Anda di halaman 1dari 8

KEBUTUHAN HARGA DIRI CITRA TUBUH

DISUSUN OLEH : MARIA INDRI W. RINI KURNIASIH AGUS SUYONO NURHADI SRI SETYOWATI SOFIA NUR FITRIANA (22020113183005) (22020113183007) (22020113183008) (220201131830 (220201131830 (22020113183015)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS DIPONEGORO 2013/2014

CITRA TUBUH (BODY IMAGE) A. PENGERTIAN Citra tubuh membentuk persepsi seseorang tentang tubuh, baik secara internal maupun eksternal. Persepsi ini mencakup perasaan dan sikap yang ditujukan pada tubuh. Citra tubuh dipengaruhi oleh pandangan pribadi tentang karakteristik dan kemampuan fisik oleh persepsi dan pandangan orang lain. Citra tubuh dipengaruhi oleh (Perry & Potter, 2005): 1. Pertumbuhan kognitif dan perkembangan fisik a. Perubahan perkembangan yang normal mempunyai efek yang lebih besar pada tubuh dibandingkan dengan aspek lainnya dari konsep diri. Citra tubuh anak sekolah berbeda dengan bayi. Perubahan ini tergantung pada kematangan fisik. b. Perubahan hormonal yang terjadi selama masa remaja dan pada akhir tahun kehidupan, misal menopause. c. Penuaan, mencakup penurunan ketajaman penglihatan, pendengaran dan mobilitas. 2. Sikap dan nilai kultural dan sosial Muda, cantik dan utuh adalah hal-hal yang ditekankan dalam masyarakat Amerika. Dalam kultur timur penuaan dipandang secara positif karena orang dengan usia tua lebih dihormati. Kultur barat terutama di Amerika Serikat telah terbiasa untuk takut terhadap proses penuaan yang normal. Misalnya menopause dalam kultur yang lain dipandang sebagai waktu di mana wanita mencapai kekuasaan dan kebijaksanaan. Sedangkan dalam kultur barat menopause adalah ketika wanita kurang disenangi secara seksual. Namun demikian, sekarang ini hal tersebut bukan lagi keyakinan yang umum, wanita menopause dan postmenopause mempetahankan rasa tentang diri mereka dan ketertarikan mereka sendiri bahkan lebih kuat. Citra tubuh merupakan sebagian dari konsep diri yang berkaitan dengan sifat-sifat fisik. Konsep diri adalah evaluasi individu mengenai diri sendiri oleh individu yang bersangkutan. Aspek utama dalam konsep diri adalah citra tubuh yaitu suatu kesadaran individu dan penerimaan terhadap physical self. Citra tubuh dikembangkan selama hidup melalui pola interaksi dengan orang lain. Perkembangan citra tubuh tergantung pada hubungan sosial dan merupakan proses yang panjang dan sering kali tidak menyenangkan, karena citra tubuh yang selalu diproyeksikan tidak selalu positif. (Hardy dan Hayes, 1988)

Citra tubuh adalah sikap atau cara pandang seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaaan tentang ukuran, bentuk, fungsi penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu yang secara berkesinambungan di modifikasi dengan pengalaman baru setiap individu. (Stuart dan Sundeen, 2001) Citra tubuh (body image) berhubungan dengan kepribadian. Cara individu memandang dirinya mempunyai dampak yang penting pada aspek psikologisnya. Pandangan yang realistis terhadap dirinya menerima dan mengukur bagian tubuhnya akan merasa lebih aman, sehingga terhindar dari rasa cemas dan meningkatkan harga diri. (Keliat, 1992) Merupakan komponen vital konsep diri, citra tubuh mengacu pada konsep diri dan sikap subjektif yang dimiliki individu terhadap tubuh mereka sendiri. Citra tubuh terdiri atas sifat fisiologis (persepsi tentang karakteristik fisik seseorang), psikologi (nilai dan sikap terhadap tubuh, kemampuan dan ideal diri) dan sifat sosial tentang citra diri seseorang (diri sendiri dalam kaitannya dengan orang lain. Citra tubuh adalah fenomena kompleks yang muncul dan berubah selama proses pertumbuhan dan perkembangan. B. CITRA TUBUH YANG POSITIF DAN NEGATIF 1. Citra tubuh yang positif a. Suatu persepsi yang benar tentang bentuk individu, individu melihat tubuhnya sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. b. Individu menghargai badan/tubuhnya yang alami dan individu memahami bahwa penampilan fisik seseorang hanya berperan kecil dalam menunjukkan karakter mereka dan nilai dari seseorang. c. Individu merasakan bangga dan menerimanya bentuk badannya yang unik dan tidak membuang waktu untuk mengkhawatirkan makanan, berat badan, dan kalori. 2. Citra tubuh yang negatif a. Suatu persepsi yang salah mengenai bentuk individu, perasan yang bertentangan dengan kondisi tubuh individu sebenarnya. b. Individu merasa bahwa hanya orang lain yang menarik dan bentuk tubuh dan ukuran tubuh individu adalah sebuah tanda kegagalan pribadi. c. Individu merasakan malu dan khawatir akan badannya. d. Individu merasakan canggung dan gelisah terhadap badannya.

C. PERKEMBANGAN CITRA TUBUH 1. BAYI (Usia 0-1 tahun) Pengalaman pertama bayi dengan tubuh mereka sangat ditentukan oleh kasih sayang dan sikap ibu yang menjadi dasar untuk perkembangan citra tubuh. Tanpa stimulasi yang adekuat dari kemampuan motorik dan penginderaan maka perkembangan citra tubuh dan konsep diri akan mengalami kerusakan. Bayi menerima masukan ke tubuhnya, tetapi bereaksi untuk itu dengan cara yang terdiferensiasi global. Saat ia secara bertahap mengeksplorasi bagian tubuhnya, menerima rangsangan dari orang lain, dan mulai memanipulasi lingkungan, ia menjadi sadar akan keterpisahan dari tubuhnya sendiri dari orang lain. Dalam pengembangan kesadaran tubuh, tubuh bagian luar yaitu tubuh yang dapat dilihat dan dirasakan, lebih mudah untuk mempelajari dan ditemukan lebih awal dari tubuh bagian dalam. 2. BALITA (Usia 1-3 tahun) Balita (todler) belajar untuk mengenali berbagai bagian tubuh mereka dan mampu menggunakan simbol untuk menunjukkan objek. Balita akan lebih menyukai tubuh dan dirinya. Mereka belajar mengontrol tubuh mereka melalui ketrampilan locomotion, toilet training, berbicara dan sosialisasi. 3. ANAK USIA DINI (3-6 tahun) Anak usia dini (pra sekolah) menyadari keutuhan tubuh mereka dan menemukan kelamin mereka. Eksplorasi genital dan penemuan perbedaan antara jenis kelamin menjadi penting. Hanya ada sebuah konsep yang samar tentang organ internal dan fungsinya. (Selekman, 1983. Stuart and Sundeen, 1995). Mereka belum dapat mendefinisikan ruang lingkup tubuhnya dengan baik dan mereka hanya memiliki sedikit pengetahuan mengenai anatomi internalnya. Pengalaman tertusuk sangat menakutkan, terutama yang mengganggu integritas kulit seperti injeksi dan pembedahan. Dengan meningkatnya pemahaman bahasa, anak usia dini mengenali bahwa individu memiliki penampilan yang diinginkan. Mereka mulai mengenali perbedaan warna kulit dan identitas rasial serta rentan mempelajari prasangka dan bias. Mereka menyadari makna kata seperti cantik atau buruk dan penampilan mereka mencerminkan pendapat orang lain. Pada usia 5 tahun anak mulai membandingkan tubuhnya dengan teman sebaya dan bisa menjadi sadar bahwa mereka tinggi atau pendek, terutama jika orang lain mengatakan mereka sangat besar atau sangat kecil untuk usia mereka.

4. ANAK-ANAK (Usia 6-12 tahun) Anak-anak mulai belajar tentang struktur dan fungsi tubuh internal dan menyadari perbedaan dalam ukuran dan konfigurasi tubuh. Mereka sangat dipengaruhi oleh norma budaya masyarakat dan mode terbaru. Anak yang mempunyai tubuh menyimpang atau berbeda seringkali dikritik atau ditertawakan oleh teman sebayanya. Pada masa ini pertumbuhan menjadi cepat dan identitas seksual menguat. Konsep diri dan citra tubuh dapat berubah pada saat ini karena anak terus berubah secara fisik, emosional, mental dan sosial. 5. REMAJA (Usia 12-20 tahun) Masa remaja membawa pergolakan fisik, emosional dan sosial. Sepanjang maturasi seksual, perasaan dan peran diintegrasikan ke dalam diri. Pertumbuhan yang cepat yang diperhatikan oleh remaja adalah faktor penting dalam penerimaan dan perbaikan citra tubuh. Masa remaja adalah ketika anak menjadi lebih berkonsentrasi pada fisik diri. Perubahan tubuh yang tidak familiar dan fisik yang baru terintegrasi ke dalam konsep diri. Remaja menghadapi konflik tentang apa yang mereka lihat dan pandang sebagai struktur tubuh ideal. Pembentukan citra tubuh selama remaja adalah elemen krusial dalam pembentukan identitas, atau menjadi krisis psikososial di masa nanti. 6. DEWASA MUDA (Usia 20-40 tahun) Perubahan fisik tubuh dan konsep diri pada masa dewasa awal relatif stabil. Untuk orang dewasa yang sehat pengalaman tubuh dari waktu ke waktu, aspek yang sangat fleksibel untuk pola hidup seseorang sehari-hari. Orang dewasa mempertahankan kesadaran sensasi tubuh dan berbaur ke dalam semua aspek kehidupan. Banyak pengalaman pada bagian tubuh seseorang harus menjadi respon otomatis, seperti berjalan dan bernapas. Aspek lain dari pengalaman tubuh muncul secara fleksibel disesuaikan kesenangan, seperti makan, orgasme, dan olahraga. Konsep diri dan citra tubuh adalah kreasi sosial, dan penghargaan dan penerimaan diberikan untuk penampilan normal dan perilaku yang sesuai berdasarkan standar sosial. Konsep diri secara konstan terus berkembang dan dapat diidentifikasikan dalam nilai, sikap dan perasaan tentang diri. 7. DEWASA MADYA (Usia 40-60 tahun) Perubahan fisik seperti penumpukan lemak, kebotakan, rambut memutih dan varises menyerang usia dewasa tengah. Terjadi sebagai akibat perubahan dalam produksi hormonal dan sering mengakibatkan penurunan dalam aktivitas yang mempengaruhi

citra tubuh yang selanjutnya dapat mengganggu konsep diri. Orang menyadari bahwa mereka tampak lebih tua. Penurunan stamina, daya tahan dan ketegapan juga berpengaruh terhadap pekerjaan mereka. Tingkat energi yang menurun ini sering menjadi akibat dari penurunan metabolisme basal dan tonus otot. Individu usia dewasa madya ini dapat merasa minder karena citra tubuh yang kuat digantikan dengan citra tubuh yang mencerminkan penuaan. 8. LANSIA (Lebih dari usia 60 tahun) Perubahan fisik pada lansia tampak sebagai penurunan bertahap struktur dan fungsi. Terjadi penurunan kekuatan dan tonus otot. Osteoporosis karena penurunan kepadatan dan masa tulang dapat meningkatkan resiko fraktur. Penurunan ketajaman pandangan karena proses penuaan adalah faktor yang mempengaruhi lansia dalam berinteraksi dengan lingkungan. Kehilangan pendengaran menyebabkan lansia menjadi mudah tersinggung, tidak sabar dan menarik diri. Penggunaan alat bantu dengar dapat sebagai ancaman lain terhadap citra tubuh. Kehilangan tonus kulit disertai keriput dapat mempengaruhi citra tubuh dan menyebabkan lansia merasa jelek dalam masyarakat yang menghargai kemudaan dan kecantikan.

D. SITUASI YANG MENGANCAM INTEGRITAS CITRA TUBUH 1. Kegagalan dalam perkembangan normal Misalnya pada laki-laki pada masa remaja yang sering diindetikkan dengan postur tubuh yang tinggi. Pada remaja laki-laki dengan postur tubuh pendek akan mengakibatkan gangguan pada citra tubuh mereka sehingga mereka akan menjadi malu dan minder dalam bergaul dengan teman sebayanya. 2. Perubahan dalam penampilan tubuh eksternal Seperti amputasi, perubahan penampilan wajah adalah stresor yang sangat jelas mempengaruhi citra tubuh. Mastektomi, kolostomi mengubah penampilan dan fungsi tubuh meski perubahan tersebut tidak tampak ketika individu yang bersangkutan mengenakan pakaian. Perubahan dalam penampilan tubuh eksternal juga berkaitan dengan tumbuh kembang dimana seseorang akan merasakan perubahan pada dirinya seiring dengan bertambahnya usia. Tidak jarang seseorang menanggapinya dengan respon negatif dan positif. Ketidakpuasan juga dirasakan seseorang jika didapati perubahan tubuh yang tidak ideal.

3. Perubahan fungsi tubuh Makna dari perubahan atau kehilangan fungsi tubuh dipengaruhi oleh persepsi individu tentang perubahan yang dialaminya. Citra tubuh terdiri atas elemen yang ideal dan nyata. Makin besar dan penting salah satu bagian tubuh maka makin besar ancaman yang dirasakan. Seperti hemiplegi, buta, tuli dapat mengakibatkan depersonalisasi yaitu tidak mengakui atau asing dengan bagian tubuh, sering berkaitan dengan fungsi syaraf.

E. KERUGIAN TERKAIT DENGAN PERUBAHAN TUBUH 1. Shock Shock psikologis merupakan reaksi emosional terhadap dampak perubahan dan dapat terjadi pada saat pertama adanya perubahan citra tubuh. Shock psikologis digunakan sebagai reaksi terhadap ansietas. 2. Penolakan Yaitu menyangkal atau tidak percaya atau belum menerima bahwa ia mengalami perubahan fisik tersebut. Informasi yang terlalu banyak dan kenyataan perubahan tubuh membuat klien menggunakan mekanisme pertahanan diri seperti mengingkari, menolak dan proyeksi untuk mempertahankan keseimbangan diri. 3. Kemarahan Marah kepada diri sendiri, orang lain atau bahkan kepada Tuhan mengapa ia yang harus mengalami perubahan citra tubuh tersebut. 4. Tawar menawar Pada saat ini masih sulit membayangkan mengapa harus mengalami kondisi yang berubah tersebut dan jika saja tidak mengalami kondisi tersebut. 5. Depresi Merasa sedih, merasa bersalah, merasa bahwa ia memang patut mengalami kondisi sakitnya. Klien menjadi pasif, tergantung, tidak ada motivasi dan keinginan untuk berperan dalam perawatannya. 6. Penerimaan Setelah klien sadar akan kenyataan maka respon kehilangan atau berduka muncul. Setelah fase ini klien mulai melakukan reintegrasi dengan gambaran diri yang baru.

DAFTAR PUSTAKA

Potter, Patricia A. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses dan Praktik Edisi 4. EGC : Jakarta Stuart GW., Sundeen SJ,. 2001. Principles and Practice of Psychiatric Nursing Fifth Edition. St. Louis. Mosby Wong, Donna L. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Volume 1. EGC : Jakarta