2.12 PENCEGAHAN Meskipun beberapa faktor risiko karsinoma nasofaring tidak dapat dikontrol, ada beberapa yang dapat dihindari dengan melalkukan perubahan gaya hidup. Menghentikan penggunaan rokok, karena hal ini adalah hal yang sangat penting untuk mengurangi risiko karsinoma nasofaring. Selain itu pemberian vaksinasi pada penduduk yang bertempat tinggal di daerah dengan risiko tinggi. Memindahkan (migrasi) penduduk dari daerah risiko tinggi ke tempat lainnya. Penerangan akan kebiasaan hidup yang salah, mengubah cara memasak makanan untuk mencegah akibat yang timbul dari bahan-bahan yang berbahaya. Penyuluhan

mengenai lingkungan hidup yang tidak sehat, meningkatkan keadaan sosial-ekonomi dan berbagai hal yang berkaitan dengan kemungkinan-kemungkinan faktor penyebab. Melakukan tes serologik IgA-anti VCA dan IgA anti EA bermanfaat dalam menemukan karsinoma nasofaring lebih dini.

BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN 3.1 PENGKAJIAN Pengumpulan Data Data-data yang dikumpulkan atau dikaji meliputi : a. Identitas Pasien Pada tahap ini perawat perlu mengetahui tentang nama, umur, jenis kelamin, alamat rumah, agama atau kepercayaan, suku bangsa, bahasa yang dipakai, status pendidikan dan pekerjaan pasien. b. Keluhan Utama Telinga kiri terasa buntu/hingga peradangan. Timbul benjolan di leher kanan dan kiri sejak 3 bulan yang lalu. c. Riwayat Penyakit Dahulu Klien pernah mengalami stroke atau tidak d. Riwayat Penyakit Sekarang Telinga kiri terasa buntu/hingga peradangan. Timbul benjolan di leher kanan dan kiri sejak 3 bulan yang lalu. e. Riwayat Kesehatan Keluarga Riwayat kesehatan keluarga yang lain tidak ada yang menderita penyakit seperti yang diderita klien saat ini. f. Keadaan Kesehatan Lingkungan Klien mengatakan bahwa Lingkungan rumah tempat tinggal cukup bersih g. Riwayat Psikososial Meliputi perasaan pasien terhadap penyakitnya, bagaimana cara mengatasinya serta bagaimana perilaku pasien terhadap tindakan yang dilakukan terhadap dirinya. Pola aktivitas sehari-hari (1) Pola Persepsi Dan Tata Laksana Hidup Sehatan Pada pasien diabetik terjadi perubahan persepsi dan tata laksana hidup sehat karena kurangnya pengetahuan tentang dampak diabetuk sehingga menimbulkan persepsi yang negatif terhadap dirinya dan kecenderungan untuk tidak mematuhi prosedur pengobatan dan perawatan yang lama, oleh karena itu perlu adanya penjelasan yang benar dan mudah dimengerti pasien.

(2)

Pola Nutrisi dan Metabolisme Akibat produksi insulin tidak adekuat atau adanya defisiensi insulin maka kadar gula darah tidak dapat dipertahankan sehingga menimbulkan keluhan sering kencing, banyak makan, banyak minum, berat badan menurun dan mudah lelah. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya gangguan nutrisi dan metabolisme yang dapat mempengaruhi status kesehatan penderita.

(3)

Pola Eliminasi Adanya hiperglikemia menyebabkan terjadinya diuresis osmotik yang menyebabkan pasien sering kencing (poliuri) dan lancar, Jumlah urine 1200 cc/24 jam, warna urine kuning. Pada eliminasi alvi relatif tidak ada gangguan. Klien buang air besar 1 X/hari.

(4)

Pola tidur.dan Istirahat Adanya poliuri dan situasi rumah sakit yang ramai akan mempengaruhi waktu tidur dan istirahat penderita, sehingga pola tidur dan waktu tidur penderita mengalami perubahan. Klien kurang tidur baik pada waktu siang maupun malam hari. Klien tampak terganggu dengan kondisi ruang perawatan yang ramai.

(5)

Pola Aktivitas dan latihan Adanya diabetik dan Ca. nasofaring menyebabkan penderita tidak mampu melaksanakan aktivitas sehari-hari secara maksimal, penderita mudah mengalami kelelahan. Klien biasanya bekerja diluar rumah, tapi saat ini klien hanya beristirahat di Rumah Sakit sambil menunggu rencana operasi.

(6)

Pola Hubungan dan Peran Ca nasofaring yang sukar sembuh menyebabkan penderita malu dan menarik diri dari pergaulan.

(7)

Pola Sensori dan Kognitif Pasien dengan diabetes cenderung mengalami neuropati / mati rasa pada luka sehingga tidak peka terhadap adanya trauma. Klien mampu melihat dan mendengar dengan baik, klien tidak mengalami disorientasi.

(8)

Pola Persepsi Dan Konsep Diri Adanya perubahan fungsi dan struktur tubuh akan menyebabkan penderita mengalami gangguan pada gambaran diri. Lamanya perawatan, banyaknya biaya perawatan dan pengobatan menyebabkan pasien mengalami kecemasan dan gangguan peran pada keluarga (self esteem). Klien mengalami cemas karena Kurangnya pengetahuan tentang sifat penyakit, pemeriksaan diagnostik dan tujuan tindakan yang diprogramkan.

(9)

Pola Seksual dan Reproduksi

Angiopati dapat terjadi pada sistem pembuluh darah di organ reproduksi sehingga menyebabkan gangguan potensi seksual, gangguan kualitas maupun ereksi, serta memberi dampak pada proses ejakulasi serta orgasme. Selama dirawat di rumah sakir klien tidak dapat melakukan hubungan seksual seperti biasanya. (10) Pola mekanisme/Penanggulangan Stress dan koping Lamanya waktu perawatan, perjalanan penyakit yang kronik, perasaan tidak berdaya karena ketergantungan menyebabkan reaksi psikologis yang negatif berupa marah, kecemasan, mudah tersinggung dan lain lain, dapat menyebabkan penderita tidak mampu menggunakan mekanisme koping yang konstruktif / adaptif. Klien merasa sedikit stress menghadapi tindakan kemoterapi/sitostatika. karena kurangnya pengetahuan. (11) Pola Tata Nilai dan Kepercayaan Adanya perubahan status kesehatan dan penurunan fungsi tubuh serta ca nasofaring tidak menghambat penderita dalam melaksanakan ibadah tetapi mempengaruhi pola ibadah penderita. Personal Higiene Kebiasaan di rumah klien mandi 2 X/hari, gosok gigi 2 X/hari, dan cuci rambut 1 X/minggu. Ketergantungan Klien tidak perokok, tidak minum-minuman yang mengandung alkohol. Aspek Psikologis Klien terkesan takut akan penyakitnya, merasa terasing dan sedikit stress menghadapi tindakan operasi. Aspek Sosial/Interaksi Hubungan dengan keluarga, teman kerja maupun masyarakat di sekitar tempat tinggalnya biasa sangat baik dan akrab. Saat ini klien terputus dengan dunia luar, kehilangan pencari nafkah (bagi keluarganya), biaya mahal. Aspek Spiritual Klien dan keluarganya sejak kecil memeluk agama Kristen, ajaran agama dijalankan setiap saat. Klien sangat aktif menjalankan ibadah dan aktif mengikuti kegiatan agama yang diselenggarakan oleh gereja di sekitar rumah tempat tinggalnya maupun oleh masyarakat setempat.

Saat ini klien merasa tergangguan pemenuhan kebutuhan spiritualnya Prioritas Keperawatan 1. Dukungan adaptasi dan kemandirian. 2. Meningkatkan kenyamanan. 3. Mempertahankan fungsi fisiologis optimal. 4. Mencegah komplikasi. 5. Memberi informasi tentang proses/kondisi penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan. Tujuan Pemulangan 1. Klien menerima situasi dengan realistis. 2. Nyeri berkurang/terkontrol. 3. Homeostasis dicapai. 4. Komplikasi dicegah/dikurangi 5. Proses/kondisi penyakit, prognosis, pilihan terapeutik dan aturan dipahami.

3.2 PEMERIKSAAN FISIK (Body Systems) (1) Pernafasan (B 1 : Breathing) Pernafasan melalui hidung. Frekuensi 20 x/menit, Irama teratur, tidak terlihat gerakan cuping hidung, tidak terlihat Cyanosis, tidak terlihat keringat pada dahi, tidak terdengar suara nafas tambahan, dentuk dada simetris.Hasil foto Thorax PA Cor/pulmo tidak ada kelainan. (2) Cardiovascular (B 2 : Bleeding) Nadi 90 X/menit kuat dan teratur, tekanan darah 140/90 mmHg, Suhu 36,8 0C, perfusi hangat. Cor S1 S2 tunggal reguler, ekstra sistole/murmur tidak ada (3) Persyarafan (B 3 : Brain) Tingkat kesadaran (GCS) Membuka mata : Spontan (4) Verbal : Orientasi baik (5) Motorik : Menurut perintah (6) Compos Mentis : Pasien sadar (4) Perkemihan-Eliminasi Uri (B.4 : Bladder) Jumlah urine 1200 cc/24 jam, warna urine kuning (5) Pencernaan-Eliminasi Alvi (B 5 : Bowel)

Mulut dan tenggorokan normal, Abdomen normal, Peristaltik normal, tidak kembung, tidak terdapat obstipasi maupun diare, Rectum normal, klien buang air besar 1 X/hari. (6) Tulang-Otot-Integumen (B 6 : Bone) Kemampuan pergerakan sendi bebas/terbatas

Parese ada/tidak, Paralise ada/tidak, Hemiparese ada/tidak, . Tidak terdapat kontraktur maupun dikubitus (7) Sistem Endokrin Terapi hormon Karakteristik sex sekunder Riwayat pertumbuhan dan perkembangan fisik Hipoglikemia Polidipsi Poliphagi Poliuri Postural hipotensi Kelemahan 3.3 PEMERIKSAAN PENUNJANG Hasil pemeriksaan Laboratorium - Hb - Leukosit - Albumin - SGOT - SGPT - Bilirubin Direk - Bilirubin Total - Alkali Phospatase - Cholesterol Total - Trigliserida - HDL Cholesterol : 15,8 mg/dl (13,4 mg/dl) : 11,3 : 4,1 : 10,2 : 13,5 U/L : 0,31 : 1,01 : 148 : 148,8 : 81,4 : 30 ( 200) ( 200) ( 35 ( 0,25) ( 1,00) gr/dl (3,2 3,5 gr/dl) ( kurang 29 )U/L

- LDL Cholesterol - Ureum/BUN - Serum Creatinin - Uric Acid - Glukosa puasa - Glukosa 2 jam pp

: 101

( 130)

: 13,8 mg/dl (10 20) : 1,16 mg/dl (L : 0,9 1,5 P : 0,7 1,3) : 4,1 (L : 3,4 7,0 P : 2,4 5,7) : 300 mg/dl ( 126 mg/dl) : 463 mg/dl ( 140 mg/dl)

Hasil pemeriksaan Laboratorium - Gula darah acak : 178 mg/dl ( 140 mg/dl)

Hasil pemeriksaan Patologi Mikroskopik - Jaringan nasofaring hiperplastik, tidak tampak tanda-tanda keganasan - Jaringan nasofaring dengan infiltrat luas undiff. Epidermoid carcinoma, WHO type 3. - Kesimpulan : Nasofaring kiri, biopsi undiff. Epidermoid carcinoma, WHO type 3. Hasil pemeriksaan CT Scan Terliha gambaran massa daerah nasopharynx mengenai atap serta dinding kanan kiri. Batas anterior mencapai cavum nasi bagian posterior. Sisi kanan juga terlihat ada cairan dalam sinus maxillaris kanan suspect merupakan perluasan tumor tersebut. Belum terlihat ada invasi tumor ke intracranial. Perluasan ke lateral, kanan kiri sampai di musculus pterygoideus tetapi belum mengadakan infiltrasi pada musculus tsb. Pada infiltrasi intracranial. Kesimpulan : Gambaran tumor nasopharynx Hasil pemeriksaan Radiologi tanggal 9 April 2002 Thorax PA Cor / pulmo tidak ada kelainan. TERAPI : - Infus RL/D5% - Inj Actrapid 16 UI jam sebelummakan. - Copar 6 X 1 Tab/hari - Inj Xylo Della 2 : 2 Im - Inj Novoban 1 Amp - Inj Carbocin 450 mg dalam Inf D5% 100 cc drip habis dalam 6 jam. - Inj Curasil (5 FU) 1000mg dalam 100 cc D5% drip habis dalam 30 menit. - Inj Bleocyn 30 mg dalam 100 cc RL drip habis dalam 30 menit.

3.4 ANALISA DATA NO 1 DATA DS:Klien kurang tidur baik pada waktu siang maupun malam hari. DO:Klien tampak terganggu dengan kondisi ruang perawatan yang ramai. 2 DS:Klien mengatalakn cemas karena Kurangnya pengetahuan tentang sifat penyakit, pemeriksaan diagnostik dan tujuan tindakan yang diprogramkan. Lamanya perawatan, banyaknya biaya perawatan dan pengobatan dan gangguan peran pada keluarga (self esteem). DO:Klien mengatakan sedikit stress menghadapi tindakan kemoterapi/ sitostatika. karena kurangnya pengetahuan. 3 DS:Klien Kurangnya Kurangnya Kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya. Cemas ETIOLOGI Rasa nyeri pada kepala. MASALAH Ganguan pola tidur PARAF

mengatakan kurang mengetahui tentang proses penyakit, perawatan maupun pengobatan serta kurangnya pengetahuan tentang dampak diabetuk dan diet. DO:px tampak lemah 4

informasi.

pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan

DS:Klien mengalami Intake makanan muntah 2 X DO:Klien mengeluh selalu mual dan selalu ingin muntah yang kurang.

Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

3.5 DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Ganguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada kepala. 2. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya. 3. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi. 4. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan denganintakemakananyangkurang

3.6 INTERVENSI NO 1 Diagnosa keperawatan Gangguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada kepala Tujuan Tujuan : Gangguan pola tidur pasien akan teratasi. Kriteria hasil : 1. Pasien mudah tidur dalam waktu 30 40 menit. 2. Pasien tenang dan wajah segar. 3. Pasien mengungkapkan dapat beristirahat dengan cukup. Intervensi Rasional Lingkungan yang nyamandapat membantu meningkatkan tidur/istirahat. Mengetahui perubahandari hal-halyang merupakan kebiasaan pasien ketika tidur akan mempengaruhi pola tidur pasien. Mengetahui faktorpenyebab gangguanpola tiduryanglain dialamidan dirasakan pasien. Pengantar tidur akan memudahkan pasien dalam jatuh dalam tidur teknik relaksasi akan mengurangi ketegangan dan rasa nyeri. Untuk mengetahui terpenuhi atau tidaknya kebutuhan tidur pasien akibat gangguan pola tidur sehingga dapat diambil tindakan yang tepat Untuk menentukan tingkat

1Ciptakan lingkungan 1. nyaman dan tenang 2.Kajitentang kebiasaantidurpasien di rumah. 3.Kajiadanyafaktor 2. penyebab gangguapolatidur yanglainseperti cemas, efekobat-obatandan suasana ramai. 4.Anjurkanpasien untuk menggunakan pengantartidur danteknik relaksasi. 3. 5.Kaji tanda-tanda kurangnya pemenuhan kebutuhan tidur pasien

4.

5.

Cemas berhubungan dengan

Tujuan : rasa cemas berkurang/hilang. Kriteria Hasil :

1.

Kaji tingkat kecemasan yang dialami oleh

kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya

1. Pasien dapat mengidentifikasikan sebab kecemasan. 2. Emosi stabil., pasien tenang. 3. Istirahat cukup.

pasien.

2.

3.

Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan rasa cemasnya. Gunakan komunikasi 2 terapeutik.

kecemasan yang dialami pasien sehingga perawat bisa memberikan intervensi yang cepat dan tepat. Dapat meringankan beban pikiran pasien. Agar terbina rasa saling percaya antar perawatpasien sehingga pasien kooperatif dalam tindakan keperawatan. Informasi yang akurat tentang penyakitnya dan keikutsertaan pasien dalam melakukan tindakan dapat mengurangi beban pikiran pasien. Sikap positif dari timkesehatan akan membantu menurunkan kecemasan yang dirasakan pasien. Pasien akan merasa lebih tenang bila ada anggota keluarga yang menunggu. Lingkung yang tenang dan nyaman dapat membantu mengurangi rasa cemas pasien. Untuk memberikan informasi pada

4.

Beri informasi yang akurat tentang proses penyakit dan anjurkan pasien untuk ikut serta dalam tindakan keperawatan.

5.

6.

7.

8.

Berikan keyakinan pada 4 pasien bahwa perawat, dokter, dan tim kesehatan lain selalu berusaha memberikan pertolongan yang terbaik dan seoptimal mungkin. 5 Berikan kesempatan pada keluarga untuk mendampingi pasien secara bergantian. Ciptakan lingkungan yang aman dan tenang 6

3 Kurangnya pengetahuan

Tujuan : Pasien memperoleh 1. informasi yang jelas dan benar tentang penyakitnya.

Kaji tingkat pengetahuan pasien/keluarga

1.

tentang proses penyakit, diet, perawatan, dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.

Kriteria Hasil : 1. Pasien mengetahui tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatannya dan dapat menjelaskan kembali bila 2. ditanya.

tentang penyakit DM dan Ca. Nasofaring.

Kaji latar belakang pendidikan pasien. 2. Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan pada pasien dengan bahasa dan kata-kata yang mudah dimengerti. Jelasakan prosedur yang kan dilakukan, manfaatnya bagi pasien dan libatkan pasien didalamnya.

pasien/keluarga, perawat perlu mengetahui sejauh mana informasi atau pengetahuan yang diketahui pasien/keluarga. Agar perawat dapat memberikan penjelasan dengan menggunakan kata-kata dan kalimat yang dapat dimengerti pasien sesuai tingkat pendidikan pasien. Agar informasi dapat diterima dengan mudah dan tepat sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman . Dengan penjelasdan yang ada dan ikut secra langsung dalam tindakan yang dilakukan, pasien akan lebih kooperatif dan cemasnya berkurang. Gambar-gambar dapat membantu mengingat penjelasan yang telah diberikan. Untuk mengetahui tentang keadaan dan kebutuhan nutrisi pasien sehingga dapat diberikan tindakan dan

2. Pasien dapat melakukan 3. perawatan diri sendiri berdasarkan pengetahuan yang diperoleh.

4.

3.

5.

Gunakan gambargambar dalam memberikan penjelasan (jika ada / memungkinkan). 4.

5.

Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang

Tujuan : Kebutuhan nutrisi 1. dapat terpenuhi Kriteria hasil : 1. Berat badan dan tinggi badan ideal. 2. 2. Pasien mematuhi dietnya. 3. Kadar gula darah dalam batas normal.

Kaji status nutrisi 1. dan kebiasaan makan. Anjurkan pasienuntuk mematuhi dietyang

kurang

4. Tidak ada tanda-tanda hiperglikemia/hipoglikemi a.

telahdiprogramka n.Timbang berat badan setiap seminggu sekali. 3. Identifikasi perubahan pola makan.

2.

3. 4. Kerja sama dengan tim kesehatan lain untuk pemberian insulin dan diet diabetik.

4.

5.

6.

pengaturan diet yang adekuat. Kepatuhan terhadap diet dapat mencegah komplikasi terjadinya hipoglikemia/hi perglikemia. Mengetahui perkembangan berat badan pasien (berat badan merupakan salah satu indikasi untuk menentukan diet). Mengetahui apakah pasien telah melaksanakan program diet yang ditetapkan. Pemberian insulin akan meningkatkan pemasukangluk osa ke dalam jaringan sehingga gula darah menurun,pembe rian diet yang sesuai dapat mempercepat penurunan gula darah dan mencegah komplikasi.

3.7 IMPLEMENTASI Implementasi merupakan pelaksanaan rencana keperawatan oleh perawat terhadap pasien. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan rencana keperawatan diantaranya : Intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi ; ketrampilan interpersonal, teknikal dan intelektual dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat, keamanan fisik dan psikologis klien dilindungi serta dokumentasi intervensi dan respon pasien. Pada tahap implementasi ini merupakan aplikasi secara kongkrit dari rencana intervensi yang telah dibuat untuk mengatasi masalah kesehatan dan perawatan yang muncul pada pasien (Budianna Keliat, 1994,4). 3.8. EVALUASI Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan, dimana evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dengan melibatkan pasien, perawat dan anggota tim kesehatan lainnya. Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan tercapai dengan baik atau tidak dan untuk melakukan pengkajian ulang (US. Midar H, dkk, 1989). Kriteria dalam menentukan tercapainya suatu tujuan, pasien : a. Mampu mempertahankan fungsi paru secara normal. b. Kebutuhan nutrisi terpenuhi. c. Tidak terjadi gangguan pola tidur dan kebutuhan istirahat terpenuhi. d. Dapat memenuhi kebutuhan perawatan diri sehari-hari untuk mengembalikan aktivitas seperti biasanya. e. Menunjukkan pengetahuan dan gejala-gejala gangguan pernafasan seperti sesak nafas, nyeri dada sehingga dapat melaporkan segera ke dokter atau perawat yang merawatnya. f. Mampu menerima keadaan sehingga tidak terjadi kecemasan. g. Menunjukkan pengetahuan tentang tindakan pencegahan yang berhubungan dengan penatalaksanaan kesehatan, meliputi kebiasaan yang tidak menguntungkan bagi kesehatan seperti merokok, minum minuman beralkohol dan pasien juga menunjukkan pengetahuan tentang kondisi penyakitnya.

BAB IV PENUTUP 4.1 KESIMPULAN Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring dengan predileksi di fossa Rossenmuller dan atap nasofaring. Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia. (Efiaty & Nurbaiti, 2001 ha146). Urutan tertinggi penderita karsinoma nasofaring adalah suku mongoloid yaitu 2500 kasus baru pertahun. Diduga disebabkan karena mereka memakan makanan yang diawetkan dalam musim dingin dengan menggunakan bahan pengawet nitrosamin. (Efiaty &Nurbaiti, 2001 hal146). Insidens karsinoma nasofaring yang tinggi ini dihubungkan dengan kebiasaan makan, lingkungan dan virus Epstein-Barr (Sjamsuhidajat, 1997 hal 460). Selain itu faktor geografis, rasial, jenis kelamin, genetik, pekerjaan, kebiasaan hidup, kebudayaan, sosial ekonomi, infeksi kuman atau parasit juga sangat mempengaruhi kemungkinan timbulnya tumor ini. Tetapi sudah hampir dapat dipastikan bahwa penyebab karsinoma nasofaring adalah virus Epstein-barr, karena pada semua pasien nasofaring didapatkan titer anti-virus EEB yang cukup tinggi (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146). 4.2 SARAN Setelah penulis menjabarkan mengenai kasus Ca Nasofaring, diharapkan memberi suatu pencerahan dan tambahan ilmu pengetahuan mengenai kasus ini. Namun, dalam uraiannya, penulis sadar bahwa masih banyak hal yang dirasa kurang dan oleh karenanya penulis mengharapkan suatu masukan dan saran untuk kebaikan mendatang dalam segala bidang, terutama kasus Ca Nasofaring ini. Penelusuran lebih jauh dan dalam lagi mengenai perkembangan kasus Ca Nasofaring ini merupakan jalan terbaik untuk mendapat informasi yang lebih relevan disamping makalah ini. Semoga makalah yang kami buat dapat bermanfaat bagi pembaca.

DAFTAR PUSTAKA Brunner, Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal bedah, edisi 8 vol.3.EGC, Jakarta Guyton, Arthur C, 1997, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 9, EGC,Jakarta Inskandar.N, 1989, Tumor Telinga-Hidung-Tenggorokan, Diagnosa Dan Penatalaksanaan, Fakultas Kedokteran Umum, Universitas Indonesia, Jakarta Joanne C.Mc Closkey. 1996. Nursing Intervension Classification (NIC). Mosby Year Book. St. Louis Marion Johnon, dkk. 2000. Nursing Outcome Classificasion (NOC). Mosby Year Book.St. Louis Marjory Gordon, dkk.2000.Nursing Diagnoses : Definition & Classificasion 20012002.NANDA. Mosby Year Book.St.Louis File:///G:/askep-ca-nasofaring.html File:///G:/ASKEP CA NASOFARING_b4hri.html NANDA International, 2001, Nursing Diagnosis Classification 2005 2006, USA

LAMPIRAN