Anda di halaman 1dari 14

MMTITS-1

Strategi Lindung Nilai (Hedging) Untuk Menekan Kerugian


Akibat Fluktuasi Harga Minyak Dunia

Iwan Budhiarta
Staf Program MMT-ITS
Energy Hedge Fund-Risk Management Center

Abstrak
Minyak dan Gas termasuk golongan Sumberdaya Alam yang Tak Terbaharui. Ketersediaan
minyak dan gas di alam semakin menipis dari waktu ke waktu dan sebaliknya, permintaan dari pasar
dunia meningkat dari hari ke hari. Sementara saat ini, terjadi eksploitasi besar-besaran oleh para
eksplorator yang mengakibatkan gangguan terhadap kemampuan suplai minyak dunia untuk kehidupan
sehari-hari. Adanya gangguan suplai minyak menimbulkan permasalahan lanjutan yang memerlukan
penyesaian yang tidak mudah, tidak murah dan memerlukan kerjasama lintas sektoral. Permasalahan
tersebut antara lain kenaikan harga BBM, yang diikuti oleh naiknya harga barang-barang konsumsi
pokok sehari-hari.
Fluktuasi nilai tukar mata uang asing, khususnya Rupiah terhadap Dollar, menyumbang
masalah tersendiri. Pada kuartal kedua 2005, nilai mata uang US$ mengalami penguatan secra
signifikan terhadap mata uang kawasan regional Asia, termasuk Indonesia. Di lain pihak, posisi negara
Indonesia saat ini dalam perdagangan minyak dunia adalah net importir, yang berarti produksi harian
Indonesia masih tidak mencukupi untuk kebutuhan penduduknya sehingga harus menambah stok
dengan cara membeli/mengimpor minyak dari luar negeri. Dengan naiknya harga minyak dunia, maka
jumlah nominal yang dibutuhkan untuk membeli/mengimpor minyak dalam mata uang US$ bertambah
besar. Sehingga, Pertamina ’terpaksa’ membeli minyak dengan denominasi US$ dalam jumlah besar
pula. Permintaan akan mata uang US$ yang lebih tinggi daripada mata uang Rupiah akan
mengakibatkan jatuhnya nilai tukar mata uang Rupiah lebih dalam lagi.
Oleh karena itu, diperlukan strategi jitu untuk meredam kerugian yang akan muncul dari akibat
fluktuasi nilai tukar Rupiah-Dollar. Salah satu strategi jitu tersebut adalah strategi lindung nilai
(Hedging). Dengan melakukan lindung nilai, maka potensi resiko dapat diminimalisir, dan juga
memberikan kepastian berusaha karena membantu pengendalian produk dan persediaan bahan baku
guna memenuhi kebutuhan produsen, pengolah atau pabrikan.

Katakunci: Hedging, Harga Minyak Mentah, Nilai Tukar, USDollar, Rupiah.

I. Krisis Produksi Minyak Dunia

Seperti diketahui, minyak dan gas merupakan jenis sumber daya alam yang terbatas dan memakan
waktu lama untuk proses recovery-nya. Beberapa kenyataan mengenai kemungkinan penipisan
cadangan minyak sebagai sumberdaya alam terbatas, yaitu produksi bermula dari nol, produksi
mencapai puncaknya dan kemudian akan menurun terus sampai cadangan minyak mendekati batas yang
mengkhawatirkan. Teori ini dirilis pertama kali oleh Dr. M. King Hubbert pada tahun 1950, dan telah
diaplikasikan hingga kini. Dan bahkan, Dr. C. J. Campbell, di dalam bukunya yang berjudul “The
Coming Oil Crisis”, dapat memprediksikan bahwa cadangan minyak akan sampai pada titik yang sangat
mengkhawatirkan pada tahun 2050, yaitu empat puluh lima tahun kemudian jika dihitung mulai tahun
ini (Gambar 1).
MMTITS-2

Gambar 1. Prediksi Produksi Minyak dalam 100 tahunan.

Selanjutnya, Dr.Campbell menyatakan bahwa titik balik produksi minyak dunia akan terlewati pada
tahun 1999. Setelah tahun ini, produksi minyak dunia akan mengalami penurunan secara bertahap. Hal
tersebut bertolak belakang dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh EIA (Energy Information
Administrator), bahwa sesuai dengan pertumbuhan penduduk dan meningkatnya penindustrian dunia,
konsumsi minyak dunia akan meningkat berdasarkan regional sebesar 10% setiap 10 tahun. Pada tahun
2010, diperkirakan kebutuhan total minyak dunia mencapai 100 juta barrel per hari (Gambar 2).

Gambar 2. International Energy Outlook, 2004.

Analis energi lainnya, Dr. Jean Laherrere, staf perusahaan TOTAL, sebuah perusahaan eksplorasi
minyak dunia, mengatakan bahwa puncak produksi minyak dunia akan terjadi antara tahun 2005-1010,
yang kemudian akan mengalami penurunan secara bertahap untuk tahun-tahun berikutnya (Gambar 3).
MMTITS-3

Gambar 3. World’s Liquid Production.

Dengan demikian, kita dapat mengambil pesan inti dari laporan-laporan analis di atas, bahwa
ketersediaan minyak sebagai sumberdaya alam yang tak terbaharui dan terbatas akan memasuki tahun-
tahun yang mengkhawatirkan setelah melewati tahun 2010. Sehingga, sudah tiba saatnya bagi kita
untuk memikirkan penggunaan energi alternative agar terhindar dari krisis yang lebih parah.

1.1. Indonesia: Penghasil sekaligus Pembeli Minyak

Sejak jaman dahulu kala, Negara Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan sumber daya
alamnya. Salah satu kekayaan utama Indonesia adalah kandungan minyak bumi dan gas alam yang
melimpah ruah. Minyak merupakan sumber daya alam yang berperan penting dalam perekonomian
Indonesia dan hingga saat ini masih menjadi andalan untuk mendongkrak perekonomian Indonesia yang
masih terpuruk. Alasannya, komoditi ini sampai kapanpun masih memiliki pasar potensial di luar
negeri. Menurut penelitian yang telah dilakukan, di wilayah Indonesia, terdapat 60 cekungan yang
diperkirakan mengandung cadangan migas. Separuh dari cekungan tersebut telah dilakukan eksplorasi.
Penyebaran cekungan yang produktif saat ini umumnya terdapat di Indonesia bagian barat. Sementara
di kawasan timur masih kurang berkembang dan dimanfaatkan secara optimal.

Seperti juga negara-negara lainnya, usaha pertambangan minyak Indonesia dilakukan di darat (drilling
on shore) dan daerah lepas pantai (drilling off shore). Tingginya minat investor melakukan pengeboran
lepas pantai, selain lantaran pengeboran di darat yang mulai jenuh, juga karena perkembangan teknologi
yang memungkinkan dilakukannya pengeboran lepas pantai. Pengeboran minyak di lepas pantai
Indonesia dimulai sejak 1966. Sama halnya dengan pengeboran di darat, pengeboran lepas pantai juga
membutuhkan investasi yang besar dan resiko tinggi. Biaya yang harus dikeluarkan untuk setiap
pengeboran, sangat bergantung pada lokasi, kedalaman, keadaan bawah permukaan laut dan teknologi
yang digunakan. Untuk setiap kegiatan eksplorasi yang memakan waktu 3-6 tahun, menurut Indrayana,
biaya yang diperlukan berkisar antara US$ 400 ribu – US$ 3 juta. Dalam beberapa hal, pengeboran
minyak di darat malahan lebih mahal daripada pengeboran di laut lepas karena masalah yang dihadapi
lebih kompleks. Misalnya soal pembebasan tanah yang berlarut-larut, hukum dan keamanan.

Meski pengeboran lepas pantai cukup menjanjikan, bukan berarti tidak ada masalah yang menghadang.
Persoalan yang biasa dihadapi dalam pengeboran lepas pantai, antara lain pencemaran laut akibat
semburan minyak yang terbawa arus. Selain itu juga kebiasaan nelayan membuang limbah sembarangan
ke pantai. Untuk meminimalisir pencemaran laut, pemerintah telah melakukan sosialisasi kepada
perusahaan yang bersangkutan dan juga masyarakat setempat.
MMTITS-4

1.2. Produksi Minyak Per Hari

Saat ini, Indonesia dinilai sudah tidak relevan lagi menjadi anggota OPEC, karena mengingat volume
produksi minyak nasional yang terus turun hingga kurang dari 1 juta barrel per hari (Tabel 1).
Kemungkinan Indonesia akan menggenjot produksi minyaknya untuk mencapai quota OPEC amatlah
sulit. Pemerintah diperkirakan hanya akan sanggup menahan laju penurunan produksi dari 16 persen per
tahun saat ini menjadi 2-3 persen per tahun. Sehingga, keikutsertaan Indonesia di OPEC dinilai bersifat
politis dan tidak efektif karena hanya menghabiskan dana US$ 2 juta per tahun, atau Rp 19,6 miliar per
tahun. Alangkah baiknya jika dana tersebut dialihkan untuk memberdayakan rakyat miskin.

Salah satu solusinya adalah saatnya Pemerintah Indonesia harus memaksa dan mendorong masyarakat,
pebisnis dan kalangan pemerintahan sendiri untuk lebih berhemat dalam memanfaatkan energi,
terutama bahan bakar minyak (BBM), kemudian memberikan pilihan untuk beralih ke penggunaan
energi alternatif sejak dini. Jika tidak dimulai dari sekarang, besar kekhawatiran bahwa negara kita akan
terlambat dalam menangani krisis energi yang kapan saja dapat terjadi. Perlu diingat bahwa
ketersediaan energi adalah faktor penting tumbuhnya perekonomian sebuah negara.

Tabel 1. Produksi Minyak Negara-Negara OPEC. Sumber: International Energy Agency


World Oil & NGL Production Million barrels per day
Apr 2005 Mar 2005 Avg 2004 Avg 2003
OPEC - Crude Oil

Saudi Arabia 9.16 9.06 8.75 8.48


Iran 3.90 3.76 3.93 3.78
Iraq 1.83 1.80 1.99 1.32
United Arab Emirates 2.45 2.40 2.35 2.29
Kuwait 2.16 2.11 2.05 1.87
Qatar 0.78 0.78 0.78 0.72
Nigeria 2.45 2.40 2.32 2.15
Libya 1.64 1.62 1.55 1.42
Algeria 1.35 1.35 1.21 1.11
Venezuela 2.16 2.12 2.17 2.01
Indonesia 0.95 0.95 0.97 1.01
Dari tabel 1 dapat diketahui bahwa di dalam jajaran negara OPEC, hanya Indonesia sajalah yang
’terpaksa’ menurunkan kuota produksi minyak per harinya, hingga sebesar 0,95 juta bpd dari 1,01 juta
bpd pada tahun 2003.

1.3. Pertamina dan Dilemanya

Sebagai sebuah perusahaan minyak, Pertamina beroperasi di bagian hulu (eksplorasi dan produksi
minyak mentah) dan di bagian hilir (refinery, marketing dan distribusi minyak mentah). Dahulu,
Pertamina (sampai 2001) mengelola kepentingan Pemerintah di bidang hulu, dengan mengurusi seluruh
kontrak produksi minyak di Indonesia yang memungkinkan perusahaan asing seperti Caltex/Chevron,
BritishPetroleoum, dan ExxonMobil melakukan eksplorasi minyak di Indonesia. Di dalam kapasitasnya
sebagai wakil Pemerintah, Pertamina memiliki otoritas yang kuat untuk mengatur distribusi minyak
mentah yang diproduksi oleh para kontraktornya.
MMTITS-5

Tetapi kemudian, fungsi dan peranan Pertamina ini digantikan oleh BP-Migas (Badan Pelaksana
Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi) yang didirikan berdasarkan UU Migas yang baru (UU
No. 22/2001). Dengan adanya BP Migas ini, Pertamina ’turun derajatnya’ sama dengan kontraktor yang
dahulu dibawahinya dan harus bersaing dengan perusahaan minyak asing lainnya untuk mendapatkan
kontrak eksplorasi dan produksi minyak bumi di Indonesia. Termasuk hak mengatur, marketing dan
distribusi minyak mentah yang diberikan ke BP Migas.

Lebih lanjut, hal ini mengakibatkan Pertamina hanya menjadi produsen minyak mentah minor di
Indonesia, karena saat ini lebih dari 2/3 kontrak eksplorasi dan produksi minyak dikuasai oleh
kontraktor asing, dengan Caltex/Chevron sebagai produsen terbesar di Indonesia. Jika dibandingkan
dengan kontraktor asing, Pertamina sudah jelas kalah dalam segala hal, seperti penguasaan teknologi,
kecanggihan peralatan, kualitas SDM dan yang tak kalah pentingnya adalah dukungan modal asing
yang sangat kuat.

Di lain pihak, status Pertamina sebagai pemasok utama BBM di Indonesia tetap tidak berubah.
Pertamina memiliki kewajiban untuk menjaga stok BBM di Indonesia dengan melakukan kegiatan
refinery minyak mentah untuk menjadi BBM dan juga impor BBM untuk melaksanakan kewajiban
tersebut. Kemudian BBM tersebut harus dijual ke dalam pasar negeri dengan harga di bawah biaya
produksi Pertamina, dengan alasan bahwa harga BBM tersebut disubsidi oleh Pemerintah berupa
pembayaran perbedaan biaya produksi dan harga BBM di pasaran.

Kedua hal di atas kemudian menimbulkan masalah-masalah sebagai berikut:


1. Dengan hilangnya fungsi kontrol terhadap minyak mentah, Pertamina menjadi kekurangan bahan
mentah untuk memproduksi BBM.
Sekarang para kontraktor minyak di Indonesia bisa lebih bebas menjual produksi minyak mentahnya ke
luar negeri dan ini mengurangi pasokan minyak mentah ke kilang-kilang minyak Pertamina, yang
mengakibatkan Pertamina harus meningkatkan impor minyak mentah untuk produksi BBM.

2. Hal ini juga diperburuk dengan produksi minyak mentah Indonesia yang terus menurun. Selama
beberapa waktu terakhir produksi harian Indonesia tidak pernah mencapai kuota yang ditetapkan OPEC
sebesar 1,27 juta bph dan hanya bisa memproduksi sebesar 0,97 juta bph. Dan volume produksi ini
harus dikurangi bagian kontraktor asing sebesar 350.000 barrel.
Sehingga dalam hitungan riilnya, Indonesia hanya menguasai 650.000 barrel minyak mentah. Padahal,
kebutuhan minyak mentah Indonesia adalah 1,05 juta bph, yang mengakibatkan Pertamina harus
mengimpor 400.000 barrel minyak mentah per hari. Dan ini sudah cukup untuk mengatakan bahwa
Indonesia saat ini adalah net importer minyak mentah.

3. Subsidi yang seharusnya dibayarkan oleh Pemerintah kepada Pertamina ternyata sering mengalami
hambatan. Subsidi tersebut besarnya tidak tanggung-tanggung, Rp 3 triliun, dan terhambat selama 3
bulan.
Hal ini mengakibatkan Pertamina kesulitan cash flow untuk melunasi utang-utang impor BBM-nya,
yang berlanjut kepada hilangnya kepercayaan mitra dagangnya di luar negeri untuk melanjutkan
pasokan minyak mentah dan BBM ke Pertamina. Menurunnya kemampuan kas Pertamina
mengakibatkan terganggunya kelancaran impor BBM ke Indonesia dan akhirnya mengurangi cadangan
BBM yang dimiliki Indonesia, yang berlanjut kepada krisis BBM saat ini.

II. Fluktuasi Harga Minyak Dunia

Di dalam ilmu ekonomi dan prinsip perdagangan dikenal istilah yang sangat terkenal, yaitu penjual-
pembeli, pasar, spekulan, supply-demand, dan fundamental-teknikal. Prinsip-prinsip tersebut juga
berlaku dalam menentukan harga pasar untuk minyak mentah dunia. Saat ini, minyak mentah dunia
MMTITS-6

terbagi menjadi dua golongan besar, yaitu Crude Oil dan Brent-North Sea Oil. Masing-masing memiliki
spesifikasi dan karakteristik tersendiri.

Lebih lanjut, terdapat beberapa hal penting yang mempengaruhi pergerakan harga minyak dunia, yaitu
kondisi ekonomi, politik dan keamanan global, isu lingkungan, isu terorisme, peperangan antar-bangsa
penghasil minyak, dan isu-isu yang melekat pada Negara-negara penghasil minyak dunia. Sebagai
contoh, tragedi invasi Amerika Serikat ke Iraq, yang hingga kini menyisakan persoalan keamanan
dalam negeri Iraq. Hingga kini masih sering terjadi baku tembak antara pasukan multinasional
pimpinan Amerika dengan tentara yang mendapat dukungan rakyat Iraq. Sebagai implikasinya, sering
terjadi serangan tiba-tiba pada tempat pengilangan minyak. Gangguan keamanan tersebut akan
berdampak pada terhambatnya produksi minyak harian Iraq. Hal tersebut membuat pasar perdagangan
minyak dunia merespon negatif. Pasar khawatir akan kelangsungan stok minyak dunia selama beberapa
hari kedepan. Harga minyak dunia pun terkena imbasnya.

Contoh lainnya adalah terjadinya bencana alam di Negara Meksiko baru-baru ini. Badai Emily yang
terkenal sangat dahsyat, dengan kecepatan angin lebih dari 250 km/jam, telah memporakporandakan
instalasi perminyakan Meksiko. Hal tersebut langsung direspon negatif oleh pasar perdagangan minyak
dunia. Harga minyak mentah pun sempat naik beberapa poin setelah kejadian tersebut.

Hingga kini, harga minyak mentah dunia diperkirakan masih berada dalam teritori negatif atau
berpotensi besar untuk melemah kembali. Rentang harga toleransi minyak mentah berada pada kisaran
55-60 US$ per barrel (1 barrel = 42 gallon, 1 US$ = Rp 9800/18 Juli 2005), tepatnya untuk pasar spot
NYMEX 17 Juni 2005 pada level 58.47 dollar per barrel dan pasar forward untuk pengantaran bulan
Desember pada level 60.43 dollar per barrel. Hal tersebut dikarenakan terdapat level support pada
posisi US$ 55/barrel dan level resistant pada posisi US$ 60/barrel. Maksudnya, jika harga minyak
mentah sanggup menembus level support atau resistant-nya, maka kemungkinan untuk bergerak
melemah/menguat sangat besar.

Dalam lima tahun ke depan, harga minyak dunia akan menyentuh level US$ 200 per barrel-nya. Tidak
masuk akal? Tidak mungkin? Jawabannya: Mungkin saja terjadi. Dalam iklim dan situasi global seperti
saat ini, dimana ketersediaan minyak mentah dunia semakin menipis, akan memicu gesekan
kepentingan antar bangsa, yang berujung dengan konflik nasional. Aset penting perminyakan akan
terganggu sehingga dapat mempengaruhi persepsi pasar akan kelangsungan stok minyak mentah dunia
yang berakhir dengan respon negative pasar dan meningkatnya harga minyak mentah dunia. Analisis
tersebut didukung oleh geolog senior Anders Sivertsson, Kjell Aleklett dan Colin Campbell, Uppsala
University - Sweden, yang mengatakan bahwa akan terjadi kelangkaan stok minyak mentah dunia pada
tahun 2010. Tetapi, sekali lagi, arah pergerakan ini hanyalah prediksi. Selebihnya, pasarlah yang
menentukan.

2.1. Analisis Historikal dan Teknikal Pergerakan Harga Minyak Mentah Dunia (NYMEX Crude
Oil – Forward Market).

Secara historikal, terjadi kenaikan harga minyak mentah dunia secara bertahap. Hingga akhir kuartal 1
dan pertengahan kuartal 2 tahun 2005 saja, telah terjadi kenaikan harga minyak mentah dunia sebesar
15 poin, dari US$ 45/barrel pada bulan Februari 2005 menuju US$ 60/barrel pada bulan Juli 2005
(Gambar 4). Harga tersebut merupakan harga tertinggi selama kurun waktu lima tahunan, dari tahun
2000 – 2005.
MMTITS-7

Gambar 4. Grafik Harga Minyak Mentah pada Pasar Forward.

Jika kita mundur sejenak ke tahun 2002, di sepanjang tahun telah terjadi kenaikan sebesar 88,9 %. Pada
awal kuartal I – 2002 terjadi konsolidasi harga di kisaran US$ 18-22 /barrel. Memasuki kuartal II –
2002, harga mengalami kenaikan hingga mencapai US$ 29/barrel dan kemudian terkoreksi tetapi tidak
cukup signifikan,yang pada akhirnya membuat konsolidasi harga baru di kisaran US$ 24-28 /barrel. Hal
yang sama juga terjadi di akhir kuartal II – 2002. Memasuki kuartal III- 2002, harga minyak mentah
dunia mengalami koreksi sebesar 8 basis poin setelah mengukir nilai puncak pada posisi US$ 32 /barrel.
Ternyata, pada akhir tahun, aksi para korporasi kakap yang memborong minyak dalam jumlah besar
dan ulah para spekulan yang mempermainkan harga cukup membuat pasar bergejolak. Harga menjadi
naik secara signifikan hingga mampu menembus level US$ 32 dan bertengger di posisi US$ 34 /barrel
(Gambar 5).

Satu tahun berikutnya, tahun 2003, harga minyak mampu mengukir nilai puncaknya pada kuartal I,
yaitu pada posisi US$ 38-40/barrel. Tetapi, ternyata harga tinggi tersebut kurang signifikan, para
investor/pedagang dan spekulan merealisasikan untung, sehingga mengalami koreksi harga dan
membentuk konsolidasi harga bawah di kisaran US$ 24/barrel. Kemudian, sepanjang tahun, selama
kuartal II dan III, harga minyak mentah dunia selalu berfluktuasi di kisaran harga US$ 27-34/barrel
(Gambar 6).

Memasuki kuartal I tahun 2004, harga minyak tanah berada di level support-nya pada US$ 32-
34/barrel. Di akhir kuartal I dan memasuki kuartal II, harga minyak mentah menuju titik tertinggi di
tahun 2003, yaitu US$ 40/barrel yang merupakan level resistant, dan berhasil menembus sehingga
membuat puncak baru di US$ 42/barrel. Harga minyak kembali menembus harga tertinggi yang telah
dibuat pada kuartal II, dan memasuki kuartal III membuat harga konsolidasi di posisi US$ 48/barrel.
Ternyata, pasar merespon dengan cepat, para investor/pedagang merealisasikan untung, sehingga harga
sempat terkoreksi di kisaran US$ 42/barrel untuk kemudian berbalik arah ke atas lagi. Posisi ini
merupakan level support yang cukup kuat untuk melanjutkan pergerakan selanjutnya. Pada kuartal III,
tepatnya bulan Oktober 2004, harga minyak kembali menembus angka tertingginya dan berada pada
posisi US$ 55/barrel. Sekali lagi, para investor dan spekulan mengambil untung dengan menjual
minyak secara besar-besaran. Harga minyak terkoreksi ke bawah karena pasar kelebihan stok. (Gambar
7).
MMTITS-8

Gambar 5. Pergerakan Historikal Harga Minyak Mentah – 2002.

Gambar 6. Pergerakan Historikal Harga Minyak Mentah – 2003.


MMTITS-9

Gambar 7. Pergerakan Historikal Harga Minyak Mentah – 2004.


MMTITS-10

III. Dampak Kenaikan Harga Minyak Mentah Dunia terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Harga minyak dunia yang bertengger di sekitar US$ 60 per barrel ini, jika terus bertahan hingga tahun
depan, maka ekonomi dunia diperkirakan bakal terpukul hebat. Membubungnya harga minyak
menimbulkan kekhawatiran baru akan munculnya fenomena perlambatan ekonomi dan meningkatnya
inflasi (kenaikan harga barang dan jasa secara umum) di Kawasan Asia. Besar kecilnya dampak yang
ditimbulkan tergantung seberapa lama harga minyak akan bertahan pada level itu. Lebih lanjut,
dampaknya akan terlihat pada besaran-besaran perekonomian Asia tahun depan. Menurut kalkulasi
Kepala Ekonom Morgan Stanley untuk Asia-Pasifik, Andy Xie, setiap kenaikan harga minyak US$ 1
per barel akan menyebabkan terjadinya penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi Asia Timur (di luar
Jepang) sebesar 0,1 persen (Sumber:
http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2004/09/29/brk,20040929-02,id.html).

Mengingat harga minyak mentah dunia yang terus naik dan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang
melemah, sulit bagi pemerintah untuk tetap mempertahankan harga dasar BBM seperti saat ini. Untuk
mempertahankan keberlanjutan kebijakan fiskal dan menyelamatkan anggaran negara, pemerintah tidak
punya pilihan lain selain menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Tetapi, untuk menaikkan harga
dasar BBM itu, perlu ditetapkan target waktu dan prasyarat kondisi sebelum harga dinaikkan.
Pentahapan pengurangan subsidi perlu diumumkan jauh hari sebelum direalisasikan. (Sumber:
http://www.suarapembaruan.com/News/2005/07/14/Ekonomi/eko01.htm).

Sementara itu, keputusan menaikkan harga BBM merupakan keputusan strategis terhadap
Pembangunan Berkelanjutan dan Pengelolaan Sumberdaya Alam, karena dampak negatif dari harga
BBM yang murah menyebabkan tingginya kebergantungan pada sumber energi minyak bumi. Jika
ketergantungan terhadap minyak mentah dibiarkan, maka akan terjadi krisis energi nasional bila
cadangan minyak mentah Indonesia sudah habis. Sinyal harga tidak mendukung penggunaan energi
yang efisien, baik dari sisi keanekaragaman maupun dari sisi penghematannya. Subsidi BBM di APBN
pun mengancam keberlangsungan fiskal pemerintah. Dengan tingkat harga minyak mentah dunia
mencapai US$ 60 per barel, ujarnya, subsidi 2005 diperkirakan akan lebih dari Rp 100 triliun. Harga
BBM yang murah pun berdampak tidak optimalnya pemanfaatan sumber energi yang lain.

Kebijakan Pemerintah Indonesia yang tertuang dalam Inpres No 10/2005 tentang hemat energi dinilai
kontraproduktif terhadap kebijakan lainnya, yakni upaya mempercepat pertumbuhan investasi.
Kebijakan ini hanyalah suatu upaya untuk meraih simpati masyarakat tanpa memperhitungkan dampak
yangakan terjadi selanjutnya. Kebijakan itu dikhawatirkan akan membatasi kapasitas produksi,
sehingga investor akan segan menambah investasi. Seperti diketahui, perkembangan investasi pada
semester I 2005 dapat dikatakan sebagai kebangkitan awal investasi. Tetapi hasil yang dicapai belum
ideal, karena untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sebesar 6% pada 2005
dibutuhkan investasi sekitar Rp 100 triliun. Kalau hingga semester I sudah tercatat Rp 39,7 triliun,
semestinya pada semester II lebih baik, sehingga bisa mendekati Rp 100 triliun hingga akhir tahun
2005. Kontribusi investasi yang sudah mencapai 15 persen pada PDB di kuartal I, masih harus digenjot
karena idealnya memberi kontribusi 30 persen, sehingga konsumsi bisa lebih rendah dari 65 persen.
(Sumber: http://www.suarapembaruan.com/News/2005/07/14/Utama/ut01.htm).

IV. Strategi Lindung Nilai (Hedging - Doing nothing to manage risk is in itself a risky move)

Dalam setiap kegiatan perdagangan, selain mengharapkan keuntungan, pengusaha juga dihadapkan
kepada resiko kerugian yang selalu melekat dalam kegiatan usahanya. Resiko tersebut umumnya
sebagai akibat perubahan harga barang, perubahan kurs mata uang, suku bunga, inflasi dan lain
sebagainya. Untuk melindungi pengusaha dari resiko tersebut, salah satu cara adalah melalui lindung
MMTITS-11

nilai (hedging). Dengan melakukan lindung nilai, resiko tersebut dapat dialihkan (transfer of risk)
kepada investor yang mengharapkan keuntungan dari perubahan harga di pasar. Pasar yang dimaksud
adalah bursa berjangka.

Lindung nilai adalah suatu kegiatan pengambilan posisi di bursa berjangka yang berlawanan dengan
posisinya di pasar fisik. Dengan mengambil posisi yang berlawanan antara bursa berjangka dan pasar
fisik, maka kerugian yang timbul akibat adanya fluktuasi harga di pasar fisik dapat dikurangi dengan
keuntungan yang diperoleh di bursa berjangka, atau sebaliknya.

Lindung nilai bukan kegiatan yang bersifat spekulasi, karena untuk melakukannya dibutuhkan
pengetahuan yang memadai dan perhitungan yang cermat. Dengan demikian, sebelum melakukan
lindung nilai, para investor/pengusaha perlu menentukan strategi yang tepat untuk mencegah terjadinya
kerugian. Dunia usaha yang terlibat dalam perdagangan komoditi primer seperti produsen, petani,
prosesor, eksportir maupun pabrikan (user), sangat membutuhkan sarana lindung nilai.

4.1. Jenis Lindung Nilai

Secara garis besar ada dua jenis lindung nilai yaitu lindung nilai jual (selling hedge) untuk mengatasi
resiko turunnya harga dan lindung nilai beli (buying hedge) untuk mengatasi resiko kenaikan harga.

a. Lindung Nilai jual (selling hedge) Lindung Nilai Jual adalah mengambil posisi jual bursa
berjangka dengan tujuan untuk melindungi dari kemungkinan penurunan harga komoditi yang akan
dihasilkan atau dimilikinya, seperti hasil panen. Lindung Nilai Jual umumnya dilakukan oleh kalangan
produsen, termasuk petani. Cara ini dinamakan selling hedge karena tindakan yang dilakukan di bursa
berjangka adalah menjual, sehingga kemungkinan kerugian yang diakibatkan oleh turun harga di pasar
fisik dapat dikompensasi dengan keuntungan dari kontrak jual di bursa berjangka.

b. Lindung Nilai Beli (buying hedge) Lindung Nilai Beli (buying hedge) adalah mengambil posisi
beli di bursa berjangka untuk melindungi naiknya harga komoditi yang dibeli di pasar fisik. ini
dinamakan buying hedge karena cara pertama dilakukan adalah membeli, sehingga kerugian di panen
fisik dapat diimbangi dengan keuntungan kontrak di bursa berjangka. Buying hedge umumnya
dilakukan oleh kalangan eksportir, prosesor, pemakai bahan baku seperti pabrikan, dan lain sebagainya,
guna menjaga kestabilan dan kontinuitas pasokan atau persediaannya. Mereka membutuhkan bahan
baku secara berkesinambungan pada harga yang wajar. Akan tetapi, pada saatnya harus melakukan
pembelian bahan baku di pasar fisik mereka sering menghadapi ketidakpastian harga dari bahan baku
yang diperlukan.

4.2. Manfaat Lindung Nilai

a. Lindung nilai merupakan sarana untuk mengurangi atau meminimalkan resiko akibat perubahan
harga.
b. Memberikan kepastian berusaha karena membantu pengendalian produk dan persediaan bahan
baku guna memenuhi kebutuhan produsen, pengolah atau pabrikan.
c. Memberikan peluang bagi bank untuk menyediakan dana yang lebih besar karena lebih
terjamin. Pada umumnya bank hanya menyediakan dana sekitar 50% untuk
komoditi/persediaan yang dijaminkan tanpa dilindung-nilai, sementara untuk
komoditi/persediaan yang dilindung-nilaikan akan mendapat kredit pinjaman dana sekitar 80%
- 90% dari nilai yang dijaminkan.
MMTITS-12

4.3. Aplikasi Lindung Nilai: Studi Kasus Pertamina sebagai Net-Importir Minyak Mentah Dunia

Lindung nilai di bursa berjangka yang dilakukan oleh importir, pemakai bahan baku, seperti pengolah
atau fabrikan (manufacturer), adalah sebagai usaha untuk mengurangi seminimal mungkin resiko yang
ditimbulkan oleh kemungkinan naiknya harga, atau yang sering disebut dengan lindung nilai beli
(buying hedge). Lindung nilai beli umumnya dilakukan oleh para pemakai atau yang memerlukan bahan
baku sepanjang tahun karena mereka secara teratur harus membeli komoditi/bahan baku di pasar fisik,
dalam kasus ini Pertamina sebagai pembeli minyak mentah dunia. Pertamina khawatir adanya
kemungkinan fluktuasi harga bahan baku yang diperlukan. Untuk itu, Pertamina harus melakukan
lindung nilai (hedging), guna memperkecil resiko yang diakibatkan oleh fluktuasi harga, yang
merupakan salah satu faktor yang berada di luar kekuasaannya.

Dibawah ini diuraikan studi kasus mengenai tindakan lindung nilai beli serta kemungkinan-
kemungkinan yang dihadapi. Misalkan saja, Pertamina menerima pesanan dari Pemerintah Indonesia
untuk mengapalkan 1000 ton minyak mentah untuk stok 2 bulan yang akan datang. Untuk melindungi
dirinya dari kemungkinan kenaikan harga sawit di pasar fisik, Pertamina harus melakukan lindung-nilai.
Pada lindung nilai beli dapat terjadi 4 kemungkinan situasi yang akan dihadapi, yaitu:

4.3.1. Skenario 1: Penurunan Harga di Pasar Fisik dan Bursa Berjangka

Dalam hal ini Pertamina tetap tidak memperoleh keuntungan atau kerugian selama basisnya tetap,
karena keuntungan yang diperolehnya dari pasar fisik akan diimbangi dengan kerugian di bursa
berjangka sehingga secara keseluruhan tetap tidak berubah. Tetapi jika terjadi selisih harga fisik
dengan harga bursa, maka Pertamina berpeluang menerima keuntungan/kerugian. Sebagai gambaran
dapat dilihat ilustrasi dibawah ini:
Pasar Fisik Pasar Berjangka Basis Net Profit/Loss
10 Juli 2005: Harga minyak 10 Juli 2005 Beli 250 lot minyak US$ 4/barrel untuk Sept’
mentah tercatat US$56/barrel mentah untuk Sept' 2005, pada 2005
harga US$60/barrel
10 Agustus 2005: Beli 1000 ton 10 Agustus 2005 Jual 250 lot US$ 4/barrel untuk Sept’
minyak mentah pada harga US$ minyak mentah untuk Sept' 2005, 2005
52/barrel pada harga US$ 56/barrel
Untung US$ 4/barrel Rugi US$ 4/barrel Tidak Berubah
1 lot = 4 ton

4.3.2. Skenario 2: Harga naik di Pasar Fisik dan Bursa Berjangka


Kemungkinan kedua adalah naiknya harga, baik di pasar fisik maupun di bursa berjangka. Dalam hal ini
basis tetap atau tidak berubah. Akibat dari kenaikan harga tersebut maka posisi Pertamina adalah
sebagai berikut:
Pasar Fisik Pasar Berjangka Basis Net Profit/Loss
10 Juli 2005 Harga minyak mentah 10 Juli 2005 Beli 250 lot minyak US$ 2/barrel untuk Sept’
tercatat US$ 59/barrel mentah untuk Sept’ 2005, pada 2005
harga US$ 61/barrel

10 Agustus 2005 Beli 1000 ton 10 Agustus 2005 Jual 250 lot US$ 2/barrel untuk Sept’
minyak mentah pada harga US$ minyak mentah untuk Sept' 2005 2005
61/barrel pada harga US$ 63/barrel
MMTITS-13

Selisih Rugi US$ 2/barrel Untung US$ 2/barrel Tidak Berubah

4.3.3. Skenario 3: Harga di Pasar Fisik naik - harga di Bursa Berjangka turun
Fenomena ini sebagian besar disebabkan oleh pasar yang over demand. Apabila kenyataan tersebut
yang terjadi, keadaan ini akan memberikan kerugian dua kali lipat bagi Pertamina, karena harga di pasar
fisik semakin mahal (Pertamina harus menyediakan dana tambahan) dan harga yang diharapkan naik di
pasar berjangka ternyata menjadi turun.

Pasar Fisik Pasar Berjangka Basis Net Profit/Loss


10 Juli 2005 Harga minyak mentah 10 Juli 2005 Beli 250 lot minyak US$ 2/barrel untuk Sept’
pada US$ 58/barrel mentah untuk Sept’ 2005 pada 2005
harga US$ 60/barrel
10 Agustus 2005 Beli 1000 ton 10 Agustus 2005 Jual 250 lot US$ 2/barrel untuk
minyak mentah pada harga US$ minyak mentah untuk Sept’ 2005, Sept’2005
59/MT pada harga US$ 57/barrel
Selisih Rugi US$ 1/barrel Rugi US$ 3/barrel Tidak Berubah

4.3.4. Skenario 4: Harga di Pasar Fisik turun - harga di Bursa Berjangka naik

Situasi seperti ini biasanya menggambarkan fenomena over supply dalam pasar komoditi yang
bersangkutan, dimana basisnya semakin membesar yang pada akhirnya konsumen akan memperoleh
keuntungan kedua pasar.

Pasar Fisik Pasar Berjangka Basis Net Profit/Loss


10 Juli 2005 Harga minyak mentah 10 Juli 2005 Beli 250 lot minyak US$ 1/barrel untuk Sept'
US$ 58/barrel mentah untuk Sept’ 2005 pada 2005
harga US$ 57/barrel
10 Agustus 2005 Beli 1000 10 Agustus 2005 Jual 250 lot US$ 4/barrel untuk
minyak mentah pada harga US$ minyak mentah untuk Sept’ 2005 Sept' 2005
54/barrel pada harga US$ 60/barrel
Selisih Untung US$ 4/barrel Untung US$ 3/barrel Basis Profit US$ 3/barrel

Dari keempat skenario diatas, ternyata 2 skenario pertama memberikan perlindungan nilai mutlak, 1
skenario berikutnya memberikan kerugian signifikan dan skenario terakhir memberikan keuntungan
mutlak. Para pelaku lindung-nilai (hedger) dapat memperkecil kerugian yang akan diderita dengan
mengambil salah satu alternatif yang tersedia.

Era perdagangan bebas mendatang yang akan kita hadapi antara lain akan diwarnai dengan semakin
meningkatnya persaingan serta gejolak harga, yang membuat ketidakpastian usaha semakin
meningkat. Untuk itu dunia usaha perlu meningkatkan aktivitas pengelolaan resiko (risk management
strategy), antara lain melalui kegiatan lindung-nilai (hedging) di Bursa Berjangka.

Tetapi, bagi para investor/pengusaha yang masih awam atau baru mengenal strategi hedging ini
dianjurkan tidak menerapkannya seorang diri. Melakukan hedging tidaklah sesederhana seperti tertulis
di atas dan yang dibayangkan atau seperti yang diceriterakan dalam buku-buku literatur lainnya, karena
diperlukan pengetahuan, pemahaman serta pengalaman dalam mempraktekannya. Tersedia berbagai
strategi penerapan hedging sesuai dengan keadaan atau situasi yang dihadapi penggunanya, yang perlu
dicermati benar bila ingin berhasil sebagaimana yang diharapkan.
MMTITS-14

V. Kesimpulan

1. Agar tidak terjadi krisis energi, kelumpuhan ekonomi nasional dan mengurangi ketergantungan
terhadap minyak mentah dunia, sebaiknya perlu diambil langkah-langkah strategis, seperti
menaikkan harga dasar BBM, menerapkan prinsip hemat energi, dan kebijakan penggunaan
bahan bakar alternative sebagai sumber energi.
2 Pemerintah sebaiknya mengkaji sistem pengelolaan perminyakan dan sumberdaya alam lainnya
yang ada sedemikian hingga memberikan kontribusi positif/keuntungan bagi rakyat Indonesia,
dan bukan hanya kepada segolongan pejabat dan para perusahaan perminyakan asing.
3. Untuk mengatasi kerugian akibat fluktuasi harga minyak mentah dunia dan nilai tukar mata
uang asing, sebaiknya perlu diterapkan strategi lindung-nilai (hedging). Strategi lindung-nilai
telah terbukti dapat menimilkan resiko keuangan asalkan dilaksanakan berdasarkan pengalaman
dan perhitungan yang matang.

Referensi
Cagan, Penny, 2005, Hedge Fund and Operational Risk, Fitch Risk Rating,
penny.cagan@fitchrisk.com.

Campbell, C.J., 1995, Oil prospects in the Middle East and the future of the oil market, Energy and
Exploration, vol. 13, no. 1, Oxford Energy Forum.

Danielsson, J. and Yuji Morimoto, 2000, Forecasting Extreme Financial Risk:A Critical Analysis of
Practical Methods For The Japanese Market, Financial Market Group, London School of Economics.

Energy Information Administration, Official Energy Statistics from the U.S. Government, 2005,
International Energy Outlook - 2004 , EI 30 1000 Independence Avenue, SW, Washington, DC 20585.

Ercel, Gazi, 1999, Financial Risk Management, The Sixth Annual Global Finance Conference, Bilgi
University, Istanbul.

Haass, Richard N., 2000, Economic and Security Implications of Oil Price Increases,
Statement before the Senate Committee on Governmental Affairs, Foreign Policy Studies Program,
The Brookings Institution, 1775 Massachusetts Ave., NW, Washington, DC 20036.

Owen, James P., 1999, HEDGE FUNDS: A CONSERVATIVE INVESTOR’S GUIDE, published by John Wiley and
Sons.

The Oilfield Information Source, Gulf Publishing Company, 2005, Industry at a glance: World Oil &
NGL Production, 2 Greenway Plaza, Suite 1020 Houston, TX 77046.

Ravindran, K (Ravi), 2001, Implementing A Hedging Strategy, kravindran@annuitysystems.com.

http://www.suarapembaruan.com/News/2005/07/14/Utama/ut01.htm).

http://www.suarapembaruan.com/News/2005/07/14/Ekonomi/eko01.htm).

http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2004/09/29/brk,20040929-02,id.html).

Disclaimer: Beberapa analisis di atas bukanlah saran untuk melakukan investasi. Hasil investasi diluar
tanggung jawab penulis. Para investor hendaknya mempertimbangkan kembali strategi investasi yang paling
sesuai.