Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 LATAR BELAKANG Lesi pra-ganas adalah kondisi penyakit yang secara klinis belum menunjukkan tanda-tanda yang mengarah pada lesi ganas, namun di dalamnya sudah terjadi perubahan-perubahan patologis yang merupakan tanda akan terjadinya keganasan. Untuk membantu menegakkan diagnosa lesi tersebut diperlukan pemeriksaan histopatologi dan sitologi. Pemeriksaan sitologi maupun

histopatologi harus didukung dengan teknik pengambilan spesimen yang baik agar didapatkan gambaran mikroskopis yang akurat. Adapun tujuan pemeriksaan laboratorium tersebut adalah untuk menegakkan suatu diagnosis, menjadi pedoman di dalam penatalaksanaan pasien, menentukan prognosis, skrining suatu penyakit, dan pemantauan terapi. 1.2 DESKRIPSI TOPIK Seorang pasein berumur 40 tahun datang berobat ke praktek dokter gigi dengan keluhan adanya luka di pii bagian kanan. Hal ini sudah dialami pasien 6 bulan terakhir. Luka ini pernah diobati tetpai tidak sembuh-sembuh. Selain itu paien juga mengeluhkan adanya benjolan di daerah bawah rahang kanan, tanpa sakit. Pasien sering mengeluh protesa yang dipakai mencucuk pipi. Berdasarkan pemeriksaan oleh dokter gigi, pada rongga mulut terdapat adanya ulkus (tukak) dipipi kanan (daerah bukal) dengan diameter 1,5 cm, tepi ulkus yang meninggi dan tidak teratur. Dijumpai kawat (klamer) gigi palsu RA dibagian molar kanan atas yang mengiritasi mukosa pipi. Pada pemeriksaan leher dijumpai pembengkakan yang berdiameter 3 cm pada daerah

submandibula kanan, konsistensi keras, tidak sakit, mobile (bergerak). Dari hasil pemeriksaan histopatologi didiagnosa sebagai karsinoma sel skuamous rongga mulut (squamous cell carsinoma) yang bermetastasi ke KGB regio submandibular kanan. Berdasarkan hasil radiologi foto thorak, tidak dijumpai kelainan pada paru, dan jantung masih dalam batas normal. PRODUK 1. Jelaskan cara pengambilan spesimen pemeriksaan patologi anatomi untuk kasus luka di pipi.

2. Jelaskan cara pengambilan spesimen dengan kasus pembengkakan submandibular untuk pemeriksaan di laboratorium patologi anatomi. 3. Jelaskan tujuan, indikasi, serta kontradiksi pemeriksaan biopsi lesi pada rongga mulut. 4. Jelaskan cara pengambilan darah dan interpretasi dalam menegakkan diagnosa. 5. Berdasarkan kasus diatas, tentukan tingkat sistem TNM. 6. Jelaskan tanda-tanda gambaran mikroskopis karsinoma sel skuamus. 7. Jelaskan lesi-lesi jaringan lunak pada rongga mulut. 8. Jelaskan etiologi yang dapat menyebabkan luka pada rongga mulut. 9. Jelaskan proses wound healing dan faktor-faktor intrinsik dan ekstrinsik pada penyembuhan luka. 10. Jelaskan perbedaan gambaran klinis dan histopatologis tumor jiank dan ganas.

BAB II PEMBAHASAN METODE PENGAMBILAN EKSFOLIATIF SITOLOGI MULUT1 Kapas lidi 1. Lesi dibersihkan dengan mormal saline 2. Kapas lidi diputarkan ke lesi 3600 3. Kemudian ditransfer ke objek glass berputar 3600 4. Fiksasi dengan alkohol 96%, kirim ke lab PA Cytobrush 1. Lesi dibersihkan dengan normal saline 2. Dibrush dengan alat cytobrush 3. Dibrush ke objek glass 4. Fiksasi, kirim ke lab PA Spatel/ smear 1. Lesi dibersihakan dengan normal saline 2. Lesi dikerok dengan spatel 3. Ditransfer ke objek glass 4. Fiksasi, kirim ke lab PA

PROSEDUR FNAB (FINE NEEDLE ASPIRATION BIOPSY)2 Alat yang digunakan: tabung suntik plastik ukuran 10-20 ml, jarum halus, pistolette, kaca objek, dan desinfektan alkohol/betadine. Cara pengambilan : 1. Tumor dipegang lembut 2. Jarum diinsersi segera ke dalam tumor 3. Piston di dalam tabung suntik ditarik ke arah proksimal, tekanan di dalam tabung menjadi negatif, jarum dimanuver mundur-maju. Dengan cara demikian sejumlah sel massa tumor masuk ke dalam lumen jarum suntik 4. Piston dalam tabung dikembalikan pada posisi semula dengan cara melepaskan pegangan 5. Aspirat dikeluarkan dan dibuat sediaan hapus, dikeringkan di udara dan dikirimkan ke laboratorium Patologi Anatomi TUJUAN BIOPSI3 1. Mengetahui morfologi tumor: tipe histologic tumor, subtipe tumor dan grading sel. 2. Radikalitas operasi 3. Staging tumor: besar specimen dan tumor dalam centimeter, luas ekstensi tumor, bentuk tumor, dan nodus regional. INDIKASI BIOPSI3 1. Lesi yang menetap lebih dari 2 minggu tanpa diketahui penyebabnya 2. Lesi yang membesar dan tidak memberikan reaksi pada perawatan lokal 10 sampai 12 hari 3. Lesi hiperkeratotik yang menetap

4. Tumor yang menetap, baik yang nampak atau terdeteksi dengan palpasi 5. Pembesaran yang tidak diketahui penyebabnya dan menetap untuk waktu yang lama 6. Lesi yang mempengaruhi fungsi lokal misalnya fibroma

7. Lesi tulang yang tidak teridentifikasi secara spesifik setelah pemeriksaan klinis dan radiografis 8. Lesi yang mempunyai karakteristik sebagai keganasan KONTRADIKSI BIOPSI3 Pasien dengan penyakit yang sangat serius, pada subjek dengan beberapa

yang memburuk, atau dimana terdapat komplikasi sekunder. Kasus lesi yang terletak pada daerah yang sangat dalam atau pada daerah dengan akses yang sangat sulit dimana teknik bedah terbukti sulit atau berbahaya, dimana terdapat resiko kerusakan pada struktur di sekitarnya. Lesi yang bersumber dari pembuluh darah, seperti hemangioma, karena resiko pendarahan yang persisten dan besar Kasus neurofibroma multiple, karena resiko terbentuknya neurosacroma atau pada tumor dikelenjar saliva yang lebih besar. CARA PENGAMBILAN DARAH4 1. Siapakan alat dan bahan seperti: a. Spuit ukuran 5-10cc b. Kapas alcohol dantempatnya c. Antikoagulan (untuk mencegah hemolisis) d. Botol/tabung penampung darah e. Karet pembendung f. Sarung tangan bersih 2. Prosedur: a. Cuci tangan (steril) b. Gunakan sarung tangan c. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan d. Ambil spuit sesuai dengan ukuran (5-10ml) e. Tentukan vena yang akan diambil darahnya (diutamakan mediana cubiti) f. Desinfeksi dengan kapas alcohol

g. Lakukan pengikatan dengan karet pembendung pada bagian atas vena yang akan diambil darahnya h. Lakukan pengambilan darah dengan cara menusukkan vena dengan jarum spuit menghadap ke atas dengan sudut 300-400 terhadap kuli, kemudian lepas karet pembendung dan lakukan pengambilan darah i. Setelah darah diambil, masukkan ke dalam botol penampung yang telah diberi antikoagulan sesuai dengan jenis pemeriksaan dan tekan daerah penusukan selama 2-5 menit j. Catat tanggal pengambilan k. Buka darung tangan l. Cuci Tangan Nilai lab normal pada anak dan dewasa menurut American Academy of Pediatrics5: Darah Rutin / Darah Lengkap Usia Hb Ht Eritrosit RDW MCV MCH MCHC Trombosit (x (fL) <18 95115 <17 86110 <16.5 74-96 25-35 30-36 300-700 28-36 28-38 250-450 (pg) (%) 103/mm3) 250-450 (g/dL) (%) (mill/mm3) 0-3 hari 15.020.0 1-2 minggu 12.518.5 45- 4.0-5.9 61 39- 3.6-5.5 57 29- 3.1-4.3 42 33- 3.7-4.9 38 34- 3.9-5.0 39 35- 4.0-4.9 42 36- 4.5-5.1 47 <14.5 78-96 25-35 31-37 150-450 <15 77-95 25-33 31-37 250-550 <15 75-87 24-30 31-37 250-550 <16 70-84 23-30 31-37 250-600

31-37 29-37

1-6 bulan 10.013.0 7 bulan 10.52 tahun 13.0

2-5 tahun 11.513.0 5-8 tahun 11.514.5 13-18 tahun 12.015.2

Laki-laki 13.5dewasa Wanita dewasa 16.5 12.015.0

41- 4.5-5.5 50 36- 4.0-4.9 44

<14.5 80100 <14.5 80100

26-34 31-37

150-450

26-34 31-37

150-450

Sel Darah Putih dan Hitung Jenis Usia Leukosit (x 103/mm3) 0-3 hari 1-2 minggu 1-6 bulan 7 bulan 2 tahun 2-5 tahun 5-8 tahun 13-18 tahun Dewasa Seg = neutrofil segmen Bat = neutrofil batang Limf = limfosit Mono = monosit Eos = eosinofil Bas = basofil 9.0-35.0 5.0-20.0 6.0-17.5 6.0-17.0 5.5-15.5 5.0-14.5 4.5-13.0 4.5-11.0 32-62 10-18 19-29 5-7 14-34 6-14 13-33 4-12 15-35 5-11 23-45 5-11 32-54 5-11 34-64 5-11 35-66 5-11 36-45 6-10 41-71 4-7 45-76 3-6 35-65 3-6 28-48 3-6 25-45 3-6 24-44 3-6 0-2 0-1 0-2 0-1 0-3 0-1 0-3 0-1 0-3 0-1 0-3 0-1 0-3 0-1 0-3 0-1 Seg Bat Limf Mono Eos Bas

Laju Endap Darah (LED) and Hitung Retikulosit Laju endap darah, Westergren Anak Pria dewasa Wanita dewasa Sedimentation rate, Wintrobe Anak Pria dewasa 0-20 mm/jam 0-15 mm/jam 0-20 mm/jam 0-13 mm/jam 0-10 mm/jam

Wanita dewasa Hitung Retikulosit Newborns (<28 hari) 1-6 bulan Dewasa Interpretasi5: Leukosit dan Hitung Jenis Leukosit

0-15 mm/jam 2%-6% 0%-2.8% 0.5%-1,5%

Leukosit atau sel darah putih adalah komponen sel darah yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh untuk melawan berbagai infeksi. Apabila jumlah leukosit melebihi nilai normal disebut leukositosis. Leukositosis dapat disebabkan infeksi, inflamasi, keganasan dan lain-lain. Sedangkan apabila jumlah leukosit lebih rendah dari nilai normal disebut leukopenia. Leukopenia juga dapat disebabkan oleh infeksi, inflamasi, dan keganasan. Eritrosit Eritrosit atau sel darah merah yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh. Di dalam sel darah merah terdapat protein yang berfungsi mengikat oksigen, yaitu haemoglobin. Apabila jumlah eritrosit di bawah nilai normal ada kemungkinan terdapat anemia. Apabila eritrosit lebih dari normal, ada kemungkinan polisitemia. Namun untuk menentukan anemia atau polisitemia perlu melihat nilai hemoglobin. Hemoglobin (Haemoglobin) Hemoglobin atau sering kita kenal Hb adalah protein di dalam sel darah merah yang berfungsi mengikat oksigen. Bila hemoglobin lebih rendah dari nilai normal maka disebut anemia. Apabila nilai hemoglobin lebih tinggi dari nilai normal maka disebut polisitemia. Banyak kondisi yang dapat menyebabkan anemia di antaranya kekurangan/defisiensi zat besi, defisiensi asam folat, talasemia, infeksi kronik, keganasan dan lain-lain Hematokrit Hematokrit adalah perbandingan volume sel darah merah terhadap volume darah secara keseluruhan. Nilai hematokrit biasanya dikaitkan dengan ada tidaknya perembesan plasma pada kasus demam berdarah dengue. Pada kasus demam berdarah dengue (DBD), apabila terdapat peningkatan hematokrit berarti terdapat rembesan plasma ke luar pembuluh darah.

Trombosit Trombosit adalah sel darah yang berperan pada proses pembekuan atau menghentikan perdarahan. Trombositopenia adalah jumlah trombosit lebih rendah dari nilai normal. Trombositopenia dapat disebabkan infeksi virus (termasuk demam dengue atau demam berdarah dengue), keganasan, ITP, perdarahan, dan lain-lain. Sedangkan trombositosis adalah peningkatan jumlah trombosit melebihi nilai normal. Trombositosis dapat disebabkan infeksi, keganasan, reaksi dari kerusakan jaringan, dan lain-lain. Laju Endap Darah Laju endap darah adalah kecepatan sel darah merah (eritrosit) mengendap dalam satuan mm/jam. Laju endap darah yang tinggi biasanya dikaitkan dengan adanya infeksi akut, infeksi kronik dan inflamasi.Interpretasi hasil pemeriksaan harus dilakukan oleh dokter dan menyesuaikan korelasinya dengan kondisi klinis pasien. TINGKAT SISTEM TNM6 TNM rongga mulut menurut UICC 2002: T(Tumor Primer): To : Tidak ditentukan Tis : Carsinoma in situ T1 : tumor < 2 cm T2 : tumor 2-4 cm T3 : tumor >4 T4 : tumor menginvasi jaringan sekitarnya

N (Kelenjar Limfe Regional/ Nodus) : N0 : Tidak terasa pembesaran kelenjar N1 : single ipsilateral node 3 cm N2A : single ipsilateral node 3-6 cm N2B : multiple ipsilateral nodes 6 cm N2C : kontralateral atau bilateral nodes 6cm N3 : node > 6 cm

M(Metastasis) : M0 : Tidak ada metastase M1 : Terdapat metastase jauh Mx : Metastase tidak dapat ditentukan

STADIUM STADIUM I II III TNM System T1 N0 M0 T2 N0 M0 T3 N0 M0 T1 N1 M0 T3 N1 M0 IVA T4 N0 M0 T4 N1 M0 T4 N2 M0 IVB IVC T1-4 N3 M0 T1-4 N1-3 M1

Pada kasus tersebut termasuk dalam stadium III, karena berdasarkan lesi yang berdiameter 1,5 cm termasuk dalam T1 , terjadi pembengkakan di kelenjar getah bening yang berdiameter 3 cm termasuk dalam N1, dan tidak terjadinya metastase jauh itu termasuk dalam M0. GAMBARAN MIKROSKOPIS KARSINOMA SEL SKUAMOUS7&8 Berdasarkan derajat diferensiasinya karsinoma sel skuamosa rongga mulut dibagi atas diferensiasi baik, sedang dan jelek. Diferensiasi baik : Gambaran karsinoma sel skuamosa yang berdiferensiasi baik adalah adanya sel keratinisasi, pertumbuhan sejumlah sel epitel atau gambaran keratin seperti mutiara dengan besar yang bervariasi. Pertumbuhannya lambat dan tidak mengalami metastase yang cepat, sehingga memiliki prognosa yang baik. Pada lesi tipikal kelompok sel meligna ini dapat dijumpai secara aktif menginvasi jaringan konektif dengan bentuk yang tidak teratur.

Diferensiasi Sedang : Karsinoma sel skuamosa rongga mulut yang mengalami diferensiasi sedang memiliki gambaran tertentu sehingga epithelium skuamosa juga kurang jelas. Bentuk karakteristik dari sel ini berubah dari satu dan yang lainnya , tersusun secara tipikal. Laju pertumbuhan sel individu lebih cepat an hal ini ditunjukkan dengan mitosis yang lebih besar dan bahkan lebih bervariasi dalam ukuran bentuk dan kegagalan untuk melakukan fungsi sel skuamosa yang berdiferensiasi terbentuknya karatin. Diferensiasi jelek : Karsinoma sel skuamosa dengan diferensiasi jelek menghasilkan sedikit petunjuk sel-sel asal dengan sering menimbulkan kesulitan dalam mendiagnosa karena gambaran histology malignan yang primitive tidak meniliki karakteristik, yang dengan cepat membagi sel-sel . Selsel ini bahkan menunjukkan kurangnya daya kohesif yang sangat tidak teratur, adanya anaplasia, pembentukan, pembentukan tumor sel giant dan sejumlah mitosis serta tidak ada pembentukan keratin. LESI-LESI JARINGAN LUNAK RONGGA MULUT7&8 Lesi Primer 1. Makula Bercak pada kulit/mukosa, berbatas jelas, bentuk dan ukuran bervariasi, datar (tak ada peninggian) hanya berupa perubahan warna. Warna : Merah, coklat keputihan, merah kebiruan, biru kecoklatan. Contoh penyakit : Hyperemia, petechiae, purpura, ecchymoses 2. Papula Adalah bercak putih pada kulit/mukosa, berbatas jelas, dan ada peninggian. Ukuran: dari titik sampai < 1 cm. Warna bervariasi: kemerahan, kekuningan, abu2 keputihan. Contoh: Lichen planus (pada mukosa) dan Fordyces spot. 3. Plak Suatu bentuk variasi dari papula; diameter > 1 cm; warna : putih keabuan dan mengadakan perluasan ke tepi; timbul bentuk yang melandai. Permukaan halus, menonjol atau bentuk fisura. Contoh: Leukoplakia

4. Nodula Pemadatan massa jaringan yang berbatas jelas dan berisi jaringan ikat dilapisi epitel dan Dapat terjadi karena iritasi kronis. Dasar nodula: Melibatkan submukosa dan daerah dibawah epidermis. Contoh: Iritasi fibroma 5. Vesikula Peninggian pada kulit atau mukosa yang berisi bahan cair (serum, plasma, darah)dan berbentuk vesikula karena infeksi virus. Ukuran: dari titik 1 sampai 5 mm; jumlah: bisa tunggal atau banyak. Contoh: Herpes. 6. Bula Adalah bentukan seperti vesikula tetapi diameternya > 5 mm. Bila pecah dapat menjadi ulser/ulkus yang sembuh dengan jaringan parut. Contoh: pemphigus vulgaris. 7. Pustula Adalah bentukan yang sama seperti vesikula/bula tetapi berisi nanah /pus. Contoh: penyakit impetigo, pada kulit berupa bisul-bisul kecil. 8. Keratosis Adalah penebalan yang tidak normal dari lapisan terluar epitel (stratum korneum). Warna: putih sampai keabuan. Contoh: linea alba bukalis, leukoplakia, lichen planus. 9. Wheals Adalah bentukan yang sama seperti papula, diameter lebih kecil, cepat sembuh dan berisi serum. Contoh: bintil karena gigitan serangga 10. Tumor Suatu neoplasma yang pertumbuhan jaringan bebas, baru, pembelahan sel yang progresif dan tidak terkontrol, tidak punya kegunaan fisiologis. Istilah yang dipakai pada massa padat dari jaringan, diameter > 1 cm dan dapat berwarna apapun. Lokasi: pada jaringan lunak RM

manapun. Klinis: Lesi bulat menimbul dan tumor menetap bertangkai/ulseri ditengahnya. 11. Gelegata Gelegata merupakan elevasi sementara kulit yang disebabkan oleh edema dermis dan dilatasi kapiler sekitarnya. Biasanya berkaitan dengan respon alergi terhadap bahan asing. Lesi Sekunder Yaitu merupakan lesi yang muncul setelah lesi primer muncul pada jaringan lunak rongga mulut. Ada beberapa macam lesi sekunder, antara lain :

1. Erosi Dapat sembuh tanpa jaringan parut. Contoh: Lichen Planus tipe erosi 2. Ulseri Rasa nyeri bertambah dan bila ditekan menimbulkan perdarahan karena kerusakan sampai lamina propia. Contoh: ulkus traumatikus; stomatitis aftosa rekuren. 3. Fisura Ini merupakan retakan kecil yang meluas melalui epidermis dan memaparkan dermis. Dapat terjadi pada kulit kering dan pada inflamasi kronik. 4. Sikatriks Adalah bentukan jaringan baru yang berlebihan pada penyembuhan luka. Contoh: Keloid 5. Deskuamasi Adalah pengelupasan lapisan epitel (stratum korneum). Ini bisa fisiologis pengelupasan epitel sehingga kulit mengalami regenerasi 6. Pseudomembran Adalah membran palsu. Contoh: Kandidiasis Pseudomembran Akut. 7. Eschars Adalah cacat atau kerusakan pada kulit / mukosa akibat luka bakar. 8. Krusta Ini terbentuk dari serum, darah atau nanah yang mengering pada kulit. Masing-masing dapat dikenal dengan warna berikut : merah kehitaman (krusta darah), kuning kehitaman (krusta

nanah), berwarna madu (krusta serum). Contoh: Eritema Multiformis 9. Sinus Adalah suatu saluran atau fistula yang memanjang dari rongga supuratif, kista atau abses ke permukaan epidermis. Contoh: Aktinomikosis. Lesi - Lesi lainya Jenis lesi-lesi lainnya pada jaringan lunak rongga mulut yaitu : lesi putih, lesi merah dan lesi berpigmen. 1. Lesi Merah Rongga Mulut Merupakan lesi yg paling sering terjadi. Penyebab lesi merah rongga mulut: Inflamasi pada mukosa, erosi, atrofi, purpura, vaskuler, neoplasma. 2. Lesi- Lesi Putih

Penyebab utama dari lesi putih rongga mulut adalah leukodema. Penyebab lokal antara lain keturunan (misalnya nevus spon putih), leukoplakia, neoplasama, infeksi, dan penyakit mukokutan. 3. Lesi Mukus Berpigmen Merupakan perubahan warna mukosa rongga mulut, dimana daerah antara warna coklat ke warna hitam. Jenis: intrinsik dan ekstrinsik. Penyebab dari pigmentasi rongga mulut terdiri dari : pigmentasi ras, inflamasi kronis, tatto amalgam, tatto grafit, dan obat-obatan. ETIOLOGI LUKA RONGGA MULUT7 Etiologi yang dapat menyebabkan luka pada rongga mulut adalah A. Faktor lokal Biasanya merupakan segala macam bentuk iritasi kronis, antara lain: 1. Trauma a. b. c. d. Trauma dapat berupa gigitan tepi atau akar gigi yang tajam. Iritasi dari gigi yang malposisi. Pemakaian protesa yang kurang baik sehingga menyebabkan iritasi. Adanya kebiasaan jelek, antara lain kebiasaan jelek menggigit-gigit jaringan mulut, pipi, 2. Kemikal atau termal Pada penggunaan bahan-bahan yang kaustik mungkin diikuti oleh terjadinya leukoplakia dan perubahan keganasan. B. Faktor kaustik 1. Tembakau Terjadinya iritasi pada jaringan mukosa mulut tidak hanya disebabkan oleh asap rokok dan panas yang terjadi pada waktu merokok, tetapi dapat juga disebabkan oleh zat-zat yang terdapat di dalam tembakau yang ikut terkunyah. 2. Alkohol Telah banyak diketahui bahwa alkohol merupakan salah satu faktor yang memudahkan terjadinya leukoplakia, karena pemakaian alkohol dapat menimbulkan iritasi pada mukosa. 3. Bakterial maupun lidah.

Leukoplakia dapat terjadi karena adanya infeksi bakteri, penyakit periodontal yang disertai higiene mulut yang jelek. c. Faktor sistemik 1. Umur Luka pada orang tua lebih sulit sembuh,ada hubungannya dengan penyakit degeneratif. 2. Hormonal Contoh: Penyakit DM 3. Nutrisi. Protein,Vitamin C penting untuk pembentukan fibroblast dan kolagen PROSES PENYEMBUHAN LUKA (WHOUD HEALING)9 - Fase Inflamasi Berlangsung sampai hari ke-5. Akibat luka terjadi pendarahan, tubuh akan berusaha menghentikannya dengan vasokonstriksi, pengerutan ujung pembuluh yang terputus (retraksi) dan reaksi hemostasis. Hemostasis terjadi karena keluarnya trombosit, trombosit mengeluarkan prostaglandin, tromboksan, bahan kimia tertentu dan asam amino tertentu yang mempengaruhi pembekuan darah, mengatur tonus dinding pembuluh darah dan kemotaksis terhadap leukosit. Sel radang keluar dari pembuluh darah secara diapedesis dan menuju daerah luka secara kemotaksis. Sel Mast mengeluarkan serotinin dan histamin yang meningkatkan permiabilitas kapiler, terjadi eksudasi cairan oedema. Dengan demikian akan timbul tanda-tanda radang. Leukosit, limfosit dan monosit menghancurkan dan memakan kotoran dan kuman. Pertautan pada fase ini hanya oleh fibrin, belum ada kekuatan pertautan luka sehingga disebut fase tertinggal (lag phase). - Fase Proliferasi atau Fibroplasi Berlangsung dari akhir masa inflamasi sampai kira-kira minggu ke-3. Pada fase ini terjadi proliferasi dari fibroblast yang menghasilkan mukopolisakarida, asamaminoglisin dan prolin yang akan mempertautkan tepi luka. Pada fase ini terbentuk jaringan granulasi. Pembentukan jaringan granulasi berhenti setelah seluruh permukaan luka tertutup epitel dan mulailah proses pendewasaan penyembuhan luka, pengaturan kembali dan penyerapan yang berlebih. - Fase Remodelling/Fase Resorbsi/Fase penyudahan

Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri dari penyerapan kembali jaringan yang berlebih, pengerutan sesuai dengan gaya gravitasi dan akhirnya perupaan kembali jaringan yang baru terbentuk. Fase ini berakhir bila tanda radang sudah hilang.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES PENYEMBUHAN LUKA Faktor intrinsik: - Koagulasi; Adanya kelainan pembekuan darah (koagulasi) akan menghambat penyembuhan luka. - Gangguan sistem Imun (infeksi,virus); Gangguan sistem imun akan menghambat dan mengubah reaksi tubuh terhadap luka, kematian jaringan dan kontaminasi. - Penyakit Kronis; Penyakit kronis seperti TBC, Diabetes, juga mempengaruhi sistem imun. Faktor ekstrinsik: - Obat-obatan; Pemberian sitostatika, obat penekan reaksi imun,kortikosteroid dan sitotoksik mempengaruhi penyembuhan luka denganmenekan pembelahan fibroblast dan sintesis kolagen. - Teknik Penjahitan; Tehnik penjahitan luka yang tidak dilakukan lapisan demi lapisan akan mengganggu penyembuhan luka. PERBEDAAN GAMBARAN HISTOPATOLOGIS TUMOR JINAK DAN GANAS10 Tumor Jinak Relatif normal Mitosis sedikit Relative lambat Expansif Berkapsul Tidak bermetastasis Relatif sedikit Tidak mengalami nekrosis Gamabaran Histopatologis Karakteristik sel histology Aktivitas mitosis Tingkat pertumbuhan Sifat pertumbuhan Pembatas Metastasis Vaskularisasi Nekrosis Tumor Ganas

secara Tampak perubahan yang jelas Aktivitas Mitosis cepat Cepat dan meluas Invasive Berbentuk, berkapsul Bermetastasis Meningkat Sebagian besar mengalami nekrosis

BAB III PENUTUP Exfoloative Sitology adalah metode pengambilan spesimen berupa sel-sel epitel yang terlepas secara fisiologi dari suatu luka.Tujuan exfoliative sitology yaitu screening(deteksi dini kanker rongga mulut), menurunkan insidensi terjadinya kanker, menurunkan mortality terhadap penderita kanker, dan memudahkan pengobatannya. Metode pengambilan spesimen Exfoliative Sitology pada rongga mulut, antara lain Imprint, Kapas lidi, Cytobrush, Smear/ Spatel dan kumur-kumur. FNAB (Fine Needle Aspiration Biopsy) adalah teknik pengambilan spesimen berupa sejumlah sel dari ekstrak tumor atau nodul dengan menggunakan jarum atau tabung suntik. FNAB biasanya dilakukan pada lesi kelenjar liur atau semua lesi yang diperkirakan berisi cairan. Teknik ini lebih diminati oleh pasien karena prosedurnya yang sederhana, tidak sakit, lebih murah, dan hasil pemeriksaan yang cepat. Dalam menegakkan diagnosis suatu karsinoma diperlukan pemeriksaan laboratorium yaitu pemeriksaan darah lengkap untuk menemukan sel tumor pada peredaran darah. Dalam penentuan derajat atau stadium cancer digunakan metode TNM (T=Tumor primer, N=Nodul, M=Metastase). Karsinoma sel skuamous ditandai dengan proliferasi sel-sel epitel skuamosa, pembentukan keratin yang abnormal, susunan sel yang tidak teratur dan terbentuknya tumor nest yang berinfiltrasi ke jaringan sekitarnya. Luka pada rongga mulut dapat disebabkan oleh faktor lokal dan sistemik. Faktor lokal berupa trauma ataupun kebiasaan merokok, menyirih dan meminum alkohol. Proses penyembuhan luka terdiri dari 3 fase yaitu, fase inflamasi, proliferasi dan remodelling. Proses ini dipengaruhi oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik. Tumor jinak memiliki ciri-ciri pertumbuhan yang lambat, aktivitas mitosis yang lambat, tidak memiliki kemampuan bermetastasis, memiliki kapsul sebagai pembatas dan bersifat ekspansif. Berbeda dengan tumor ganas yang memiliki ciri-ciri pertumbuhan yang cepat, aktivitas mitosis yang tinggi, mampu bermetastasis, tidak memiliki kapsul dan bersifat infiltratif.

DAFTAR PUSTAKA 1. Nn 2. 3. Sudiono J. Pemeriksaan patologis untuk Diagnosis Neoplasma Mulut.Jakarta: EGC;57-58 4. Hidayat A. Ed. Buku Saku Praktikum Keperawatan Anak. Jakarta: EGC, 2007: 37-40. 5. http://www.pediatriccareonline.org/pco/ub/view/Pediatric-Drug-Lookup/ 153930/0 /normal_ laboratory_values_for_children 6. Miloro M, ghali GE, Larsen PE, Waite PD. Petersons principles of Oral and Maxilofacial Surgery. Eds,2nd.2004, London: Hamilton; 623-624 7. http://ayu-dani91.blogspot.com/2011/06/lesi-lesi-jaringan-lunak-rongga-mulut.html 8. http://drganjoz.blogspot.com/2011/02/blok-10-lbm-1.html 9. perawatpskiatri.com/2009/03/proses-penyembuhan-luka.html 10. Wim de jong. Kanker, apakah itu? Pengobatan,Harapan Hidup,dan Dukungan Keluarga.2004, Jakarta: Arcan;1-9.

LAPORAN PEMICU III

LUKA DI PIPI

DISUSUN OLEH : GRUP C KELAS B

??????????
Yohanna M. Hutabarat (110600120) Elsi Silalahi (110600122) Ivan (110600123) Maya Indah Triastuti (110600124) Patria Fajar Wibowo (110600125) Garry B. Gunawan (110600126) Hendry D. P. (110600127) Anusyiah Melanie (110600128) Angeline James (110600129) Nurul Sukma Mustafa (110600130) Michiko (110600131) Zilda Fania (110600132) Grace A. Siahaan (110600133

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA