Anda di halaman 1dari 10

PENDAHULUAN Latar Belakang Alam yang indah dan lestari merupakan jaminan bagi kelangsungan hidup manusia dan

segala lapisan kehidupan yang ada di dalamnya. Untuk menjamin kelangsungan hidup manusia,diharapkan agar tetap memiliki kehidupan dan lingkungan dalam suasana yang menyenangkan.Banyak hal yang dilakukan untuk menjamin kelangsungan hidup alam semesta, setidaknya kita harus merubah sikap dalam memandang dan

memperlakukan alam sebagai hal bukan sebagai sumber kekayaan yang siap dieksploitasi, kapan dan dimana saja. Walaupun alam tidak memiliki keinginan dan kemampuan aktif eksploitatif terhadap manusia, perlahan tapi pasti, apa yang terjadi pada alam, langsung atau tidak langsung, akan mempengaruhi bagi kehidupan manusia. Lingkungan yang indah dan lestari akanmembawa pengaruh positif bagi kesehatan da n bahkan keselamatan manusia. Begitupun sebaliknya, lingkungan yang rusak dan terancam punah, akan membawa pengaruh buruk bagi kehidupan manusia. Mengenai pengelolaan lingkungan yang benar, diperlukan wawasan mengenai pembangunan sisi ekologi untuk pembangunan berkelanjutan. Manusia Indonesia dianjurkan berhenti menyakiti alam atau perusakan lingkungan hidup lainnya, kemudian bersama pemerintah, mengesahkan peraturan larangan perusakan lingkungan hidup. Hal yang tak kalah pentingnya, bersikap jujur dan tidak menerima uang suap dari perusahaan yang mencoba untuk merusak lingkungan hidup. Hal ini dikarenakan, bagaimana pun juga anak cucu Indonesia nantinya juga membutuhkan lingkungan hidup yang lebih baik (Sultan Hamengku Buwono IX, Jogjakarta, 22Agustus 2008 http://BeritaNET.com) Saat ini kerusakan lingkungan dan polusi sudah semakin akut, bahkan terus bertambah parah. Disimpulkan secara simplistis, bentuk kerusakan dan tingkat pencemaran pada intinya disebabkan oleh kemajuan pembangunan industri dan teknologi yang tidak sebanding dengan upaya pelestarian lingkungan. Peranan negar-negara maju dalam menyumbang pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup sangat besar. Keseimbangan alam perlu diciptakan untuk menjamin kehidupan berbagai macam makhluk di bumi ini, apakah itu berupa tumbuh-tumbuhan, hewan atau manusia. Bila lingkungan alam kehilangan keseimbangan, perputaran siklus akan terputus dan reaksi alam akan muncul berupa bencana di mana pun. Berdasarkan hal tersebut, jelaslah bahwa pemerintah sebagai pemegang kekuasaan

dalam pengelolaan lingkungan hidup yang antara lain mengemban fungsi pengaturan,

pembinaan,

perizinan dan pengawasan dalam pengelolaan lingkungan hidup memegang

peranan sangat penting. Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam, seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut. Dengan kata lain, lingkungan merupakan sumber penghasil dari setiap hal yang dibutuhkan manusia untuk menujang kebutuhan hidup dansebagai tempat berkembang biak daripada makhluk hidup terutama manusia. Olehnya, penulis akan membahas mengenai pertanggungjawaban lingkungan.

Rumusan Masalah 1. Apakah latar belakang munculnya pertanggungjawaban lingkungan? 2. Etika apa saja yang mendasari pertanggungjawaban lingkungan? Tujuan Penulisan 1. Memahami latar belakang munculnya pertanggungjawaban lingkungan. 2. Memahami etika yang mendasari pertanggungjawaban lingkungan.

PEMBAHASAN LATAR BELAKANG PERTANGGUNGJAWABAN LINGKUNGAN Awal keterlibatan perusahaan dalam tanggung jawab lingkungan membuntuti gerakan lingkungan yang kuat dari tahun 1960-an. Selama, 1960 1950 dan 1970-an, beberapa peristiwa terjadi sehingga timbul kesadaran masyarakat bahaya pada lingkungan yang disebabkan oleh manusia. Pada tahun 1954, 23 orang awak kapal perikanan Jepang, Naga Beruntung terkena dampak radioaktif dari uji bom hidrogen diAtol Bikini.

P a d a t a h u n 1 9 6 9 , s e b u a h e k o l o g i s tumpahan minyak bencana dari luar negeri baik di California Santa Barbara Channel, protes Barry Commoner terhadap percobaan nuklir, Rachel Carson's buku Silent Spring, Paul R. Ehrlich's The Population Bomb masyarakat

semua ditambahkan kecemasan tentang lingkungan. Akhirnya

menjadi lebih sadar akan isu-isu lingkungan, kekhawatiran tentang polusi udara, polusi air, pembuangan limbah padat, sumber daya energi berkurang, radiasi, keracunan pestisida (terutamaseperti yang dijelaskan di Spring berpengaruh Diam Rachel Carson, 1962), polusi suara, danlingkungan lainnya masalah terlibat sejumlah perluasan simpatisan. Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, beberapa korporasi-korporasi mulai menanggapi perhatian publik meskipun adaptasi dari kode etik

dan "Corporate Social Responsibility" (CSR) prinsip-prinsip. Seperti bencana lingkungan secara dramatis terus terjadi - kebakaran polutan di sungai di

Cleveland dan Buffalo, anak-anak terkena racun di Love Canal, Union Carbide di Bhopalkebocoran gas, pembangkit tenaga nuklir di krisis Chernobyl, dan Exxon Valdez tumpah minyak - perusahaan mulai bertanggung jawab atas dampak lingkungan dari tindakan mereka, sosial, politik dan hukum. Publik marah atas ini dan bencana lingkungan lainnya pembuat termotivasiuntuk kerajinan undang-undang seperti Undang-Undang kebijakan

Perlindungan

Lingkungan pada tahun 1969 dan Amerika Serikat Keselamatan dan Undang-Undang Kesehatan tahun 1970 y a n g memaksa perusahaan untuk mengangkat isu lingkungan dan keselamatan pekerja serius dan untuk menginternalisasi biaya apa yang telah sebelumnya telah dianggap sebagai kekhawatiran eksternal. Menanggapi tekanan yang meningkat, perusahaan mengembangkan diri mengatur kode dankebijakan strategis pengelolaan lingkungan hidup, program sertifikasi lingkungan, pemantauan diri praktek, serta partisipasi sukarela dalam pemantauan oleh auditor independen. Selain prinsip-prinsip CSR, gagasan-gagasan tentang Triple Bottom Line, Stakeholder Theory, Sistem Manajamen Lingkungan (EMS), Penilaian Life Cycle (LCA), dan gerakan

perusahaan

lainnya

muncul

padatahun 1990. Konsep

konsep ini berusaha untuk mengubah budaya perusahaan dan praktek manajemen dengan menempatkan kepentingan baru pada lingkungan. Gerakan ke arah perlindungan lingkungan adalah fenomena perusahaan global. Memang,dapat dikatakan bahwa Uni Eropa berbasis aktivitas perusahaan di daerah ini telah jauh lebih jelasdaripada di AS. Lebih dari setengah perusahaan yang telah mencapai ISO-14001 standarisasi yangmemerlukan sistem manajemen yang ketat lingkungan yang akan dipasang di sebuah perusahaany a n g t e r l e t a k d i U n i E r o p a . B a n y a k L S M y a n g m e m p r o m o s i k a n g a g a s a n t a n g g u n g j a w a b lingkungan perusahaan dapat ditemukan di Eropa juga. Berbagai faktor memotivasi mengelilingi fokus lingkungan yang telah mengubah praktik bisnis saat ini. Ekonomi dewasa ini berpola pada ekonomi kapitalis. Ini berarti suat u sistemekonomi didasarkan pada kekuatan pasar bebas. Laba tinggi

merupakan tujuan dari aktivitasekonomi. Franz magnis Suseno ( 1993: 198) menjelaskan bahwa tujuan produksi adalah laba perusahaan. Hanya laba itulah yang menjamin bahwa sebuah perusahaan dapat mempertahankan diri

dalam alam persaingan bisnis. Untuk meningkatkan laba, biaya produksi perlu ditekan serendah mungkin. Oleh karena itu, ekonomi modern condong untuk mengeksploitasi kekayaan alam dengansemurah mungkin dengan sekedar mengambil, dengan menggali dan me mbongkar apa yangdiperlukan tanpa memikirkan akibat bagi alam itu sendiri dan tanpa usaha untuk memulihkankeadaan semula. Begitu pula asap, berbagai substansi kimia yang beracun dan segala bentuk sampah lain dibuang dengan semurah mungkin, dibuang ke tempat pembuangan sampah, ke dialirkan dalam

ke dalam air sungai, dihembuskan melalui cerobong-cerobong

atmosfer. Mengolah sampai racunnya hilang sehingga dapat dipergunakan lagi hanya menambah biaya. Jadi, kalau proses produksi dibiarkan berjalan menurut mekanisme ekonomisnya sendiri, alam dan lingkungan

hidup manusia semakin rusak (Franz Magnis Suseno, 1993: 19 8 ) , m a k a n y a p e r l u a d a pertanggungjawaban semua pihak sadar terhadap lingkungan. terhadap lingkungan agar

MENDEFISIKAN TANGGUNG JAWAB LINGKUNGAN Menurut Walden & Schwartz (1997: 129) tanggung jawab sosial perusahaan tidak mudah untuk menentukan karena penafsiran yang beragam dari prinsip sosial perusahaan tanggung jawabdan tanggung jawab akhirnya lingkungan juga. Mereka mengacu pada Davis (1973) yang mencatat bahwa tanggung jawab sosial "mengacu pada pertimbangan perusahaan dari, dan respon terhadapisu-isu di luar ekonomi sempit, teknis, dan hukum persyaratan perusahaan ". Ini hanya "mulai dimana hukum berakhir". Setelah mempertimbangkan beberapa definisi Huckle sosial perusahaan, tanggung jawab(1995: 11) disesuaikan (1975) definisi Davis & Blomstrom untuk menyediakan berikut : definisi tanggung jawab lingkungan perusahaan:"Kewajiban para pengambil keputusan untuk mengambil tindakan yang melindungi dan memperbaiki lingkungan secara keseluruhan, bersama dengan kepentingan mereka sendiri. "Van Niekerk (1998: 31) memilih (1989) definisi Anderson tanggung jawab sosial untuk keperluan studinya yang berbunyi sebagai berikut:"... Tanggung jawab sosial adalah kewajiban dari kedua bisnis dan masyarakat (stakeholders)untuk mengambil tindakan hukum, moral-etika, dan filantropis yang tepat yang akan melindungidan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan bisnis sebagai keseluruhan; semua ini tentu sajaharus dicapai dalam ekonomi struktur dan kemampuan pihak yang terlibat. Menurut Enderle & Tavis (1998: 1134) yang umum sekarang diterima secara luas standar kesehatan lingkungan adalah "keberlanjutan" didefinisikan oleh Dunia Komisi Lingkungan dan Pembangunan (1987) sebagai untuk memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. M e r e k a menyatakan tanggung jawab perusahaan dalam bidang lingkungan sebagai yang berkomitmenuntuk pembangunan berkelanjutan oleh sumber daya kurang alami memakan dan membebani lingkungan dengan limbah. Dampak lingkungan dari proses manufaktur dan produk, lingkungan regulasi, dan

inisiatif yang dilakukan dalam pengelolaan lingkungan dan teknologi harus dipertimbangkan ketika menentukan strategi perusahaan terhadap lingkungan. Sebagai salah satu elemen integratif dari strategi perusahaan, pengelolaan lingkungan

mempengaruhi kinerja lingkungan. (Klassen 1995:1201).

ETIKA LINGKUNGAN HIDUP Masalah ekologi tidak cukup dihadapi dengam mengembangkan etika lingkungan hidup. Kalau sudah menyangkut kesejahteraan umum masyarakat, pemikiran etis saja tidak akan berdaya tanpa didukung oleh aturan-aturan hukum yang akan dapat menjamin pelaksanaan dan menindak pelanggarannya. Untuk itu perlu diketahui berbagai teori yang membangun pemikiran tentang etika lingkungan hidup. Johan Galtung mengetengahkan tiga teori etika di bawah ini serta menawarkan teori etika yang dapat dijadikan sebagai alternatif dengan kelebihannya (J. Sudriyanto, 1992: 13). 1. Etika egosentris. Etika egosentris adalah etika yang berdasarkan ego (diri). Fokus etika ini adalah suatu

keharusan utuk melakukan tindakan yang baik bagi diri. Kebaikan i n d i v i d u a d a l a h kebaikan masyarakat yang merupakan klaim Orientasi etika egosentris didasarkan pada filsafat

yang dianggap sah.

individualisme dengan pandangan bahwa individu merupakan atom sosial yang berdiri sendiri (J. Sudriyanto, 1992: 13). 2. Etika homosentris. Etika homosentris bertolak belakang dengan etika geosentris dalam arti jika egosentrislebih menekankan pada individu, maka etika homosentrisme lebih menitikberatkan pada masyarakat. Model-

model yang dijadikan dasarnya adalah kepentingan sosial dengan memperhatikan hubungan antara pelaku dengan lingkungan yang mampu melindungi sebagian besar hajat masyarakat. Sony Keraf (1990: 34) mensinyalir adanya kesamaanantara etika egosentrisme, etika homosentrime, dan etika utilitarianissme. Ketiganya sama-sama mendasarkan diri pada tujuan. Penilaian baik buruk suatu tindakan tergantung pada tujuannya dan akibat dari tindakan itu, inilah inti dari utilitarianisme. Tujuan dan akibat tindakan pada etika egosintrisme dialamatkan pada tujuan dan manfaat pribadi individu. Tujuan dan akibat tindakan pada etika homosentrisme diu kur dengan sejauh mana tujuan dan akibat baik bagi sebanyak mungkin masyarakat yang dapat dicapai. Akan tetapi homosentrisme lebih dekat dengan utilitarinisme bahkan keduanya dapat dijadikan sebagai etika universal. Asumsi yang digunakan oleh etika homosentrisme adalah sifat organis mekanis dari alam. Setiap bagian merupakan bagian-bagian organ dari bagian lainnya. Jika salah satu bagian hilang maka keseluruhan akan kurang bahkan tidak berguna. Antar bagian dari suatu keseluruhan memiliki hubungan yang tidak terpisahkan dan bersifat saling mempengaruhi. Sayangnya, menurut J. Sudriyanto (1990: 16) dengan

pandangan demikian sumber-sumber kekayaan alam dikuras terus menerus dengan dalih d e m i kepentingan kemajuan masyarakat. 3. Etika ekosentrisme. Etika ekosentrisme merupakan aliran etika yang ideal sebagai pendekatan dalam mengatasikrisis ekologi dewasa ini. Hal ini disebabkan karena etika ekosentris lebih berpihak pada lingkungan terpenting secara dalam keseluruhan, pelestarian

baik biotic maupun abiotik. Hal

l i n g k u n g a n menurut etika ekosentris adalah tetap bertahannya segala yang hidup dan yang tidak hidup sebagai komponen ekosistem yang sehat. Benda-benda kosmis memiliki tanggung jawab moralnya sendiri seperti halnya manusia. Ole karena itu,diperkirakan memiliki haknya sendiri juuga. Karena pandangan yang demikian, etika ini sering kali disebut juga deep ecology (J. Sudriyanto, 1992:243). Deep ecology juga disebut etika bumi. Bumi dianggap memperluas ikatanterdiri atas manusia, tanah, air,

ikatan komunitas secara kolektif yang

tanaman, binatang. Bumi mengubah peran homo sapiens manusia menjadi bagian susunan warga dirinya. Sifat holistik ini menjadikan adanya rasa hormat terhadap bagian yang lain. Etika ekosentris mempercayai bahwa segala

sesuatuselalu dalam hubungan dengan yang lain, di samping keseluruhan bukanlah sekedar penjumlahan. Jika bagian berubah, keseluruhan akan berubah pula. Tidak ada bagian dalam sesuatu ekosistem yang dapat diubah tanpa mengubah bagian yang lain dan keseluruhan. Sikap dan perilaku seseorang terhadap sesuatu sangat ditetukan oleh bagaimana pandangan seseorang terhadap sesutu itu. Hal itu berlakku untuk banyak hal, termasuk mengenai hubungan manusia dengan alam lingkungannya. Manusia memiliki pandangan tertentu terhadap alam,dimana pandagan itu telah menjadi landasan bagi tindakan dan perilaku manusia terhadap

alam.Pandangan tersebut dibahas dalam tiga teori etika utama yang dikenal shallow environmental ethics, intermediate environmental ethics, and deep environmental ethics. Ketiga teori ini jugadisebut dengan antroposentisme, biosentrisme, dan ekosentrisme.

PENUTUP Kesimpulan Merupakan pandangan yang keliru apabila mempertentangkan hidup selaras dengan alamdan menaklukannya. Manusia dapat saja menggunakan alam ini demi kegunaan bagi dirinya sambil tetap memperhatikan terpeliharanya kelestarian lingkungan hidup. Keselarasan yang betulserta keseimbangan yang sehat antar kebutuhan manusia dan pelestarian lingkungan menuntut juga penaklukan alam oleh kemampuan teknik manusia. Oleh karena itu, dua sikap berikut harus ditolak : 1. Memandang dan memperlakukan alam sejauh berguna bagi manusia dan menguasainya sejauh dimungkinkan oleh kemampuan teknologi. 2. Faham mistisisme alam sejauh faham itu menganggap bahwa dunia ini harus diterima begitu saja dan tidak boleh diapa-apakan oleh manusia.

REFERENSI Alam Marwah.2011.Makalah Seminar Akuntansi. http://www.andrew.cmu.edu/course/99-522/ejbackground.html (diakses tanggal 6 Mei 2013) http://en.wikipedia.org/wiki/Environmental_movement_in_the_United_States (diakses tanggal 6 Mei 2013) http://notcupz.blogspot.com/2011/06/tanggung-jawab-sosial-perusahaan.html (diakses tanggal 6 Mei 2013) http://www.scribd.com/doc/6330078/Manusia-Dan-Lingkungan-Hidup (diakses tanggal 6 Mei 2013) http://id.scribd.com/doc/110302593/Makalah-Seminar-Pertanggungjawaban-Lingkungan (diakses tanggal 6 Mei 2013)

PERTANGGUNGAJAWABAN LINGKUNGAN

Oleh:

A.ARINI LESTARI PATUNRU A31110104

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin MAKASSAR 2013