Anda di halaman 1dari 7

Masalah negara merupakan urusan duniawi yang bersifat umum, karena itu ia termas uk wilayah ijtihad umat Islam.

Mereka harus berusaha untuk menjadikan al-Qur'n se bagai sistem yang konkrit supaya dapat diterjemahkan dalam pemerintahan sepanjan g zaman. Dalam rangka menyusun teori politik mengenai konsep negara yang ditekan kan bukanlah struktur "negara Islam", melainkan substruktur dan tujuannya. Struk tur negara termasuk wilayah ijtihad kaum muslimin sehingga bisa berubah. Sementa ra substruktur dan tujuannya tetap menyangkut prinsip-prinsip bernegara secara I slami. Namun penting untuk dicatat, bahwa al-Qur'n mengandung nilai-nilai dan aja ran yang bersifat etis mengenai aktifitas sosial-politik umat manusia. Ajaran in i mencakup prinsip-prinsip tentang keadilan, persamaan, persaudaraan, musyawarah , dan lain-lain. Untuk itu, sepanjang negara berpegang kepada prinsip-prinsip te rsebut maka pembentukan "negara Islam" dalam pengertian yang formal dan ideologi s bukanlah kebutuhan yang urgen. Pendahuluan Kesimpulan yang terlalu gegabah jika Islam (al-Qur'n) dikatakan agama yang hanya mengatur persoalan ritual semata. Islam adalah agama universal, agama yang memba wa misi rahmatan lil lamn. Islam juga memberikan konsep kepada manusia mengenai pe rsoalan yang terkait dengan urusan duniawi, seperti, bagaimana mengatur sistem p erekonomian, penegakan hukum, konsep politik, dan sebagainya. Salah satu bukti t ercatat dalam sejarah, ketika Nabi hijrah ke kota Madinah beliau mampu menyatuka n masyarakat yang majemuk, terdiri dari berbagai agama dan peradaban yang berbed a dalam satu tatanan masyarakat madani. Dan perjanjian yang belliau deklarasikan dengan orang-orang Yahudi adalah satu cermin terbentuknya negara yang berciri d emokrasi. Perjanjian itu mengandung kebijaksanaan politik Nabi untuk menciptakan kestabilan bernegara. Politik yang dimaksud, sebagaimana ungkap Ramlan Surbakti dimaknai sebagai upaya manusia meraih kesempurnaannya atau perjalanan menuju kemaslahatan. Atau, dalam bahasa Aristoteles mengajarkan bagaimana bertindak tepat dan hidup bahagia. Den gan pemahaman ini, politik bernilai luhur, sakral dan tidak bertentangan dengan agama. Setiap manusia yang beragama niscaya berpolitik. Karena itu berpolitik me rupakan sesuatu yang inheren dengan kemanusiaan. Pemikiran politik di kalangan umat Islam, khususnya dalam sistem pergantian kepa la negara (khalfah) mencuat pada saat Nabi saw wafat. Munculnya pemikiran di bida ng ini paling awal jika dibandingkan dengan pemikiran dalam bidang teologi dan h ukum. Sebab, kebutuhan akan adanya seorang pemimpin untuk meneruskan misi yang d ibangun Nabi sangat mendesak dan tidak bisa ditunda. Sehingga tidak mengherankan kalau masyarakat Madinah sibuk memikirkan penggantinya, dan penguburan Nabi men jadi soal kedua bagi mereka. Dalam makalah ini penulis ingin membaca dan mengkaj i kembali konsep negara dalam al-Qur'n yang diyakini sebagai kitab hudan (petunju k) dan menaburkan kemaslahatan bagi kehidupan manusia. Embrio Pemikiran Politik Islam Pemikiran di bidang politik sebagai cikal bakal diskursus konsep negara baru mun cul pada periode dinasti 'Abbasiyah. Karya-karya intelektual muslim (Sunni) sebe lumnya lebih terfokus pada persoalan fiqh, kalam, dan hadis. Hal ini terjadi kar ena meskipun faktor yang menyebabkan munculnya kelompok-kelompok atau aliran-ali ran dalam Islam adalah persoalan politik, tetapi wacana intelektual yang mengemu ka lebih awal adalah masalah teologi yang kemudian diikuti masalah hukum. Ada du a faktor yang menyebabkan terabaikannya disiplin ilmu politik pada periode ini. * Pertama, meskipun paham-paham Islam lahir dari sebuah pergolakan politik, implikasi dari lahirnya kelompok politik yang ada adalah munculnya persoalan teo logis. Karena persoalan ini membutuhkan pemecahan yang serius pada saat itu. * Kedua, hubungan intelektual dunia Islam dengan dunia luar, khususnya perad aban Yunani belum berjalan secara intens. Namun tidak bisa disangkal walaupun diskursus konsep negara baru muncul pada per

iode dinasti 'Abbasiyah tetapi ketegangan dan benturan internal mengenai penggan ti kedudukan Nabi sebagai pemimpin merupakan awal sumber konflik berbias politik di kalangan umat Islam. Dalam pertemuan yang berlangsung di Saqfah Ban Sa'dah munc ul tiga ide politik, yaitu: Kembali ke Sistem Kabilah Setiap kabilah mengangkat pemimpin mereka sendiri. Ide ini muncul dari kalangan Ban Khazraj dan kaum separatis (riddah). Sistem Hak Warisan Ide ini lahir dari kalangan Ban Hsyim berdasarkan pemikiran dan kebiasaan orang Ar ab selatan. Tokoh terkemuka pendukukng ide ini ialah al-Abbs, 'Al, dan Zubair. Ide Persatuan Melalui Permusyawaratan Ide ini didukung kaum muhajirin, kecuali Ban Hsyim. Ide ini selain sesuai dengan p erintah al-Qur'n agar umat Islam tidak terpecah belah dan selalu bermusyawarah at as asas persatuan yang berkeadilan dalam memecahkan setiap persoalan. Sebenarnya pemikiran politik Islam sejak awal sampai dengan masa Ibn Taimiyah me rupakan produk teori yang lahir dari kelompok dalam tubuh umat Islam, dan secara umum merupakan tanggapan pada suasana sejarah yang spesifik. Dua dari kelompok tersebut adalah Khawrij dan Syi'ah, mereka mengajukan pandangannya tentang ciri-c iri pemerintahan Islam pada awal sejarah negara Islam dengan menghasilkan teori immah bagi Syi'ah yang bersifat mistis, dan kecendrungan berpikir revolusioner ba gi Khawrij. Kelompok yang ketiga hadir adalah Sunni yang mengedepankan teori kekh ilafahannya. Di bawah pemerintahan 'Abbasiyah dunia ilmu pengetahuan mengalami masa keemasan, khususnya dalam dua ratus tahun pertama dari lima ratus tahun keemasan dinasti itu. Berkat kelonggaran dan bahkan dukungan dari para penguasa waktu itu di mana kegiatan para ilmuwan dari berbagai disiplin amat melonjak. Dengan demikian, pe rkenalan para ilmuwan Islam dengan alam pikiran Yunani makin meluas dan mendalam . Proses ini pada gilirannya menimbulkan masalah kenegaraan secara rasional dan kemudian lahirlah sejumlah pemikir Islam beserta gagasannya. Misalnya, Syihb al-Dn Ahmad Ibn Ab Rbi' kemudian disusul al-Farabi, al-Mwardi, al-Ghazali, Ibn Taimiyah yang hidup setelah runtuhnya kekuasaan 'Abbasiyah di Baghdad, dan Ibn Khaldn yang hidup pada abad XIV M. Mereka itu dapat dianggap sebagai eksponen yang mewakili pemikiran politik umat Islam pada zaman pertengahan. Munawir Sjadzali berpendapat, terdapat dua ciri umum mengenai gagasan politik da ri enam pemikir di atas. * Pertama, pada pendapat mereka tampak jelas adanya pengaruh alam pikiran Yu nani, terutama pandangan Plato meskipun kadar pengaruh itu tidak sama antara sat u pemikir dengan pemikir yang lain. * Kedua, selain al-Farabi, mereka mendasarkan pemikirannya atas penerimaan t erhadap sistem kekuasaan yang ada pada zaman mereka masing-masing. Jatuhnya Baghdad pada pertengahan abad XIII M yang menandai tamatnya dinasti 'Ab basiyah yang disebabkan faktor-faktor internal, yang kemudian disusul munculnya problem baru dari luar maka muncullah gerakan pembaharuan atau mungkin lebih tep at pemurnian kembali ajaran Islam dengan pengertian dasar dan sasaran yang tidak selalu sama antara satu gerakan dengan gerakan yang lain. Juga dalam pandangan Munawir terdapat tiga hal yang melatarbelakangi pemikiran p olitik Islam kontemporer yang muncul setelah jatuhnya Baghdad atau pada waktu me njelang akhir abad XIX M. * Pertama, kemunduran dan kerapuhan dunia Islam yang disebabkan faktor-fakto r internal yang berakibat munculnya gerakan pembaharuan dan pemurnian.

* Kedua, rongrongan Barat terhadap keutuhan kekuasaan politik dan wilayah du nia Islam yang berakhir dengan dominasi atau penjajahan negara Barat atas sebagi an besar wilayah dunia Islam, dengan akibat rusaknya hubungan yang selama ini ba ik antara dunia Islam dan Barat, dan berkembangnya di kalangan umat Islam semang at permusuhan dan sikap anti Barat. * Ketiga, keunggulan Barat dalam bidang ilmu, teknologi, dan organisasi. Para pemikir politik Islam pada periode pembaharuan (purifikasi) ini dapat dikat egorikan dalam tiga varian besar, yaitu: Kelompok Konservatif Ciri yang menonjol dari kelompok ini adalah adanya aksioma ideologis yang dibang un berdasarkan ajaran Islam bahwa, Islam adalah agama yang sempurna, lengkap, ko mprehensip, dan berlaku universal untuk seluruh umat manusia di semua tempat dan waktu. Tokoh kelompok ini, Sayyid Quthb, Hasan al-Bann, Hasan al-Turab, dan Abul A'l al-Maudud. Kelompok Modernis Kelompok ini mengajukan upaya reformasi dalam rangka menemukan kembali rasionali sme, saintisme, dan progesivisme dalam Islam. Tokoh kelompok ini, Jamaluddn al-Af ghan dan Muhammad 'Abduh. Kelompok Liberal Kelompok ini pada intinya ingin melihat perubahan radikal-fundamental dalam pola berpikir umat Islam yang dianggap stagnan dengan mengedepankan semangat dekonst ruksi pemikiran Islam yang telah mapan. Tokoh kelompok ini adalah 'Ali 'Abd al-Rz iq dan Thah Husein. Konsep Negara dalam al-Qur'n Para pemikir politik Islam abad pertengahan banyak mengadopsi pikiran Plato dan Aristoteles mengenai konsep terbentuknya negara. Mereka berangkat dari asumsi da sar bahwa manusia adalah makhluk sosial. Seperti dikatakan al-Ghazal, manusia itu tidak dapat hidup sendirian yang disebabkan oleh dua hal. * Pertama, kebutuhan akan keturunan demi kelangsungan hidup umat manusia, ha l itu hanya mungkin melalui pergaulan antara laki-laki dan perempuan serta kelua rga. * Kedua, saling membantu dalam penyediaan bahan makanan, pakaian, dan pendid ikan anak. Kebutuhan akan kerja sama untuk mengadakan segala yang diperlukan bersama akan b erakibat timbulnya semacam pembagian tugas di antara anggota masyarakat, kemudia n lahirlah kelompok petani, pekerja, dan sebagainya. Semua faktor ini memerlukan kerja sama yang baik antar sesamanya. Untuk itu diperlukan tempat tertentu, dan dari sinilah lahir suatu negara. Dalam pandangan Ibn Taimiyah negara dan agama saling berkelindan, tanpa kekuasaa n negara yang bersifat memaksa agama berada dalam bahaya. Tanpa disiplin hukum w ahyu, negara pasti menjadi sebuah organisasi yang tiranik. Juga dengan Ibn Khaldn , organisasi kemasyarakatan suatu kemestian bagi manusia. Tanpa itu eksistensi m ereka tidak akan sempurna, sebagaimana kehendak Allah menjadikan mereka sebagai khalfah-Nya untuk memakmurkan bumi. Dalam dunia Islam, ungkap Din Syamsuddin, secara umum kita menemukan tiga bentuk paradigma tentang hubungan agama dan negara. Paradigma pertama memecahkan masalah dikotomi dengan mengajukan konsep bersatuny a agama dan negara. Agama dan negara dalam hal ini tidak dapat dipisahkan. Wilay ah agama juga meliputi politik atau negara, karenanya menurut paradigma ini nega ra merupakan lembaga politik dan keagamaan sekaligus.

Paradigma ini dianut kelompok Syi'ah, di mana pemikiran politiknya memandang bah wa negara (immah atau kepemimpinan) adalah lembaga keagamaan dan mempunyai fungsi kenabian. Dalam pandangannya, legitimasi keagamaan berasal dari Tuhan dan ditur unkan lewat garis keturunan Nabi. Legitimasi politik harus berdasarkan legitimas i keagamaan, dan hal ini hanya dimiliki para keturunan Nabi SAW. Berbeda dengan pemikiran politik Sunni, kelompok ini menekankan ijma' (konsesus) dan bai'ah (penbaiatan) kepada kepala negara. Sementara Syi'ah menekankan wilyah (kecintaan dan pengabdian kepada Tuhan) dan ishmah (kesucian dari dosa) yang ha nya dimiliki para keturunan Nabi yang berhak dan absah untuk menjadi kepala nega ra (imm). Sebagai lembaga politik yang didasarkan atas legitimasi keagamaan dan m empunyai fungsi menyelenggarakan "kedaulatan Tuhan" dalam perspektif syi'ah, neg ara bersifat teokrasi. Menurut salah seorang kelompok ini, al-Maudud (w. 1979 M), syari'at tidak mengena l pemisahan antara agama dan politik (negara). Syari'at adalah skema kehidupan y ang sempurna dan meliputi seluruh tatanan kemasyarakatan, tidak ada yang lebih d an tidak ada yang kurang. Namun dia menolak istilah teokrasi, dan memilih istila h teodemokrasi, karena konsepsinya memang mengandung unsur demokrasi, yaitu adan ya peluang bagi rakyat untuk memilih pemimpin negara. Paradigma kedua memandang agama dan negara berhubungan secara simbiotik, yaitu b erhubungan erat secara timbal balik dan saling memerlukan. Dalam hal ini agama m emerlukan negara, karena dengan negara agama dapat berkembang. Sebaliknya, negar a memerlukan agama, karena dengan agama negara dapat berkembang dalam bimbingan etika dan moral. Al-Mward (w. 1058 M) menegaskan bahwa kepemimpinan negara merupakan instrumen untu k meneruskan misi kenabian guna memelihara agama dan mengatur dunia. Pemeliharaa n agama dan pengaturan dunia merupakan dua jenis aktivitas yang berbeda, namun b erhubungan secara simbiotik. Keduanya merupakan dua dimensi dari misi kenabian. Seorang pemikir lain yang juga dapat disebut sebagai pembawa pandangan simbiosa agama dan negara adalah al-Ghazal (w. 1111 M). Konsep far'i izd yang menjadi dasar simbiosa agama dan negara dalam pemikirannya mempunyai akar sejarah pada pemikir an pra-Islam Iran. Konsep ini mengandung arti kualitas tertentu yang harus dimil iki oleh seorang pemimpin atau kepala negara, seperti pengetahuan, keadilan, dan kearifan. Kualitas demikian diyakini bersumber pada Tuhan dan bersifat titisan. Peradigma ketiga bersifat sekuralistik. Paradigma ini menolak baik hubungan inte gralistik maupun simbiotik antara agama dan negara. Dalam konteks Islam, paradig ma sekuralistik menolak pendasaran agama pada negara, atau paling tidak menolak determinasi Islam akan bentuk tertentu pada negara. Pada tahun 1925 'Ali Abdur Raziq menerbitkan risalah yang berjudul al-Islm Wa ushl al-Hukm, dikatakan bahwa Islam (al-Qur'n) tidak mempunyai kaitan apapun dengan s istem pemerintahan kekhalifahan, termasuk dengan khulafur rsyidn bahwa aktivitas me reka bukan sebuah sistem politik keagamaan, tetapi sebuah sistem duniawi. Islam tidak menetapkan rezim pemerintahan tertentu, tidak pula mendesak kepada kaum mu slimin tentang sistem pemerintahan tertentu lewat mana mereka harus diperintah, tetapi Islam telah memberikan kebebasan mutlak untuk mengorganisasi negara sesua i dengan kondisi intelektual, sosial, dan ekonomi serta mempertimbangkan perkemb angan sosial dan tuntutan zaman. Bahkan ia menolak keras pendapat yang mengataka n bahwa Nabi pernah mendirikan suatu negara di Madinah. Menurutnya, Nabi adalah utusan Allah, bukan seorang kepala negara atau pemimpin politik. Dari pandangannya dapat disimpulkan, masyarakat Islam bukanlah masyarakat politi k. Akan tetapi selalu ada peluang bagi masyarakat untuk mewujudkan bentuk pemeri ntahan Islam yang sesuai dengan konteks budaya. Ia sebenarnya tidak bermaksud me ngatakan bahwa Islam tidak menganjurkan pembentukan suatu negara. Sebaliknya, Is

lam memandang penting kekuasaan politik. Tetapi hal ini tidak berarti pembentuka n negara merupakan salah satu ajaran dasar Islam. Dengan lain ungkapan, kekuasaa n politik diperlukan umat Islam, tetapi bukan karena tuntutan agama, melainkan t untutan situasi sosial dan politik itu sendiri. Dalam perspektif teologis dan historis untuk membuktikan bahwa tindakan politik Nabi seperti, melakukan perang, mengumpulkan jizyah (pajak), dan bahkan jihad ti dak berhubungan dan tidak merefleksikan fungsinya sebagai utusan Tuhan. Persoala n negara adalah persoalan duniawi yang telah diserahkan Tuhan kepada akal manusi a untuk mengaturnya sesuai dengan arah kecendrungan akal dan pengetahuannya. Beberapa kalangan pemikir muslim berpendapat bahwa Islam tidak meletakkan suatu pola baku tentang teori negara yang harus dijalankan umat. Seorang pemikir musli m Mesir, Muhammad 'Imarah, sebagaimana dikutip Bahtiar Effendy mengatakan, Islam sebagai agama tidak menentukan suatu sistem pemerintahan tertentu bagi kaum mus lim, karena logika tentang kesesuaian agama ini untuk sepanjang masa dan tempat menuntut agar permasalahan yang selalu berubah secara evolusi diserahkan kepada akal pikiran manusia menurut kepentingan umum yang telah digariskan agama. Pendapat di atas ada kemiripan dengan 'Abduh, menurut 'Abduh Islam tidak menetap kan suatu bentuk pemerintahan. Jika sistem khalfah masih tetap menjadi pilihan se bagai model pemerintahan maka bentuk demikianpun harus mengikuti perkembangan ma syarakat dalam kehidupan materi dan kebebasan berpikir. Ini mengandung makna, 'A bduh menghendaki suatu pemerintahan yang dinamis. Dengan demikian ia mampu menga ntisipasi perkembangan zaman. Menurut aliran pemikiran ini, istilah "daulah" an dalam al-Qur'n. Meskipun terdapat berbagai aan politik dan otoritas, akan tetapi ungkapan l dan tidak ada pengaruhnya terhadap mekanisme dari sebuah negara. yang berarti negara tidak ditemuk ungkapan yang merujuk kepada kekuas tersebut hanya bersifat insidenta teori politik atau model tertentu

Secara umum, polarisasi kecenderungan para pemikir politik Islam dalam memandang konsep negara dapat dikelompokkan kepada: 1. Skripturalistik dan rasionalistik Kecenderungan skripturalistik menampilkan pemahaman yang bersifat tekstual dan literal, yaitu penafsiran terhadap al-Qur'n dan Hadis yang mengandalkan peng ertian bahasa. Sedangkan kecenderungan rasionalistik menampilkan penafsiran yang rasional dan kontekstual. 2. Idealistik dan realistik Pendekatan pertama cenderung melakukan idealisasi terhadap sistem pemerint ahan dengan menawarkan nilai-nilai Islam yang ideal. Kaum idealis cenderung meno lak format kenegaraan yang ada, sementara kaum realis cenderung untuk menerimany a, karena orientasi mereka yang bersifat realistik terhadap kenyataan politik. 3. Formalistik dan substantivistik Pendekatan formalistik cenderung mementingkan bentuk dari pada isi, yang p ada gilirannya menampilkan konsep negara dan simbolisasi keagamaan. Sebaliknya, pendekatan substantivistik cenderung menekankan isi dari pada bentuk. Kelompok i ni tidak mempersoalkan bagaimana bentuk dan format sebuah negara, tetapi lebih m emusatkan perhatian pada bagaimana mengisinya dengan etika dan moralitas agama. Sebenarnya masalah politik atau pengaturan negara termasuk urusan duniawi yang b ersifat umum. Panduan al-Qur'n juga sunnah bersifat umum. Karena itu, permasalaha n politik termasuk wilayah ijtihad umat Islam. Tugas cendekiawan muslim adalah b erusaha secara terus menerus untuk menjadikan al-Qur'n sebagai sistem yang konkri t supaya dapat diterjemahkan dalam pemerintahan sepanjang zaman. Inilah yang dil akukan empat khalfah sesudah Nabi, sehingga walaupun mereka berada dalam rangka p engamalan ajaran Islam, pengorganisasian pemerintahnya berbeda antara satu denga n lainnya.

Dalam rangka menyusun teori politik Islam mengenai konsep negara yang ditekankan bukanlah struktur "negara Islam", melainkan substruktur dan tujuannya. Sebab st ruktur negara akan berbeda di satu tempat dan tempat lainnya. Ia termasuk wilaya h ijtihad kaum muslimin sehingga bisa berubah. Sementara substruktur dan tujuann ya tetap menyangkut prinsip-prinsip bernegara secara Islami. Namun penting untuk dicatat, bahwa al-Qur'n mengandung nilai-nilai dan ajaran yan g bersifat etis mengenai aktifitas sosial politik umat manusia. Ajaran ini menca kup prinsip-prinsip tentang keadilan, persamaan, persaudaraan, musyawarah, dan l ain-lain. Untuk itu sepanjang negara berpegang kepada prinsip-prinsip tersebut m aka pembentukan "negara Islam" dalam pengertian yang formal dan ideologis tidakl ah begitu penting. Ada beberapa ayat al-Qur'n yang menggambarkan prinsip-prinsip di atas, atau secar a implisit menampilkan sebagai ciri negara demokrasi di antaranya adalah: 1. Keadilan (QS. 5:8) Berlaku adillah kalian karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. 2. Musyawarah (QS. 42:38) Sedang urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka. 3. Menegakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran (QS. 3:110) Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepa da yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, dan berimanlah kepada Allah. 4. Perdamaian dan persaudaraan (QS. 49:10) Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah bersaudara karena itu damaika nlah antara kedua saudaramu dan bertaqkwalah kepada Allah supaya kamu mendapat r ahmat. 5. Keamanan (QS. 2:126) Dan ingatlah ketika Ibrahim berdo'a, Ya Tuhanku jadikanlah negeri ini nege ri yang aman sentosa. 6. Persamaan (QS. 16:97 dan 40:40) Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan y ang baik (QS. 16:97). Penulis berkeyakinan, apabila prinsip-prinsip di atas benar-benar ditegakkan dal am sebuah negara, tanpa melihat simbol atau bentuk legal-formal negara itu sendi ri maka apa yang Allah telah lukiskan dalam al-Qur'n surat Saba' ayat 15 akan dap at dirasakan. Firman Allah tersebut: Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mere ka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dik atakan): Makanlah olehmu rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kam u kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun (QS. 34:15). Apa yang dikatakan Ibn Taimiyah, negara sebagai sesuatu yang perlu untuk menegak kan suruhan agama, tetapi eksistensinya adalah sebagai alat belaka dan bukan lem baga keagamaan itu sendiri. Jadi, kalau negara adalah alat yang perlu untuk mene gakkan agama, maka manusia tentu tidak akan menggunakan alat yang sama dari suat u masa ke masa yang lain. Suatu alat dalam makna yang lazim dipahami mungkin aka n lebih canggih berbanding dengan alat yang lain yang dipergunakan di masa silam meskipun keduanya dipergunakan untuk mencapai maksud yang sama. Tuhan akan mela nggengkan suatu negara yang menjaga prinsip keadilan, walaupun negara tersebut s ecara formal bukan negara Islam. Tetapi sebaliknya, Tuhan akan menghancurkan apa bila nilai-nilai tersebut dikesampingkan. Penutup Al-Qur'n maupun sunnah tidak memiliki preferensi terhadap sistem politik yang map

an untuk menetukan bentuk legal-formal negara yang ideal. Islam hanya memiliki s eperangkat nilai etis yang dapat dijadikan rujukan dalam penyelenggaraan negara yang sejalan dengan prinsip-prinsip demokrasi. Persoalan politik (negara) lebih merupakan urusan kreatifitas manusia, atau kerangka wilayah fiqh yang perlu dila kukan ijtihad. Sebagai wilayah fiqh maka setiap rumusan dan interpretasi yang di hasilkan tentu berbeda, karena paradigma yang digunakan pun juga berbeda. Sepanjang negara berpegang kepada nilai-nilai yang ada dalam al-Qur'n maka pemben tukan "negara Islam" dalam pengertian yang formal dan ideologis tidaklah begitu penting. Yang penting adalah substansinya, artinya nilai-nilai al-Qur'n seperti, musyawarah (syr), keadilan ('adlah), persamaan (muswah), hak-hak asasi manusia (huqq al-adam), perdamaian (shalh), keamanan (aman) dan lain-lain bisa direalisasikan da lam konteks bernegara. Sehingga pada akhirnya baldatun toyyibatun wa robbun ghaf ur bukan hanya sekedar ide dan cita-cita, tetapi sebuah realita yang bisa dirasa kan.