Anda di halaman 1dari 12

MAY

LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK


Lupus Eritematosus Sistemik Definisi Istilah lupus (berasal dari bahasa Latin, berarti serigala) pertama kali digunakan pada abad pertengahan untuk mendeskripsikan lesi kulit erosif yang diakibatkan gigitan serigala. Lupus mulanya hanya dideskripsikan sebagai gangguan kulit yang menyerupai kupu-kupu oleh Von Hebra (18161880) yang memperkenalkan istilah lupus erythematosus. Kemudian Kaposi (18371902) yang pertama kali mengetahui bahwa penyakit ini merupakan penyakit sistemik. Terobosan serologis yang dilakukan tim Mayo Clinic pada tahun 1948 menjadi dimulainya era modern LES. LES didefinisikan sebagai prototipe penyakit otoimun yang ditandai dengan produksi antibodi terhadap komponen-komponen inti sel yang berhubungan dengan manifestasi klinis yang luas. LES merupakan penyakit yang kompleks dengan presentasi klinis dan prognosis yang bervariasi, ditandai dengan adanya fase remisi dan aktif. Etiologi dan Patogenesis Etiologi LES masih belum diketahui dengan jelas. Penelitian-penelitian terakhir menunjukkan banyak gen yang berperan, terutama gen yang mengkode unsur-unsur sistem imun. Kaitan dengan haplotif MHC tertentu, terutama HLA-DR2 dan HLA-DR3. Gen-gen lain yang mulai terlihat ikut berperan adalah gen yang mengkode reseptor sel T, imunoglobulin, dan sitokin. Sistem neuroendokrin ikut berperan melalui pengaruhnya terhadap sistem imun. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa hormon prolaktin dapat merangsang respon imun. Patogenesis LES juga belum diketahui dengan jelas. Meskipun demikian, banyak bukti bahwa patogenesis LES bersifat multifaktor dan mencakup pengaruh faktor genetik, lingkungan, dan hormonal terhadap respon imun. Adanya satu atau lebih faktor pemicu yang tepat pada individu yang mempunyai predisposisi genetik akan menghasilkan tenaga pendorong abnormal terhadap sel T CD4+, mengakibatkan hilangnya toleransi sel T terhadap antigen sendiri. Sebagai akibatnya muncul sel T autoreaktif yang akan menyebabkan induksi serta ekspansi sel B. Pemicu masih belum jelas, diduga dipicu oleh hormon seks, sinar ultraviolet, dan berbagai macam infeksi. Autoantibodi yang terbentuk ditujukan terhadap antigen yang terutama terletak pada nukleoplasma. Antigen sasaran ini meliputi DNA, protein histon dan non histon. Sebagian besar dalam keadaan alami dalam bentuk agregat protein dan atau kompleks protein RNA. Ciri khas autoantigen ini adalah tidak tissue-spesific dan merupakan komponen integral semua jenis sel. Antibodi ini secara bersama-sama disebut ANA (anti nuclear antibody) yang membentuk kompleks imun yang beredar dalam sirkulasi. Kompleks imun ini dapat berupa gangguan klirens kompleks imun besar yang larut, gangguan proses kompleks imun di hati, dan penurunan

ambilan kompleks imun di limpa. Gangguan-gangguan ini memungkinkan terbentuknya deposit kompleks imun di luar sistem fagosit mononuklear. Kompleks imun ini akan mengendap pada berbagai organ sehingga terjadi fiksasi komplemen pada organ tersebut. Peristiwa ini menyebabkan aktivasi komplemen yang menghasilkan substansi penyebab timbulnya reaksi radang. Reaksi radang inilah yang menyebabkan timbulnya gejala dan tanda pada organ tersebut seperti kulit, sendi, ginjal, pleura, dan sebagainya. Bagian yang penting dalam patogenesis ini adalah terganggunya mekanisme regulasi yang dalam keadaan normal mencegah autoimunitas patologis pada individu yang resisten Manifestasi Klinis Manifestasi LES dapat bervariasi, dari ruam kulit yang ringan, gangguan muskuloskeletal, sampai berpotensi mengancam jiwa karena melibatkan sistem organ besar, meliputi ginjal, paru, jantung, darah, gastrointestinal, dan sistem saraf pusat. LES dapat hanya meliputi satu sistem organ (manifestasi lain timbul belakangan) atau dapat multisistem. Sebagian besar pasien mengalami eksaserbasi dengan diikuti periode tenang. Remisi sejati (true remissions) adalah tanpa gejala dan tanpa memerlukan terapi yang terjadi pada 20 % pasien tetapi biasanya tidak menetap. Gejala sistemik biasanya sangat menyolok, berupa kelelahan, lesu (malaise), demam, anoreksia dan penurunan berat badan. Manifestasi klinis secara lengkap beserta presentasenya pada penderita LES dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Manifestasi Klinis LES Klinis Sistemik Kelelahan, lesu, demam, anoreksia, mual, penurunan berat badan Muskuloskeletal Artralgia/mialgia Poliartritis non-erosif Deformitas tangan Miopati/miositis Nekrosis iskemik tulang Kulit Fotosensitifitas Ruam malar Ulkus mulut Alopesia Ruam diskoid Vaskulitis Ruam lain: makulopapular, urtikaria, bula, lupus kutaneus subakut Hematologi Anemia (penyakit kronis) Lekopenia (< 4000/m3) Limfopenia ( < 1500/m3) Trombositopenia ( < 100.000/m3) Splenomegali Limfadenopati Persentase 95 % 95 % 95 % 60 % 10 % 25 / 5 % 15 % 80 % 70 % 50 % 40 % 40 % 20 % 20 % 15 % 85 % 70 % 65 % 50 % 15 % 15 % 15%

Anemia hemolitik

10 %

Neurologi Disfungsi kognitif Gangguan mood Nyeri kepala Kejang Mono- atau polineuropati Stroke atau TIA Acute confusional state atau gangguan gerak Meningitis aseptik, mielopati Kardiopulmonar Pleuritis, Perikarditis, Efusi Miokarditis, Endokarditis Pneumonitis lupus Penyakit arteri koroner Fibrosis interstisial Hipertensi pulmonal, ARDS, perdarahan Ginjal Proteinuria > 500 mg/24 jam, Cetakan seluler Sindroma nefrotik Gagal ginjal stadium akhir Gastrointestinal dan Hepar Tidak spesifik (anoreksia, mual, nyeri ringan, diare) Enzim hati abnormal Vaskulitis Trombosis Vena Arteri Mata Sindroma sikka Konjungtvitis/episkleritis Vaskulitis retina

60 % 50 % 40 % 25 % 20 % 15 % 10 % 2-5 % 1% 60 % 30-50 % 10 % 10 % 10 % 10 % 5% 30 - 50 % 30-50 % 25 % 5 10 % 30 % 30 % 40 % 5% 15 % 10 % 5% 15 % 15 % 10 % 5%

Kelelahan Kelelahan (fatigue) didefinisikan sebagai ketidakmampuan dalam mempertahankan memberikan tenaga atau menghasilkan kekuatan. Kelelahan otot adalah berkurangnya respon terhadap stimulus yang tetap atau memerlukan stimulus yang lebih besar untuk menghasilkan respon yang sama. Secara fisiologis, kelelahan otot dapat hilang dengan istirahat. Keterbatasan kemampuan seseorang untuk mempertahankan kekuatan kontraksi otot dapat terjadi pada sistem saraf pusat

(sel saraf dari korteks motorik pada otak atau pada sinaps antara neuron yang terletak pada jaras dari korteks motorik ke final motor nerve pada medula spinalis). Kelelahan juga dapat terjadi pada final motor nerve, pada neuromuscular junction (motor end-plate), atau pada otot itu sendiri. Kelelahan sangat sering terjadi pada pasien LES, berkisar antara 46 100%. Beberapa pasien melaporkan tidak mempunyai cukup energi untuk melakukan aktivitas sehari-hari, dan kelelahan seringkali harus membuat pasien menyesuaikan diri dengan aktivitas, mempengaruhi fungsi fisik, menurunkan kualitas hidup, dan mengganggu pekerjaan. Kelelahan pada pasien LES ini didefinisikan sebagai suatu persepsi kelelahan pada seluruh tubuh yang tidak dapat dipulihkan dengan istirahat. Sensasi kelelahan dan lesu sering ditemukan pada pasien dengan LES, terutama selama periode aktivitas penyakit. Mereka merasa letih dan lesu tetapi pada awalnya ditemukan kesukaran dalam menunjuk dengan tepat masalahnya. Demam, anemia, komplikasi dari obat-obatan, atau sumber lain dari inflamasi dapat menyebabkan kelelahan, dapat juga stres emosional, fibromialgia, dan depresi. Kerja dari beberapa sitokin, seperti IL-2 dan interferon- menginduksi kelelahan dan LES berhubungan dengan gangguan regulasi sitokin. Penurunan kapasitas aerobik otot juga berperan. Istirahat tidur total ( bed rest total) dapat memperburuk kelelahan, juga osteoporosis, muscle disuse, atropi, dan kontraktur. Satu atau dua jam aktivitas pada pagi hari harus diikuti dengan istirahat pada pertengahan pagi. Dua jam pada aktivitas akhir pagi dapat diikuti dengan istirahat makan siang dengan penuh ketenangan. Periode aktivitas harus diikuti dengan periode istirahat biasanya membuat sebagian besar pasien lupus mencapai perbaikan tingkat fungsional dan produktivitas. Diagnosis Diagnosis LES dapat ditegakkan berdasarkan gambaran klinis dan laboratorium. Pada tahun 1982, American College of Rheumatology mengajukan 11 kriteria untuk klasifikasi LES (Tabel 2). Pada tahun 1997, kriteria ini diperbarui dengan menambahkan antibodi antifosfolipid sebagai salah satu kriteria LES. Diagnosis LES dapat ditegakkan bila memenuhi empat atau lebih dari 11 kriteria tersebut yang terjadi saat ini, secara serial, atau secara simultan. Sedangkan bila hanya tiga kriteria dan salah satunya ANA positif, maka sangat mungkin LES dan diagnosis bergantung pada pengamatan klinis. Bila hasil tes ANA positif dan gejala lain tidak ada, maka bukan LES. Klasifikasi kriteria ini digunakan secara luas untuk praktik klinis dan penelitian dengan sensitivitas > 85% dan spesifisitas > 95%. Tabel 2. Kriteria Diagnosis Lupus Eritematosus Sistemik Kriteria Ruam Malar Ruam diskoid Fotosensitifitas Ulkus mulut Batasan Eritema menetap, dasar atau menonjol, pada malar eminence dan lipat nasolabial Bercak eritema menonjol dengan gambaran SLE keratotik dan sumbatan folikular. Pada SLE lanjut dapat ditemukan parut atrofik Ruam kulit yang diakibatkan reaksi abnormal terhadap sinar matahari, baik dari anamnesis pasien atau yang dilihat oleh dokter pemeriksa Ulkus mulut atau orofaring, umumnya tidak nyeri dan dilihat oleh dokter

pemeriksa Arthritis non- Melibatkan dua atau lebih sendi perifer, ditandai oleh rasa nyeri, bengkak, erosif dan efusi Pleuritis atau a. Pleuritis riwayat nyeri pleuritik atau pleuritic friction rub yang didengar perikarditis oleh dokter pemeriksa atau bukti efusi pleura atau b. Perikarditis bukti rekaman EKG atau pericardial friction rub yang didengar oleh dokter pemeriksa atau bukti efusi perikardial Gangguan renal a. Proteinuria menetap > 0.5 gram/hari atau > 3 +, atau b.Cetakan seluler terdapat eritrosit, hemoglobin, granular, tubular, atau gabungan Gangguan a. Kejang tanpa disebabkan oleh obat-obatan atau gangguan metabolik, neurologi misalnya uremia, ketoasidosis, atau ketidakseimbangan elektrolit, atau b.Psikosis tanpa disebabkan oleh obat-obatan atau gangguan metabolik, misalnya uremia, ketoasidosis, atau ketidakseimbangan elektrolit Gangguan a. Anemia hemolitik dengan retikulosis, atau hematologik b. Leukopenia - < 4.000/mm3 pada dua kali pemeriksaan, atau c. Limfopenia - <1.500/mm3 pada dua kali pemeriksaan, atau d.Trombositopenia - < 100.000/mm3 tanpa disebabkan oleh obat-obatan Gangguan a. Anti-DNA: antibodi terhadap native DNA dengan titer abnormal, atau imunologik b. Anti-Sm: terdapatnya antibodi terhadap antigen nuklear Sm, atau c. Temuan positif terhadap antibodi antifosfolipid yang didasarkan atas: 1) Kadar serum antibodi antikardiolipin abnormal baik IgG atau IgM, 2) Tes lupus antikoagulan positif menggunakan metoda standar, atau 3) Hasil tes positif palsu paling tidak selama 6 bulan dikonfirmasi dengan tes imobilisasi Treponema pallidum atau tes fluoresensi absorbsi antibodi treponemal Antibodi nuklear Titer abnormal dari antibodi antinuklear berdasarkan pemeriksaan positif (ANA) imunofluoresensi atau pemeriksaan setingkat pada setiap kurun waktu perjalanan penyakit tanpa keterlibatan obat Penilaian Aktivitas Penyakit Sampai saat ini belum ada kesepakatan terhadap berbagai indikator penilaian aktifitas penyakit ini. Terbukti dengan didapatkannya lebih dari 60 sistem pengkajian terhadap aktifitas LES ini. Kriteria aktifitas LES yang saat ini banyak disorot adalah British Isles Lupus Assessment Group Scale (BILAG), The Systemic Lupus Erythematosus Disease Activity Index (SLEDAI), The Systemic Lupus Activity Measure (SLAM), dan The University of California San Fransisco/Johns Hopkins University Lupus Activity Index (LAI). MEX-SLEDAI merupakan modifikasi dari SLEDAI yang dikembangkan oleh peneliti dari Meksiko untuk mengurangi biaya uji laboratorium yang termasuk dalam SLEDAI tanpa mengurangi kualitas informasi yang didapatkan. Dibandingkan dengan SLEDAI, mempunyai bobot yang berbeda dengan memberikan manifestasi LES yang bervariasi. Modifikasi ini mencakup 24 variabel yang dijabarkan secara spesifik ke dalam kelompok target organ. Skala ini merupakan skala ordinal dengan skor antara 0 - 32. Semakin tinggi skor berarti semakin besar aktivitas penyakit. Pasien dengan skor kurang dari dua dikatakan penyakit jelas inaktif, skor antara 2 5 dikategorikan kemungkinan aktif, dan skor lebih dari 5 dikategorikan jelas aktif.

MEX-SLEDAI mempunyai sensitifitas 85,7% dan spesifisitas 100%. Skala ini lebih murah 30% daripada SLEDAI dan tepat digunakan pada negara berkembang seperti Indonesia. Penatalaksanaan Tujuan penatalaksanaan LES adalah untuk meningkatkan kesintasan dan kualitas hidup pasien LES melalui pengenalan dini dan pengobatan paripurna. Tujuan khusus adalah mendapatkan masa remisi yang panjang, menurunkan aktifitas penyakit seringan mungkin, mengurangi rasa nyeri dan memelihara fungsi organ agar aktifitas hidup keseharian tetap baik. Edukasi Pasien diberikan pengetahuan apa itu lupus dan penyebabnya, gejala dan kekambuhannya. Edukasi untuk masalah yang terkait fisik: kegunaan latihan, istirahat, hindari kelelahan, pemakaian alat bantu, pengaturan diet, hindari paparan ultraviolet berlebihan, mengatasi infeksi secepatnya, atau penggunaan kontrasepsi. Aspek psikologis edukasi yang diberikan adalah dengan memberikan harapan yang realistik sesuai keadaannya, mengatasi stress dan masalah yang terkait dengan sosial, serta mengatasi rasa nyeri. Berikan anjuran kepada pasien mematuhi jenis pengobatan dan melakukan konsultasi secara teratur. Pasien juga diberi tahu dimana dapat memperoleh informasi tentang LES dan yayasan/organisasi pendukung. Program Rehabilitasi Medik Program rehabilitasi tergantung dari manifestasi penyakit yang menyebabkan gangguan fungsi sehingga terjadi limitasi aktivitas dan gangguan mobilisasi. Rehabilitasi yang diberikan dapat berupa terapi latihan, terapi modalitas, terapi relaksasi, ortotik dan alat bantu jalan. Terapi latihan dapat berupa latihan lingkup gerak sendi (LGS), latihan peregangan (stretching), latihan penguatan, dan latihan endurans otot dan kardiorespirasi. Terapi modalitas yang dipakai untuk inflamasi akut dan nyeri adalah terapi dingin dan TENS, sedangkan terapi panas dangkal digunakan untuk nyeri tanpa inflamasi. Splin dan ortotik digunakan untuk menstabilisasikan sendi, mengurangi pergerakan sendi, dan menyokong sendi pada posisi fungsi maksimal. Sedangkan alat bantu jalan dipakai untuk mengurangi beban pada sendi yang nyeri atau rusak. Latihan LGS harus dilakukan perlahan untuk menghindari penekanan pada sendi. Latihan ini membantu mempertahankan atau meningkatkan gerak sendi sebesar mungkin pada semua arah gerakan sehingga mencegah kehilangan gerak sendi, memulihkan gerakan yang hilang, dan mengurangi kekakuan sendi. Latihan peregangan merupakan cara paling baik untuk memulai dan mengakhiri setiap program latihan karena membantu mengeliminasi kekakuan/ketegangan pada otot, tendon, dan ligamen di sekitar sendi, meringankan nyeri, mencegah cedera, memperbaiki sirkulasi, dan meningkatkan fleksibilitas. Latihan ini juga berfungsi mempertahankan LGS fungsional dan mempertahankan sendi dalam posisi alignment yang terbaik. Latihan penguatan berguna untuk melakukan aktivitas menahan secara statis dan dinamis yang harus ada dalam fungsi-fungsi dasar, seperti mengangkat gelas, bangun dari atau duduk ke kursi, berjalan, dan berpakaian. Latihan isometrik merupakan pilihan karena merupakan latihan penguatan yang tidak melibatkan pergerakan sendi.

Latihan isotonik diberikan bila tanda radang pada sendi, miositis aktif, dan nekrosis tulang avaskular tidak ditemukan. Latihan diberikan dengan modifikasi metode DeLorme, yaitu beban yang rendah, repetisi yang minimal, dan lengkung gerak yang dibatasi untuk mencegah penekanan pada sendi dan terjadi inflamasi. Latihan isotonik pada pasien LES lebih sering diresepkan dalam air karena air dapat menghilangkan gravitasi, menurunkan tekanan otot dan sendi pada ekstremitas bawah sehingga nyeri minimal. Latihan isokinetik tidak direkomendasikan, kecuali pada pasien dengan aktivitas penyakit tidak aktif. Latihan endurans dapat digabung dengan terapi rekreasi, berupa aktivitas seperti berenang, berjalan, berlari, aerobik low-impact, bersepeda. Latihan ini selain meningkatkan atau mempertahankan kekuatan dan endurans, juga memberikan kontak sosial yang penting, dan memperbaiki harga diri. Latihan ini juga memberikan efek anti depresi yang kemungkinan berhubungan dengan produksi endorfin. Terapi Medikamentosa Bila terdapat nyeri (artritis, artralgia, dan mialgia), diberikan analgetik sederhana seperti parasetamol 3 x 500 mg/hari atau anti inflamasi non steroid (OAINS). Bila analgetik dan OAINS tidak memberikan respon, diberikan klorokuin 4 mg/kgBB/hari. Bila dalam waktu 6 bulan tidak memberikan respon, obat dihentikan. Dipertimbangkan pemberian metotreksat dosis rendah (7,5 15 mg/minggu) atau kortikosteroid dosis rendah (dosis tidak lebih dari 15 mg/hari). Bila timbul manifestasi serius LES dan mengancam jiwa, pemberian glukokortikoid dosis tinggi harus dimulai. Diberikan bolus metilprednisolon intravena 1 gram atau 15 mg/kgBB/hari selama 3-5 hari, dilanjutkan prednison 1-1,5 mg/kgBB/hari sampai terdapat respon terapi, biasanya 6 10 minggu, dan kemudian dosis diturunkan secara bertahap setiap minggu bila tidak timbul eksaserbasi akut. Bila dalam waktu empat minggu tidak ada perbaikan nyata, maka dipertimbangkan untuk memberikan terapi agresif lainnya dengan obat imunosupresan atau sitotoktik. Prognosis Pada tahun 1950, angka harapan hidup pasien LES hanya 50% setelah didiagnosis, LES juga tidak dapat diprediksi dalam hal remisi dan eksaserbasi. Sekarang prognosis LES semakin baik berupa usia harapan hidup, lamanya remisi ataupun remisi lengkap, disebabkan diagnosis dini penyakit dengan pendekatan terapi yang lebih baik. Angka harapan hidup pasien dengan LES adalah 90-95% pada dua tahun, 82-90% pada lima tahun, 71- 80% pada 10 tahun, dan 63-75% pada 20 tahun. Pasien meninggal karena aktivitas penyakit dan infeksi. Sekarang gangguan kardiovaskular dan osteoporosis merupakan masalah. Angka kesintasan lima tahun pada pasien LES di RSCM tahun 1990-2007 adalah 88%. Penyebab kematian yang terbanyak adalah infeksi (42,6%), keterlibatan kardiopulmonal (14,8%), neuropsikiatri lupus (4,9%), dan nefritis lupus (3,3%). Berdasarkan penelitian yang dilakukan Hopkins Lupus Cohort, prognosis buruk bila terdapat anemia hemolitik, rendahnya kadar komplemen saat didiagnosis, status sosioekonomi yang rendah, usia lebih dari 50 tahun saat diagnosis ditegakkan, laki-laki, dan gangguan ginjal. Daftar Pustaka

1. 2.

Ikatan Reumatologi Indonesia. Panduan Diagnosis dan Pengelolaan Lupus Eritematosus Sistemik. 2004. Tassiulas IO, Boumpas DT. Clinical Features and Treatment of Systemic Lupus Erythematosus. In:B, Ruddy S, Sergent JS (editors). Kelleys Textbook of Rheumatology. Eighth edition. Philadelphia: Saunders Elsevier; 2009. p.1263-300 3. Bertolaccini ML, Hughes GRV, Khamasta MA. Systemic Lupus Erythematosus. In: Shoenfeld Y, Cervera R, Gershwin ME (editors). Diagnostic Criteria in Autoimmune Disease. New York: Humana Press; 2008.p.1-8 4. Isbagio H, Albar Z, Kasjmir Y, Setiyohadi B. Lupus Eritematosus Sitemik. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S (editor). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi keempat. Jilid II. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen IPD FKUI; 2006. p.1224-31 5. Juariah N. Profil dan Kesintasan Lima Tahun pada Pasien Lupus Eritematosus Sistemik di RS Cipto Mangunkusumo Tahun 1990-2007 (Tesis). Jakarta: Universitas Indonesia; 2008. 6. Phillips RH. Coping with Lupus: A Practical Guide to Alleviating the Challenges of Systemic Lupus Erythematosus. New York: Penguin Putnam Inc; 2001.p.124-36 7. Rahman MU. Systemic Lupus Erythematosus. In: Frontera WR, Silver JK, Rizzo TD (eds). Essential of Physical Medicine and Rehabilitation, Musculoskeletal Disorder, Pain, and Rehabilitation. Second edition. Philadelphia: Saunders Elsevier; 2008. 8. Hanh BH. Systemic Lupus Erythematosus. In: Kasper DL, Braunwald E, Fauci AS, Longo DL, Hauser SL, Jameson JL (editors). Harrisons Principles of Internal Medicine. 16 thed. McGraw Hill; 2005.p.1960-8. 9. Lamb DR. Physiology of Exercise: Responses and Adaptation. New York: MacMillan Publishing Company; 1978.p.177-95 10. Kozora E. Fatigue in Systemic Lupus Erythematosus and Related Autoimmune Disorders. In DeLuca J. Fatigue as a Window to the Brain. Cambridge: Massachusett Institute of Technology; 2005. p.243-64. Diunduh dari http://www.books.google.co.id 11. Wallace DJ. The Clinical Presentation of Systemic Lupus Erythematosus. In: Wallace DJ, Hahn BH (editors). Dubois Lupus Erythematosus. Seventh edition. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilk ins; 2007.p.638-46 12. Wallace DJ. Principle of Therapy and Local Measures. In: Wallace DJ, Hahn BH (editors). Dubois Lupus Erythematosus. Seventh edition. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins; 2007.p.1132-42 13. Nasution AR, Kasjmir YI. Masalah Penyakit Lupus Eritematosus Sistemik (LES) di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta.Simposium Nasional I Systemic Lupus Erythematosus dan Pembentukan Perhimpunan SLE di Indonesia. Jakarta 1995.p 21-30 14. Uribe AG, Vila LM, Sanchez ML, Reveille JD, Alarcon, GS. The Systemic Lupus Activity Measure-Revised, the Mexican Systemic Lupus Erythematosus Disease Activity Index (SLEDAI), and a Modified SLEDAI-2K Are Adequate Instruments to Measure Disease Activity in Systemic Lupus Erythematosus. The Journal of Rheumatology 2004; 31:10. 15. Khanna S, Pal H, Pandey RM, Handa R. The Relationship Between Disease Activity and Quality of Life in Systemic Lupus Erythematosus. Rheumatology (Oxford)2004;43(12):1536-40. 16. Hicks JE, Joe GO, Gerber LH. Rehabilitation of The Patient with Inflammatory Arthritis and Connective-Tissue Disease. In: DeLisa JA, Gans BM, Walsh NE, Bockenek WL, Frontera WR, Geiringer SR, et al (editors). Physical Medicine and Rehabilitation, Principle and Practice. Philadelphia: Lippincot Williams and Willkins; 2005.p.721-63 17. Gerber LH, Hicks JE. Exercise in the Rheumatic Disease. In: Basmajian JV, Wolf SL (editors). Therapeutic Exercise. 5th ed. Maryland: Williams and Wilkins; 1990.p.222-348 18. Swezey RL. Rehabilitation in Arthritis and Allied Condition. In: Kotke FJ, Lehman JF (editors). Krusens Handbook of Physical Medicine and Rehabilitation. Fourth edition. Philadelphia: WB Saunders; 1990.p.679-716 19. Manzi, S. Lupus Update:Perspective and Clinical Pearls. Claveland Clinic Journal of Medicine 2009; 76 (2): 13742.

Diposkan 4th May oleh Fathia Arsyiana

Fathia Arsyiana

SEP

Pengapuran vs Pengeroposan
Osteoartritis vs Osteoporosis Orang masih banyak yang terkejut saat disampaikan oleh dokter bahwa dia menderita pengapuran pada sendi lututnya. Lho kok bisa dok? Apa ini gara-gara saya banyak minum kalsium? Mana mungkin saya kena pengapuran, kata dokter yang lain saya pengeroposan. Bisa kok pak/bu. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin kan? Kembali ke topik semula, pengapuran vs pengeroposan, apa sih itu? Istilah itu adalah istilah awam. Bahasa kerennya untuk pengapuran adalah osteoartritis sedangkan untuk pengeroposan adalah osteoporosis.
AUG

13

AKUT vs KRONIS
AKUT vs KRONIS Anda mungkin pernah mendengar seseorang bicara seperti ini: Ibu A tetangga kita meninggal kemarin malam karena sakit gula yang akut. Atau membaca berita di koran yang tertulis :

Bapak B saat ini tergolek lemah di tempat tidurnya karena bertahun-tahun menderita sakit stroke yang akut. Sekilas tidak ada yang salah dengan kata akut pada dua kalimat tersebut.
AUG

MANAJEMEN REHABILITASI MEDIK PADA PASIEN DISARTRIA PENDAHULUAN Komunikasi pada manusia bertujuan untuk mentransfer informasi secara cepat dan akurat melalui bicara, tulisan, atau gestur (isyarat). Bicara dan bahasa adalah proses dinamik yang dipengaruhi oleh faktor fisiologi, psikologi, dan lingkungan. Bicara menggunakan struktur anatomi dan fisiologi yang terjadi pada respirasi dan proses menelan. Salah satu dari gangguan bicara adalah disartria.
JUL

30

PENATALAKSANAAN REHABILITASI MEDIK GANGGUAN BERKEMIH NEUROGENIK PADA PENDERITA CEDERA MEDULA SPINALIS
PENATALAKSANAAN REHABILITASI MEDIK GANGGUAN BERKEMIH NEUROGENIK PADA PENDERITA CEDERA MEDULA SPINALIS PENDAHULUAN Setiap tahun insiden terjadinya cedera medula spinalis (CMS) diperkirakan antara 30-50 per juta orang. Lebih dari 200.000 orang di Amerika Serikat hidup dengan CMS sebagai akibat dari trauma dan setiap tahun lebih dari 10.000 cedera baru terjadi. Rata-rata usia terjadinya cedera adalah 30,7 tahun.
JUL

21

Aku cinta produk Indonesia


Memiliki tas dengan kualitas dan disain premium adalah impian semua orang. Tetapi membeli tas dengan harga puluhan bahkan ratusan juta membuatku geleng-geleng kepala... tidak mengerti, kok bisa semahal itu??? Juga tidak habis pikir kenapa toh ada juga orang yang membeli. Ah itu urusan masing-masing individu, mereka punya uang, mereka punya gengsi yang tinggi...ah aku tidak mau ambil pusing.

JUL

12

Kepulauan Meranti, Catatan Perjalanan (3)


RSUD KAB. KEP. MERANTI Menurut informasi dari pegawai yang telah lama bekerja di RSUD Kab. Kep. Meranti, RS ini awalnya

merupakan RS kecamatan yang dibangun oleh pemerintah Kab. Bengkalis (sebelumnya Kep.Meranti merupakan bagian dari Kab.Bengkalis). Menurutku, untuk ukuran kecamatan, bangunan RS cukup megah dan luas. RS ini bertingkat 4 pada bangunan depan dan bertingkat 3 pada bangunan belakang.

JUL

10

Kepulauan Meranti, Catatan Perjalanan (2)


KULINER KEPULAUAN MERANTI Berada di tempat baru berarti sudah siap dengan konsekuensinya, harus bisa beradaptasi dengan makanan yang ada. Beruntung lidahku tidak rewel dengan makanan, jadi bisa makan semua makanan kecuali yang haram, menjijikan, dan buat aku alergi. Mengetahui bahwa daerah yang akan ku datangi adalah sebuah kepulauan, aku sudah menyiapkan 2 boks obat alergi. Aku alergi seafood dari balita, alhamdulillah alerginya hanya gatal -gatal di kulit.
JUL

Mengenal Rehabilitasi Medik


Sekilas Info Rehabilitasi Medik Rehabilitasi Medik Suatu bentuk pelayanan kesehatan yang terpadu dengan pendekatan medik, psikososial, edukasional, vokasional untuk mencapai kemampuan fungsional semaksimal mungkin Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (Physical Medicine and Rehabilitation), Physiatry atau Rehabilitasi Medik (Rehabilitation Medicine) adalah cabang ilmu kedokteran yang bertujuan untuk meningkatkan dan mengembalikan kemampuan fungsional d

JUL

Kepulauan Meranti, Catatan Perjalanan


Catatan perjalananku ke Kab. Kep. Meranti ini sebenarnya sudah 1 tahun berlalu, tapi baru sempat dituangkan ke blog sekarang. Tujuanku tetap membuat catatan perjalanan ini karena aku ingin orang lain mengetahui ada sebuah daerah di Indonesia yang bernama Kep. Meranti.
JUN

29

Toe Walking
Toe Walking Toe Walking atau berjalan jinjit umumnya hal yang normal untuk anak dalam masa perkembangannya

saat mulai belajar berjalan. Namun bila setelah usia belajar berjalan terlewati dan anak masih berjalan jinjit, maka hal ini harus diketahui penyebabnya agar bisa diterapi sedini mungkin.

Memuat
Kirim masukan

Beri Nilai