Anda di halaman 1dari 16

Contoh Kasus : Kecelakaan Kerja Pada Karyawan di Mesin Dinamo Pabrik

Bagian Pakaian Korban yang Tersangkut Puli Dinamo Yang Sedang Berputar

Musibah bermula sebelumnya sekitar pukul 07.40 saat akan dilakukan penggantian jam kerja, korban mengambil sampel lateks dibagian produksi. Namun sebelum mengambil sampel korban memutar arah jalan dari tempat yang dituju sehingga melintas dari bagian mesin yang bukan area lintasan. Saat melewati salah satu mesin, tiba-tiba ujung jilbab korban yang terjuntai kebawah tersangkut puli dinamo sehingga tergulung akibat jilbab tergulung akhirnya leher korban tercekik ditempat kejadian perkara dalam keadaan sepi karena seluruh karyawan bersiap-siap untuk pulang kerja untuk penggantian jam kerja sekitar pukul 08.00. Akibatnya tidak ada yang melihat korban sehingga tidak ada yang menolong dan mengakibatkan korban meninggal dunia.

Analisa : TAHAPAN PENYEBAB

Penyebab Umum

Jilbab korban yang terjuntai ke bawah tersangkut pada puli dinamo yang sedang berputar Penyebab Terperinci

Kelalaian korban dalam mengambil arah jalan yang bukan areal lintasan dan dalam memilih penggunaan pakaian kerja. Penyebab Pokok

Kebijakan pabrik Perusahaan Kurang memberikan pelatihan dan perhatian kepada pegawai mengenai keselamatan kerja agar tidak lalai dalam mengambil suatu tindakan yang beresiko tinggi. Kurangnya komunikasi yang baik antar pegawai kurangnya kepekaan pegawai terhadap lingkungannya tempat bekerja

Analisa : Strategi Pengendalian

memberikan pendidikan dan pelatihan keselamatati dan kesehatan kerja yang diperlukan pekerja guna meningkatkan pengetahuan keselamatan dan kesehatan kerja, demi mencegah terjadinya kecelakaan yang sama. selama melakukan proses pekerjaaan yang berbahaya, seperti pembersihan mesin, penambahan minyak, pemeriksaan, perbaikan, pengaturan, mesin harus berhenti beroperasi. Untuk mencegah orang lain menghidupkan mesin, maka mesin harus dikunci atau diberi tanda peringatan, perusahaan harus memasang tutup pengaman atau peralatan pembatas. Operator mesin ataupun alat produksi lainnya sebailrnya diberi peringatan setiap sesudah dan sebelumnya mengoperasikan apakah ada petugas yang masih disana ataupun tidak. sebaiknya operator mesin dilatih agar tetap siaga dan tanggap dengan tanggung jawabnya. Seluruh tugas keselamatan dan kesehatan tenaga kerjaa harus bertanggung jawab menjalankan penanggulangan kecelakaan, rencanaa penanganan darurat, serta melakukan bimbingan pelaksanaan setiap bagian. Komunikasi antar pegawai hams selalu terjaga dengan baik agar saling memperhatikan satu sama lain sehingga mampu meminimalisir peluang kecelakaan yang terjadi.

analisis kasus 'kesehatan kerja'

BAB 3. STUDI KASUS DAN PEMBAHASAN

3.1 Studi Kasus 1 Kurang Efisien Periksa Pilot Satu Persatu Penulis : Ester Meryana | Jumat, 10 Februari 2012 | 20:48 WIB

KOMPAS.comIlustrasi JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Kepala Keselamatan dan Lingkungan Indonesia National Air Carrier Association (INACA), Novianto Herupratomo, mengatakan pemeriksaan kesehatan awak pesawat secara satu persatu menjelang keberangkatan kurang efisien dari segi waktu. Prosesnya pun terbilang kompleks. "Menurut saya bukan nggak mungkin (diperiksa satu per satu jelang keberangkatan). Tapi mau butuh berapa jam sebelum terbang. Dan jam kerjanya pilot mau dikasih berapa jam. Jadi nggak efisien. Menjadi tidak terimplementasi secara baik," kata Novianto kepada Kompas.com, di Jakarta, Jumat (10/2/2012). Selain masalah waktu, proses pemeriksaan kesehatan pun menjadi lebih kompleks. Apalagi alat deteksi penggunaan narkoba dan alkohol bisa berbeda-beda waktu prosesnya. "Ada alat deteksi yang bisa mendeteksi 4 jam, bisa mendeteksi 2 hari bahkan sampai 2 tahun," ujarnya. Lagi pula, kata Novianto, secara umum belum ada peraturan atau regulasi penerbangan sipil yang mengatur mengenai tes kesehatan sebelum berangkat khususnya untuk penerbangan komersial. Secara khusus, biasanya itu dilakukan untuk awak pesawat tempur atau penerbangan khusus. "Belum pernah ada (aturan pemeriksaan kesehatan jelang keberangkatan di luar negeri). Yang ada dilakukan random check. Random check itu bukan semua orang dicek," pungkasnya.

Untuk diketahui saja, belakangan ini industri penerbangan nasional sedang disorot menyusul tertangkapnya lagi seorang pilot Lion Air ketika mengonsumsi narkoba. Petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) melakukan penangkapan terhadap seorang pilot Lion Air, SS, di Hotel Garden Palace, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (4/2/2012) pukul 03.30 WIB. SS ditangkap di kamar 2109 dengan barang bukti berupa bong berisi sabu 0,04 gram. Dari hasil tes urin diketahui SS positif menggunakan sabu. Belum lama ini, pilot Lion Air juga tertangkap menggunakan narkoba di Makassar. 3.1.1 Permasalahan Permasalahan dalam kasus ini, pemeriksaan kesehatan pada awak pesawat yang dilakukan sebelum berangkat dinilai kurang efisien dari segi waktu. Karena menurut pihak terkait, pemeriksaan kesehatan membutuhkan waktu yang lama karena prosesnya tidak sedikit. 3.1.2 Landasan Hukum Per.02/Men/1980 tentang Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja dalam penyelenggaraan keselamatan kerja Pasal 3 ayat 1 : Pemeriksaan Kesehatan Berkala dimaksudkan untuk mempertahankan derajat kesehatan tenaga kerja sesudah berada dalam pekerjaannya serta menilai kemungkinan adanya pengaruh-pengaruh dari pekerjaan seawal mungkin yang perlu dikendalikan dengan usaha-usaha pencegahan UU No 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan pada Bab 12 Tentang Kesehatan Kerja

Pasal 165 ayat 1 : pengelola tempat kerja wajib melakukan segala bentuk upaya kesehatan melalui upaya pencegahan, peningkatan, pengobatan dan pemulihan bagi tenaga kerja Pasal 166 ayat 1 : majikan atau pengusaha wajib menjamin kesehatan pekerja melalui upaya penceegahan, peningkatan, pengobatan dan pemulihan serta wajib menanggung seluruh biaya pemeliharaan kesehatan pekerja. 3.1.3 Analisis Pengelola tempat kerja wajib melakukan segala bentuk upaya kesehatan melalui upaya pencegahan, peningkatan, pengobatan dan pemulihan tenaga kerja. Pemeriksaan kesehatan pilot sebelum keberangkatan pesawat termasuk dalam upaya pencegahan terjadinya kecelakaan. Mengingat disini pilot sebagai pengendali jalannya pesawat dan bertanggung jawab penuh atas keselamatan penumpangnya. Pemeriksaan kesehatan awak pesawat sangat penting, oleh karena itu sebaiknya harus diupayakan untuk dilakukan karena jika diabaikan akan berbahaya. Dengan dilakukannya pemeriksaan kesehatan dapat mendiagnosis secara dini para awak pesawat sedang dalam keadaan sakit atau mengkonsumsi narkoba. Pemeriksaan berkala tidak harus dialakukan setiap kali keberangkatan, tetapi dapat dilakukan minimal satu bulan sekali.

3.2 Studi Kasus 2 Sabtu, 13 April 2013 | 20:16:03 WITA Lion Air Tidak Berkomentar Pilot Tak Periksa Medis Sebelum Terbang | 394 HITS

JAKARTA,FAJAR -- Pesawat Lion Air Boeing 737-800 NG bernomor penerbangan JT 904 memang merupakan pesawat baru. Namun demikian pilot yang menerbangkan pesawat itu merupakan pilot kawakan yang sudah berpengalaman. Pilot yang menerbangkan pesawat yang diterima pada Maret 2013 itu bernama . Ghozali. "Dia mempunyai pengalaman terbang 10 ribu jam lebih," ujar Direktur Umum Lion Air, Edward Sirait saat konferensi pers di Lion Air Tower, Jakarta, Sabtu (13/4). Edward menerangkan, pilot Lion Air menjalani tes kesehatan setiap 6 bulan sekali. Jika hasilnya tidak sesuai dengan ketentuan yang ada maka pilot tersebut akan dicopot lisensinya. Namun demikian Edward enggan berkomentar saat disinggung Ghozali tidak menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum menerbangkan pesawat. "No comment," terang dia. Sementara itu mengenai pemeriksaan tes urin pilot, diakui Edward, hal tersebut dilakukan secara acak. Namun dia mengaku pilot dalam kondisi baik saat menerbangkan pesawat. "Pilot dalam keadaan sehat," tandasnya. Seperti diberitakan, pesawat Lion Air Boeing 737-800 NG membawa 101 penumpang dengan komposisi 95 dewasa, 5 anak-anak dan 1 bayi. Kemudian ada 7 awak pesawat. Edward mengatakan mereka semua dalam keadaan selamat. "Proses evakuasi awak pesawat dengan penumpang berjalan dengan baik," terang dia. (jpnn) Berita terkait lainnya

Minggu, 14 April 2013 | 06:52:21 WITA | 214 HITS Analisis Ahli Biomedik Penerbangan Kecelakaan Undershoot, Dugaan Human Error Menguat

JAKARTA,FAJAR - Secara resmi penyebab jatuhnya pesawat Lion Air di Bandara Ngurah Rai, Bali masih belum di lansir. Tetapi sejumlah praktisi mulai menduga-duga penyebab jatuhnya pesawat berlogo kepala singa bersayap itu. Diantara analisis dugaan kecelakaan dikeluarkan oleh ahli biomedik penerbangan DR dr Wawan Mulyawan SpBS FS. Wawan menguraikan analisis jatuhnya pesawat yang memiliki durasi terbang delapan bulan itu. Dia menduga kuat jika pesawat berpenumpang seratus orang lebih ini telah mengalami undershoot atau jatuh karena terlalu cepat mendarat. Dia menganalisa jika faktor kerusakan mesin sangat kecil kemungkinan menjadi penyebab kecelakaan ini. Sebab sesuai dengan pernyataan pihak Lion Air, pesawat ini baru dan sudah dinyatakan layak terbang. Pesawat ini tidak bermasalah dan masih gres, katanya. Dengan analisis tersebut, penyebab kecelakaan tinggal ada dua faktor yakni human error dan cuaca (weather). Namun untuk faktor weather, dengan alat navigasi canggih yang dimilikinya, seharusnya sangat kecil akan menimbulkan kecelakaan. Karena sudah diantisipasi dengan baik, jelas dia. Wawan lantas mengatakan dugaan penyebab kecelakaan ini mengarah pada human error. Faktor ini memang menjadi penyebab terbesar yang paling sering menyebabkan kecelakaan, ujarnya. Dia menguraikan jika ada kemungkinan pilot mengalami kelelahan (fatigue). Dia menyimpulkan faktor kelelahan itu karena dilihat dari model kecelakaan yang tergolong undershoot. Kecelakaan jenis undershoot jika merupakan kesalahan manusia (human error, red) adalah kesalahan elementer yang seharusnya tidak boleh terjadi, papar Wawan. Dia menerangkan jika sangat mungkin pilot tidak konsentrasi dalam mendaratkan pesawat. Sehingga ketika diperburuk dengan cuaca yang mulai gelap, terjadi kesalahan dalam mengambil keputusan pendaratan. Keputusan yang salah saat menduga roda pesawat sudah akan menyentuh landasan, padahal masih di atas laut, kata dia.

Alasan penyebab kelelahan muncul dari sistem manajemen atau rotasi pilot dan co-pilot. Wawan mengatakan perusahaan penerbangan yang tumbuh cepat seperti Lion Air sangat mungkin sulit memenuhi standar 1:4. Yakni setiap 1 unit pesawat harus menyediakan 4 crew setting. Artinya setiap pesawat harus menyediakan 4 pilot dan 4 co-pilot yang dirotasi untuk menerbangkan satu pesawat. Sehingga jika Lion Air mempunyai sekitar 178 unit pesawat baru Boeing 737 yang telah dipromosikan di mana-mana, Wawan mengatakan harusnya maskapai memiliki sekitar 700 pilot dan 700 co-pilot. Saya mohon maaf, tidak yakin Lion Air mempunyai penerbang sebanyak itu. Maaf jika saya salah, kata Wawan. Karena jumlah penerbangnya kurang, maka terjadi beban kerja yang sangat padat. Kepadatan beban kerja ini memungkinkan sekali menjadi penyebab kelelehan muncul pada pilot. Karena lelah itu kemudian menyebabkan mudah mengambil keputusan yang salah, jelas Wawan. Dia mengatakan terus memperdalam kasus kecelakaan Lion Air ini untuk keselamatan dunia penerbangan di Indonesia. (jpnn) 3.1.1 Permasalahan Penyebab kecelakaan yang dialami pesawat Lion Air baru-baru ini masih menimbulkan banyak spekulasi. Menurut Direktur Umum Lion Air, pilot Lion Air menjalani tes kesehatan setiap 6 bulan sekali. Jika hasilnya tidak sesuai dengan ketentuan yang ada maka pilot tersebut akan dicopot lisensinya. Namun demikian Direktur tersebut enggan berkomentar saat disinggung mengenai pilot yang tidak menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum menerbangkan pesawat. Ada yang menduga kecelakaan ini terjadi karena faktor cuaca dan Human Error. Human Error merupakan faktor yang menjadi penyebab terbesar yang paling sering menyebabkan kecelakaan. Ada kemungkinan pilot mengalami kelelahan (fatigue) sehingga sangat mungkin pilot tidak konsentrasi dalam mendaratkan pesawat. 3.1.2 Landasan Hukum Dari studi kasus diatas undang-undang, peraturan, dan keputusan menteri yang terkait adalah sebagai berikut: UU No 36 tahun 2009 tentang kesehatan pada bab 12 tentang kesehatan kerja Pasal 164. Ayat 1 : upaya kesehatan kerja ditujukan untuk melindungi pekerja agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan Ayat 2 : upaya kesehatan kerja sebagaimana yang dimaksud pada ayat 1 meliputi pekerja di sektor formal dan informal

Ayat 7 : pengelola tempat kerja wajib bertanggung jawab atas kecelakaan kerja yang terjadi di lingkungan kerja sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan Pasal 165 Ayat 1 : pengelola tempat kerja wajib melakukan segala bentuk upaya kesehatan melalui upaya pencegahan, peningkatan, pengobatan dan pemulihan bagi tenaga kerja Ayat 2 : pekerja wajib menciptakan dan menjaga kesehatan tempat kerja yang sehat dan menaati peraturan yang berlaku di tempat kerja Pasal 166 Ayat 1 : majikan atau pengusaha wajib menjamin kesehatan pekerja melalui upaya pencegahan, peningkatan, pengobatan dan pemulihan serta wajib menanggung seluruh biaya pemeliharaan kesehatan pekerja Per.02/Men/1980 Pasal 1 b : pemeriksaan kesehatan berkala adalah pemeriksaan kesehatan pada waktu-waktu tertentu terhadap tenaga kerja yang dilakukan oleh dokter. Dalam hal ini perusahaan (pihal lion air) telah menyatakan bahwa pilot Lion Air menjalani tes kesehatan setiap 6 bulan sekali. Pernyataan tersebut didukung dengan pasal 3 ayat 2 yang menyebutkan bahwa perusahaan harus melakukan pemeriksaan kesehatan berkala bagi tenaga kerja sekurang-kurangnya 1 tahun sekali kecuali ditentukan lain oleh Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Perburuhan dan Perlindungan Tenaga Kerja. c : pemeriksaan kesehatan khusus adalah pemeriksaan kesehatan yang dilakukan oleh dokter secara khusus terhadap tenaga kerja tertentu. Pasal 5 Ayat 1 : Pemeriksaan kesehatan secara khusus dimaksudkan untuk menilai adanya pengaruhpengaruh dari pekerjaan tertentu terhadap tenaga kerja atau golongan-golongan tenaga kerja tertentu. Pasal 9 Pengurus bertanggung jawab atas biaya yang diperlukan terhadap pemeriksaan kesehatan berkala taua pemeriksaan kesehatan khusus yang dilaksanakan atas perintah baik oleh Pertimbangan Kesehatan Daerah ataupun oleh Majelis Pertimbangan Kesehatan Pusat Pasal 10 Pengurus yang tidak mentaati ketentuan-ketentuan dalam Peraturan ini diancam dengan hukuman sesuai dengan pasal 15 ayat (2) dan (3) Undang-undang No 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja (ancaman pidana dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 bulan atau denda setinggi-tingginya Rp. 100.000,-)

3.1.3 Analisis Dalam kasus ini pemeriksaan khusus diperlukan untuk menilai atau mendeteksi ada atau tidaknya faktor kelelahan yang dialami pilot mengingat jam terbang pilot tersebut yang panjang. Seharusnya dalam hal ini pilot mendapatkan pemeriksaan secara khusus sebelum dia mengemudikan pesawat, mengingat dia bertanggung jawab atas keselamatan banyak orang. Pihak Lion Air harus lebih waspada dan harus lebih ketat lagi terhadap pelaksanaan upaya kesehatan kerja mengingat Lion Air adalah perusahaan yang melayani penerbangan yang menanggung keselamatan penumpangnya, selain itu sudah pernah terjadi kasus pemakaian narkoba oleh pilot Lion Air. Pemberian sanksi pada pilot yang tidak melaksanakan atau menaati peraturan yang mengharuskan dia melakukan tes atau pemeriksaan kesehatan untuk menjamin status kesehatannya sebelum dia mengemudikan pesawat perlu di tegakkan untuk lebih menjamin keselamatan penumpang. 3.3 Studi Kasus 3 Senin, 25 Maret 2013 | 16:04 Ratusan Karyawan Tambang Batubara Bawah Tanah Demo ke DPRD Bengkulu

Batu bara (sumber: Antara) Bengkulu - Sekitar 100 karyawan PT Finxiang, yang bergerak dalam bidang usaha pertambangan batubara di bawah tanah di Kecamatan Tabah Penanjung, Kabupaten Bengkulu Tengah, Bengkulu, Senin (25/3) mendatangi kantor DPRD Provinsi Bengkulu untuk menyampaikan aspirasi atas upah kerja yang mereka terima tidak seimbang dengan resiko yang akan dialami. "Kami datang menemui anggota DPRD Provinsi Bengkulu bukan demo, tapi untuk menyampaikan aspirasi atas upah kerja yang kami terima dari PT Finxiang tidak sebanding dengan resiko kerja yang akan menimpa para pekerja. Kami berharap DPRD sebagai wakil kami dapat memperjuangkan kepada pihak perusahaan," kata Salman (27), salah seorang pekerja PT Finxiang yang ikut dalam aksi damai tersebut. Ia mengatakan, selain upah kerja yang mereka terima sangat rendah dibawah upah minimum provinsi (UMP) juga peralat kerja yang digunakan para pekerja tidak standar, serta tidak dimasukan dalam program Jamsostek. Padahal, resiko pekerja tinggi karena bekerja dibawah tanah.

Selain itu, para pekerja tidak diberikan makanan tambahan dari perusahaan, seperti susu dan makanan bergizi lainnya. Padahal, mereka bekerja siang malam dibawah perut bumi. "Terus terang jika waktu-waktu terowongan runtuh, siapa bertangung jawab. Apalagi lagi Bengkulu merupakan salah satu daerah rawan gempa, sehingga resiko yang akan mengancam kami sebagai pekerja tambang batubara di bawah tanah cukup tinggi," ujarnya. Untuk itu, para pekerja mengharapkan pihak perusahaan memberikan gaji yang seimbang dengan resiko yang dialami para buruh. "Kami tidak minta gaji besar-besar, tapi minimal diatas UMP tahun 2013 yang ditetapkan Gubernur Bengkulu sebesar Rp 1,2 juta per bulan. Selain itu, alat kerja yang diberikan kepada pekerja benar-benar standar, sehingga kami nyaman saat bekerja," ujarnya. Selain itu, seluruh pekerja harus dimasukan ke program Jamsostek. Sebab, sesuai ketentuan perusahaan wajib karyawannya di masukan ke program Jamsostek. Dengan demikian, jika terjadi kecelakaan dalam bekerja kami dilindungi oleh ansuransi. Demikian pula jika sakit para pekerja tidak mengeluarkan biaya sendiri karena sudah ditanggung oleh Jamsostek. "Kami berharap tuntutan kami dapat diperjuangkan anggota DPRD Provinsi Bengkulu ke perusahaan tempat kami bekerja," ujarnya. Setelah menyampaikan orasi di depan kantor DPRD Provinsi Bengkulu, sebanyak 10 orang dari perwakilan pekerja diterima enam anggota DPRD Provinsi Bengkulu, di antaranya Ahmad Ismail, Yenita Fitriani, Septi Yuslina dan Syafrianto Daud, Ferial dan Rahimandani. Dalam pertemuan itu, anggota DPRD Provinsi Bengkulu berjanji akan berkoordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi untuk memanggil Direktur PT Finxiang dalam waktu dekat guna membahas tuntutan para pekerja tersebut. "Kami segera menindaklanjuti tuntutan dari para pekerja dengan memanggil Pimpinan PT Finxiang secepatnya, sehingga persoalan ini dapat diselesaikan secepatnya," kata salah seorang anggota DPRD Provinsi Bengkulu, Rahimandani. Selain itu, sejumlah DPRD Provinsi Bengkulu, akan turun ke lapangan untuk melihat langsung lokasi kerja para buruh tersebut. "Kita upayakan dalam pekan ini, turun ke lapangan untuk melihat lokasi kerja para buruh tersebut. Kalau kita sudah melihat langsung ke lapangan maka persoalan ini bisa dituntaskan," ujarnya. 3.3.1 Permasalahan Sekitar 100 karyawan PT Finxiang, yang bergerak dalam bidang usaha pertambangan batubara di bawah tanah di Kecamatan Tabah Penanjung, Kabupaten Bengkulu Tengah, Bengkulu, Senin (25/3) mendatangi kantor DPRD Provinsi Bengkulu untuk menyampaikan aspirasi mengenai : upah kerja yang mereka terima tidak seimbang dengan resiko yang akan dialami. peralatan kerja yang digunakan para pekerja tidak standar

Pekerja tidak dimasukan dalam program Jamsostek. Padahal, resiko pekerja tinggi karena bekerja dibawah tanah. Para pekerja tidak diberikan makanan tambahan dari perusahaan, seperti susu dan makanan bergizi lainnya. Padahal, mereka bekerja siang malam dibawah perut bumi 3.3.2 Landasan Hukum Per.01/Men/1981 Tentang Kewajiban Melapor Penyakit Akibat Kerja Pasal 4 1) Pengurus wajib dengan segera melakukan tindakan-tindakan preventif agar penyakit akibat kerja yang sama tidak terulang kembali diderita oleh tenaga kerja yang berada dibawah pimpinannya. 2) Apabila terdapat keraguan-keraguan terhadap hasil pemeriksaan yang telah dilakukan oleh Dokter, pengurus dapat meminta bantuan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi dalam hal ini aparatnya untuk menegakkan diagnosa penyakit akibat kerja. 3) Pengurus wajib menyediakan secara cuma-cuma semua alat perlindungan diri yang diwajibkan penggunaannya oleh tenaga kerja yang berada di bawah pimpinannya untuk pencegahan penyakit akibat kerja. Pasal 5 (4) Tenaga kerja berhak meminta pada pengurus agar dilaksanakan semua syarat-syarat pencegahan penyakit akibat kerja sebagaimana ditetapkan pada pasal 4 ayat (1) dan ayat (3). (5) Tenaga kerja berhak menyatakan keberatan untuk melakukan pekerjaan pada pekerjaan yang diragukan keadaan pencegahannya terhadap penyakit akibat kerja. Pasal 8 Pengurus yang tidak mentaati ketentuan-ketentuan dalam peraturan Menteri ini, diancam dengan hukuman sesuai dengan pasal 15 ayat (2) dan (3) Undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja.

Per.03/Men/1982 Tentang Pelayanan Kesehatan Tenaga Kerja. Pasal 1

Dalam peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: a. Pelayanan Kesehatan adalah usaha kesehatan yang dilaksanakan dengan tujuan:

1. Memberikan bantuan kepada tenaga kerja dalam penyesuaian diri baik fisik maupun mental, terutama dalam penyesuaian pekerjaan dengan tenaga kerja. 2. Melindungi tenaga kerja terhadap setiap gangguan kesehatan yang timbul dari pekerjaan atau lingkungan kerja. 3. Meningkatkan kesehatan badan, kondisi mental (rohani) dan kemampuan fisik tenaga kerja.

4. Memberikan pengobatan dan perawatan serta rehabilitasi bagi tenaga kerja yang menderita sakit.

3.3.3 Analisis Adalah hak pekerja untuk mendapatkan peralatan kerja yang aman untuk terhindar dari penyakit akibat kerja serta mendapatkan perlindungan sebagai upaya pencegahan preventif dari penyakit akibat kerja. Dan semua itu adalah kewajiban pengusaha untuk memenuhi hak-hak pekerja tersebut. Karena dalam peraturan yang telah dijelaskan di atas sudah jelas tertuang mengenai hal-hal tersebut.

3.4 Studi Kasus 4 Minggu, 7 April 2013 | 02:52 WIB Mengidap Dua Penyakit Sejak Jadi Anggota DPR

INILAH.COM, Jakarta - Idiom populer D3 (Duduk, Diam, Duit) yang menggambarkan tingkah laku anggota DPR tidaklah berlaku bagi politikus PPP Ahmad Yani. Pasalnya, sejak menjadi anggota DPR justru terserang dua penyakit. Tidak sedikit anggota DPR yang benar-benar bekerja sebagaimana diatur dalam konstitusi yakni legislasi, pengawasan dan penganggaran. "Sejak saya menjadi anggota DPR justru saya terkena dua penyakit yakni lambung dan darah tinggi," ujar Yani dalam diskusi di ruang Fraksi PPP DPR Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Kamis (4/4/2013). Yani menyebutkan penyebab penyakit yang ia derita itu tidak terlepas dari pola kerja DPR yang membutuhkan stamina dan energi yang tidak sederhana. Ia mencontohkan, pola makan pun kerap tidak sesuai jam makan orang pada umumnya. "Makan siang jatuhnya di sore atau malam hari," ujar Yani. Ia juga menyebutkan rapat di DPR juga kerap dilakukan hingga larut malam. Akibat mengidap dua penyakit tersebut, Yani mengaku harus mengkonsumsi obat-obatan untuk mengurangi sakit yang ia derita. "Saya ini minum obat seumurr hidup. Jadi hasil di DPR selama ini kena sakit lambung dan darah tinggi," beber Yani sembari tetap tersenyum. [mdr] 3.4.1 Permasalahan Ahmad Yani adalah seorang anggota DPR, beliau menyatakan menderita dua penyakit yakni lambung dan darah tinggi. Penyakit tersebut muncul sejak beliau menjadi anggota DPR. Menurutnya, penyebab penyakit yang ia derita itu tidak terlepas dari pola kerja DPR yang membutuhkan stamina dan energi yang tidak sederhana. Dari sini dapat disimpulkan bahwa adanya keluhan penyakit akibat kerja yang diderita oleh anggota DPR, Ahmad Yani. 3.4.2 Landasan Hukum Per.01/Men/1981 Tentang Kewajiban Melapor Penyakit Akibat Kerja

Pasal 1 (a) : penyakit akibat kerja adalah setiap penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja

Pasal 2 Ayat 1 : apabila dalam pemeriksaan kesehatan bekerja dan pemeriksaan kesehatan khusus sebagaimana ditetapkan dalam peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No Per.02/Men/1980 ditemukan penyakit kerja yang diderita oleh tenaga kerja, pengurus dan Badan yang ditunjuk wajib melaporkan secara tertulis kepada Kantor Direktorat Jenderal Pembinaan Hubungan Perburuhan dan Perlindungan Tenaga Kerja setempat Per.02/Men/1980 Tentang Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja dalam Penyelenggaraan Keselamatan Kerja Pasal 3 Ayat 1 : pemeriksaan kesehatan berkala dimaksudkan untuk mempertahankan derajat kesehatan tenaga kerja sesudah berada dalam pekerjaannya, serta menilai kemungkinan adanya pengaruhpengaruh dari pekerjaan seawal mungkin yang perlu dikendalikan dengan usaha-usaha pencegahan Ayat 6 : dalam hal ditemukan kelainan-kelainan atau gangguan-gangguan kesehatan pada tenaga kerja pada pemeriksaan berkala, pengurus wajib mengadakan tindak lanjut untuk memperbaiki kelainan-kelainan tersebut dan sebab-sebabnya untuk menjamin terselenggaranya keselamatan dan kesehatan kerja Pasal 5 ayat 3 : pemeriksaan kesehatan khusus diadakan pula apabila terdapat keluhan-keluhan diantara tenaga kerja, atau atas pengamatan pegawai pengawas keselamatan dan kesehatan kerja, atau atas penilaian Pusat Bina Hyperkes dan Keselamatan dan Balai-balainya atau atas pendapat umum di Masyarakat Kep.333/Men/1989 Tentang Diagnosis dan Pelaporan Penyakit Akibat Kerja

Pasal 2 ayat 1 : penyakit akibat kerja dapat ditemukan atau didiagnosis sewaktu dilaksanakan pemeriksaan kesehatan tenaga kerja Pasal 3 ayat 1 : diagnosis penyakit akibat kerja ditegakkan melalui seraangkaian pemeriksaan klinis dan pemeriksaan kondisi pekerja serta lingkungannya untuk membuktikan adanya hubungan sebab akibat antara penyakit dan pekerjaannya. 3.4.3 Analisis Pemeriksaan kesehatan berkala diperlukan dalam kasus ini untuk memantau kesehatan pekerja atau pemeriksaan khusus juga dapat dilakukan bila ada keluhan-keluhan tenaga kerja. Penyakit yang diderita oleh salah satu anggota DPR diatas termasuk dalam penyakit akibat kerja karena beliau menyatakan penyakit tersebut muncul sejak dirinya menjadi anggota DPR. 3.5 Studi Kasus 5 Dermatosis pada Pekerja Industri Batik Penyakit akibat kerja yang paling banyak terjadi adalah dematosis akibat kerja yaitu sekitar 50 60 %. Salah satu penyebab dermatosis akibat kerja adalah karena bahan kimia yang dapat menyebabkan dermatosis kontak. dalam industri tekstil, bahan kimia merupakan bahan yang paling banyak

digunakan. Seperti industri tekstil pada umumnya, industri batik yang banyak berdiri di Surakarta ini tidak bisa lepas dari penggunaan bahan kimia. Telah dilakukan suatu penelitian dengan tujuan untuk mengetahui proporsi dermatosis serta gambaran faktor-faktor yang diduga berkaitan dengan timbulnya dermatosis pada pekerja industri batik di kota Surakarta. Faktor-faktor tersebut adalah faktor kimia (emakaian bahan kimia) dan faktor karakteristik tenaga kerja seperti masa kerja, umur, lama paparan, pemakaian APD, riwayat penyakit kulit tertentu, riwayat alergi pada kulit, dan kebersihan perorangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi dermatosis karena bahan kimia pada pekerja industri batik di Surakarta adalah 32,7 %. Pekerja yang menggunakan bahan kimia lebih banyak menderita dermatosis (54,5 %). Kelompok umur < 25 tahun lebih banyak menderita dermatosis daripada yang berumur > 25 tahun. Pekerja dengan masa kerja < 1 tahun lebih banyak menderita dermatosis daripada yang masa kerjanya > 1 tahun. Pekerja yang terpapar bahan kimia > 4 jam sehari lebih banyak yang dermatosis daripada yang terpapar 1 4 jam sehari. Pekerja yang tidak mempunyai riwayat penyakit kulit lebih cenderung terkena dermatosis daripada yang mempunyai riwayat penyakit kulit. Pekerja yang mempunyai riwayat alergi pada kulit cenderung terkena dermatosis daripada yang tidak mempunyai riwayat alergi pada kulit. Pekerja yang selalu memakai APD sarung tangan juga cenderung terkena dermatosis daripada yang kadang-kadang atau tidak pernah memakai sama sekali. Pekerja yang kebersihan perorangannya buruk lebih banyak yang dermatosis daripada yang kebersihan perorangannya baik atau sedang. 3.5.1 Permasalahan Penyakit akibat kerja yang paling banyak terjadi adalah dematosis akibat kerja yaitu sekitar 50 60 %. Salah satu penyebab dermatosis akibat kerja adalah karena bahan kimia yang dapat menyebabkan dermatosis kontak. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi dermatosis karena bahan kimia pada pekerja industri batik di Surakarta adalah 32,7 %. Pekerja yang menggunakan bahan kimia lebih banyak menderita dermatosis (54,5 %). 3.5.2 Landasan Hukum Per.02/Men/1980 Tentang Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja Dalam Penyelenggaraan Keselamatan Kerja Pasal 3 ayat 1 : pemeriksaan kesehatan berkala dimaksudkan untuk mempertahankan derajat kesehatan tenaga kerja sesudah berada dalam pekerjaannya, serta menilai kemungkinan adanya pengaruh-pengaruh dari pekerjaannya, serta menilai kemungkinan adanya pengaruh-pengaruh dari pekerjaan seawal mungkin yang perlu dikendalikan dengan usaha-usaha pencegahan. Per.01/Men/1981 Tentang Kewajiban Melapor Penyakit Akibat Kerja

Pasal 2 ayat 1: Apabila dalam pemeriksaan kesehatan bekerja dan pemeriksaan kesehatan khusus sebagaimana ditetapkan dalam peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per.02/Men/1980 ditemukan penyakit kerja yang diderita oleh tenaga kerja, pengurus dan Badan yang ditunjuk wajib melaporkan secara tertulis kepada Kantor Direktorat Jenderal Pembinaan Hubungan Perburuhan dan Perlindungan Tenaga Kerja setempat.

Pasal 3 ayat 1 : laporan sebagaimana yang dimaksud pasal 2 ayat (1) harus dilakukan dalam waktu paling lama 2x24 jam setelah penyakit tersebut dibuat diagnosanya Pasal 4 1) Pengurus wajib dengan segera melakukan tindakan-tindakan preventif agar penyakit akibat kerja yang sama tidak terulang kembali diderita oleh tenaga kerja yang berada dibawah pimpinannya. 2) Pengurus wajib menyediakan secara Cuma-Cuma semua alat perlindungan diri yang diwajibkan penggunaannya oleh tenaga kerja yang berada di bawah pimpinannya untuk pencegahan penyakit akibat kerja Pasal 5 ayat (1) sampai (5) 3.5.3 Analisis Dari beberapa penelitian menyatakan bahwa Penyakit akibat kerja yang paling banyak terjadi adalah dematosis akibat kerja yaitu sekitar 50 60 %. Ini terbukti dengan hasil penelitian yang dilakukan pada pekerja batik di Surakarta yang menyatakan bahwa proporsi dermatosis karena bahan kimia pada pekerja industri batik di Surakarta adalah 32,7 %. Pekerja yang menggunakan bahan kimia lebih banyak menderita dermatosis (54,5 %). Dermatosis adalah segala bentuk kelainan kulit yang timbul pada waktu bekerja atau disebabkan oleh pekerjaan. Istilah dermatosis lebih tepat dari pada dermatitis, sebab kelainan kulit akibat kerja tidak selalu suatu peradangan, melainkan juga tumor dan alergi. Dalam kasus ini, hal yang seharusnya dilakukan oleh pemilik usaha terutama perusahaan yang bergerak di bidang kimia atau pemakaian zat kimia seperti industri tekstil adalah menjamin kesehatan pekerjanya dengan menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan secara berkala karena dengan mempertimbangkan paparan pekerja terhadap bahan kimia secara terus menerus saat bekerja menyebabkan besarnya peluang bagi pekerja untuk terserang dermatosis. Selain itu, perusahaan juga diharapkan menyusun program pencegahan untuk mengatasi permasalahan tersebut.