Anda di halaman 1dari 62

STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE GROUP TO GROUP

EXCHANGE (GGE) PADA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS VII DI


SMPN 1 TALAMAU, PASAMAN BARAT

Diajukan Sebagai Tugas Terstruktur Pada Mata Kuliah Metodologi Penelitian
Pendidikan dan Pengajaran Matematika




NINING YURIANI
2411.037


Dosen pembimbing
M.IMAMMUDDIN, M.Pd

JURUSAN TARBIYAH PROGRAM STUDI PENDIDIKAN
MATEMATIKA VB
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) SJECH M.
DJAMIL DJAMBEK BUKITTINGGI
SUMATERA BARAT
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang sangat penting dan dibutuhkan
oleh umat manusia untuk menjalani hidupnya. Allah SWT sangat memandang
orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan memperingatkan manusia agar
mencari ilmu pengetahuan. Sebagaimana dijelaskan dalam Alquran surah Al-
Mujaadilah ayat 11 yang berbunyi:
Og^4C 4g~-.-
W-EONL4`-47 -O) 1g~ 7
W-OOOE> ) +)UEE^-
W-O=O^ gE=O^4C +.-
7 W -O)4 1g~ W-+O=e-
W-+O=e ;7O4C +.-
4g~-.- W-ONL4`-47 7Lg`
4g~-.-4 W-O>q
=Ug^- eE_4OE1 _ +.-4
E) 4pOUEu> OO)lE= ^
Artinya :Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu:
"Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya
Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan:
"Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan
orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi
ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa
yang kamu kerjakan
1
.
Berdasarkan surah Al-Mujaadilah ayat 11 di atas dapat dipahami bahwa
betapa pentingnya ilmu pengetahuan bagi kelangsungan hidup manusia. Karena
dengan ilmu pengetahuan, Allah akan meninggikan derajat manusia dan dengan
ilmu pengetahuan manusia akan mengetahui apa yang baik dan yang buruk, yang
benar dan yang salah, yang membawa manfaat dan yang membawa mudharat.
Termasuk dalam mempelajari matematika, karena matematika juga merupakan
salah satu cabang dari ilmu pengetahuan.
Pendidikan matematika merupakan salah satu aspek kehidupan yang sangat
penting peranannya dalam upaya membina dan membentuk manusia berkualitas
tinggi. Dalam perkembangan modern, matematika memegang peranan penting
karena dengan bantuan matematika semua ilmu pengetahuan sempurna.
Pembelajaran matematika di sekolah merupakan saran berfikir yang jelas, kritis,
kreatif, sistematis, dan logis. Arena untuk memecahkan masalah kehidupan
sehari-hari, mengenal pola-pola hubungan dan generalisasi pengalaman dan
perkembangan kreatifitas.
Peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk saat sekarang ini
merupakan suatu langkah yang sangat penting. Dimana manusia pada masa
globalisasi dan industrialisasi dituntut memiliki kemampuan lebih, guna
meningkatkan kualitas hidup. Ini tercermin dari ideologi bangsa Indonesia yaitu
Pancasila dan UUD 1945, bahwa pembangunan nasional di bidang pendidikan

1
Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (Bandung: CV Penerbit Diponegoro, 2005)
h. 434
adalah upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas
manusia Indonesia dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur.
Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah dengan
meningkatkan mutu pendidikan, terutama pendidikan matematika dan sains.
Meskipun ilmu dan pendidikan yang didapatkan itu sama pentingnya, namun yang
paling penting adalah bagaimana ilmu yang didapatkan tersebut mampu
mengarahkan kehidupan manusia menjadi lebih baik dan benar dimasa yang akan
datang.
Berbicara tentang pendidikan tentu saja tidak terlepas dari pendidikan
matematika, yang mana matematika tersebut sangat berpengaruh terhadap
kehidupan manusia. Matematika adalah aktivitas manusia
2
. Matematika juga
merupakan salah satu ilmu yang memegang peranan penting dalam pembentukan
pola pikir siswa. Besarnya peranan matematika membuat matematika dipelajari
secara luas, mulai dari jenjang pendidikan terendah sampai ke jenjang tertinggi.
Selain itu melalui pembelajaran matematika dapat dikembangkan pemikiran-
pemikiran yang kritis, logis, dan sistematis dalam menyelesaikan masalah. Akan
tetapi pada kenyataannya matematika sering dianggap sebagai pelajaran yang
sulit, menakutkan, dan membosankan bagi sebagian besar anak sekolah, meskipun
tidak sedikit yang menyenangi pelajaran ini.
Matematika memang tergolong suatu ilmu yang cukup sulit untuk
dipahami dan dimengerti. Dalam dunia pendidikan tidak begitu banyak siswa
yang menyenangi matematika namun masih ada siswa yang menganggap

2
Erman Suherman. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer ,(Bandung: JICA
2001), h. 17

matematika sebagai suatu ilmu yang menantang untuk dipelajari. Jadi, dalam
pembelajaran guru harus memahami hakikat materi pelajaran yang diajarkannya
dan memahami berbagai model pembelajaran yang merangsang kemampuan
siswa untuk belajar dengan perencanaan pengajaran yang matang oleh guru
3
. Guru
dan siswa senantiasa dituntut agar menciptakan suasana lingkungan belajar yang
baik dan menyenangkan, menantang dan menggairahkan
4
. Dari kedua pernyataan
tersebut maka guru harus berusaha semaksimal mungkin untuk menciptakan
pembelajaran matematika yang menyenangkan agar tujuan yang inginkan dapat
tercapai dan matematika tidak lagi dianggap pelajaran yang sulit, menakutkan,
dan membosankan.
Jika pembelajaran matematika yang diciptakan guru menyenangkan,
menantang dan menggairahkan maka tujuan pembelajaran matematika akan
tercapai. Pencapaian tujuan pembelajaran itu juga akan tercapai jika guru
memiliki kompetensi. Ketercapaian tujuan pembelajaran matematika dapat dilihat
dari hasil belajar matematika. Hasil belajar bergantung kepada cara guru mengajar
dan aktivitas siswa sebagai pembelajar. Guru sebagai pengajar sekaligus pendidik
harus mampu menggunakan strategi pembelajaran yang tepat sehingga diharapkan
hasil belajar siswa menjadi lebih baik. Hasil belajar matematika yang diharapkan
setiap sekolah adalah hasil belajar matematika yang mencapai ketuntasan belajar
matematika siswa. Siswa dikatakan tuntas belajar matematika apabila nilai hasil
belajar matematika siswa telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
yang ditetapkan sekolah.

3
Sofan Amri,hal 89
4
Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta : Bumi Aksara, 2008) hal. 52
Melaksanakan pembelajaran matematika sehingga nantinya siswa mampu
memiliki nilai yang mencapai KKM yang ditetapkan sekolah juga tidak mudah
karena seorang guru harus melakukan penyesuaian, seperti: materi, metode,
strategi dan yang paling penting siswa yang menerima pembelajaran tersebut.
Penyesuaian dari pembelajaran matematika terkadang membuat seorang guru
dalam melaksanakan pembelajaran bersifat menyampaikan informasi kepada
siswa.
Dalam pembelajaran ini, hanya siswa yang memiliki kemampuan
akademis tinggi saja yang bisa menerima materi yang disampaikan dengan baik,
sementara siswa yang tingkat akademisnya rendah belum tentu dapat menerima
materi dengan baik, siswa bersifat pasif dalam pembelajaran. Guru menjelaskan
materi pelajaran, memberikan contoh soal kemudian memberikan soal soal
latihan dan pekerjaan rumah kepada siswa. Kegiatan pembelajaran tersebut
tergolong kaku dan menitik beratkan pembelajaran pada guru sedangkan siswa
hanya menerima, sehingga menyebabkan siswa malas untuk mencari informasi
lain yang berhubungan dengan pembelajarannya.
Hasil wawancara yang dengan Ibu Eliwati S.Pd selaku guru bidang studi
matematika diperoleh informasi bahwa beliau masih mendapatkan kendala dalam
upaya meningkatkan hasil belajar matematika. Kendala tersebut adalah kurangnya
partisipasi siswa dalam pembelajaran matematika, siswa cepat lupa materi yang
telah diajarkan karena kurangnya pemahaman siswa terhadap konsep yang
diajarkan dan seringnya matematika dianggap oleh siswa sebagai mata pelajaran
yang sulit untuk dipahami konsep-konsepnya, serta yang cendrung terjadi dari
sebagian besar siswa adalah mengandalkan pembelajaran yang mereka dapatkan
di sekolah.
Kendala dalam pembelajaran matematika disebabkan model pembelajaran
yang masih terpusat pada guru, dimana guru menjelaskan materi terlebih dahulu
diiringi dengan beberapa contoh soal, kemudian siswa diminta untuk mengerjakan
latihan dan di akhir pembelajaran siswa diberikan tugas sehingga siswa kurang
terlibat aktif dalam pembelajaran. Siswa lebih cenderung menerima apa saja yang
disampaikan oleh guru, lalu mencatat apabila diminta untuk mencatat yang ada di
papan tulis. Jika tidak mengerti dengan penjelasan guru dan apa yang ada di papan
tulis sebagian besar siswa malu untuk bertanya kepada guru ataupun teman
sekelasnya. Jika diberikan soal berbeda dengan apa yang telah di ajarkan guru
sebelumnya sebagian besar dari siswa terkadang sulit untuk memecahkannya
ataupun menyelesaikannya dan yang dilakukan hanya menunggu jawaban dari
teman sekelas yang dianggap pintar tanpa berusaha berdiskusi tentang soal yang
tidak dimengerti tersebut.
Pembelajaran yang sebagian besar berpusat pada guru dan siswa malu
untuk bertanya dan berdiskusi itu berdampak terhadap hasil belajar matematika
siswa kelas VII SMP N 1 TALAMAU, Kab. Pasaman Barat. Hal ini dapat dilihat
dari nilai ulangan harian matematika siswa kelas VIII SMP N 1 TALAMAU.
Tabel 1.1: Nilai Ulangan Harian Matematika Pada Mata Pelajaran
Matematika Siswa Kelas VIII SMP N 1 TALAMAU.

Kelas Jumlah
siswa
KKM Hasil Ulangan Presentase Ketuntasan
Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas
VIII
1
21
65
12 9 57,1% 42.9%
VIII
2
23 14 9 60.8% 39.2%
VIII
3
21 11 10 52.4% 47.6%
VIII
4
25 15 10 60% 40%
Sumber: Guru mata pelajaran matematika kelas VIII SMP N 1 X Koto
5

Berdasarkan tabel 1.1 terlihat bahwa sebagian besar siswa kelas VII
SMP N 1 TALAMAU belum mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimal
(KKM) yang telah ditetapkan oleh sekolah berdasarkan kemampuan rata
rata siswa, ketercapaian kompetensi dasar, dan kemampuan daya dukung.
Jadi, rata- rata nilai KKM untuk mata pelajaran matematika pada kelas VIII
ini adalah 65.
Berdasarkan uraian di atas diduga penyebab rendahnya hasil belajar
bersumber dari guru adalah proses pembelajaran yang berpusat pada guru.
Penyebab yang bersumber dari siswa adalah kurang terlibat aktif dalam
pembelajaran, lebih cenderung menerima apa saja yang disampaikan oleh
guru, mencatat apabila diminta mencatat apa yang ada di papan tulis, malu
bertanya kepada guru atau berdiskusi dengan teman yang memiliki
kemampuan lebih di kelas tentang soal yang tidak dimengerti dan apabila
diberikan soal yang berbeda dengan apa yang diajarkan sebelumnya akan
menyebabkan siswa sulit untuk memecahkannya.

5
Ibu Emmizola, S.Pd, Guru Matematika SMP N 1 X Koto, pada hari Senin 11 Maret 2013
Beberapa cara telah dilakukan oleh guru bidang studi dalam proses
perbaikan pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar, contohnya dengan
mengadakan belajar tambahan, memberikan soal soal latihan sebelum
mengadakan ulangan dan menyuruh siswa untuk belajar berkelompok di luar
jam sekolah agar siswa lebih memahami pembelajaran yang dibahas
sebelumnya disekolah namun hal ini kurang terlaksana. Usaha ini belum
membuahkan hasil sesuai dengan yang diharapkan yaitu mencapai KKM
yang ditetapkan. Sehingga perlu dilaksanakan pembelajaran yang dapat
mengaktifkan siswa, mendorong siswa mengkonstruksi pengetahuannya
sendiri dan mengembangkan kegiatan siswa dalam meningkatkan komunikasi
serta interaksi sesama siswa melalui kegiatan berdiskusi, bertanya sehingga
siswa dapat mengkomunikasikan gagasannya kepada siswa lain serta
memecahkan masalah matematika untuk meningkatkan hasil belajar
matematika siswa.
Keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar
menyebabkan pembelajaran itu lebih berarti dan bermakna. Sehingga, dari
berbagai permasalahan yang ditemui dalam proses pembelajaran di atas
dibutuhkanlah strategi pembelajaran yang tidak berpusat pada guru, dapat
melibatkan peran siswa secara aktif, memahami materi yang dipelajari mau
berdiskusi dengan teman yang dibagi perkelompok tentang materi yang tidak
dimengerti dan memberikan kesempatan siswa untuk menjadi guru bagi siswa
yang lainnya karena sebagian siswa terkadang mampu memahami
pembelajaran melalui temannya. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk
mengatasi permasalahan di atas adalah dengan memilih strategi pembelajaran
yang tepat, strategi pembelajaran yang diharapkan dapat membantu siswa
aktif, dapat berdiskusi dengan teman yang dibagi perkelompok dan nantinya
siswa memberikan penjelasan hasil diskusi kelompoknya kepada teman
kelompok lainnya adalah strategi Group to Group Exchange (GGE)/
Pertukaran Kelompok dengan Kelompok. Melalui strategi belajar aktif tipe
GGE ini, siswa bisa mendengar, melihat, mengajukan pertanyaan tentang
materi yang dipelajari, dan mendiskusikan materi dengan siswa lain. Dalam
strategi ini, tugas - tugas yang berbeda diberikan kepada kelompok siswa
yang berbeda. Setiap kelompok mengajarkan kepada siswa lain apa yang ia
pelajari
6
.
Pemberian tugas yang berbeda kepada siswa akan mendorong mereka
untuk tidak hanya belajar bersama tetapi juga mengajarkan satu sama lain.
Jadi masing masing kelompok diberi tugas untuk mempelajari satu topik
materi dan siswa dituntut untuk menguasai materi karena setelah kegiatan
diskusi kelompok berakhir, siswa akan bertindak sebagai guru bagi siswa
yang lain dengan mempresentasikan hasil diskusinya kepada kelompok lain
di depan kelas
Allah SWT dalam surat An Nisa ayat 71 :
Og^4C 4g~-.-
W-ON44`-47 W-7O 4O'OgO

6
Melvin L. Silberman. Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa Aktif. (Bandung:
Nusamedia & Nuansa, 2010) hal. 178
W-NOg^ `4: j
W-NOg^- 4OgE_ ^_
hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke
medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama!
7


Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa Allah SWT menyuruh
orang-orang yang beriman untuk maju bersama-sama di medan pertempuran.
Hal ini berlaku juga bagi seorang siswa dalam pembelajaran karena dalam
menuntut ilmu juga merupakan medan pertempuran. Medan pertempuran
yang tidak mengandalkan senjata tajam namun mengandalkan pemikiran
pemikiran yang berguna untuk meningkatkan hasil pembelajaran. Jadi,
berkelompok kelompok mungkin lebih baik karena dengan berkelompok
siswa tidak malu untuk mengeluarkan gagasannya, mendiskusikan hal yang
tidak dipahaminya dan tentunya berguna dalam menunjang proses
pembelajaran.
Berdasarkan uraian uraian di atas, maka penulis bermaksud untuk
melakukan suatu penelitian dalam bentuk penelitian eksperimen dengan judul
Strategi Pembelajaran Aktif Tipe Group to Group Exchange (GGE)
Pada Pembelajaran Matematika Siswa Kelas VII SMP N 1
TALAMAU

A. Identifikasi Masalah

7
DEPAG RI, Alquran dan terjemahannya Special for Women. (Bogor:SYGMA, 2007)
hal.79
Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat di identifikasikan
beberapa masalah sebagai berikut :
1. Hasil belajar matematika yang belum mencapai KKM
2. Siswa malu bertanya apabila menemui kesulitan
3. Proses pembelajaran yang berpusat pada guru
4. Kurangnya aktivitas siswa selama pembelajaran
5. Kurangnya diskusi antara siswa dalam proses pembelajaran

B. Batasan Masalah
Agar penelitian ini lebih terfokus, maka penulis membatasi masalahyang
akan diteliti yaitu:
1. Aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran matematika dengan
strategi pembelajaran aktif tipe Group to Group Exchange (GGE) pada
kelas VII SMP N 1 TALAMAU
2. Hasil belajar matematika siswa dengan pembelajaran menggunakan
strategi pembelajaran aktif tipe Group to Group Exchange (GGE) pada
kelas VII SMP N 1 TALAMAU.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah yang telah diuraikan di atas, masalah dalam
penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika
dengan menggunakan strategi pembelajaran aktif tipe Group to Group
Exchange pada kelas VII SMP N 1 TALAMAU?
2. Apakah hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran matematika
dengan menggunakan strategi pembelajaran aktif tipe Group to Group
Exchange lebih baik daripada siswa yang mengikuti pembelajaran
konvensional pada kelas VII SMP N 1 TALAMAU?

D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang akan diteliti dan informasi yang
diharapkan, maka penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika
dengan menggunakan strategi pembelajaran aktif tipe Group to Group
Exchange pada kelas VII SMP N 1 TALAMAU
2. Mengetahui hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran dengan
strategi pembelajaran aktif tipe Group to Group Exchange, apakah lebih
baik daripada siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada
kelas kelas VII SMP N 1 TALAMAU.

E. Defenisi Operasional
Agar tidak terjadi kesalahan dalam memahami skripsi ini, maka peneliti
akan menjelaskan beberapa istilah:
1. Strategi Pembelajaran Aktif
Strategi pembelajaran aktif merupakan perencanaan yang berisi tentang
rangkaian kegiatan yang didesain untuk menciptakan suasana
pembelajaran yang menyenangkan dan memotivasi siswa untuk
menguasai pembelajaran secara optimal.
2. Pembelajaran aktif tipe Group to Group Exchange (GGE)
Pembelajaran Aktif tipe Group to Group Exchange (GGE) adalah salah
satu strategi pembelajaran aktif yang menuntut siswa untuk berfikir
tentang apa yang dipelajari, berkesempatan untuk berdiskusi dengan
teman, bertanya dan membagi pengetahuan yang diperoleh kepada yang
lainnya.
3. Pembelajaran Matematika
Suatu pembelajaran yang mengajarkan konsep matematika secara konkrit
dan mudah dipahami oleh siswa dengan pelaksanaannya harus
memperhatikan kesiapan intelektual siswa
4. Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran yang berpusat pada
guru, dimana dalam prosesnya cenderung menggunakan metode
ekspositori, guru menyampaikan konsep dari materi, selanjutnya siswa
diberikan contoh soal, kemudian diminta untuk mengerjakan latihan
untuk mengecek pemahaman siswa
3. Aktivitas siswa
Aktivitas siswa dapat diartikan sebagai semua kegiatan yang dilakukan
siswa selama mengikuti pembelajaran matematika dengan menggunakan
strategi pembelajaran aktif tipe Group to Group Exchange (GGE).
Adapun aktivitas yang diamati adalah Oral activities dan Mental activities
4. Hasil Belajar
Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar
siswa pada ranah kognitif yang diperoleh setelah siswa melaksanakan tes
hasil belajar pada pembelajaran dengan menggunakan strategi
pembelajaran aktif tipe Group to Group Exchange (GGE).

F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat secara teoritis
Secara umum, studi ini memberikan sumbangan kepada pembelajaran
matematika, utamanya pada layanan peningkatan kemampuan konsep
siswa dalam pembelajaran matematika. Pengharapan guru (Teacher
ecpectations) adalah bagaimana guru menciptakan prestasi akademik saat
ini dan pada waktu yang akan datang dan tingkah laku siswanya secara
umum. Harapan guru tersebut meliputi keyakinan guru (teachers belief)
terhadap peningkatan kemampuan pemahaman siswa, potensi siswa dalam
berdiskusi, berintekrasi dan kesulitan materi yang dihadapi siswa,
menggunakan model lain, studi ini memperkaya proses pembelajaran
matematika dengan strategi pembelajaran aktif tipe Group to Group
Exchange (GGE).
Secara khusus, studi ini memberikan kontribusi kepada strategi
pembelajaran matematika berupa kemampuan berintekrasi siswa dalam
proses pembelajaran matematika yang terkadang siswa berkemampuan
akademik rendah mampu memahami pelajaran jika dijelaskan oleh teman
sebayanya yang memiliki kemampuan lebih. Jadi studi ini bertujuan untuk
membangun interaksi yang kuat sesama siswa dalam proses pembelajaran
matematika.

2. Manfaat Praktis
Penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi guru dan siswa. Bagi
guru matematika, hasil penelitian ini dapat digunakan untuk
menyelenggarakan layanan pembelajaran yang inovatif dan dapat di
aplikasikan untuk mengembangkan strategi strategi pembelajaran lebih
lanjut. Bagi siswa, proses pembelajaran ini dapat meningkatkan
pemahaman konsep dan kemampuan berfikir dalam bidang matematika
maupun secara umum, kemampuan berdiskusi sehingga berguna dalam
kehidupan sehari harinya.









BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Belajar dan Pembelajaran
Terdapat beberapa pengertian belajar yang bersesuaian dengan cara
pandang seseorang terhadap belajar itu sendiri. Menurut pengertian secara
psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan
tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan perubahan tersebut akan nyata
dalam seluruh aspek tingkah laku. Belajar ialah suatu proses usaha yang
dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang
baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi
dengan lingkungannya.
8
Belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang
bernilai edukatif.
9
Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru
dan murid.
Sementara itu, menurut konsep sosiologi, belajar adalah jantungnya
dari proses sosialisasi. Pengertian ini juga diperkuat oleh Skinner yang
berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian
tingkah laku yang berlangsung secara progresif
10
. Sedangkan Fontana
mengemukakan belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu yang
relatif tetap sebagai hasil dari pengalaman.
Dalam belajar, proses belajar terjadi dalam benak siswa. Jelas bahwa
faktor siswa sangat penting. Kepentingannya dapat ditinjau dari proses

1 Slameto, Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta,1995)
h.2
9
Setiawan. Strategi Pembelajaran Matematika SMA. (Yogyakarta: Departemen Pendidikan
Nasional, 2008) h. 4
10
Muhibbin Syah. Psikologi Pendidikan (Bandung: Remaja Rosa Karya ) h. 90
terjadinya perubahan, karena salah satu hakikat belajar adalah terjadinya
perubahan tingkah laku seseorang berkat adanya pengalaman. Perubahan itu
akan memberikan hasil yang optimal jika perubahan itu memang dikehendaki
oleh yang belajar, bermakna bagi siswa (menurut Ausubel)
11
. Dengan kata
lain proses aktif dari orang yang belajar dalam rangka tujuan tersebut
merupakan faktor yang sangat penting. Dengan demikian maka belajar aktif
akan memberikan hasil yang lebih bermakna bagi tercapainya tujuan dan
tingkat kualitas hasil belajar tersebut.
Teori mengenai pembelajaran menurut Jeanne Ellis Ormrod adalah
pembelajaran sebagai perubahan jangka panjang dalam representasi atau
asosiasi mental sebagai hasil dari pengalaman
12
. Sedangkan menurut Fontana
pembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa
agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal.
13

Selain itu, menurut konsep komunikasi pembelajaran adalah proses
komunikasi fungsional antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa, dalam
rangka perubahan sikap dan pola pikir yang akan menjadi kebiasaan bagi
siswa yang bersangkutan. Guru berperan sebagai komunikator, siswa sebagai
komunikasikan, dan materi yang dikomunikasikan berisi pesan berupa ilmu
pengetahuan.
14
Dalam hal ini peran- peran tersebut dapat berubah antara guru
dengan siswa dan sebaliknya.

11
Setiawan. h. 8
12
Jeanne Ellis Ormrod.Psikologi Pendidikan.(Jakarta: Erlangga, 2008) h. 269
13
Erman Suherman ,Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer (Bandung: JICA 2001),
h. 8
14
Erman Suherman,....h. 9
Berdasarkan teori teori di atas, maka dapat dimbil kesimpulan bahwa
belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan siswa untuk memperoleh
suatu ilmu pengetahuan secara keseluruhan dan ditandai dengan adanya
perubahan pada diri seseorang, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam
interaksi dengan lingkungannya. Sedangkan pembelajaran adalah proses
komunikasi antara siswa dengan guru, dalam rangka perubahan sikap dan
pola pikir yang akan menjadi kebiasaan bagi siswa agar mereka dapat belajar
sesuai dengan kebutuhan dan minatnya. Belajar dan pembelajaran merupakan
dua hal yang saling terkait satu sama lain, kegiatan belajar siswa akan
terbimbing dan terarah jika diiringi oleh proses pembelajaran bersama dengan
guru dan dukungan serta motivasi dari orang tua sehingga tujuan
pembelajaran diperoleh secara maksimal.

B. Pembelajaran Matematika
Dalam pembelajaran matematika, para siswa dibiasakan untuk
memperoleh pemahaman melalui pengalaman tentang sifat-sifat yang dimiliki
dan yang tidak dimiliki dari sekumpulan objek (abstraksi)
15
. Tujuan umum
pembelajaran matematika adalah memberikan penekanan pada keterampilan
dalam penerapan matematika, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun
dalam membantu mempelajari ilmu pengetahuan lainnya
16
.
Berdasarkan defenisi belajar dan pembelajaran, serta tujuan dari
pembelajaran matematika maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa

15
Erman Suherman ,,h. 57
16
Erman Suherman, , h. 58
pembelajaran matematika merupakan proses komunikasi antara siswa dengan
guru, dalam rangka perubahan sikap dan pola pikir yang akan menjadi
kebiasaan bagi siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan
minatnya dalam mempelajari ilmu yang bersifat abstrak namun konsep-
konsepnya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari hari dan membantu
dalam mempelajari ilmu pengetahuan lainnya.

C. Strategi Pembelajaran Aktif
Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar
haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah
ditentukan
17
. Strategi pembelajaran aktif adalah strategi belajar mengajar
yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan
18
. Mencapai
keterlibatan siswa agar efektif dan efisien dalam belajar mengajar, yaitu dari
sudut siswa, guru, situasi belajr, program belajar, dan dari sarana belajar.
Dalam pembelajaran strategi juga diartikan sebagai pola umum kegiatan guru,
anak didik dalam perwujutan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai
tujuan yang digariskan. Pencapaian tujuan dalam strategi pembelajaran
digunakan sebagai acuan dalam menata pembelajaran dan menutup
kelemahan yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa kegiatan.
Hal ini sejalan dengan pengertian strategi pembelajaran menurut para
ahli yaitu:

17
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain,Strategi Belajar Mengajar,(Bandung, Rineka
Cipta, 2010),hal 5
18
Hamdani, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung : Pustaka Setia, 2011), hal. 48
a. Kemampuan menyatakan bahwa strategi pembelajaran adalah
kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar
tujuan pembelajaran dapat dicapai secera efektif dan efesian
b. Dick dan carey menyebutkan bahwa strategi pembelajaran adalah
suatu set materi dan posedur pembelajaran yang digunakan secara
bersama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa
19

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran
merupakan bagian yang sangat penting dan memberi pengaruh terhadap
pembelajaran. Penggunaan strategi pembelajaran berguna untuk mencapai
tujuan dalam pembelajaran dan menimbulkan hasil belajar pada siswa.
Strategi juga berfungsi untuk mengaktifkan siswa. Lebih lanjut strategi
yang mengaktifkan siswa adalah strategi pembelajaran aktif. Menurut Melvin
L. Silberman menyebutkan Strategi Belajar Aktif (Active Learning) yaitu
sebuah kesatuan sumber kumpulan strategi pembelajaran yang komprehensif,
meliputi berbagai cara untuk membuat peserta didik menjadi aktif.
20

Dalam belajar aktif siswa diajak untuk turut serta dalam pembelajaran,
tidak hanya mental tetapi juga fisik. Jika siswa aktif maka siswa akan
mendominasi proses pembelajaran. Siswa akan mengupayakan pemecahan
masalah yang diberikan kepada mereka dalam pembelajaran aktif. Hal ini
memberikan dampak kepada siswa, yaitu merasakan suasana yang lebih
menyenangkan dan termotivasi untuk mengikuti pembelajaran sehingga hasil
belajar dapat dimaksimalkan.
Salah satu strategi pembelajaran aktif itu adalah Group to Group
Exchange (GGE), dalam pembelajaran ini siswa dituntut untuk dapat

19
Wina Sanjaya, . hal 126
20
Hamdani, hal. 49
berdiskusi perkelompok dan nantinya setiap juru bicara kelompok mampu
mempresentasikan hasil diskusinya pada kelompok lain. Cara yang digunakan
saat berdiskusi dan presentasi setelah itu siswa dituntut mampu memberikan
pemahaman materi yang didiskusikannya kepada siswa dikelompok lainnya.
Hal ini sejalan dengan tujuan pembelajaran aktif yang di nyatakan Melvin.L
silberman yaitu:
1. Pembelajaran tim: membantu siswa lebih mengenal satu sama lain,
menciptakan semangat kerja sama dan interdepensi
2. Penilaian sederhana: pelajarilah sikap, pengetahuan dan pengalaman
siswa
3. Keterlibatan belajar langsung: ciptakan minat awal terhadap
pelajaran
21


Bertitik tolak dari uraian di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa
strategi pembelajaran aktif adalah salah satu cara atau strategi belajar
mengajar yang menuntut keaktifan serta partisipasi siswa dalam setiap
kegiatan belajar seoptimal mungkin sehingga siswa mampu mengubah
tingkah lakunya secara efektif dan efisien.
D. Strategi Pembelajaran Aktif Tipe Group to Group Exchange (GGE)
Pembelajaran aktif mengakomodir segala kebutuhan siswa, karena
siswa terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Ketika kegiatan belajar
bersifat aktif, siswa akan mengupayakan sesuatu dalam pembelajaran. Siswa
menginginkan jawaban atas sebuah pertanyaan, membutuhkan informasi
untuk memecahkan masalah, atau mencari cara untuk mengerjakan tugas.
Salah satu strategi pembelajaran aktif yang termasuk dalam bagian
pengajaran sesama siswa adalah Group to Group Exchange (GGE)
22
. GGE

21
Melvin.L Silberman, hal 61
adalah salah satu metode belajar aktif yang menuntut siswa untuk berfikir
tentang apa yang dipelajari, berkesempatan untuk berdiskusi dengan teman,
bertanya dan membagi pengetahuan yang diperoleh kepada yang lainnya.
Dalam strategi pembelajaran aktif tipe GGE masing masing kelompok
diberi tugas untuk mempelajari satu topik materi, siswa dituntut untuk
menguasai materi karena setelah kegiatan diskusi kelompok berakhir, siswa
akan bertindak sebagai guru bagi siswa lain dengan mempresentasikan hasil
diskusinya kepada kelompok lain di depan kelas. GGE memberi kesempatan
kepada siswa untuk bertindak sebagai guru bagi siswa lainnya.
Strategi group to group exchange ini mendorong siswa lebih aktif
beraktivitas dalam belajar sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa,
sedangkan guru hanya sebagai fasilitator dan mengevaluasi proses pembelajaran
yang dilakukan siswa. Strategi pembelajaran aktif group to group exchange
sangat cocok diterapkan dalam pembelajaran matematika, karena dengan strategi
ini siswa dapat bertukar pengetahuan dengan teman sebaya dan juga menjadi tutor
bagi temannya. Proses pembelajaran matematika akan menjadi lebih menarik dan
mempunyai tantangan bagi siswa karena harus memberikan pengetahuan baru
kepada temannya dan memberikan kesempatan pada siswa untuk
mengembangkan potensinya. Oleh karena itu pembelajaran ini baik diterapkan
untuk meningkatkan minat dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran
matematika.

22
Melvin L. Silberman. Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa Aktif. (Bandung:
Nusamedia & Nuansa, 2010) h. 177
Pembelajaran dengan strategi pembelajaran group to group exchange ini
diharapkan dapat membiasakan siswa untuk bekerja sama, bermusyawarah,
bertanggung jawab, menghormati pandangan atau tanggapan siswa lain, dan
menumbuhkan sikap ketergantungan positif. Sehingga dapat disimpulkan strategi
pembelajaran aktif tipe group to group exchange diharapkan dapat menumbuhkan
minat siswa dalam belajar sehingga termotivasi untuk lebih aktif dalam
memecahkan masalah dalam penugasan melalui perlibatan mereka dalam
berkerjasama dan menjadi pembelajaran yang mandiri. Berdasarkan pemaparan
tersebut, untuk mengetahui pengaruh Strategi Pembelajaran Aktif Tipe Group To
Group Exchange terhadap hasil belajar Matematika, maka dilakukan penelitian
pada siswa kelas VII SMP N 1 TALAMAU.
Silberman mengungkapkan pada bukunya, prosedur pembelajaran
dengan menggunakan tipe GGE adalah sebagai berikut:
23

1. Pilihlah topik yang dapat membuat siswa saling bertukar informasi
2. Bagilah siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan banyak tugas
yang diberikan. Pada umumnya, kegiatan ini cocok untuk dua hingga
empat kelompok. Berikan waktu yang cukup kepada tiap kelompok untuk
menyiapkan cara mereka menyajikan topik yang ditugaskan kepada
mereka
3. Bila tahap persiapan telah selesai, perintahkan kelompok untuk memilih
juru bicara. Untuk tiap juru bicara untuk memberikan presentasi kepada
kelompok lain
4. Setelah presentasi singkat, doronglah siswa untuk mengajukan pertanyaan
tentang pendapat presenter atau menawarkan pendapat mereka sendiri.
Beri kesempatan anggota lain dari kelompok si juru bicara untuk
memberikan tanggapan
5. Lanjutkan presentasi lain agar tiap kelompok berkesempatan memberikan
informasi dan menjawab serta menanggapi pertanyaan dan komentar
audien.


23
Melvin L. Silberman. ... h. 178
Beranjak dari langkah-langkah pembelajaran aktif tipe Group to Group
Exchange (GGE) maka Pembagian kelompok pada pembelajaran aktif tipe
Group to Group Exchange (GGE) yang dilakukan dalam penelitian ini
adalah setelah menyampaikan tujuan pembelajaran. Dalam prosedur strategi
pembelajaran aktif tipe Group to Group Exchange (GGE) , siswa dibagi
menjadi beberapa kelompok yang disesuaikan dengan tugas yang akan
diberikan.
Dari uraian di atas, Strategi pembelajaran aktif tipe Group to Group
Exchange (GGE) memiliki keunggulan:
a. Siswa dapat berinteraksi dengan siswa lainnya pada saat diskusi
b. Siswa berkesempatan untuk menjadi guru bagi siswa lainnya
c. Membantu ingatan siswa karena konsep yang diperoleh berdasarkan
pengalaman diskusi
d. Adanya keberanian dan kejujuran dalam berpikir, saling menghargai
keputusan maupun pendapat anggota kelompok

Adapun kelemahan dalam penggunaan strategi pembelajaran aktif tipe
Group to Group Exchange (GGE) untuk pembelajaran matematika ini adalah
penyusaiannya terhadap materi pembelajaran matematika. Setelah
dilakukannya pembelajaran tentang materi yang dapat digunakan dengan
strategi ini serta disesuaikan tempat penelitiannya yaitu pada kelas VII.
Adapun materi materi yang terdapat pada kelas VII pada semester 1 yang
sedang terlaksana pada tahun pelajaran 2012 / 2013 ini sebagai berikut
24
:
1. Bab I Bilangan bulat
2. Bab II Pecahan
3. Bab III Operasi hitung bentuk aljabar
4. Bab IV Persamaan dan pertidaksamaan linera satu variabel
5. Bab V Perbandingan dan aritmatika sosial

Sehingga untuk menyesuaikan strategi pembelajaran aktif tipe Group to
Group Exchange (GGE) dengan materi pembelajaran pada kelas VII ini peneliti
memilih materi pada bab VII mengenai Bilangan Bulat.

E. Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran yang berpusat
pada guru, dimana dalam prosesnya cenderung menggunakan metode
ekspositori, guru menyampaikan konsep dari materi, selanjutnya siswa
diberikan contoh soal, kemudian diminta untuk mengerjakan latihan untuk
mengecek pemahaman siswa.
Adapun ciri-ciri pembelajaran konvensional Menurut Nasution,adalah
sebagai berikut
25
:
1. Tujuan tidak dirumuskan secara spesifik ke dalam kelakuan yang dapat
diukur.
2. Bahan pelajaran diberikan kepada kelompok atau kelas secara
keseluruhan tanpa memperhatikan siswa secara individu.
3. Bahan pelajaran umumnya berbentuk ceramah, kuliah, tugas tertulis
dan media lain menurut pertimbangan guru.
4. Berorientasi pada kegiatan guru dan mengutamakan kegiatan belajar.
5. Siswa kebanyakan bersifat pasif mendengar uraian guru.

24
Dewi Nuharini dan Tri Wahyuni. Matematika konsep dan aplikasinya untuk SMP/MTs
kelas VIII.(Jakarta: Pusat Perbukuan, 2008) hal. vii
25
Nasution, Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. (Jakarta: Bumi aksara,
2000), h.209
6. Semua siswa harus belajar menurut kecepatan guru.
7. Penguatan umumnya diberikan setelah dilakukan ujian atau ujian.
8. Keberhasilan belajar umumnya dinilai guru secara subjektif
9. Pengajar umumnya sebagai penyebar atau penyalur informasi utama.
10. Siswa biasanya mengikuti beberapa tes atau ulangan mengenai bahan
yang dipelajari dan berdasarkan angka hasil tes atau ulangan itulah nilai
rapor yang diisikan.

Ciri- ciri pembelajaran konvensional di atas juga merupakan ciri- ciri
dari pembelajaran dengan metode ekspositori. Hal ini bedasarkan pada
pendapat Ahmad Rohani dan Abu Ahmad yang menyatakan bahwa hakekat
mengajar menurut pandangan ekspositori adalah penyampaian ilmu
pengetahuan kepada peserta didik yang dipandang sebagai objek yang
menerima apa yang diberikan dari guru.
26

Pada pembelajaran dengan metode ekspositori, terdapat kelebihan dan
kelemahan pelaksanaannya. Menurut Wina Sanjaya, keunggulan dan
kelemahan pada strategi pembelajaran ekspositori adalah
27
:
Keunggulan:
a. Dengan strategi pembelajaran ekspositori guru bisa mengontrol urutan
dan keluasan materi pembelajaran, ia dapat mengetahui sampai sejauh
mana siswa menguasai bahan pelajaran yang disampaikan.
b. Strategi pembelajaran ekspositori dianggap sangat efektif apabila
materi pelajaran yang harus dikuasai siswa cukup luas, sementara itu
waktu yang dimiliki untuk belajar terbatas.
c. Melalui strategi pembelajaran ekspositori selain siswa dapat
mendengar melalui penuturan (kuliah) tentang suatu materi pelajaran,
juga sekaligus siswa bisa melihat atau mengobservasi (melalui
pelaksanaan demonstrasi).
d. Digunakan untuk jumlah siswa dan ukuran kelas yang besar

Kelemahan :

26
Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi, ..., h. 36
27
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta :
Kencana, 2008) h. 190
a. Strategi pembelajaran ini hanya mungkin dapat dilakukan terhadap
siswa yang memiliki kemampuan mendengar dan menyimak secara
baik.
b. Strategi ini tidak mungkin dapat melayani perbedaan setiap individu
baik perbedaan kemampuan, perbedaan pengetahuan, minat, dan
bakat, serta perbedaan gaya belajar.
c. Karena strategi lebih banyak diberikan melalui ceramah, maka akan
sulit mengembangkan kemampuan siswa dalam hal kemampuan
sosialisasi, hubungan interpersonal, serta kemampuan berpikir kritis.
d. Keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori sangat tergantung
kepada apa yang dimiliki guru, seperti persiapan, pengetahuan, rasa
percaya diri, semangat, antusiasme, motivasi, dan berbagai
kemampuan seperti kemampuan bertutur (berkomunikasi), dan
kemampuan mengelola kelas. Tanpa itu sudah dapat dipastikan proses
pembelajaran tidak mungkin berhasil.
e. Oleh karena gaya komunikasi strategi pembelajaran lebih banyak
terjadi satu arah (one-way communication), maka kesempatan untuk
mengontrol pemahaman siswa akan materi pembelajaran akan sangat
terbatas pula. Di samping itu, komunikasi satu arah bisa
mengakibatkan pengetahuan yang dimiliki siswa akan terbatas pada
apa yang diberikan guru.

Berdasarkan uraian mengenai pembelajaran dengan Metode belajar
aktif tipe Group to Group Exchange (GGE) dan pembelajaran konvensional
(ekspositori) , maka perbandingan antara kedua pembelajaran ini dapat dilihat
pada tabel berikut.
Tabel 2.1 Perbandingan Pembelajaran GGE dengan pembelajaran
Konvensional
Pembelajaran dengan Metode Belajar
aktif tipe Group to Group Exchange
(GGE)
Pembelajaran Konvensional
a. Siswa aktif dalam pembelajaran
karena setiap kelompok mendapatkan
a. Hanya mungkin dapat
dilakukan terhadap siswa
Pembelajaran dengan Metode Belajar
aktif tipe Group to Group Exchange
(GGE)
Pembelajaran Konvensional
tugas tugas yang berbeda diberikan
kepada kelompok siswa yang
berbeda
28
jadi mereka memiliki satu
tanggung jawab
b. Siswa memiliki pengetahuan
sebelumnya tentang materi yang
didiskusikan karena telah
dipersiapkan sebelumnya
c. Proses pembelajaran menjadi efisien,
efektif dan menyenangkan.
d. Siswa berinteraksi dengan teman
sekelas dalam diskusi kelompok.
e. Siswa memahami kaitan antara
pelajaran yang baru dengan pelajaran
telah diperoleh sebelumnya
f. Tujuan ditetapkan di awal
pembelajaran
g. Menggunakan berbagai sumber
informasi dalam proses pembelajaran.
yang memiliki kemampuan
mendengar dan menyimak
secara baik
b. Konsep yang diberikan sulit
untuk diterima siswa karena
konsep yang diberikan lebih
bersifat abstrak.
c. Interaksi di antara siswa
kurang
d. Siswa belajar secara individu
e. Sering terjadi kesulitan untuk
menjaga agar siswa tetap
tertarik dengan apa yang
dipelajari.
f. Tujuan tidak dirumuskan
secara spesifik ke dalam
kelakuan yang dapat diukur.
g. Informasi yang diperoleh

28
Melvin L. Silberman. hal 178
Pembelajaran dengan Metode Belajar
aktif tipe Group to Group Exchange
(GGE)
Pembelajaran Konvensional
bersumber hanya pada guru
F. Aktivitas Siswa
Menurut Dryden aktivitas adalah hal- hal yang disarankan kepada
siswa atau peserta untuk dilakukan. Beberapa ahli kognitif kontemporer
mengemukakan bahwa siswa dapat mengonstruksi basis pengetahuan yang
lebih terintegrasi dan berguna apabila mereka mempelajari suatu topik dalam
konteks aktivitas- aktivitas otentik, yaitu aktivitas- aktivitas yang mirip
dengan apa yang sering mereka jumpai di dunia luar sekolah
29
. Siswa lebih
mudah mengecek kemampuan mereka memecahkan soal- soal matematika
khususnya untuk memastikan bahwa pemecahan mereka atas soal itu logis
ketika mereka menggunakan matematika untuk mengerjakan tugas- tugas
nyata sehari- hari.
30

Aktivitas siswa tidak cukup hanya mendengarkan dan mencatat
seperti lazimnya. Paul B. Diedrich membuat suatu daftar yang berisi 177
macam kegiatan siswa yang antara lain dapat digolongkan sebagai berikut:
31

a) Visual Activities, yang termasuk di dalamnya seperti, membaca,
memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan , dan pekerjaan orang
lain

29
Jeanne Ellis Ormrod, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Erlangga.2009) h. 347
30
Jeanne Ellis Ormrod,... h. 347
31
Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2011) h.101
b) Oral activities, seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi
saran, mengeluarkan pendapat,mengadakan wawancara, diskusi, dan
instrupsi
c) Listening activities, sebagai contoh mendengarkan: uraian, percakapan,
diskusi, music, pidato
d) Writing activities, seperti misalnya menulis cerita, karangan, laporan,
angket, menyalin
e) Drawing activities, misalnya: menggambar, membuat grafik, peta,
diagram
f) Motor activities, yang termasuk kedalamnya adalah: melakukan
percobaan, membuat konstruksi,bermain, berkebun
g) Mental activities, contoh: menanggapi, mengingat, memecahkan soal,
menganalisis
h) Emotional activities, yaitu: menaruh minat, merasa bosan, gembira,
bersemangat,berani, tenang.

Berdasarkan uraian di atas, maka aktivitas siswa dapat diartikan
sebagai semua kegiatan yang dilakukan siswa selama mengikuti
pembelajaran. Adapun Aktifitas siswa yang akan diamati selama
pembelajaran matematika dengan menggunakan metode belajar aktif tipe
GGE terdiri dari:
a. Oral Activities, dilihat melalui aktivitas siswa yang bertanya,
memberikan ide atau pendapat atau menjawab pertanyaan yang
diajukan guru
b. Mental Activities, dilihat dari aktivitas siswa dalam menanggapi dan
memecahkan soal.

G. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan sesuatu yang diperoleh siswa setelah
melakukan kegiatan belajar baik dalam bentuk prestasi, maupun perubahan
tingkah laku dan sikap siswa yang telah mengalami pembelajaran. Hasil
belajar dapat diungkapkan dalam bentuk angka atau huruf yang dapat
menggambarkan tingkat penguasaan siswa terhadap apa yang telah dipelajari.
Hasil belajar merupakan suatu indikator untuk mengetahui tingkat
keberhasilan siswa dalam menguasai pelajaran.Hasil belajar merupakan suatu
indikator untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam menguasai
pelajaran.
Menurut Oemar Hamalik ada 6 tujuan dari evaluasi hasil belajar
32
:
1) Memberikan informasi tentang kemajuan siswa dalam upaya
mencapai tujuan-tujuan belajar melalui berbagai kegiatan belajar.
2) Memberikan informasi yang dapat digunakan untuk membina
kegiatan-kegiatan belajar siswa lebih lanjut, baik keseluruhan kelas
maupun masing-masing individu.
3) Memberikan informasi yang dapat digunakan untuk mengetahui
kemampuan siswa, menetapkan kesulitan-kesulitannya dan
menyarankan kegiatan-kegiatan remedial (perbaikan).
4) Memberikan informasi yang dapat digunakan sebagai dasar untuk
mendorong motivasi belajar siswa dengan cara mengenal
kemajuannya sendiri dan merangsangnya untuk melakukan upaya
perbaikan.
5) Memberikan informasi tentang semua aspek tingkah laku siswa,
sehingga guru dapat membantu perkembangannya menjadi warga
masyarakat dan pribadi yang berkualitas.
6) Memberikan informasi yang tepat untuk membimbing siswa memilih
sekolah atau jabatan yang sesuai dengan kecakapan, minat dan
bakatnya.

Hasil belajar siswa dapat diketahui melalui proses evaluasi atau tes,
kemudian hasil tes dinilai oleh guru. Ada 3 aspek penilaian dalam
pembelajaran, yaitu
33
.

32
Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta : Bumi Aksara, 2008) h. 160
33
Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) Dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru. (Jakarta: Raja Grafindo Persada.
2007), h.385
1. Ranah kognitif, berkenaan dengan kemampuan berfikir, termasuk
didalamnya kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasikan,
menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi.
2. Ranah afektif, mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat,
sikap, emosi, dan nilai.
3. Ranah psikomotor, mencakup imitasi, manipulasi, presisi, artikulasi,
dan naturalisasi

Kunandar menjelaskan penilaian memiliki beberapa fungsi, yaitu
sebagai berikut
34
:
1. Formatif, yaitu merupakan umpan balik bagi guru sebagai dasar untuk
memperbaiki proses belajar mengajar dan mengadakan program
remedial bagi siswa yang belum menguasai sepenuhnya materi yang
dipelajari.
2. Sumatif, yaitu dapat mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap
materi pelajaran, menentukan angka nilai sebagai bahan keputusan
kenaikan kelas dan laporan perkembangan belajar siswa, serta dapat
meningkatkan motivasi belajar siswa.
3. Diagnostik, yaitu dapat mengetahui latar belakang siswa (psikologis,
fisik, dan lingkungan) yang mengalami kesulitan belajar.
4. Seleksi dan penempatan, yaitu hasil penilaian dapat dijadikan dasar
untuk menyeleksi dan menempatkan siswa sesuai dengan minat dan
kemampuannya.

Hasil belajar yang diperoleh siswa melalui proses pembelajaran dapat
diketahui dengan melakukan evaluasi atau tes, kemudian hasil tes dinilai oleh
guru. Tidak hanya hasil tes namun juga dilihat bagaimana interaksi siswa saat
melakukan diskusi kelompok.
Berdasarkan uraian di atas yang dimaksud dengan hasil belajar dalam
pembelajaran matematika dengan menggunakan strategi pembelajaran aktif
tipe Group to Group Exchange (GGE) adalah hasil belajar pada ranah
kognitif yang diperoleh setelah siswa melaksanakan tes hasil belajar.


34
Kunandar, , h. 391
H. Penelitian yang Relevan
Penelitian yang pernah membahas tentang strategi pembelajaran aktif
tipe Group to Group Exchange (GGE) adalah penelitian yang dilakukan oleh
Atma Murni, dkk (2009) Penerapan metode belajar aktif tipe GGE terhadap
hasil belajar siswa kelas X IPS 1 MAN 2 Pekan Baru. Jenis penelitian adalah
Penelitian Tindakan Kelas (PTK), hasil dari penelitiannya menyatakan bahwa
penerapan metode belajar aktif tipe GGE dapat meningkatkan hasil belajar
matematika siswa. Kemudian penelitian oleh Andika Putra (2012)
Penerapan metode belajar aktif tipe Group to Group Exchange (GGE) pada
materi kesebangunan di kelas IX SMP N 2 Batipuh. Jenis penelitiannya
adalah eksperimen, dimana hasil penelitian menunjukkan hasil belajar
matematika siswa yang menggunakan strategi pembelajaran aktif tipe GGE
cendrung meningkat.
Dengan terdapatnya penelitian yang terdahulu sehingga penulis tertarik
untuk melakukan penelitian dengan strategi pembelajaran aktif tipe Group to
Group Exchange (GGE) pada pembelajaran Matematika dengan jenis
penelitian eksperimen. Sehingga dengan dilakukannya penelitian ini
memungkinkan siswa memberikan pemahaman materi diskusikan dalam
kelompoknya masing masing kepada anggota kelompok yang lainnya.

I. Kerangka Konseptual
Berdasarkan latar belakang dan kajian teori pada bab sebelumnya, maka
strategi pembelajaran aktif tipe Group to Group Exchange (GGE) diharapkan
dapat meningkatkan semangat siswa dan lebih termotivasi dalam mengikuti
pembelajaran matematika di sekolah. Metode pembelajaran ini mengajarkan
siswa untuk dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan kegiatan
belajar serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dan
belajar bersama.
Untuk lebih jelas disajikan secara ringkas pada Gambar 1.









Gambar 1.
Kerangka Konseptual
J. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah dan kajian teori yang telah diuraikan,
maka hipotesis dari penelitian ini adalah Hasil belajar matematika siswa
yang mengikuti pembelajaran dengan strategi belajar aktif tipe Group to
Kelas eksperimen
Siswa
Pembelajaran dengan strategi belajar aktif
tipe Group to Group Exchange (GGE)
Pembelajaran
konvensional
Aktivitas
Siswa
Hasil
Belajar

Dibandingkan
Kelas kontrol
Hasil
Belajar
Group Exchange (GGE) lebih baik daripada siswa yang mengikuti
pembelajaran konvensional pada kelas VII SMP N 1 TALAMAU.























BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis penelitian
Berdasarkan permasalahan dan kajian teori yang diuraikan pada bab 1
dan bab 2, maka jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian
eksperimen. Penelitian eksperimen merupakan penelitian yang
mengungkapkan hubungan antara dua variabel atau lebih mencari pengaruh
suatu variabel dengan variabel lain
35
.
Penelitian eksperimen yang digunakan adalah penelitian pra
eksperimen. Menurut Muri Yusuf, jenis penelitian ini pada prinsipnya tidak
dapat mengontrol validitas internal dan eksternal secara utuh, karena satu
kelompok hanya dipelajari satu kali atau kalau menggunakan dua kelompok
diantara kedua kelompok itu tidak disamakan terlebih dahulu.
36
Adapun
rancangan yang digunakan penelitian dalam pra eksperimen ini adalah The
Static Group Comparison Randomized Control Group Only Design.
Dalam rancangan ini subjek diambil dari populasi tertentu
dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol. Kelompok eksperimen dikenai variabel perlakuan tertentu
dalam jangka waktu tertentu, lalu kedua kelompok ini dikenai pengukuran
yang sama.
37

Rancangan penelitian dideskripsikan seperti tabel di bawah ini:

35
Sudjana, Metode Statistika, (Bandung: Tarsito, 2005), h.19
36
Muri Yusuf, Metode Penelitian: Dasar Penyelidikan Ilmiah, ( UNP, 1997), h. 235
37
Sumardi Suryabrata, Metodologi, , h.104
Tabel 3.1. Rancangan penelitian The Static Group Comparison:
Randomized Control-Group Only Design
Kelas Treatment
Posttest
Eksperimen X
T
2
Kontrol
T
2

Keterangan:

X = Perlakuan yang diberikan pada kelas eksperimen, yaitu
pembelajaran matematika dengan menggunakan strategi
pembelajaran aktif tipe Group to Group Exchange (GGE)
T
2
= Tes akhir yang diberikan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol
di akhir penelitian

Berdasarkan rancangan tersebut, terdapat dua kelas sampel dalam
penelitian ini, yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen. Kelas kontrol
merupakan kelas pembanding tanpa perlakuan, artinya kelas ini tetap
melaksanakan pembelajaran konvensional. Sedangkan kelas eksperimen
merupakan kelas yang diberi perlakuan, yaitu pembelajaran dengan
menggunakan strategi pembelajaran aktif tipe Group to Group Exchange
(GGE).

B. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan pengamatan yang akan menjadi
perhatian.
38
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII
SMP N 1 TALAMAU yang terdaftar pada tahun 2012 / 2013.

38
Ronal E. Walpole, Pengantar statistika, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 1993), h.6
Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh, pada kelas VII terdapat 4
lokal di SMP N 1 TALAMAU ini.

Tabel 3.2 Siswa kelas VII di SMP N 1 TALAMAU yang terdaftar
pada Tahun Pelajaran 2012/2013 (Populasi)

Kelas Jumlah Siswa
VIII
1
VIII
2
VIII
3
VIII
4
21
23
21
25
(Sumber : Guru mata pelajaran matematika SMP N 1 TALAMAU)
39


2. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.
40
Dalam
penelitian ini untuk pengambilan sampelnya dilakukan teknik probability
sampling tepatnya dengan teknik simple random sampling. Probability
sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang
yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi
anggota sampel,
41
sedangkan simple random sampling adalah cara
pengambilan sampel yang dilakukan secara acak. Artinya, setiap anggota
memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih.
42

Berdasarkan permasalahan, jenis penelitian dan populasi yang akan
diteliti, maka dibutuhkan dua kelas sebagai sampel yaitu untuk kelas
eksperimen dan kelas kontrol, dengan uraian sebagai berikut:

39
Emmizola S.Pd, Guru Matematika kelas VIII SMP N 1 X Koto
40
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2006), hal.131
41
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, ( Bandung : Alfabeta, 2007), hal. 120
42
Lufri, Kiat Memahami dan Melakukan Penelitian, (Padang: UNP Press, 2007)hal. 82
1) Kelompok eksperimen, pada kelompok ini akan diberikan suatu
treatment atau perlakuan yaitu pembelajaran matematika
menggunakan srategi pembelajaran aktif tipe Group to Group
Exchange (GGE)
2) Kelompok kontrol, pada kelompok ini diberikan suatu treatment
atau perlakuan dengan menggunakan pembelajaran konvensional.

Pengambilan sampel dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah
sebagai berikut:
a. Mengumpulkan nilai ulangan harian matematika siswa kelas VII
SMP N 1 TALAMAU tahun pelajaran 2012/ 2013, kemudian
dihitung rata-rata dan simpangan bakunya.
b. Melakukan uji normalitas populasi terhadap nilai ulangan harian
matematika kelas VII yang bertujuan untuk mengetahui apakah
populasi tersebut berdistribusi normal atau tidak.
Hipotesis yang diajukan adalah:
H
0
= Populasi berdistribusi normal
H
1
= Populasi berdistribusi tidak normal
Untuk melihat sampel berdistribusi normal, digunakan uji Lilifort
dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Data X
1
, X
2
, X
3
, , X
n
diperoleh dan disusun dari data yang
terkecil sampai yang terbesar
2. Mencari skor baku dari skor mentah dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:


Dimana: S = Simpangan Baku

= Skor rata-rata
X
i
= Skor dari tiap soal
3. Dengan menggunakan daftar distribusi normal baku, kemudian
hitung peluang F (Zi) = P (P Zi)
4. Menghitung jumlah proposi skor baku yang lebih baku ata sama
Zi yang dinyatakan dengan S (Zi) dengan menggunakan rumus:
(


5. Menghitung selisih F (Zi) S (Zi), kemudian ditentukan nilai
mutlaknya
6. Ambil harga mutlak yang terbesar dari harga mutlak selisih itu
diberi simbol L
0
. L
0
= maks |(

) (

)|
7. Bandingkan nilai L
0
yang diperoleh dengan nilai L
0
yang ada
pada tabel. Pada taraf 0,05 jika L
0
L
tabel
maka H
0
diterima.
43



c. Melakukan uji homogenitas variansi dengan uji Bartlet
Uji homogenitas variansi ini dilakukan untuk mengetahui apakah
data populasi mempunyai keragaman yang sama atau tidak. Uji Bartlet
dilakukan karena variansi populasinya lebih dari dua. Dengan
pengujiannya sebagai berikut:
Hipotesis yang di ajukan yaitu:
H
0
:


H
1
: paling sedikit ada satu pasang variansi yang tidak sama

Untuk melakukan uji homogenitas ini dilakukan dengan beberapa
langkah sebagai berikut:

1) Hitung k buah ragam contoh S
1
, S
2
, , S
k
dari contoh-contoh
berukuran n
1
, n
2
, , n
k
dengan


2) Gabungkan semua ragam contoh sehingga menghasilkan dugaan
gabungan:


3) Dari dugaan gabungan tentukan nilai peubah acak yang
mempunyai nilai sebaran Bartlet:

43
Sudjana, , h.466 477

,(


Dengan kriteria pengujian sebagai berikut:
Jika b b
k
(a;n) berarti homogen
Jika b < b
k
(a;n) berarti tidak homogen
44



d. Uji kesamaan rata-rata
Uji kesamaan rata-rata bertujuan untuk mengetahui apakah
populasi memiliki kesamaan rata-rata atau tidak. Uji ini menggunakan
teknik anava satu arah dengan langkah sebagai berikut yaitu:
Langkah langkah dalam menguji kesamaan rata rata populasi
adalah:
1) Tuliskan hipotesis statistik yang diajukan


H
1
: sekurang-kurangnya dua rata-rata yang tidak sama
2) Tentukan taraf nyatanya ()

3) Tentukan wilayah kritiknya dengan menggunakan rumus:

, -


4) Tentukan perhitungan melalui tabel:


Tabel 3.3. : Data hasil belajar siswa kelas populasi

Populasi
1 2 K
X
11

X
12


X
1n

X
21

X
22


X
2n

X
k1

X
k2


X
kn


Total T
1
T
2
T
k
T
......


44
Ronal E. Walpole, Pengantar ..., h.391
Nilai Tengah

..


Perhitungan dengan menggunakan rumus:
Jumlah Kuadrat Total (JKT) =


Jumlah Kuadrat untuk nilai tengah Kolom (JKK) =


Jumlah kuadrat Galat (JKG) = JKT JKK

Masukkan data hasil perhitungan ke dalam tabel berikut:

Tabel 3.4. Analisis Ragam Data Hasil Belajar Siswa Kelas
Populasi

Sumber
Keragaman
Jumlah
kuadrat
Derajat
bebas
Kuadrat
tengah


Nilai tengah kolom JKK k 1


Galat JKG N k




Total JKT N 1
5) Keputusannya:
Diterima H
0
jika

, -
Ditolak H
0
jika

, -
45


e. Pengambilan Sampel
Berdasarkan perhitungan di atas diperoleh data populasi
berdistribusi normal, homogen serta memiliki kesamaan rata rata
maka pengambilan sampel dilakukan secara acak. Adapun langkah
langkah dalam pengambilan sampel yang penulis lakukan adalah
menulis nama kelas dan memasukkan nama nama tersebut ke dalam
sebuah kaleng kemudian penulis undi. Kertas yang pertama terambil

45
Ronal E. Walpole, Pengantar , h.383
merupakan kelas eksperimen, sedangkan pada pengambilan kedua
merupakan kelas kontrol.

C. Variabel dan Data Penelitian
1. Variabel penelitian
Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik
perhatian suatu penelitian. Adapun yang menjadi variabel dalam
penelitian ini adalah:
a. Variabel bebas: Perlakuan dengan pembelajaran yang menggunakan
metode Group to Group Exchange (GGE)
b. Variabel Terikat: Hasil belajar matematika siswa di kelas sampel

2. Data penelitian
a. Jenis data
Jenis data dalam penelitian ini adalah :
1. Data primer dalam penelitian ini adalah data aktivitas siswa dan
guru, dan data hasil belajar matematika siswa kelas sampel
2. Data sekunder, yaitu data tentang jumlah siswa yang menjadi
populasi dan sampel serta data nilai ulangan harian siswa kelas VII
SMP N 1 TALAMAU. Data sekunder ini diperoleh dari tata usaha
dan guru matematika VII SMP N 1 TALAMAU.

b. Sumber Data
Sumber data utama dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII
SMP N 1 TALAMAU, guru bidang studi matematika maupun dari
pegawai tata usaha VII SMP N 1 TALAMAU.

D. Prosedur Penelitian
Secara umum prosedur penelitian terdiri dari 3 tahap, yaitu: tahap
persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap akhir.
1. Tahap persiapan
Tahap persiapan dalam penelitian ini meliputi:
a. Menetapkan tempat dan jadwal penelitian.
b. Menetapkan sampel penelitian dengan cara random sampling yaitu
setiap kelas mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih jadi
sampel
c. Mempelajari kurikulum
d. Merancang dan membuat RPP serta LKS
e. Memvalidasi RPP dan LKS oleh guru mata pelajaran dan dosen
matematika
f. Membuat kisi-kisi dan mempersiapkan soal tes akhir
g. Memvalidasi soal tes akhir oleh guru mata pelajaran dan dosen
matematika
h. Membuat kunci jawaban
i. Mempersiapkan instrumen penelitian berupa lembar observasi dan
soal tes uraian
j. Mempersiapkan observer guru matematika dan teman penulis.

2. Tahap Pelaksanaan
Penelitian menggunakan dua kelas sampel, yaitu kelas eksperimen
dan kelas kontrol. Adapun langkah-langkah pembelajaran pada kedua
kelas sampel dapat dilihat pada tabel berikut:





Tabel 3.5 Tahap Pelaksanaan pada Kelas Kontrol dan Eksperimen

Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
Pendahuluan
a. Guru membuka pelajaran dengan
salam dan doa
b. Guru mengontrol kondisi kelas,
baik dari segi kerapian maupun
kebersihannya.
c. Guru mengecek kehadiran siswa
d. Apersepsi: mengingatkan siswa
mengenai materi yang telah
dipelajari berkaitan dengan materi
yang akan dipelajari.
e. Motivasi: menyampaikan manfaat
dari materi yang akan dipelajari
f. Siswa diberikan penjelasan
kompetensi yang harus dicapai
serta manfaat dari proses
pembelajaran dan pentingnya
materi pelajaran yang akan
dipelajari.
Pendahuluan
1. Guru membuka pelajaran dengan
salam dan doa
2. Guru mengontrol kondisi kelas,
baik dari segi kerapian maupun
kebersihannya.
3. Guru mengecek kehadiran siswa
4. Apersepsi: mengingatkan siswa
mengenai materi yang telah
dipelajari berkaitan dengan
materi yang akan dipelajari.
5. Motivasi: menyampaikan
manfaat dari materi yang akan
dipelajari
6. Siswa diberikan penjelasan
kompetensi yang harus dicapai
serta manfaat dari proses
pembelajaran dan pentingnya
materi pelajaran yang akan
dipelajari.
Kegiatan Inti
Eksplorasi
a. Guru menjelaskan prosedur
pembelajaran: Siswa dibagi ke
dalam beberapa kelompok sesuai
dengan jumlah tugas yang
Kegiatan Inti
Eksplorasi
Guru menjelaskan materi pelajaran
siswa memperhatikan serta mencatat
dan apabila siswa tidak memahami
maka siswa mengajukan pertanyaan
Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
diberikan.
b. Guru memberikan pertanyaan
yang dapat membantu siswa
memulai diskusi yang akan
dicapai

Elaborasi
a. Siswa diminta untuk duduk sesuai
dengan kelompok masing masing
b. Guru membagikan LKS yang
berkaitan dengan materi dan siswa
melakukan diskusi
c. Selesai diskusi, juru bicara masing
masing kelompok diminta
mempresentasikan hasil diskusinya
d. Kelompok lain diberikan waktu
untuk memberikan tanggapan dan
pertanyaan (berlanjut untuk
kelompok berikutnya)
e. Setelah presentasi selesai, siswa
mengerjakan latihan yang telah
dipersiapkan guru






Elaborasi
1. Siswa mengerjakan soal soal
Latihan
2. Siswa diperintahkan untuk
menuliskan jawabannya di papan
tulis.









Konfirmasi
1. Guru memberikan jawaban yang
benar dari soal latihan yang tidak
terjawab oleh siswa
2. Memberikan penekanan terhadap
Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
Konfirmasi
a. Guru memeriksa jawaban siswa
dan memberikan jawaban yang
b. benar dari soal latihan yang tidak
terjawab oleh siswa.
c. Memberikan penekanan terhadap
kegiatan eksplorasi dan elaborasi

kegiatan eksplorasi dan elaborasi
Penutup
a. Siswa menyimpulkan pembelajaran
dengan bimbingan guru
b. Guru meninjau ulang pemahaman
siswa dengan melakukan tes
Penutup
1. Siswa menyimpulkan
pembelajaran dengan bimbingan
guru
2. Guru meninjau ulang pemahaman
siswa dengan melakukan tes

3. Tahap Penyelesaian
Guru memberikan tes akhir / post - test kepada kelas eksperimen dan
kelas kontrol setelah pokok bahasan selesai dipelajari.

E. Instrumen Penelitian
Instrumen adalah alat yang digunakan dalam mengumpulkan data.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan instrumen berupa lembar
observasi untuk aktivitas siswa dan aktivitas guru, tes hasil belajar, dan
angket respon siswa.
1. Lembar Observasi
Observasi adalah suatu proses pengamatan dan pencatatan secara
sistematis, logis, objektif, dan rasional mengenai berbagai fenomena, baik
dalam situasi buatan untuk mencapai tujuan tertentu.
46
Observasi dapat
digunakan untuk menilai proses dan hasil belajar peserta didik, seperti
tingkah laku peserta didik selama pembelajaran, berdiskusi, mengerjakan
tugas, bertanya, dan sebagainya. Untuk mengetahui hal tersebut maka
diperlukan lembar observasi. Lembar observasi ini akan diisi oleh seorang
observer.
Langkah-langkah dalam menyusun lembar observasi adalah:
a. Merumuskan tujuan observasi
b. Membuat lay-out atau kisi- kisi observasi
c. Menyusun aspek- aspek yang akan diobservasi
d. Validasi lembar obsevasi
e. Melaksanakan observasi
Lembar observasi yang digunakan pada penelitian ini terdiri
lembar observasi aktifitas siswa dan aktivitas guru. Kedua observasi ini
dilakukan selama pembelajaran matematika menggunakan metode
belajar aktif tipe Group to Group Exchange (GGE) berlangsung di kelas
eksperimen.
1. Lembar observasi aktivitas siswa

46
Zainal Arifin. Evaluasi Pembelajaran. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009) h. 153
Adapun hal hal yang akan dilihat oleh observer yang berkaitan
dengan aktivitas siswa selama pembelajaran dengan metode GGE
berlangsung, dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 3.6. Aspek aspek pada Lembar Observasi Aktivitas siswa
No Indikator aktivitas Aktivitas yang diamati
1 Oral activities Bertanya sewaktu pelajaran
Menjawab pertanyaan
Mengeluarkan pendapat saat berdiskusi
2 Mental activities Menanggapi sewaktu berdiskusi
Memecahkan soal latihan selesai
berdiskusi

2. Tes Hasil Belajar
Tes yang akan diujikan dalam tes akhir dibuat dalam bentuk essay
karena dengan tes bentuk essay dibuat oleh peneliti, dalam hal ini peneliti
dapat melihat sejauh mana kemampuan siswa dalam menyerap dan
memahami informasi serta pembelajaran yang diberikan melalui strategi
Group to Group Exchange. Langkah-langkah yang dilakukan dalam
membuat soal tes adalah sebagai berikut :
a. Mempelajari kurikulum dalam pembelajaran sesuai dengan tingkatan
sekolah yang akan diteliti
b. Membuat kisi kisi soal
Kisi kisi soal tes disusun dalam bentuk tabel yang memuat tentang
kompetensi dasar yang ingin dicapai, indikator, rincian materi yang
akan diujikan. Kisi-kisi soal disusun agar mempermudah dalam
pembuatan soal.
c. Menyusun tes sesuai dengan kisi kisi soal yang dibuat
Dalam menyusun item tes, ada beberapa hal yang akan dilakukan,
yaitu:
Mempelajari dan memahami materi yang akan diujikan.
1. Mempelajari dan memahami teknik pembuatan soal essay dan
membahasakan gagasan soal yang telah dirancang sesuai dengan
kisi-kisi soal.
2. Membuat kunci jawaban

d. Melakukan validitas tes
Validasi tes yang akan digunakan adalah validitas isi yaitu validitas
tes yang mempersoalkan apakah isi butir tes yang diujikan itu
mencerminkan isi kurikulum yang seharusnya diukur atau tidak.
47

Jadi, untuk memvalidasi soal tes tersebut, peneliti akan meminta
bantuan kepada guru mata pelajaran dan dosen untuk merevisi soal
hasil validasi.
e. Uji coba tes
Sebelum tes diberikan kepada siswa kelas sampel, terlebih dahulu
tes diujicobakan pada kelas eksperimen. Uji coba dilakukan pada
kelas ini karena memiliki ciri yang sama dengan kelas sampel yaitu
normal, homogen dan memiliki kesamaan rata-rata.

47
M. Chabib Thoha, Teknik Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Grafindo, 1996), hal.111
f. Analisis soal tes.
Untuk menentukan kualitas soal yang baik dilakukan langkah-
langkah sebagai berikut:
1) Validitas tes
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat
kevalidan suatu instrument. Instrument dikatakan valid jika mampu
mengukur apa yang diinginkan melalui data dan variabel yang
diteliti secara sadar.
48

. Untuk menentukan validitas tes essay dapat digunakan
korelasi product moment yaitu:

()()
*

()

+*

()

+


Keterangan

= koofesien korelasi antara variabel X dan variabel Y


= Jumlah testee
= jumlah perkalian antara skor item dan skor total
= jumlah skor item
= jumlah skor total

Koefesien korelasi selalu terdapat antar -1,00 sampai +1,00.
Kriteria yang digunakan untuk validitas yaitu
49
:
Antara 0,800 sampai dengan 1,00: sangat tinggi
Antara 0,600 sampai dengan 0,800: tinggi
Antara 0,400 sampai dengan 0,600: cukup
Antara 0,200 sampai dengan 0,400: rendah
Antara 0,000 sampai dengan 0,200: sangat rendah


2) Reliabilitas soal tes


48
Suharsimi Arikunto, Dasar Dasar Evaluasi Pendidikan. (Jakarta: Bumi Aksara, 1999),h.79
49
M. Chabib Thoha, Teknik, h.115
Reliabilitas berhubungan dengan tingkat kepercayaan,
dimana suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan
yang tinggi apabila dapat memberikan hasil yang tetap. Reliabilitas
tes merupakan ukuran ketepatan alat penelitian dalam
menunjukkan sesuatu yang hendak diukur. Reliabilitas tes artinya
keadaan suatu tes jika tes tersebut diteskan kembali maka dapat
menghasilkan informasi yang konsisten, tetap dan andal.
50

Untuk menentukan koefisien reabilitas digunakan rumus alpha
51

yang dinyatakan dengan :

=
(

)(

)

keterangan:

: reabilitas yang dicari


: jumlah varians skor tiap- tiap item


: varians total


Rumus varians
52
:

()


Nilai

yang diperoleh disesuaikan dengan kriteria r product


moment pada tabel dengan ketentuan jika r
11
> r
tabel
maka tes
tersebut reliabel.
Dengan kritetia sebagai berikut :
Reliabilitas Tes

50
Asnelly Ilyas,, Evaluasi Pendidikan, ( Batusangkar : STAIN Batusangkar Press, 2006,
h. 67
51
Zainal arifin , Evaluasi Pembelajaran (Bandung, Rosdakarya,2009)hal 257
52
Suharsimi Arikunto,, h. 210
Nilai r
11

Kriteria
0.90 r
11
< 1.00
Reliabilitas tinggi sekali
0.70 r
11
< 0.90
Reliabilitas tinggi
0.40 r
11
< 0.70
Reliabilitas sedang
0.20 r
11
< 0.40
Reliabilitas rendah
0.00 r
11
< 0.20
Reliabilitas sangat rendah sekali

3) Menghitung indeks kesukaran soal
Indeks kesukaran soal adalah suatu bilangan yang menunjukkan
sulit mudahnya suatu soal.Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu
mudah dan tidak terlalu sulit. Menurut Zainal Arifin,untuk menghitung
tingkat kesukaran dapat digunakan langkah-langkah berikut
53
:
a) Menghitung rata-rata skor untuk tiap butir soal dengan rumus:






b) Meghitung tingkat kesukaran dengan rumus:






c) Membandingkan tingkat kesukaran dengan kriteria berikut:
0,00 0,30 = sukar
0,31 0,70 = sedang
0,71 1,00 = mudah


d) Menghitung daya pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk
membedakan antara siswa yang pandai dengan siswa yang

53
Zainal Arifin,, h. 135
berkemampuan rendah. Menurut Zainal Arifin, untuk menentukan
daya pembeda soal dapat digunakan langkah-langkah berikut
54
:
a) Menghitung jumlah skor total tiap peserta didik.
b) Mengurutkan skor total mulai dari skor terbesar sampai dengan
skor terkecil.
c) Menetapkan kelompok atas dan kelompok bawah. Jika jumlah
peserta didik banyak (di atas 30) dapat ditetapkan 27 %
d) Menghitung rata-rata skor untuk masing-masing kelompok
(kelompok atas maupun kelompok bawah).
e) Menghitung daya pembeda soal dengan rumus:


Keterangan :
DP = daya pembeda

= rata- rata kelompok atas

= rata-rata kelompok bawah



f) Membandingkan daya pembeda dengan kriteria sebagai berikut
55
:
0,00 0.20 = jelek
0,20 0,40 = cukup
0,40 0,70 = baik
0,70 1.00 = baik sekali

Setelah dilakukan perhitungan validitas, reliabilitas, tingkat
kesukaran dan daya pembeda pada soal uji coba tes, maka soal yang
dapat langsung dipakai.

F. Teknik Analisis Data
Untuk memperoleh data mengenai aktivitas siswa dan hasil belajar siswa,
perlu dilakukan analisis dengan menggunakan teknik- teknik yang

54
Zainal Arifin, , h. 133

55
Suharsimi Arikunto, h. 218
dikemukakan oleh para ahli dan telah banyak dipakai oleh peneliti- peneliti
sebelumnya. Adapun teknik tersebut terdiri dari:

1. Lembar Observasi
Observasi bertujuan untuk mengamati aktivitas siswa selama
melaksanakan pembelajaran dengan strategi Group to Group Exchang
(GGE). Oleh karena itu, dalam penelitian ini terdapat lembar observasi
yang digunakan yaitu untuk mengamati aktivitas siswa pada pembelajaran
matematika dengan menggunakan strategi GGE.
Data aktivitas siswa yang diperoleh melalui lembar observasi
dianalisis dengan menggunakan rumus persentase
56
:



Keterangan:
P% = Persentase aktivitas
F = Frekuensi aktivitas yang dilakukan
N = Jumlah siswa

Kriteria penilaian aktivitas belajar yang positif adalah sebagai
berikut:
57

1) Jika persentase penilaian aktivitas adalah 1% - 25% maka
aktivitas tergolong sedikit sekali.
2) Jika persentase penilaian aktivitas adalah 26% - 50% maka
aktivitas tergolong sedikit.
3) Jika persentase penilaian aktivitas adalah 51% - 75% maka
aktivitas tergolong banyak.

56
Sudjana, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, (Bandung: Sinar Baru Algesindo,
2004) h. 130
57
Dimyati dan Mudjono, Penilaian Aktivitas Belajar, (Jakarta: Aksara Baru, 1999) h.
125
4) Jika persentase penilaian aktivitas adalah 76% - 99% maka
aktivitas tergolong banyak sekali.




2. Tes Hasil Belajar
Untuk memperoleh tes yang baik, maka perlu dilakukan beberapa
langkah sebagai berikut:
a. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah data sampel
berdistribusi normal atau tidak. Uji yang digunakan adalah uji liliefort.
Hipotesis yang diajukan adalah:
H
0
= Data berdistribusi normal
H
1
= Data berdistribusi tidak normal
Untuk melihat sampel berdistribusi normal, digunakan uji
Liliefort dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Data X
1
, X
2
, X
3
, , X
n
diperoleh dan disusun dari data yang
terkecil samapi yang terbesar.
2) Mencari skor baku dari skor mentah dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:


Dimana: S = Simpangan Baku

= Skor rata-rata
X
i
= Skor dari tiap soal
3) Dengan menggunakan daftar distribusi normal baku, kemudian
hitung peluang F (Zi) = P (P Zi)
4) Menghitung jumlah proposi skor baku yang lebih baku ata sama Zi
yang dinyatakan dengan S (Zi) dengan menggunakan rumus:
(


5) Menghitung selisih F (Zi) S (Zi), kemudian ditentukan nilai
mutlaknya.
6) Ambil harga mutlak yang terbesar dari harga mutlak selisih itu
diberi simbol L
0
. L
0
= maks |(

) (

)|
7) Bandingkan nilai L
0
yang diperoleh dengan nilai L
0
yang ada pada
tabel. Pada taraf 0,05 jika L
0
L
tabel
maka H
0
diterima. Dari hasil
analisis data pada taraf nyata = 0,05
58


b. Uji Homogenitas Variansi
Uji homogenitas bertujuan untuk melihat apakah kedua data
sampel mempunyai variansi yang homogen atau tidak.
Hipotesis yang diajukan adalah:
H
0
:

, variansi kedua data sampel homogen


H
1
:

, variansi kedua data sampel tidak homogen


Dalam hal ini yang akan diuji H
0
:

, dimana

dan


adalah simpangan baku dari masing-masing kelompok sampel.
Rumus yang digunakan untuk menguji hipotesis ini menurut
sudjana adalah:


Keterangan:

= Variansi terbesar

= Variansi terkecil
= Perbandingan antara variansi terbesar dengan variansi
terkecil
59


c. Uji Hipotesis
Setelah dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas, selanjutnya
dilakukan uji hipotesis. Uji hipotesis bertujuan untuk mengetahui
apakah hasil belajar kognitif matematika siswa kelas eksperimen
lebih baik daripada kelas kontrol.

58
Sudjana, Metode , hal.116
59
Sudjana, Metode , h.249
Hipotesis yang akan diuji adalah :
H
0
:
1 =

2
Hasil belajar matematika siswa yang mengikuti
pembelajaran dengan strategi Group to Group
Exchange (GGE) sama dengan siswa yang
mengikuti pembelajaran konvensional.
H
1
:
1
>

2
Hasil belajar matematika siswa yang mengikuti
pembelajaran dengan strategi Group to Group
Exchange (GGE) lebih baik daripada siswa yang
mengikuti pembelajaran konvensional.

1
dan
2
merupakan rata- rata populasi hasil belajar kelas
sampel Berdasarkan uji normalitas dan uji homogenitas ada beberapa
rumus untuk menguji hipotesis, yaitu:
a. Apabila data berdistribusi normal dan mempunyai variansi
homogen, maka uji statistik yang digunakan adalah dengan rumus:

dengan



Dimana:

= Nilai rata-rata kelas eksperimen

= Nilai rata-rata kelas kontrol

= variansi hasil belajar kelas eksperimen

= variansi hasil belajar kelas kontrol


= simpangan baku

= jumlah siswa kelas eksperimen

= jumlah siswa kelas kontrol



Kriteria:
Terima H
0
jika

, dengan dk = n
1
+ n
2
2 selain
itu H
0
ditolak.
60


b. Jika sampel berdistribusi normal dan kedua kelompok sampel tidak
mempunyai variansi homogen, maka uji statistik yang digunakan
adalah:

) (

)

Kriteria pengujinya adalah:
Tolak hipotesis H
0
jika


Terima H
0
jika


Dengan:


()(


()(

)
61


c. Jika data yang diperoleh tidak normal, maka digunakan uji U (Uji
Mann-Whitney) dengan hipotesis sebagai berikut:
H
0
: Tidak ada perbedaan hasil belajar siswa kelas eksperimen
dengan kelas kontrol.
H
1
: Hasil belajar siswa kelas eksperimen lebih besar daripada kelas
kontrol

60
Sudjana, Metode , h.239
61
Sudjana, Metode , h.241
Untuk menghitung nilai statistik uji Mann-Whitney, rumus
yang digunakan adalah sebagai berikut
62
:


Keterangan:

= jumlah kasus kelompok 1

= jumlah kasus kelompok 2

= jumlah jenjang/ rangking pada kelompok 1

= jumlah jenjang/ rangking pada kelompok 2


Catatan = hanya salah satu U saja yang dihitung,
sebab U lainnya dapat dihitung dengan cara
sebagai berikut:

. Sedangkan U yang digunakan


adalah yang memiliki harga terkecil.



62
Bambang Soepeno, Statistik Terapan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), hal 191