Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN SKILL LAB BLOK 16 LBM 1 MANAGEMENT DENTAL FOR CHILD OBSERVASI

Disusun oleh, NAMA NIM SGD : GERALD DZULFIQAR : 112110196 :1

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG 2013

KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim Alhamdulillahirabbilalamin, kami panjatkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan Skill Lab BLOK 16 LBM 1 mengenai Observasi. Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas Skill Lab yang telah dilaksanakan. Meskipun banyak rintangan dan hambatan yang kami alami dalam proses pengerjaan laporan, Alhamdulillah kami berhasil menyelesaikannya dengan baik. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada yang telah membantu kami dalam mengerjakan laporan ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Dokter Gigi Muda yang sudah bersusah payah membantu dalam proses observasi ini baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Kami menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam penyusunan laporan ini. Oleh karena itu, kami bersedia menerima kritik dan saran dengan terbuka dari para pembaca. Tentunya ada hal-hal yang ingin kami berikan kepada para pembaca dari hasil laporan ini. Karena itu, kami berharap semoga laporan ini dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kita semua. Pada bagian akhir, kami akan membahas mengenai pendapat-pendapat dari para ahli. Oleh karena itu, kami berharap hal ini dapat berguna bagi kita. Semoga laporan ini dapat membuat kita mencapai kehidupan yang lebih baik lagi. Amin.

Semarang, 29 November 2013

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................................ 2 DAFTAR ISI .......................................................................................................................................... 3 PENDAHULUAN .................................................................................................................................. 4 PEMBAHASAN .................................................................................................................................... 6 PENUTUP ............................................................................................................................................ 14 Kesimpulan..................................................................................................................................... 14

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Diketahui bahwa banyaknya mahasiswa yang belum memahami benar mengenai Management Dental for Child pada saat kunjungan pertama anak ke dokter gigi. Dalam kenyataannya menunjukkan bahwa tidak banyak mahasiswa yang mau mencari jawaban ataupun sumber-sumber belajar secara terperinci dan jelas. Oleh karena itu perlu diupayakan suatu observasi yang dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengetahui dan memahami mengenai Management Dental For Child yang baik agar dapat menyelesaikan perawatan secara maksimal pada anak. Penanganan kesehatan gigi yang baik adalah cara perawatan kesehatan gigi anak yang dapat dilaksanakan secara nyaman dan menyenangkan. Menurut Noerdin (2002) bahwa kesulitan yang sering terjadi pada perawatan gigi anak adalah pada saat pasien anak menunjunkkan sikap non kooperatif berupa rasa takut dan cemas pada dokter gigi atau perawat gigi yang akan dilakukan. Suatu perawatan kesehatan gigi pada pasien anak dapat berhasil apabila terdapat kerja sama yang baik antara perawat gigi atau dokter gigi dengan pasien anak serta orang tua anak perawat gigi atau dokter gigi dituntut untuk mempunyai keterampilan dan pengetahuan yang baik dalam penanganan anak secara psikologis, sedangkan orang tua anak diharapkan dapat memberi pengertian dan dorongan kepada anak agar mau melakukan perawatan gigi yang akan dilakukan kepadanya.(Hendrastuti 2003). Dalam perawatan gigi perilaku anak dapat dipengaruhi oleh latar belakang kehidupannya. Sikap orang tua atau keluarga terhadap anak serta pengalaman sebelum ke balai pengobatan gigi atau lingkungan anak itu berada, dapat mempengaruhi tingkah laku anak pada dasarnya orang tua anak yang paling banyak mengetahui sikap anak itu sendiri, oleh karena peranan orang tua sangat besar untuk memerlukan keberhasilan perawatan gigi anak (Soegiyono 1990). Banyak penelitian menunjukkan anak anak mengalami ketakutan dan kecemasan selama menjalani perawatan gigi. Kadangkala dokter gigi tidak mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi penanggulangan rasa takut pada anak. Penanganan tingkah laku anak merupakan keterampilan paling penting yang harus dimiliki oleh seorang dokter gigi. Secara umum kita ketahui seorang pasien yang menunjukkan rasa
4

cemas atau takut akan perawatan gigi akan menghadapi sikap tidak kooperatif selama pengobatan. Dalam laporan ini, penulis mencoba menjelaskan mengenai penanggulangan rasa takut anak menggunakan metode Non Pharmacology Behavior. Selain itu penulis akan membahas secara sederhana tentang berbagai macam penanggulangan yang bisa dilakukan sehingga keberhasilan perawatan gigi dapat tercapai. 2. Rumusan Masalah Bagaimana cara untuk dapat megurangi ketakutan dan kecemasan anak saat kunjungan ke klinik gigi dengan pendekatan Non Pharmacological Behavior ? 3. Tujuan Untuk mengetahui bagaimana cara mengurangi ketakutan dan kecemasan pada anak saat berkunjung ke klinik gigi 4. Manfaat Untuk mengetahui, memahami dan menerapkan cara menghadapi anak yang takut dan cemas saat berkunjung ke klinik gigi

PEMBAHASAN
Pada saat observasi di RSIGM Sultan Agung Semarang pada pasien anak yang ditangani dokter gigi muda Nadia Hapsari dengan pengawasan drg.Ade Ismail Sp. Perio. Terlihat pasien anak yang bernama Ines Gading umur 8,5 tahun datang dengan keadaan psikologis yang menggembirakan dan sangat kooperatif. Anak tersebut datang dengan orang tuanya dan ini sudah merupakan kunjungan yang keempat dari perawatan yang dilakukan. Rencana perawatan yang akan diberikan yaitu berupa perawatan pencabutan gigi. Karena telah melakukan beberapa kali kunjungan, pasien dapat menjalani prosedur perawatan dengan tenang dan tidak mempunyai rasa takut. Kemudian pada saat Dokter Gigi Muda ( DGM ) menyuruh membuka mulut untuk diperiksa, pasien menjalankan intruksi. Setelah itu, ketika pasien ingin dilakukan pencabutan gigi DGM mengajak anak bercanda (berkomunkasi) untuk mengurangi rasa takut dan cemas, selama proses pencabutan DGM selalu menenangkan pasien, sehingga anak terlihat tenang. Dan pada saat pasien bertanya perawatan apa yang dilakuakan dan menolak untuk dilakukan perawatan , DGM merayu anak dengan menjelaskan manfaat dilakukan perawatan serta akibatnya jika tidak dilakukan misalnya akan terasa sakit. Bila perlu DGM menunjukan alat yang akan digunakan dan memperbolehkan memegangnya agar anak merasa yakin bahwa selama perawatan tidak akan menimbulkan rasa sakit. Setalah saya perhatikan , pada kunjungan anak yang keempat ini, anak merasa lebih tenang, rasa takut dan cemas juga diperlihatkan oleh anak secara minimal. Hal ini dikarenakan kunjungan pertama anak ke dokter gigi bagi pasien anak merupakan hal yang penting. Bila kunjungan pertama sudah berhasil dengan baik maka kunjungan berikutnya akan merupakan kunjungan yang menyenangkan bagi anak sebagai pasien dan dokter gigi yang merawatnya sehingga kunjungan pertama bisa disebut sebagai kunci keberhasilan perawatan dan merupakan dasar yang nyata.Untuk mencapai tujuan ini perawatan harus dilangsungkan sedemikian rupa sehingga merupakan pengalaman yang menyenangkan dan anak akan mengenali dokter gigi dan lingkungannya.

Menurut pendapat DGM sendiri hal-hal yang pertama dilakukan oleh DGM dalam kunjungan pertama anak adalah dilakukan anamnesis pada anaknya. Setelah anamnesis, dgm menggunakan teknik TSD (Tell Show Do) pada anak. Agar anak tersebut tidak takut dengan penggunaan alat-alat dokter gigi yang akan digunakan oleh DGM. Seperti misalnya mouth mirror yang di analogikan dengan cermin, bahwasanya punya fungsi yang sama yaitu untuk mengaca atau melihat keadaan rongga mulut anak. Dan diperkenalkan alat-alat yang lainnya juga. Saat menjelaskan dgm menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti anak. Pada kasus ini, kunjungan pertama anak sudah kooperatif sebab yang ingin dilakukan perawatan adalah anak itu sendiri dan juga anak tersebut aktif bertanya saat DGM memberikan penjelasan. DGM juga menekankan bahwa diawal kita harus bisa dekat dan membuat percaya si anak agar dalam dilakukan perawatan anak pun mudah diajak kerjasama. Menurut Wright tingkah laku anak diklasifikasikan menjadi dua : Kooperatif Tidak kooperatif Anak tidak mampu menjadi kooperatif. Pada anak dengan ketrampilan terbatas Anak belum mampu menjadi kooperatif karena terlalu muda usia (<3 thn), belum dapat berkomunikasi, keadaan sementara Anak mempunyai potensi untuk kooperatif , anak mula mula tidak kooperatifkooperatif Menurut Frankl tingkah laku anak diklasifikasikan menjadi empat : Jelas Negatif Anak menolak perawatan , menangis keras, ketakutan menunjukan sikap negatif Negatif Anak enggan menerima perawatan gigi Positif Anka menerima perawatan gigi , tidak menolak petunjuk drg Jelas positif Anak dengan gembira menerima perawatan, tertarik dengan perawatan drg

Tujuan pendekatan Non Pharmacology Behavior saat Kunjungan Pertama : 1. Menciptakan komunikasi dengan anak dan orang tua 2. Mendapatkan keterangan tentang riwayat pasien 3. Melakukan prosedur perawatan sederhana 4. Menjelaskan tujuan perawatan pada anak dan orang tua 5. Mengurangi kecemasan dan rasa takut pada anak 6. Menciptakan kepercayaan antara anak dan dokter gigi 7. Menciptakan lingkungan yang aman selama perawatan 8. Menciptakan kerjasama yang baik antara anak dan dokter gigi Cara pendekatan anak pada perawatan gigi yaitu : I. Komunikasi II. Modeling III. Desensitisasi IV. HOME V. Reinforcement VI. Hipnotis

I. KOMUNIKASI Tanda keberhasilan dokter gigi mengelola pasien anak adalah kesanggupannya berkomunikasi dan memperoleh rasa percaya dari anak, sehingga bersikap koperatif. Komunikasi dibagi atas komunikasi verbal dan non verbal, sebaiknya pembicaraan dilakukan secara wajar. Banyak cara untuk memulai komunikasi verbal, misalnya untuk anak kecil dapat ditanyakan tentang pakaian baru, kakak adik, benda atau binatang kesayangan. Anak yang lebih besar dapat ditanyakan tentang sekolah, aktifitas, olah raga atau teman. Perubahan nada dan volume suara dapat digunakan untuk mengubah perilaku dan mengkomunikasikan perasaan kepada anak. Perintah yang tiba-tiba dan tegas dapat mengejutkan dan menarik perhatian anak sehingga anak dapat menghentikan apa yang sedang dilakukannya. Komunikasi ada dua macam yaitu komunikasi verbal dan non verbal Komunikasi Verbal Memberikan dukungan verbal dan meyakinkan psien merupakan strategi yang sering dilakukan. Pendekatan ini harus diadopsi oleh seluruh tim pada saat berinteraksi dengan pasien. Banyak cara untuk memulai komunikasi non verbal misalnya untuk anak kecil dapat ditanyakan
8

pakaian baru , benda atau binatang kesayangan . dan dalam penggunaan kata kata yang sederhana mempengaruhi keberhasilan dalam mendpatkan kepercayaan dari anak

Komunikasi Non Verbal Dapat dilakukan misalnya dengan menjabat tangan , tersenyum penuh kehangatan pada anak, menggandeng anak sebelum

mendudukannya ke kursi gigi dan lain lain

II. TELL SHOW DO TSD merupakan suatu rangkaian pendekatan secara berurutan, sebagai metode persiapan , pertama kali dipopulerkan oleh Addelston (1959) dan dapat diterapkan anak dengan sikap dan umur yang berbeda, terutama pada anak yang pertama kali berkunjung ke dokter gigi. Untuk merawat gigi anak dan cara ini sangat sederhana dan cukup efektif. Cara ini baik untuk anak yang takut. Tell : Anak diberitahu apa yang akan dilakukan pada dirinya dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh anak. Show : Menunjukkan objek sesuai dengan yang diterangkan sebelumnya tanpa menimbulkan rasa takut. Dalam hal ini dapat dipergunakan model gigi, menunjukkan alat yang akan dipergunakan misalnya bur dan kalau perlu dipegang pasien. Do : Melakukan tindakan pada anak sesuai dengan yang dikatakan dan ditunjukkan pada anak. Pada waktu melakukan TSD harus sesuai dengan yang diceritakan atau ditunjukkan, jadi jangan sampai anak merasa dibohongi. Pendekatan dengan cara TSD dapat dilakukan bersama-sama dengan cara modeling. Cara pendekatan dengan TSD dapat diterapkan untuk semua jenis perawatan pada anak kecuali melakukan suntikan. III. MODELING Anak mempunyai sifat ingin tahu, menirukan hal-hal yang baru dan yang menarik perhatiannya serta sifat bersaing. Sifat-sifat ini dapat dimanfaatkan dalam merawat gigi anak. Gordon (1974) mengatakan bahwa modeling adalah proses belajar dengan memperhatikan model. Sedangkan Eichenbaum (1977) berpendapat bahwa modeling

merupakan suatu teknik yang memakai kemampuan anak untuk meniru model yang sudah berpengalaman. Cara modeling dilakukan dalam mengatasi dan merubah tingkah laku anak yang tidak koperatif.Seorang dokter gigi juga dapat bertindak sebagai model yang akan ditiru oleh anak dengan syarat harus bersikap tenang, santai dan mantap. Jika dokter gigi tidak tenang, cemas dan ragu-ragu, akan menambah rasa takut dan cemas seorang anak Menurut Bandura (1969) : Modeling adalah suatu proses sosialisasi yang terjadi baik secara langsung maupun secara tidak langsung dalam interaksinya dalam lingkungan sosial. Bandura mengemukakan 4 komponen dalam proses belajar melalui model : a. Memperhatikan. Sebelum melakukan anak akan memperhatikan model yang akan ditiru. Keinginan ini timbul karena model memperlihatkan sifat dan kualitas yang baik b. Mencekam. Setelah memperhatikan dan mengamati model maka pada saat lain anak akan memperlihatkan tingkah laku yang sama dengan model yang dilihat. Dalam hal ini anak sudah merekam dan menyimpan hal-hal yang dilakukan model. c. Memproduksi gerak motorik untuk menghasilkan sesuai apa yang dilakukan model atau mengulang apa yang dilihatnya terhadap model. d. Ulangan penguatan dan motivasi sehingga anak dapat mengulangi dan mempertahankan tingkah laku model yang dilihatnya. Dokter gigi juga dapat bertindak sebagai model yang menunjukkan sifat tenang, tidak ragu, rapi. . IV.DESENSITISASI. Suatu cara untuk mengurangi rasa takut atau cemas seorang anak dengan jalan memberikan rangsangan yang membuatnya taku/cemas sedikit demi sedikit rangsangan tersebut diberikan terus, sampai anak tidak takut atau cemas lagi. Merupakan salah satu teknik yang paling sering digunakan oleh psikolog dalam merawat pasien untuk mengatasi rasa takut. Desensitisasi diperkenalkan pertama sekali tahun 1969 oleh Gale dan Ayers sedangkan Machen dan Jhonson tahun 1975 memperkenalkan Preventive Desensization yang banyak digunakan pada kunjungan pertama anak ke dokter gigi misalnya untuk tindakan profilaksis, perawatan dengan pemberian fluor atau menyikat gigi.

10

Wolp dan Lazarus memperkenalkan teknik dari desensitisasi yang terdiri dari 3 tahap, yaitu : a. Melatih pasien untuk rileks. b. Menyusun secara berurutan rangsangan yang menyebabkan pasien merasa takut atau cemas yaitu dari hal yang paling menakutkan sampai hal yang tidak menakutkan. c. Mulailah memberikan rangsangan secara berurutan pada pasien yang rileks tersebut. Dimulai dengan rangsangan yang menyebabkan rasa takut yang paling ringan dan berlanjut ke rangsangan yang berikutnya, bila pasien tidak takut lagi pada rangsangan sebelumnya. Rangsangan ini ditingkatkan menurut urutan yang telah disusun. Desensitisasi yang dilakukan di klinik pada anak yang takut atau cemas. Caranya dengan memperkenalkan anak pada hal-hal yang menimbulkan rasa takut/cemas misalnya : ruang tunggu dokter gigi dan perawat kursi pengeboran

yang perlu diperhatikan, anak harus rileks, untuk itu kemungkinan diperlukan beberapa kali kunjungan atau mengulangi rangsangan beberapa kali sampai anak tidak takut. V. HOME (Hand Over Mouth Excercise) Teknik hand-over-mouth biasanya dianggap sebagai cara yang ekstrem dalam menangani anak yang tidak koperatif, misalnya anak yang menangis histeris. Anak seperti ini biasanya tidak takut, tetapi mereka tidak mau bekerja sama dan mencari jalan untuk menghindar. Tingkah laku biasanya segera terlihat pada kunjungan pertama dan dipertegas oleh cara penolakan terhadap pemeriksaan. Teknik ini dilakukan dengan cara menahan anak yang melawan dengan pelan tetapi kuat pada kursi perawatan gigi, meletakkan tangan di atas mulutnya untuk menahan perlawanannya dan berbicara dengan perlahan tetapi jelas ke dalam telinganya. Selanjutnya pada anak dikatakan bahwa tangan akan diangkat bila ia berhenti menangis. Bila ia menanggapi dengan baik, tangan segera diangkat dari mulutnya dan ia diberi pujian atas sikap baiknya. Teknik ini bukan untuk menakuti anak, tetapi untuk

11

mendiamkannya dan mendapatkan perhatiannya, agar ia dapat mendengar apa yang dikatakan dokter gigi dan menerima perawatan gigi yang diperlukannya. Teknik HOME digunakan sampai anak menyadari bahwa dokter gigi tidak terpengaruh oleh tingkah laku dan perlawanannya. Metode ini memperlihatkan pada anak bahwa usahanya untuk menghindari keadaan tidak perlu dan tidak berguna.

Tujuan dari H O M E : 1. Untuk mencegah respon menolak terhadap perawatan gigi. 2. Menyadarkan anak bahwa yang mencemaskan anak sebenarnya tidak begitu menakutkan seperti yang dibayangkan. 3. Mendapatkan perhatian anak agar dia mendengar apa yang dikatakan dokter dan menerima perawatan.

Tindakan ini dilakukan dengan syarat sebagai berikut : Usia anak 3 6 tahun Anak dalam keadaan sehat Anak tidak dibawah pengaruh obat Telah dicoba dengan cara lain tetapi tidak berhasil. Izin orang tua VI. REINFORCEMENT Reinforcement didefInisikan sebagai motivasi atau hal yang memperkuat pola tingkah laku, sehingga memungkinkan tingkah laku tersebut menjadi panutan dikemudian hari. Pada umumnya anak akan senang jika prestasi yang telah ditunjukkan dihargai dan diberi hadiah. Hal ini dapat meningkatkan keberanian anak dan dipertahankan untuk perawatan dikemudian hari. Reinforcement mempunyai keuntungan karena dokter gigi secara langsung dapat mengontrol pemberian hadiah yang akan diberikan dipraktek untuk meningkatkan frekuensi tingkah laku yang diinginkan.

Ada 2 tipe reinforcement yang dijumpai sebagai penuntun tingkah laku anak yaitu 1. Reinforcement positif. Reinforcement dapat diberikan setelah anak menunjukkan tingkah laku yang positif dalam perawatan gigi misalnya :

12

a. Ungkapan kata yang menyatakan bahwa pasien berprilaku manis hari ini waktu dirawat (setiap akhir dari perawatan) b. Untuk hadiah yang lain diberikan pada akhir perawatan sebagai tanda senang atas tingkah laku yang baik misalnya dengan memberikan notes, gambar tempel dll tetapi tidak boleh terlalu sering diberikan hadiah (Akhir dari perawatan) 2. Reinforcement negatif. Reinforcement diberikan hanya jika anak menunjukkan tingkah laku yang positif. Dokter gigi menguatkan tingkah laku yang tidak diinginkan dengan menunda perawatan gigi anak karena tingkah lakunya tidak kooperatif sampai anak mempunyai keinginan dirawat. Walaupun anak tidak menunjukkan sikap yang baik tetapi anak menerima hadiah dari dokter gigi dengan harapan meningkatkan hubungan yang positif pada waktu berkunjung berikutnya. Sebaliknya anak merasa dapat bebas dengan taktik tersebut dan cenderung mengulanginya pada kunjungan berikutnya. Dengan reinforcement negative berarti dokter gigi menguatkan tingkah laku yang tidak diinginkan . VII. HIPNOTIS Hipnotis diartikan oleh Hartland (1971) sebagai suatu teknik yang dapat mempengaruhi pikiran orang lain sehingga anjuran-anjuran yang diberikan akan diterima pasien dengan baik. Hipnotis paling sering digunakan dalam kedokteran gigi sebagai suatu metode untuk membantu pasien yang takut dan cemas supaya relaks, sehingga akan dapat menerima prosedur perawatan yang sebelumnya ditolak. Indikasi lain untuk hipnotis membantu pasien yang mual sewaktu sesuatu benda masuk ke dalam rongga mulutnya, mendorong anak untuk memakai peralatan ortodonti dan memperkenalkan anak pada sedasi inhalasi atau anestesia umum. Sebelum melakukan hipnotis, dokter gigi harus mempersiapkan pasien dengan menjelaskan apa yang akan dilakukan. Pada anak hanya memerlukan persiapan minimal, kata-kata hipnotis tidak perlu digunakan pada anak. Anak kecil dapat diberitahu bahwa mereka akan merasa seperti tidur, dengan mata tertutup walaupun ada sedikit perbedaan, mereka masih dapat mendengar segala sesuatu yang dikatakan oleh dokter gigi dan mampu berbicara. Anak yang lebih besar hanya perlu diberitahu bahwa tujuannya adalah membantu mereka untuk relaks sehingga kekhawatiran mereka terhadap perawatan gigi dapat diatasi.

13

PENUTUP
Kesimpulan
Perawatan gigi dan mulut sejak dini pada anak penting untuk pertumbuhan anak. Dengan menggunakan pendekatan Non Pharmacological Behavior, kunjungan anak yang ketiga ini , anak merasa lebih tenang, rasa takut dan cemas hamper tidak diperlihatkan oleh anak. Hal ini dikarenakan kunjungan pertama anak ke dokter gigi bagi anak merupakan hal yang penting. Bila kunjungan pertama sudah berhasil dengan baik maka kunjungan berikutnya akan merupakan kunjungan yang menyenangkan bagi anak sebagai pasien dan dokter gigi yang merawatnya sehingga kunjungan pertama disebut sebagai kunci keberhasilan perawatan dan merupakan dasar yang nyata. Untuk mencapai tujuan ini perawatan harus dilangsungkan sedemikian rupa sehingga merupakan pengalaman yang menyenangkan dan anak akan mengenali dokter gigi dan lingkungannya.

14