Anda di halaman 1dari 9

Tugas Makalah tentang Transfer Pricing dan Penggelapan Pajak

Rahmad Bintang Shabri A 1102113114

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS RIAU

1.

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Seiring dengan perkembangan dunia usaha dan kompleksitas bisnis, perusahaanperusahaan nasional kini menjelma menjadi perusahaan-perusahaan multinasional yang kegiatan usahanya tidak terpusat pada satu negara saja namun beberapa negara. Fenomena yang terjadi dewasa kini, transfer pricing seringkali digunakan secara ilegal oleh beberapa perusahaan multinasional dalam rangka memperkecil beban pajaknya. Kebijakan transfer pricing ini seringkali digunakan perusahaan multinasional untuk mengurangi laba kena pajak dalam suatu negara dengan cara mentransfer harga ke perusahaan afiliasinya yang terletak di negara yang termasuk dalam kategori tax heaven countries. Dalam kasus penggelapan pajak yang dilakukan oleh perusahaan multinasional, media selalu menyebut istilah transfer pricing sebagai pokok permasalahan tanpa memberi penjelasan yang cukup mengenai apa itu sebenarnya arti transfer pricing. Berikut adalah salah satu bukti betapa penggunaan istilah transfer pricing sangat berkonotasi negatif, bahkan dipublikasikan oleh website resmi pemerintahan setingkat Direktorat Jenderal Pajak (http://www.pajak.go.id/node/4049?lang=en) Transfer pricing merupakan transaksi barang dan jasa antara beberapa divisi pada suatu kelompok usaha dengan harga yang tidak wajar, bisa dengan menaikkan (mark up) atau menurunkan harga (mark down), kebanyakan dilakukan oleh perusahaan global (Multi-National Enterprise). Tujuannya, pertama, untuk mengakali jumlah profit sehingga pembayaran pajak dan pembagian dividen menjadi rendah. Kedua, menggelembungkan profit untuk memoles (window-dressing) laporan keuangan.

1.2 Tujuan Penulisan Melalui tulisan ini, penulis bermaksud memberikan alternatif referensi yang sederhana untuk membantu pembaca dalam memahami istilah transfer pricing dalam kaitannya dengan kasus penggelapan pajak.

2.

Pembahasan

2.1 Definisi Transfer Pricing 1. Menurut Charles T.Hongren : Transfer price is the price one subunit (department or division) charges for product or service supplied to another subunit of the same organization 2. Dr. Gunadi : Transfer pricing adalah penentuan harga atau imbalan sehubungan dengan penyerahan barang, jasa, atau pengalihan teknologi antar perusahaan yang mempunyai hubungan istimewa dan suatu rekayasa manipulasi harga secara sistematis dengan maksud mengurangi laba artifisial, membuat seolah-olah perusahaan rugi, menghindari pajak atau bea di suatu negara 3. Dirjen Pajak : Penetapan harga atas transaksi penyerahan barang berwujud, barang tidak berwujud, atau penyediaan jasa antar pihak yang memiliki hubungan istimewa (transaksi afiliasi) Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa transfer pricing adalah hal yang wajar dalam dunia usaha (definisi netral), namun menurut Dr. Gunadi (mantan direktur pemeriksaan pajak) transfer pricing mempunyai konotasi negatif sebagai suatu praktik bisnis yang tidak baik, yaitu pengalihan atas penghasilan kena pajak (taxable income) dari suatu perusahaan yang dimiliki oleh perusahaan multinasional ke negara-negara yang tarif pajaknya rendah dalam rangka untuk mengurangi total beban pajak dari grup perusahaan multinasional tersebut. Motivasi pajak atas praktik transfer pricing dilaksanakan dengan sedapat mungkin memindahkan penghasilan ke negara dengan beban pajak terendah atau minimal. Salah satu bentuk pengalihan penghasilan, misalnya dalam bentuk pembayaran royalti karena dengan sangat langkanya standar harga (tarif) pasar atas royalti sangat sulit bagi administrasi pajak untuk mengatasinya. Kopits (dalam Caves;1996) menyatakan bahwa paling kurang 13% pembayaran royalti dari negara bcrkcmhang (ke negara maju) merupakan transformasi royalti menjadi dividen. Selanjutnya, sehubungan dengan harga barang (bahan) input produksi, Lecras (dalam Caves;1996) menyatakan bahwa berdasarkan studi tahun 1985 perusahaan multinasional yang beroperasi di ASEAN memakai dasar selain harga pasar dalam menghitung transfer pricenya. Semakin mudah tingkat otonomi anggota perusahaan multinasional di mancanegara semakin tinggi pemanfaatan strategi transfer pricing. Semakin kurang menentunya lingkungan tempat operasi anggota perusahaan tersebut, semakin besar porsi penjualan ekspor ketimbang penjualan domestik dan semakin tinggi potensi penghasilan, maka motivasi pajak terhadap transfer pricing semakin ekstensif. Tujuan transfer pricing:

Memberi informasi yang relevan kepada masing-masing unit usaha untuk menentukan imbal balik yang optimum antara biaya dan pendapatan perusahaan. Menghasilkan keputusan yang selaras dengan cita-cita (meningkatkan laba unit usaha namun juga dapat meningkatkan laba perusahaan). Membantu pengukuran kinerja ekonomi dari unit usaha individual.

Metode penentuan transfer pricing yang lazim digunakan oleh pihak manjemen: Harga Pasar (Market based Transfer Prices), harga transfer ditentukan berdasarkan harga pasar. Berdasarkan Biaya (Cost Based Transfer Prices), harga transfer ditentukan berdasarkan biaya produksi yang terdiri dari biaya variabel maupun biaya tetap ditambah margin yang ditetapkan Harga Negosiasi (negotiated transfer Prices), harga transfer ditentukan berdasarkan persetujuan dari unit pentransfer dan unit penerima transfer.

2.2 Penggelapan Pajak Penggelapan pajak dapat diartikan sebagai tindakan yang merupakan pelanggaran terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, misalnya, tidak mengisi surat pemberitahuan (SPT), tidak membayar pajak tepat waktu tidak melaporkan penghasilan secara lengkap dan benar, tidak melaksanakan kewajiban pembukuan, dan melakukan penyuapan terhadap fiskus yang mengakibatkan kerugian keuangan negara, khususnya pada sektor penerimaan perpajakan.

a.

Skema Sederhana Contoh Penggelapan Pajak Melalui Mekanisme Penentuan Transfer Pricing Perusahaan A berdomisili di Negara A dan mempunyai cabang perusahaan di Negara B, sebut saja Perusahaan B. Negara A menerapkan tarif pajak penghasilan (PPh Badan) yang lebih besar dari pada tarif pajak yang diterapkan di Negara B. Misalnya tarif pajak di Negara A sebesar 40% dan di negara B adalah 10%. Perusahaan A ingin menjual barang ke perusahaan C yang berdomisili di Negara C. Nah, perusahaan A dapat mengalihkan penghasilan atas penjualannya ke perusahaan C melalui Perusahaan B. Skemanya adalah sebagai berikut:

Prusahaan A mempunyai harga pokok produksi sebesar $10.000 kemudian melakukan penjualan kepada Perusahaan B dengan harga jual $12.000. Oleh perusahaan B, barang tersebut dijual ke Perusahaan C dengan harga jual sebesar 20.000. Berikut adalah tabel perhitungan laba bersih perusahaan A, Perusahaan B, Grup Perusahaan Dengan Praktek Transfer Pricing Yang Tidak Sesuai Peraturan, dan Perusahaan A tanpa penyalahgunaan praktek transfer pricing.

Uraian

Perusahan A

Perusahaan B

Grup Perusahaan Setelah Dengan

Perusahaan A Tanpa Penyalahgunaan Praktek Transfer

Praktek Transfer Pricing yang Tidak sesuai Peraturan

Pricing (Langsung Menjual Ke Perusahaan C ataupun melalui Perusahaan B tapi dengan harga yang sama wajar)

Penjualan Harga

12.000

20.000 12.000

20.000 10.000

20.000 10.000

Pokok 10.000

Penjualan Laba Kotor Beban Operasi Laba Operasi Beban Pajak 2.000 1.000 1.000 400 (40%) Laba Bersih 600 6.300 6.900 5.400 8.000 1.000 7.000 700 (10%) 10.000 2.000 8.000 1.100 10.000 1.000 9.000 3.600 (40%)

Tabel di atas menunjukkan bahwa praktek transfer pricing yang tidak sesuai peraturan akan merugikan negara A. Negara A akan mendapatkan penerimaan pajak sebesar $3.600 jika perusahaan A langsung menjual barangnya kepada perusahaan C. Lain halnya ketika perusahaan A menjual barang ke Perusahaan C melalui Perusahaan B di Negara B. Negara A hanya akan memperoleh penerimaan pajak sebesar $400. Artinya dengan penyalahgunaan praktek tranfer pricing tersebut, Negara A kehilangan potensi penerimaan pajak sebesar $3,200. Di sisi lain, Perusahaan A (dilihat dari gabungan A dan B) mendapatkan laba bersih yang lebih besar. Peraturan Perpajakan Tentang Metode Penetapan Transfer Pricing Metode penetapan besarnya transfer pricing telah diatur melalui Peraturan Diektur Jendral Pajak Nomor Per-43/PJ/2010 tentang Penerepan Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha Dalam Transaksi Antara Wajib Pajak dengan Pihak Yang Mempunyai Hubungan Istimewa. Pengertian prinsip kewajaran dan kelaziman usaha adalah apabila kondisi dalam transaksi yang dilakukan antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa sama atau sebanding dengan kondisi dalam transaksi yang dilakukan antara pihak-pihak yang tidak

b.

mempunyai hubungan istimewa yang menjadi pembanding, maka harga atau laba dalam transaksi yang dilakukan antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa harus sama dengan atau berada dalam rantang harga atau laba dalam transaksi yang dilakukan antara pihakpihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa yang menjadi pembanding. Metode penentuan harga transfer yang dapat diterapkan berdasarkan Per-43/PJ/2010 adalah: 1. Metode perbandingan harga antara pihak yang independen (comparable uncontrolled price/CUP) 2. metode harga penjualan kembali (resale price method/RPM) atau metode biaya-plus (cost plus method/CPM) 3. metode pembagian laba (profit sharing method/PSM) atau metode laba bersih transaksional (transactional net margin method/TNMM) Dalam memilih ketiga poin metode diatas, perhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. 2. Penerapan metode tersebut dilakukan secara hierarki, mulai dari metode CUP Kondisi yang tepat dalam menerapkan metode CUP adalah: barang atau jasa yang ditransaksikan memeiliki karakteristik yang identik dalam kondisi yang sebanding atau kondisi transaksi yang dilakukan antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa dengan pihak-pihak yang tidak memiliki hubungan istimewa identik atau memiliki tingkat kesebandingan yang tinggi atau dapat dilakukan penyesuaian yang akurat untuk menghilangkan pengaruh dari perbedaan kondisi yang timbul 3. Kondisi yang tepat dalam menerapkan metode RPM adalah: Tingkat kesebandingan yang tinggi antara transaksi antara wajib pajak yang mempunyai hubungan istimewa dengan transaksi antara wajib pajak yang tidak mempunyai hubungan istimewa, khususnya tingkat kesebandingan berdasarkan hasil analisis fungsi, meskipun barang atau jasa yang diperjualbelikan berbeda, dan pihak penjual kembali (reseller) tidak memberikan nilai tambah yang signifikan atas barang atau jawa yang diperjualbelikan. 4. Kondisi yang tepat dalam menerapkan metode biaya-plus (CPM) adalah: barang setengah jadi dijual kepada pihak-pihak yang mempunya hubungan istimewa,

terdapat kontrak penggunaan fasilitas bersama atau kontrak jual beli jangka panjang antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa, atau

5.

bentuk transaksi adalah penyediaan jasa. Metode pembagian laba (PSM) secara khusus hanya dapat diterapkan dalam kondisi sebagai berikut:

transaksi antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa sangat terkait satu sama lain sehingga tidak dimungkinkan untuk dilakukan kajian terpisah, atau

terdapat barang tidak berwujud yang unik antara pihak-pihak yang bertransaksi yang menyebabkan kesulitan dalam menemukan data pembanding yang tepat.

6.

Dalam hal kondisi-kondisi tersebut di atas tidak terpenuhi maka metode laba bersih transaksional (TNMM) dapat diterapkan. Selengkapnya aturan terkait transfer pricing adalah sebagai berikut : 1. Pasal 18 ayat 3 dan 4 UU PPh 2. Pasal 2 ayat 1 dan 2 UU PPN 3. Pasal 28 ayat 1 UU KUP 4. Pasal 9 ayat 1 P3B (tax treaty) model konvensi PBB 5. KEP-01/PJ.7/1993 6. SE-04/PJ.7/1993 7. PER-43/PJ/2010 Sedangkan OECD guideline, APA dan MAP dipakai sebagai acuan dalam kaitannya kalau terjadi perselisihan masalah transfer pricing antar dua negara.

3.

Kesimpulan

3.1 Istilah transfer pricing merupakan penentuan harga transfer dari unit pentransfer kepada unit penerima transfer dan bukan suatu modus penggelapan pajak. 3.2 adapun transfer pricing dapat dijadikan modus penggelapan pajak apabila proses penetapannya tidak sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Per-43/PJ/2010 tentang Penerepan Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha Dalam Transaksi Antara Wajib Pajak dengan Pihak Yang Mempunyai Hubungan Istimewa, yang dapat merugikan negara dalam hal menghilangkan potensi penerimaan negara.

REFERENSI

WWW.PAJAK.GO.ID http://www.oecd.org/ctp/transferpricing Peraturan Diektur Jendral Pajak Nomor Per-43/PJ/2010 tentang Penerepan Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha Dalam Transaksi Antara Wajib Pajak dengan Pihak Yang Mempunyai Hubungan Istimewa Slide-slide materi kuliah Sistem Pengendalian Manajemen, STIE Muhammadiyah Jakarta